Apakah Revolusi di Tunisia menjadi tanda berakhirnya era para diktaktor yang bengis dan dimulainya era khilafah Islamiyah ? Apa peranan dakwah dan jihad global di tengah kecamuk politik negeri-negeri Islam yang terpengaruh efek domino dari revolusi Tunisia? Siapkah umat Islam dengan kembalinya khilafah memimpin dunia? 
Revolusi Seorang Pedagang Sayur
Revolusi di Tunisia bermula dari seorang tukang sayur bernama Muhammad Bouazizi, berumur 26 tahun. Muhammad Bouazizi  adalah simbol pemuda tertindas di wilayah Sidi Bouzid Sidi, 300 kilometer sebelah selatan ibukota Tunisia. Pemuda di sana banyak yang bergelar sarjana namun sehari-hari hanya berkeliaran di café-cefe di jalan berdebu kota miskin, menunjukkan kegagalan pemerintah memberikan jaminan pekerjaan yang layak.  
Bouazizi, selama tujuh tahun berjibaku menjadi tukang sayur hingga polisi menyita gerobak sayurnya, 17 Desember 2011 dengan menuduhnya berjualan tanpa izin. Bouazizi sudah mencoba membayar 10 dinar Tunisia dan membayar lagi sekitar 7 dolar, namun ia malah ditampar, diludahi dan ayahnya yang sudah meninggal dihina. Bouazizi tidak terima dihina seperti itu, dan melapor ke markas provinsi berharap didengarkan keluhannya. Namun, sebagaimana biasanya para pejabat bertemu dengannya pun tak mau. Bouazizi pun mengambil langkah sendiri, dia menuangkan bahan bakar ke tubuhnya dan membakar dirinya sendiri. Ternyata Bouazizi tidak hanya membakar dirinya tetapi membakar amarah seluruh rakyat Tunisia atas kediktaktoran rezim yang berkuasa.
Ben Ali, sang diktaktor sempat mengunjungi Bouazizi pada tanggal 28 Desember untuk meredam api yang sudah membakar rakyat Tunisia. Namun, api di dada rakyat Tunisia sudah tidak bisa lagi dipadamkan, dan pada tanggal 14 Januari, hanya 10 hari setelah Bouazizi meninggal, kediktaktoran Ben Ali tergulingkan oleh sebuah intifadhah yang dipicu seorang tukang sayur.
Ben Ali, sang diktaktor Tunisia yang telah berkuasa selama 23 tahun adalah lambang pemerintahan sekuler negara-negara Islam, khususnya dunia Arab yang gagal menjalankan sistem pemerintahannya di segala aspek kehidupan. Pengangguran, liberalisasi ekonomi, pasar bebas adalah sumber masalah bagi Tunisia. Apalagi Tunisia tidak memiliki sember daya alam dan sangat bergantung pada asing. Ditambah lagi pemerintahan yang korup, represif, ketertutupan akses politik, maka lengkaplah penderitaan rakyat Tunisia yang akhirnya berujung kepada perlawanan untuk sebuah perubahan. Sebuah revolusi telah dimulai.
Masa Berakhirnya Para Diktaktor?
Runtuhnya rezim diktaktor Tunisia teryata menjadi kekhawatiran tersendiri bagi semua diktaktor, khususnya di negara-negara Arab. Mereka khawatir rakyat di negara mereka akan menjadikan revolusi di Tunisia sebagai inspirasi, dan itulah yang saat ini terjadi!
Abdul Bari Atwan, editor Al Quds Al Arabi yang berbasis di London menulis sebuah artikel berjudul Terima Kasih Rakyat Tunisia mengungkapkan kekhawatiran para diktaktor Arab atas revolusi Tunisia.
 "Beberapa hari ini merupakan hari yang kritis bagi kebanyakan kediktaktoran pemimpin Arab. Kondisi kehidupan di Tunisia masih lebih baik dibandingkan kebanyakan negara Arab lainnya. Lebih lagi, diktaktor Tunisia tidak terlalu represif dibandingkan di dunia Arab lainnya".
Abdul Bari Atwan, yang pernah menulis buku The Secret History of Al-Qa'ida (bercerita ttentang Syekh Usamah bin Ladin dan Al Qaeda) juga memberikan 'saran' menarik untuk pemerintahan Amerika terkait revolusi di Tunisia. Atwan menyarankan pemerintahan AS menyiapkan sebuah pulau di Kepulauan Pasifik untuk menerima sekutu Arab dan para diktaktor lainnya.
Pakar politik Arab, Hussein Majdoubi juga menganalisa kemungkinan terjadinya revolusi serupa di Tunisia akan merembet ke negara-negara Arab. Penguasa Maroko, Libya, Aljazair, dan Mesir menurutnya merupakan target revolusi selanjutnya. Dia juga kecewa dengan Barat yang terus menerus memberikan dukungan kepada para diktaktor Arab dan mengabaikan keadaan politik yang menyedihkan.
