WASHINGTON (Berita SuaraMedia) - Apakah program rahasia serangan drone CIA di Pakistan dan Yaman adalah kasus pembunuhan ilegal atau  membela diri?

Itu adalah pertanyaan sentral, sementara program ini mendapat serangan dari beberapa ahli hukum yang mendesak pengawasan lebih besar oleh Kongres, berdebat bahwa serangan itu melanggar hukum internasional dan menempatkan petugas intelijen dalam resiko penuntutan atas pembunuhan di negara-negara asing.

Empat profesor hukum menawarkan pandangan yang bertentangan, menggarisbawahi sifat suram hukum perang Amerika 9 tahun melawan ekstremis. Konflik telah menyebar dari perang di Irak dan Afghanistan menjadi  kampanye kompleks terhadap al-Qaeda, Taliban dan kelompok perjuangan lain di seluruh dunia.

Baik pemerintah Bush dan Obama telah membela penggunaan serangan dari pesawat tak berawak. Mereka juga telah berhati-hati mengenai masalah itu karena program CIA, yang telah meningkat di Pakistan selama setahun terakhir, diklasifikasikan dan belum diakui secara terbuka oleh pemerintah.

Serangan CIA adalah''jelas pelanggaran hukum internasional,'' kata Mary Ellen O'Connell, profesor hukum di University of Notre Dame Law School, yang menambahkan bahwa mengejar "teroris" harus merupakan kegiatan penegakan hukum.

Dia mengatakan seluruh dunia tidak mengakui otoritas Amerika untuk melakukan serangan di Yaman dan Pakistan, di mana Amerika Serikat tidak terlibat dalam konflik bersenjata langsung.

Petugas  CIA yang mengoperasikan drone bisa ditangkap dan didakwa dengan pembunuhan di negara-negara lain, O'Connell memperingatkan, menyamakan dengan polisi militer atau Meksiko membom hotel di Arizona untuk menargetkan raja narkoba yang mungkin bersembunyi di sana.

Lainnya di panel tidak setuju, mengatakan pasukan musuh adalah target yang sah, terutama ketika mereka beroperasi dari negara-negara yang tidak akan bertindak sendiri.

Amerika Serikat panjang telah lama menyatakan pandangan hukum yang sama pentingnya dengan kedaulatan, ''itu sah untuk pergi dan menyerang orang di mana negara tidak mampu atau tidak mau'' untuk mengendalikan wilayahnya sendiri, kata Kenneth Anderson, seorang profesor di Universitas Washington College of Law.

Juru bicara CIA George Little Rabu hanya akan mengatakan bahwa operasi kontraterror CIA dilakukan sesuai dengan hukum yang ketat.

Komentar Anderson menggema pada bulan lalu oleh Negara Departemen penasihat hukum Harold Koh. Dalam pidatonya, Koh mengatakan bahwa pemerintahan Obama berkomitmen untuk mengikuti hukum dalam operasi terhadap teroris.

Sambil mengingatkan bahwa ada batas untuk apa yang bisa dikatakan tentang masalah ini, Koh menambahkan, ''AS menargetan praktek, termasuk operasi mematikan yang dilakukan dengan menggunakan kendaraan udara tanpa awak, mematuhi semua hukum yang berlaku, termasuk hukum perang.''

Anderson mengatakan kerahasiaan program, yang telah ditulis luas di media, telah menjadi kontraproduktif untuk CIA. Dia mengatakan sulit bagi pemerintah untuk memberikan izin legal kepada suatu badan yang tidak mengakui terjadi.

Sebuah diskusi terbuka tentang isu-isu kebijakan hukum dan akan lebih membantu, katanya, dan juga akan memberikan perlindungan hukum yang lebih baik bagi CIA dan karyawan yang terlibat dalam pemogokan.

Anggota parlemen dan para profesor juga terbagi tentang langkah pemerintah untuk menempatkan Anwar Al-Awlaki, seorang ulama Muslim kelahiran AS yang telah dihubungkan dengan serangan baru-baru ini melawan Amerika, dalam 'daftar teroris' CIA yang untuk dibunuh atau ditangkap.

O'Connell mengatakan gagasan bahwa Amerika Serikat bisa mengejar orang yang mereka inginkan adalah''sebuah fiksi yang dibuat oleh pengacara.''

Amerika Serikat, katanya, harus bekerja dengan negara-negara seperti Pakistan dan Yaman, dan tidak memperlakukan mereka seperti zona pertempuran atau menganggap mereka tidak mau atau tidak mampu.

David Glazier, profesor di Sekolah Hukum Loyola di Los Angeles, California, berargumen bahwa pasukan musuh adalah target yang sah di mana saja. Dia mengatakan jika sebuah negara netral memberikan persetujuan atau tidak membantu, itu secara historis telah dianggap sah untuk melakukan operasi terbatas di negara-negara yang tidak terlibat langsung dalam konflik.

Amerika Serikat telah bekerja dengan militer baik di Pakistan maupun Yaman, menyediakan pelatihan dan peralatan serta intelijen dan bantuan pengawasan. Dan, menurut pejabat, Amerika Serikat telah berpartisipasi dalam pemogokan baik atas permintaan dari negara tuan rumah atau dengan persetujuan implisit nya.

Rep John Tierney, ketua subkomite House yang mengadakan Pengawasan sidang, mengakui bahwa ia tidak berharap jawaban cepat untuk semua pertanyaan hukum. Demokrat mengatakan, bagaimanapun, bahwa Kongres dan administrasi harus mulai untuk membicarakan masalah ini lebih terbuka. (iw/dw) www.suaramedia.com


Lembaga persatuan kepolisian negara-negara Eropa, Europol dalam laporannya menyatakan bahwa aksi-aksi terorisme di Eropa sepanjang tahun 2009 menurun dibandingkan tahun sebelumnya.

"Secara keseluruhan, aksi serangan teroris pada tahun 2009 menurun sebesar 33 persen dibandingkan tahun 2008, dan turun setengahnya dibandingkan aksi-aksi terorisme pada tahun 2007," demikian pernyataan Europol, Rabu kemarin.

Laporan Europol menyebutkan, sepanjang tahun 2009 terjadi 294 serangan teroris di negara-negara Uni Eropa, tidak termasuk Inggris Raya. Kebanyakan aksi-aksi terorisme itu dilakukan oleh kelompok separatis ETA di Spanyol dan kelompok Front Pembebasan Nasional Corsica di Prancis. Sedangkan aksi teroris yang dicurigai dilakukan kelompok Islam hanya terjadi satu kali.

"Terorisme kelompok Islam masih dipandang sebagai ancaman terbesar oleh negara-negara Uni Eropa, meski faktanya, hanya satu kali terjadi serangan teroris yang diduga dilakukan kelompok Islam di Uni Eropa sepanjang tahun 2009, yaitu serangan bom yang terjadi di Italia," kata Europol.

Lebih lanjut Europol menyatakan bahwa ancaman terorisme dari kelompok Islam di wilayah Uni Eropa dalam batas tertentu dipengaruhi oleh situasi di wilayah-wilayah konflik yang terjadi di berbagai belahan negara.

Europol tidak memasukkan data aksi terorisme di Inggris Raya karena wilayah itu membuat laporan sendiri yang berbeda dengan negara-negara Uni Eropa lainnya. Tapi di Inggris Raya, menurut Europol, aksi-aksi terorisme mayoritas dilakukan oleh kelompok Irish Republican dan kelompok loyalis di Irlandia Utara atau RIRA (Real Irish Republican Army) dan CIRA (Continuity Irish Republican Army).

Direktur Europol, Rob Wainwright mengatakan, pada umumnya, berdasarkan laporan kepolisian negara-negara Uni Eropa, pertikaian antara kelompok ekstrim sayap kanan dan sayap kiri rawan menimbulkan aksi-aksi terorisme di Eropa. (ln/mol)



Aktivis hak asasi manusia dan pendiri organisasi Israeli Terrorism Monitor (ITM), Asem Judeh mempertanyakan sikap pemerintah Australia yang terkesan tidak serius menangani kasus pemalsuan paspor warga negaranya oleh agen mata-mata Israel dalam kasus pembunuhan komandan senior Hamas di Dubai bulan Januari lalu.

Terkait kasus itu, Menteri Luar Negeri Australia Stephen Smith mengatakan telah menerima temuan-temuan yang bisa menjadi titik terang kasus pemalsuan paspor empat warga Australia oleh agen mata-mata Israel. Namu Smith menyatakan temuan-temuan itu belum cukup, sehingga sampai saat ini kasus pemalsuan paspor tidak jelas penyelesaiannya.

"Smith mengatakan bahwa dia masih membutuhkan masukkan lebih lanjut, penelitian dan diskusi lebih lanjut. Mengapa? Bukankah dia sudah menerima temuan-temuan terkait kasus itu, inilah waktunya dia menunjukkan kepemimpinan politiknya. Siapa sebenarnya yang menjadi menteri? masukkan, penyelidikan dan diskusi apa lagi yang ia butuhkan?," kritik Judeh.

Ia menyatakan, saat ini sudah muncul kecurigaan bahwa pemerintah Australia sudah dipengaruhi oleh para lobi Zionis, untuk mengulur waktu penyelesaian kasus pemalsuan paspor yang melibatkan rezim Israel.

"Dari pernyataan Smith yang mengatakan masih butuh 'kerja lebih lanjut' dalam kasus ini, adalah cara dia untuk mengatakan penundaan, memilih sikap menunggu, sampai kasus ini sedikit demi sedikit akan dilupakan orang. Lalu dia bisa melakukan sesuatu dengan jika rasa ingin tahu orang atas kasus ini sudah memudar," tukas Judeh.

Ia mengatakan, sikap pemerintah Australia sangat berbeda dengan sikap pemerintah Inggris yang begitu keras terhadap Israel dalam kasus ini. "Perdana Menteri Kevin Rudd tidak ingin membuat para lobi pro-Israel berang. Ia takut kehilangan dukungan para lobi pro-Israel itu dalam pemilu federal yang akan datang," ujar Judeh.

"Jangan lupa, Kevin Rudd selalu mengeluarkan pernyataan tentang pentingnya menjaga kepentingan nasional Australia. Pernyataannya itu cuma omong kosong," kecam Judeh.

Ia menyebut pemerintah Australia cuma agresif bicara soal kepentingan dan keamanan nasional ketika isunya menyangkut negara Iran atau dunia Arab. Tapi Australia diam membisu ketika persoalannya menyangkut rezim Zionis Israel.

"Australia tutup mata ketika yang menimbulkan persoalan adalah Israel. Mengapa penyelidikan kasus pemalsuan paspor ini begitu lama? Kita harus ingat bahwa orang-orang Israel-Australia menyebut Rudd sebagai seorang Kristen Zionis," tandas Judeh.

Berbeda dengan Inggris, pemerintah Australia hingga saat ini belum memberikan penjelasan resmi soal keterlibatan Israel dalam pemalsuan paspor negaranya dalam kasus pembunuhan komandan senior Hamas di Dubai. Pemerintahan Rudd juga tidak berani mengatakan tindakan apa yang akan mereka lakukan terhadap Israel, jika keterlibatan Israel itu terbukti. (ln/PT)



Kelompok sayap kiri Yahudi di Yerusalem merobek dan membakar gambar Presiden AS, Barack Obama. Tindakan itu sebagai luapan kemarahan mereka terhadap Obama yang dinilai anti-Yahudi.

Aksi pembakaran gambar Obama dilakukan bersamaan dengan perayaan Lag B'Omer. Orang-orang Yahudi biasanya menggelar acara tradisional ini dengan membuat api unggun dari tumpukan kayu yang dibakar.

Salah seorang tokoh kelompok sayap kiri di pemukiman Yahudi di Yerusalem, Noam Federman yang pertama kali mengungkapkan ide untuk ikut membakar gambar-gambar Obama di atas api unggun dalam perayaan itu.

