Sumber medis Palestina mengumumkan tentang dua warga Palestina yang syahid akibat serangan yang dilancarkan oleh pesawat-pesawat tempur Israel pada hari Jumat pagi (25/6) di Jalur Gaza.

Sumber itu mengatakan bahwa staf medis mengangkat jenazah dua warga Palestina yang syahid dari dalam sebuah terowongan di Rafah, di Gaza selatan setelah terowongan itu menjadi sasaran pesawat-pesawat tempur Israel.

Pesawat-pesawat tempur Israel terus melancarkan serangkaian serangan di Jalur Gaza, beberapa di antaranya ditujukan pada daerah terowongan di perbatasan antara Gaza dan Mesir, dan yang lain di daerah-daerah terbuka dan bebas di utara Beit Lahia di Jalur Gaza utara tanpa menimbulkan korban.

Juru bicara militer pendudukan Israel mengkonfirmasikan serangan itu. Dikatakan bahwa bahwa "pesawat-pesawat tempur Israel menyerang sebuah lokakarya untuk pembuatan senjata di Jalur Gaza utara, dan dua terowongan yang digunakan untuk menyelundupkan senjata di selatan," demikian klaimnya.

Dan ia mengklaim bahwa serangan itu adalah sebagai "balasan terhadap peluncuran rudal pada hari Kamis (24/6) dari Jalur Gaza pada sektor barat di gurun Negev, Israel selatan." (islamtoday.net, 25/6/2010)

MADRID (Berita SuaraMedia) – Duta besar Iran untuk Spanyol, Morteza Saffari, mengatakan bahwa AS mempromosikan 'Iranofobia' di Timur Tengah untuk membenarkan kehadiran militernya di kawasan kaya minyak itu.

"AS sedang mengejar strategi Iranofobia untuk membenarkan kehadiran militernya di kawasan ini, yang ditujukan untuk mendominasi sumber-sumber energinya," ujar Saffari seperti dikutip oleh kantor berita IRNA.

"Kebijakan Iranofobia memiliki hubungan langsung dengan permintaan energi Washington," jelasnya.

Utusan Iran itu kemudian mengatakan bahwa kebijakan tersebut digunakan sebagai perang psikologis melawan Iran oleh AS dan sekutu-sekutu Baratnya dan selalu menjadi batu pijakan untuk kebijakan luar negeri AS selama 30 tahun terakhir.

Saffari mengatakan bahwa kegagalan AS untuk mendominasi Iran memaksa Washington untuk memilih kebijakan Iranofobia.

"AS dan beberapa negara Barat selalu berusaha merefleksikan isu-isu yang terkait Iran dengan pendekatan agresif, agar mereka bisa memperkenalkan Iran sebagai ancaman bagi perdamaian dan keamanan regional dan global," ujar utusan Iran itu.

Sementara itu, perdana menteri Israel, senada dengan kebijakan Iranofobia rezim tersebut, memperingatkan terhadap program nuklir Teheran, menyerukan untuk diambilnya tindakan cepat dan menentukan atas Republik Islam.

Berbicara di depan perwakilan dan senator dari kelompok pelobi pro-Israel berpengaruh, AIPAC, di Washington pada bulan Maret lalu, Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa Tel Aviv berharap masyarakat internasional bertindak cepat dan menentukan untuk mencegah bahaya tersebut.

Dia mengatakan bahwa jika Iran mencapai kemajuan pada senjata nuklirnya, itu akan mengakhiri perdamaian nukli yang dimiliki dunia selama 65 tahun.

Hal itu sementara Iran, tidak seperti Israel, merupakan penandatangan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT), mengatakan bahwa program nuklirnya diarahkan untuk aplikasi teknologi sipil dan bukan mengejar senjata.

Namun, Israel, AS dan sekutu-sekutu mereka menuduh Teheran mengejar tujuan militer dalam program nuklirnya, terlepas dari penegasan oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA) tentang non-diversi Iran dalam kegiatannya.

Israel, dilaporkan memiliki satu-satunya senjata atom di kawasan tersebut, memiliki agenda lama untuk mengebom situs nuklir Iran, berdalih bahwa negara itu adalah potensi ancaman bagi mereka.

Rencana untuk serangan militer terhadap Iran telah meraih momentumnya di tel Aviv dalam beberapa bulan terakhir. Pada tanggal 7 November, wakil menteri luar negeri Israel Danny Ayalon memperingatkan Iran bahwa ancaman aksi militer Tel Aviv bukan sekedar gertakan.

Iran membantah tuduhan AS dan Israel bahwa program energi nuklirnya bermotif politik.

Program nuklir Iran diluncurkan tahun 1950an dengan bantuan AS sebagai bagian dari program "Atom untuk Perdamaian".

Setelah Revolusi 1979, yang menggulingkan monarki Mohammad Reza Pahlevi, perusahaan-perusahaan Barat yang mengerjakan program nuklir Iran menolak untuk memenuhi kewajiban mereka meskipun mereka telah dibayar penuh. (rin/pv) www.suaramedia.com

KABUL (Berita SuaraMedia) – Taliban mengatakan tersingkirnya komandan pasukan AS dan ISAF di Afghanistan, Jenderal Stanley McChrystal, adalah bukti bahwa AS telah kalah dalam perang Afghanistan. Taliban mengatakan keputusan Presiden Barack Obama mencopot McChrystal adalah upaya untuk menyelamatkan muka.

Taliban Afghanistan punya pepatah: "Amerika boleh saja memiliki jam, tapi kami yang memiliki waktunya." Saat Presiden Obama mendepak Jenderal Stanley McChrystal minggu ini dan menggantinya dengan Jenderal David Petraeus, para komandan Taliban memerhatikan segalanya dari kejauhan dan menyatakannya sebagai kemenangan.

Ahmadullah Ahmadi, seorang juru bicara Taliban, mengatakan pemulangan Jenderal McChrystal di tengah peperangan yang berkecamuk adalah kabar yang baik, karena hal itu membuktikan para pemimpin politik dan militer AS begitu kesulitan dan terpecah.

"Sebelum Jenderal McChrystal, ada banyak jenderal militer kuat yang sudah menelan kekalahan di Afghanistan," kata Ahmadi. "Amerika tahu bahwa Afghanistan adalah kuburan bagi kekaisaran. Tapi, meski tahu itu mereka tetap saja menginvasi negara ini."

Komandan senior Taliban Sirajuddin Haqqani mengatakan ia dan orang-orangnya telah mendapatkan kabar itu segera setelah berita mengenai McChrystal menyeruak. Saat Haqqani mendengar kata-kata McChrystal kepada pemerintah AS, dia langsung tahu bahwa komandan AS di Afghanistan itu ada dalam kesulitan dan akan dipecat.

"Saya yakin ia akan menghadapi konsekuensi," kata Haqqani dalam wawancara telepon dari lokasi yang tidak diungkapkan. Ketidakpatuhan semacam itu, kata Haqqani, "Akan menimbulkan dampak negatif bagi pasukan AS dan NATO di medan perang."

Haqqani senang dengan perpecahan para petinggi militer dan diplomat AS di Afghanistan. Menurutnya, hal itu membuktikan perang Afghanistan telah membuat pemerintahan Obama dan kepemimpinan militer AS frustrasi dan terbelah.

"Setelah invasi Amerika, ayah saya mengatakan Afghanistan akan menjadi (perang) Vietnam yang berikutnya bagi AS. Perlahan tapi terbukti bahwa kata-kata itu benar," kata sang komandan.

Sebagian besar pejuang Taliban tinggal di gunung-gunung, jauh dari kota-kota dan tetap mengikuti perkembangan di AS dan lokasi lainnya melalui radio, kebanyakan adalah pemberitaan BBC bahasa Pashto atau Voice of America di Radio Azadi.

Haqqani, yang dinyatakan sebagai buronan dan kepalanya dihargai $5 juta, adalah putra sulung dari pemimpin veteran Taliban Afghanistan, Mauvi Jalaluddin Haqqani, pemimpin jaringan Haqqani, sebuah faksi kuat Taliban yang beroperasi di ibu kota dan di Provinsi Waziristan.

