Komite Yerusalem dari dewan legislatif Palestina (PLC) pada hari Rabu yang lalu (27/1) memperingatkan bahwa tahun 2010 akan menjadi saksi mata lebih banyak pelanggaran yang dilakukan Israel dan meningkatnya serangan terhadap segala sesuatu yang ada di kota Yerusalem yang diduduki terutama yang berkaitan dengan skema menghancurkan Masjid al-Aqsha.

Dalam sebuah pernyataan, komite Yerusalem mengatakan bahwa penggalian yang dilakukan Israel di bawah tanah semakin meningkat dan akan menyebabkan timbulnya gua dan celah dalam skala besar di dalam Masjid Aqsha, termasuk di halaman dan lingkungan Arab di kota Yerusalem, hal ini mengekspresikan kekhawatiran bahwa Israel akan dapat segera menghancurkan Masjid suci Al-Aqsha melalui penciptaan buatan gempa bumi di wilayah Negev.

Komite menghimbau kepada organisasi konferensi Islam (OKI) dan Liga Arab untuk mengadakan konferensi dan pertemuan darurat untuk membahas situasi yang suram yang di alami oleh Yerusalem dan adanya ancaman Israel terhadap Masjid Aqsha.

Mereka menyerukan agar semua pihak merujuk khususnya pihak dewan keamanan PBB kepada berkas yang terkait dengan kota suci dan masjid Al-Aqsha dan meminta segera mengaktifkan dimensi legal internasional terhadap berkas tersebut.

Komite juga mendesak dewan keamanan, sidang umum PBB dan UNESCO untuk segera mengirim komite pencari fakta ke kota suci untuk melaporkan tentang pelanggaran yang dilakukan Israel di kota tersebut.(fq/pic)


Dr Sami Abu Zuhri, jurubicara Hamas, mengatakan bahwa gerakannya itu tidak takut menghadapi pemilihan legislatif baru. Dr Sami mengatakan justru bahwa mereka yang kalah dalam pemilihan adalah orang-orang takut akan terulangnya kegagalan mereka.

Secara tidak langsung, ucapan Dr Sami ini merujuk pada pihak lain yang mengikuti pemilu.
Seperti diketahui, dalam pemilu sebelumnya, Hamas menang mutlak, namun kemudian kemenangannya—tanpa ada dasar yang jelas—diboikot oleh dunia internasional. Jika begitu, untuk apa sebenarnya pelaksanaan pemilu Palestina?

Dulu, sebelumnya Hamas dipaksa untuk mengikuti pemilu untuk menentukan siapa gerangan yang berhak memerintah Palestina (Hamas atukah Fatah), tapi setelah pemilu dilaksanakan dan Hamas dipilih oleh rakyat Palestina, pemilu itu dinyatakan tidak sah.

Abu Zuhri menjelaskan jika integritas terjamin dengan kesempatan yang sama untuk semua pihak, maka kemudian Hamas kemungkinan akan memenangkan pemilu lagi.

Abu Zuhri mengatakan bahwa pemerintahan Mahmoud Abbas-lah yang sebenarnya tidak legal di Palestina, apalagi setelah diperpanjang masa jabatannya. "Fatah sebenarnya sangat menghambat rekonsialiasi Palestina." ujarnya. (sa/imra)

SAN'A (SuaraMedia News) – Tim militer dan agen intelijen AS terlibat dalam operasi militer rahasia gabungan bersama dengan tentara Yaman dalam melawan sejumlah anggota Al-Qaeda dalam beberapa minggu terakhir.

"Kami merasa senang dengan perkembangan operasi ini," kata seorang pejabat senior pemerintahan kepada Washington Post pada hari Rabu. Pejabat tersebut meminta agar namanya dirahasiakan karena sensitivitas informasi yang diungkapkan.

Operasi militer gabungan tersebut dimulai sejak enam pekan lalu dan mendapatkan persetujuan dari Presiden AS Barack Obama.

Operasi-operasi tersebut melibatkan puluhan orang dari operasi komando khusus gabungan (JSOC), yang memiliki misi utama untuk melacak dan membunuh tersangka "teroris".

Orang-orang Amerika, yang tidak terlibat dalam serangan langsung, berperan dalam merencanakan misi, mengembangkan taktik dan menyediakan senjata serta amunisi.

Mereka memberikan data intelijen yang amat sensitif kepada pasukan Yaman, termasuk hasil pengintaian elektronik dan video, dan peta geografis tiga dimensi.

Dalam operasi tersebut, ada sebuah serangan, yang dilakukan dengan persetujuan Obama, terhadap sebuah lokasi yang disangka sebagai lokasi pertemuan Anwar al-Awlaki, warga AS asal Yaman, dengan para pemimpin Al-Qaeda.

Upaya gabungan tersebut berujung pada penyerbuan darat dalam enam minggu terakhir yang menewaskan puluhan orang, termasuk enam orang pemimpin regional Al-Qaeda.

"Berbagi informasi menjadi kunci dalam melaksanakan operasi-operasi anti terorisme," kata seorang pejabat pemerintahan Yaman kepada Washington Post.

Dia menambahkan bahwa kedua negara tersebut menjalin "kerjasama yang kokoh" dalam melawan Al-Qaeda di Semenanjung Arab (AQAP).

Kekhawatiran AS terhadap keberadaan Al-Qaeda di Yaman semakin meningkat setelah terjadi upaya peledakan terhadap pesawat yang terbang menuju AS pada hari Natal lalu, yang diklaim oleh AQAP.

Operasi rahasia gabungan tersebut dipandang sebagai bukti dari strategi anti terorisme Obama, yang didasarkan pada kerjasama dengan mitra asing.

"Presiden (Ali Abdullah) Saleh benar-benar serius untuk memburu Al-Qaeda dan ia tidak akan menampik dorongan dari kami," kata seorang pejabat senior AS.

Meningkatnya keterlibatan AS di Yaman semakin terlihat baru-baru ini dalam serangkaian kunjungan yang dilakukan oleh perwira tinggi militer AS.

Diantaranya ada nama komandan JSOC, Wakil Laksamana William H. McRaven, penasihat anti terorisme Gedung Putih, John O. Brennan dan Jenderal David H. Petraeus, kepala Komando Sentral AS.

Strategi Obama untuk bekerja sama dengan mitra-mitra di luar negeri banyak dipandang sebagai sebuah hal yang bertentangan dengan kebikakan pemerintahan Bush yang cenderung melakukan segalanya sendiri.

Namun, upaya yang dilakukan AS di Yaman bisa berubah menjadi bumerang bagi rezim Presiden Saleh, khususnya bagi kelompok-kelompok suku, politik dan religius yang menolak adanya campur tangan AS.

Sejumlah cendekiawan terkemuka Yaman mengancam untuk menyatakan perang jika sampai pasukan AS dikirimkan ke Yaman.

Seolah merasakan adanya masalah, Saleh berulang kali menegaskan bahwa dirinya menentang campur tangan Barat dalam pertempuran pemerintah Yaman dengan Al-Qaeda. (dn/io) www.suaramedia.com

Sebuah laporan yang disampaikan oleh organisasi pekerja Israel, mengungkapkan bahwa Zionis Israel telah mengambil alih serta mencuri secara berturut-turut gaji yang pemerintah akan bayarkan kepada pekerja Palestina, dan membelanjakan anggaran gaji tersebut kepada sektor lain.

Menurut laporan tahunan organisasi pekerja Israel S.Oved, menyatakan bahwa Zionis Israel telah untuk mengambil dana untuk para pekerja Palestina, yang bekerja di dalam "garis hijau", selama periode antara 1970-2009, laporan tersebut juga memperlihatkan cara-cara bagaimana pemerintah Israel secara berturut-turut mengambil alih atas dana tersebut, dan menyalurkannya untuk sektor lain.

Laporan menunjukkan bahwa selama periode antara 1970-1994 nilai uang para pekerja Palestina yang disita oleh Israel sekitar satu miliar tiga ratus juta shekel, yang secara wajib dipotong dari gaji mereka, ditambahkan bahwa pemerintah Israel saat ini dikecam atas lebih dari satu milyar shekel akibat persoalan uang gaji untuk para pekerja Palestina yang melakukan gugatan terhadap Departemen Keuangan Israel dan mereka menuntut agar uang mereka dikembalikan serta menyatakan bahwa penyetiaan uang gaji mereka tersebut sebagai tindakan yang tidak adil.

Penulis laporan bernama Hanna Zohar, menuntut pemerintah Israel untuk mengembalikan dana yang mereka jarah, dan pemerintah Israel harus mengembalikan uang tersebut kepada para pekerja Palestina atau keturunan mereka, sesuai dengan nama-nama yang terdapat dalam catatan pemerintah Israel.(fq/imo)

TEL AVIV (SuaraMedia News) – Sejumlah saksi mata menyebutkan bahwa ada salah seorang hadirin di persidangan Israel melemparkan sepatu ke arah Ketua Mahkamah Agung Israel, Dorit Beinish. Sepatu tersebut mendarat telak di wajah Beinish pada hari Rabu (27/1).

Kepada Radio Ron Tal, seorang pengacara mengatakan, "Di tengah-tengah jalannya sidang, tiba-tiba sebuah sepatu melayang dari tempat duduk hadirin dan mengenai hakim Dorit Beinish, tepat di antara kedua matanya, sebelum kemudian jatuh ke lantai."

Dia menambahkan, "Si pelempar meneriakkan kekesalan karena masalah korupsi. Sejurus kemudian, para personel keamanan sidang langsung meringkusnya. Benar-benar gila."

Persidangan tersebut membahas mengenai penggunaan ganja untuk pengobatan. Karena lemparan sepatu tersebut, kacamata Beinish pecah, ia kemudian bergegas meninggalkan ruang sidang dan menjalani perawatan medis.

Beinish kembali ke ruang sidang sekitar satu setengah jam sesudahnya. Untuk menenangkan para hadirin, ia mengatakan: "Segalanya baik-baik saja."

Sang pelempar, yang belakangan diketahui bernama Pini Cohen, diringkus petugas keamanan. Hakim  Elyakim Rubinstein dan Uzi Vogelman juga hadir di ruangan tersebut, mereka langsung diungsikan setelah kejadian tersebut.

Menurut laporan awal, Cohen memasuki ruang persidangan dan sempat bertanya, "Apa itu ketua (Mahkamah Agung)?" Setelah mendapatkan jawaban pasti, ia langsung melepas sebelah sepatunya, melemparkannya ke arah Beinish dan tepat mengenai wajah sang ketua MA. Belum puas, Cohen kemudian melepas sepatu berikutnya dan kembali melempar Beinish, namun sepatu itu tidak mengenai sasaran karena Beinish mengelak.

Cohen memiliki catatan masa lalu yang penuh kekerasan. Ia pernah mengancam pengacaranya, Arieh Rozenberg, dan Hakim Philip Marcus pada tahun 2006 lalu. Rozenberg juga mengatakan bahwa dirinya sempat diserang oleh Cohen, mengakibatkan retak tulang tangan.

Hakim Rachel Shalev-Gertel membebaskan Cohen dengan jaminan 2.000 shekel ($535) dan menjatuhkan larangan bagi Cohen untuk mendatangi persidangan keluarga dan juga para hakim selama tiga bulan.