Clovis Maksoud, mantan utusan Liga Arab untuk PBB mengatakan revolusi Tunisia adalah inspirasi dunia Arab yang dipakai oleh negeri-negeri dengan rezim diktator. Dalam sebuah wawancara dengan Press TV, dia mengatakan "revolusi Tunisia merupakan salah satu peristiwa paling inspiratis di dunia Arab di waktu kontemporer ini".
Yvonne Ridley, jurnalis Muslimah yang juga seorang mualaf asal London, UK, berpendapat bahwa rakyat dunia Arab saat ini telah kehilangan rasa takut terhadap rezim-rezim Arab yang menindas dan korup yang disangga oleh kekuatan AS dan Eropa, dan akan mulai berjatuhan seperti kartu domino. Dia melanjutkan :
"Hal pertama yang harus dilakukan adalah mengirimkan Air Force One untuk mengumpulkan semua diktator, tiran dan para penguasa yang lalim yang digaji oleh AS dan membawa mereka kembali ke Washington. Seperti kotoran hewan peliharaan di New York Central Park, anda harus bertanggung jawab atas kekacauan anjing Anda."
Revolusi rakyat Tunisia membuat para diktaktor Arab panik. Hal yang menimpa Ben Ali merupakan penghinaan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap seorang pemimpin Arab.  Sebuah kejadian luar biasa bila diktaktor Tunisia yang telah berkuasa selama 23 tahun akhirnya ditumbangkan oleh perlawanan rakyat yang kecewa dan muak dengan sistem yang mengatur mereka selama ini. Era para diktaktor nampaknya segera akan berakhir.
Efek Domino Revolusi Tunisia
Aksi tukang sayur, Muhammad Bouazizi, yang mencetuskan revolusi Tunisia teryata segera menjadi inspirasi rakyat di beberapa negeri Arab lainnya. Ada hampir selusin orang meniru aksi bakar diri di beberapa ibukota Arab, beberapa diantaranya termasuk di Kairo dan Aljazair. Bahkan, hingga saat ini, demonstrasi menuntut turunnya diktaktor Mesir, Husni Mubarak masih terus terjadi di jalan-jalan kota Mesir. Mesir kini bergolak.
Para pengunjuk rasa di Mesir bahkan membakar gedung pemerintah di kota pelabuhan Suez. Seorang saksi mata mengatakan protes terhadap pemerintahan diktaktor Husni Mubarak terus berlanjut di Mesir.
Pengunjuk rasa juga melemparkan bom molotov ke gedung pemerintah pada Rabu (26/1/2011), pembakaran dan pelemparan bom juga dilakukan di markas partai yang berkuasa, Partai Demokrasi Nasional, seperti yang dilaporkan AFP.
Ribuan penduduk Mesir turun ke jalan di seluruh negeri untuk melanjutkan aksi unjuk rasa yang belum pernah terjadi sebelumnya, menentang larangan pemerintah yang sebelumnya diumumkan oleh Menteri Dalam Negeri. Pengunjuk rasa membakar ban dan melempari polisi dengan batu di Kairo sementara polisi anti huru-hara yang bersenjata lengkap telah dikerahkan di kota-kota besar untuk membubarkan masa yang menentang aturan diktaktor Mesir tiga dekade, Mubarak.
Bentrokan dilaporkan terjadi di kota Alexandria dan Suez, di mana tentara keamanan menggunakan meriam air, gas air mata, pentungan dan peluru karet untuk membubarkan massa. Setidaknya 70 orang-55 pengunjuk rasa 15 polisi-terluka dalam bentrokan di Suez.
Demonstrasi besar-besaran di Mesir telah berjalan lima hari dan hingga hari ini terus terjadi bahkan semakin memanas. Polisi Mesir bahkan menembak 17 orang yang mencoba menyerang kantor polisi di Kairo, Mesir. Aksi ini terjadi menyusul peryataan diktaktor Mesir Husni Mubarak yang menolak turun tahta. Peryataan ini sontak semakin memanaskan suasana dan menambah semangat puluhan ribu massa turun ke jalan-jalan di kota-kota besar di Mesir. Efek domino revolusi Tunisia kini merambat dan terjadi di Mesir dengan satu tujuan yang sama, menurunkan para diktaktor!
Di Yaman, rakyat pun menuntut turun diktaktor bengis Ali Abdullah Saleh. Ribuan penduduk berdemonstrasi di ibukota, Sanaa, menyerukan sang diktaktor selama 30 tahun, Ali Abdullah Saleh, mundur. Keberanian rakyat Yaman untuk menggulingkan presidennya muncul setelah protes massa di Mesir dan revolusi di Tunisia yang berhasil menggulingkan rezim berkuasa.