Untuk menghindari mata-mata dan pembunuhan, sang komandan tidak pernah menenteng radio atau peranti elektronik lain. Ia mendapatkan informasi secara lisan dari bawahannya yang ditugasi mengikuti perkembangan berita. "Kami punya seksi media yang bertugas memonitor kantor berita nasional dan internasional," katanya.

Pemberitaan kantor berita New York Times baru-baru ini mengenai cadangan mineral berharga di Afghanistan justru membantu Taliban, katanya.

"Ada perbedaan besar antara tahun-tahun pertama invasi dan saat ini," katanya. "Dulu, rakyat Afghanistan enggan memberikan tempat berlindung kepada kami. Tapi, sekarang mereka sadar bahwa AS menjajah negara mereka dengan dalih terorisme, padahal faktanya mereka ingin menjarah mineral berharga."

Haqqani diyakini telah merancang sejumlah serangan mematikan terhadap pasukan AS dan NATO, Haqqani juga dituding bertanggung jawab atas serangan di pangkalan udara Bagram bulan lalu yang menewaskan seorang kontraktor AS dan melukai sejumlah orang lainnya. Haqqani juga diyakini mendalangi serangan Hotel Serena Kabul pada 2008 yang menewaskan enam orang, termasuk seorang wartawan Norwegia.

"Dengar, mereka (pasukan asing) menjajah negara kami dan mengirimkan kami kembali ke Zaman Batu dengan mengebom kota dan desa kami," katanya. "Mereka menarget upacara-upacara pernikahan, perkumpulan jirga suku, dan membantai banyak pria, wanita, dan anak-anak Afghanistan yang tidak bersalah."

Ia menambahkan, Jenderal McChrystal telah bertempur dengan gigih, tapi, McChrystal atau siapa pun tidak akan pernah berhasil karena rakyat Afghanistan tidak akan menerima keberadaan penjajah di tanah mereka.

Haqqani yakin komentar pedas McChrystal adalah semacam harakiri di hadapan umum. Seorang komandan militer yang kalah sengaja mengungkapkan kebenaran di hadapan publik agar ia dicopot.

Haqqani juga mengatakan para pemimpin militer AS berkoar dan menetapkan target tinggi sebelum berangkat ke Afghanistan untuk meyakinkan dunia politik dan masyarakat AS mengenai prospek keberhasilan militer AS. Tapi, begitu mereka menginjakkan kaki di Afghanistan, baru mereka sadar beratnya situasi yang dihadapi.

Tidak akan lama, kata Haqqani berprediksi, sebelum Jenderal Petraeus berbicara dalam "bahasa" Jenderal McChrystal. (dn/im/db) www.suaramedia.com

DEARBORN, AS (Berita SuaraMedia) – Organisasi ACT! For America memutar sebuah video tentang sekelompok umat Kristen di Dearborn Michigan yang melancarkan aksi penginjilan.

Ketika kelompok itu berusaha membagikan Kitab Injil mereka, yang dicetak dalam bahasa Inggris dan Arab di luar sebuah festival Muslim dan mengajak mereka untuk masuk Kristen. Tak lama, polisi datang menghampiri mereka. Polisi membawa mereka untuk ditahan. Seorang petugas menyuruh pemegang kamera untuk mematikan videonya.

Polisi mengatakan bahwa kelompok itu tidak bisa mendistribusikan literatur dalam 5 blok festival karena wilayah tersebut merupakan wilayah Muslim. Kelompok Kristen menuding kepolisian telah menolak hak Konstitusional mereka. Mereka bahkan yakin bahwa Dearborn adalah satu-satunya kota di Amerika yang memiliki pembatasan seperti itu.

Dearborn terkenal memiliki populasi Arab dalam jumlah besar. Apakah ini berarti Konstitusi AS tidak berlaku di sana?

Menurut hukum Islam, non-Muslim tidak boleh memperlihatkan sudut pandang mereka pada kaum Muslim, terutama terkait dengan penyebaran agama secara ilegal.

Organisasi Act! For America merupakan salah satu organisasi di AS yang mengklaim sebagai anti-Syariah, dengan pergelaran pawai-pawai anti Islam di beberapa negara bagian, termasuk dalam acara pengumpulan dana untuk sebuah Masjid  Falls Church yang mereka katakan telah dikaitkan dengan kekerasan.

 

Dua dari pembajak 11 September dituding pernah beribadah di Masjid itu, Dar al-Hijrah Islamic Center, dan salah satu imam sebelumnya, Anwar al-Awlaqi, telah dikaitkan dengan tuduhan teroris dan kemudian dikecam oleh Masjid, salah satu yang terbesar di Amerika Serikat.

Kelompak yang sama juga diketahui berusaha melobi anggota Dewan Kota untuk menolak memasukkan dosen Universitas Florida Utara ke dalam nominasi Hak Asasi Manusia Komisi kota itu.

Parvez Ahmed, seorang Muslim, diangkat sebagai dewan penasehat sukarela oleh Walikota John Peyton dan direkomendasikan untuk konfirmasi oleh dewan Komite Aturan.

Kelompok  ACT! for America menangkap desas desus pengangkatannya pekan lalu dan mengirimkan e-mail laporan sepanjang 20-halaman pada hari  Jumat menuduh Ahmed memiliki hubungan dengan kelompok-kelompok ekstremis melalui layanannya pada dewan Council on American-Islamic Relations. (rin/ex/sm) www.suaramedia.com


g8

Pemimpin delapan negara maju yang tergabung dalam G8 mengecam keras Korea Utara dan Iran.

Korea Utara dikecam karena menenggelamkan kapal perang Korea Selatan bulan Maret lalu.

"Kami sangat menyayangkan serangan pada 26 Maret yang menyebabkan kapal Korea Selatan tenggelam. Insiden ini menyebabkan 26 orang meninggal dunia," demikian bunyi pernyataan akhir G8.

"Kami meminta Korea Utara untuk menahan diri dan tidak melakukan serangan atau tindakan provokatif terhadap Korea Selatan."

Pernyataan AS, Kanada, Jerman, Inggris, Prancis, Italia, Rusia, dan Jepang tersebut disampaikan di akhir KTT G8 di Toronto, Kanada.

Pemerintah Iran sementara itu diminta untuk menghormati hukum dan hak asasi manusia.

Perdana Menteri Kanada Stephen Harper mengatakan baik Korea Utara maupun Iran memiliki persenjataan yang mengancam negara-negara tetangga.

Untuk masalah Gaza, G8 mengatakan blokade Israel atas wilayah Palestina tersebut tidak bisa diteruskan.

Para pemimpin G8 meminta pemerintah Israel mengizinkan arus masuk berbagai barang kebutuhan ke Gaza.
(bbc/bbc)




Ribuan warga Israel bergabung dengan orang tua seorang tentara Israel Gilad Shalit dalam pawai dari Israel Utara guna menandai empat tahun penangkapannya.

Shalit ditangkap oleh militan Palestina saat berkecamuk bentrok lintas perbatasan bulan Juni 2006.

Ia ditahan di Gaza oleh militan Hamas yang menuntut pembebasan ratusan warga Peletina yang ditawan Israel sebagai imbalan bagi pembebasan Shalit.

Orang tua Gilad Shalit, Noam dan Aviva Shalit berjalan kaki ke tempat kediaman Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahui di Jerusalem.

Kecewa atas berbagai upaya yang gagal untuk membebaskan putra mereka, mereka mengatakan akan tetap berkemah di luar tempat kediaman Netanyahu sampai putra mereka dibebaskan.

Ribuan pendukung, termasuk sanak saudara, ikut bergabung setelah mereka mengawali pawai dari rumah mereka di Mtzpe Hila dekat perbatasan utara Israel dengan Libanon.

Hari Jumat, para pegiat melancarkan protes di luar tempat kediaman Netanyahu di Jerusalem sementara para pengendera sepeda melancarkan aksi protes bersepeda di Tel Aviv pada hari yang sama dengan hari penangkapan Sersan Shalit empat tahun lalu.

Diduga akan dibebaskan

Sersan Shalit, sekarang 23, ditangkap dalam satu sergapan ke Israel yang dilancarkan oleh kalangan militan tanggal 25 Juni 2006

Ia ditahan di Gaza, dan sejak itu tidak ada kontak dengan Shalit dari dunia luar.