"Saya tidak punya niatan menyerang siapapun. Jika saya menerima perintah dari hakim untuk tidak datang, saya tidak akan datang," katanya dalam sesi dengar pendapat. Kepada Ynet, Rosenberg mengatakan: "Saya selalu merasa takut kepada orang itu. Saya merasa amat lega ketika ia meninggalkan saya dan meninggalkan ruang kantor."

Peristiwa itu terjadi ketika persidangan tengah membahas sebuah petisi yang diajukan oleh organisasi Tikkun Olam, yang meminta pengadilan untuk memperpanjang perintah sementara yang melarang Kementerian Kesehatan Israel agar membatalkan lisensi organisasi tersebut dalam mengoperasikan rumah kaca untuk menanam ganja di Dataran Tinggi Golan.

Juru bicara organisasi tersebut, Shai Meir, menceritakan kejadian itu kepada Ynet. "Ada orang aneh yang datang menjelang akhir persidangan. Pria itu berusia hampir 60 tahun, dia bertanya kepada para hadirin di kursi paling belakang apakah betul yang ada di hadapannya adalah ketua Mahkamah Agung, Dorit Beinish. Mereka menjawab ya."

Menurut Meir, pria tersebut kemudian duduk, melepas sebelah sepatunya dan melemparkannya tepat ke muka Beinish. "Lemparan (sepatu) itu begitu kencang hingga membuat Beinish jatuh dari kursinya dan terlihat kehilangan kesadaran. Semua orang histeris. Pria aneh itu sempat melepaskan lagi sepatunya yang lain dan melemparkannya kembali sebelum petugas keamanan meringkusnya."

"Sesi persidangan yang tengah berjalan langsung dihentikan, petugas keamanan menangkap pria itu dan kami diminta keluar dari ruangan. Saya melihat Beinish terjatuh dari kursi, di belakang meja hakim. Pria itu meneriaki Beinish, 'dasar korup, kau telah menghancurkan kehidupan kami. Sepanjang hidupmu, kau adalah orang korup'."

Juru bicara wanita persidangan, pengacara Ayelet Filo, mengatakan kepada Ynet bahwa Beinish baik-baik saja, meski menderita memar di dekat hidung, dan kacamatanya pecah. "Menurut kami, kejadian ini amat parah dan akan ditangani," katanya.

Presiden Shimon Peres kemudian menelepon Beinish dari Berlin, dimana ia tengah menghadiri peringatan hari Holocaust internasional. Sang presiden menanyakan kondisi ketua MA tersebut.

"Menyakitimu sama saja menyakiti institusi suci di Israel. Hal ini tidak boleh dibiarkan terulang kembali," kata Peres. "Kuatkan diri, jaga diri baik-baik. Aku mendukungmu."

Beinish menjawab, "saya tersentuh karena Anda menelepon. Terima kasih atas perhatiannya, saya baik-baik saja."

Perdana Menteri Netanyahu merasa amat terkejut dengan kejadian itu dan mengecam kekerasan yang terjadi. "Saya merasa terkejut. Persidangan tidak boleh diserang dan kita tidak boleh membayangkan menyakiti ketua Mahkamah Agung, apalagi sampai melakukannya."

David Rotem, anggota Knesset (parlemen Israel) dari partai Yisrael Beitenu yang juga ketua Komite Konstitusi, Hukum dan Keadilan Knesset, mengatakan: "Upaya untuk melukai ketua Mahkamah Agung adalah sebuah serangan terhadap sistem hukum dan seluruh "negara" Israel."

"Boleh-boleh saja tidak setuju terhadap peraturan hukum, tapi sistem keadilan adalah sebuah simbol kekuasaan Israel, dan menyerang sistem tersebut atau perwakilannya sama saja dengan menyerang Israel. Kita harus mengambil langkah tegas untuk mencegah terulangnya serangan terhadap hakim-hakim Israel."

Pelemparan sepatu menjadi bentuk protes yang populer di dunia sejak jurnalis Irak, Muntader al-Zaidi melemparkan sepatu ke arah mantan presiden AS, George W. Bush pada bulan Desember 2008. Jurnalis muda tersebut, yang mengekspresikan amarah karena invasi AS ke Irak dan perang selama bertahun-tahun, meneriaki Bush, "Terimalah ciuman perpisahanmu, anjing!" (dn/im/mz) www.suaramedia.com

Hubungan Turki-Israel panas lagi. Lebih dari 2.000 serikat pekerja di Israel mengumumkan bahwa mereka akan memboikot pariwisata Turki sebelum pemerintah Turki menyampaikan secara resmi pernyataan maafnya pada Israel. Ancaman boikot itu disampaikan pada acara pameran pariwisata yang berlangsung di Tel Aviv.

Anggota serikat pekerja Israel menganggap PM Turki Recep Tayyeb Erdogan telah menyerang Israel secara verbal, karena Erdogan kerap melontarkan kecaman dan kritikan tajam atas tindakan Israel terutama dalam masalah Palestina. Pekan kemarin, pemerintah Israel bahkan menyebut Erdogan anti-Semit dan telah merusak citra Israel lewat pernyataan-pernyataannya.

Ribuan serikat pekerja Israel itu dalam pernyataannya mengatakan bahwa mereka tidak akan membeli paket-paket liburan ke Turki kecuali pemerintah Turki menyampaikan permohonan maaf secara resmi. Deklarasi boikot Turki di Israel sudah muncul sejak bulan Oktober 2009 dan hampir 98 persen serikat pekerja yang ada di Israel mendukung gerakan boikot itu. Perusahaan-perusahaan Israel yang melakukan boikot terhadap Turki antara lain, Bank Leumi, Israel Electric Company, Egged, El-Al (maskapai penerbangan Israel) serta kantor perdana menteri Israel dan lembaga lainnya.

Pekan kemarin, Turki mempublikasikan jumlah kunjungan wisata ke negerinya sepanjang tahun 2008. Dari data tersebut, jumlah orang Israel yang datang ke Turki memang mengalami penurunan hingga 44 persen dibandingkan tahun 2008. Meski di jajaran petinggi pemerintahanya terjadi "perang" sengit antar Turki dan Israel. Kedua negara ini masih saling bergantungan dalam hubungan bisnis. Turki banyak mengimpor kebutuhan militernya dari Israel. (ln/Ynet)

PORT-AU-PRINCE (SuaraMedia News) – Pemerintah Haiti hanya menerima kurang dari satu sen untuk setiap dolar dana bantuan yang diberikan AS, hal itu terungkap dalam hasil tinjauan ulang kantor berita Associated Press terhadap bantuan kemanusiaan Haiti.

Dua minggu berselang setelah Presiden Obama mengumumkan bantuan awal sebesar $100 juta untuk gempa Haiti, pengeluaran pemerintah AS dalam bencana tersebut hampir mencapai empat kali lipatnya, sebanyak $379 juta, sebagaimana diumumkan oleh Lembaga Perkembangan Internasional AS pada hari Rabu. Jumlah tersebut sama saja dengan $1,25 per penduduk AS.

Kasarnya, setiap dolar AS dihitung seperti ini: 42 sen untuk bantuan kemanusiaan, 33 sen untuk bantuan militer AS, sembilan sen untuk makanan, sembilan sen untuk biaya antar makanan, lima sen untuk upaya pemulihan korban selamat gempa Haiti, kurang dari satu sen untuk pemerintah Haiti, dan hanya setengah sen untuk Republik Dominika.

Dana bantuan pemerintah AS menjadi bagian dari dana bantuan kemanusiaan Haiti yang total telah hampir berjumlah $2 miliar. Hampir seluruhnya dikelola oleh organisasi-organisasi di luar pemerintah Haiti yang tengah berjuang untuk memulihkan kembali kewenangannya pasca terjadinya gempa dahsyat beberapa waktu lalu. Pada hari Rabu, Presiden Rene Preval mengakui reputasi yang disandang negaranya, namun ia mengatakan bahwa dana bantuan tidak mengalir masuk ke kantong pejabat pemerintah.

"Ada persepsi mengenai korupsi, namun saya ingin mengatakan kepada rakyat Haiti bahwa pemerintah Haiti hanya menerima kurang dari satu sen dari setiap lembar uang yang masuk. Jutaan mengalir ke kanan, jutaan mengalir ke kiri, tapi semuanya adalah lembaga non pemerintahan," kata Preval dalam sebuah konferensi pers di Creole.

Para pakar bantuan sosial mengatakan bahwa mengirimkan uang langsung kepada pemerintah Haiti adalah sebuah kesalahan, karena pemerintah Haiti memang sudah tidak stabil sejak sebelum terjadi gempa, pemerintah Haiti juga masuk dalam daftar negara-negara paling korup di dunia.

"Saya benar-benar yakin bahwa rakyat Amerika adalah orang-orang dermawan, namun mereka menginginkan pertanggungjawaban," kata Timothy R. Knight, seorang mantan asisten direktur US AID yang telah membagi-bagikan bantuan bencana alam selama 25 tahun. "Dalam hal ini, mereka (AS) bersikap sangat berhati-hati dan tidak begitu saja menggerojokkan dana, tapi juga melakukan analisis berdasarkan perkiraan yang jelas dan memastikan bahwa dana bantuan yang dikirimkan telah diterima di tempat yang paling baik."

Tinjauan ulang AP mengenai hitung-hitungan dana federal, laporan pengeluaran dan kontrak menunjukkan bahwa sebagian besar dana bantuan AS disalurkan melalui lembaha-lembaga yang mapan dan telah teruji, termasuk World Food Program dari PBB, Pan American Health Organization, dan organisasi-organisasi nonprofit seperti Save The Children, yang telah mengirimkan segala hal, mulai dari kapal tongkang senilai $3,4 juta yang mengantarkan bantuan ke pelabuhan hingga kacang Pinto (kacang-kacangan yang tumbuh di kawasan MesoAmerika dan Andes) yang berharga 40 sen per pound (373 gram).

"Kami berusaha memberikan respon secepat mungkin terhadap bencana ini dengan cara mengerahkan seluruh sumber daya yang dapat diupayakan pemerintah AS, pertama dengan cara melakukan penyelamatan, yang tengah kami lakukan, dan kami harap hal itu tidak terputus hingga keadaan benar-benar pulih," kata Lewis Lucke, koordinator khusus AS untuk bantuan keamanan dan rekonstruksi.

Bantuan kemanusiaan dalam jumlah besar diberikan dalam waktu beberapa jam pasca terjadinya bencana tanggal 12 Januari yang menewaskan setidaknya 150.000 orang, meluluhlantakkan ibu kota Port-au-Prince dan mempengaruhi sepertiga dari total penduduk Haiti yang berjumlah 9 juta orang.

Dari setiap lembar dolar yang dibayarkan para wajib pajak AS, 42 sen diantaranya dialokasikan untuk membiayai program bantuan kemanusiaan US AID. Dana tersebut dipergunakan untuk membeli segala hal, mulai dari generator berharga $5.000 hingga perlengkapan kebersihan seharga $35, lengkap dengan sabun, sikat dan pasta gigi untuk kehidupan keluarga sehari-hari.

33 sen lainnya dialirkan kepada militer AS, untuk biaya keamanan, tim SAR dan rumah sakit Angkatan Laut, USNS Comfort.