Rakyat Yaman mengeluhkan meningkatnya kemiskinan di kalangan penduduk muda dan frustasi dengan kurangnya kebebasan politik. Juga mengeluhkan korupnya para pejabat.
"Kita berkumpul hari ini untuk menuntut turunnya Presiden Saleh dan pemerintahan korupnya," ujar para demonstran.
Revolusi Tunisia memicu solidaritas warga di dunia Arab, terutama umat Islam yang muak dengan sistem pemerintahan diktaktor dan sekuleristik yang selama ini diterapkan. Setelah Tunisia, revolusi merembet ke Mesir, bisa jadi meluas hingga ke Yaman, dan mungkin akan terus berlanjut ke seluruh wilayah dunia Arab. Sebuah perubahan besar sedang terjadi. Para Fir'aun tengah menghadapi kemarahan dan perlawanan 'Musa' yang bangkit melawan kedzoliman!
Seruan Dakwah & Jihad Global
Revolusi Tunisia juga didukung dan bersinergi dengan seruan dakwah dan jihad global. Semua bermuara kepada ujung yang sama, penerapan syariat Islam dan menegakkan khilafah Islamiyah.
Puluhan aktivis Muslim di London berdemonstrasi di depan Kedubes Tunisia di London, Jum'at (21/1) menyerukan kepada umat Islam di Tunisia untuk menerapkan syariat Islam (Khilafah). Dalam demonstrasi tersebut, para aktivis Islam mengusung tulisan Shariah For Tunisia, dalam bahasa Inggris, Arab, dan juga Perancis. Mereka juga meneriakkan "Shariah Akan Kembali" dan "Khilafah Akan Kembali" yang disusul dengan gema takbir!
Sementara itu, Al Qaeda wilayah Maghrib atau yang lebih dikenal dengan sebutan AQIM mendukung revolusi Tunisia dan menyerukan penerapan syariat Islam sesegera mungkin di Tunisia. Dalam sebuah video berdurasi 13 menit, Syekh Abu Musab Abdul Wadud, amir AQIM, mengatakan mendukung aksi unjuk rasa rakyat Tunisia untuk menggulingkan diktaktor Ben Ali. Dalam video yang dikirimkan ke forum-forum jihad tersebut, beliau juga memberikan sejumlah saran strategis, termasuk siap untuk memberikan pelatihan penggunaan senjata.
Syekh Abu Musab Abdul Wadud juga mengecam Ben Ali karena melakukan penindasan, korupsi, dan tak memedulikan kepentingan rakyat jelata. Ia meminta para demonstran segera menggulingkan Ben Ali dan menerapkan hukum syariat Islam di Tunisia. Ia mengatakan, Muslim Tunisia harus memperluas aksi revolusi menjadi skala nasional.
AQIM pimpinan Syekh Abu Musab Abdul Wadud adalah tandzim Al-Qaeda di Al Jazair, atau lengkapnya Tandzim Al-Qaeda Biladil Maghrib Islami (Al Qaeda di Negara-negara Islam Afrika Utara) yang hingga saat ini eksis dan terus melebarkan pengaruhnya. Dulunya sebelum bergabung dengan Al Qaeda tandzim ini bernama The Salafist Group for Call and Combat (GSPC) atau dalam bahasa Arabnya Al Jama'ah As Salafiyyah lidakwah wal Qital.
Menurut para pakar, basis AQIM kini semakin melebar ke sejumlah negara, seperti Tunisia, Al Jazair, Mauritania, dan Mali. Mereka selalu mengatakan :
"Bencana Anda adalah bencana kami dan penderitaan Anda adalah penderitaan kami".
Sistem Apa Yang Akan Digunakan?
Ke manakah arah revolusi Tunisia? Akankah syariat Islam segera diterapkan di sana? Tunisia adalah sebuah negara Arab yang berpenduduk Muslim terletak di Afrika Utara, tepatnya di pesisir Laut Tengah. Tunisia berbatasan dengan Aljazair di sebelah barat, dan Libya di selatan dan timur.
Di antara negara-negara yang terletak di rangkaian Pegunungan Atlas, wilayah Tunisia termasuk yang paling timur dan terkecil. 40% wilayah Tunisia berupa padang pasir Sahara, sisanya tanah subur.
Tunisia menjadikan sistem sekuler, yakni Republik untuk mengatur sistem kenegaraan dan bermasyarakatnya setelah merdeka dari penjajahan kafir Perancis pada 20 Maret tahun 1956. Ben Ali, naik ke tampuk kekuasaan melalui sebuah kudeta tak berdarah di tahun 1987 untuk kemudian menjadi penguasa diktaktor selama kurun waktu 23 tahun.