Selain dari rekaman suara dan rekaman video, yang tampaknya memperlihat dirinya relatif dalam keadaan sehat, tidak ada lagi kontak dengan tentara israel tersebut.

Kelompok Militan Hamas, yang mengendalikan Gaza, juga menolak memberikan kesempatan kepada Palang Merah Internasional untuk bertemu dengan Shalit.

Sekarang kenyataan bahwa Israel telah melonggarkan embargonya terhadap Gaza, sersan Shalit diduga akan dibebaskan, kata wartawan BBC di Yerusalem, Wyre Davis.

(bbc/bbc)

CANBERRA (Berita SuaraMedia) – Perdana menteri baru Australia mengatakan dalam percakapan telepon pertamanya dengan Presiden Barack Obama pada hari Jumat (25/6) untuk meyakinkan sang presiden AS bahwa komitmen militer Australia dalam perang Afghanistan tidak akan berubah dalam kepemimpinannya.

Sejumlah pengamat berspekulasi bahwa Perdana Menteri Julia Gilard mungkin mendorong penarikan awal 1.550 orang prajurit Australia dari Afghanistan karena perang tersebut tidak populer di mata masyarakat Australia dan pemilihan umum.

"Saya meyakinkan Presiden Obama bahwa pendekatan saya mengenai masalah Afghanistan akan melanjutkan pendekatan yang diambil pemerintah Australia sebelumnya," kata Gillard kepada para wartawan pada hari Jumat, kurang dari 24 jam setelah ia diambil sumpahnya menjadi perdana menteri perempuan pertama Australia.

"Saya mendukung penuh pengiriman pasukan saat ini, dan saya memberitahu Presiden Obama bahwa upaya pasukan Australia di Afghanistan akan berlanjut," tambahnya.

Gedung Putih mengatakan Obama "memuji aliansi khusus antara Amerika Serikat dan Australia, dan kepentingan bersama, nilai-nilai dan ikatan yang melandasinya" dalam percakapan melalui telepon tersebut.

"Kedua pemimpin menggarisbawahi komitmen bersama mereka untuk terus bekerja sama dan menghadapi tantangan global yang dihadapi kedua negara, termasuk di Afghanistan," kata Gedung Putih.

Gilard adalah deputi Kevin Rudd sebelum akhirnya ia berhasil menantang Partai Buruh pada hari Kamis. Rudd disalahkan atas anjloknya popularitas pemerintahan, hasil jajak pendapat terbaru menunjukkan dukungan pemilih Partai Buruh dialihkan ke Partai Hijau Australia yang antiperang.

Dukungan masyarakat untuk pengiriman pasukan ke Afghanistan telah memudar seiring dengan melonjaknya angka kematian prajurit menjadi 16 orang minggu ini.

John Wanna, seorang peneliti politik Universitas Nasional Australia, mengatakan dirinya curiga pemerintah tergoda untuk mengumumkan penarikan pasukan dari Afghanistan menjelang pemilihan tahun ini.

"Komitmen menarik diri dari Afghanistan mungkin akan membuat sebagian pendukung kiri mendukug pemerintah," kata Wanna. "(Partai) Buruh kehilangan suara ke kiri, bukan ke kanan."

Pemerintah Rudd minggu ini mengumumkan tenggat waktu pertamanya mengenai masalah penarikan pasukan Australia dari Afghanistan, yang bisa dimulai pada 2012 mendatang. Namun, pemerintah Rudd menolak mengumumkan tanggal pasti penarikan dengan alasan segalanya bergantung pada perkembangan militer di masa mendatang.

Gillard mengatakan dirinya berencana menelepon para pemimpin Indonesia, Malaysia, Inggris, dan Kanada pada hari Jumat, sedangkan ia telah berbicara dengan pemimpin Selandia Baru pada Kamis, katanya.

Deputi Gillard, Wayne Swan, yang menjabat menteri keuangan Australia sejak pemerintahan Rudd pertama berkuasa pada 2007, terbang ke Kanada pada hari Jumat untuk menggantikan sang perdana menteri dalam menghadiri ajang pertemuan para pemimpin G20. Hingga hari Kamis, sebenarnya Rudd yang dijadwalkan akan melakukan kunjungan tersebut.

Akhir Mei lalu, pemerintah Australia mengumumkan tidak akan mengambil alih peran kepemimpinan di kawasan Afghanistan selatan dari pasukan Belanda yang akan meninggalkan tempat tersebut karena militer Australia bisa menjadi terlalu tertekan, demikian kata kepala pertahanan nasional Australia.

Sebagian besar dari 1.550 prajurit Australia yang tergabung dalam Pasukan Bantuan Keamanan Internasional di Afghanistan bermarkas di provinsi Uruzgan, yang dipimpin oleh pasukan Belanda.

Sebagian pengamat menganggap Australia sebagai penerus dari Belanda di provinsi tersebut, namun prunawirawan Mayor Jenderal Jim Molan, seorang perwira Australia yang menjabat sebagai Kepala Operasi pasukan internasional yang dipimpin AS di Irak pada 2004-2005, mengatakan bahwa Australia bisa dan harus mengirimkan tambahan ratusan pasukan dalam perang Afghanistan.

Dengan kepastian Belanda menarik 1.600 prajurit dari Afghanistan mulai bulan Agustus, Menteri Pertahanan Australia terdahulu, John Faulkner, mengatakan, "negara NATO deret pertama lainnya" harus mengambil alih kepemimpinan Belanda di Uruzgan. (dn/cb/sm) www.suaramedia.com

VALLETTA (Berita SuaraMedia) – Uskup Paul Cremona pagi ini menyerukan kepada negara Malta untuk membantu pasangan mempersiapkan untuk pernikahan berhubungan dengan sebuah peningkatan pada pasangan yang memutuskan menentang keyakinan pernikahan.

Berbicara pada sesi pembukaan sebuah seminar yang bertujuan untuk membahas peranan keluarga dari sebuah prespektif Muslim dan Kristen, disusun oleh Panggilan Masyarakat Dunia Islam (World Islamic Call Society), ia juga mengatakan bahwa media harus dipergunakan untuk mempromosikan pesan-pesan dalam membantu stabilitas pernikahan.

Ia mengatakan bahwa dukungan moral harus ditawarkan untuk orang-orang yang berusaha untuk mengatasi masa-masa sulit dalam pernikahan mereka, bukan hanya mereka yang ingin berpisah.

Cremona mengatakan bahwa menurut tradisi pernikahan Kristen adalah antara seorang pria dan seorang wanita, diciptakan dalam citra Tuhan dengan kehormatan yang sama, dimana pernikahan adalah sebuah hadiah dari Tuhan.

Ia mengatakan bahwa Gereja harus meyakinkan masyarakat bahwa agama memainkan peranan penting dan memberikan kontribusi yang penting dalam emmbesarkan anak-anaknya.

"Kehancuran keluarga juga membawa masalah besar bagi negara, bahkan masalah ekonomi," ia mengatakan.

Sementara itu, Ammar Hreba, kepala Pusat Islam dan Biro Perluasan, mengatakan bahwa bahkan menurut tradisi Muslim, pernikahan didasarkan pada pria dan wanita.

"Jika kami membiarkan keluarga hancur, terima kasih kepada arahan negatif media, hal ini akan membimbing bencana dan kehancuran. Pernikahan sesama jenis kelamin contohnya, menghancurkan kesatuan dari bagaimana keluarga dimulai dengan Adam dan Hawa."

Ia mengatakan bahwa negativitas di media membawa pada kekerasan, namun Panggilan Ilahi memungkinkan manusia untuk memepertahankan ras manusia.

Ia meminta kerja sama dari Gereja di Malta sehingga dalam sebuah semangat dialog mereka dapat menjaga keluarga mereka, dengan bekerja sama juga dengan pemerintah.

Muslim Malta, Mario Farrugia Borg memeperingatkan terhadap erosi nilai-nilai dan tantangan baru yang tidak ada 30 atau 40 tahun yang lalu, yang ia katakan merusak keluarga.

Ia mengatakan bahwa ini adalah sebuah pertanda baik bahwa Kristen dan Muslim bekerja sama karena mereka memiliki "begitu banyak kesamaan" dalam hal ini.