"Gambar-gamabr Obama akan dibakar dalam ratusan api unggun sebagai protes atas sikap anti-Semit Barack Hussein Obama," tukas Federman.

Ia menegaskan, pembakaran gambar-gambar Obama adalah tindakan yang sah, "Karena ia membenci Yahudi," tandas Federman yang mengutip sebuah pernyataan yang terkenal yang selalu diucapkan kaum Yahudi dalam perayaan hari besarnya, Paskah Haggadah bahwa dalam setiap generasi akan muncul seseorang yang akan menghancurkan bangsa Yahudi.

Namun Federman tidak menjelaskan sikap Obama yang mana, yang menurutnya anti-Yahudi mengingat Obama dalam pernyataannya selalu membela Israel. (ln/Ynet)

LONDON (Berita SuaraMedia) – Seorang ibu melarang putrinya masuk sekolah setelah menolak untuk memberikan ijin bagi sang putri mengikuti sebuah kunjungan ke Masjid Liverpool.

Michelle Davies, dari Bodiam Court, Ellesmere Port, menyatakan bahwa dia tidak punya pilihan selain menyuruh anaknya yang berusia 14 tahun, Amy Owen, untuk tetap di berada di rumah setelah kepala sekolah SMA Katolik Ellesmere Port, Peter Lee, mendorong pelajar itu untuk berpartisipasi.

Davies mengatakan, "Saya keberatan Amy disuruh berpakaian seperti gadis Muslim." Surat dari sekolah memberikan aturan berpakaian untuk kunjungan itu, termasuk rok panjang, legging, dan jilbab.

"Dia dibesarkan secara Katolik. Amy bukan Muslim dan tidak seharusnya diminta berpakaian seperti seorang Muslim."

Davies menyerahkan surat yang memaparkan alasan mengapa anaknya tidak akan mengikuti kunjungan itu dan sekolah bertanya apakah itu karena masalah pembayaran.

"Saya meminta mereka untuk tidak meremehkan saya. Ongkos busnya cuma tiga pound."

Meskipun meminta agar komunikasi lebih lanjut tentang rencana kunjungan kelas sembilan, yang merupakan bagian dari kelas pendidikan agama, dilakukan hanya antara dirinya dan Kepsek Lee, Davies kecewa mendengar bahwa Amy dikeluarkan dari kelas dan diberitahu bahwa kunjungan ke Masjid itu adalah "wajib".

Davies, yang mengenal beberapa orangtua lain yang telah menolak memberikan ijin, juga menerima surat dari Kepsek Lee, mendesak lebih jauh agar Amy ikut serta.

Ia mengatakan, "Di akhir surat, dengan digaris bawah, disebutkan, 'Saya harus mewajibkan anak Anda untuk berpartisipasi dalam kunjungan ini'."

"Ini adalah pelanggaran terhadap hak-hak asasi Amy."

Dalam sebuah pernyataan tertulis, Lee menolak untuk berkomentar atas sifat wajib dari kunjungan itu, namun mengatakan, "Untuk menyesuaikan dengan praktik baik yang diterima dan status sebagai sekolah humaniora kami memberikan kepada para murid sebuah pengalaman untuk mengunjungi sebuah Masjid dan kesempatan untuk berbicara dan bertanya kepada perwakilan dari komunitas yang dilayaninya."

"Saya tidak masalah dengan dia mendapat pendidikan di segala bidang agama, tapi dia bukan Muslim dan tidak seharusnya berpakaian seperti seorang Muslim," ujar Davies.

"Saya bisa menjamin bahwa jika ada 10 gadis Muslim datang ke sekolah kami, sekolah akan mengikuti apa yang mereka inginkan, karena itu adalah agama mereka, keyakinan mereka, gaya berbusana mereka."

Berkebalikan dengan apa yang terjadi di Amerika, dua pelajar Muslim dan guru mereka di Inggris diminta untuk melepaskan cadar sebelum dapat berkunjung ke sebuah sekolah Katolik. Sang guru menolak permintaan itu.

Kedua pelajar dan guru mereka itu berasal dari sebuah sekolah Muslim di Great Harwood dan berencana akan mengunjungi Sekolah St Mary di Blackburn, Lancashire, pada bulan Juni tahun 2009.

Juru bicara St Mary mengatakan permintaan itu dibuat karena cadar bertentangan dengan kebijakan sekolah.

Kedua murid bersedia untuk melepas namun guru mereka tidak.

Sang guru dibawa ke sebuah kantor di St Mary dan diberitahu bahwa dia tidak akan diijinkan masuk ke lahan sekolah.

Abdul Quereshi dari Dewan Masjid Lancashire mengomentari larangan itu. "Saya kira St Mary memiliki reputasi yang bagus. Ini membuat saya sangat kecewa."

"Informasi yang saya peroleh adalah bahwa ini merupakan tindakan dari satu individu dan sekarang akan menjadi sebuah persoalan yang besar."

"Pemakaian cadar adalah untuk melindungi keluarga Muslim dan menghindari godaan di depan pria-pria Muslim." (rin/emp/ct) www.suaramedia.com

NEW YORK (SuaraMedia News) – Menurut penelitian terbaru, kekecewaan rakyat Amerika terhadap pemerintah dan politisi telah meningkat di level yang belum pernah ada sebelumnya. Ada kemarahan, ketidakpastian, pesimisme, dan ketidakpercayaan yang berkembang di Washington dan buah dari rasa frustrasi yang populer dimanfaatkan oleh kelompok ekstrim kanan.

Esai "Warns of Rise of the Far Right in the U.S." (Peringatan terhadap kebangkitan ekstim kanan di AS) yang ditulis Noam Chomsky  mengatakan bahwa kelompok sayap kanan memanfaatkan rasa frustrasi itu dan mengembangkan kelompok ultra konservatif seperti Tea Party misalnya. Kaum Latin dan kulit hitam dianiaya, seperti yang dilakukan Jerman terhadap Yahudi.

"Saya tidak pernah melihat yang seperti ini," ujar Chomsky ketika diwawancarai oleh Chris Hedges untuk situs berita Truthdig. Ia menambahkan bahwa suasana hati negara itu menakutkan. Tingkat kemarahan, rasa frustrasi, dan kebencian terhadap institusi tidak terorganisir dalam sikap yang konstruktif, terbelokkan menjadi fantasi yang menghancurkan diri sendiri dalam merujuk ke ekspresi dari sayap kanan populis.

Menurut penelitian Pew Research Center, sentimen anti-pemerintah telah meningkat di dalam masyarakat dan hanya 22% yang percaya pada pemerintah, salah satu titik terendah dalam sejarah. Rakyat Amerika kini kurang positif dan lebih kritis terhadap pemerintah mereka.

Penelitian terbaru dari jajak pendapat kantor berita New York Times/CBS News mengungkapkan bahwa 18% dari warga Amerika mengidentifikasikan diri sebagai pendukung Tea Party, menganggap diri mereka "sangat konservatif" dan sangat pesimistis tentang arah negara dan sangat mengkritik Washington dan, tentu saja, Obama. Sembilan puluh persen lebih dari mereka meyakini bahwa negara itu bergerak ke arah yang salah dan persentase yang sama tidak sependapat dengan presiden dan kebijakan pemerintahannya. Sudah ada 92% responden yang memperkirakan bahwa Obama memimpin negara menuju sosialisme, sebuah opini yang diikuti oleh lebih dari separuh populasi umum.

Terlebih lagi, ekspresi kemarahan golongan kanan tercatat ketika menyebutkan hate crime, meningkatnya kelompok-kelompok radikal sayap kanan, serta laporan tak resmi dari bertambahnya jumlah ancaman mati terhadap presiden. Badan keamanan umum pun telah menaikkan status waspada menjadi "terorisme dalam negeri".

Insiden-insiden dari aksi intimidasi terhadap anggota kongres dan pejabat terpilih lainnya dilaporkan dan beberapa sedang dalam proses penyelidikan. Awal bulan ini, lebih dari 30 gubernur menerima surat dari kelompok ultrakonservatif anti pemerintah yang menuntut pengunduran diri mereka dalam waktu tiga hari (meskipun tidak ada ancaman kekerasan). Otoritas federal telah memperingatkan kepolisian setempat bahwa surat-surat itu dapat mengarah pada perilaku kekerasan. Ada banyak contoh lainnya di negeri itu.

Gelombang kekecewaan terhadap pemerintah dan penguasa menimbulkan kekhawatiran di antara sejumlah politisi yang tidak tahu dampak apa yang mungkin akan diberikan kepada pemilu bulan November mendatang. Namun bagi lainnya persoalan ini lebih mengkhawatirkan.

"Ini sangat mirip dengan Jerman Weimar, paralelnya mengejutkan." Di Amerika juga ada kekecewaan besar terhadap sistem parlementer.

"AS sangat beruntung belum ada figur jujur dan karismatik yang muncul, dan jika itu terjadi maka negara ini akan berada dalam kesulitan nyata rasa frustrasi, kekecewaan, dan kemarahan yang digabungkan dengan ketiadaan respon yang koheren," ujar Noam Chomsky.

Di Jerman, ujarnya, musuh yang diciptakan untuk menjelaskan krisis adalah kaum Yahudi. "Di sini (AS) mereka adalah imigran ilegal dan orang kulit hitam. Kita akan mengatakan bahwa kaum kulit putih adalah minoritas yang teraniaya. Kita akan mengatakan bahwa kita harus menegakkan dan membela kehormatan bangsa. Kekuatan militer akan diagungkan. Dan jika itu terjadi, maka itu akan lebih berbahaya daripada Nazi Jerman. AS adalah negara adikuasa. Saya yakin ini akan terjadi tidak lama lagi," ujarnya. (rin/pd/en) www.suaramedia.com

KANDAHAR (SuaraMedia News) – Kelompok-kelompok kecil pasukan operasi khusus AS meningkatkan intensitas operasi militer selama beberapa minggu di Kandahar, kota terbesar di Afghanistan selatan. Mereka menangkap atau menghabisi para pemimpin gerakan untuk memperlemah Taliban menjelang pelaksanaan operasi militer besar, kata para pejabat senior militer dan pemerintahan AS.

Pertempuran di kediaman spiritual Taliban merupakan ujian penting bagi strategi militer Presiden Obama di Afghanistan, termasuk sejauh mana AS dapat mengandalkan dukungan dari para pemimpin pemerintah dan militer Afghanistan, serta apakah kemungkinan meningkatnya korban sipil dalam pertempuran sengit akan mempengaruhi strategi yang amat bergantung pada upaya mendapatkaan dukungan masyarakat Afghanistan.

Serangan tersebut akan menyusul serangan pertama yang dilakukan di Marjah. Serangan tersebut mengharuskan pasukan AS dan Afghanistan untuk menelusuri medan pertempuran yang tidak hanya lebih besar dari Marjah, namun juga lebih rumit dalam bidang militer, politik dan budaya.

Dua bulan setelah serangan Marjah, para peejabat Afghanistan menyadari bahwa Taliban mampu mengambil kembali momentum di kawasan tersebut, termasuk menindak warga setempat yang berkomplot dengan pemerintah pusat dan Amerika. "Kami masih menunggu dan melihat hasil akhir di Marjah," kata Shaida Abdali, deputi penasihat keamanan nasional Afghanistan. "Jika Anda merencanakan operasi di Kandahar, maka Anda harus menunjukkan keberhasilan di Marjah. Harus ada sesuatu yang ditunjukkan. Tapi, saat ini tidak ada contoh bagus yang bisa ditunjukkan di sana."

Pertempuran Kandahar menjadi serangan menentukan – membangun atau menghancurkan – dalam perang yang telah berlangsung delapan setengah tahun tersebut. Yang menjadi pertanyaan, apakah pasukan militer dapat mengatasi budaya yang dibangun atas dasar ketidakpercayaan terhadap asing, termasuk pasukan asing atau bahkan suku tetangga.

