NEW YORK (Berita SuaraMedia) - Kesenangan akan fotografi telah membuat seorang profesor di New York University terobsesi menjadikan kamera sebagai bagian dari dirinya.

Bukan dalam makna kiasan, tetapi dalam arti sesungguhnya. Ya, sang profesor berniat menanamkan kamera di kepalanya!

Wafaa Bilal, profesor berdarah Irak itu kini menjalankan sebuah proyek bernama 'The 3rd I'.

Proyek seni ini bertujuan untuk menyediakan visualisasi harian termasuk visual pada bagian belakang Bilal yang sebelumnya tak pernah ia lihat.

Seperti diberitakan situs CNN, nantinya kamera di belakang kepada Bilal akan mengabadikan gambar setiap menit, selama proyek itu berjalan selama setahun.

Hasil streaming gambar itu akan langsung disalurkan ke Mathaf Arab Museum of Modern Art di Qatar. sehingga para pengunjung bisa melihatnya.

"Karya seni yang diberi judul 'The 3rd I' ini dimaksudkan untuk mengomentari ketidakmampuan manusia dalam mengakses waktu, memori dan pengalaman," kata salah satu penjaga museum

Rencananya, streaming gambar itu akan bisa dinikmati secara live sejak 15 Desember nanti.

Untuk mewujudkan niatnya, Bilal musti melakukan operasi dengan bius lokal selama dua jam. Secara teknis, Bilal musti memasang sebuah pelat titanium dan sebuah magnet ke dalam tengkoraknya, sehingga kamera bisa ditempelkan ke kepalanya.

Proyek ini juga merupakan eksplorasi terhadap bagaimana masyarakat menerima sesuatu yang secara sengaja direkam. Di tempat Bilal mengajar, New York University, proyek ini sudah mengundang kontroversi dan debat seputar masalah privasi para mahasiswa.

Bilal akan sangat dibatasi dalam mengenakan kamera di kepalanya. Saat mengajar, Bilal akan mencopot kamera itu. Sebab, masyarakat masih merasakan perbedaan yang menonjol antara memilih untuk direkam, dengan direkam tanpa sepengetahuan.

Namun, apakah hal itu nantinya akan secara perlahan berubah? Sampai kapan kemudian masyarakat bisa lebih terbuka dan akan maklum bila setiap bagian hidupnya akan tertangkap dalam sebuah video? Bagaimana menurut Anda? (ar/dt/vs/dt) www.suaramedia.com

PEKANBARU (ResistNews) - Ketua Umum Nasional Demokrat (Nasdem) Surya Paloh mengatakan bahwa organisasi massa itu tak akan berubah menjadi partai politik (parpol) untuk meraih kekuasaan pada Pemilu Presiden 2014.

"Tidak ada maksud hati Nasdem menjadi parpol karena esensinya bukan begitu," kata Surya Paloh pada pelantikan Pengurus Wilayah Nasdem Riau di Pekanbaru, Minggu.

Surya mengatakan hal itu untuk menanggapi berbagai tudingan dari sejumlah parpol yang menyebutkan bahwa Nasdem akan tumbuh menjadi kekuatan baru yang kemudian berganti menjadi partai politik untuk menuju pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2014.

"Tapi jika tuduhannya seperti itu boleh-boleh saja kita terima," katanya.

Menurut dia, Nasdem didirikan lebih baik bertujuan untuk berjuang bersama rakyat demi kemajuan bersama. Meski begitu perkembangan Nasdem akan sangat ditentukan oleh keinginan dan aspirasi rakyat terhadap masa depan organisasi itu.

"Namun, jika ada tuntutan rakyat sepakat menginginkannya jadi parpol, baru kita pikir ulang," ujarnya.

Dalam pidatonya di hadapan ribuan orang, Surya menginginkan bangsa Indonesia berdaulat di bidang politik agar dapat maju dan berkembang sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Semangat itu, lanjutnya, telah dirintis para pendiri Negara Republik Indonesia dan menjadi semangat Nasdem.

"Bung Karno mengatakan kita berkepribadian sehingga mesti berdaulat di politik. Semangat restorasi yang disuarakan Nasdem terinspirasi dari para proklamator itu," tegasnya.

Ia mengaku menyayangkan 12 tahun reformasi Indonesia telah kehilangan arah.

Ia juga menuding para pemimpin Indonesia kini hanya sibuk mengurusi masa lalu dan makin tertinggal dari bangsa-bangsa lain di dunia.

"Bangsa di dunia sudah sampai ke bulan sedangkan kita sibuk soal korupsi, Gayus, dan polemik. Apakah kita harus meminta tolong kepada bangsa-bangsa lain untuk mengubah diri kita? Tidak mungkin. Karena hanya kita lah yang seharusnya mengubah diri kita sendiri," katanya.

"Jika kita sadar bahwa sudah jauh tertinggal. Kita harusnya malu dan sudah sewajarnya budaya malu itu kita tumbuhkan kembali. Ini untuk membuka akal sehatnya agar bergerak maju," ujar Surya Paloh. (Antaranews.com)

BOGOR (ResistNews) - Ketua Panitia Muktamar V Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia Ricky Rachmadi mengakui tidak mudah menemukan jalan untuk membangun peradaban Indonesia madani.

"Sejak 65 tahun lalu bangsa Indonesia telah berjuang untuk mewujudkannya," katanya di Bogor, Minggu.

Muktamar V Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) bertema "Membangun Peradaban Indonesia Madani" berlangsung di "IPB International Convention Center" pada 5-7 Desember 2010, sekaligus memperingati milad atau hari ulang tahun ke-20 organisasi kemasyarakatan yang berdiri di Universitas Brawijaya, Malang, Jatim, pada 7 Desember 1990 itu.

Ia mengatakan, kemerdekaan merupakan jalan baru bagi bangsa Indonesia untuk sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

"Melalui kemerdekaan kita bertekad agar bangsa Indonesia tidak menjadi bangsa kuli atau kuli di antara bangsa-bangsa di dunia," kata Ricky.

"Kini sudah saatnya kita memikirkan kembali dan memperbaharui tekad untuk mewujudkan peradaban baru Indonesia madani. Suatu peradaban yang berdiri di atas pondasi Pancasila, demokrasi, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia," katanya.

Ricky mengatakan, ICMI diharapkan mampu menjawab paling tidak tiga pertanyaan besar, yakni dapatkah bangsa Indonesia menjadikan Pancasila sebagai roh demokrasi untuk mewujudkan masyarakat yang adil dalam kemakmuran dan makmur dalam keadilan.

Kemudian, dapatkah bangsa Indonesia menggunakan proses demokrasi untuk membangun kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, serta dapatkah bangsa Indonesia membangun peradaban Indonesia madani yang didasarkan pada nilai-nilai dan etos Pancasila di tengah tekanan proses globalisasi dewasa ini.

"Ketiga pertanyaan itu akan menjadi bahan diskusi di muktamar ini," katanya. (Antaranews.com)

Sejumlah pakar forensik asal Belanda berhasil mengembangkan teknik menghitung usia seseorang secara akurat lewat darah. Mereka mempelajarinya lewat karakter khas sel kekebalan dalam darah, yang dikenal sebagai sel T.

Seperti diberitakan dari laman BBC, temuan ini cukup bermanfaat untuk mengungkap identitas pelaku atau korban kejahatan. Melalui uji darah yang tercecer di lokasi kejadian, petugas bisa dengan mudah memprediksi usia pelaku atau korban yang belum terungkap identitasnya.

Sel T yang digunakan untuk memprediksi umur itu memegang peran penting dalam mendeteksi benda asing di dalam darah seperti bakteri, virus, parasit, bahkan sel tumor. Saat bekerja mengenali benda asing, sebuah molekul kecil DNA akan terbentuk. Molekul inilah yang memiliki hubungan linier dan stabil dengan usia seseorang.

Penulis studi, Dr Manfred Kayser dari Erasmus MC University Medical Center, Rotterdam, mengatakan, hasil uji sel T ini memiliki tingkat akurasi yang cukup tinggi. Bahkan, sejumlah pakar tengah merancang untuk membaca karakter manusia berdasarkan informasi DNA.

"Selama ini uji DNA yang dilakukan tim forensik konvensional hanya bisa mengidentifikasi seseorang berdasar pembanding yang memiliki hubungan darah. Tapi temuan ini diharapkan bisa menampilkan informasi untuk membantu menemukan identitas orang yang tak dikenal sama sekali," kata Kayser.

Sebelumnya, para ilmuwan berhasil mengembangkan suatu cara untuk memperkirakan apakah seseorang akan berumur lebih dari 100 tahun. Yaitu, menggunakan DNA. Penemuan ini merupakan hasil kesimpulan dari penelitian terbesar yang pernah dilakukan terhadap mereka yang berumur lebih dari seratus tahun ke atas.

Umur panjang sangat langka. Tercatat hanya satu dari setiap enam ribu orang di negara industri yang bisa beruntung berusia panjang.

Para ilmuwan dari Universitas Boston di Amerika Serikat (AS) mengidentifikasi 150 segmen dalam DNA manusia yang terkait dengan umur panjang ini. Penelitian dilakukan terhadap seribu orang lebih yang berumur 100 tahun. Mereka dibandingkan dengan populasi umum.

Hasilnya, peneliti menemukan kesamaan DNA pada orang-orang yang bisa hidup panjang. Terlepas dari kondisi lingkungan dan sejarah kesehatan seseorang, gen ini mampu bekerja secara kompleks untuk memberikan usia panjang.

Peneliti yang dikepalai Professor Paola Sebastiani lalu menamai model unik genetika termasuk 150 variannya dengan sebutan single nucleotide polymorphisms (SNPs). Peneliti pun menilai bahwa penemuan ini bisa digunakan generasi muda melalui proses treatment dan pencegahan dari ancaman penyakit. Gen ini memungkinkan hidup sampai 100 tahun terlepas dari apapun gaya hidup yang dipilih.

Berdasarkan hipotesa bahwa orang yang sudah tua membawa varian gen tertentu ini, tim peneliti terus mengembangkan studi kepada manusia lanjut usia. Penyakit tua yang kerap menyerang para kakek dan nenek ternyata 'tertunda' bagi mereka yang memiliki varian ini.

Kesimpulannya, 150 varian gen ini juga bisa digunakan untuk memprediksi apakah seseorang bisa berumur sampai 90 atau bahkan lebih tua-dengan tingkat akurasi cukup tinggi.

Selain itu, tim juga menganalisa 19 kelompok genetik lainnya yang diduga menjadi 'karakter' 90 persen studi mengenai umur panjang. Menurut mereka, perbedaan tanda genetik ini biasanya berkorelasi dengan penyakit tua seperti demensia dan hipertensi. Ini pun bisa membantu pengungkapan apakah seseorang masuk kelompok umur sangat sehat.