Sisa waktu dari seminar, dimana empat dokumen dibahas, tertutup untuk media. Diskusi tersebut juga diharapkan menyentuh masalah-masalah pertentangan seperti perceraian dan poligami.

Islam dipercaya telah diperkenalkan di Malta ketika Muslim menangkap bangsa Sisilia dari Byzantin pada tahun 870. Malta kembali ke sebuah kekuasaan Kristen dengan penaklukan Norman pada 1091. Para Muslim pada waktu itu diijinkan beribadah dengan bebas sampai abad ke-13.

Saat ini komunitas Muslim Malta sedikit, diperkirakan berdiri di angka 3000 orang. Dari angka tersebut 2.250 orang adalah penduduk asing, 600 orang adalah warga naturalisasi dan 150 orang berkebangsaan Malta asli. Terdapat satu masjid yang didirkan pada tahun 1978 oleh Panggilan Masyarakat Dunia Islam, sebuah asosiasi pemerintah Libia yang memajukan islam dan satu sekolah primer Muslim. (ppt/tom/wk) www.suaramedia.com

LONDON (Berita SuaraMedia) - Perjanjian sebelumnya atas berbagi informasi intelijen rahasia antara Inggris dan Amerika akan dirilis ke publik untuk pertama kalinya.

Sampai beberapa tahun yang lalu, bahkan adanya perjanjian itu tidak diakui oleh kedua pemerintah.

Ditandatangani pada tahun 1946, perjanjian itu masih merupakan dasar untuk berbagi informasi dari komunikasi yang berhasil disadap oleh kedua negara negara.

Beberapa materi yang dibagi bersama mengenai Uni Soviet di tahun 1940-an juga sedang dirilis oleh Arsip Nasional.

Selama Perang Dunia II, Inggris dan Amerika telah bekerjasama erat pada komunikasi yang disadap yang disebut "sinyal intelijen".

Ketika perang berakhir, kedua belah pihak memutuskan untuk melembagakan kerjasama tersebut dan membangunnya dalam konteks baru munculnya Perang Dingin dengan Uni Soviet.

Selain mengungkapkan kesepakatan itu sendiri, berkas-berkas Arsip Nasional memaparkan  negosiasi yang menyebabkan penandatanganannya pada tanggal 6 Maret 1946, dan tindak lanjut perjanjian itu sepanjang tahun 1950-an yang diperlukan agar dapat digunakan dalam praktek.

"Ini adalah dasar dari bagaimana cara kerjanya," kata Edward Hampshire, kepala spesialis catatan di Arsip Nasional.

Rincian perjanjian sedang dirilis secara bersamaan di kedua sisi Atlantik mengikuti  permintaan yang terpisah dari Freedom of Information kepada pemerintah Inggris dan Amerika.

"Ini adalah dokumen dasar dari aliansi intelijen terbesar dalam sejarah - yang benar-benar memiliki cakupan global dan membentuk berbagai peristiwa dari satu dekade ke dekade lain sejak Perang Dunia Kedua," kata Richard Aldrich, penulis dari sejarah GCHQ (Kantor Pusat Komunikasi Pemerintah ) yang baru saja diterbitkan.

Ribuan file itu mengungkapkan percakapan pribadi dan korespondensi antara warga negara Soviet, personil militer, pejabat Partai Komunis dan para pemimpin agama pada periode yang berlangsung dari 1946 hingga 1949.

Sadapan dari AS dan Inggris ini memberikan rasa kehidupan dalam Uni Soviet pada waktu itu, mulai dari statistik kejahatan lokal hingga rincian masalah ekonomi dan melarang lagu-lagu rakyat setempat.

Ada juga wawasan ke dalam birokrasi negara Soviet, dan dalam satu dokumen ada laporan dari seorang kolonel di Kementerian Dalam Negeri yang menjadi sasaran penyelidikan pengadilan.

Laporan berbicara tentang pertemuan "bermasalah" dan satu orang yang dikutip mengatakan: "Dari perwakilan Moskow, tidak ada yang tersisa."

Dr Hampshire berkata: "Untuk setiap sejarawan Uni Soviet dan ekor era Stalin, ini akan memberikan Anda pandangan menakjubkan dari apa yang terjadi.

"Ini memberi Anda sebuah indikasi sejauh mana pusat di Moskow memaksakan dirinya pada tingkat terkecil sekalipun di seluruh Uni Soviet."

Aliansi intelijen ini masih beroperasi hari ini, dan sejak penggabungan Australia, Kanada dan Selandia Baru, aliansi ini telah dikenal sebagai "lima mata".

Awal tahun ini, dalam wawancara dengan BBC, direktur GCHQ, Iain Lobban menjelaskan cara kerjanya sekarang.

"Hal ini didasarkan pada berbagi informasi dimana saja ketika itu mungkin untuk dilakukan," katanya.

"Jadi di mana kita bisa menyimpan setiap pekerjaan satu sama lain, di mana kita bisa menyatukan upaya analitik bersama-sama, di mana kita benar-benar dapat menghasilkan pelaporan untuk kebaikan bersama, maka kami akan melakukannya." (iw/bbc) www.suaramedia.com



Ratusan demonstran pro-Palestina berkumpul di Pelabuhan Oakland, di California, pada hari Ahad kemarin (20/6) dengan tujuan berharap dapat menunda sebuah kapal kargo Israel merapat dan melakukan aktivitas bongkar muat di dermaga, surat kabar San Francisco Chronicle melaporkan.

Polisi memperkirakan lebih dari 500 demonstran berkumpul pada Ahad pagi kemarin di Berth 58, di mana sebuah kapal kargo yang dioperasikan oleh perusahaan pelayaran Israel Zim dijadwalkan akan merapat di dermaga.

Kerumunan orang mulai berkurang pada pukul 10 pagi, namun sekitar 200 demonstran kembali pada sore hari ketika kapal kedua dijadwalkan akan kembali merapat.

Demonstrasi itu diadakan untuk memprotes blokade Israel terhadap Jalur Gaza.

"Tujuan kami adalah untuk memboikot kapal ini selama 24 jam, dan kami berhasil melakukan itu," kata Richard Becker, dengan the ANSWERCoalition, salah satu kelompok yang mengorganisir demonstrasi.

Menurut Becker, kedatangan kapal tertunda dari pagi sampai akhirnya tiba sekitar pukul 18:00, dengan kesepakatan kapal boleh merapat namun dilarang untuk membongkar muatan kapal, dengan alasan keamanan.

Seorang wakil dari Konsulat Israel di San Francisco, mengatakan kapal selalu tiba pukul 6 sore untuk melakukan aktivitas bongkar muat.

Dan pada sore hari, dua pendukung Israel tiba dan melambai-lambaikan bendera Israel dan Amerika di seberang jalan dari demonstran yang pro-Palestina. (fq/hrtz)

ANKARA (Berita SuaraMedia) – Serangan oleh Partai Pekerja Kurdistan (PKK) terhadap sebuah pos militer di dekat kota Semdinli – wilayah pegunungan di mana perbatasan Turki, Irak, dan Iran bertemu – menimbulkan pertanyaan tentang efisiensi berbagi intelijen mengenai aktivitas teroris antara AS dan Turki, yang baru-baru ini disebut Washington dilakukan secara kontinyu.

Sejumlah surat kabar Turki pada hari Minggu (20/6) mempertanyakan apakah AS telah berbagi intelijen langsung sebelum serangan terbaru itu, tanpa memberikan jawaban pasti, dan meminta opini analis militer tentang isu ini.

Armagan Kuloglu, mantan jenderal dan analis militer, mengatakan bahwa tampaknya ada kekurangan di dalam intelijen dan bahwa pergerakan pemberontak seharusnya bisa terdeteksi. Di antara koran-koran Turki, harian Miliyet menanyakan bagaimana mungkin tidak bisa mendeteksi 250-300 anggota PKK yang masuk ke wilayah itu dan meluncurkan serangan jika berbagi intelijen secara langsung dilakukan kontinyu.

Sebagian besar laporan ingat bahwa Mayor Jenderal Fahri Kir, kepala operasi keamanan internal militer Turki, menyatakan pada hari Jumat, sehari sebelum serangan mematikan itu, bahwa "mekanisme berbagi intelijen dengan otoritas milter AS bekerja dalam cara yang sangat sukses."