Lebih dari selusin pejabat militer dan pemerintahan senior yang terlibat langsung dalam operasi Kandahar setuju untuk membahas skema serangan tersebut dengan syarat bahwa tidak ada yang tahu mereka membahas operasi yang tertunda. Tapi, secara umum, militer di bawah komando Jenderal Stanley McChrystal, komandan senior AS dan sekutu, bersedia membahas operasi tersebut sebelumnya untuk mencoba menakuti gerakan perlawanan dan meyakinkan populasi setempat bahwa pemerintah mereka dan sekutu terus berupaya meningkatkan keamanan.

Bukannya sebagai pukulan cepat yang menjadi pembuka serangan Marjah, operasi di Kandahar dirancang sebagai tindakan militer yang meningkat perlahan. Itulah mengapa pembukaan serangan tersebut dilakukan secara diam-diam oleh pasukan operasi khusus.

"Sejumlah besar pemimpin perlawanan yang berbasis di Kandahar dan sekitarnya telah ditangkap atau dibunuh," kata seorang pejabat militer senior AS yang terlibat langsung dalam perencanaan serangan Kandahar. Namun, dia mengakui bahwa pertempuran di Kandahar masih berlangsung sengit.

Para komandan senior AS dan sekutu mengatakan bahwa tujuan serangan tersebut adalah memperkecil kehadiran Amerika di kota Kandahar, dan upaya tersebut dilimpahkan pada militer dan polisi Afghanistan.

Meningkatnya pengeboman dan serangan terhadap para kontraktor asing, pemimpin keagamaan, dan para pejabat pemerintahan merupakan bukti bahwa Taliban berupaya mengirimkan pesan kepada para pemimpin suku Afghanistan agar tidak bekerja sama dengan Amerika.

Para pejabat AS dan NATO tidak bersedia berbicara di depan umm mengenai salah satu tantangan terbesar yang mereka hadapi, yakni dampak dari kehadiran Ahmed Wali Karzai, adik presiden Afghanistan dan kepala dewan provinsi Kandahar, yang diduga berhubungan dengan para pengedar obat terlarang. Sejumlah pejabat Barat mengatakan bahwa korupsi dan buruknya pemerintahan membuat warga setempat lebih menerima kehadiran Taliban.

Dan meski para pejabat sekutu mengatakan bahwa mereka akan amat bergantung pada pasukan Afghanistan agar mengambil kendali pengamanan kota, taktik yang sama sejauh ini tidak terlalu berhasil di Marjah, di mana para personel Korps Marinir mengatakan bahwa pada akhirnya merekalah yang mendapat "jatah" pertempuran berat.

Untuk membentuk kesepakatan dengan pasukan sekutu sebelum pertempuran, pasukan umum memulai operasi milter di luar Kandahar, di beberapa distrik provinsi yang melingkari kota tersebut. Para pejabat AS dan sekutu memprediksikan adanya pertempuran sengit di kawasan tersebut. Mereka mengatakan bahwa Kandahar "terinfeksi" gerakan perlawanan, namun tidak sebanyak di Marjah.

Rencana tersebut mengulang serbuan di Irak, saat pasukan tambahan AS dikirimkan untuk menyerang gerakan perlawanan yang beroperasi di kantong-kantong di ibu kota Irak, merencanakan serangan, menanam bom pinggir jalan dan melaksanakan serangan.

Kesamaan lain dengan Irak adalah rencana untuk merayu para pemimpin suku setempat di dalam dan di sekitar Kandahar, mirip dengan upaya prajurit dan Marinir di Provinsi Anbar dalam membujuk sheikh-sheikh Sunni di Irak untuk melakukan perlawanan terhadpa gerilyawan.

AS dan sekutunya dalam pemerintah Afghanstan akan mencoba menyatukan para pemimpin suku di dalam dan di sekitar Kandahar agar menyerahkan para anggota Taliban dan Al-Qaeda. Sementara di Irak, strategi tersebut termasuk insentif keuangan (baca: suap) dalam wujud dana bantuan perkembangan ekonomi untuk para pemimpin setempat yang bersedia mendukung upaya pemerintahan.

Seiring dengan meningkatnya upaya militer, pusat upaya politik dalam serangan tersebut adalah sejumlah syura. Tujuan syura, kata Mark Sedwill, pejabat sipil senior NATO di Afghanistan, pertama adalah mendapatkan dukungan untuk melaksanakan operasi keamanan, dan yang kedua, mengidentifikasi keperluan masyarakat dalam bidang keamanan, pemerintahan dan perkembangan.

Langkah selanjutnya setelah operasi keamanan dan syura adalah mengirimkan para staf pemerintahan Afghanistan dan penasihat Barat, yang – secara teori – akan berusaha menghadirkan layanan dan sumber daya pemerintahan ke berbaga distrik. Hal ini mungkin menjadi penghalang yang paling sulit, karena para pejabat Barat sendiri banyak meragukan kemampuan pemerintahan Afghanistan.

Banyak warga sipil yang takut dengan tindakan militer. Banyak warga memandang konvoi militer Afghanistan dan NATO sama bahayanya dengan bom pinggir jalan Taliban.

"Bukannya mendekatkan masyarakat kepada pemerintah, semakin banyak pertempuran akan semakin menjauhkan rakyat dari pemerintah dan membuat mereka semakin membenci warga asing," kata Haji Mukhtar, seorang anggota Dewan Provinsi Kandahar.

Di beberapa bagian Kandahar, serangan akan dimulai dalam beberapa minggu ke depan, terlihat dari penempatan puluhan peleton dan pos jaga AS dan sekutu yang dibangun dalam beberapa minggu terakhir. Para pejabat militer memperingatkan bahwa pengamanan kota tersebut akan membutuhkan waktu berbulan-bulan. Para komandan militer mengatakan bahwa tujuan mereka adalah menunjukkan hasil nyata pada akhir musim panas atau awal musim gugur mendatang, sebelum bulan suci Ramadhan dan pemilihan anggota parlemen nasional.

Meski mereka mengatakan bahwa mereka akan "membatasi" jatuhnya korban sipil, peningkatan operasi militer akan membuat lebih banyak penduduk terperangkap baku tembak. Pertempuran tersebut berisiko meningkatkan jumlah korban sipil. Jatuhnya korban sipil baru-baru ini menggerus kepercayaan masyarakat terhadap operasi NATO. (dn/nt) www.suaramedia.com

KANDAHAR (SuaraMedia News) – Kelompok perlawanan Taliban meyakini bahwa mereka akan menang dan dapat bernegosiasi dari posisi yang kuat.

Ditanya mengenai serangan NATO yang akan datang di kawasan Kandahar, seorang komandan Taliban setempat mengatakan kepada surat kabar The Times, "Kami siap untuk ini. Kami akan merontokkan gigi orang-orang Amerika itu!"

Para pemimpin Taliban mengatakan telah mendapat pelajaran dari serangan besar NATO yang terakhir di area Marjah, provinsi Helmand, awal tahun ini. Ketika NATO memberikan pengumuman awal tentang operasi itu, Taliban terpikat untuk mengirimkan terlalu banyak pejuang ke daerah itu, beberapa dari mereka tewas.

Para pemimpin mengatakan bahwa di Kandahar, sebuah rencana untuk menghadapi NATO telah disiapkan.

"Tidak akan ada kejutan di sana. Kami telah menempatkan orang-orang kami di semua posisi di dalam kota, di pemerintahan, dan pasukan keamanan," ujar Abdul Rashid, juru bicara Taliban.

Ia menambahkan bahwa Amerika telah memiliki cukup banyak masalah yang menghantui diri mereka dan bertempur di Kandahar hanya akan membuat lebih banyak orang menentang mereka.

"Rakyat tidak percaya pada orang asing karena mereka mendukung panglima perang. Rakyat muak dengan kejahatan dan brutalitas dan itu adalah masalah besar bagi Amerika. Kami memiliki posisi yang bagus dengan pendukung di mana-mana," ujarnya.

Abdul Rashid mengatakan ada sejumlah komandan Taliban yang mendanai kampanye mereka dengan memberikan jalan yang aman bagi konvoi suplai NATO atau dari penyelundup narkoba. Tapi, kepemimpinan Taliban telah memerintahkan agar itu dihentikan.

"Apa yang kami lakukan bukan untuk kepentingan duniawi, tapi demi Allah. Bagi kami, yang lebih penting dari pertempuran ini adalah proses penyucian. Kami menyingkirkan semua apel yang busuk," ujarnya.

Sementara itu, pemimpin utama Jaringan Haqqani yang beroperasi di wilayah timur Afghanistan mengatakan bahwa pejuang Al Qaeda diterima untuk berjuang bersama Taliban, dan bahwa pasukannya mengendalikan 90% wilayah di bawah komandonya.

Siraj Haqqani, komandan militer Jaringan Haqqani, sebuah kelompok Taliban yang beroperasi di Afghanistan timur, membuat pernyataan itu dalam wawancara yang dilakukan oleh Abu Dujanah al Sanaani untuk Al Balagh Media Center yang baru saja didirikan. Terjemahan dari wawancara dengan Siraj disediakan oleh Flashpoint Partners.

Siraj mengatakan bahwa ia berusia 30 tahun dan merupakan anggota Dewan Syura di Emirat Islam Afghanistan. Lebih dikenal sebagai Quetta Shura, dewan utama Taliban itu bermarkas utama di kota Quetta, Pakistan, di provinsi selatan Baluchistan.

Selama wawancara, Haqqani mengakui bahwa anggota asing Al Qaeda diterima untuk berjuang bersama dengan orang-orangnya dan pejuang Taliban lainnya, dan bahwa hubungan antara Taliban dan Al Qaeda sangat baik.

Ketika ditanya tentang Jaringan Haqqani dan hubungan Taliban dengan mujahidin yang beremigrasi ke tanah Khorasan dan apakah mereka menjadi hambatan atau beban bagi orang-orang Afghan, Siraj mengatakan bahwa para pejuang asing, atau Al Qaeda "menerangi jalan kami dan mereka menentang para penyembah salib dengan bekerja bersama kami." Siraj juga mengatakan bahwa kerjasama antara pejuang Arab dan Taliban berada di puncak.

Jaringan Haqqani aktif di beberapa provinsi Afghan, termasuk: Khost, Paktia, Paktika, Ghazni, Logar, Wardak, dan Kabul. Mereka juga memberikan dukungan pada jaringan Taliban di provinsi Kunar, Nangarhar, Helmand, dan Kandahar.

Haqqani memiliki hubungan yang luas dengan Al Qaeda dan dengan agen intelijen militer Pakistan, Inter-Services Intelligence. Hubungan itu telah memungkinkan Jaringan Haqqani untuk bertahan dan berkembang di Waziristan Utara, dan menjalankan pemerintahan paralel dengan pengadilan, pusat rekrutmen, kantor pajak, dan pasukan keamanan. Miramshah, kota utama di Waziristan Utara dan markas Haqqani, adalah pusat aktivitas para pejuang jihad di seluruh dunia.

Tentara Asing Tewas Di Afganistan

Sebanyak 1.730 tentara asing dari berbagai negara tewas di Afganistan. Mereka tewas disebabkan oleh bentrok senjata dan juga kecelakaan sejak invasi yang dipimpin Amerika Serikat pada 2001 di negara itu.

Berikut jumlah kematian militer asing di Afganistan dari masing-masing negara; Amerika Serikat 1.044 tentara, Inggris 281, Kanada 142, Jerman 43, Prancis 41, Denmark 31, Spanyol 28, Itali 22, Belanda 23, dan negara-negara lain sebanyak 75 tentara sehingga totalnya 1.730 orang.(rin/nk/lwj/afp) www.suaramedia.com

JALUR GAZA (SuaraMedia News) - Dr Salah Al-Bardawil, juru bicara untuk blok parlemen Hamas, mengatakan bahwa doktrin yang mendasari kinerja aparat keamanan Mahmoud Abbas adalah menunjukan perlindungan pada keamanan Israel dan menghilangkan perlawanan Palestina untuk mendapatkan hak istimewa pribadi sebagai gantinya.

