Washington (Berita SuaraMedia) - Amerika Serikat  berencana menawarkan jet tempur dan helikopter canggihnya senilai 60 miliar dolar AS kepada Arab Saudi dalam upaya menangkal ancaman Iran.

Tawaran penjualan senjata kepada Arab Saudi itu merupakan yang terbesar yang pernah dilakukan AS, kata para pejabat AS, Senin seperti dilaporkan oleh kantor Berita AFP.

Seorang pejabat pertahanan tinggi AS mengatakan, Pemerintahan Presiden Barack Obama akan secara resmi memberitahu kongres pekan ini atau pekan depan terkait latar belakang penjualan senjata tersebut.

Kesepakatan penjualan senjata itu merupakan buah dari perundingan berbulan-bulan AS dengan Arab Saudi yang semakin gelisah dengan persenjataan rudal Iran.

"Jika anda melihat kerajaan (Arab Saudi) itu, ancaman terbesar yang mereka hadapi di Timur Tengah datang dari Iran," kata pejabat yang tidak hendak disebutkan namanya itu kepada wartawan.

"Dan (penjualan) ini memberi mereka kemampuan pertahanan menyeluruh untuk melindungi negaranya sekaligus kemampuan tangkal," katanya.

Pejabat AS itu menilai paket penjualan senjata ini menegaskan aliansi strategis kedua negara kendati ada ketegangan serius terkait diplomasi di Timur Tengah dan paska-insiden 11 September 2001.

"Raja Arab Saudi melihat hal ini sebagai sesuatu yang sangat simbolis terkait dengan hubungan kita dengan Arab Saudi," katanya.

Dalam notifikasinya kepada Kongres AS, Gedung Putih akan mengizinkan Arab Saudi membeli 84 jet tempur F-15 baru dan memberdayakan 70 F-15 lama, serta membeli 70 helikopter "Apache", 72 heli "Black Hawks", dan 36 heli "Little Birds".

Paket penjualan tersebut termasuk misil anti radar HARM, bom JDAM berpresisi tinggi, misil "Hellfire" dan layar canggih yang terpasang pada helm pilot pesawat tempur.

Walaupun Israel dan sekutunya di Kongres AS selalu menentang kasus-kasus penjualan senjata AS kepada Arab Saudi sebelumnya, Gedung Putih berharap kesepakatan penjualan kali ini mulus dan tidak ada keberatan dari Israel.

"Saya rasa Israel akan mengerti bahwa rencana penjualan itu bukan untuk mengancam kualitas kemampuan militer mereka," katanya.

Israel akan mendapat jet tempur yang lebih canggih, yakni F-35 yang merupakan pesawat tempur generasi kelima AS.

Tetapi pejabat Kongres AS mengatakan bahwa penjualan tersebut terbuka untuk mendapatkan pengawasan ketat oleh Kongres dan mungkin akan direvisi.

"Ada kekhawatiran serius bahwa beberapa materi sensitif masuk dalam rencana penjualan itu," kata sumber AFP seraya mengatakan bahwa para pembantu Obama akan menjelaskan perihal penjualan senjata ini kepada staf kongres hari Senin.

"Anda sudah bisa mengira bahwa akan terjadi penahanan dalam rencana ini," kata sumber senior Kongres AS yang lain.

"Penahanan" itu akan datang dari ketua atau anggota Komite Luar Negeri Majelis Rendah atau Komite Luar Negeri Senat yang harus menandatangani kontrak penjualan tersebut, dan dapat mengubah paket penjualan itu.

Masih belum jelas apakah Arab Saudi akan membeli paket penjualan senjata senilai 60 miliar itu secara utuh atau dengan jumlah pesawat yang lebih sedikit, kata seorang pejabat pertahanan.

"Tapi dalam sejarah penjualan senjata, ini adalah paket yang besar. Bahkan notifikasinya termasuk yang terbesar dalam sejarah," katanya.

Pemerintah AS juga sedang berunding dengan Arab Saudi tentang kemungkinan perbaikan armada laut dan misil pertahanannya yang diperkirakan menelan biaya lebih dari puluhan miliar dolar AS, kata pejabat AS itu.