Penemuan ini bisa membantu pencegahan penyakit yang menyerang di usia senja termasuk menurunnya kemampuan tubuh. Meski demikian, Profesor Sebastiani menambahkan "Prediksi ini belum sempurna. Meski ini akan menyumbang kepada pengetahuan varian gen manusia, namun penelitian korelasi manusia dan lingkungan hidupnya masih minim. Misalnya, gaya hidup yang sangat penting kontribusinya agat manusia panjang umur."Dia mengatakan, ketepatan perkiraan gen itu terhadap usia seseorang hanya 77 persen. (fn/vs/sm) www.suaramedia.com

Pengantar
Kapitalisme tampak mulai limbung. Salah satu tandanya adalah terjadinya berbagai krisis secara berulang, termasuk krisis finansial yang sangat parah, yang mulai muncul di AS dan tak terbendung menyebar ke seluruh dunia. Semua itu menjadi sebagian pertanda segera runtuhnya sistem Kapitalisme. Apa penyebabnya? Apakah perbaikan yang dilakukan tidak bisa menyelamatkan sistem Kapitalisme? Apakah Islam bisa menjadi alternative untuk menggantikannya?
Untuk membicarakan seputar masalah itu, Redaksi al-Wa'ie mewawancarai Dr. Mohammad Malkawi, yang tinggal di AS, dan menyaksikan dari dekat semua fakta itu, yang bulan April lalu meluncurkan buku berjudul, The Fall of Capitalism and Rise of Islam. Berikut petikan wawancaranya.
Anda memberi judul buku Anda Keruntuhan Kapitalisme dan Kebangkitan Islam. Mengapa Anda memberi judul yang menantang itu?
Krisis keuangan yang mulai meningkat pada tahun 2008 mengungkap adanya cacat serius dalam sistem Kapitalisme dan ketidakmampuannya untuk mempertahankan stabilitas ekonomi dunia di bawah Kapitalisme. Banyak cendekiawan dan pemikir yang telah dengan benar mengidentifikasi masalah serius yang dihadapi dunia kapitalis. Sesuatu yang hilang dalam potret tersebut adalah analisis tentang akar penyebab serius dari kegagalan itu dan solusi bagus yang dibangun dan alternatif bagi sistem Kapitalisme itu. Islam sebagai sistem dan ideologi yang komprehensif adalah satu-satunya alternatif yang layak dan solusi bagi masalah-masalah ekonomi saat ini yang disebabkan oleh Kapitalisme. Buku Keruntuhan Kapitalisme dan Kebangkitan Islam datang untuk menunjukkan fakta-fakta ini.
Apakah Kapitalisme itu dan bagaimana gambarannya?
Buku ini mengacu pada Kapitalisme dalam konteks ideologis. Kapitalisme adalah sistem yang muncul hasil dari pemisahan gereja dan negara di Eropa dan kemudian di Amerika Serikat. Sistem ini mengakui kebebasan absolut manusia untuk memiliki dan menjual aset apapun dan untuk membuat undang-undang dan hukum yang antara lain mengatur kepemilikan itu. Kapitalisme seperti ini muncul sebagai sistem yang berporos pada kepemilikan pribadi; individu boleh memiliki jenis atau kekayaan apapun dan untuk meningkatkan kekayaan mereka dengan segala cara atau bentuk yang tersedia. Pembatasan apapun bagi kepemilikan atau pengembangan lebih jauh atas kekayaan/kesejahteraan itu adalah penyimpangan dari aturan itu.
Dalam jangka waktu lama, Kapitalisme berhasil membuat dua bentuk ekonomi: ekonomi riil dan ekonomi non-riil. Ekonomi non-riil memungkinkan kekayaan uang untuk tumbuh secara bebas dari pertumbuhan ekonomi riil di lapangan.
Apa saja tanda-tanda keruntuhan Kapitalisme sebagaimana yang Anda sebutkan dalam buku Anda?
Tanda-tanda keruntuhan Kapitalisme sangat banyak. Pada tingkat ideologis murni, prinsip-prinsip utama Kapitalisme bertabrakan langsung dengan realita. Sebagai contoh, Kapitalisme sangat bergantung pada prinsip "kelangkaan relatif" yang menunjukkan bahwa sumber daya yang tersedia di pasar tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan semua orang yang menginginkan sumberdaya tersebut. Namun kenyataannya, dunia memiliki sumberdaya yang jauh lebih banyak daripada yang dapat dikonsumsi orang pada waktu tertentu. Hal ini jelas terlihat pada angka yang menunjukkan peningkatan berkelanjutan atas kekayaan negara-negara, sementara kemiskinan juga terus meningkat. Dengan kata lain, rusaknya distribusi sumberdayalah yang menyebabkan kemiskinan, dan bukan kelangkaan sumberdaya itu sendiri yang jadi penyebabnya.
Prinsip lain yang juga telah rusak adalah prinsip kepemilikan pribadi. Di seluruh dunia, di Amerika maupun di Eropa, pemerintah negara-negara itu bergegas untuk menasionalisasi dan mengubah perusahaan-perusahaan milik swasta menjadi milik pemerintah dan milik publik. Bank-bank, perusahaan-perusahaan raksasa asuransi, industri-industri otomotif dan lembaga-lembaga keuangan lainnya dialihkan menjadi milik pemerintah dalam konteks "terlalu besar untuk gagal". Itu artinya bahwa kepemilikan swasta saja tidak dapat mempertahankan ekonomi, terutama ketika ukuran ekonomi tumbuh besar.
Satu bab pada buku itu mencurahkan perhatian mengenai papan skor kinerja Kapitalisme. Papan skor itu menunjukkan betapa buruknya kinerja Kapitalisme dalam beberapa dekade terakhir meskipun terjadi peningkatan luar biasa dalam hal kekayaan dan produksi. Papan skor itu menjadi bukti atas kenaikan angka kemiskinan, tak terjaminnya kesehatan dan menyebarnya penyakit-penyakit menular, perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan, dan pembusukan infrastruktur pendidikan.
Namun, tanda yang paling serius dari kegagalan itu adalah terciptanya cabang-cabang ekonomi non-riil yang memungkinkan kekayaan negara-negara untuk muncul berkali-kali lebih besar dari ukuran perekonomian yang sebenarnya. Hal ini telah menciptakan suatu ilusi, yang pasti akan menyebabkan keruntuhan besar. Kekuatan-kekuatan yang mendorong ke arah ekonomi non-riil meliputi pasar saham, perbankan dan sistim keuangan yang berbasis riba, dan diasingkannya emas dan perak dari basis sistem moneter.
Apakah argumen atas keruntuhan Kapitalisme itu?
Poin-poin yang dijelaskan di atas memberi argumentasi keruntuhan Kapitalisme didasarkan pada hasil pelaksanaan Kapitalisme itu sendiri. Kapitalisme telah dipraktikkan selama lebih dari 200 tahun, dan telah menjadi satu-satunya sistem sejak keruntuhan Sosialisme menjelang akhir abad ke-20. Hasil pelaksanaan Kapitalisme yang telah didiskusikan di atas menunjukkan Kapitalisme yang pasti gagal. Lebih dari itu, Kapitalisme didirikan di atas premis yang keliru. Premis itu adalah bahwa manusia di dunia ini bebas dari segala batasan yang diberikan atau disediakan oleh Allah. Premis ini mengasumsikan bahwa Tuhan (jika memang ada) memiliki peran pasif dalam kehidupan manusia di bumi. Premis ini tidak valid dan tidak rasional. Tidak valid karena kita memiliki bukti bahwa Tuhan secara aktif terlibat dalam kehidupan manusia. Ini adalah fakta yang diakui oleh hampir semua orang di dunia yang mengakui adanya para nabi dan rasul, di samping keberadaan Tuhan itu sendiri. Kenyataan bahwa Allah menunjuk nabi dan rasul sudah cukup untuk membuktikan peran aktif Allah. Detil pesan yang dibawa oleh nabi dan rasul menunjukkan bimbingan konstruktif dan rinci yang diberikan oleh Allah kepada manusia.
Selain itu, premis yang mendasari Kapitalisme tidak dapat dibuktikan secara rasional oleh para pendukung sistem itu. Sebaliknya, para pendukung sistem itu menerima solusi kompromistis yang merupakan jalan tengah dengan para pendukung teologi. Memang, tidak pernah ada upaya untuk membuktikan secara rasional fondasi yang menjadi dasar Kapitalisme. Dengan demikian, argumentasi atas kegagalan Kapitalisme itu bersifat ideologis/teoretis dan praktis.
Tidakkah Anda berpikir bahwa para ekonom dan para politisi negara-negara Barat bekerja bahu-membahu untuk memperbaiki Kapitalisme?
Ada beberapa seruan untuk mereformasi Kapitalisme. Namun, sebagian besar seruan itu adalah sangat dangkal dan tidak nyata. Baru-baru ini, ada seruan untuk kembali ke standar emas untuk sistem moneter. Seruan terbaru datang dari Ketua Bank Dunia. Ini hanyalah satu bagian dari sebuah teka-teki. Jika para ahli teori kapitalis menyingkirkan pasar saham, sistem yang berbasis riba, uang gadungan serta mengakui harta milik umum (public property) dan harta milik negara disamping harta milik pribadi, maka itu tidak hanya memperbaiki Kapitalisme. Ini adalah sebuah perubahan kapitalisme dengan sistem yang sama sekali baru.
Buku saya itu memberikan argumen yang tepat: jika kita ingin mengatasi masalah Kapitalisme, yang diakui secara realistis oleh para politisi, maka kita akan berakhir dengan sistem yang baru. Sekarang, Islam siap menyediakan sistem baru dengan prinsip-prinsip yang baik, dan dengan landasan rasional yang telah terbukti. Bab II buku tersebut menggambarkan alternatif itu.
Menurut Anda, berapa lama lagi Kapitalisme benar-benar akan runtuh? Adakah faktor lain yang berkontribusi terhadap kehancurannya?
Saya tidak bisa berspekulasi mengenai waktu yang diperlukan bagi keruntuhan Kapitalisme yang pasti akan terjadi. Kegagalan ideologis suatu sistem, sama halnya dengan kebangkitan ideologis suatu sistem, dapat selalu terlihat, tetapi tidak dapat diprediksi dengan jangka waktu. Hal itu dapat menjadi lebih spontan daripada yang kita pikirkan. Sebelum runtuhnya Sosialisme dan Uni Soviet, telah terbukti bahwa keruntuhannya telah tampak nyata. Namun, hampir mustahil untuk memprediksi bahwa hal itu akan terjadi dengan segera. Hal yang sama berlaku bagi Kapitalisme hari ini.
Beberapa penyebab kegagalan yang dibahas dalam buku saya itu, semuanya berkaitan dengan masalah internal Kapitalisme. Saya tidak mendiskusikan atau menjelajahi faktor-faktor eksternal seperti perjuangan internasional di antara negara-negara, terjadinya peperangan, embargo perdagangan, dan sejenisnya. Faktor-faktor itu terbukti dapat sangat menentukan dalam hasil akhir. Contohnya, Uni Soviet mengungkapkan begitu signifikannya konstribusi perang di Afganistan dalam ledakan final Sosialisme.
Bagaimana peluang Islam untuk menjadi alternatif menggantikan Kapitalisme?
Saat ini, Islam adalah satu-satunya alternatif pengganti yang layak bagi Kapitalisme. Islam memiliki ide-ide dan pikiran-pikiran yang dirumuskan dengan baik dan memiliki sistem yang terstruktur dengan baik. Selain itu, Islam memiliki catatan sejarah penerapan lebih dari 1300 tahun yang menunjukkan bahwa Islam mampu menghasilkan sistem produktif yang dapat mengatasi dan menyelesaikan masalah-masalah manusia yang paling dasar seperti makanan, keamanan, kesehatan, pendidikan dan stabilitas. Masalah satu-satunya pada hari ini hanyalah bahwa Islam tidak diterapkan dalam kerangka negara dan masyarakat. Situasi itu mencegah pendemonstrasian sistem Islam di dunia nyata. Yang lebih buruk lagi, Dunia Islam yang sering keliru dianggap islami, memberikan contoh yang sangat buruk kepada dunia. Kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan dan distribusi yang rusak atas kekayaan berlimpah di dunia Muslim menghalangi tampilnya potret yang cerah dari Islam dari yang digambarkan kepada populasi dunia yang lebih besar.
Itulah sebabnya, buku saya membicarakan tentang Kebangkitan Islam daripada solusi Islam. Itu artinya bahwa kita perlu Islam bangkit ke panggung publik untuk menyampaikan solusi dan sistemnya.
Apakah kelebihan Islam jika dibandingkan dengan Kapitalisme?
Islam sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan Kapitalisme. Islam dibangun di atas premis utama bahwa semua kekayaan di dunia adalah milik Allah dan bukan milik manusia. Ketika seseorang memiliki sejumlah kekayaan, ia hanya memiliki apa yang Allah izinkan dan menghabiskan kekayaan itu dengan cara yang Allah ridhai. Pemahaman ini tidak ada dalam Kapitalisme.
Kemiskinan dalam Islam diukur dari jumlah orang yang tidak mampu memenuhi kebutuhan pokoknya, dan bukan dari penurunan tingkat pertumbuhan ekonomi secara agregat. Karena itu, jika masih ada satu orang miskin di masyarakat, Islam mengibarkan bendera merah tanda bahaya dan menyerukan kepada semua orang untuk mengatasi masalah individu tersebut. Hal itu adalah kebalikan dari Kapitalisme yang menganggap ekonomi itu sehat selama ada pertumbuhan umum kekayaan bahkan jika ada banyak orang yang menjadi miskin, sementara ekonomi sedang tumbuh.
Islam tidak mengizinkan ekonomi non-riil eksis dengan melancarkan perang tanpa henti terhadap riba dan segala jenis transaksi yang ilusif. Islam tidak mengizinkan suatu produk atau jasa mengandung dua nilai yang berbeda: nilai riil dan nilai non-riil. Setiap komoditi dan produk memiliki satu dan hanya satu nilai, yang disepakati oleh para pihak untuk berlangsungnya transaksi. Buku saya itu menggambarkan perbedaan antara Islam dan Kapitalisme secara jauh lebih detil.
Lalu apa yang harus dilakukan oleh umat Islam saat ini?
Umat Islam harus secara aktif terlibat dalam dialog di seluruh dunia untuk membawa ide-ide Islam dan untuk menunjukkan kekuatan ide-ide dan sistem Islam itu. Kaum Muslim harus mempelajari realita Islam dan kemampuannya untuk membentuk perilaku manusia dalam bentuk yang paling produktif. Di atas semua itu, kaum Muslim dengan penuh semangat harus terlibat dalam perjuangan untuk menerapkan sistem Islam dalam kerangka negara, di mana model Islam yang cemerlang dapat ditunjukkan kepada dunia pada umumnya. []
Biografi Singkat
Mohammad Malkawi mendapat gelar Ph.D. di bidang teknik komputer dari University of Illinois di AS. Ia bersekolah di Uni Soviet (1974-1980), di Yordania (1980-1983) dan AS (1983-1986). Ia mengajar di beberapa universitas di Amerika Serikat dan Yordania di bidang teknik maupun bisnis. Saat ini beliau menjabat Dekan Teknik di Jadara University dan menjadi profesor tambahan di Sekolah Bisnis di Argosy University di Chicago. Dia telah bekerja di Motorola dan SUN Microsystems. Ia adalah pendiri Wireless Solutions, sebuah perusahaan jasa telekomunikasi dan pengembangan perangkat lunak di Amerika Serikat. Ia menjadi dosen mengenai isu-isu terkait dengan politik Islam di berbagai konferensi dan lokakarya. Selain minatnya pada teknologi canggih, Dr. Malkawi telah menunjukkan minat dalam studi ideologi dan gerakan Islam dan telah menulis ratusan artikel tentang isu-isu yang berkaitan dengan Sosialisme, Islam, Kapitalisme dan gerakan-gerakan Islam.