Hanya kurang dari sepuluh sen yang dialokasikan untuk makanan: 55,3 kilo ton kacang Pinto, kacang hitam, beras, jagung, campuran kedelai dan minyak sayur. Jika dibeli dalam jumlah besar, maka harga makanan sebenarnya relatif rendah. Misalnya saja kacang Pinto hanya berharga 40 sen per pound jika dibeli dalam jumlah 2.268 ton seperti pekan lalu.

Sembilan sen lainnya dialokasikan untuk membiayai pengiriman makanan kepada rakyat Haiti. Biaya kapal angkut, truk dan pusat distribusi bantuan, berikut para stafnya.

Awalnya, dana bantuan ditujukan untuk menyelamatkan nyawa korban, namun kini dana tersebut dialihfungsikan untuk melakukan pemulihan. Pemerintahan Obama mengalokasikan lima sen dari setiap lembar dolar untuk membayar para korban untuk melakukan pekerjaan. Dalam sebuah program, 40.000 orang warga Haiti dibayar $3 per hari selama 20 hari untuk membersihkan sekeliling rumah sakit dan menggali jamban. Proyek tersebut juga termasuk penyewaan 10 ekskavator dan traktor, masing-masing dengan biaya $600, da 10 dump truck dengan biaya $50 sekali angkut.

Hanya kurang dari satu sen per dolar yang langsung diberikan kepada pemerintah Haiti. "AS jarang memberikan uang dalam jumlah besar kepada pemerintah, sebuah praktik yang menurut pandangan saya bisa dibela," kata John Simon, yang menjadi koordinator bantuan bencana internasional dalam masa pemerintahan Presiden Bush.

Setengah sen dialirkan kepada tiga rumah sakit Republik Dominika, dekat perbatasan Haiti, yang menjadi tempat meminta bantuan bagi para korban.

Dana tersebut dialirkan melalui lembaga-lembaga pemerintahan yag mengelola dana $2,6 miliar yang dialokasikan untuk dana bantuan bencana luar negeri pada tahun anggaran 2010, kata Thomas Gavin, juru bicara kantor manajemen dan pendanaan Gedung Putih. Dia menambahkan bahwa tidak ada rencana untuk meminta kucuran dana baru kepada Kongres AS. (dn/ap) www.suaramedia.com

TEL AVIV (SuaraMedia News) – Sejumlah saksi mata menyebutkan bahwa ada salah seorang hadirin di persidangan Israel melemparkan sepatu ke arah Ketua Mahkamah Agung Israel, Dorit Beinish. Sepatu tersebut mendarat telak di wajah Beinish pada hari Rabu (27/1).

Kepada Radio Ron Tal, seorang pengacara mengatakan, "Di tengah-tengah jalannya sidang, tiba-tiba sebuah sepatu melayang dari tempat duduk hadirin dan mengenai hakim Dorit Beinish, tepat di antara kedua matanya, sebelum kemudian jatuh ke lantai."

Dia menambahkan, "Si pelempar meneriakkan kekesalan karena masalah korupsi. Sejurus kemudian, para personel keamanan sidang langsung meringkusnya. Benar-benar gila."

Persidangan tersebut membahas mengenai penggunaan ganja untuk pengobatan. Karena lemparan sepatu tersebut, kacamata Beinish pecah, ia kemudian bergegas meninggalkan ruang sidang dan menjalani perawatan medis.

Beinish kembali ke ruang sidang sekitar satu setengah jam sesudahnya. Untuk menenangkan para hadirin, ia mengatakan: "Segalanya baik-baik saja."

Sang pelempar, yang belakangan diketahui bernama Pini Cohen, diringkus petugas keamanan. Hakim  Elyakim Rubinstein dan Uzi Vogelman juga hadir di ruangan tersebut, mereka langsung diungsikan setelah kejadian tersebut.

Menurut laporan awal, Cohen memasuki ruang persidangan dan sempat bertanya, "Apa itu ketua (Mahkamah Agung)?" Setelah mendapatkan jawaban pasti, ia langsung melepas sebelah sepatunya, melemparkannya ke arah Beinish dan tepat mengenai wajah sang ketua MA. Belum puas, Cohen kemudian melepas sepatu berikutnya dan kembali melempar Beinish, namun sepatu itu tidak mengenai sasaran karena Beinish mengelak.

Cohen memiliki catatan masa lalu yang penuh kekerasan. Ia pernah mengancam pengacaranya, Arieh Rozenberg, dan Hakim Philip Marcus pada tahun 2006 lalu. Rozenberg juga mengatakan bahwa dirinya sempat diserang oleh Cohen, mengakibatkan retak tulang tangan.

Hakim Rachel Shalev-Gertel membebaskan Cohen dengan jaminan 2.000 shekel ($535) dan menjatuhkan larangan bagi Cohen untuk mendatangi persidangan keluarga dan juga para hakim selama tiga bulan.

"Saya tidak punya niatan menyerang siapapun. Jika saya menerima perintah dari hakim untuk tidak datang, saya tidak akan datang," katanya dalam sesi dengar pendapat. Kepada Ynet, Rosenberg mengatakan: "Saya selalu merasa takut kepada orang itu. Saya merasa amat lega ketika ia meninggalkan saya dan meninggalkan ruang kantor."

Peristiwa itu terjadi ketika persidangan tengah membahas sebuah petisi yang diajukan oleh organisasi Tikkun Olam, yang meminta pengadilan untuk memperpanjang perintah sementara yang melarang Kementerian Kesehatan Israel agar membatalkan lisensi organisasi tersebut dalam mengoperasikan rumah kaca untuk menanam ganja di Dataran Tinggi Golan.

Juru bicara organisasi tersebut, Shai Meir, menceritakan kejadian itu kepada Ynet. "Ada orang aneh yang datang menjelang akhir persidangan. Pria itu berusia hampir 60 tahun, dia bertanya kepada para hadirin di kursi paling belakang apakah betul yang ada di hadapannya adalah ketua Mahkamah Agung, Dorit Beinish. Mereka menjawab ya."

Menurut Meir, pria tersebut kemudian duduk, melepas sebelah sepatunya dan melemparkannya tepat ke muka Beinish. "Lemparan (sepatu) itu begitu kencang hingga membuat Beinish jatuh dari kursinya dan terlihat kehilangan kesadaran. Semua orang histeris. Pria aneh itu sempat melepaskan lagi sepatunya yang lain dan melemparkannya kembali sebelum petugas keamanan meringkusnya."

"Sesi persidangan yang tengah berjalan langsung dihentikan, petugas keamanan menangkap pria itu dan kami diminta keluar dari ruangan. Saya melihat Beinish terjatuh dari kursi, di belakang meja hakim. Pria itu meneriaki Beinish, 'dasar korup, kau telah menghancurkan kehidupan kami. Sepanjang hidupmu, kau adalah orang korup'."

Juru bicara wanita persidangan, pengacara Ayelet Filo, mengatakan kepada Ynet bahwa Beinish baik-baik saja, meski menderita memar di dekat hidung, dan kacamatanya pecah. "Menurut kami, kejadian ini amat parah dan akan ditangani," katanya.

Presiden Shimon Peres kemudian menelepon Beinish dari Berlin, dimana ia tengah menghadiri peringatan hari Holocaust internasional. Sang presiden menanyakan kondisi ketua MA tersebut.

"Menyakitimu sama saja menyakiti institusi suci di Israel. Hal ini tidak boleh dibiarkan terulang kembali," kata Peres. "Kuatkan diri, jaga diri baik-baik. Aku mendukungmu."

Beinish menjawab, "saya tersentuh karena Anda menelepon. Terima kasih atas perhatiannya, saya baik-baik saja."

Perdana Menteri Netanyahu merasa amat terkejut dengan kejadian itu dan mengecam kekerasan yang terjadi. "Saya merasa terkejut. Persidangan tidak boleh diserang dan kita tidak boleh membayangkan menyakiti ketua Mahkamah Agung, apalagi sampai melakukannya."

David Rotem, anggota Knesset (parlemen Israel) dari partai Yisrael Beitenu yang juga ketua Komite Konstitusi, Hukum dan Keadilan Knesset, mengatakan: "Upaya untuk melukai ketua Mahkamah Agung adalah sebuah serangan terhadap sistem hukum dan seluruh "negara" Israel."

"Boleh-boleh saja tidak setuju terhadap peraturan hukum, tapi sistem keadilan adalah sebuah simbol kekuasaan Israel, dan menyerang sistem tersebut atau perwakilannya sama saja dengan menyerang Israel. Kita harus mengambil langkah tegas untuk mencegah terulangnya serangan terhadap hakim-hakim Israel."

Pelemparan sepatu menjadi bentuk protes yang populer di dunia sejak jurnalis Irak, Muntader al-Zaidi melemparkan sepatu ke arah mantan presiden AS, George W. Bush pada bulan Desember 2008. Jurnalis muda tersebut, yang mengekspresikan amarah karena invasi AS ke Irak dan perang selama bertahun-tahun, meneriaki Bush, "Terimalah ciuman perpisahanmu, anjing!" (dn/im/mz) www.suaramedia.com

Hamas menyatakan pihaknya tidak melakukan pelanggaran terhadap hukum internasional dan tidak melakukan kejahatan perang seperti yang didakwakan Richard Goldstone dalam laporannya tentang perang di Gaza tahun 2008.

Menteri Kehakiman dari Hamas, Mohammed Faraj Al-Ghul mengatakan, Hamas sudah membentuk komite penyelidik independen sesuai rekomendasi Goldstone dalam laporannya dan tidak menemukan fakta bahwa Hamas ikut melakukan kejahatan perang seperti yang dilakukan Israel. Apalagi posisi Hamas dan warga Gaza adalah pihak yang diserang.

"Komite sudah bekerja siang malam untuk mengungkap semua fakta. Kami yakin tidak ada pelanggaran hukum kemanusiaan internasional atau hukum hak asasi internasional yang mengarah pada kejahatan perang yang dilakukan Hamas," kata Al-Ghul.

Ia juga menyatakan bahwa roket-roket yang ditembakkan Hamas ke wilayah Israel, sasarannya bukan warga sipil. "Pemerintah Palestina di banyak kesempatan menyerukan pada kelompok-kelompok perlawanan di Palestina menghindari target warga sipil. Target mereka adalah fasilitas-faslitas militer Israel," ujar Al-Ghul.

Richard Goldstone yang ditunjuk sebagai ketua investigasi agresi Israel ke Gaza tahun 2008 dalam laporannya juga menuding Hamas melakukan kejahatan perang karena telah menembakkan roket-roketnya ke wilayah selatan Israel dengan target warga sipil Israel.

Goldstone merekomendasikan hasil-hasil temuannya dibawa ke Mahkamah Kriminal Internasional di Hague jika Israel maupun Hamas tidak melakukan penyelidikan independen. Hamas sudah membentuk komite penyelidik sedangkan Israel menyatakan menolak laporan Goldstone dan menolak melakukan penyelidikan independen atas agresi itu.

Dalam agresi brutal Israel ke Gaza tahun 2008 lalu, sekitar 1.400 warga sipil Palestina gugur syahid sementara di pihak Israel korban tewas hanya 13 orang. (ln/mol)

ISTANBUL - Para pemimpin Afghanistan dan Pakistan berencana menjalin kerjasama yang lebih erat lagi dalam perang melawan Taliban selama KTT di Istanbul. Dalam acara tersebut, mereka juga mengagendakan pembicaraan khusus mengenai Taliban. Bahkan mereka akan mengangkatnya sebagai topik utama dalam KTT.