Pihak Arab Saudi melihat kemungkinan untuk membeli kapal-kapal tempur pesisir. Pembicaraan tentang masalah ini di tingkat angkatan laut kedua negara lebih maju dibandingkan dengan perundingan soal misil balistik, katanya.

Pejabat tinggi AS, termasuk komandan Badan Pertahanan Misil AS, berupaya mendorong para pemimpin Arab Saudi agar membeli sistim pertahanan Terminal High Altitude Area Defense systems (THAAD) serta meningkatkan kemampuan misil Patriotnya.

Sebelumnya, laporan media menyebutkan bahwa untuk meredakan kekhawatiran Israel, Obama sempat memutuskan untuk tidak menawarkan apa yang disebut standoff systems kepada Arab Saudi.

Standoff systems itu adalah persenjataan canggih jarak jauh yang bisa dipasangkan ke pesawat F-15 untuk operasi penyerangan terhadap target di darat maupun laut. (ant.afp) www.suaramedia.com

EAST LANSING (Berita SuaraMedia) – Pendeta Florida, Terry Jones mungkin membatalkan rencananya untuk membakar Kitab Suci Al-Qur'an setelah mendapat kecaman dunia internasional, namun agaknya ide tersebut menginspirasi beberapa pendeta lainnya untuk menyulut sentimen anti-Islam.

Akhir pekan lalu, sisa-sisa pembakaran Al-Qur'an  ditemukan di jalan masuk Masjid di East Lansing, Michigan. Beberapa lembar halamannya dirobek, sedang beberapa lembar lainnya dilumuri kotoran.

Sebuah perwakilan komunitas membandingkan aksi pelecehan itu dengan pembakaran salib di pintu sebuah gereja hitam.

Namun meski insiden itu telah diketahui sejak pekan lalu, namun para pemuka agama Islam menunggu hingga beberapa hari untuk membuka kasus itu di depan publik untuk memastikan bahwa peringatan 9/11 berjalan dengan baik dan tanpa kerusuhan.

Agen federal FBI juga telah terjun dalam penyelidikan seputar pelecehan agama itu, menyebutnya memiliki kemungkinan kebencian agama dan pasukan keamanan telah menyiagakan mobil mereka di depan Masjid setelah menerima laporan tersebut.

Menurut pemberitaan, beberapa lembar Al-Qur'an yang dirobek-robek telah ditemukan di sekitar lingkungan itu.

Sebelumnya, di Springfield juga terjadi pembakaran yang dilakukan seorang pendeta di halaman belakang rumahnya.

terlepas dari prahara nasional dan penentangan dari pemimpin Kristen konservatif termasuk pastur Tennessee Tengah, Pendeta Bob Old menjalankan rencananya.

Old dan pendeta Danny Allen berdiri bersama di halaman belakang Old, menjawab apa yang mereka katakan sebagai pesan dari Tuhan.

Dua orang itu membasahi dua salinan Al-Qur'an dan satu teks Islam lainnya dengan cairan pembakar, menyalakannya dan melihat kitab-kitab itu berubah menjadi abu pada peringatan kesembilan serangan teroris yang dilakukan oleh ekstrimis Islam yang membunuh sekitar 3.000 warga Amerika.

Old mengetahui bahwa selain dari Allen ia hanya mendapat sedikit dukungan lain, bahkan dari keluarganya.

"Saya melakukan ini tanpa restu yang lain," ujar Old.

Tiga demonstran berdiri di sepanjang jalan dari rumah Old, membawa papan bertuliskan "Suami saya melawan terorisme dan tindakan Anda menguatkannya" dan "Bangga dengan negriku tapi malu dengan tetanggaku."

Aksi-aksi semacam itu telah menunjukkan bahwa intoleransi keagamaan yang dibawa Terry Jones atau para penirunya tidak akan menggoyahkan pilar persatuan, karena juga tidak sedikit umat non-Muslim yang turut mengecam aksi vandalis itu. (al/cr/sm) www.suaramedia.com

Powered by Blogger.