JAKARTA (ResistNews) - Koperasi Warung Tegal (Kowarteg) yang membawahi sekitar 26.900 warteg di Jakarta berharap peraturan daerah tentang pajak restoran tidak hanya direvisi, namun dibatalkan. Jika tetap diberlakukan, walau hanya 5 persen pajak yang dikenakan, seluruh warteg di ibukota akan gulung tikar.

Ketua Kowarteg Sastoro mengatakan, kebijakan pajak bagi para pengusaha warteg ini merupakan kebijakan yang kejam apabila tetap diberlakukan.

"Warteg tidak kenal bon, jika diberlakukan pajak 10 persen maka harus merubah mekanismenya. Ada benturan yang sangat berat karena warteg bukan restoran," ujar Sastoro, usai berdialog dengan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo di Balaikota DKI Jakarta, Senin (6/12/2010).

Menurut Sastoro, pelanggan warteg adalah masyarakat menengah ke bawah yang selama ini tak mengenal sistem pengenaan pajak. Warteg yang beromset Rp400 ribu per hari tak akan sanggup bila dibebani pajak 10 persen. Pembayaran uang sewa tempat menjadi kendala utama.

"Berbeda dengan warung mi, bubur kacang hijau dan pecel lele. Warteg, sejak tahun 2000 telah memasuki masa sulit. Membeli bahan pokok saja sulit, apalagi bayar pajak," paparnya.

Sastoro mengimbau kepada seluruh pengusaha warteg untuk bersikap tenang dan tidak panik dan langsung menaikkan harga terkait peraturan ini.

"Kepada seluruh warteg se-DKI Jakarta, silakan lakukan kegiatan seperti biasa karena Gubernur DKI Jakarta akan menunda tandatangan Perda ini. Insya Allah setelah ditunda bisa langsung dibatalkan. Motto orang Tegal bukan cuma cari makan di Jakarta, tapi kasih makan orang Jakarta. Kalau warteg tutup, orang Jakarta kelaparan," tegasnya.

Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Jakarta, Fadjar Panjaitan mengatakan, Pemprov DKI akan mengajukan surat pengkajian ulang kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta.

"Bukannya tidak setuju dengan Perda itu, tapi kami menilai harus dikaji kembali (untuk warteg)," terangnya.

Fadjar pun menyampaikan untuk jasa penyedia makanan dan minuman sekelas restoran akan tetap dikenai pajak. Bagi restoran yang miliki omzet Rp60 juta akan dikenakan di bawah 10 persen dan untuk omzet di atas Rp 60 juta maksimal 10 persen.

"Nanti usulannya akan disiapkan Dinas Pelayanan Pajak. Diharapkan selesai secepatnya sesuai evaluasi atas apa yang disampaikan Kowarteg kepada Gubernur DKI," katanya.

Sebelumnya, pengenaan pajak kepada warung Tegal telah disetujui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta dan akan diberlakukan mulai 1 Januari 2011. Aturan ini telah masuk ke badan legislatif daerah (Balegda) DKI Jakarta.

Pemberlakuan pajak warteg sebesar 10 persen itu sudah diatur dalam Undang-Undang No 28 tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Pengusaha warteg yang pendapatannya Rp60 juta dalam setahun atau Rp170 ribu dalam sehari, akan dikenai pajak.

Sebelumnya, DPR RI akan segera memanggil Direktur Jenderal Pajak Mochammad Tjiptardjo dan Gubernur DKI Fauzi Bowo terkait pengenaan wajib pajak bagi pengusaha warung Tegal. Demikian diungkapkan oleh Wakil Ketua DPR RI Pramono Anung di Senayan, Jakarta.

"Dalam paripurna sudah disepakati untuk memanggil Dirjen Pajak dan Gubernur DKI untuk bertemu Pimpiman DPR dan juga komisi terkait yaitu II dan XI untuk segera membahas ini juga menjadi prioritas," katanya.

Selain itu, menurutnya langkah untuk membebani pengusaha warteg dengan beban pajak ini merupakan langkah yang kurang kreatif. Menurutnya, masih banyak sektor-sektor lain yang seharunya bisa dikenakan pajak. Seperti diketahui, wajib pajak yang dibebani kepada warteg ini dilakukan jika pengusaha itu mempunyai omzet lebih dari Rp 60 juta per tahun. (fn/vs/lp) www.suaramedia.com

JAKARTA (ResistNews) - Ketua Fraksi Partai Golongan Karya DPR RI Setya Novanto berharap Sri Sultan Hamengkubuwono X tidak ke luar dan menanggalkan atribut Partai Golkar yang telah lama disandangnya, menyusul desakan sejumlah pihak agar Sultan menjadi simbol Yogyakarta yang netral.

"Saya sudah lama mengenal beliau dan hubungan Golkar dengan Sri Sultan juga sangat baik. Dalam kondisi saat ini lebih baik bagaimana mendengarkan aspirasi masyarakat dulu. Namun kami tetap menghargai aspirasi dan kepentingan semua pihak," kata Novanto di Gedung DPR, Jakarta, Senin (6/12/2010).

Sementara anggota Komisi II DPR RI Agun Gunanjar Sudarsa mengatakan, Sri Sultan tak perlu melepaskan jaket parpolnya hanya agar bisa mencalonkan diri sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

"Saya nggak setuju, nggak masalah kan gubernur dari partai politik," kata Agun.

Sementara itu, Ketua Fraksi Partai Gerindra Ahmad Muzani mengatakan bila Sri Sultan kembali jadi gubernur dengan cara ditetapkan, maka Sri Sultan harus melepaskan baju partai yang selama ini dipakainya.

Tak hanya itu, Sultan juga tidak bisa menggunakan kekuasannya untuk membesarkan partai politik tertentu.

"Bukan hanya melepas partai, tapi dia harus berdiri di atas semua golongan dan partai-partai politik," kata Muzani.

Sampai saat ini Sri Sultan masih tercatat sebagai politisi Partai Golkar dan termasuk tokoh yang membidani lahirnya Organisasi Kemasyarakatan Nasional Demokrat.

Sejumlah pihak meminta Sri Sultan Hamengkubuwono X sebagai Raja Yogyakarta melepas jubah parpolnya dan menjadi simbol yang netral demi menjaga keistimewaan Yogyakarta.

Terkait masalah posisi gubernur apakah dipilih atau ditetapkan, Novanto berpendapat, berdasarkan survei internal Golkar, 60-70 persen masyarakat Yogyakarta menginginkan Sri Sultan Hamengkubuwono X dan Paku Alam tetap menjabat gubernur dan wakil gubernur.

"Kita sudah melakukan evaluasi, dan kesimpulan yang didapatkan fraksi sekitar 60-70 persen masyarakat di sana ingin kalau gubernur dan wakil gubernur ditetapkan, bukan dipilih, artinya Hamengkubuwono dan Paku Alam secara otomatis akan menjabatnya," kata Novanto.

Fraksi Golkar juga mengharapkan  pemerintah secepatnya menyerahkan draf RUU Keistimewaan DIY ke DPR agar bisa segera dibahas.

Sebelumnya, erupsi Gunung Merapi pada 26 Oktober lalu merupakan isyarat bakal ada gonjang-gonjing di Yogyakarta. Belakangan saat air mata para korban Merapi belum kering kekisruhan itu betul-betul tiba.

Adalah pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terkait RUU Keistimewaan Yogyakarta pemicunya. Statement itu lantas disikapi oleh Sultan dengan penegasan bahwa tidak ada monarki di Yogya. Setali tiga uang, rakyat Yogya pun bangkit membela Sultannya.

Berbagai bentuk aksi digalang untuk mendukung penetapan Sultan sebagai gubernur dan Pakualam sebagai wakil gubernur Yogyakarta. "Itu (erupsi Merapi dengan situasi Yogya sekarang) memang kait mengkait. Ini baru awal saja," ujar paranormal Permadi.

Permadi sebelumnya mengungkapkan posisi Gunung Merapi dalam budaya Jawa sebagai salah satu sentral makrokosmos. Bila gunung ini bergolak maka dapat dipastikan bakal ada peristiwa besar di republik ini.

Wasekjen Merti Nusantara, Bondan Nusantara mengakui mayoritas rayat Yogyakarta memang masih mempercayai mitos di atas. "Ya memang kalau masyarakat tradisional masih mengaitkan soal Merapi dengan hal ini, tapi bagi kami erupsi Merapi itu adalah gejala alam biasa," ungkapnya.

Bagi Bondan yang terpenting saat ini adalah ketenangan warga Yogyakarta tidak diusik-usik lagi. Dia berharap agar pemerintah cepat mengambil keputusan soal RUU Keistimewan Yogykarta. "Biar kami juga bisa cepat mengambil sikap," tandasnya. (fn/ant/ok) www.suaramedia.com

LONDON (ResistNews) – Pendiri WikiLeaks Julian Assange baru-baru ini mengungkapkan bahwa dirinya telah mengirimkan 100.000 dokumen rahasia yang terenkripsi dalam bentuk kode untuk berjaga-jaga jika ada sesuatu yang menimpa dirinya.

Assange mengakui bahwa dirinya dan para koleganya memang mendapatkan ancaman kematian gara-gara pembocoran dokumen tersebut.

Untuk pertama kalinya ia mengungkapkan mengenai kebijakan jaminan untuk memastikan bahwa situs miliknya tidak akan dibungkam, apa pun tindakan drastis yang dilakukan musuh-musuhnya.

"Ancaman kematian terhadap kami adalah masalah catatan publik. Akan tetapi, kami bicara mengenai tindakan pencegahan yang sesuai semampu kami saat berurusan dengan kekuatan besar," katanya seperti dilansir Daily Mail.

"Jika ada sesuatu yang terjadi kepada kami, bagian-bagian inti akan dirilis secara otomatis," tambahnya.

Assange menuji tindakan analis intelijen Angkatan Darat AS, Bradley Manning, 23, tanpa membenarkan jika Manning merupakan sumber kebocoran. Prajurit muda tersebutmasih belum divonis terkait kebocoran telegram-telegram diplomatik AS, tapi ia dicurigai sebagai sumber dari kebocoran.

"Selama empat tahun terakhir. Salah satu tujuan kami adalah mengutamakan kepentingan sumber yang benar-benar menanggung risiko dalam setiap pengungkapan jurnalistik, dan tanpa upaya semacam itu, jurnalistik tidak akan punya arti," katanya.

"Jika benar seperti itu, seperti yang dituduhkan Pentagon, bahwa prajurit muda (Bradley Manning) itu mendalangi sejumlah kebocoran baru-baru ini, maka tanpa diragukan lagi, dia adalah seorang pahlawan yang tidak ada bandingannya," katanya.

Itu adalah kesempatan pertama kalinya warga Australia terebut buka suara dalam beberapa hari terakhir dan juga terjadi saat pagi ini situs WikiLeaks dipaksa memindahkan lokasi situsnya ke Swiss setelah WikiLeaks tidak dapat diakses saat perusahaan AS yang menyediakan layanan alamat menghentikan layanan jasanya.