Dalam pernyataannya di konferensi pers, Kir juga mengatakan, "Tidak akan terjadi masalah apapun dalam persoalan ini."

Setelah menyebutkan pernyataan Kir itu, sebuah portal berita online, www.t24.com.tr, menanyakan pertanyaan mendasar tentang isu itu pada hari Sabtu, "Bagaimana bisa 300 anggota PKK, yang berada di disekitar unit militer dan yang berhasil menyusup ke depan, tidak terlihat? Jika ada masalah dalam berbagi intelijan, bagaimana bisa kelompok teroris sebesar itu tidak terlihat? Apa tidak ada Heron, sistem penglihatan malam, dan kamera thermal? Bukankah mekanisme trilateral antara AS, Irak, dan Turki bekerja dengan baik?"
Setidaknya 22 orang, termasuk 10 tentara Turki, tewas dalam bentrokan antara pasukan Turki dan pasukan pemberontakan Kurdi di bagian tenggara negara tersebut.

Dua belas anggota dari PKK juga terbunuh dalam pertempuran di provinsi Hakkari dekat perbatasan Irak.

Pertempuran itu dipicu oleh serangan PKK terhadap pos militer Turki di dekat kota Semdinli, di mana 14 prajurit terluka.

Militer merespon serangan itu sesaat setelahnya, mengirimkan pasukan untuk memperkuat area perbatasan. Jet tempur Turki mengebom target PKK di seberang perbatasan di Irak.

"Pasukan dikirim ke kawasan itu dan sepanjang malam bantuan diberikan ke zona konflik oleh helikopter dan artileri serang," ujar militer.

"Secara terpisah, angkatan udara mengenai target yang diidentifikasi di kawasan utara Irak."

PKK mengonfirmasi bahwa mereka telah melakukan serangan mematikan pada pasukan Turki.

"Operasi militer dilakukan pagi ini di daerah Semdinli, di provinsi Turki, dan pesawat perang Turki mulai menyerang distrik Khwakorek di dalam wilayah Irak," ujar Ahmed Denis, juru bicara PKK.

Terjadi peningkatan konfrontasi antara PKK dan militer di bagian tenggara Kurdi minggu-minggu belakangan ini.

Pasukan Turki melakukan serangan darat mereka yang pertama pada hari Rabu (16/6) ke wilayah utara Irak dalam dua tahun lebih, menyusup masuk dua kilometer ke dalam provinsi Dohuk.

PKK menghentikan gencatan senjata unilateral selama satu tahun dan kembali melakukan serangan terhadap pasukan Turki.

Lebih dari 40,000 orang telah terbunuh sejak PKK meluncurkan kampanye bersenjatanya melawan negara Turki di tahun 1984. (rin/tz/wb/alj) www.suaramedia.com

NORTHERN TERRITORY, AUSTRALIA (Berita SuaraMedia) – Seorang wanita Muslim mengeluh setelah disuruh untuk melepaskan jilbabnya selama sebuah wawancara pekerjaan di sebuah rumah sakit daerah Utara.

Para petugas Komisi Anti-Diskriminasi Daerah Utara telah meluncurkan sebuah penyelidikan, kantor berita NT News melaporkan.

Bertindak sebagai komisaris, Lisa Coffey menolak untuk membahas kasus tersebut – atau bahkan mengiyakan bahwa sebuah keluhan telah diajukan.

Namun dipercaya bahwa seorang dokter meminta wanita muda tersebut untuk melepaskan jilbabnya selama wawancara untuk sebuah pekerjaan administrasi di Rumah Sakit Royal Darwin.

Ia menolak – dan mengajukan keluhan resmi.

Dokter tersebut dipercaya memilih seorang pengacara untuk mewakilinya.

Mendiskriminasi seseorang karena agamanya, hukumnya adalah ilegal.

Namun apakah bersikeras memaksa seorang wanita Muslim melepas jilbabnya adalah bersifat diskriminasi belum diujikan di Northern Territory.

Presiden Masyarakat Islam NT Adil Jamil mengatakan bahwa kurang dari 2 persen wanita di daerah itu memakai jilbab.

Ia mengatakan bahwa hal ini dianggap "menyinggung" untuk meminta seorang wanita melepas jilbab mereka.

"Ini melanggar kepercayaan agamanya," ia mengatakan.

"Ini dapat dengan serius menyakiti batin mereka sendiri.

"Di bawah pandangan Islam, seorang wanita tidak dapat membuka jilbab mereka kepada pria lain kecuali suaminya dan saudara-saudara lelaki."

Jamil mengatakan bahwa terdapat sekitar 2.000 Muslim di NT dari 23 negara.

Tiga perempat dari mereka adalah peninggalan Pakistan, Bangladesh dan Indonesia.

Jamil mengatakan bahwa sedikit dari wanita Territory yang mengenakan jilbab.

"Mereka melihat hal ini sebagai memaksakan kepercayaan keagamaan dan kepuasan batin," ia mengatakan.

Di belahan benua lainnya, AS, insiden serupa juga terjadi ketika seorang mahasiswi Muslim ditolak kerja di gerai makanan cepat saji McDonalds di Crooks Road.

Nasihah Barlaskar mengatakan bahwa ia melakukan wawancara kerja pada tanggal 27 Maret dan terkejut ketika seorang supervisor wanita kulit putih bertanya apakah maksudnya mengenakan "benda itu" di tempat kerja, merujuk pada jilbab yang dipakainya.

Direktur operasional McDonalds wilayah Michigan, Joan Rachelson, mengatakan bahwa rantai restoran itu memiliki kebijakan ketat yang melarang segala bentuk diskriminasi atau pelecehan dalam mempekerjakan, memberhentikan, atau aspek pekerjaan lainnya.

Barlaskar mengatakan bahwa ia membutuhkan pekerjaan itu untuk membiayai kuliah dan untuk membantu keluarga karena ayahnya kehilangan pekerjaan sebagai supir taksi pada musim gugur lalu. Namun Barlaskar mengetahui bahwa ia tidak mendapatkan pekerjaan itu ketika ia menelepon sang supervisor tiga hari kemudian.

"Ia mengatakan bahwa ia memutuskan untuk menerima orang lain tapi saya rasa saya telah didiskriminasi karena jilbab ini," ujar Barlaskar.

"Kami mendesak McDonalds untuk mengambil tindakan cepat menyesuaikan kebijakan ketenagakerjaannya dengan pedoman hukum yang telah lama ada tentang akomodasi relijius di tempat kerja," ujar Dawud  Walid, direktur eksekutif CAIR-Michigan. (ppt/hs/sm) www.suaramedia.com

WASHINGTON (Berita SuaraMedia) – AS mengatakan tidak akan menarik pasukannya besar-besaran dari Afghanistan pada bulan Juli 2011, bertentangan dengan janji yang sebelumnya dilontarkan oleh Presiden Barack Obama.

Dalam sebuah wawancara dengan kantor berita FoxNews pada hari Minggu (20/6), Menteri Pertahanan AS Robert Gates menepis pernyataan bahwa Washington akan, sesuai dengan ketetapan tenggat waktu dari Obama, memulai penarikan pasukan yang cukup signifikan di bulan Juli 2011.

"Itu belum diputuskan," ujar Gates.

Dia juga menekankan bahwa keputusan apa pun akan dibuat berdasarkan situasi di Afghanistan.

Pernyataan serupa telah diucapkan oleh Kepala Staf Gedung Putih Rahm Emanuel, yang mengatakan dalam wawancara dengan kantor berita ABC bahwa ukuran pengurangan akan bergantung pada kondisi di lapangan.

"Semua orang tahu adanya tenggat waktu. Dan tenggat waktu itu adalah tanggal yang berkenaan dengan pasukan yang merupakan bagian dari 30,000 tentara tambahan," ujarnya.

"Apa yang akan ditentukan pada tanggal itu atau menjelang tanggal itu adalah skala dan lingkup pengurangan."

Komentar itu datang di saat pasukan pimpinan AS bergulat dengan meningkatnya militansi di Afghanistan ketika gelombang kekerasan memakan lebih banyak korban dari pasukan mereka.