Pernyataan ini dibuat setelah laporan Israel mengungkapkan bahwa kerjasama keamanan dengan  milisi Abbas (aparat keamanan) tahun lalu telah meningkat sebesar 72 persen dibandingkan tahun 2008.

Dr Bardawil menambahkan bahwa laporan ini tidak mengungkapkan sesuatu yang baru tentang kerjasama keamanan dengan pendudukan Israel.

Para anggota parlemen Hamas menekankan bahwa kegiatan keamanan yang mana milisi Abbas terlibat dalam melayani keamanan Israel dimaksudkan untuk mendapatkan beberapa keuntungan pribadi dari Israel seperti memfasilitasi aliran uang untuk Otorita Palestina (PA) serta perjalanan Abbas dan rombongannya di samping hak lainnya.

Anggota parlemen tersebut mencatat bahwa kekerasan terhadap rakyat Tepi Barat terutama yang berafiliasi dengan Hamas merupakan tindakan Israel yang dilakukan oleh proxy oleh  milisi Abbas, di bawah komando perwira AS Keith Dayton, menambahkan bahwa tindakan ini merupakan bagian dari rencana roadmap.

Dalam insiden terkait, milisi Abbas, pada hari Minggu menculik dua warga Palestina yang berafiliasi dengan Hamas dan memanggil banyak orang lain di desa Awarta di Nablus.

Aparat intelijen Israel di Hawara pos militer juga memanggil puluhan mantan tahanan di Nablus setelah pasukan pendudukan Israel (IOF) menggerebek rumah mereka selama dua hari terakhir.

Hamas juga menuduh pejabat senior Fatah, Mohammed Dahlan sebagai mata-mata bagi Israel dan mengumpulkan informasi tentang keberadaan anggota Hamas, lapor kantor berita Fars.

Departemen Luar Negeri Hamas telah menyatakan bahwa mantan kepala keamanan di Gaza dan anggota Komite Sentral Fatah, Mohammad Dahlan, telah bekerjasama dengan Israel terhadap Palestina di Jalur Gaza, Fars melaporkan pada hari Minggu.

Menurut laporan, sebuah sumber yang dekat dengan Dahlan yang diminta untuk bertemu dengan seorang pejabat Hamas di kementrian pada hari Jumat, mengatakan bahwa Dahlan telah meminta dia untuk mengumpulkan informasi rinci tentang beberapa pejuang Palestina di Khan Yunis.

Sumber, yang dikatakan sebagai mantan petugas keamanan di Otoritas Palestina, membocorkan bahwa Dahlan meminta informasi tentang para pejuang yang telah menewaskan dua sumber militer Israel dalam sebuah operasi pada tanggal 26 Maret.

Dia mengatakan Dahlan telah menyediakan daftar para pejabat Hamas dan pejuang, dan meminta lokasi yang tepat dari rumah mereka.

Hamas telah sebelumnya menuduh Dahlan terlibat dalam pembunuhan yang komandan Mahmoud al-Mabhouh di Dubai.

Pejabat Hamas Muhammad Nazal kata Dahlan telah mengirimkan dua anak buahnya yang bekerja di sebuah perusahaan real estate di Dubai untuk berkolaborasi dengan agen Mossad dalam pembunuhan Januari.

Selain itu, Petinggi Hamas menuduh Otoritas Palestina di bawah kepemimpinan Mahmoud Abbas berusaha memporakporandakan kestabilan di Gaza dengan menjebak anggota faksi perlawanan dan mengalihkan energi dari kepentingan nasional.

Komentar itu datang menyusul rangkaian tuduhan dari pejabat Hamas dan Fatah seputar keterlibatan pejuang Hamas dalam tewasnya dua tentara Israel, dugaan penahanan mereka oleh pasukan pemerintah de facto di Gaza, dan laporan dari pejabat Fatah yang mengumpulkan informasi detail tentang pejuang yang dicurigai.

Juru bicara Hamas, Hammad Ar-Ruqab, mengatakan bahwa Otoritas Palestina berusaha menciptakan ketidakstabilan dengan menghasut mereka yang memiliki tujuan berbeda dengan Otoritas Palestina.

Pada kesempatan terpisah, Menteri Luar Negeri Israel, Avigdor Lieberman juga mengatakan pada hari Senin (30/3) bahwa Presiden Palestina Mahmoud Abbas mendesak Israel untuk menggulingkan Hamas di perang Gaza tahun lalu, kemudian berbalik dan menyalahkan Israel atas kejahatan perang.

Lieberman mengatakan itu mengangkat pertanyaan-pertanyaan di atas kepantasan Abbas sebagai seorang pemimpin dengan siapa Israel dapat membuat perdamaian.

"Sepanjang tahun lalu, saya menyaksikan (Abbas) di kondisi terbaiknya. Pada Operasi Cast Lead, (dia) memanggil kita secara pribadi, membuat tekanan dan menuntut bahwa kita menggulingkan Hamas dan menyingkirkannya dari kekuasaan," katanya kepada harian Maariv Israel. (iw/pic/ptv) www.suaramedia.com

WASHINGTON (SuaraMedia News) – Mantan Presiden AS Bill Clinton memperingatkan mengenai semakin tumbuhnya kekuatan organisasi-organisasi militan Kristen di AS yang bertujuan melawan pemerintah pusat di Washington.

Clinton mengatakan para teroris tersebut memang masih merupakan minoritas dalam masyarakat, namun perangkat komunikasi mereka semakin berkembang, memungkinkan mereka untuk berkoordinasi dan menjalin komunikasi dalam waktu singkat.

"Yang paling meresahkan kami adalah kemungkinan mereka menemukan materi-materi berbahaya di Internet. Misalnya, cara-cara merakit bom dan bahan peledak lainnya," kata Clinton sebagaimana dikutip oleh kantor berita CNN.

Sang mantan presiden juga memperingatkan mengenai meningkatnya gelombang ekstremisme dalam masyarakat Amerika dan semakin bertambahnya pengaruh dari kelompok bersenjata lokal. Menurutnya, atmosfer di AS saat ini mirip dengan yang terjadi pada 19 April 1995, ketika seorang teroris AS meledakkan bangunan pemerintah di Oklahoma dan menewaskan 168 orang.

Ledakan Oklahoma tersebut dilakukan oleh warga negara Amerika, Timothy James McVeigh, pada tahun 1995. McVeigh dihukum mati aparat AS pada tahun 2001, dan peristiwa Oklahoma tersebut dianggap sebagai salah satu serangan teroris terkejam sepanjang sejarah AS hingga peristiwa September 2001.

McVeigh meletakkan bahan peledak di dalam sebuah truk dan menggunakannya untuk meledakkan gedung, sebagian besar gedung itu hancur. Sebagian warga AS kala itu yakin bahwa serangan itu dilakukan kelompok Islam, namun, belakangan diketahui bahwa pelakunya adalah warga kristen AS sendiri.

Clinton, yang menjabat presiden AS saat pengeboman terjadi, mengatakan bahwa peristiwa itu merupakan  puncak dari operasi teroris yang dilakukan kelompok-kelompok ekstremis sejak awal dekade kesembilan abad lalu.

Dalam konteks terkait, Clinton mengatakan bahwa situasi dan kondisi politik ekonomi saat ini mirip dengan apa yang terjadi waktu itu. "Saat itu ada banyak stasiun radio radikal, tapi saat ini ada jutaan situs internet yang menawarkan gagasan semacam itu."

Dia menambahkan, "Saat ini ada banyak organisasi, dan pemikiran mereka bisa menyebar luas. Perbedaan politik di AS mungkin adalah permulaan perang sipil."

Dalam peringatan 15 tahun serangan teroris Oklahoma tersebut, Clinton memperingatkan bahwa kebangkitan kelompok-kelompok anti pemerintahan seperti Tea Party dapat melahirkan bahaya-bahaya yang serupa.

Timothy McVeigh sudah dieksekusi mati, namun rekaman suaranya akan kembali diperdengarkan dalam peringatan peristiwa tersebut.

Sebuah jaringan televisi kabel AS menyiarkan wawancara dengan McVeigh saat ia menunggu pelaksanaan hukuman mati.

"Saya akan bilang bahwa saya menyesalkan kerusakan berat yang terjadi dan ketidaktahuan saya bahwa ada banyak warga dalam bangunan (pemerintah) pada saat itu, seperti keamanan sosial dan FICA," kata McVeigh dalam rekaman itu. "Tapi, apakah saya merasa menyesal? Jawabannya tidak."

Peringatan tersebut memicu perdebatan mengenai sentimen anti pemerintahan yang merebak di AS saat ini.

Bill Clinton khawatir jika kelompok-kelompok pemrotes yang marah seperti Tea Party, yang semakin banyak, akan memberikan pengaruh yang serupa.

"Ada banyak hal yang telah dikatakan, mereka menciptakan suasana yang rentan akan kekerasan, karena mereka sudah kehilangan arah, sama seperti Timothy McVeigh, dan kemungkinan akan mengambil tindakan," katanya.

"Kita seharusnya menggelar banyak debat politik."

"Tidak ada orang yang selalu benar. Tapi, kita juga harus bertanggung jawab atas konsekuensi yang mungkin timbul dari ucapan kita."

Setelah menyampaikan kekhawatiran dua hari yang lalu, mantan presiden AS tersebut menjadi sasaran kritik kubu konservatif, termasuk pemandu acara talk show Rush Limbaugh.

"(Dengan) komentar ini, Anda baru saja meletakkan fondasi kekerasan di negara ini," kata Limbaugh. "Jika terjadi kekerasan setelah ini, maka semuanya adalah kesalahan Anda, Pak Clinton."

Kelompok-kelompok anti pemerintahan dan pro penggunaan senjata melakukan arak-arakan di Washington pada 19 April karena tanggal itu juga merupakan peringatan awal Perang Kemerdekaan Amerika.

"Kami hanya ingin mengingatkan para pejabat bahwa amandemen kedua merupakan hal yang penting bagi kami, dan kami tidak bersedia merelakan hak kami untuk tetap menyimpan senjata," kata Skip Coryell, pendiri Second Amandment March.

"Kami bahkan ingin mendapatkan kembali sebagian hak yang telah mereka (pemerintah) rampas."

Menurut Coryell, kemarahan mereka tidak akan berujung pada aksi kekerasan seperti yang terjadi pada dekade 1990-an.

Para pengunjuk rasa Tea Party membantah bahwa mereka memicu kekerasan, mereka juga menegaskan bahwa ada ketidaksepahaman mengenai kekuatan pergerakan.

Namun perwakilan Partai Republik, John McCain, memberikan perkiraan ketika ditanya mengenai temperamen para pemilih.

"Ada kemarahan dan rasa frustrasi di luar sana, dan tingkat (kemarahan dan frustrasi) itu belum pernah saya saksikan sebelumnya," ujar McCain.

"Jika orang-orang yang bekerja di sini (pemerintah) mengabaikan hal itu, maka mereka melakukan kesalahan serius." (dn/im/abc) www.suaramedia.com


Juru bicara anggota parlemen Palestina Dr Aziz Dweik, menyatakan bahwa pasukan pendudukan Zionis Israel telah mulai melaksanakan keputusan pengusiran; dengan mendeportasi 200 ratus warga Palestina dari Tepi Barat ke Jalur Gaza, ia menggambarkan proses deportasi tersebut sebagai tindakan keji dan tidak ubahnya seperti kejahatan pada peristiwa Nakba kedua yang melanda rakyat Palestina.

Dweik pada hari Ahad kemarin (18/4) menekankan juga bahwa "Negara Palestine bergantung pada Otoritas selama negosiasi dan proses perdamaian, namun dirinya lebih menyerukan untuk meninggalkan pendekatan negosiasi perdamaian, dan mendukung perlawanan," menurut surat kabar Al-Bayan Yordania.

Dweik menganggap entitas Zionis telah melanggar semua resolusi serta konvensi internasional, Zionis Israel sengaja mengirim pesan ke dunia bahwa mereka sebagai bangsa tidak akan menghormati perjanjian apapun."