Penyedia domain situs tersebut, Every DNS, mengatakan bahwa pihaknya berhenti menerjemahkan alamat wikileaks.org sebagai alamat yang dipahami komputer setelah situs itu ditarget para peretas.

WikiLeaks pun mengeluh karena telah "dibunuh" dan kini pindah ke alamat baru di Swiss, wikileaks.ch.

"Pindah rumah"-nya situs tersebut akan menimbulkan tanda tanya bahwa EveryDNS mendapat tekanan dari pemerintah AS agar putus hubungan dengan situs kontroversial itu.

Situs itu tak dapat diakses selama enam jam setelah ditinggalkan EveryDNS. Amazon juga telah mencabut WikiLeaks dari server-nya setelah mendapatkan tekanan politik yang besar.

Assange kini berada dalam pengawasan ketat setelah WikiLeaks mulai merilis sebagian dari 250.000 lebih dokumen rahasia AS yang diserahkan kepada situs pembocor rahasia tersebut.

Pengungkapan terbaru menyatakan bahwa AS menganggap Gordon Brown sebagai perdana menteri yang "tidak dapat dipahami" dan berspekulasi mengenai kemungkinan penggantian perdana menteri secara dini, bahkan mulai Juli 2008.

Assange masih diyakini tengah bersembunyi di Inggris. Ia tampaknya berada di Inggris selama dua pekan.

Para detektif Scotland Yard diyakini siap menangkap pria 39 tahun tersebut terkait dua tuduhan perkosaan dan pelecehan seksual di Swedia, tapi mereka menolak memberikan keterangan lebih lanjut.

Mark Stephens, pengacara Assange, mengatakan bahwa perintah penangkapan dalam bentuk apa pun akan dilawan di pengadilan.

Sementara itu, Perancis menjadi negara pertama yang melarang WikiLeaks. Menteri Industri negeri anggur tersebut berjanji akan "menghapus" situs itu dari komputer orang-orang. (dn/nk/dm) www.suaramedia.com

WASHINGTON (ResistNews) – Sebuah daftar panjang dari fasilitas-fasilitas penting di seluruh AS yang dianggap AS penting bagi keamanan nasionalnya telah dirilis oleh WikiLeaks.

Departemen Luar Negeri AS di bulan Februari 2009 meminta seluruh misi AS di luar negeri untuk mendaftar semua instalasi yang kehilangannya bisa sangat mempengaruhi keamanannya nasional AS.

Daftar itu mencakup jalur pipa, pusat komunikasi dan transport.

Beberapa situs Inggris termasuk dalam daftar, termasuk lokasi kabel, situs satelit dan pabrik Sistem BAE.

Ini mungkin dokumen paling kontroversial dari organisasi WikiLeaks.

Definisi keamanan nasional AS yang diungkapkan oleh kabel itu bersifat luas dan mencakup semua.

Selain  infrastruktur strategis seperti pusat komunikasi dan jalur pipa, daftar itu juga mengandung hal-hal lain, seperti tambang kobalt, pabrik anti bisa ular di Australia dan sebuah pabrik insulin di Denmark.

Misi-misi AS diminta untuk mendaftar semua instalasi yang kehilangannya bisa berdampak kritiks pada kesehatan masyarakat, keamanan ekonomi, atau keamanan nasional AS.

Di Inggris, misalnya, daftarnya mencakup mulai dari Cornwall sampai Skotlandia, termasuk situs komunikasi satelit utama dan tempat-tempat di mana kabel trans-Atlantik bisa menyebabkan tanah longsor.

Sejumlah pabrik Sistem BAE yang terlibat dalam program senjata gabungan dengan Amerika juga didaftar, bersama dengan perusahaan teknik kelautan di Edinburg yang dikatakan penting bagi kapal selam bertenaga nuklir.

Cakupan geografis dari dokumen itu luar biasa.

Jika AS memandang dirinya melakukan perang melawan teror maka ini mencerminkan sebuah arah global dari instalasi dan fasilitas kunci yang banyak dipandang sebagai penting bagi Washington.

Tidak heran jika kemudian koran Times di London mempublikasikan cerita itu dengan judul berita "WikiLeaks membeberkan target teror terhadap AS."

Beberapa lokasi memiliki penagihan unik. Persimpangan jalur pipa gas Nadym di Siberia barat, misalnya, digambarkan sebagai fasilitas gas paling kritis di dunia.

Ia merupakan titik transit krusial bagi gas Rusia yang menuju Eropa Barat.

Dalam beberapa kasus, pabrik farmasi tertentu atau mereka yang menghasilkan produk-produk darah disoroti karena posisi penting mereka bagi pasokan rantai global.

Pertanyaan pentingnya adalah "Apakah ini benar-benar membeberkan potensi target yang mungkin akan digunakan oleh teroris?"

Kabel itu memuat daftar sederhana. Dalam banyak kasus, kota-kota diketahui sebagai lokasinya tapi bukan alamat jalan yang sebenarnya.

Itu, tentu saja, tidak akan menghalangi siapa pun dengan akses ke internet. Juga tidak terdapat detail langkah-langkah keamanan di setiap situs terdaftar. (rin/bbc) www.suaramedia.com

WASHINGTON (ResistNews) – "Apa kau punya bom tersembunyi di balik sana?"

Itu bukan pertanyaan yang biasa dia terima.

Dia menjawabnya dengan sebuah pertanyaan, "Maksudmu di balik jilbabku? Apa aku punya bom?"

Kedua pria tua berjaket flanel itu duduk di dalam toko kayu dan salah satu dari mereka menyeringai dengan sedikit gelisah pada mahasiswi kampus Geneseo itu. Sejak dia masuk ke dalam toko untuk membeli kepingan kayu, keadaan menjadi sedikit aneh.

"Apa kau Muslim?" pria itu bertanya dengan berani, mengklarifikasi pertanyaannya.

"Bukan," jawab mahasiswi itu. "Aku sebenarnya bukan Muslim. Tapi aku memakai jilbab Muslim sebagai bagian dari proyek sekolah."

Kedua pria itu segera menjadi tenang, saling melempar canda, ketegangan luntur dan dia menerima respon yang identik dengan yang sering dia terima sejak proyek itu dimulainya.

"Oh, syukurlah," ujar pria itu, seperti banyak orang lainnya. "Kami kira kau Muslim."

Gadis itu sebenarnya bukan Muslim tapi dia bisa melihat kenapa mereka berpikir seperti itu. Sudah satu bulan dia memakai jilbab Muslim ke kelas, tempat kerja, dan kegiatan luar kampus. Pada dasarnya, dia telah menjalani satu bulan dengan berada dalam kebudayaan kaum minoritas di AS dan di kampus Geneseo. Itu adalah eksperimen untuk Honors Capstone Experience-nya dengan sebuah proyek berjudul, "Berkah Fatima: Jilbab di AS."

Pertanyaan lain yang cukup sering diterimanya juga sangat sederhana, "Kenapa?"

Semua orang bisa melihat bahwa Amerika memiliki masalah dengan Islam saat ini. Dalam lingkup yang lebih luas, dunia memiliki masalah dengan Islam saat ini.

Menurut Pusat Penelitian Pew, Islam adalah salah satu agama dengan pertumbuhan paling cepat di dunia dan tidak ada satu orang pun tanpa motif politik di luar sana yang bersedia untuk mencari masalah dengan namanya. Banyak warga Amerika yang takut pada kaum Muslim. Citra mereka sudah cukup untuk memicu ketegangan di lingkaran paling lunak sekalipun.

Mahasiswi itu penasaran dengan apa yang akan terjadi jika dia mulai memakai jilbab, bagaimana orang-orang yang dia temui setiap hari akan memperlakukan dirinya. Mulai tanggal 15 Oktober sampai 22 November, dia melakukan pencarian jawabannya.

Jumlah kenalan yang pura-pura tidak melihat dirinya ketika mereka berpapasan di kampus mengejutkan. Jumlah tatapan dingin dan lirikan gugup yang diterimanya bahkan lebih besar. Sebagai pemandu tur di kantor penerimaan mahasiswa, reaksi dari salah satu peserta tur sudah cukup untuk membuatnya ingin menyerah dalam tiga hari pertama proyek.

Tapi dia tetap bertahan. Proyek itu sepadan dengan semuanya: waktu ekstra yang dibutuhkan untuk memakai jilbab sebelum kuliah, pertengkaran dengan keluarga, dan rasa sakit dari cemoohan anti-Islam yang diterimanya. Dia belajar banyak dari yang diharapkannya dalam waktu satu bulan.

Pertama, dia belajar bahwa Geneseo adalah kampus yang sangat toleran, setidaknya di permukaan. Kedua, dia sekarang tahu bahwa dia memiliki teman-teman sejati yang mendukung keputusannya. Dan ketiga, dia belajar bahwa dengan menutup rambut dia bisa mengalihkan fokusnya dari dunia sekitar ke dunia yang ada di dalam dirinya. "Ketika aku mulai memakai jilbab, aku tidak merasa tertindas samasekali, tapi malah terbebas dari tekanan ekspektasi di sekitarku. Dengan menutup rambut, aku benar-benar merasa lebih bebas."

Mengenakan jilbab selama satu bulan, bisa dikatakan itu adalah pengalaman mencerahkan baginya dalam banyak cara. (rin/tl) www.suaramedia.com