Jenderal David Petraeus, komandan pasukan AS di Timur Tengah, mengatakan minggu lalu bahwa dalam menetapkan tenggat waktu untuk pergerakan itu, pesan Obama adalah "salah satu hal yang mendesak, bukan karena Juli 2011 adalah saat kita berlomba untuk keluar."

Petraeus mengatakan bahwa dirinya berkewajiban untuk merekomendasikan penundaan pengiriman ulang pasukan jika menurutnya itu diperlukan.

Awal bulan Juni, setelah sebuah pertemuan di Brussels, Gates mengatakan bahwa Washington telah meremehkan volatilitas situasi di Afghanistan setelah jatuhnya Taliban tahun 2001 dan belum mengirimkan pasukan dalam jumlah yang cukup.

Komentar Gates adalah indikasi terbaru bahwa besaran penarikan, jika bukan tenggat waktunya sendiri, adalah subyek debat internal yang menegangkan ketika kampanye NATO melawan Taliban berjalan lebih lambat dari  yang diharapkan.

Wakil Presiden Joe Biden, yang merasa skeptis terhadap pembangunan militer AS di Afghanistan, dikutip memberitahu penulis Jonathan Alter baru-baru ini bahwa, "Di bulan Juli 2011, kau akan melihat begitu banyak orang keluar. Saya berani bertaruh."

Gates mengatakan belum mendengar komentar Biden secara pribadi jadi tidak akan menganggapnya serius.

"Laju dan jumlah penarikan akan berdasarkan sejumlah persyaratan," ujarnya.

Dia mengatakan ada kesepakatan bersama bahwa persyaratan itu akan ditentukan oleh komandan AS, Jenderal Stanley McChrystal, perwakilan senior NATO di Kabul dan pemerintahan Afghan.

McChrystal mengatakan bahwa meskipun kampanye utama di Kandahar berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan, akan jelas pada bulan Desember apakah tindakan tersebut dan strategi kontrapemberontakannya berhasil.

Gates mengeluhkan adanya "ketergesaan untuk menilai yang mengabaikan fakta bahwa kita masih membetulkan letak semua komponen dan membutuhkan sedikit lebih banyak waktu untuk mengerjakannya."

Tapi, anggota dewan dari ketua partai menyuarakan kekhawatirannya tentang situasi di Afghan.

Diane Feinsterin, ketua Komite Intelijen Senat, mengatakan bahwa 40% dari negara itu dikendalikan oleh Taliban, dan konfliknya menyebar dengan kelompok-kelompok perlawanan menyatukan kekuatan dan berbagi pengetahuan mereka.

"Ada satu kebenaran yang tidak dapat dibantah: Taliban mengalami kemajuan," ujarnya.

"Jika kau kehilangan Afghanistan, Pakistan adalah langkah selanjutnya. Itu akan buruk karena Pakistan adalah negara nuklir." (rin/pv/yh) www.suaramedia.com

TEL AVIV (Berita SuaraMedia) - Angkatan Pertahanan Israel telah mengeluarkan "klarifikasi" mengakuinya audio yang dimanipulasi pada penyerbuan armada bantuan Freedom Flotilla yang menuju Gaza.

Pada hari Jumat lalu, IDF merilis audio dari apa yang dikatakan adalah pertukaran percakapan antara perwira Angkatan Laut Israel dan kru dari Marmara Mavi, kapal utama dalam armada tersebut. Di dalamnya, suara bisa didengar mengatakan tentara Israel untuk "Kembali ke Auschwitz" dan "Kita membantu orang-orang Arab melawan Amerika Serikat - jangan lupakan 9/11, teman-teman."

Tapi armada penumpang dengan cepat mulai memperdebatkan kebenaran dari klip audio itu.

Wartawan Investigasi Max Blumenthal melaporkan bahwa kepala gerakan Free Gaza, Huwaida Arraf, bisa terdengar di rekaman video menyatakan hak armada untuk memasuki wilayah Gaza. Tapi Arraf mengatakan dia tidak ada dikapal Mavi Marmara, dan sebenarnya berada di atas kapal kapal lain, Challenger One.

Anggota Armada lain yang suaranya dapat didengar di audio, Ali Abunimah, juga mengatakan ia tidak kapal Marmara Mavi.

Menurut laporan berita dari kantor berita Ma'an Palestina, Arraf menyarankan audio yang muncul di klip tersebut berasal dari pertukaran sebelumnya antara dia dan pasukan Israel, tapi dia mengakui bahwa dia "tidak bisa memastikan" dia tidak mengulangi pernyataannya selama pertukaran dengan IDF selama penyerangan.

Pada hari Sabtu, blog publik IDF mengeluarkan "koreksi" menjelaskan bahwa rekaman itu telah diedit "sehingga memudahkan orang untuk mendengarkan pertukaran."

IDF menyatakan:

Ada pertanyaan mengenai keaslian rekaman serta atribusi pada sebuah pertukaran komunikasi dengan Marmara Mavi.

Jadi untuk memperjelas: audio diedit bawah untuk memotong periode keheningan melalui radio serta komentar yang susah dimengerti sehingga memudahkan orang untuk mendengarkan pertukaran pembicaraan. Kami sekarang telah mengunggah seluruh segmen 5 menit dan 58 detik di mana pertukaran percakapan terjadi dan komentar-komentar yang dibuat.

Transmisi ini awalnya mengutip bahwa kapal Mavi Marmara sebagai sumber pernyataan ini, namun karena saluran terbuka, kapal tertentu atau kapal dalam "Freedom Flotilla" yang menanggapi Angkatan Laut Israel tidak dapat diidentifikasi.

Versi terbaru audio IDF itu sebenarnya adalah versi ketiga organisasi militer telah dirilis.  Versi  pertama  audio kejadian, klip satu menit yang dirilis pada hari serangan itu, tidak termasuk salah satu komentar kontroversial - tidak ada suara yang dapat didengar mengatakan "Kembali ke Auschwitz" atau "ingat 9/11."

Kritikus Israel telah menyarankan klip audio - dan pengakuan IDF bahwa itu telah diedit - menunjukkan militer Israel terlibat dalam kampanye propaganda untuk mendiskreditkan armada sebagai upaya kemanusiaan. Dan catatan Blumenthal bahwa audio IDF telah menapai tangan-tangan media AS sebagai fakta.

"Beberapa jam setelah IDF mengirimkan rekaman itu masuk, outlet berita utama melaporkan  klip audio tersebut seolah-olah itu adalah pengungkapan yang mengejutkan dan bukan skandal  pemalsuan masih belum mengoreksi diri mereka sndiri," meminta maaf untuk mendistribusikan video yang mengejek anggota armada itu, yang sembilan di antaranya meninggal ketika pasukan Israel menyerbu armada pada hari Senin.

Video, sebuah satir berjudul "We are the World," menunjukkan sekelompok penyanyi menyatakan, "Tidak ada orang sekarat / Jadi yang terbaik yang bisa kita lakukan / Adalah membuat kebohongan terbesar dari semua / Kita harus terus berpura-pura dari hari ke hari bahwa di Gaza / ada krisis kelaparan dan wabah."

Setelah gelombang protes dari kritikus menunjukkan bahwa PBB telah menyatakan bahwa Gaza di tengah-tengah krisis kemanusiaan, Kantor Pers Pemerintah Israel menyatakan, "Karena salah paham pada pihak kami, sebelumnya (Jumat) kami tidak sengaja menerbitkan sebuah video link yang telah dikirim untuk kami teliti. ... Itu tidak dimaksudkan untuk dirilis secara umum. Isi video sama sekali tidak mewakili kebijakan resmi baik  Kantor Pers Pemerintah atau Negara Israel." (iw/il) www.suaramedia.com


Sebuah video satir menyertakan rekaman asli serbuan Israel pada relawan kemanusiaan. ''We con the world'' (kami tipu dunia), katanya

Hidayatullah.com--Pemerintah Israel meminta maaf setelah kantor persnya mengemailkan video kelakar mengenai konvoi yang mencoba merapat di Gaza.

Video tersebut memperlihatkan orang-orang yang berpakaian seperti aktivis perdamaian. Mereka menyanyikan ''we con the world'' (kami tipu dunia'' dengan iringan musik lagu We Are the World).

Seorang jurubicara menyatakan video tersebut tidak mencerminkan pandangan pemerintah Israel.