Sebelumnya sumber dari lembaga hukum Palestina mengungkapkan adanya penangkapan yang dilakukan oleh tentara pendudukan terhadap warga Palestina di pos pemeriksaan yang tersebar di seluruh Tepi Barat, menambahkan bahwa apabila ditemukan warga Palestina tersebut dilahirkan di Jalur Gaza maka mereka akan ditangkap dan dideportasi ke negara yang tidak diketahui.

Pada bagian lain, Gerakan Islam Hamas menyatakan bahwa keputusan entitas Zionis, yang memberikan kewenangan pengusiran ribuan orang Palestina yang saat ini berada di Tepi Barat yang diduduki, merupakan pernyataan yang jelas tentang perang dan penghapusan etnis, pembersihan demografis, dan mengatakan bahwa keputusan Liga Arab tidaklah cukup untuk menghentikan ulah keji Zionis Israel."

Seorang anggota Biro Politik Hamas menyatakan: "Keputusan Israel kali ini mencoba untuk mereproduksi fragmentasi tanah dan warga Palestina dengan membagi antara bagian dalam dan luar, Jalur Gaza dan Tepi Barat serta Yerusalem," ia menegaskan bahwa "wilayah Palestina akan tetap menjadi kesatuan tunggal, seluruh rakyat Palestina akan satu bersatu di dalam negeri dan di luar negeri, terlepas dari semua situasi sulit dalam perjuangan ini."(fq/islamtoday)



Josh Steiber yang merupakan Mantan tentara AS, menyebut doktrin pada pendidikan militer AS memiliki prinsip yang menganggap warga negara lain selain warga AS bukan manusia.

Steiber yang telah mengabdi selama tiga tahun di militer AS dan pada Ahad kemarin (18/4) kepada Press TV, ia mengatakan, "Salah satu alasan utama mengapa saya keluar dari dinas militer AS karena doktrin di pendidikan militer AS yang menganggap warga negara lain bukan manusia."

Ditambahkan olehnya, masalah ini termasuk salah satu prinsip pada pendidikan militer AS.

Pada kesempatan itu, Steiber menyinggung lagu yang dinyanyikan oleh banyak tentara AS tentang pembantaian terhadap wanita dan anak-anak. Lirik lagu pembantaian yang dinyanyikan banyak tentara AS, berisi kalimat-kalimat sadis yang tidak layak dinyanyikan oleh orang yang bermoral.

Salah satu bagian dari lirik lagu tersebut berbunyi:

I went down to the market where all the women shop, I took out my machete and I began to chop. I went down to the park where all the children play, I pulled out my machine gun and I began to spray.

Steiber menuturkan, mayoritas tentara AS hampir sama seperti dirinya, mengalami gejala depresi dan lelah dengan perang yang AS ciptakan. (fq/irib)



Dua insiden terpisah di ibukota Somalia Mogadishu telah merenggut nyawa 10 orang dan 17 orang lainnya mengalami luka-luka.

Pejabat dan petugas medis mengatakan empat personel keamanan dan dua warga sipil tewas setelah sebuah bom pinggir jalan meledak di dekat sebuah kantor polisi, AFP melaporkan.

"Sebuah bom pinggir jalan yang ditanam di dekat sebuah kantor polisi meledak setelah beberapa aparat keamanan berkumpul di daerah tersebut. Kami masih menyelidiki insiden yang terjadi di zona yang dikendalikan pemerintah", kata petugas keamanan kolonel Ahmed Gaamey.

Kepala layanan ambulans di kota Mogadhisu, Ali Musa, mengatakan empat orang tewas dan 17 lainnya luka-luka terkena pecahan peluru dari mortir yang ditembakkan, dalam bentrokan singkat yang terjadi antara pasukan pemerintah dan pejuang asy-Syabaab di kabupaten Hodan Mogadishu selatan.

Saksi mata melaporkan bahwa pejuang Islam Asy-Syabaab menembakkan mortir di kabuaten Hodan dan pasukan keamanan pemerintah melakukan balasan dengan menembak balik ke arah pejuang Syabaab.

Perang di Mogadishu telah menjadi ajang perang saudara mematikan sejak jatuhnya pemerintah pusat di negara itu pada tahun 1991.

Selama tahun 2006-2009 invasi Ethiopia ke Somalia membantu pemerintahan boneka pimpinan Syaikh Syarif Ahmad, ribuan warga sipil tewas dan banyak lainnya melarikan diri ke tetangga Kenya.(fq/imo/prtv)


IlustrasiIlustrasi
Sumber media pada hari Senin kemarin (12/4) mengungkapkan bahwa salah satu sekolah Kanada telah mengeluarkan seorang mahasiswi muslim dari ruang kelas yang sedang mempelajari bahasa Perancis, dengan alasan karena mahasiswi itu mengenakan cadar.

Majalah "Globe and Mail" melaporkan, Aisha seorang mahasiswi Muslim berusia 25 tahun, terpaksa di usir dari ruang kelas karena muslimah itu mengenakan cadar dan tidak mau melepaskannya di dalam kelas.

Mahasiswa yang bernama Aisha tersebut merasa sangat kecewa atas pengusiran itu, ia berkata: "Saya merasa sangat sedih, saya sangat menyukai belajar bahasa Perancis, seperti saya mencintai sekolah ini, yang saya anggap sebagai rumah kedua bagiku, tetapi mengenakan cadar bagi saya adalah prinsip, saya tidak akan rela jika ada orang meminta saya untuk melepaskannya."

Berita pengusiran Aisha dari ruang kelas telah menyebabkan kemarahan di kalangan rekan-rekannya, salah satu rekannya yang bernama Rachna Abreaul mengatakan: "kami tidak terima dengan keputusan pengusiran terhadap Aishah, dan kami semua menginginkan dia kembali ke ruang kelas, kembali berkumpul belajar bersama kami semua, kami semua dan Aishah sangat menyukai pelajaran bahasa Perancis."

Mengacu pada kasus pengusiran mahasiswi bercadar di Kanada, maka Aishah adalah korban kedua yang harus terpaksa rela di usir dari ruang kelas di provinsi Quebec, sebelumnya seorang mahasiswi muslim asal Mesir telah dikeluarkan dari kelas pada bulan lalu karena mengenakan cadar.

Sebelumnya, pemerintah provinsi Quebec Kanada telah mengeluarkan sebuah rancangan undang-undang baru yang melarang wanita bercadar melakukan transaksi di kantor-kantor pemerintah mauapun di layanan-layanan umum.(fq/imo)




Dr. Muhammad El-Baradei, mantan direktur dari International Atomic Energy Agency dan merupakan lawan berat untuk pemilu presiden Mesir 2011; menyatakan bahwa masalah Palestina sekarang yang terburuk, khususnya dalam tindakan barbarisme Zionis terhadap tempat-tempat suci Islam, dan tindakan mereka memperluas pemukiman ilegal Yahudi di Yerusalem.

El-Baradei, dalam sebuah wawancara eksklusif untuk "Pusat Informasi Palestina" pada hari Senin kemarin (12-4), menekankan bahwa orang-orang hidup di bawah eskalasi ini, ditambah lagi dengan pengepungan dikenakan oleh Israel, tidak punya pilihan lain selain perlawanan dalam segala bentuknya, karena perlawanan adalah sah menurut semua aturan hukum bagi orang yang mengalami penjajahan. Ia juga menyatakan bahwa pendudukan Zionis Israel hanya mengerti dengan bahasa kekuatan.

El-Baradai menegaskan bahwa proses perdamaian dengan pihak zionis saat ini telah menjadi sebuah lelucon konyol. "Kita bicara sekitar 20 tahun yang lalu, dan apa yang dicapai dari proses perdamaian dengan Zionis, semua yang kita dapat tidak ada kemajuannya dalam masalah Palestina," ujar ElBaradai.

Dalam konteks lain, dia mengatakan bahwa dirinya yakin masalah "tembok baja" telah menjadi penyalahgunaan atas reputasi Mesir, "terutama karena (tembok) tersebut telah ikut berpartisipasi dalam memblokade Gaza, yang telah menjadi penjara terbesar di dunia sebagai akibat dari blokade Israel.

El-Baradai menjadi orang kesekian yang menyebutkan bahwa Zionis Israel hanya mengerti bahasa kekuatan, sebelumnya Presiden Suriah juga menyebutkan hal yang sama.(fq/pic)

Dunia kini tengah bermuram durja, paska diterpa gelombang tsunami finansial dahsyat. Para pemimpin dunia diliputi kecemasan. Seluruh Kepala Negara di benua Amerika, Eropa, Asia dan Afrika dilanda keresahan hebat, menyusul terjadinya krisis finansial AS yang dengan cepat bertransformasi menjadi krisis global. Krisis ini adalah tragedi terburuk sejak Great Depression 1929. Setelah kejatuhan pasar saham pada Oktober 1929, AS membutuhkan waktu lebih dari tiga tahun lebih untuk memulihkan perekonomian yang turun sepertiga outputnya dengan 25% tenaga kerja menjadi pengangguran.

Krisis keuangan yang berawal dari krisis subprime mortgages itu telah meruntuhkan sejumlah lembaga keuangan AS. Pemain-pemain utama Wall Street berguguran, termasuk Lehman Brothers dan Washington Mutual, dua bank terbesar di AS. Para investor mulai kehilangan kepercayaan, sehingga harga-harga saham di bursa-bursa utama dunia pun rontok.

Dalam tiga tahun terakhir, setelah pecahnya krisis subprime mortgages pada Juli 2007, pemerintah AS melakukan intervensi paling dramatis di pasar finansial sejak 1930-an. Dalam 2 minggu yang bergolak, pemerintah USA menasionalisasi 2 raksasa mortgage, Fannie Mae dan Freddie Mac, mengambil alih AIG, perusahaan asuransi terbesar di dunia, dan memperluas jaminan dana pemerintah hingga $ 3,4 trilyun di pasar uang antar bank, melarang transaksi short-selling di lebih dari 900 saham perusahaan finansial, dan yang paling dramatis memberikan bail-out (semacam BLBI) $ 700 milyar ke sistem finansial untuk menutup kerugian aset-aset beracun yang terkait dengan mortgage. Hanya dalam waktu 3 minggu pemerintah AS telah menambah utang bruto-nya lebih dari $ 1 trilyun – 2 kali lipat dari biaya perang Irak.

Interkoneksi sistem bisnis global yang saling terkait, membuat 'efek domino' krisis yang berbasis di Amerika Serikat ini, dengan cepat dan mudah menyebar ke berbagai negara di seluruh penjuru dunia. Tak terkecuali Indonesia.

Menurut Direktur Pelaksana IMF Dominique Strauss-Kahn di Washington, seperti dikutip AFP belum lama ini, resesi sekarang dipicu pengeringan aliran modal.

Hal ini menyebabkan sistem perbankan dunia saling enggan mengucurkan dana, sehingga aliran dana perbankan, urat nadi perekonomian global, menjadi macet. Hasil analisis Dana Moneter Internasional (IMF) mengingatkan, krisis perbankan memiliki kekuatan yang lebih besar untuk menyebabkan resesi. Penurunan pertumbuhan setidaknya dua kuartal berturut-turut sudah bisa dikatakan sebagai resesi.

Sederet bank di Eropa juga telah menjadi korban, sehingga pemerintah di Eropa harus turun tangan menolong dan mengatasi masalah perbankan mereka. Pemerintah Belgia, Luksemburg, dan Belanda menstabilkan Fortis Group dengan menyediakan modal 11,2 miliar euro atau sekitar Rp155,8 triliun untuk meningkatkan solvabilitas dan likuiditasnya.

Fortis, bank terbesar kedua di Belanda dan perusahaan swasta terbesar di Belgia, memiliki 85.000 pegawai di seluruh dunia dan beroperasi di 31 negara, termasuk Indonesia. Ketiga pemerintah itu memiliki 49 persen saham Fortis. Fortis akan menjual kepemilikannya di ABN AMRO yang dibelinya setahun sebelumnya kepada pesaingnya, ING.