Sungguh malang nasib Sumiati dan Kikim. Dua TKI perempuan asal Dompu NTB dan Cianjur ini telah menjadi korban penyiksaan sadis sang majikan. Bahkan karena siksaan sadis itu nyawa Kikim harus hilang dengan cara mengenaskan; disiksa, diperkosa, digorok dan dibuang bak binatang di tempat sampah.
Ironisnya, ibarat mengidap amnesia akut, seluruh bangsa inipun hanya bisa terperangah. Bersikap seolah-olah peristiwa semacam ini baru kali ini terjadi. Para penguasa nampak panik menutupi keteledoran. Sementara media sibuk memberitakan. Adapun rakyat kebanyakan asyik berdiskusi, dan menjadikannya topik obrolan baru, menggantikan topik-topik lain yang datang bergantian.
Namun bisa dipastikan persoalan ini lambat laun akan pupus dengan sendirinya, sejalan dengan bergulirnya waktu, dan banyaknya persoalan yang seolah tak pernah mau hengkang dari negeri dengan berjuta masalah ini. Nama Sumiati dan Kikim pun, dipastikan akan menghilang dari perbincangan, dan suatu saat data kasusnyapun lenyap di peti-eskan.
Itulah yang juga pernah terjadi pada Nirmala Bonat, Siti Zainab, Siti Hajar, Nuraeni, dan ribuan TKI perempuan bernasib malang yang saat kasusnya bermunculan bangsa ini memberi respon yang sama. Namun apa yang terjadi kemudian? Nama dan kasus merekapun raib entah kemana.
Lantas, bagaimana dengan nasib jutaan TKI lain yang tak sempat terekam kamera dan terendus media? Padahal detik ini pun, bisa jadi di antara mereka, ada yang sedang meratapi nasib dan berjuang sendirian menghadapi kesewenang-wenangan para majikan.
Wahai Penguasa, Dimanakah Kalian?
Nasib kebanyakan TKI memang malang. Mereka yang mayoritas kaum perempuan dipuja bak pahlawan, karena menjadi sumber devisa buat kelangsungan hidup negara yang senyatanya tak bisa dihasilkan oleh keringat hasil kerja para penguasa. Namun di saat yang sama, mereka harus rela menghadapi ketidak acuhan para penguasa akan nasib miris yang menimpa mereka.
Seberapa besar jasa TKI, Republika pernah merilis data, bahwa hingga September 2010, total dana remitansi yang dikirimkan TKI di luar negeri, telah mencapai 5,031 miliar dolar Amerika dengan angka terbesar datang dari Malaysia disusul Arab Saudi (republika.co.id, 23/11). Data lain menyebut, dari tahun 2009 hingga awal maret 2010 pemasukan devisa yang dihasilkan dari remitansi yang dikirimkan TKI mencapai 6,615 milyar dolar AS atau setara Rp. 60 Trilyun (antaraNews dan vivaNews, 1/3). Dan untuk tahun 2010, Bank dunia bahkan memprediksi akan mencapai 7 milyar dolar lebih (politikindonesia.com,11/11).
Bayangkan betapa besar kontribusi para TKI pada perekonomian bangsa ini. Bahkan nilai devisa TKI ini disebut-sebut menempati posisi nomor dua setelah Migas. Penghasilan menggiurkan inilah yang rupanya menjadi alasan kenapa penguasa begitu bersemangat mendorong dan memfasilitasi pegiriman TKI ke luar negeri. Cukup dengan mengekspor TKI terutama kaum perempuan, devisa datang sendiri. Tak heran jika Indonesia disebut-sebut sebagai salah satu negara pengekspor buruh migran terbesar dunia dengan persentase buruh migran perempuan (BMP)  mencapai 80 persen. Yang menjadi negara tujuan antara lain Arab Saudi, Malaysia, Singapura dan Hongkong.
Ironisnya, hingga hari ini tidak ada data pasti tentang berapa jumlah TKI yang bekerja di luar negeri. Beberapa waktu lalu SBY menyebut angka 3.271.584 orang. Sementara situs migrantcare menyebut ada 4,5 juta orang (migrantcare.net, 24/11). Di antara sekian banyak TKI yang mengadu nasib di luar negeri ini, tak sedikit yang malah menuai masalah. Menurut catatan Migrant Care, sepanjang 2010 saja, jumlah total dari berbagai jenis masalah yang dialami buruh migrant mencapai 45.845 kasus dan 908 orang mati sia-sia (okezone,24/11). Sementara menurut SBY, TKI bermasalah 'hanya' ada 0,01 persen (4.385 orang) saja, dengan jenis masalah berupa pelanggaran kontrak, gaji tidak dibayar, jam kerja serta beban kerja yang tidak sesuai, tindakan kekerasan hingga pelecehan seksual.
Yang menjadi pertanyaan adalah, jika jasa TKI tak bisa diabaikan, lantas seberapa peduli pihak pemerintah terhadap permasalahan mereka? Jawabannya, mungkin bisa tercermin dari ungkapan  SBY tatkala menanggapi perdebatan soal kasus Sumiati dan Kikim: "TKI, bekali handphone saja!". Alih-alih fokus pada solusi strategis, SBY malah melontarkan gagasan kontroversial. Seolah-olah, persoalan TKI dan harga perempuan, hanya persoalan remeh temeh saja. Ironisnya ide yang dinilai sangat menggelikan dan tidak layak muncul dari seorang Presiden ini justru ditanggapi positif oleh BNP2TKI (Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia), lembaga yang seharusnya turut bertanggungjawab terhadap munculnya permasalahan TKI dan memaksimalkan upaya perlindungan atas mereka.
Dari fakta ini saja nampak jelas bagaimana peran penguasa yang seharusnya menjadi pelayan dan pelindung masyarakat. Sikap tak acuh mereka malah kian melegitimasi kedzaliman yang menimpa para perempuan penambang devisa. Bahkan keberadaan hukum normatif yang diberlakukan penguasa, yakni UU No 39/2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (TKI), bagi sebagian kalangan, justru dianggap sebagai sumber masalah. Selain karena tak memberikan skema yang jelas bagaimana perlindungan harus dijalankan, UU ini bahkan dinilai menjadi alat legal bagi PJTKI untuk melakukan eksploitasi melalui bisnis TKI. Jika demikian halnya, pantaslah jika ada yang menyatakan, bahwa negara dan penguasa semacam ini adalah sumber kekerasan sebenarnya.
TKI Perempuan dan Jebakan Kemiskinan
Atas merebaknya kasus TKI khususnya yang perempuan, para pengamat dan LSM rata-rata hanya menyorot soal kinerja pemerintah dalam persoalan regulasi yang harus diperbaiki, termasuk desakan merativikasi konvensi PBB terkait buruh migrant, serta masalah lemahnya positioning pemerintah dalam kegiatan diplomasi, dll. Padahal jika dicermati, ada hal mendasar yang seharusnya menjadi fokus utama pemerintah dalam menyelesaikan masalah TKI, yakni persoalan gurita kemiskinan dan sulitnya lapangan pekerjaan di dalam negeri.
Kemiskinan dan pengangguran memang merupakan PR terbesar negeri ini. Kemiskinan, bahkan menjadi potret bersama sekitar 31 juta penduduk Indonesia (13,33 persen dari 238 juta) dengan standar pendapatan yang digunakan Rp. 211.000/kap/bln (Sensus BPS, 2010). Bayangkan jika besaran standar kemiskinan yang tidak manusiawi ini dinaikkan. Mungkin lebih dari setengah penduduk Indonesia yang akan masuk pada katagori miskin.
Sejalan dengan kemiskinan, angka pengangguranpun tak kalah fantastis. Di tahun 2010 ini, diperkirakan jumlah pengangguran terbuka mencapai angka 10 persen (23 juta). Dan ini belum termasuk jumlah pengangguran terselubung dan tertutup yang angkanya bisa dua kali lipat. Mandegnya pertumbuhan ekonomi dan investasi di sektor riil akibat krisis global disebut-sebut sebagai penyebab terjadinya dua hal ini. Sulitnya lapangan pekerjaan dan rasionalisasi besar-besaran di sektor perindustrian membuat angkatan kerja termasuk jutaan lulusan perguruan tinggi tak terserap potensinya. Kehidupan masyarakat yang sulit ini, kemudian diperparah dengan krisis pangan dan energi yang memicu kenaikan harga-harga kebutuhan pokok. Dampak susulannya, gizi buruk dan anak terlantar pun merebak dimana-mana, kualitas kesehatan dan pendidikan masyarakat kian menurun, kriminalitas meningkat, dan lain-lain.
Pada kondisi seperti inilah jutaan keluarga-keluarga miskin harus bertahan hidup. Dan untuk membantu perekonomian keluarga mereka, para ibu dan kaum perempuanpun terpaksa 'memberdayakan diri', membantu para bapak mencari uang, di tengah peran domestik yang sangat penting dan tak kalah berat.  Salah satu opsi yang terbuka adalah dengan menjadi TKI ke luar negeri, sekalipun beresiko tinggi.
Dengan rata-rata bekal kualitas pendidikan dan skill yang pas-pasan, para tenaga kerja perempuan inipun terbang jauh merenda asa. Bertahun-tahun rela meninggalkan keluarga, suami dan anak mereka. Pekerjaan sebagai PRT, perawat, bahkan PSK pun menjadi pilihan paling realistis bagi kebanyakan dari mereka. Hanya sedikit yang bisa  bekerja sebagai dokter, guru/dosen, artis, dll. Nampaknya, mereka sudah tak peduli bahwa pilihan ini telah berdampak pada pelanggaran hukum syara yang akan mendatangkan kemurkaan Allah SWT. Di samping mencari nafkah bukan kewajiban mereka, dari statusnya sebagai istri, akan banyak kewajiban atas suami yang terabaikan saat dia menjadi TKI di luar negeri. Begitupun sebagai ibu, kewajiban mulianya sebagai pengasuh, pendidik dan pencetak generasi umat berkualitas akan terlalaikan sama sekali.
Kemiskinan, Cermin Ketidakmampuan Negara Mewujudkan Kesejahteraan
Sebagai negara super kaya, tak semestinya Indonesia menjadi negara miskin dan menggantungkan hidupnya dari eksploitasi tenaga kerja perempuan di luar negeri. Begitupun, tak akan ada alasan bagi para bapak untuk tak bekerja dan menggantungkan hidup mereka dan keluarganya dengan merelakan para isteri  bekerja menyabung nyawa di luar negeri.
Indonesia sebenarnya punya modal lebih dari cukup untuk mensejahterakan seluruh rakyatnya hingga tujuh turunan sekalipun. Sumber daya alam kita melimpah ruah, baik berupa hutan, laut, sungai dengan segala isinya, bahan tambang berupa mineral, minyak, gas bumi, dll.  Tahun 2009 saja, Badan Geologi merilis data, bahwa Indonesia masih memiliki cadangan batubara 104.760 juta ton, emas 4.250 ton, tembaga 68.960 ribu ton, timah 650.135 ton dan nikel 1.878 juta ton. Sayangnya, amanah Allah berupa kekayaan alam milik rakyat ini tak dikelola secara baik oleh para penguasa Indonesia dari masa ke masa. Konsistensi mereka pada kebijakan ekonomi liberal kapitalistik telah menyebabkan sebagian besar kekayaan itu jatuh ke tangan asing. Jebakan kesepakatan internasional, hutang luar negeri dan rekayasa krisis ekonomi ala Yahudi berikut  penyelesaian masalah mereka pada resep IMF telah membuat pemerintah kita tunduk pada kemauan asing.
Akibatnya? Ladang minyak bumi Indonesia hampir 90 persen dikuasai asing. Begitupun SDA yang lain. Salah satunya, PT. Freeport-McMoRan pengelola tambang emas asal Amerika mendapat izin gratis untuk mengeksploitasi pertambangan emas di Ertsberg dan Grasberg Papua  melalui perjanjian Kontrak Karya yang sejak tahun 1967 terus diperpanjang hingga saat ini. Tiap hari, perusahaan ini ditengarai berhasil menambang 102.000 gr emas (bayangkan, harga emas 24 karat sekitar Rp. 400 ribu/gr) berikut 'bonus' berupa tembaga dan uranium. Jika dihitung, emas kita yang sudah mereka rampok berjumlah 102.000grX43thX365 hari. Padahal emas yang mereka keruk ini bisa menjadikan kita memiliki cadangan devisa yang berlimpah tanpa harus mengorbankan rakyat terutama kaum perempuan mereka untuk  jadi TKI. Belum lagi perusahaan-perusahaan asing lainnya, yang dengan cara sama mereka mendapat legalisasi merampok kekayaan kita. Ada Exxon Mobil, Shell, British Petroleum, Total S.A., Chevron Corp. dll yang di tahun 2009,  semuanya diperkirakan mengelola kekayaan alam Indonesia dengan nilai 1.655 miliar dolar AS atau sekitar Rp. 17.000 triliun/tahun = 17 kali lipat dari APBN Indonesia tahun 2009 yang hanya mencapai rp 1.037 triliun.
Tentu saja semua kekayaan ini, seharusnya bisa menjadi modal pemerintah untuk membangun negara dan mesejahterakan rakyatnya, dengan memenuhi hak dasar mereka, baik sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, dll secara mudah, murah bahkan gratis. Dengan demikian, keluarga-keluarga di negeri ini, akan menikmati hidup dengan mudah dan merasakan ketentraman yang sesungguhnya. Para bapak, beroleh kemudahan mencari nafkah karena lapangan pekerjaan tersedia dengan mudah. Kebutuhan para Ibu dan anak-anakpun akan terjamin, sehingga tugas mulia mencetak generasi berkualitas akan berlangsung secara sempurna.  Sayangnya, ini tak terjadi. Perselingkuhan para penguasa dengan pihak asing dan kapitalis, membuat mereka lebih rela menjadi kacung asing dan menjalankan kebijakan-kebijakan anti rakyat, seperti program liberalisasi, privatisasi BUMN, pencabutan subsidi, dan membuat berbagai regulasi yang menguntungkan asing/kapitalis ketimbang rakyat banyak, semisal UU No. 1/1967 tentang PMA, UU No. 4/2004 tentang Sumber Daya Air, UU Migas, dll.

Saatnya Kembali Ke Jalan Allah
Mempertahankan kapitalisme sebagai sistem hidup dan membiarkan para penjaganya tetap berkuasa tentu bukanlah pilihan logis. Jika ini terjadi, jangan harap berbagai permasalahan TKI yang akarnya adalah kemiskinan ini bisa diselesaikan dengan tuntas. Kaum perempuanpun akan tetap terhinakan dan menjadi korban kebusukan kapitalisme sebagaimana juga laki-laki. Mereka akan selalu berada dalam kondisi dilematis dalam menjalankan peran-peran mereka. Padahal, Allah SWT telah tetapkan kedudukan mereka dalam posisi yang mulia sebagai ummu wa Rabbatul Bait, ibu dan pengatur rumahtangga, penyangga kemuliaan generasi umat dan arsitek peradaban Islam di masa depan.
Terlebih persoalan TKI hanyalah sebagian kecil dari dampak penerapan sistem kapitalisme ini. Di dalam negeri, jutaan buruh menjerit karena upah yang tak sepadan dengan kebutuhan hidup mereka. Uang rakyat, malah digunakan foya-foya oleh para pejabat korup mereka, sementara itu, para penguasa berasyik masyuk dengan pemimpin para penjajah dan berkonspirasi menambah penderitaan rakyat dengan menandatangani berbagai nota kesepakatan yang mengokohkan penjajahan kapitalisme atas negeri mereka. Pada saat yang sama, para penguasa itupun membiarkan rakyatnya berjalan sendirian, menderita dan menangis sendirian dan meninabobokan mereka dengan janji-janji kosong yang tak lebih hanya untuk pencitraan semata.
Sudah saatnya umat negeri ini sadar, bahwa jalan terbaik adalah kembali ke jalan Islam. Jalan yang menjanjikan kemuliaan manusia sebagai individu maupun umat, melalui penerapan aturan Islam secara kaffah dalam wadah Khilafah Islamiyah. Aturan-aturan Islam inilah yang akan menyelesaikan berbagai persoalan manusia secara adil dan menyeluruh, termasuk masalah kemiskinan berikut dampak turunannya. Dalam sistem ini, para penguasa dan rakyat akan saling menjaga dan mengukuhkan dalam melaksanakan ketaatan demi meraih keridhaan Allah. Tak ada pihak yang dirugikan, termasuk kaum perempuan.[Oleh : Siti Nafidah]

WASHINGTON (ResistNews)  - Sebuah nanosatelit berukuran tak lebih besar dari sebungkus roti tawar dan memiliki nama serupa dengan kue kering favorit anak-anak diluncurkan ke luar angkasa.