Video itu memuat rekaman video serangan Israel terhadap konvoi kapal kemanusian beberapa hari lalu yang menelan sembilan korban jiwa aktivis freedom flotilla.

Dalam klip, yang meniru video yang dibuat untuk lagu amal keluaran tahun 1985 itu, penyanyi mengenakan busana yang mewakili sosok kapten konvoi, aktivis perdamaian Barat, dan orang-orang Arab yang mengenakan keffiyeh.

"There's no people dying, so the best that we can do, is create the greatest bluff of all (Tidak ada orang yang sekarat, jadi yang paling bisa kita lakukan adalah menciptakan kebohongan terbesar)", demikian kata-kata yang dinyanyikan dalam video tersebut.

"We are peaceful travellers, we're waving our own knives (Kami pengelana damai, kami lambaikan pisau kami)," demikian lanjut lagu dalam video yang dikirimkan melalui e-mail itu.

Lagu itu kemudian disertai koor ''we con the world, we con the people. We'll make them all believe the IDF (Israel Defense Forces) is Jack the Ripper (Kami tipu dunia, kami tipu masyarakat. Kami membuat mereka semua yakin IDF (Angkatan Bersenjata Israel) adalah Jack The Ripper."

Dalam salah satu adegan, penyanyi yang tampil sebagai kapten konvoi menyanyikan bait ''Ithbah al-Yahud'' yang berarti ''habisi orang-orang Yahudi'' dalam bahasa Arab.

Video tersebut disisipi dengan penggalan rekaman serbuan pasukan komando Israel terhadap Mavi Marmara, kapal Turki yang menjadi pemimpin konvoi bantuan yang berniat menerobos blokade Israel dan Mesir terhadap Gaza pekan lalu.

'Lucu'

Sembilan penumpang di kapal itu terbunuh ketika pasukan komando Israel menyerbu kapal sipil tersebut.

Keenam kapal dalam konvoi itu ditarik ke pelabuhan Ashdod dan para aktivis dideportasi.

Mark Regev, jurubicara kantor Perdana Menteri Israel, mengatakan kepada koran Inggris Guardian: "Saya panggil anak-anak saya agar menontonnya, sebab saya rasa ini lucu. Itulah yan dirasakan orang Israel. Namun, pemerintah tidak terlibat di dalamnya.''

Video itu sendiri dibuat oleh situs internet satir Ibrani Latma.co.il, yang dikelola oleh deputi editor koran Jerusalem Post, Caroline Glick.

Di situs internetnya, Caroline Glick mengatakan klip menampilkan kapten, kru dan penumpang ''kapal cinta'' Turki-Hamas dalam penjelasan musikal mengenai bagaimana mereka menipu dunia.''

"Kami rasa ini kontribusi penting Israel dalam diskusi mengenai peristiwa-peristiwa baru-baru ini," tulis Glick.

Namun, video kelakar itu juga dikecam.

"Video itu usaha memuakkan untuk memanfaatkan dalih Israel mengenai petaka konvoi," kata Didi Remez dari halaman blog Coteret.[bbc/hidayatullah.com]

Iran: Tak Ada Perundingan Nuklir Jika Ada Sanksi
Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad. (REUTERS/Lucas Jackson/&)
Istanbul (ANTARA News) - Iran tidak akan setuju membahas soal program nuklirnya jika Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa (DK PBB) mengeluarkan sanksi-sanksi terbaru, kata Presiden Mahmoud Ahmadinejad, Selasa.

"Saya telah katakan bahwa pemerintah Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya keliru jika mereka berpikir mereka bisa mengacungkan tongkat resolusinya dan lalu duduk berbicara dengan kami. Tindakan demikian tidak akan terjadi," kata pemimpin Iran itu dalam konferensi pers di Istanbul.

"Kami akan berbicara dengan siapapun jika ada penghargaan dan kejujuran, namun jika seseorang ingin bicara dengan kami dengan cara kasar dan sikap mendominasi, jawabannya sudah jelas diketahui," katanya menambahkan.

Peringatannya itu terjadi pada saat DK PBB sedang mempersiapkan penyelenggaraan konsultasi-konsultasi baru yang dilakukan secara tertutup, Selasa, membahas resolusi sanksi keempat terhadap Iran setelah ke-15 anggotanya gagal mencapai konsensus dalam sidang Senin.

Kelima anggota tetap DK - Inggris, Prancis, China, Rusia dan Amerika Serikat - selaku sponsor bersama rancangan sanksi.

Mereka bertekad akan menyelenggarakan pemungutan suara pada akhir pekan ini.

Ahmadinejad, yang berada di Turki untuk menghadiri konferensi tingkat tinggi (KTT) kelompok keamanan Asia, menyerukan kepada negara-negara Barat untuk tidak membubarkan kesepakatan pertukaran bahan bakar nuklir yang diprakarsai oleh Turki dan Brazil bulan lalu.

Kesepakatan itu "adalah kesempatan bagi pemerintah AS dan sekutu-sekutunya ...dan saya harap, mereka mengambil peluang itu untuk digunakan secara baik. Kesempatan itu tidak akan berulang," katanya menegaskan.

AS dan negara kuat dunia lainnya memberikan reaksi dingin terhadap kesepakatan itu, yang membuat Iran menyepakati akan mengapalkan 1.200 kilogram uranium hasil pengayaan rendah ke Turki untuk mendapatkan bahan bakar uranium hasil pengayaan tinggi untuk sebuah reaktor risetnya di Teheran, AFP melaporkan.

(Uu.SYS/H-AK/S008/S026)

Teheran (ANTARA News) - Stasiun televisi milik pemerintah Iran pada hari Senin menampilkan video yang mereka sebut "ilmuwan nuklir yang hilang sedang memberi pernyataan bahwa dia diculik dan dibawa ke Amerika Serikat lalu mendapat siksaan".

Shahram Amiri, peneliti di universitas dan bekerja pada Organisasi Energi Atom Iran, menghilang saat berziarah ke Arab Saudi setahun lalu. Teheran menuduh pemerintah Riyadh telah menyerahkan ilmuwan itu ke Amerika Serikat.

Pemerintah Saudi telah membantah tuduhan itu dan mengemukakan mereka sudah mencari Amiri.

"Saya diculik diri Madinah oleh operasi gabungan Intelijen AS ...dan Arab Saudi," kata Amiri yang berbicara dalam bahasa Persia. Dalam tayangan itu dia duduk di belakang komputer dan mengenakan headphones.

Televisi Iran mengemukakan bahwa video itu diserahkan  oleh badan intelijen Iran, tapi penyerahannya tidak dirinci.

"Saya diberi suntikan bius. Saat tersadar, saya sudah dibawa ke Amerika Serikat. Selama delapan bulan saya disekap di Amerika, saya jadi sasaran penyiksaan yang kejam dan mendapat tekanan psikologis dari kelompok-kelompok intelijen Amerika," kata Amiri di video tersebut.

Dia mengemukakan dipaksa melakukan wawancara "dengan sumber media AS untuk menyatakan bahwa saya adalah tokoh penting dalam program nuklir Iran dan saya mencari suaka politik atas keinginan sendiri."

Amiri dalam video itu menyebut dirinya berada di Arizona dan rekaman itu dilakukan pada tanggal 5 April tahun ini. Dia meminta aktivis HAM agar membantunya kembali ke Iran.

Tiga pekan setelah Amiri hilang, pemerintah Iran mengungkapkan keberadaan instalasi kedua pengayaan uranium, di sekitar kota Qom. (ANT/A038)


Setelah Iran mengumumkan akan mengirim kapal penuh dengan bantuan kemanusiaan ke Gaza, Israel mengatakan tidak akan mengizinkan kapal-kapal Iran masuk ke pesisir Gaza.

Direktu Bulan Sabit Merah Iran Abdolraoof Adibzadeh Senin kemarin mengatakan bahwa dua kapal bantuan Iran telah membawa "makanan dan pasokan medis" bagi rakyat Gaza dan akan berlayar ke wilayah itu pada pekan mendatang.

"Iran juga mempersiapkan untuk mengirimkan sebuah kapal rumah sakit angkatan laut bagi rakyat Gaza, yang akan memiliki dokter, perawat dan semua peralatan medis yang diperlukan untuk operasi darurat dan prosedur," tambah Adibzadeh.