Presiden Afganistan Hamid Karzai dan Presiden Pakistan Asif Ali Zardari akan bertemu di depan konferensi London di mana Afghanistan dan masyarakat internasional akan menyatakan persetujuan mereka terhadap kerangka kerja bagi Kabul untuk bertanggung jawab atas keamanan sendiri.

Kedua pemimpin tersebut juga akan mengadakan pertemuan bilateral sebelum berbicara dengan tuan rumah, Presiden Abdullah Gul dari Turki, yang telah bekerja di belakang layar untuk memperbaiki hubungan antara Islamabad dan Kabul, khususnya selama perundingan dengan Taliban.

Dalam proses pemulihan keamanan negara, Afganistan hingga saat ini memang masih mengandalkan bantuan Barat dengan pasukan pendukung yang memperkuat lini pasukan keamanan mereka, apalagi di saat kondisi yang memburuk seperti akhir-akhir ini. Di sisi lain, pemerintah Afganistan sedang mempersiapkan sebuah program untuk mempersatukan kembali beberapa gerilyawan Taliban dalam rangka mendorong mereka untuk berdamai dan meletakkan senjata.

Pakistan sebagai negara tetangga juga berusaha memainkan peran dalam proses perdamaian tersebut. Menteri Luar Negeri Pakistan mengatakan pada hari Sabtu, Pakistan akan mengulurkan tangan untuk membantu mendorong perdamaian di negara Afganistan.

Setelah tiba di Istanbul pada hari Ahad kemarin, Zardari bertemu dengan Perdana Menteri Turki Tayyip Erdogan, yang telah memperbaiki citra Turki dan pengaruhnya di dunia Islam sejak Partai Islam AK (Adalet ve Kalkinma ), partainya mengambil alih kekuasaan pada tahun 2002. Erdogan bertemu Karzai secara terpisah.

Presiden AS Barack Obama, yang mengirimkan 30..000 pasukan tambahan ke Afghanistan, mengatakan solusi politik diperlukan untuk menstabilkan Afghanistan dan ia menekankan bahwa keberhasilan tersebut tidak akan tercapai tanpa dukungan Pakistan.

[muslimdaily.net/aby]

Mahasiswa dari beberapa universitas ternama di Britania dipercaya bepergian ke Somalia untuk ikut bertempur bersama kelompok-kelompok pendukung Al Qaida.

Hampir selusin pemuda Muslim Inggris, termasuk seorang peneliti medis perempuan, dikatakan baru-baru ini telah bergabung dengan Al Shabaab di Afrika Timur, sebuah organisasi perlawanan mirip Taliban di Pakistan.

Tokoh masyarakat Somalia di Inggris mengatakan bahwa para siswa dari London School of Economics (LSE), Imperial COllege dan King's College London adalah diantara mereka yang telah direkrut dalam satu tahun terakhir. Yang paling muda diyakini berumur 18 tahun.

Salah satu lulusan LSE yang tumbuh di Inggris dikatakan dipanggil istrinya yang hamil dari Mogadhisu, ibukota Somalia lalu berkata: "Aku disini membela negara dan hak-hak ku, aku pikir kita tidak akan bertemu lagi".

Sebuah penyelidikan dari The Sunday Times kedalam jaringan "pipa" Somalia memperkuat dugaan bahwa Inggris telah menjadi lahan subur bagi perkembangan Al Qaida.

Ini diikuti kasus Umar Farouk Abdulmutallab, lulusan teknik London yang mencoba melakukan aksi peledakkan pada penerbangan transatlantik Natal lalu.

Biro keamanan Inggris percaya bahwa anak-anak Inggris ini bepergian keluar negeri untuk ikut berlatih dan bertempur di Somalia dan Yaman dan menimbulkan resiko kemanan serius jika mereka kembali ke Inggris lagi. Mereka menduga bahwa setidaknya dua lusin anak-anak Inggris telah pergi ke Somalia untuk mengangkat senjata dan menjadi pelaku bom, namun tokoh masyarakat Somalia di Inggris percaya bahwa jumlah mereka yang berangkat lebih dari 100.

Al Shabaab (yang artinya Pemuda) bertujuan menegakkan Shariah Islam diseluruh Somalia dan mengobarkan perang terhadap pemerintahan Somalia sekarang yang didukung Barat. Para analis menyatakan bahwa Al Shabaab adalah cabang Al Qaida di Afrika.

Salah satu lulusan LSE meninggalkan London awal tahun lalu, awalnya ia mengatakan kepada istrinya dan orang tuanya bahwa ia melakukan perjalanan ke Dubai untuk bekerja sebagai wartawan di surat kabar Khaleej Times, namun dia tak pernah kembali lagi.

Ada pula seorang pemuda 25 tahun dan merupakan fans klub sepakbola Arsenal, awalnya ia datang ke Inggris dari Somalia pada tahun 1994 dan dibesarkan di Leeds, pemuda inipun akhirnya pergi ke Mogadishu. Untuk apalagi kalau bukan untuk berperang. Padahal kawan-kawannya mengatakan ia tidak terlalu relijius dan pada saat menikah ia memakai pernikahan model Barat.

Yang lebih mengagumkan adalah kisah dua mahasiswa dari London barat yang diyakini telah melakukan perjalanan ke Somalia sekitar sembilan bulan lalu. Kedua pemuda tersebut salah satunya berumur sekitar 23 tahun, sarjana hukum dari King's College dan satunya lagi berumur 25 tahun dan telah menyelesaikan gelar dokter di Imperial College, ia pernah bekerja sebagai relawan kampanye anti-narkoba di Ealing dan dianggap sangat berpengaruh diantara pemuda Somalia. Keduanya kini bertempur di Somalia, tak peduli dengan gelar pendidikan mereka.

Hampir pada waktu yang sama dengan keberangkatan dua pemuda tersebut, seorang wanita Muslimah 24 tahun, mahasiswi biomedis di University of East London juga meninggalkan Inggris, teman-temannya mengatakan ia bergabung dengan "tim medis" Al-Shabaab.

Menakjubkan, para pemuda-pemudi Muslim ini walaupun lama belajar di Barat dengan model pendidikan Barat pula namun masih berhasrat berangkat berjihad ke medan perang, padahal mata kuliah yang mereka tempuh tidak ada hubungannya dengan agama. Bandingkan dengan mahasiswa Indonesia yang belajar di Barat, pulang dari menempuh studi mereka jadi pengusung ide-ide Liberal yang malah menggerogoti Islam.

[muslimdaily.net/times/ans]

Al Jazeera

WASHINGTON, KOMPAS.com — Perseteruan antara Amerika Serikat dan stasiun televisi berjaringan yang berbasis di Qatar, Al Jazeera, tampaknya masih terus terjadi. Seperti dalam kasus peliputan bencana gempa Haiti, Amerika sampai kesal dibuatnya. Ini karena siaran televisi tersebut mengesankan kehadiran tentara AS di sana sebagai tindakan militerisasi.

Asisten Menteri Luar Negeri AS Urusan Publik Philip Crowley adalah salah satu orang yang sempat "curhat" tentang hal itu. Kemarin ia mengungkapkan keluhannya tentang siaran televisi berbahasa Inggris itu kepada wartawan lantaran merasa diperlakukan tidak adil dalam operasi kemanusiaan di Haiti.

"Masa ada istilah militerisasi," kata Crowley kepada wartawan.

Dia mengkritik bagaimana Al Jazeera membandingkan pusat operasi bantuan AS untuk gempa Haiti di Port-au-Prince dengan Zona Hijau di mana pasukan AS ditempatkan di Baghdad.

Crowley nyata-nyata menunjuk Al Jazeera dalam menanggapi pertanyaan media yang mencari klarifikasi atas pernyataan sebelumnya oleh Menteri Luar Negeri Hillary Clinton yang mengatakan bahwa beberapa media asing, entah sengaja atau tidak, menilai salah keputusan AS untuk mengirim ribuan anggota pasukan ke Haiti.

Clinton memang sangat membela keterlibatan militer AS di Haiti. Dia mengatakan, hal itu penting untuk membantu tragedi yang belakangan diketahui menewaskan lebih dari 150.000 orang tersebut.

Negara-negara kiri Amerika Latin, seperti Venezuela dan Kuba, juga mengungkapkan hal yang sama. Mereka menuduh AS menduduki Haiti. Maklum, AS memang pernah mengirim pasukan ke negara Karibia yang miskin itu pada 1915 guna mendirikan pemerintahan militer yang berlangsung hingga 1934.

AS juga menghadapi kritik dari sekutunya di NATO, Italia, di mana seorang pejabat senior pada hari Minggu menyebutkan bahwa Washington telah mengirim "terlalu banyak perwira" ke Haiti dan tidak bisa menemukan pemimpin yang cakap.

Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi memilih aman. Ia menjauhkan diri untuk memberikan komentar.

Terungkap fakta baru yang sebelumnya tersembunyi. Penguasa rezim di Asia Tengah tak henti-hentinnya memaksakan tuduhan tak berdasar pada partai politik Islam global yang menyerukan penegakkan Islam di bawah naungan Khilafah, Hizbut Tahrir. Berbagai fitnah dan penganiayaan terhadap para aktivis gerakan ini terus berlangsung di Asia Tengah. Tetapi, semuanya tidak membuat aktivitas dakwah tersebut berhenti.

Barat yang menyebut dirinya pembela hak asasi manusia dan kebebasan malah mendukung para penguasa diktator tersebut. Mantan Dubes Inggris untuk Uzbekistan, Craig Murray mengatakan, "Dengan dukungan Barat terhadap rezim brutal, kita sedang menciptakan sebuah bow waktu ketidakpuasan di Asia Tengah. Karena Barat mendukung kediktatoran tersebut akan mengambil giliran anti Barat."

Pemimpin oposisi Uzbek, dalam tayangan film dokumenter yang dibuat oleh Michael Anderson yang ditayangkan oleh stasion televisi Al-Jazeera berbahasa Inggris, mengatakan bahwa sekarang ketakutan pada ekstrimisme di Uzbekistan pada skala yang lebih luas. Bukan hanya di kalangan orang-orang religius. Dia memperingatkan bahwa rata-rata para pebisnis, guru, pekerja sedang ditarik ke arah radikalisme.

Kanyebek Mamalatiev, pejabat pada Badan Negara Urusan Agama ketika diwawancarai oleh Anderson, menuduh Hizbut Tahrir melakukan tindakan kekerasan. Ia mengelak jika meningkatnya ekstrimisme karena rezim tidak menjalankan demokrasi.

"Tidak, kita tidak bisa bicara tentang tidak adanya demokrasi. Kami telah memilih cara demokratis. Secara khusus penghormatan terhadap hak asasi manusia. Tapi tentu saja semua orang memahami demokrasi dengan cara mereka sendiri. Jika seseorang berpikir kebebasan beragama adalah untuk melemparkan bom, apakah kita memerlukan agama semacam ini?" katanya.

Ia mengatakan, bahwa Pengadilan konstitusional Kyrgyz telah mendefinisikan Hizbut Tahrir sebagai sebuah organisasi ekstrimis dan dilarang.

"Jika orgnaisas itu tidak punya niat buruk, mengapa mereka mengumpulkan senjata? Granat tangan…," tuduhnya.