Oleh NASA, satelit mini tersebut ditugasi untuk mempelajari ilmu mendasar tentang Astrobiology tentang evolusi, asal, dan penyebaran kehidupan di jagat raya.

O/Oreos, nama satelit yang diluncurkan, merupakan singkatan dari Organism/Organic Exposure to Orbital Stresses.

Satelit berbobot sebesar 5,4 kilogram merupakan nanosatelit pertama yang memiliki dua tugas eksperimental.

Eksperimen "Space Environment Survivability of Live Organisms" juga akan mempelajari pertumbuhan, kesehatan, dan adaptabilitas mikroorganisme yang hidup di lingkungan asing dan daratan kering.

Setelah O/Oreos mencapai orbit, eksperimen akan memberi umpan dan menumbuh kembangkan sekelompok mikroba, dan mengukur respon mereka terhadap radiasi serta kondisi tanpa gravitasi.

Pada eksperimen, peneliti akan memantau apakah mikroba tersebut tetap makan dengan cara yang benar.

Adapun nutrisi yang disediakan telah diberi warna, sehingga, jika mereka sehat, mereka akan berubah warnanya.

Eksperimen kedua, bertajuk "Space Environment Viability of Organics" akan memantau apa yang terjadi terhadap empat kelas molekul organik setelah mereka terekspos terhadap kondisi luar angkasa. Eksperimen ini didesain untuk dapat bertahan selama 6 bulan, dan O/Oreos akan dapat mengirimkan data penelitiannya selama sekitar satu tahun.

Dengan peluncuran di atas, NASA berharap satelit itu akan membuktikan bahwa melakukan eksperimen astrobiologi di luar angkasa dapat dilakukan tanpa perlu menggelar misi penelitian di stasiun luar angkasa.

"Kami berusaha untuk menunjukkan bahwa nanosatelit seperti O/Oreos dapat memenuhi kebutuhan para peneliti yang memiliki ide besar dan target penting," ucap Bruce Yost, O/Oreos Mission Manager Ames Research Center, NASA, seperti diberitakan PopSci.

Untuk mengorbit, O/Oreos menumpang roket Air Force Minotaur IV dari Kodiak, Alaska. Ia mulai mengirimkan sinyal radio setelah mencapai orbit sekitar 640 kilometer dari permukaan Bumi. Setelah misinya selesai, O/Oreos juga akan menjadi satelit pertama yang menggunakan mekanisme tanpa propellant untuk kembali lagi ke Bumi. (ar/vs/ntd) www.suaramedia.com

AMERIKA SERIKAT (ResistNews) - Diabetes mellitus atau kencing manis telah menjadi masalah kesehatan dunia. Bila tidak ditangani, diabetes akan membawa komplikasi pada berbagai penyakit lain, seperti penyakit jantung, stroke, gagal ginjal, hingga impotensi.

Dr Kristen Bibbins-Domingo, peneliti dari University of California, San Fransisco, Amerika Serikat, baru-baru ini memublikasikan hasil penelitiannya mengenai insiden penyakit jantung dengan konsumsi softdrink.

Ia mengatakan, meningkatkan konsumsi minuman bersoda yang umumnya mengandung gula tinggi berdampak pada terjadinya 130.000 kasus baru diabetes, 14.000 kasus baru penyakit jantung, dan 50.000 penderita gangguan jantung dalam satu dekade terakhir.

"Dari hasil penelitian ini bisa disimpulkan, semua kebijakan yang bisa mengurangi konsumsi softdrink mungkin akan berdampak positif bagi kesehatan masyarakat," kata Dr Kristen Bibbins-Domingo.

Dengan menggunakan simulasi komputer, penyakit jantung dikaitkan dengan berbagai faktor, seperti obesitas dan konsumsi makanan mengandung garam. "Selama ini kita kurang memperhitungkan insiden antara softdrink dengan penyakit jantung karena memang minuman ini lebih populer pada para remaja. Fokus penelitian penyakit ini lebih banyak orang dewasa berusia di atas 35 tahun," papar Domingo.

Ia menambahkan, kaitan antara insiden penyakit kardiovaskular dan diabetes sangat nyata. Meski demikian, faktor meningkatnya obesitas juga mungkin berpengaruh.

"Berbagai penelitian menunjukkan dampak konsumsi minuman manis. Selama beberapa dekade terjadi peningkatan konsumsi minuman manis," katanya.

Para ahli mengingatkan, untuk mencegah diabetes, kita harus mengurangi asupan minuman dengan tambahan gula. Jika didiagnosis diabetes maka gula darah, berat badan, tekanan darah, dan kadar lemak darah harus dikendalikan. Kalau dengan olahraga tidak terkontrol, harus dilakukan dengan obat.

Sebelumnya, peringatan untuk Anda para penyuka minuman soda. Studi terkini menyebutkan, orang yang minum dua kaleng atau lebih minuman softdrink yang mengandung gula berisiko terkena kanker pankreas. Meski kasus kanker ini jarang, kanker pankreas termasuk mematikan.

Meski sama-sama mengandung gula, ternyata risiko kanker tersebut tidak ditemukan pada penyuka minuman jus buah. Ketua peneliti, Mark Pereira dari University of Minnesota, Amerika Serikat, berpendapat, gula bisa menjadi biang keladi penyakit, tetapi penyuka softdrink mungkin memiliki gaya hidup tidak sehat.

"Tingginya kadar gula dalam minuman bersoda mungkin meningkatkan kadar insulin dalam tubuh yang kami yakini menyebabkan pertumbuhan sel-sel kanker," kata Pereira. Insulin, yang membantu tubuh mengatur glukosa, dihasilkan di pankreas.

Sebanyak 60.000 pria dan wanita Singapura menjadi responden dalam penelitian yang dilakukan selama 14 tahun itu. Selama periode tersebut, 140 responden menderita kanker pankreas. Mereka yang minum dua kaleng atau lebih softdrink setiap minggu memiliki risiko 87 persen lebih tinggi menderita kanker pankreas.

Meski dilakukan di negara kecil, Pereira mengatakan, hasil studi ini bisa diaplikasikan di negara lain. "Singapura adalah negara kaya dengan sistem kesehatan yang baik. Kegemaran penduduknya adalah makan dan belanja sehingga hasil riset ini juga bisa dipakai oleh penduduk di negara Barat," katanya.

Susan Mayne dari Yale Cancer Center dari Yale University, AS, memberikan pandangan berbeda pada hasil penelitian ini. "Kesimpulannya dibuat pada contoh kasus yang kecil dan tidak jelas apakah ada hubungan sebab akibat," katanya.

Mayne menyatakan, kanker disebabkan oleh multifaktor, tidak bisa disebutkan satu faktor saja. "Tingginya konsumsi softdrink di Singapura juga diikuti dengan kebiasaan buruk lain, seperti merokok dan makan daging," ujarnya. Beberapa literatur menyatakan, kanker pankreas berkaitan dengan konsumsi daging merah. (fn/k2m) www.suaramedia.com

  Ia anak Sunan Ampel, yang berarti juga cucu Maulana Malik Ibrahim. Nama kecilnya adalah Raden Makdum Ibrahim. Lahir diperkirakan 1465 M dari seorang perempuan bernama Nyi Ageng Manila, puteri seorang adipati di Tuban. 

Sunan Bonang belajar agama dari pesantren ayahnya di Ampel Denta. Setelah cukup dewasa, ia berkelana untuk berdakwah di berbagai pelosok Pulau Jawa. Mula-mula ia berdakwah di Kediri, yang mayoritas masyarakatnya beragama Hindu. Di sana ia mendirikan Masjid Sangkal Daha. 

Ia kemudian menetap di Bonang -desa kecil di Lasem, Jawa Tengah -sekitar 15 kilometer timur kota Rembang.

Di desa itu ia membangun tempat pesujudan/zawiyah sekaligus pesantren yang kini dikenal dengan nama Watu Layar. 

Ia kemudian dikenal pula sebagai imam resmi pertama Kesultanan Demak, dan bahkan sempat menjadi panglima tertinggi.

Meskipun demikian, Sunan Bonang tak pernah menghentikan kebiasaannya untuk berkelana ke daerah-daerah yang sangat sulit.

Ia acap berkunjung ke daerah-daerah terpencil di Tuban, Pati, Madura maupun Pulau Bawean. Di Pulau inilah, pada 1525 M ia meninggal. Jenazahnya dimakamkan di Tuban, di sebelah barat Masjid Agung, setelah sempat diperebutkan oleh masyarakat Bawean dan Tuban. 

Tak seperti Sunan Giri yang lugas dalam fikih, ajaran Sunan Bonang memadukan ajaran ahlussunnah bergaya tasawuf dan garis salaf ortodoks. Ia menguasai ilmu fikih, usuludin, tasawuf, seni, sastra dan arsitektur. Masyarakat juga mengenal Sunan Bonang sebagai seorang yang piawai mencari sumber air di tempat-tempat gersang. 

Ajaran Sunan Bonang berintikan pada filsafat 'cinta'('isyq). Sangat mirip dengan kecenderungan Jalalludin Rumi. Menurut Bonang, cinta sama dengan iman, pengetahuan intuitif (makrifat) dan kepatuhan kepada Allah SWT atau haq al yaqqin. Ajaran tersebut disampaikannya secara populer melalui media kesenian yang disukai masyarakat. Dalam hal ini, Sunan Bonang bahu-membahu dengan murid utamanya, Sunan Kalijaga. 

Sunan Bonang banyak melahirkan karya sastra berupa suluk, atau tembang tamsil. Salah satunya adalah "Suluk Wijil" yang tampak dipengaruhi kitab Al Shidiq karya Abu Sa'id Al Khayr (wafat pada 899). Suluknya banyak menggunakan tamsil cermin, bangau atau burung laut. Sebuah pendekatan yang juga digunakan oleh Ibnu Arabi, Fariduddin Attar, Rumi serta Hamzah Fansuri. 

Sunan Bonang juga menggubah gamelan Jawa yang saat itu kental dengan estetika Hindu, dengan memberi nuansa baru. Dialah yang menjadi kreator gamelan Jawa seperti sekarang, dengan menambahkan instrumen bonang. Gubahannya ketika itu memiliki nuansa dzikir yang mendorong kecintaan pada kehidupan transedental (alam malakut). Tembang "Tombo Ati" adalah salah satu karya Sunan Bonang. 

Dalam pentas pewayangan, Sunan Bonang adalah dalang yang piawai membius penontonnya. Kegemarannya adalah menggubah lakon dan memasukkan tafsir-tafsir khas Islam. Kisah perseteruan Pandawa-Kurawa ditafsirkan Sunan Bonang sebagai peperangan antara nafi (peniadaan) dan 'isbah (peneguhan). (ar/oaseqalbu) www.suaramedia.com

JAKARTA (ResistNews) - Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono mewanti-wanti kader Demokrat agar jangan sampai terkena kasus korupsi. Jika ada kader Demokrat yang terkena kasus korupsi, Yudhoyono memastikan tidak akan membela kader yang bersangkutan.

"Pandai-pandailah menjaga diri. Jangan tergoda pada tindakan yang melanggar secara hukum, seperti korupsi, dan semacamnya," kata Yudhoyono dalam rapat kerja Fraksi Partai Demokrat DPR di Hotel Crowne Plaza, Jakarta. Sabtu 27 November 2010 malam.

Yudhoyono menegaskan sikap menjaga diri itu demi keselamatan dan keinginan Demokrat menjadi contoh bagi partai lainnya. Bila ada kader Demokrat tersangkut kasus korupsi, Yudhoyono mengatakan tidak akan membelanya.