Pemerintah Jerman dan konsorsium perbankan, juga berupaya menyelamatkan Bank Hypo Real Estate, bank terbesar pemberi kredit kepemilikan rumah di Jerman. Pemerintah Jerman menyiapkan dana 35 miliar euro atau sekitar Rp 486,4 triliun berupa garansi kredit.

Inggris juga tak kalah sibuk. Kementerian Keuangan Inggris, menasionalisasi bank penyedia KPR, Bradford & Bingley, dengan menyuntikkan dana 50 miliar poundsterling atau Rp 864 triliun. Pemerintah juga harus membayar 18 miliar poundsterling untuk memfasilitasi penjualan jaringan cabang Bradford & Bingley kepada Santander, bank Spanyol yang merupakan bank terbesar kedua di Eropa.

Bradford & Bingley merupakan bank Inggris ketiga yang terkena dampak krisis finansial AS setelah Northern Rock dinasionalisasi Februari 2008 dan HBOS yang dilego pemiliknya kepada Lloyds TSB Group.

Intervensi global ini diperkirakan masih akan terus berlanjut mengingat kerugian akibat krisis kredit macet di AS juga terus membesar dengan cepat. Estimasi terakhir oleh IMF pada Oktober 2008, kerugian global akibat krisis ini mencapai $ 1,4 trilyun, naik hampir $ 500 milyar dari estimasi April 2008 yang sebesar $ 945 milyar. Kini di awal 2010 kerugian global tersebut membengkak hingga lebih dari $ 3 trilyun ( sekitar Rp 30.000.000.000.000.000,-)!

Runtuhnya Pasar Uang dan Pasar Modal

Beberapa saat setelah informasi kebangkrutan Lehman Brothers, pasar keuangan dunia mengalami terjun bebas di tingkat terendah. Beberapa bank besar yang collaps dan runtuhnya berbagai bank investasi lainnya di Amerika Serikat segera memicu gelombang kepanikan di berbagai pusat keuangan seluruh dunia. Pasar modal di Amerika Serikat, Eropa dan Asia segera mengalami panic selling yang mengakibatkan jatuhnya indeks harga saham pada setiap pasar modal. Bursa saham di mana-mana terjun bebas ke jurang yang dalam. Pasar modal London mencatat rekor kejatuhan terburuk, dalam sehari yang mencapai penurunan 8%. Sedangkan Jerman dan Prancis masing-masing ditampar dengan kejatuhan pasar modal sebesar 7% dan 9%. Pasar modal emerging market seperti Rusia, Argentina dan Brazil juga mengalami keterpurukan yang sangat buruk yaitu 15%, 11% dan 15%. Sejak awal 2008, bursa saham China anjlok 57%, India 52%, Indonesia 41% (sebelum kegiatannya dihentikan untuk sementara), dan zona Eropa 37%.

Sementara pasar surat utang terpuruk, mata uang negara berkembang melemah dan harga komoditas anjlok, apalagi setelah para spekulator komoditas minyak menilai bahwa resesi ekonomi akan mengurangi konsumsi energi dunia.

Di AS, bursa saham Wall Street terus melorot. Dow Jones sebagai episentrum pasar modal dunia jatuh. Angka indeks Dow Jones menunjukkan angka terburuknya dalam empat tahun terakhir yaitu berada di bawah angka 10.000.

Dalam rangka mengantispasi krisis keuangan tersebut, tujuh bank sentral (termasuk US Federal Reserve, European Central Bank, Bank of England dan Bank of Canada) memangkas suku bunganya 0,5%. Ini merupakan yang pertama kalinya kebijakan suku bunga bank sentral dilakukan secara bersamaan dalam skala yang besar.

Berdasarkan fakta dan realita yang terjadi saat ini, jelas sekali bahwa drama krisis keuangan memasuki tingkat keterpurukan yang amat dalam, dan karena itu dapat dikatakan bahwa krisis finansial Amerika saat ini, jauh lebih parah daripada krisis Asia di tahun 1997-1998 yang lalu. Dampak krisis saat ini demikian terasa mengenaskan keuangan global. Lagi pula, sewaktu krismon Asia, setidaknya ada 'surga aman' atau 'safe heaven' bagi para investor global, yaitu di Amerika Serikat, Eropa dan Jepang. Tetapi kini, semua pasar modal rontok. Semua investor panik.

Karena itu, seluruh pengamat ekonomi dunia sepakat bahwa Guncangan ekonomi akibat badai keuangan yang melanda Amerika merupakan guncangan yang terparah setelah Great Depresion pada tahun 1930. Bahkan IMF menilai guncangan sektor finansial kali ini merupakan yang terparah sejak era 1930-an.

Mata Uang Dunia Berjatuhan

Penurunan sebesar 70% yang dialami indeks komposit Shanghai dari puncaknya pada Oktober 2007, kegagalan pelalangan surat hutang Filipina dan Indonesia akhir-akhir ini, tekanan yang memurukkan mata uang Asia yang bervariasi dari rupiah Indonesia, won Korea, baht Thailand, dong Vietnam dan rupee India hanyalah membuktikan tentang hancurnya "teori keterpisahan" (decoupling theory). Berita tentang penolakan bantuan dana (bailout) oleh kongres AS saja telah membuat pasar-pasar saham Asia merosot, dengan Nikkei 225 Jepang turun lebih dari 4 persen. Ketika bank-bank besar AS beruntuhan, dapatkah bank-bank Asia bertahan? Ataukah mereka akan menyusulnya?

Pada 24 September 2008, para nasabah yang cemas mengantri di luar East Asia Bank, bank ketiga terbesar di Hongkong dengan aset $51 milyar, untuk menarik simpanan mereka. Kepanikan tersebut dipicu oleh desas-desus yang tersebar via sms bahwa Bank tersebut dalam kesulitan. Para nasabah yang mengantri mengatakan bahwa setelah kejatuhan Lehman Brothers mereka tidak lagi mempercayai institusi keuangan mana pun.

Standard & Poor's dan Moody's keduanya menurunkan penilaian kredit terhadap Bank of East Asia menjadi negatif, dari yang tadinya stabil, setelah bank tersebut terpaksa menyatakan ulang pendapatannya dalam paruh pertama tahun 2008 dan mengumumkan penurunan profit tengah-awal sebesar $16,8 juta. Bank tersebut menyalahkan kerugian tersebut kepada manipulasi pedagang, bukannya permasalahan kredit global. [1]

Di India dilaporkan bahwa nasabah mulai menarik uang mereka dari bank swasta terbesar di negeri itu, ICICI Bank Ltd mendorong Bank Cadangan India untuk meyakinkan publik tentang kelayakan cadangan kas. Asia sangat cemas, dan itu beralasan. Kini terdapat lebih banyak uang Asia yang diinvestasikan di AS dan ekonomi Barat lainnya dibandingkan masa sebelumnya dalam sejarah. Sebanyak 30% saham Asia dimiliki asing dan hubungan melalui surat hutang, pinjaman dan pasar-pasar derivat, meskipun lebih kecil, namun juga signifikan. Dan meskipun Asia mungkin tidak secara langsung terkena krisis sub-prime mortgage, dampak tak langsungnya terhadap ekonomi Asia bisa jadi signifikan. Dalam delapan bulan pertama tahun ini saja sudah terdapat arus keluar modal dari Asia mencapai $38 milyar.

Bank Pembangunan Asia (ADB) - yang didorong keras untuk menghapuskan pengendalian modal (capital controls) sehingga membuat ekonomi Asia begitu berbahaya karena terbuka dan rentan terhadap pergerakan masif arus kapital selama krisis finansial Asia tahun 1998 - dalam laporan Pandangan Pembangunan Asia (Asian Development Outlook) yang biasanya positif, memperingatkan bahwa, akibat ketergantungan Asia yang begitu besar terhadap AS, Eropa dan Jepang (G3) bagi pasar ekspor utamanya, pertumbuhan yang menurun dalam G3 akan meluas ke dalam ekonomi Asia. Menurut pimpinan pakar ekonomi bank tersebut: "Keterpisahan adalah mitos. Studi kami menunjukkan bahwa wilayah ini masih bergantung pada negeri-negeri industri untuk membahanbakari pertumbuhan mereka. Bila pelambatan global (global slowdown) berlanjut melampaui 2009, pukulannya terhadap wilayah ini akan sangat parah."

Tentang lesunya prospek perdagangan di dalam Asia, menurut laporan tersebut, ini juga dapat memperparah keadaan, karena permintaan akhir bagi ekspor wilayah tersebut berkurang. Pertumbuhan GDP agregrat di Asia Tenggara kini diperkirakan menurun menjadi 5,4% pada 2008, secara signifikan lebih lamban daripada pertumbuhan 6,5% yang dicapai tahun 2007 (ADB pada 2007 memperkirakan "pertumbuhan pesat pada 2007-2008). Proyeksi pertumbuhan di Filipina, Singapura dan Vietnam secara signifikan direvisi lebih rendah. Inflasi diramalkan mencapai yang tertinggi dalam dekade, dan tingkatnya diperkirakan secara khusus melambung cepat di negeri-negeri seperti Vietnam.

Laporan tersebut juga menilai bahwa resiko krisis Asia kedua telah "berkurang, tapi tidak lenyap". Bila krisis sub-prime di AS semakin parah, Asia akan menderita efek-efek finansial yang akan lebih serius, termasuk berbaliknya arus masuk modal secara mendadak. Bila ekonomi Barat menderita flu, bukan saja Asia akan bersin, tapi ia juga akan terkena demam.

Krisis Yang Terus Berulang

Dalam sejarah ekonomi, ternyata krisis sejenis ini pernah melanda di hampir semua negara yang menerapkan sistem kapitalisme. Krisis demi krisis ekonomi terus berulang, sejak tahun 1923, 1930, 1940, 1970, 1980, 1990, 1998 – 2001, dan 2007 hingga saat ini krisis semakin mengkhawatirkan akibat tragedi finansial di Amerika Serikat.

Roy Davies dan Glyn Davies, 1996 dalam buku The History of Money From Ancient time of Present Day, menguraikan sejarah kronologi secara komprehensif. Menurut mereka, sepanjang abad 20 telah terjadi lebih 20 kali krisis besar yang melanda banyak negara. Fakta ini menunjukkan bahwa secara rata-rata, setiap 5 tahun terjadi krisis keuangan hebat yang mengakibatkan penderitaan bagi ratusan juta umat manusia.

Pada tahun 1907 krisis perbankan Internasional dimulai di New York, setelah beberapa dekade sebelumnya yakni mulai tahun 1860-1921 terjadi peningkatan hebat jumlah bank di Amerika s/d 19 kali lipat. Selanjutnya, tahun 1920 terjadi depresi ekonomi di Jepang. Kemudian pada tahun 1922 – 1923 German mengalami krisis dengan hyper inflasi yang tinggi. Karena takut mata uang menurun nilainya, gaji dibayar sampai dua kali dalam sehari. Selanjutnya, pada tahun 1927 krisis keuangan melanda Jepang (37 Bank tutup); akibat krisis yang terjadi pada bank-bank Taiwan.

Pada tahun 1929–30 The Great Crash (di pasar modal New York) & Great Depression (Kegagalan Perbankan); di US, hingga net national product-nya terpangkas lebih dari setengahnya. Selanjutnya, pada tahun 1931 Austria mengalami krisis perbankan, akibatnya kejatuhan perbankan di German, yang kemudian mengakibatkan berfluktuasinya mata uang internasional. Hal ini membuat Inggris meninggalkan standard emas. Kemudian1944 – 1966 Perancis mengalami hyper inflasi akibat dari kebijakan yang mulai meliberalkan perekonomiannya. Berikutnya, pada tahun 1944 – 1946 Hungaria mengalami hyper inflasi dan krisis moneter. Ini merupakan krisis terburuk Eropa. Note issues Hungaria meningkat dari 12.000.000.000 (11 digits) hingga 27 digits.