Tentu saja, tuduhan palsu tersebut terus dikampanyekan dan diteruskan oleh media penguasa korup yang takut kejahatan mereka terungkap. Tetapi, kebenaranlah yang akan pasti menang.

Perwakilan Hizbut Tahrir di Kyrgyzstan, Dilyor Jumabaev saat diwawancarai oleh Andersoan, menegaskan bahwa Hizbut Tahrir tidak terlibat dalam hal-hal seperti itu.

"Setiap kali ada tindakan keras, lebih banyak orang menjadi anggota Hizbut Tahrir," kata Dilyor Jumabaev.

"Orang-orang muda bisa tertarik kepada siapa kita. Kami duduk bersama mereka dan mempelajari sejarah dan ajaran-ajaran Nabi Muhammad Saw," kata Jumabaev kepada Anderson.

Dia terdiam sebentar, lalu melanjutkan perkataannya. "Dan mereka setuju dengan jalan damai kami," tambahnya lagi sambil dibarengi dengan senyuman kebahagiaan.

Jumabaev menegaskan bahwa banyak dari orang-orangnya di penjara dan mereka sangat produktif.

"Di penjara ada banyak orang-orang kita dan mereka produktif. Ada sejumlah pasukan dari orang-orang kita keluar. Setelah dari penjara, mereka tidak takut sesuatu apa pun. Segera, Insya Allah, kita akan memiliki sebuah Negara Islam. Sebuah Khilafah!" kata aktivis Hizbut Tahrir tersebut.

Saat Michael Anderson menanyakan kepadanya, "Apakah Anda akan menggunakan senjata atau pasukan dalam proses ini?"

Jumabaev, menjawab dengan meyakinkan sambil menggelengkan kepala, "Tidak! Tidak ada jalan! Hanya kekuatan dari Quran."

Demikianlah, rezim korup dengan berbagai cara terus menerus melancarkan tuduhan palsu terhadap para pengemban dakwah untuk menghentikan seruan terhadap syariah dan Khilafah. Barat pun semakin memperlihatkan kepalsuannya dengan mendukung para diktator tersebut. Tetapi, rencana Allah Swt. lebih dahsyat lagi, hingga suatu tiba saatnya pertolongan Allah datang dan Khilafah Rasyidah berdiri kembali. Tak lama lagi. (syabab.com, 24/1/2010)

Presiden Sudan Omar Al Bashir (Foto: media.2news.tv)

KHARTOUM - Kembali seorang pemimpin negara menjadi korban pelemparan sepatu. Kali ini insiden melanda Presiden Sudan, Omar al Bashir. Saat dirinya menghadiri konferensi publik di Khartoum, Sudan, tiba-tiba sebuah sepatu melayang kearahnya.

Untungnya Presiden yang dituduh melakukan kejahatan perang ini berhasil menghindari dan lolos dari serangan memalukan tersebut. Tidak lama kemudian pelaku pelemparan berhasil diamankan oleh petugas kemananan. Pelaku yang diketahui berusia 40 tahun tersebut merupakan salah satu tamu dalam konferensi publik tersebut.

Pelaku kemudian diidentifikasi sebagai Adil Mohammed Fath al Rahman Mahjub. Pria tersebut diketahui pernah menjadi pejabat di Pemerintahan Sudan dan memiliki penyakit kelainan jiwa. Demikian diberitakan kantor berita SUNA, Selasa (26/1/2010).

"Pelaku ingin menyampaikan pesan kepada Presiden tetapi dicegah oleh petugas penjaga presiden. Petugas mengatakan jika waktu dan tempatnya tidak tepat. Tidak lama kemudian ia melepas sepatunya dan melemparkannya ke arah Presiden," menurut keterangan yang diperoleh dari SUNA.

Selang beberapa lama pelaku yang tidak bersenjata tersebut dirawat di rumah sakit jiwa untuk diketahui kondisi jiwanya. Usai dirawat pelaku akhirnya dikembalikan kepada keluarganya.

Insiden ini mengingatkan kejadian serupa yang pernah terjadi kepada mantan Presiden Amerika Serikat George W Bush pada 14 Desember 2008 lalu. Saat itu seorang wartawan Irak Muntadar Al Zaidi melemparkan sepasang sepatunya ke arah Bush, saat kunjungan terakhirnya ke Baghdad, Irak. Zaidi menyatakan jika aksinya tersebut merupakan "ciuman perpisahan" bagi Bush.

Akibat aksinya tersebut Zaidi dihukum sembilan bulan penjara, namun ia diterbangkan keluar Irak sesaat sesudah dibebaskan untuk menghindari ancaman kekerasan atas dirinya.

Selain Bush, pemimpin negara lain yang pernah dilempari sepatu adalah Perdana Menteri China Wen Jiabao saat kunjungan ke Inggris. Perdana Wen dilempari sepatu oleh seorang mahasiswa saat ia sedang berpidato di Universitas Cambridge. (faj)(rhs)

PRANCIS--Suatu komite parlemen Prancis merekomendasikan pelarangan terbatas terhadap pemakaian penutup seluruh tubuh oleh wanita muslim. Laporan komite menganjurkan pelarangan di rumah sakit, sekolah, dan angkutan umum.

Debat soal pelarangan kerudung yang menutup seluruh tubuh selain mata atau burka sudah lama marak Prancis. Presiden Nicolas Sarkozy baru-baru ini menyatakan penolakan terhadap model busana tersebut. Kementerian Dalam Negeri Prancis mengatakan hanya sekitar 1.900 wanita di Prancis menggunakan burka.

Dalam laporan setebal hampir 200 halaman, komite parlemen mengatakan: "Mengenakan kerudung yang menutup seluruh wajah adalah tantangan bagi republik kita. Ini tidak bisa diterima. Kita harus mengutuk ekses ini."

Laporan parlemen Prancis juga merekomendasikan bahwa siapa pun yang menunjukkan tanda-tanda yang jelas tentang "praktik keagamaan radikal" sebaiknya tidak diberi kartu penduduk dan kewarganegaraan.

Alasan Praktis

Penerbitan dokumen ini diperkirakan akan diikuti dengan penyusunan rancangan undang-undang dan perdebatan parlemen mengenai isu ini. Alasan di balik laporan ini adalah membuat wanita yang mengenakan penutup kepala yang menutup seluruh tubuh kecuali mata menjadi tidak leluasa dalam menyelesaikan urusan sehari-hari.

Ada kekhawatiran bahwa pelarangan langsung bukan hanya tidak praktis, tapi juga tidak dikehendaki dan bisa membuat Prancis menjadi sasaran terorisme. Prancis diperkirakan memiliki lima juta jiwa warga muslim dan ini merupakan populasi muslim terbesar di kawasan Eropa barat.

Awal bulan ini, Presiden Sarkozy mengatakan, kerudung yang menutup seluruh wajah "tidak disambut di Prancis". Namun, dia tidak secara terang-terangan menyerukan pelarangan dan mengatakan tidak seorang pun boleh merasa menjadi korban stigmatisasi oleh ketentuan hukum yang kelak dikeluarkan.

Dukungan Publik
Jajak pendapat mengindikasikan mayoritas warga Prancis mendukung larangan penuh. Namun, para anggota parlemen Prancis merekomendasikan bahwa -untuk sementara- pelarangan sebaiknya terbatas.

Komite parlemen menyarakan pelarangan di dalam gedung pemerintah, dan orang yang tidak mengikuti larangan tersebut tidak akan mendapat layanan yang diberikan di sana, misalnya, tunjangan negara, Di kalangan muslimah, ada banyak jenis penutup kepala, termasuk yang menutup wajah seperti niqab dan burka. Di Prancis, niqab tergolong yang paling umum dipakai.

Niqab biasanya menyisakan kedua mata tetap terlihat, sedangkan burka menutupi seluruh wajah dan tubuh pemakainya dengan cadar tipis untuk melihat. Masalah ini membelah pendapat kalangan partai politik di Prancis. Dari kubu oposisi, kubu Sosialis secara resmi telah menyatakan menentang pelarangan, dan mengatakan pelarangan akan sulit ditegakkan.

Partai ini mengatakan menentang kerudung yang menutup seluruh wajah, tapi sebagian anggotanya menyatakan mereka mengkhawatirkan stigmatisasi terhadap wanita Islam. Sementara itu, pimpinan partai sayap kanan UMP pimpinan Sarkozy sudah mengajukan rancangan undang-undang di parlemen yang mendukung pelarangan penuh atas alasan keamanan.

Kinshasa (ANTARA News/AFP) - Serangan militer yang didukung-PBB di Republik Demokratik Kongo telah menyebabkan lebih dari 1.000 warga sipil terbunuh tahun ini oleh tentara dan pemberontak Kongo, Human Rights Watch melaporkan.

Kelompok yang bermarkas di di New York itu menyatakan sedikitnya 1.400 warga sipil tewas dari Januari hingga September dan minta PBB bertindak untuk membendung pertumpahan darah itu.

"Tentara militer Kongo dan petempur pemberontak FDLR telah menyerang warga sipil, menuduh mereka menjadi kolaborator, dan menghukum mereka dengan banyak cincangan hingga tewas dengan parang," kata laporan yang dikeluarkan Senin.

Kedua belah pihak juga menembak warga sipil ketika mereka berusaha untuk melarikan diri atau membakar mereka di rumah mereka. Sebagian besar korban adalah perempuan, anak-anak dan orang tua, kata HRW.

Laporan itu, yang disebut "Anda Akan Dihukum: Serangan terhadap Warga Sipil di Kongo Timur", mengatakan penyiksaan dilakukan dalam operasi oleh militer DRC (FARDC) terhadap pemberontak Pasukan Demokratik untuk Pembebasan Rwanda (FDLR), milisi Hutu yang mengambil bagian dalam pembasmian etnik di Rwanda 1994.

Misi Penjaga Perdamaian PBB, MONUC, membantu serangan anti-pemberontak sejak Maret.

Laporan 183 halaman itu menyebut bukti dari 600 korban, saksi dan anggota keluarga korban.

HRW mndesak PBB untuk membentuk "kelompok pakar perlindungan warga sipil" guna melengkapi tindakan untuk membantu usaha perlindungan orang di bagian timur negara itu yang dirusak-konflik, tempat pemerkosaan juga biasa dan dilakukan oleh semua pihak yang berkonflik.

"Dalam sembilan bulan pertama 2009, PBB mencatat 7.500 lebih kasus kekerasan seksual terhadap wanita dan anak perempuan di North Kivu dan South Kivu di Kongo timur, hampir melebihi jumlah yang tercatat dalam sepanjang tahun itu, dan mungkin mewakili hanya sedikit dari semuanya," kata laporan tersebut.

Anneke Van Woudenberg, periset senior HRW, menyatakan Dewan Keamanan PBB memerlukan pendekatan baru untuk melindungi warga sipil di Kongo timur.

Van Woudenberg menyebutkan bahwa meskipun ada ekspresi kebencian oleh PBB, "pemerkosaan meningkat -- tidak menurun" di wilayah itu.

"Dewan Keamanan sebaiknya mengirim sekelompok pakar ke Kongo untuk memulai rencana perlindungan warga sipil yang serius," tegasnya.(*)



Miliuner Swedia, Patrik Brinkmann

STOCKHOLM--Pengusaha Swedia, Patrik Brinkmann, menyatakan bahwa ia akan mengucurkan dana €5 juta (atau sekitar Rp65 miliar) ke kas Pro NRW, sebuah partai populis anti-Islam di Cologne, Jerman, seperti dilansir laman situs The Local hari ini.