Pembelaan, kata dia, hanya akan diberikan jika kader Demokrat itu memang tidak bersalah. "Saya akan bela manakala ada kader yang disalah-salahkan, saya akan bela. Dikriminalkan, saya akan bela. Tapi kalau korupsi, (bela) sendiri," ucap dia.

Yudhoyono pun bercerita soal adanya seseorang yang dulu pernah mendukung dirinya menjadi presiden dalam Pilpres 2009. Ternyata yang bersangkutan terkena kasus korupsi tapi Yudhoyono tidak membelanya. "Ah saya kecewa memilih SBY," kata SBY menirukan orang tersebut.

Usut punya usut, lanjut SBY, ternyata orang tersebut melakukan korupsi. Karena itulah SBY enggan membelanya. "Saya ingatkan dari sekarang jangan terjebak dalam pelanggaran hukum seperti itu. Jangan," kata SBY.

SBY juga meminta semua kader partai tersebut tidak "asal bunyi" atau berbicara tanpa dasar yang kuat.

"Jangan asal bunyi, jangan rendah logika," kata Yudhoyono saat memberikan pengarahan dalam Rapat Kerja Fraksi Partai Demokrat DPR RI di salah satu hotel di Jakarta.

Yudhoyono tidak menginginkan politik yang gaduh dan tidak mendukung pembangunan bangsa.

Dalam arahannya, dia juga meminta semua kader Partai Demokrat mengedepankan komunikasi politik yang sehat dan membangun.

"Mari buat komunikasi itu lebih berkualitas dan substantif," katanya.

Yudhoyono menegaskan, politik di Indonesia sangat dinamis. Dinamika politik itu, katanya, kadang diselingi dengan riak atau ketegangan.

"Di negeri kita, politik amat dinamis. Sekali-kali ada riak, sekali-kali ada ketegangan," katanya.

Yudhoyono meminta semua kader Partai Demokrat menyikapi riak dan ketegangan politik secara cerdas dan tidak terbawa emosi.

Riak dan ketegangan politik itu, menurut Yudhoyono, adalah konsekuensi logis dari demokratisasi di Indonesia.

Yudhoyono tiba di tempat acara pada pukul 19.30 WIB dengan didampingi oleh Ani Yudhoyono. Mereka diikuti oleh Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum dan sejumlah petinggi partai tersebut.

Hadir dalam raker tersebut sejumlah tokoh yang tergabung dalam Dewan Pembina Partai Demokrat, antara lain Marzuki Alie yang juga Ketua DPR RI dan Fauzi Bowo yang juga Gubernur DKI Jakarta.
Putra Yudhoyono, Edhie Baskoro Yudhoyono yang juga Sekjen Partai Demokrat juga berada di tempat acara.

Rapat kerja tersebut diikuti oleh seluruh anggota Fraksi Partai Demokrat DPR RI. Raker yang berlangsung dua hari sejak 26 November 2010 itu diisi sejumlah agenda.

Fokus utama raker tersebut adalah refleksi satu tahun kinerja Fraksi Partai Demokrat DPR RI. Pertemuan itu juga diisi dengan diskusi tentang strategi kinerja fraksi ke depan.

Sebagian besar agenda tersebut merupakan pertemuan internal yang berlangsung tertutup bagi media massa. (fn/tm/ant) www.suaramedia.com

Hidup sengsara di negeri sendiri, hidup menderita di negeri orang. Itulah kenyataan yang dihadapi sebagian TKI/TKW Indonesia di luar negeri. Ironis memang, negeri yang sebenarnya kaya raya ini, sebagian penduduknya harus mengais rezeki di negeri orang, sementara orang asing (pekerja dan investor) berebut rezeki di negeri sendiri. Tenaga Kerja Indonesia (disingkat TKI) adalah sebutan bagi warga negara Indonesia yang bekerja di luar negeri dalam hubungan kerja untuk jangka waktu tertentu dengan menerima upah.
Namun demikian, istilah TKI seringkali dikonotasikan dengan pekerja kasar. TKI perempuan seringkali disebut Tenaga Kerja Wanita (TKW). (www.wikipedia.com).TKI sering disebut sebagai pahlawan devisa karena dalam setahun bisa menghasilkan devisa 60 trilyun rupiah  tetapi dalam kenyataannya, TKI menjadi ajang pungli bagi para pejabat dan agen terkait. Bahkan di Bandara Soekarno-Hatta, mereka disediakan terminal tersendiri (terminal III) yang terpisah dari terminal penumpang umum. Pemisahan ini beralasan untuk melindungi TKI tetapi juga menyuburkan pungli, termasuk pungutan liar yang resmi seperti pungutan Rp.25.000,- berdasarkan Surat Menakertrans No 437.HK.33.2003, bagi TKI yang pulang melalui Terminal III wajib membayar uang jasa pelayanan Rp. 25.000.- (saat ini pungutan ini sudah dilarang). Pada 9 Maret 2007 kegiatan operasional di bidang Penempatan dan Perlindungan TKI di luar negeri dialihkan menjadi tanggung jawab BNP2TKI. Sebelumnya seluruh kegiatan operasional di bidang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri dilaksanakan oleh Ditjen Pembinaan dan Penempatan Tenaga Kerja Luar Negeri (PPTKLN) Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia.
Pemaksaan terhadap tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri, khususnya Timur Tengah, Malaysia, dan Singapura, seperti tak ada habisnya. Mulai penyiksaan/kekerasan fisik, pemerkosaan, hingga gaji tidak dibayar. Bahkan, banyak yang bunuh diri karena depresi.
Kasus tersebut terjadi berulang-ulang dan sudah puluhan tahun. Semestinya, kita banyak belajar dari kejadian sebelumnya, sehingga ada penanganan khusus bagi TKI, terutama perlindungan hukum bagi mereka di tempat kerja di negeri orang. Ternyata, tidak banyak perubahan.
Perlakuan terhadap TKI Indonesia di Luar Negeri sangat memprihatinkan.
Kasus kekerasan yang dialami oleh para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) maupun Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Kabupaten Ngawi cukup tinggi. Berdasarkan data yang dilansir oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Sari Solo, organisasi yang concern terhadap permasalahan buruh migran, menyebutkan, dari Januari hingga Agustus 2007 tercatat kasus kekerasan TKI/TKW asal Ngawi mencapai 1.752 kasus. Jumlah kasus kekerasan itu meliputi kekerasan fisik, kehilangan kontak atau tidak teridentifikasi saat berada di luar negeri, gaji tidak dibayar, menjadi korban penipuan, hingga kasus bunuh diri dan kematian.
Sedangkan, jumlah TKI/TKW asal Ngawi yang saat ini bekerja sebagai pembantu rumah tangga, buruh bangunan, sopir, dan tenaga kasar lainnya di luar negeri mencapai 7.657 orang.
Dalam catatan Migrant Care, sepanjang tahun ini terdapat 5.636 kasus kekerasan dan pelecehan seksual yang dialami TKI di luar negeri. Ketika seorang TKI asal Madura, Siti Zainab, pada 2007 divonis hukuman mati di Arab Saudi karena terbukti membunuh majikannya, Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid langsung menghubungi Raja Fahd sehingga pelaksanaan hukuman matinya ditunda," kata Direktur Eksekutif Migrant Care Anis Hidayah dalam diskusi bertema Pahlawan devisa yang tersiksa, kemarin, di Jakarta. Demikian pula dengan kasus Nirmala Bonat, TKI asal Nusa Tenggara Timur yang disiksa majikannya di Malaysia. Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri mengundang Nirmala dan keluarganya ke Istana Negara sebagai bentuk kepeduliannya terhadap nasib TKI. Tetapi pada kasus kematian Yanti Irianti, TKI asal Cianjur, pada 2008, Presiden menanggapinya hanya dengan sikap terkejut dan meminta untuk memulangkan jenazahnya. Pemerintahan di era pemerintahan SBY, semakin banyak TKI yang divonis mati oleh penegak hukum negara tujuan penempatan. Saat ini, seorang TKI tengah menunggu eksekusi mati di Arab Saudi. Dan, tiga TKI divonis tetap oleh Mahkamah Agung Malaysia dengan hukuman mati. Kisah pilu penyiksaan TKW asal NTB Sumiati yang menjadi berita hangat di media massa terjadi sejak awal ia bekerja dengan majikannya, di Madinah 18 Juli 2010. Kebiadaban sang majikan yang berstatus janda dengan beberapa anak, telah tampak saat Sumiati menginjak kaki di rumah majikannya. Sang majikan mengambil telepon genggam Sumiati dengan maksud agar tidak bisa berkomunikas dengan pihak luar. Bahkan sang majikan menerapkan pelarangan bicara dengan tetangga, apalagi memberi kabar ke saudara di kampung halamannya, Dompu, Bima, NTB.
Selama empat bulan bekerja dengan majikan, Sumiati yang masih berusia 23 tahun kerap dipukul baik dengan benda keras maupun benda tumpul. Sumiati sejak masuk bekerja, dia mulai disiksa majikannya. Bahkan, Sumiati dilarang, diancam kalau bicara sama orang lain. (kompas.20/11/2010).