Pada tahun 1945–1948 Jerman mengalami hyper inflasi akibat perang dunia kedua. Selanjutnya tahun 1945–1955 Krisis Perbankan di Nigeria akibat pertumbuhan bank yang tidak teregulasi dengan baik pada tahun 1945. Pada saat yang sama, Perancis mengalami hyperinflasi sejak tahun 1944 sampai 1966. Pada tahun (1950-1972) ekonomi dunia terasa lebih stabil sementara, karena pada periode ini tidak terjadi krisis untuk masa tertentu. Hal ini disebabkan karena Bretton Woods Agreements, yang mengeluarkan regulasi di sektor moneter relatif lebih ketat (Fixed Exchange Rate Regime). Disamping itu IMF memainkan perannya dalam mengatasi anomali-anomali keuangan di dunia. Jadi regulasi khususnya di perbankan dan umumnya di sektor keuangan, serta penerapan rezim nilai tukar yang stabil membuat sektor keuangan dunia (untuk sementara) "tenang".

Namun ketika tahun 1971 Kesepakatan Breton Woods runtuh (collapsed). Pada hakikatnya perjanjian ini runtuh akibat sistem dengan mekanisme bunganya tak dapat dibendung untuk tetap mempertahankan rezim nilai tukar yang fixed exchange rate. Selanjutnya pada tahun 1971-1973 terjadi kesepakatan Smithsonian (di mana saat itu nilai 1 Ons emas = 38 USD). Pada fase ini dicoba untuk menenangkan kembali sektor keuangan dengan perjanjian baru. Namun hanya bertahan 2-3 tahun saja.

Pada tahun 1973 Amerika meninggalkan standar emas. Akibat hukum "uang buruk (foreign exchange) menggantikan uang bagus (dollar yang di-back-up dengan emas)-(Gresham Law)". Pada tahun 1973 dan sesudahnya mengglobalnya aktifitas spekulasi sebagai dinamika baru di pasar moneter konvensional akibat penerapan floating exchange rate system. Periode Spekulasi; di pasar modal, uang, obligasi dan derivative. Maka tak aneh jika pada tahun 1973 – 1974 krisis perbankan kedua di Inggris; akibat Bank of England meningkatkan kompetisi pada supply of credit.

Pada tahun 1974 Krisis pada Euro dollar Market; akibat West German Bankhaus ID Herstatt gagal mengantisipasi international crisis. Selanjutnya tahun 1978-80 Deep recession di negara-negara industri akibat boikot minyak oleh OPEC, yang kemudian membuat melambung tingkat suku bunga negara-negara industri.

Selanjutnya sejarah mencatat bahwa pada tahun 1980 krisis dunia ketiga; banyaknya hutang dari negara dunia ketiga disebabkan oleh oil booming pada th 1974, tapi ketika negara maju menaikkan tingkat suku bunga untuk menekan inflasi, hutang negara ketiga meningkat melebihi kemampuan bayarnya. Pada tahun 1980 itulah terjadi krisis hutang di Polandia; akibat terpengaruh dampak negatif dari krisis hutang dunia ketiga. Banyak bank di Eropa Barat yang menarik dananya dari bank di Eropa Timur.

Pada saat yang hampir bersamaan yakni di tahun 1982 terjadi krisis hutang di Mexico; disebabkan outflow kapital yang massive ke US, kemudian di-treatments dengan hutang dari USA, IMF, BIS. Krisis ini juga menarik Argentina, Brazil dan Venezuela untuk masuk dalam lingkaran krisis.

Perkembangan berikutnya, pada tahun 1987 The Great Crash (Stock Exchange), 16 Oct 1987 di pasar modal USA & UK. Mengakibatkan otoritas moneter dunia meningkatkan money supply. Selanjutnya pada tahun 1994 terjadi krisis keuangan di Mexico; kembali akibat kebijakan finansial yang tidak tepat.

Pada tahun 1997-2002 krisis keuangan melanda Asia Tenggara; krisis yang dimulai di Thailand, Malaysia kemudian Indonesia, akibat kebijakan hutang yang tidak transparan. Krisis Keuangan di Korea; memiliki sebab yang sama dengan Asia Tengah.

Kemudian, pada tahun 1998 terjadi krisis keuangan di Rusia; dengan jatuhnya nilai Rubel Rusia (akibat spekulasi) Selanjutnya krisis keuangan melanda Brazil di tahun 1998. pad saat yang hampir bersamaan krisis keuangan melanda Argentina di tahun 1999. Terakhir, pada tahun 2007-hingga saat ini, krisis keuangan melanda Amerika Serikat.

Dari data dan fakta historis tersebut terlihat bahwa dunia tidak pernah sepi dari krisis yang sangat membayakan kehidupan ekonomi umat manusia di muka bumi ini.

Akar Permasalahan

Apakah akar persoalan krisis dan resesi yang menimpa berbagai belahan dunia tersebut? Dalam menjawab pertanyaan tersebut, cukup banyak para pengamat dan ekonom yang berkomentar dan memberikan analisis dari berbagai sudut pandang.

Dalam menganalisa penyebab utama timbulnya krisis moneter tersebut, banyak para pakar ekonomi berkesimpulan bahwa kerapuhan fundamental ekonomi (fundamental economic fragility) adalah merupakan penyebab utama munculnya krisis ekonomi. Hal ini seperti disebutkan oleh Michael Camdessus (1997), Direktur International Monetary Fund (IMF) dalam kata-kata sambutannya pada Growth-Oriented Adjustment Programmes (kurang lebih) sebagai berikut: "Ekonomi yang mengalami inflasi yang tidak terkawal, defisit neraca pembayaran yang besar, pembatasan perdagangan yang berkelanjutan, kadar pertukaran mata uang yang tidak seimbang, tingkat bunga yang tidak realistik, beban hutang luar negeri yang membengkak dan pengaliran modal yang berlaku berulang kali, telah menyebabkan kesulitan ekonomi, yang akhirnya akan memerangkapkan ekonomi negara ke dalam krisis ekonomi".

Ini dengan jelas menunjukkan bahwa defisit neraca pembayaran (deficit balance of payment), beban hutang luar negeri (foreign debt-burden) yang membengkak–terutama sekali hutang jangka pendek, investasi yang tidak efisien (inefficient investment), dan banyak indikator ekonomi lainnya telah berperan aktif dalam mengundang munculnya krisis ekonomi.

Sementara itu, menurut para pakar ekonomi Islam, penyebab utama krisis adalah kepincangan sektor moneter (keuangan) dan sektor riel. Sektor keuangan berkembang cepat melepaskan dan meninggalkan jauh sektor riel. Dimana dalam sistem ekonomi kapitalisme neo liberal, tidak mengaitkan sama sekali antara sektor keuangan dengan sektor riel.

Tercerabutnya sektor moneter dari sektor riel terlihat dengan nyata dalam bisnis transaksi maya (virtual transaction) melalui transaksi derivatif yang penuh spekulasi. Transaksi maya mencapai lebih dari 95 persen dari seluruh transaksi dunia. Sementara transaksi di sektor riel berupa perdagngan barang dan jasa hanya sekitar 5 (lima) persen saja.

Menurut analisis lain, perbandingan tersebut semakin tajam, tidak lagi 95% : 5%, melainkan 99% : 1%. Di tahun 2007 saja, disebutkan bahwa volume transaksi yang terjadi di pasar uang (currency speculation and derivative market) dunia berjumlah US$ 1,5 trillion hanya dalam sehari, sedangkan volume transaksi pada perdagangan dunia di sektor riil hanya US$ 6 trillion setiap tahunnya (Rasio 500 : 6 ), Jadi sekitar 1 (satu)%. Celakanya lagi, hanya 45 persen dari transaksi di pasar, yang spot, selebihnya adalah forward, futures, dan options.

Sebagaimana disebut di atas, perkembangan dan pertumbuhan finansial di dunia saat ini, sangat tak seimbang dengan pertumbuhan sektor riel. Realitas ketidakseimbangan arus moneter dan arus barang/jasa tersebut, mencemaskan dan mengancam ekonomi berbagai negara.

Pakar manajamen dunia, Peter Drucker, menyebut gejala ketidakseimbangan antara arus moneter dan arus barang/jasa sebagai adanya decoupling, yakni fenomena keterputusan antara maraknya arus uang (moneter) dengan arus barang dan jasa. Fenomena ketidakseimbangan itu dipicu oleh maraknya bisnis spekulasi (terutama di dunia pasar modal, pasar valas dan properti), sehingga potret ekonomi dunia seperti balon (bubble economy). [2]

Dalam sistem ekonomi Islam, jumlah uang yang beredar bukanlah variabel yang dapat ditentukan begitu saja oleh pemerintah sebagai variabel eksogen. Jumlah uang yang beredar ditentukan sebagai variabel endogen, yaitu ditentukan oleh banyaknya permintaan uang di sektor riel, atau dengan kata lain, dalam perekonomian, jumlah uang yang beredar sama banyaknya dengan nilai barang dan jasa. Jadi, sektor finansial mengikuti pertumbuhan sektor riel. Inilah perbedaan konsep ekonomi Islam dengan ekonomi kapitalis. Sistem ekonomi kapitalisme, jelas memisahkan antara sektor finansial dan sektor riel. Akibat pemisahan itu, ekonomi dunia rawan krisis, khususnya negara–negara berkembang. Sebab, pelaku ekonomi tidak lagi menggunakan uang untuk kepentingan sektor riel, tetapi untuk kepentingan spekulasi semata. Spekulasi inilah yang dapat menggoncang sendi-sendi ekonomi negara, khususnya negara yang kondisi politiknya tidak stabil. Akibat spekulasi itu, jumlah uang yang beredar sangat tidak seimbang dengan jumlah barang di sektor riel.

Spekulasi mata uang yang mengganggu ekonomi dunia, umumnya dilakukan di pasar-pasar uang. Pasar uang di dunia ini saat ini, dikuasai oleh enam pusat keuangan dunia (London, New York, Chicago, Tokyo, Hongkong dan Singapura). Nilai mata uang negara lain, bisa saja tiba-tiba menguat atau sebaliknya. Di pasar uang tersebut, peran spekulan sangat signifikan untuk menggoncang ekonomi suatu negara. Inggris, sebagai negara yang kuat ekonominya, ternyata pernah sempoyongan akibat ulah spekulan di pasar uang.

Robin Hahnel dalam artikelnya Capitalist Globalism In Crisis: Understanding the Global Economic Crisis (2000), mengatakan bahwa globalisasi - khususnya dalam financial market, hanya membuat pemegang asset semakin memperbesar jumlah kekayaannya tanpa melakukan apa-apa. Mereka hanya memanfaatkan fasilitas-fasilitas yang terdapat dalam pasar uang dengan kegiatan spekulasi untuk menumpuk kekayaan mereka tanpa kegiatan produksi yang riel. Dapat dikatakan uang tertarik pada segelintir pelaku ekonomi meninggalkan lubang yang menganga pada sebagian besar spot ekonomi.

"They do not work, they do not produce, they trade money for stocks, stocks for bonds, dollars for yen, etc. They speculate that some way to hold their wealth will be safer and more remunerative than some other way. Broadly speaking, the global credit system has been changed over the past two decades in ways that pleased the speculators." (Hahnel, 2000).