Dalam sebuah laporan yang disiarkan akhir pekan lalu, Brinkmann mengatakan bahwa ia khawatir Jerman menjadi "terlalu asing" dan hukum Syariah akan diterapkan di negara itu. "Namun, tidak ada, atau sangat sedikit, politisi yang menganggap hal ini serius," ujar Brinkmann.

"Itulah mengapa saya yakin bahwa sebuah sayap kanan baru di Jerman tidak hanya akan sukses, tapi dalam lima atau 10 tahun ke depan akan menjadi sebesar FPO di Austria atau SVP di Swiss," tambahnya, merujuk pada Partai Kebebasan Austria dan Partai Rakyat Swiss, dua kelompok ekstrem kanan yang memperoleh kesuksesan dalam pemilu.

Miliuner yang dikabarkan telah memiliki hubungan dengan partai ekstrem kanan NPD dan DVU itu akan mendanai sebuah bangunan untuk digunakan Pro NRW sebagai pusat anti-Islam.

Burkhard Freier, wakil kepala badan intelijen Verfassungsschutz di North Rhine-Westphalia Jerman, menilai Pro NRW dan kelompok yang terkait, Pro Koln (Pro Cologne), sebagai organisasi yang berbahaya.

Namun, ia menambahkan bahwa keanggotaan Pro NRW sangat kecil, sekitar 300 orang, sehingga tidak memiliki banyak pengaruh di North Rhine-Wetphalia, negara bagian Jerman yang paling padat penduduknya.

Pada tahun 2004, Brinkmann mendirikan Yayasan Benua Eropa (Kontinent Europa Stiftelse - KES) di Swedia, sebuah kelompok yang berusaha membangun sebuah "peradaban besar Eropa" yang akan mencakup Rusia.

Brinkmann kemudian, pada tahun 2008, menimbulkan kehebohan saat membeli villa di pinggiran kota Berlin dengan harga €3,3 juta, dan memicu kecemasan dari pihak berwenang Jerman bahwa tempat itu akan menjadi basis bagi kegiatan neo-Nazi. Para agen intelijen Jerman menganggap Patrik Brinkmann sebagai tokoh ekstremis sayap-kanan kelas dunia.

WASHINGTON (SuaraMedia News) - Ketika pemimpin al-Qaeda No 2, Ayman al-Zawahiri, membatalkan sebuah rencana serangan kimia di sistem kereta bawah tanah New York pada tahun 2003, ia menawarkan penjelasan yang mengerikan: Plot untuk melepaskan gas beracun kepada penduduk New York dijatuhkan untuk "sesuatu yang lebih baik," kata Zawahiri dalam pesan yang didapat oleh informan AS.

Arti samar ancaman Zawahiri masih belum jelas lebih dari enam tahun kemudian, tetapi laporan baru memperingatkan bahwa al-Qaeda tidak meninggalkan tujuannya dari menyerang Amerika Serikat dengan bahan kimia, biologis atau bahkan senjata nuklir.

Laporan, oleh mantan pejabat senior CIA yang memimpin lembaga perburuan senjata pemusnah massal, menggambarkan pemimpin Al-Qaeda sebagai seorang yang tekun dan sabar, bersedia menunggu selama bertahun-tahun untuk mendapatkan jenis senjata yang dapat menimbulkan korban luas.

Mantan pejabat, Rolf Mowatt-Larssen, mengacu pada pengetahuannya tentang berkas kasus yang diklasifikasikan untuk berpendapat bahwa al-Qaeda telah jauh lebih canggih dalam pencarian senjata pemusnah massal daripada yang diyakini secara umum, mengejar jalur paralel untuk memperoleh senjata dan menempa aliansi dengan kelompok-kelompok yang dapat menawarkan sumber daya dan keahlian.

"Jika Osama bin Laden dan letnan-nya sudah tertarik pada... Serangan skala kecil, ada sedikit keraguan mereka bisa melakukannya sekarang," Mowatt-Larssen menulis dalam laporan yang dikeluarkan hari Senin oleh Pusat Belfer untuk Sains dan Hubungan Internasional Harvard Kennedy School of Government

Laporan datang bersamaan dengan sebuah panel senjata pemusnah massal yang ditunjuk oleh Kongres bersiap untuk merilis sebuah penilaian baru dari kesiapsiagaan pemerintah federal menghadapi serangan seperti itu. Peninjauan oleh Komisi bipartisan Pencegahan Proliferasi Senjata Pemusnah Massal dan Terorisme terutama kritis terhadap tindakan administrasi Obama sejauh ini dalam penguatan pertahanan negara terhadap senjata bio, menurut dua mantan pejabat pemerintah yang telah melihat rancangan laporan.

Laporan awal Komisi pada Desember 2008 memperingatkan bahwa kelompok itu menggunakan senjata pemusnah massal kemungkinan dapat terjadi pada tahun 2013.

Mowatt-Larssen, seorang veteran CIA, memimpin lembaga satuan tugas internal pada al-Qaeda kemudian ditujuk sebagai direktur intelijen dan kontra intelijen untuk Departemen Energi. Laporannya memperingatkan bahwa ancaman bin Laden untuk menyerang Barat dengan senjata pemusnah massal bukanlah "retorika kosong" tetapi tujuan strategis untuk sebuah organisasi yang bertujuan merusak ekonomi Amerika Serikat dan sekutunya.

Dia mengutip pola dalam 15 tahun pengejaran al-Qaeda pada senjata pemusnah massal yang mencerminkan  kecanggihan dalam perakitan yang diperlukan keahlian dan peralatan. Dia menggambarkan bagaimana Zawahiri menyewa dua ilmuwan - mikrobiologi Pakistan bersimpati kepada al-Qaeda dan seorang kapten tentara Malaysia yang dilatih di Amerika Serikat. Al-Qaeda mencapai kedua gol sebelum September 2001, tetapi tampaknya tidak berhasil menjadikan spora anthrax sebagai senjata ketika invasi pimpinan Amerika di Afghanistan memaksa para ilmuwan untuk melarikan diri, Mowatt-Larssen berkata.

Namun Mowatt-Larssen mengatakan bahwa sebenarnya dia tidak melihat bukti yang mengaitkan program Al-Qaeda dengan serangan anthrax pada politisi Amerika dan outlet berita di tahun 2001, seperti yang sebelumnya AS tuduhkan.

Berdasarkan hal itu, teori senjata pemusnah massal al-Qaeda juga belum bisa dibenarkan.

Pejabat pemerintahan Bush sebelumnya juga menuding bin Laden semakin dekat untuk memperoleh senjata nuklir pada 2003 setelah mata-mata AS mengambil pesan rahasia oleh afiliasi Saudi dari Al-Qaeda mengacu pada rencana untuk mendapatkan tiga perangkat nuklir Rusia yang dicuri. Penyadapan itu mendorong pemerintah AS dan Saudi terus waspada dan kemudian menyebabkan tindakan keras Saudi yang agresif yang mengakibatkan penangkapan atau pembunuhan lusinan yang diduga rekan-rekan al-Qaeda.

Setelah itu, pembicaraan tentang kemungkinan akuisisi nuklir tiba-tiba berhenti tanpa alasan yang jelas, tapi pejabat AS tidak pernah yakin apakah plot itu dibongkar atau hanya didorong lebih dalam di bawah tanah.

"Tindakan keras begitu sukses," Mowatt-Larssen berkata, "Bahwa laporan intelijen mengenai program ini pada dasarnya masih kurang akurat." (iw/msnbc) www.suaramedia.com

Beirut (ANTARA News/AFP) - Pemerintah Timur Tengah gagal untuk memperbaiki catatan perlindungan Hak Asasi Manusia (HAM), menurut Human Rights Watch (HRW), Selasa, dalam pernyataan tahunannya, World Report 2010, di Beirut.

"Tahun 2009 adalah salah satu tahun kemalangan bagi wanita dan pendatang di kawasan tersebut," kata Direktur Kawasan Timur Tengah organisasi itu Sarah Leah Whitson, ketika organisasi itu mengeluarkan laporannya untuk Jordania, Lebanon, Arab Saudi, Suriah, dan Yaman.

"Bagi para pejuang HAM, ruang kecil mereka untuk bergerak turun tajam," kata Whitson dalam pernyataannya.

Laporan setebal liba bab itu secara luas menitikberatkan pada penyiksaan, diskriminasi terhadap perempuan, dan kelompok minoritas serta perlakuan kepada pekerja asing.

Kaum perempuan di Lebanon, Suriah, Jordania dan Arab Saudi, terus menghadapi diskriminasi di hadapan hukum, sehingga mereka tidak dapat mewariskan kewarganegaraan terhadap anak-anak mereka, menurut laporan itu.

Arab saudi juga mensyaratkan kerabat pria untuk ijin perjalanan perempuan.

HRW menggarisbawahi keperluan bagi Jordania dan Suriah untuk memerangi gelombang "pembunuhan demi nama baik", pembunuhan wanita dan acapkali kerabat pria, atas dugaan hubungan sebelum pernikahan.

Arab Saudi, Suriah dan Yaman juga terus menekan para pejuang HAM dan wartawan, menurut laporan setebal 612 halaman itu.

Ratusan ribu pengungsi asal Palestina, terutama di Lebanon, hidup dalam "kondisi sosial dan ekonomi yang menyedihkan serta menjadi subjek pembatasan dalam perumahan dan pekerjaan", kata laporan itu.

Etnik Kurdi di Suriah menjadi "sasaran diskriminasi sistematik" termasuk penyangkalan kewenangan kewarganegaraan bagi sekitar 300 ribu orang yang lahir di Suriah, tambahnya.

Etnik Kurdi merupakan sembilan persen populasi Suriah.

HRW juga menyoroti pelayanan buruk pekerja asing di Arab Saudi, Lebanon, dan Jordania. Mereka rata-rata menghadapi "eksploitasi dan penganiayaan dari majikan mereka, termasuk jam kerja berlebihan, gaji yang tak dibayar dan pembatasan kebebasan".

Ratusan ribu pekerja dari sejumlah negara termasuk Filipina, Sri Lanka, dan Ethiopia melakukan perjalanan ke Timur Tengah untuk mencari pekerjaan, terutama di bidang rumah tangga.(*)

TEL AVIV (SuaraMedia News) – Para rabbi ultra ortodoks terkemuka Israel membidik lawan baru dalam dunia internet yang mereka sebut tidak religius. Para rabbi tersebut menyerukan pemboikotan terhadap situs internet komunitas mereka sendiri, alasan dibalik pemboikotan tersebut adalah penyebaran gosip, fitnah, hal-hal kotor dan dibenci.

Hal tersebut merupakan upaya terbaru dalam perjuangan para rabbi ultra ortodoks, atau haredi, untuk melestarikan pengaruh mereka terhadap ratusan ribu orang pengikut dalam sebuah era di mana pengaruh teknologi tumbuh dengan sedemikian pesatnya.

Portal ultra ortodoks tersebut tidak materi-materi yang umumnya dijadikan sasaran amarah para rabbi, namun situs tersebut, yang menerbitkan artikel mengenai dunia politik, ekonomi, kesehatan, dan agama, menawarkan ajang diskusi bebas dengan respon pembaca yang tidak relevan dan tidak dimonitor, termasuk kritikan langsung terhadap kewenangan para rabbi.