PERMASALAHAN TKI-TKW
Gambaran potret buram kegagalan negara mengurusi rakyat, TKW mendapat  korban tiga kali. Pertama, mendapat tindak kekerasan. Kedua, tiada kebebasan untuk melakukan perlawanan. Ketiga, tak adanya atau minimnya jaminan perlindungan, baik dari negara tujuan maupun pemerintah Indonesia.
Kekerasan demi kekerasan terhadap para buruh tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri sepertinya menjadi cerita panjang yang tak pernah usai. Kasus terbaru menimpa Sukasih, TKI asal Jatim, yang terjatuh dari balkon lantai empat sebuah apartemen di Tengkera, Malaka, Malaysia. Seperti dilansir harian Malaysia The Star (23/9/2008), Sukasih terjun bebas dari sebuah apartemen. Dia terpeleset saat memanjat pagar balkon. Jatuhnya Sukasih ini diduga lantaran menghindari kejaran polisi Diraja Malaysia karena yang bersangkutan tidak memiliki dokumen resmi. Sukasih dilarikan ke Malacca Hospital. Namun, dua jam kemudian nyawanya tidak tertolong lagi. Selang beberapa muncul kasus baru, yakni terkatung-katungnya nasib jenazah TKI Jatim yang belum bisa dipulangkan ke Indonesia. Adalah Siti Tarwiyah, seorang TKI asal Bilitar, yang kematiannya diduga tidak wajar. Menurut Direktur Migran Care, Anis Hidayah, Siti Tarwiyah sudah meninggal 50 hari lalu. Namun, sampai saat ini belum bisa dipulangkan karena terbentur birokrasi di Arab Saudi yang ribet dan berbelit-belit. Sudah meninggal saja para TKI kita sangat diperlakukan tidak manusiawi, apalagi ketika masih hidup (Radar Surabaya, 24/9/2007)
Korban kekerasan
Dari sekian banyak TKI yang bekerja di luar negeri, sebagian besar TKI berpotensi menjadi korban kekerasan, baik itu kekerasan fisik, psikis, dan ekonomi. Dan memang sebagian besar korban kekerasan terhadap TKI di luar negeri adalah kaum perempuan. Dan saat ini sudah ada ratusan, bahkan ribuan TKI, yang menjadi korban tindak kekerasan di luar negeri, baik TKI yang masih bertahan di luar negeri maupun yang sudah kembali. Sebagian besar TKI yang pulang akibat tindak kekerasan majikannya dalam kondisi fisik dan psikis yang sangat memprihatinkan. Bahkan, ada yang sampai meninggal dunia. Berangkat dalam keadaan hidup, pulang dalam kondisi meninggal. Nasib TKI sungguh sangat mengenaskan. Namun, semakin banyak kasus kekerasan terhadap TKI, sepertinya bagaikan tontonan yang tak pernah mendapatkan perlakuan dan perlindungan yang memadai dari pihak Pemerintah Provinsi Jatim. Persoalan perlindungan terhadap TKI di luar negeri dinilai masih sangat rendah. Ini ditunjukkan dengan munculnya berbagai persoalan yang menimpa TKI di luar negeri tanpa mendapat advokasi dan perlindungan yang memadai. Bahkan, berbagai persoalan yang menimpa TKI cenderung dibiarkan begitu saja. Yang paling parah menimpa TKI. Selain masalah upah yang tak dibayar atau tidak sesuai standar ketenagakerjaan, persoalan yang sering kali dialami adalah masalah kekerasan. Sebagian besar TKI mendapat perlakuan dan tindakan kekerasan, baik kekerasan fisik, psikologis, maupun kekerasan seksual dari keluarga majikan. Menurut catatan Migran Care, pada tahun 2007 ada sekitar 61 TKI yang meninggal di luar negeri, sebanyak 28 TKI mengalami perlakuan tindak kekeraan, dan 56 TKI terancam hukuman cambuk atau mati. Bahkan, ada beberapa TKI yang dituduh membunuh majikannya. (http://tki-stories.blogspot.com/2009/01/potret-buram-tki.html)
Semua persoalan TKI di luar negeri berawal dari masalah domestik. Sampai saat ini, pemerintah gagal menyusun sistem perekrutan, dokumentasi, dan pelatihan calon TKI yang mumpuni. Pemerintah menyerahkan hampir semua proses kepada pelaksana penempatan tenaga kerja Indonesia swasta (PPTKIS) dan baru muncul aktif menjelang tahap akhir penempatan. Persoalan kemiskinan membuat ribuan angkatan kerja tanpa keahlian, bahkan sebagian besar tidak berpendidikan formal sama sekali, mendaftar menjadi TKI. Keterbatasan informasi dan peran aktif pemerintah, terutama di daerah, membuat sponsor menjadi dewa penolong mereka. Sponsor, yang seolah-olah kepanjangan tangan PPTKIS, berkeliaran mencari siapa saja yang berminat bekerja ke luar negeri dengan janji gaji yang menggiurkan. Sponsor mengantar calon TKI ke penampungan-penampungan PPTKIS dan meninggalkan mereka di sana begitu menerima uang jasa dari pengusaha. Sampai di sini, PPTKIS wajib membekali calon TKI dengan pelatihan kompetensi minimal 200 jam dan bagi mereka yang sudah pernah bekerja di luar negeri selama 100 jam. Kursus selama sekitar 21 hari tersebut bertujuan meningkatkan kompetensi calon TKI terhadap bahasa, kondisi sosial, dan hukum di negara tujuan. Tetapi, dalam kasus Sumiati, kita mengetahui proses ini tidak berjalan. Sumiati tidak bisa berbahasa Arab dan Inggris. Faktor komunikasi yang membuatnya tidak mampu memahami permintaan atau instruksi majikan. Oleh karena itu, Sumiati telah menjadi korban keserakahan pengusaha penempatan dan birokrat yang tidak mampu menjalankan tugas. Bagaimana mungkin Sumiati bisa tetap berangkat ke Madinah dengan prosedur resmi sementara dia tidak memenuhi syarat pokok dalam kompetensi kerja? Dalam hal ini, tentu kita tidak bisa menyalahkan Sumiati. Dia hanya ingin bekerja agar bisa keluar dari kemiskinan. Sumiati bisa saja merasa tertarik atas keberhasilan teman dan kerabatnya yang sukses mendulang rezeki di luar negeri menjadi TKI.
Pada masa Muhaimin Iskandar menjabat Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, meluncurkan program sertifikasi kompetensi 15.000 calon TKI tujuan Timur Tengah bekerja sama dengan asosiasi pengusaha penempatan TKI. Muhaimin juga merazia sejumlah tempat penampungan calon TKI yang tidak layak dan menegaskan akan mencabut izin PPTKIS konsumen sertifikat kompetensi kerja TKI asli tetapi palsu. Disebut asli tetapi palsu (aspal) karena PPTKIS mendapatkan sertifikat resmi itu tanpa menyertakan calon TKI dalam program pelatihan kerja. Sertifikat aspal ini diperdagangkan dengan harga Rp 70.000 per lembar. Ketua Umum Himpunan Pengusaha Jasa Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Yunus M Yamani dan Sekretaris Jenderal Asosiasi Perusahaan Jasa Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Rusjdi Basalamah pernah mempersoalkan hal ini. Namun, pemerintah tidak kunjung menangani sehingga praktik ilegal itu semakin meluas. Pengusaha yang serius menjalankan aturan pemerintah menyertakan calon TKI dalam program pelatihan kerja berbiaya Rp 1,1 juta per orang pun tergoda. Mereka telah kehilangan daya saing saat pemerintah tak kunjung menindak perdagangan sertifikat aspal senilai Rp 70.000 per lembar tanpa proses pelatihan. Menurut Direktur Eksekutif Migrant Care Anis Hidayah, PPTKIS dan balai latihan kerja penerbit sertifikat kompetensi kerja aspal bisa dipidana karena menggunakan dokumen resmi secara tidak sah.
Namun, Kemennakertrans dan BNP2TKI juga patut diseret ke pengadilan karena turut meloloskan pemegang sertifikat aspal ke luar negeri. Kelemahan pemerintah membenahi persoalan domestik turut melemahkan rasa percaya diri diplomasi bilateral. Saat ini, Indonesia menghentikan sementara (moratorium) penempatan TKI sektor informal ke Malaysia sejak 26 Juni 2009, Kuwait (1 September 2009), dan Jordania (30 Juli 2010). Moratorium ini berawal dari keengganan pemerintah ketiga negara memenuhi permintaan Indonesia. Kemampuan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan pembantunya dalam hal negosiasi, lobi, dan diplomasi sangat menentukan keberhasilan moratorium. Kalau tidak, ya seperti sekarang. Kebijakan buruh migran Indonesia akan terus berfluktuasi mengikuti kemauan negara tujuan dan penyiksaan TKI oleh majikan tak lebih angka statistik semata. Semua demi aliran devisa. (http://regional.kompas.com/read/2010/11/19/08161095/Nasib.Pahlawan.Devisa.di.Negeri.Citra)
PERAN PEMERINTAH SEBAGAI SOLUSI TKI-TKW
Sesungguhnya, kisah TKI-TKW bukanlah suatu hal yang baru dalam kisah duka para tenaga kerja (dulu disebut buruh atau babu migran) asal negeri ini. Munculnya fenomena berbondong-bondongnya tenaga kerja asal Indonesia untuk pergi menjemput rezeki ke luar negeri, tidak bisa dilepaskan dari kondisi ekonomi di dalam negeri. Kemiskinan yang terstruktur dan semakin mencekik leher masyarakat di negeri ini telah pasti membuat hidup semakin susah. Sementara akibat kemiskian itu, otomatis tidak ada jaminan untuk hidup sejahtera bagi masyarakat.
Kondisi itu ditambah lagi dengan sempitnya lapangan pekerjaan yang disediakan oleh pemerintah hingga menyebabkan jumlah pengangguran kian 'bertumpuk' dari masa ke masa. Kalau pun ada lapangan kerja, upahnya juga sangat murah dan tak sesuai harapan.
Itulah beberapa faktor yang telah memicu banyak orang berhijrah ke negara lain untuk mengadu nasib mencari pekerjaan demi mendapatkan rezeki untuk menyambung hidup. Mungkin dalam bahasa para TKI, "daripada harus tetap bertahan di dalam negeri, namun berada dalam kelaparan dan kemiskinan, lebih baik menjadi TKI saja." Menjadi TKI adalah solusi bagi mereka untuk bertahan hidup. Namun, ironisnya, maksud hati ingin mencari pekerjaan yang nyaman, tapi ternyata justru penganiayaan yang mereka peroleh di luar negeri, seperti yang dialami oleh sebagian TKI; Sumiati dan kawan-kawan. Selain hal di atas, nasib buruk para TKI juga disebabkan oleh kelemahan birokrasi dalam pengiriman TKI dengan sistem yang buruk pula. Banyak perusahaan ilegal yang mengirim para TKI dengan iming-iming akan dipekerjakan di tempat ini-itu. Setelah sampai, mereka terkadang tidak mendapatkan apa yang sudah dijanjikan, padahal untuk berangkat saja mereka sudah membayar mahal. Sehingga, ibaratnya, para TKI dijadikan sebagai sapi perahan oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab, yang terlibat dalam 'bisnis' TKI. Mereka justru mencari keuntungan di tengah himpitan penderitaan orang lain.
Kalau pun ada perusahaan yang resmi untuk mengirim tenaga kerja, namun tak bisa diingkari, banyak pula dokumen yang dipalsukan seperti soal umur, dan lain-lain. Lokasi pengiriman TKI juga sering tidak sesuai tujuan yang dijanjikan. Akibatnya, ini pula yang menjadi faktor tersendiri akan pemicu semakin panjangnya daftar penderitaan para TKI.
Sebenarnya, boleh jadi, rakyat negeri ini tidak akan begitu tergiur untuk menjadi TKI, jika kemiskinan terstruktur yang 'diciptakan' negara tidak demikian kejam melanda masyarakat.
Tidak akan terjadi kelaparan dan kemiskinan di dalam negeri sendiri jika tersedia lapangan kerja yang memungkinkan setiap orang untuk mencari nafkah hingga pengangguran tidak terus bertambah. Masalah TKI ini juga tidak akan terjadi jika saja kesejahteraan hidup terjamin di dalam negeri. Sayangnya, semua ini seakan masih di awang-awang dan sulit dijangkau oleh masyarakat. Atas berbagai faktor itulah, maka peran pemerintah sebagai pihak yang paling bertanggung jawab untuk menangani urusan rakyat, sangat dituntut keseriusannya. Yang dimaksud adalah tanggung jawab yang maksimal dalam mengurus berbagai problematika masyarakat, terutama mengatasi pengangguran. Juga dibutuhkan keseriusan pemerintah dalam menangani penderitaan yang dialami oleh para TKI yang ada di berbagai negara. Setelah ada masalah yang terkait dengan TKI, yang menjadi tanggung jawab dan tugas pemerintah adalah menyelesaikan termasuk mendampingi korban dalam proses hukum.
TKI juga warga negara Indonesia yang berhak mendapatkan pelayanan negara secara memuaskan, apa pun statusnya. Mereka adalah warga negeri ini yang berjuang mendulang devisa.
Dengan metode pertumbuhan ekonomi, maka kebijakan-kebijakan ekonomi pemerintah bukannya memerangi kemiskinan dan pengangguran tetapi memerangi orang miskin dan pengangguran. Sebab untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi dalam sistem ekonomi ini (Kapitalisme), pemerintah harus menarik investor dari dalam dan luar negeri dan menciptakan kepercayaan pasar dengan berbagai kebijakan yang menguntungkan para investor dan merugikan masyarakat. Akibatnya tidak jarang rumah dan tanah orang-orang miskin digusur untuk kepentingan investor. Kekayaan Indonesia yang seharusnya menjadi hak rakyat sebagai milik umum diserahkan kepada swasta dan investor luar negeri. Sementara energi pemerintah untuk memperhatikan dan memperbaiki kondisi rakyatnya habis tersedot untuk melayani kepentingan para investor (pemilik modal).
Di satu sisi pemerintah mengharapkan devisa 2-3 milyar dollar dari TKI/TKW, di sisi lain pemerintah menghambur-hamburkan uang untuk kepentingan yang tidak berfaedah selain untuk kepentingan asing. Selama orde baru berbagai proyek pembangunan yang dibiayai pinjaman Bank Dunia senilai 30 milyar dollar, 10 milyar di antaranya bocor dan habis dikorupsi. Pemerintah melalui sistem ekonomi yang diterapkan telah dengan sengaja menciptakan ketidakadilan, kesenjangan, kesengsaraan bagi rakyatnya.
Ingatlah sabda Nabi SAW yang menyatakan, "Seorang pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya atas rakyatnya." (HR. Bukhari)
Pemerintah tidak boleh menelantarkan rakyatnya dan tidak memberikan jaminan kehidupan dan pekerjaan, apalagi menyebabkan seorang ibu dan remaja putri meninggalkan suami, orang tua, dan keluarganya jauh di luar negeri tanpa didampingi mahromnya. Lebih parah lagi banyak di antara mereka yang diperkosa dan dibunuh dan dijadikan pelacur. Menurut Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi 10 persen dari 3-4 juta TKI/TKW Indonesia mengalami penyiksaan. Di Indonesia termasuk Negara yang mayoritas penduduk Islam seharusnya bisa mandiri mengurusi tenaga kerja dengan menciptakan lapangan kerja dengan pengelolaan industri yang baik, pengelolaan SDA yang bagus tetapi karena sistem masih tambal sulam kapitalistik maka saatnya umat Islam sadar memperlakukan syariat Islam dan sistem kepemimpinan yang Islami untuk mengatasi TKI-TKW.(Oleh: Ir. Alimuddin.L. MT.MM (Anggota Lajnah Siyasiyah-DPP HTI))
Powered by Blogger.