Hahnel juga menyoroti bagaimana sistem kredit atau sistem hutang sudah memerangkap perekonomian dunia sedemikian dalam. Apalagi mekanisme bunga (interest rate) juga menggurita bersama sistem hutang ini. Yang kemudian membuat sistem perekonomian harus menderita ketidakseimbangan kronis. Sistem hutang ini menurut Hahnel hanya melayani kepentingan spekulator, kepentingan segelintir pelaku ekonomi. Namun segelintir pelaku ekonomi tersebut menguasai sebagian besar asset yang ada di dunia. Jika kita kaji pemikiran Hahner ini lebih mendalam akan kita lihat dengan sangat jelas bahwa perekonomian akan berakhir dengan kehancuran akibat sistem yang dianutnya, yakni kapitalisme ribawi

Penasihat keuangan Barat, bernama Dan Taylor, mempunyai keyakinan bahwa sistem keuangan dan perbankan Islam mempunyai keunggulan sistem yang lebih baik dibanding dengan sistem keuangan Barat yang berasaskan riba. Krisis keuangan yang sedang dihadapi oleh negara-negara Barat seperti USA dan UK memberikan kekuatan secara langsung dan tidak langsung kepada sistem finansial Islam yang berdasarkan Syariah. Sistem keuangan Barat sudah runtuh… "Islamic finance and banking will win", begitulah ujar penasihat keuangan Barat, BDO Stoy Hayward: "financial turmoil puts Islamic products in strong position."

Menurut para penasihat keuangan Bank-bank Islam, "One of the few financial institutions who still have significant sums of money available to finance individuals and corporates, unlike their western banking counterparts, who will only continue to constrict their lending policies in light of the current economic crisis."

Dan Taylor, Pimpinan Bank BDO Stoy Hayward, berkata, "As the risk profile of Islamic Banks is generally lower than conventional western banks, this presents a more solid option for both retail and institutional investors and suggests that dealings with Islamic financial institutions will grow dramatically as people switch to more secure products in this environment."

"Further growth of Islamic banking in the UK will also be attributed to their more conservative approach to financing, as the risks are shared with the investor, much like the private equity model. In addition, it is more difficult for Islamic financial institutions to use leverage; therefore their risk profile is naturally lower." (Ahmad Sanusi Husein, IIUM, 2008)

Di kalangan para spekulan, mereka meraup keuntungan dari selisih harga beli dan harga jual. Makin besar selisihnya, makin menarik bagi para spekulan untuk bermain. Dengan demikian, nilai suatu mata uang dapat berfluktuasi secara liar. [3] Solusinya adalah mengatur sektor finansial agar menjauh dari segala transaksi yang mengandung spekulasi, termasuk transaksi-transaksi maya di pasar uang.

Gejala decoupling, sebagaimana digambarkan di atas, disebabkan, karena fungsi uang bukan lagi sekedar menjadi alat tukar dan penyimpanan kekayaan, tetapi telah menjadi komoditas yang diperjualbelikan dan sangat menguntungkan bagi mereka yang memperoleh gain. Meskipun bisa pula mengalami kerugian milyaran dollar AS.

Fakta mencatat, perekonomian saat ini digelembungkan oleh transaksi maya yang dilakukan oleh segelintir orang di beberapa kota dunia, seperti London (27 persen), Tokyo-Hong Kong-Singapura (25 persen), dan Chicago-New York (17 persen). Kekuatan pasar uang ini sangat besar dibandingkan kekuatan perekonomian dunia secara keseluruhan. Perekonomian global praktis ditentukan oleh perilaku lima negara tersebut.

Solusi Alternatif

Dari paparan di atas, terlihat dengan nyata, bahwa sistem ekonomi kapitalisme yang menganut paham laize faire dan berbasis bunga kembali tergugat. Faham kapitalisme neoliberal tidak bisa dipertahankan. Demikian juga statement Fukuyama yang menyatakan kemenangan kapitalisme liberal sebagai representasi akhir zaman "The end of history" (Magazine National Interest, 1989), menjadi kehilangan keabsahannya. Karena sistem ekonomi kapitalisme telah gagal menciptakan tata ekonomi dunia yang berkeadilan dan stabil.

Sebenarnya, sejak awal tahun 1940-an, para ahli ekonomi Barat, telah menyadari indikasi kegagalan tersebut. Adalah Joseph Schumpeter dengan bukunya Capitalism, Socialism and Democracy menyebutkan bahwa teori ekonomi modern telah memasuki masa-masa krisis. Pandangan yang sama dikemukakan juga oleh ekonom generasi 1950-an dan 60-an, seperti Daniel Bell dan Irving Kristol dalam buku The Crisis in Economic Theory. Demikian pula Gunnar Myrdal dalam buku Institusional Economics, Journal of Economic Issues, juga Hla Mynt, dalam buku Economic Theory and the Underdeveloped Countries, serta Mahbubul Haq dalam buku The Poverty Curtain : Choices for the Third World.

Pandangan miring kepada kapitalisme tersebut semakin keras pada era 1990-an dimana berbagai ahli ekonomi Barat generasi dekade ini dan para ahli ekonomi Islam pada generasi yang sama menyatakan secara tegas bahwa teori ekonomi telah mati, di antaranya yang paling menonjol adalah Paul Ormerod. Dia menulis buku (1994) berjudul The Death of Economics. Dalam buku ini ia menyatakan bahwa dunia saat ini dilanda suatu kecemasan yang maha dahsyat dengan kurang dapat beroperasinya sistem ekonomi yang memiliki ketahanan untuk menghadapi setiap gejolak ekonomi maupun moneter. Indikasi yang dapat disebutkan di sini adalah pada akhir abad 19 dunia mengalami krisis dengan jumlah tingkat pengangguran yang tidak hanya terjadi di belahan dunia negara-negara berkembang, akan tetapi juga melanda negara-negara maju.

Selanjutnya Omerrod menandaskan bahwa ahli ekonomi terjebak pada ideologi kapitalisme yang mekanistik yang ternyata tidak memiliki kekuatan dalam membantu dan mengatasi resesi ekonomi yang melanda dunia. Mekanisme pasar yang merupakan bentuk dari sistem yang diterapkan kapitalisme cenderung pada pemusatan kekayaan pada kelompok orang tertentu.

Karena itu, kini telah mencul gelombang kesadaran untuk menemukan dan menggunakan sistem ekonomi "baru" yang membawa implikasi keadilan, pemerataan, kemakmuran secara komprehensif serta pencapaian tujuan-tujuan efisiensi. Konsep ekonomi baru tersebut dipandang sangat mendesak diwujudkan. Konstruksi ekonomi tersebut dilakukan dengan analisis objektif terhadap keseluruhan format ekonomi kontemporer dengan pandangan yang jernih dan pendekatan yang segar dan komprehensif.

Di bawah dominasi sistem kapitalisme, kerusakan ekonomi terjadi di mana-mana. Dalam beberapa dekade terakhir ini, terbukti perekonomian dunia terus mengalami suatu fase yang sangat tidak stabil dan masa depan yang sama sekali tidak menentu. Setelah mengalami masa sulit karena tingginya tingkat inflasi, ekonomi dunia kembali mengalami resesi yang mendalam, tingkat pengangguran yang parah, ditambah tingginya tingkat suku bunga riil serta fluktuasi nilai tukar yang tidak sehat. Dampaknya tentu saja kehancuran sendi-sendi perekonomian negara-negara maju maupun berkembang, proyek-proyek raksasa terpaksa mengalami penjadwalan ulang, ratusan pengusaha gulung tikar, jutaan tenaga kerja terancam PHK, harga-harga barang dan jasa termasuk barang-barang kebutuhan pokok mengalami kenaikan tak terkendali.

Krisis tersebut semakin memprihatinkan karena adanya kemiskinan ekstrim di banyak negara, berbagai bentuk ketidakadilan sosio-ekonomi, besarnya defisit neraca pembayaran, dan ketidakmampuan beberapa negara berkembang untuk membayar kembali hutang mereka. Henry Kissinger mengatakan, kebanyakan ekonom sepakat dengan pandangan yang mengatakan bahwa "Tidak satupun diantara teori atau konsep ekonomi sebelum ini yang tampak mampu menjelaskan krisis ekonomi dunia tersebut" (News Week, "Saving the World Economy").

Melihat fenomena-fenomena yang tragis tersebut, maka tidak mengherankan apabila sejumlah pakar ekonomi terkemuka, mengkritik dan mencemaskan kemampuan ekonomi kapitalisme dalam mewujudkan kemakmuran ekonomi di muka bumi ini. Bahkan cukup banyak klaim yang menyebutkan bahwa kapitalisme telah gagal sebagai suatu sistem dan model ekonomi.

Kehadiran konsep ekonomi baru tersebut, bukanlah gagasan awam, tetapi mendapat dukungan dari ekonom terkemuka di dunia yang mendapat hadiah Nobel 1999, yaitu Joseph E. Stiglitz. Dia dan Bruce Greenwald menulis buku "Toward a New Paradigm in Monetary Economics". Mereka menawarkan paradigma baru dalam ekonomi moneter. Dalam buku tersebut mereka mengkritik teori ekonomi kapitalis (konvensional) dengan mengemukakan pendekatan moneter baru yang entah disadari atau tidak, merupakan sudut pandang ekonomi Islam di bidang moneter, seperti peranan uang, bunga, dan kredit perbankan (kaitan sektor riil dan moneter).

Rekonstruksi Ekonomi Syariah Sebuah Keharusan

Oleh karena kapitalisme telah gagal mewujudkan kesejahteraan yang berkeadilan, maka menjadi keniscayaan bagi umat manusia zaman sekarang untuk mendekonstruksi sistem ekonomi kapitalisme dan merekonstruksi ekonomi berkeadilan dan berketuhanan yang dikenal dengan ekonomi syariah. Dekonstruksi artinya meruntuhkan paradigma, sistem dan konstruksi materialisme kapitalisme, lalu menggantinya dengan sistem dan paradigma syari'ah.

Capaian-capaian positif di bidang sains dan teknologi tetap ada yang bisa kita manfaatkan, Artinya puing-puing keruntuhan tersebut ada yang bisa digunakan, seperti alat-alat analisis matematis dan ekonometrik, dsb. Sedangkan nilai-nilai negatif, paradigma konsep dan teori yang destrutktif, filosofi materalisme, pengabaian moral dan banyak lagi konsep kapitalisme di bidang moneter dan ekonomi pembangunan yang harus didekonstruksi. Karena tanpa upaya dekonstruksi, krisis demi krisis pasti terus terjadi, ketidakadilan ekonomi di dunia akan semakin merajalela, kesenjangan ekonomi makin menganga, kezaliman melalui sistem riba dan mata uang kertas semakin hegemonis.

Sekarang tergantung kepada para akademisi dan praktisi ekonomi syari'ah yang ditantang untuk mampu menyuguhkan konstruksi ekonomi syariah yang benar-benar adil, maslahah, dan dapat mewujudkan kesejahteraan umat manusia, tanpa menimbulkan krisis finansial, (stabilitas ekonomi), tanpa penindasan, kezaliman dan penghisapan, baik antar individu dan perusahaan, negara terhadap perusahaan, maupun negara kaya terhadap negara miskin.

Wallahu a'lam bish-shawwab.

Syamsul Balda, Direktur Eksekutif Smart Leadership Institute

Notes:

  1. "Anxious Depositors Withdraw Cash from Asian Banks", oleh Keith Bradsher dan Heather Timmons, New York Times, September 25, 2008
  2. Sekedar ilustrasi dari fenomena decoupling tersebut, misalnya sebelum krisis moneter Asia, dalam satu hari, uang yang berputar dalam transaksi maya di pasar modal dan pasar uang dunia, diperkirakan rata-rata beredar sekitar 2-3 triliun dolar AS atau dalam satu tahun sekitar 700 triliun dolar AS. Padahal arus perdagangan barang secara international dalam satu tahunnya hanya berkisar 7 triliun dolar AS. Jadi, arus uang 100 kali lebih cepat dibandingkan dengan arus barang (Didin S Damanhuri, Problem Utang dalam Hegemoni Ekonomi, 2008)
  3. Berdasarkan realitas itulah, maka Konferensi Tahunan Association of Muslim Scientist di Chicago, Oktober 1998 yang membahas masalah krisis ekonomi Asia dalam perspektif ekonomi Islam, menyepakati bahwa akar persoalan krisis adalah perkembangan sektor finansial yang berjalan sendiri, tanpa terkait dengan sektor riel.
Powered by Blogger.