Israel cepat bereaksi terhadap pengumuman Iran tersebut dengan pernyatan seorang pejabat diplomatik Israel yang mengatakan bahwa tidak akan ada kapal Iran yang akan diizinkan ke Gaza, seperti dilaporkan Jerusalem Post.

"Jika kita tidak membiarkan sebuah kapal Irlandia mencapai Gaza, kita tentu tidak akan membiarkan kapal Iran untuk lewat," kata pejabat Israel itu hari Senin kemarin.

Pejabat itu lebih lanjut menunjukkan bahwa setiap pengiriman dari Iran ke Gaza akan menjadi perhatian utama, mengklaim bahwa Iran memiliki catatan gelap atas penyediaan senjata kepada Hamas dan Hizbullah.

Keputusan Iran untuk mengirimkan pasokan bantuan datang setelah militer Israel menyerang armada Kebebasan di perairan internasional di Laut Mediterania awal pada tanggal 31 Mei lalu.(fq/prtv)



Presiden Iran menyebut "kejatuhan semakin dekat" atas rezim Israel saat mereka melakukan pembantaian terhadap sembilan aktivis kemanusiaan Turki dalam serangan terhadap konvoi bantuan ke Gaza.

Usai menunaikan shalat Isya di masjid Abu Ayyub al-Ansari Istanbul pada hari Senin kemarin (7/6), Presiden Mahmud Ahmadinejad menekankan bahwa negara "penindas" telah mencapai titik akhir dan rezim zionis dan para pendukungnya sedang berada di ambang kehancuran," lapor kantor berita Iran IRNA.

Ahmadinejad berada di Turki untuk menghadiri KTT Langkah-langkah Interaksi dan Pembangunan Kepercayaan Diri di Asia (CICA).

Dikatakannya, dengan kekerasan kaum arogan telah memaksakan eksistensi rezim zionis terhadap bangsa-bangsa di kawasan timur tengah, sepanjang lebih dari enam puluh tahun, rezim ilegal ini telah melakukan banyak kejahatan, dan serangan terhadap konvoi kebebasan adalah aksi paling baru rezim ageresor ini.

Dia juga mengatakan kedua pemimpin negara Iran-Turki berada dalam "nilai-nilai kesopanan dan moral" dan menekankan, "Biarkan semua tahu bahwa hari ini, hubungan bilateral kita adalah sangat ramah, persaudaraan, dan mendalam."

Ahmadinejad juga menyatakan belasungkawanya kepada keluarga korban dari sembilan aktivis Turki yang wafat dalam serangan Israel terhadap armada kebebasan. (fq/prtv/irib)



Ikhwanul Muslimin Yordania hari Selasa (8/6) menyampaikan bahwa mereka berencana untuk mengirim konvoi bantuan ke Gaza yang membawa bahan bangunan untuk membangun kembali 100 rumah yang hancur di Jalur Gaza selama agresi Israel pada tahun 2008 lalu.

Kelompok itu mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka telah meminta kepada Duta Besar Mesir di Amman, agar memfasilitasi masuknya konvoi bantuan mereka ke Jalur Gaza melalui perbatasan Rafah.

Ikhwan Yordan dalam pernyataan mereka kepada duta besar Mesir di Amman, menyatakan bahwa tujuan mereka ke Gaza adalah untuk membangun kembali 100 rumah yang hancur oleh agresi brutal Yahudi beberapa waktu lalu di Gaza, sambil menjelaskan bahwa mereka akan menuju Gaza menyertai konvoi dari Yordania.(fq/alqudsalarabi)

LONDON (Berita SuaraMedia) – Penjara dapat berisi ekstrimisme diantara tahanan Muslim kecuali jika staf penjara bekerja lebih keras untuk menggabungkan mereka, sebuah laporan telah memperingatkan.

Sebuah pendekatan dimana semua Muslim diperlakukan sebagai resiko yang berpotensi membentuk "teroris" menjadi sebuah "ramalan yang jadi nyata dengan sendirinya" dengan mengembangkan adanya pengasingan, Kepala inspektur Penjara mengatakan.

Dame Anne Owers memperingatkan keamanan lebih baik disumberdayakan dan dipahami dari pada keanekaragaman dan kebutuhan keagamaan dari tahanan Muslim.

Otoritas penjara mengatakan bahwa semua tahanan diperlakukan dengan hormat dan penuh kesopanan.

Tiga tahun yang lalu Lembaga Penjara mulai melatih stafnya untuk mengidentifikasi dan merespon tanda-tanda radikalisasi.

Dalam sebuah laporan yang memfokuskan pada pengalaman dari pelanggar hukum Muslim, ia mengatakan bahwa penjara telah menjadi sebuah "jarak yang cukup" dalam memperbaiki fasilitas- faslitas untuk kelompok keagamaan yang berbeda.

Ia mengatakan: "Akan menjadi naif untuk menyangkal bahwa terdapat Muslim yang memegang pandangan ekstrimis di antara penghuni penjara, atau yang mungkin tertarik kepada mereka dengan berbagai alasan. Tetapi hal tersebut tidak menganjurkan untuk sebuah pendekatan yang diiming-imingi keamanan bagi tahanan Muslim pada umumnya.

"Sangat penting bahwa Layanan Manajemen Pelanggar Hukum Nasional (NOMS) mengembangkan sebuah strategi, dengan dukungan dan pelatihan, untuk pengikutsertaan efektif staf dengan Muslim sebagai tahanan individual dengan resiko dan kebutuhan yang spesifik, dari pada hanya sekedar sebagai bagian dari sebuah kelompok terpisah dan bermasalah.

"Tanpa semua itu, terdapat sebuah resiko sebenarnya dari ramalan yang jadi nyata dengan sendirinya, bahwa pengalaman tahanan tersebut akan menciptakan atau membentengi pengasingan dan ketidakpuasan, sehingga tahanan tersebut dibebaskan ke dalam komunitas anak muda yang lebih cenderung melanggar, atau bahkan memeluk ekstrimisme."

Laporan yang berjudul Pengalaman Tahanan Muslim, menemukan bahwa terdapat sekitar 10.300 Muslim di penjara sekitar Inggris dan Wales.

Laporan tersebut mengatakan bahwa meskipun penahanan beberapa tersangka teroris kelas atas, sedikitnya satu diantara seratus tahanan Muslim telah didakwa melakukan terorisme.

Tahanan Muslim ditemukan memiliki sebuah pengalaman negatif di penjara, sering karena rasa takut akan keselamatannya sendiri.

Laporan Dame Anne juga mengatakan bahwa Islam memainkan sebuah peranan positif dan bersifat rehabilitasi di dalam banyak kehidupan para tahanan, meskipun para staff menaruh curiga atas tindakan-tindakan keagamaan.

Juliet Lyon, dari the Prison Reform Trust, mengatakan bahwa Tahanan Muslim "terlalu sering" dilihat sebagai tahanan yang berpotensi ekstrimis.

"Tanpa dukungan yang tepat dari semua tahanan, tanpa memperhatikan latar belakang ras atau keagamaan mereka, mereka cenderung dimusuhi dari masyarakat," ia memperingatkan.

Direktur umum NOMS Phil Wheatley menyangkal bahwa lembaga tersebut telah mengadopsi sebuah pendekatan yang diiming-imingi keamanan bagi para tahanan Muslim.

"Kebijakan gamblang kami bahwa semua tahanan diperlakukan dengan hormat dan penuh kesopanan, mengetahui keanekaragaman kebutuhan dari sebuah penghuni penjara yang kompleks, dan bahwa praktik keagamaan yang sah di penjara sangatlah didukung," ia mengatakan.

Para staff dilatih tentang masalah keimanan, dan "kemajuan yang cukup" telah dibuat dalam pertemuan kebutuhaan keagamaan tahanan Muslim, ia mengatakan.

Benar bahwa usaha semacam itu melengkapi usaha yang kita kerjakan untuk mengatur resiko-resiko ekstrimisme di penjara, yang merupakan sebuah tanggapan yang sebanding terhadap kekhawatiran keamanan," ia menambahkan. (ppt/lbe/bbc) www.suaramedia.com

Powered by Blogger.