Dalam kolom komentar terhadap pemberitaan mengenai dugaan penyuapan di sebuah sekolah ultra ortodoks di Tel Aviv, seorang pembaca memasang gambar tiga ekor monyet yang banyak dikenal menjadi perlambang "tidak mendengar, melihat, atau berbicara mengenai kejahatan". Sang pembaca mengumpamakan monyet-monyet tersebut sebagai para pejabat pemerintah kota, dewan sekolah, dan para rabbi. Seorang pembaca lain, yang mengomentari perseteruan hukum yang berkepanjangan dan dibawa dari pengadilan keagamaan menuju pengadilan sekuler, memprediksikan bahwa "harediban – pelesetan dari kata Taliban – akan kehilangan genggaman mereka dalam masyarakat.

"Bagi para rabbi yang hidup dalam dunia haredi yang terasing, prinsip-prinsip kebebasan berbicara dan hak-hak masyarakat untuk mendapatkan informasi adalah konsep-konsep yang tidak dikenal," kata Avishav Ben Haim, reporter urusan religius untuk harian Israel, Maariv.

Situs tersebut, yang dikelola oleh sebagian besar anggota komunitas haredi, menyediakan wadah bagi publik untuk memberikan tanggapan, sebuah hal yang jarang.

"Mereka telah menetapkan agenda," katanya. "Mereka telah mengancam kaum elit lanjut usia."

Keberadaan situs internet haredi tersebut memberikan "selubung legitimasi" di dunia ultra ortodoks. Hal itu seakan menjadi sebuah kutukan bagi para rabbi yang telah berusaha keras untuk mendirikan dinding pemisah antara komunitas mereka dan dunia luar, kata Menachem Friedman, sorang pakar masyarakat religius Yahudi di Israel.

"Jika ada situs internet haredi, maka hal sama artinya dengan menyatakan bahwa internet adalah hal yang kosher, termasuk segala keterbukaan terhadap dunia luar," katanya.

Ada sekitar 250.000 kaum haredi, Yahudi "Takut Tuhan", yang tinggal di kantung-kantung pemukiman di Israel, mereka belajar dengan menggunakan sistem sekolah tertutup. Komunitas-komunitas tersebut, yang mudah dikenali karena kaum prianya berjenggot dan mengenakan jaket hitam panjang serta topi bundar berwarna senada, memiliki kontak minimum dengan dunia luar.

Namun, suka atau tidak, pengaruh dunia luar perlahan memasuki komunitas mereka, dan teknologi menjadi sebuah hal yang diperdebatkan.

Awalnya, televisi menjadi sasaran, dan penggunaannya tetap dibatasi di banyak rumah ultra ortodoks. Telepon seluler menjadi sumber perdebatan lain, para rabbi memerintahkan penggunaan penyaring "kosher" karena khawatir bahwa telepon seluler akan dipergunakan untuk mengakses situs-situs porno atau materi-materi lain yang dianggap melanggar aturan.

Para rabbi haredi telah menentang keberadaan internet selama satu dekade. Dalam salah satu insiden protes paling terkenal, keluarga dari kepala rabbi Sephardic, Shlomo Amar, sampai menculik seorang pemuda berusia 17 tahun dan memukuli sang pemuda di bawah ancaman pisau setelah pemuda tersebut berkenalan dengan putri sang rabbi melalui sebuah ruang chat di internet dan kemudian bertemu tanpa perantara, sebuah hal yang ditabukan oleh kalangan ultra ortodoks. Amar sendiri tidak dikenakan tuntutan dalam kasus tersebut.

Namun para rabbi belum mampu sepenuhnya menyingkirkan internet. Mereka memberikan dispensasi kepada para pengusaha dan orang-orang lain yang bekerja dengan mengandalkan internet. Dan sistem penyaring yang dirancang selama bertahun-tahun membuat kaum Yahudi ultra ortodoks mengawasi dengan ketat konten internet yang disajikan, hal itu membuat internet menjamur di tengah-tengah mereka.

Kini, para rabbi berupaya untuk "menambal kebocoran" pada tembok haredi yang mereka bangun.

Dalam sebuah surat yang baru-baru ini dipublikasikan oleh surat kabar ultra ortodoks, 21 orang rabbi paling terkemuka menyerukan pemboikotan internet, khususnya situs-situs haredi, yang mereka nilai "membahayakan komunitas haredi" dan menyebarluaskan fitnah dan konten porno.

"Kami harus melakukan tindakan terhadap situs-situs tersebut dan mengenyahkannya dari tengah-tengah kami," bunyi isi surat tersebut.

"Meski situs-situs tersebut tidak mengandung materi yang terlarang, keberadaan mereka membuat orang-orang mengakses internet, sebuah hal yang tercela dan telah menghancurkan banyak jiwa Yahudi," tambah surat tersebut, yang anehnya juga dimuat di situs haredi yang hendak mereka boikot.

Para operator situs tersebut tidak menjawab telepon atau email yang masuk untuk menanyakan komentar mereka mengenai hal tersebut.

Di AS, yang menjadi negara dengan komunitas Yahudi terbesar di dunia setelah Israel, tidak ada seruan pemboikotan serupa, kata Rabbi Avi Shafran, juru bicara kelompok haredi Agudath Israel of America. Namun ia mengatakan bahwa dirinya bisa memahami kekhawatiran para rabbi tersebut.

Shafran mengatakan bahwa Agudath Israel of America tidak pernah mendirikan situs internet karena khawatir bahwa hal itu akan mengirimkan pesan bawah sadar kepada masyarakat bahwa situs internet adalah hal yang diperkenankan.

Sejauh ini, seruan pemboikotan tersebut telah berhasil di Israel, setidaknya ada dua situs yang telah ditutup. "Internet telah meruntuhkan tembok yang dibangun komunitas haredi," kata Ben Haim, reporter Maariv. (dn/ap) www.suaramedia.com

NATO Siapkan Operasi Besar di Afghanistan Selatan

London, (ANTARA News) - Pasukan NATO akan melancarkan operasi terbesar mereka di provinsi Helmand, Afghanistan selatan, kata seorang jenderal dari pasukan Inggris.

Mayjen Nick Cater mengatakan kepada BBC bahwa serangan tersebut akan mengusir Taliban dari daerah yang mereka kuasai dan memperkuat kewenangan pemerintah Afghanistan di wilayah itu, yang saat ini tidak taat hukum, sebagaimana dikutip dari AFP.

"Jika kami berhasil memenangkan pertempuran itu atas nama pemerintah Afghanistan ... maka kami perlu menegaskan pengawasan pemerintah atas wilayah itu, yang untuk sementara ini tak berpemerintahan," kata Carter Senin.

Pengumuman rencana serangan itu muncul pada saat Amerika Serikat mengirimkan 30.000 tentara tambahan ke Afghanistan dalam tahun ini, untuk memperkuat 70.000 prajurit yang sudah ada di sana.

Langkah itu juga dilakukan pada saat perhatian internasional difokuskan terhadap Afghanistan menjelang konferensi internasional mengenai penstabilan situasi di negara yang rusak karena perang itu, di London, Kamis.

Carter, yang telah menjabat sebagai kepala pasukan NATO di Afghanistan selatan sejak akhir 2009 dan memimpin 45.000 petugas pria dan wanita, menyebut Helmand sebagai sedang mencapai kemajuan, meskipun tak dikendalikan pemerintah.

Beberapa bagian di Helmand tidak memiliki pemerintahan, katanya kepada BBC.

Dia menambahkan, jika mereka di bawah pemerintahan "itu adalah oleh pemerintah yang sering ditetapkan oleh Taliban."

Dia tidak menjelaskan kapan operasi gabungan NATO dan militer Afghanistan akan dimulai, namun mengatakan, operasi tersebut akan menargetkan daerah-daerah di Helmand tengah yang tidak dibawa kendali pemerintah selama berbulan-bulan, atau selama bertahun-tahun.

Carter tidak menjelaskan tentang kemungkinan jumlah korban dalam operasi besar tersebut, namun terjadi jumlah korban yang besar selama serangan besar yang lalu di Helmand, pada Juni dan Juli tahun lalu, yang disebut operasi Cakar Harimau.

Rencana itu menjelaskan, biasanya operasi seperti itu bagi warga Afghanistan di Helmand kurang berpeluang menjadi pertempuran sengit. Dia mengatakan, "Kami sering mendapati rakyat Afghanistan tidak menyukai perang - tapi mereka menyambut anda."

Dia juga memberi contoh operasi yang dilakukan dengan cara yang sama oleh pasukan Kanada di barat Kandahar, dan mengatakan bahwa tidak ada tembakan yang dilepaskan.

Lebih dari 113.000 tentara internasional pada saat ini berperang menghadapi Taliban di bawah komando Amerika Serikat dan NATO. Mereka kehilangan beberapa tentara hampir setiap hari, di dalam perang yang dimulai dengan serangan yang dipimpin AS pada 2001.(*)

Virginia - Lagi-lagi aksi penembakan massal terjadi di Amerika Serikat (AS). Setidaknya delapan orang tewas dalam penembakan brutal di Virginia tengah. Seorang lagi terluka dalam insiden maut itu.

Polisi kini sedang mengepung pelaku penembakan, seorang pria yang bertindak seorang diri. Pria tersebut diyakini bersembunyi di daerah hutan di Kota Appomattox County.

Sekitar 100 personel polisi saat ini sedang mengepung lokasi persembunyian tersebut.

"Dia saat ini bersembunyi di daerah hutan. Dia telah terkepung," kata juru bicara kepolisian negara bagian Virginia, Sersan Thomas Molnar kepada media lokal, Times-Virginian seperti dilansir News.com.au, Rabu (20/1/2010).

Kepolisian masih berusaha mencari tahu hubungan tersangka pelaku dengan para korban. Polisi belum bisa menyebutkan apa motif penembakan itu.

Untuk berjaga-jaga, warga di sekitar lokasi penembakan diperintahkan untuk tetap berada di dalam rumah mereka dan mengunci pintu rumah. Bahkan akibat kejadian ini, sebuah sekolah terdekat diliburkan. (detik.com, 20/1/2010)

Satu-satunya pembangkit listrik di Gaza akan berhenti beroperasi pekan ini karena ketiadaan bahan bakar. Direktur Pembangkit Listrik di Gaza, Rafeeq Maliha menyerukan otoritas Palestina untuk segera menyediakan suplai bahan bakar kondisi warga Gaza yang sudah terpuruk tidak makin memburuk karena tidak adanya sumber listrik.

Menurut Maliha, keputusan Uni Eropa menghentikan pembelian bahan bakar untuk pembangkit listrik di Gaza menyebabkan satu-satunya pembangkit listrik di Gaza itu terancam berhenti beroperasi. Wakil Presiden Otoritas Energi Palestina, Imad Canaan mengakui, sejak Uni Eropa menghentikan bantuannya, pihaknya tidak mampu menyediakan sumber energi yang mampu melayani seluruh warga Gaza yang jumlahnya sekitar 1,5 juta jiwa.

"Blokade Israel dan penghentian bantuan oleh Uni Eropa menyebabkan tenaga listrik yang dihasilkan berkurang 50 persen," kata Canaan.

Sementara itu, Wakil Deputi Otoritas Energi Palestina, Kenan Obeid menyerukan negara-negara Arab untuk memberikan bantuan pada warga Gaza yang makin kesulitan mendapatkan sumber energi listrik. Padahal di Gaza terdapat fasilitas-fasilitas umum, terutama rumah-rumah sakit yang membutuhkan pasokan listrik yang cukup untuk menolong para pasien.

Pembangkit listrik di Gaza sering menjadi target serangan tentara Israel, terutama dalam agresi brutal Israel tahun 2008. Akibat rusaknya pembangkit tenaga listrik dan terbatasnya pasokan listrik, sebagian warga Gaza hidup tanpa listrik. Kondisi mereka makin parah oleh blokade Israel yang melarang masuk semua bahan kebutuhan dasar, termasuk bahan bakar untuk pembangkit tenaga listrik di Gaza. (ln/imemc/pic)

TEL AVIV (SuaraMedia News) – Nyaris setengah penduduk Eropa barat meyakini bahwa kaum Yahudi telah mengeksploitasi "penindasan masa lalu" mereka untuk memeras dan mendapatkan uang. Hal tersebut terungkap dalam sebuah laporan baru Israel.

Laporan tersebut, yang dilakukan atas kerjasama dengan Kementerian Informasi dan Diaspora Israel, menemukan bahwa 42 persen dari reponden yang dimintai pendapat oleh Universitas Bielefeld, Jerman, sepakat bahwa kaum Yahudi telah mengeksploitasi masa lalu untuk memeras dan mendapatkan uang, demikian dilansir oleh Haaretz pada hari Senin.

Negara-negara dengan persentase populasi terbesar yang menyetujui pernyataan tersebut adalah Polandia dan Spanyol.

Menurut laporan tahunan Jewish Agency yang dirilis pada tanggal 24 Januari 2010, insiden-insiden anti-Israel mengalami peningkatan pada tahun 2009, lebih banyak dibandingkan dengan tahun manapun pasca Perang Dunia II.

Dalam triwulan pertama tahun 2009, beberapa saat setelah terjadi agresi brutal Israel selama tiga pekan di Jalur Gaza, tercatat lebih banyak insiden "anti-Semit" jika dibandingkan dengan tahun 2008.

Perancis mencatatkan diri sebagai negara dengan peningkatan terbesar, dengan 631 insiden "anti-Semit" pada paruh pertama tahun 2009, bandingkan dengan 474 kejadian pada sepanjang tahun 2008. Inggris menduduki tempat kedua dengan mencatatkan lebih dari 600 insiden sepanjang tahun 2009.

"Dengan dimulainya operasi tersebut, gelombang sentimen anti-Semit mulai bermunculan di seluruh penjuru dunia," demikian disebutkan dalam laporan tersebut, merujuk kepada pembantaian Gaza pada musim dingin lalu yang menewaskan lebih dari 1.400 warga Palestina.

Dalam konferensi pers yang dilakukan berbarengan dengan perilisan laporan tersebut, para ofisial juga merujuk pada sebuah tayangan video yang berisi tudingan perampokan organ tubuh manusia di rumah sakit lapangan yang dibangun IDF di Haiti.

Laporan tersebut juga menuding tindakan-tindakan yang menentang Israel sebagai tindakan anti-Semit, termasuk diantaranya sejumlah unjuk rasa untuk menentang "kebijakan" Israel.

Tim penyusun lapran dibentuk oleh kabinet Israel dalam pertemuan rutin pada hari Minggu lalu. Tujuan pembentukan tim tersebut adalah untuk merekomendasikan cara-cara untuk meningkatkan perlawanan terhadap anti-Semitisme.

Jewish Agency diberi wewenang untuk mengurusi masalah imigrasi dan mengajak kaum Yahudi agar datang ke Israel.

"Sekarang ini, sulit untuk membedakan "serangan anti-Israel" yang terjadi di Eropa dan AS, atau di berbagai belahan dunia lain, dengan serangan anti-Semit," tulis Menteri Informasi dan Diaspora, Yuli Edelstein dalam bab pembuka laporan tersebut.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa bentuk anti-Semitisme yang terjadi saat ini "bercampur dengan sebuah tujuan baru untuk menghilangkan 'hak negara Yahudi' untuk 'membela diri'."

Perdana Menteri dan Presiden Shimon Peres bertolak untuk melakukan kunjungan ke Polandia selama tiga hari, dimana mereka akan berpartisipasi dalam perayaan 65 tahun pembebasan Auschwitz dan hari peringatan Holocaust internasional pada hari Rabu besok. (dn/pv/hz/jta) www.suaramedia.com

BAGHDAD (SuaraMedia News) - Sistem pesawat tak berawak telah menjadi andalan dalam operasi militer AS selama Operasi Kebebasan Irak; menyuntikkan konsep dan teknologi baru hanya akan mendorong lebih lanjut penggunaan pesawat ini.

Pusat Kemampuan Reaksi Cepat 1, berhubungan dengan Brigade Kalvari Udara I, Divisi Kalvari I, Divisi AS  adalah unit kecil dengan beberapa Tentara yang dikerahkan dari Pelatihan Batalyon Unmanned Aircraft Systems keluar dari Fort Huachuca, Arizona, yang telah menghabiskan masa lalu bulan menempatkan MQ-1C Sky Warrior UAS  baru melalui berbagai tes untuk membantu pejabat Departemen Angkatan Darat menentukan jalur sistem pesawat tak berawak.

The Sky Warrior, sebuah sistem yang lebih besar daripada Predator, yang dioperasikan oleh tentara di Irak karena mereka diterbangkan dari jauh oleh Amerika Serikat. Pesawat ini memiliki rentang sayap 56 meter dan mampu membawa rudal Hellfire.

Departemen Angkatan Darat ingin QRC1 untuk ditugaskan ke daerah operasi Baghdad dan sejak Divisi Kavaleri-1 bertanggung jawab atas operasi di Baghdad pada saat itu, unit itu berada di bawah Brigade Kavaleri 1 Air, kata Kapten Travis Blaschke, dari Spokane, Washington, komandan QRC1.

"Pesawat ini adalah pada tahap awalnya. Pesawat yang sekarang kita miliki di jalur penerbangan adalah pesawat yang pertama diproduksi oleh General Atomics Aeronautical Systems dan digunakan oleh Angkatan Darat," kata Blaschke. "Semua pesawat dibangun selama Pengembangan dan Pengujian tahap proses akuisisi, yang berarti semua pesawat ini adalah prototipe."

Meskipun Sky Warrior masih dalam tahap pengujian, itu sedang digunakan dalam misi untuk mendukung unit di tanah. Melalui misi ini, maka unit QRC1 mengumpulkan data untuk menentukan arah kemana program ini akan pergi.

"Misi kami adalah untuk mendukung (Divisi AS - Pusat) pada semua mereka (pengintaian pengawasan dan akuisisi target) misi dengan menyediakan kemampuan aero-scout kepada komandan manuver," kata Blaschke. "Misi sekunder kami adalah untuk memvalidasi RQ-1C untuk program catatan."

Program catatan, atau POR, adalah tonggak terakhir untuk aset Angkatan Darat baru. Ini akan memindahkan RQ-1C dari pengembangan dan pengujian ke tingkat produksi penuh dan diadopsi ke inventaris umum Angkatan Darat.

Angkatan Darat melihat adanya kebutuhan untuk memiliki aset UAS tingkat divisi mirip dengan Predator Angkatan Udara. Sky Warrior RQ-1C akan menjawab kebutuhan ini, kata Blaschke.

"Kami benar-benar menguji konsep operasi, keterbatasan sistem, hardware dan software," katanya. "Kami bekerja melalui banyak tantangan oleh penempaan sebuah jalan baru, tetapi sudah layak untuk melihat kemajuan yang luar biasa."

"Mengingat bahwa perusahaan telah dibuat 14 bulan yang lalu, kualifikasi pelatihan selesai delapan bulan yang lalu dan kita sekarang melakukan spektrum penuh ... misi dalam teater ini cukup mengagumkan," katanya.

QRC1 adalah sebuah program yang telah dikembangkan untuk berasumsi dan mengurangi banyak resiko untuk POR, yang seharusnya dikembangkan dalam waktu sekitar tiga tahun, kata Blaschke.

Jika program QRC1  ini berhasil, Angkatan Darat mempunyai rencana di tempat untuk memberikan setiap brigade penerbangan beberapa Sky Warriors mulai tahun 2011, kata Blaschke. Pesawat akan menjadi aset tingkat divisi dan akan lebih banyak disebar ke unit-unit tempur untuk mendukung komandan manuver.

"Sampai saat ini, sebagian besar misi ini yang sedang kami lakukan melibatkan penyebaran full-motion video, yang memberikan kesadaran situasional bagi para komandan di batalion, brigade dan bahkan divisi," kata Blaschke. "Kami telah menonton serangan udara, barisan dan pencarian; melakukan pengintaian dan pengawasan."

Seiring dengan kemampuan untuk melakukan pengawasan dan terbang jauh melampaui belasan jam, setelah pengujian selesai, Sky Warrior akan dipersenjatai dengan rudal Hellfire, yang akan menambah dimensi lain dalam perannya dalam pertempuran.

"Ini adalah sebuah pesawat yang dapat memiliki muatan yang berbeda," kata Blaschke. "Ini memiliki kemampuan untuk benar-benar melihat jauh keluar untuk menemukan musuh dengan cara yang berbeda. Apakah itu adalah menggunakan intelijen gambar, menggunakan intelijen sinyal, dengan menggunakan kecerdasan pengukuran, platform ini tidak hanya dapat menemukan musuh tetapi pada akhirnya akan mampu untuk terlibat dan menetralisir musuh. "

Sky Warrior juga memiliki kemampuan untuk menunjukkan target untuk pesawat lain - memungkinkan mereka untuk mencapai target mereka sementara Sky Warrior membidik, kata Blaschke. Hal ini dapat membimbing Hellfire dari helikopter penyerang AH-64D Apache atau bahkan Serangan Munisi Langsung Gabungan dari F/A-18 Super Hornet, F-16 Fighting Falcon atau F-22 Raptor, membentuk sebuah tim pemburu-pembunuh.

"Pesawat ini akan sejajar dengan aset manuver Tentara, tim sayap rotari pada misi serangan udara, atau bekerja sama dengan komandan manuver tanah penggerebekan," kata Blaschke.

Namun, Sky Warrior dengan segala teknologi yang tidak lebih dari model tampilan tanpa laki-laki dan perempuan yang mengoperasikan pesawat dan mengetahui kemampuan penuhnya.

"Para operator sistem perlu berada di tingkat kemahiran tertinggi dan juga mempertahankan kesadaran situasional yang tepat untuk memastikan mereka mendukung komandan tanah hingga kemampuan yang terbaik dari mereka," kata Blaschke.

Tidak seperti Angkatan Udara, yang hanya memungkinkan petugas untuk mengoperasikan UAS, operator Sky Warrior QRC1 terdiri dari petugas, surat perintah personel petugas dan didaftar.

"Kami sedang dalam proses mengasah kemahiran operator 'untuk tingkat tertinggi dan juga mengembangkan pesawat ini ke puncak reliabilitas dan mematikan," kata Blaschke. "Masa depan operasi RQ-1C hanya dibatasi oleh luasnya imajinasi kita." (iw/sp) www.suaramedia.com

Powered by Blogger.