Selama berkuasa, Ben Ali tiada hentinya melakukan kejahatan kepada umat Islam Tunisia yang hal ini menunjukkan bahwa dirinya memang seorang diktaktor sejati. Bahkan Ben Ali adalah seorang pendukung setia zionis Israel, dimana dirinya melarang rakyat Tunisia demo anti Israel bahkan melarang upaya pengumpulan bantuan untuk Muslim Gaza. Terlalu!
Ben Ali juga seorang kaki tangan Amerika yang setia serta anti syariat Islam. Dia melarang jilbab, menutup masjid dan menugaskan polisi untuk selalu memata-matai masjid. Di tahun 1990-an Ben Ali mulai menangkapi kaum Muslimin yang memanjangkan jenggot di Tunisia- yang sebenarnya mereka ingin kembali kepada syariat Islam- melarang mereka ke masjid dan di tempat kerja dan lembaga-lembaga sekolah.
Ben Ali dan keluarganya teryata juga gemar mencuri kekayaan rakyat Tunisia sementara di waktu yang bersamaan rakyat Tunisia dibiarkan miskin, tak punya pekerjaan dan didzolimi setiap harinya. Korupsi dan kolusi menjadi santapan sehari-hari pejabat Tunisia yang akhirnya membuat rakyat Tunisia muak dengan sistem pemerintahan dan kediktaktoran Ben Ali hingga akhirnya bergerak melawan dan menggulingkan sang diktaktor.
Pasca tergulingnya Ben Ali, untuk pertama kalinya dalam 23 tahun, pemuda Muslim melaksanakan sholat berjamaah di jalan-jalan di kota Tunisia. Semangat untuk kembali dan menerapkan syariat Islam menjadi salah satu alternatif rakyat Tunisia, terutama kaum mudanya. Hal ini tentu saja menjadi kekhawatiran pejabat-pejabat sekuler dan mantan pendukung diktaktor Ben Ali.
Menteri Pembangunan Daerah, Silvan Shalom menyatakan keprihatinan tentang penggulingan penguasa diktator Ben Ali, karena "langkah ini akan memfasilitasi pergerakan Islam di negeri ini".
Rakyat Tunisia yang tidak puas dengan hasil kudeta terhadap pemerintah negara itu, menyerukan perubahan radikal dalam politik. Mereka melakukan aksi massa menuntut pembebasan tahanan politik dari penjara diktator Ben Ali.
Sebagian besar rakyat Tunisia menyeru untuk mendirikan negara Islam dan menegakkan syariah Islam dan untuk memastikan konsolidasi negeri-negeri Muslim. Umat yang berdemoa di Tunisia meneriakkan : "tidak ada jalan lain, tidak ada jalan lain, Islam satu-satunya solusi!"  "Dengan jiwa kami, dengan darah kami, kami akan berkorban untuk Anda, wahai Islam!"
Berdiri di hadapan tentara Tunisia, mereka mengalamatkan kalimat ini untuk : "Kalian di Palestina, kalian di Irak, jatuhkan rantai penguasa dari leher kalian dan penuhi tugas Anda!"  "Wahai tentara Muslim, kami siap bersama Anda, dengan darah kita, dengan jiwa kita, dan anak-anak kita!  gulingkan rezim yang menindas!"
Sebuah pilihan tepat bagi rakyat Tunisia adalah menerapkan syariat Islam dan menegakkan sistem pemerintahan secara Islami, yakni dengan menegakkan khilafah Islam. Hendaknya rakyat Tunisia yang mendapatkan 'berkah' dari Allah SWT., dengan tumbangnya rezim diktaktor Ben Ali dapat memenfaatkan moment yang sangat berharga ini dan tidak tertipu dengan bujuk rayu dan tipu daya setan yang menawarkan racun demokrasi.
Seorang mujahid pernah menuturkan pengalaman berharga dalam perjuangan :
"Kita asyik dengan pertarungan militer, sukses menempa jiwa ikhlas, dan berhasil menghidupkan kecintaan mati syahid. Tetapi kita lalai memikirkan kekuasaan (politik). Sebab kita tak sepenuh hati menggelutinya. Kita masih memandang bahwa politik adalah barang najis. Hasilnya, kita sukses mengubah arah angin kemenangan. dengan pengorbanan yang mahal, hingga menjelang babak akhir saat kemenangan siap dipetik, musuh-musuh melepaskan tembakan "rahmat" kepada kita-demikian kosa kata yang biasa mereka gunakan-untuk menjinakkan kita."
Faktanya, hingga saat ini revolusi di Tunisia belum diketahui akan bermuara kemana. Situasi masih tidak menentu. Saat ini, Perdana Menteri Mohammad Ghannouchi yang menjabat kekuasaan sementara menjanjikan segera digelar sebuah pemilu yang akan mengganti sistem presidensial ke sistem parlemen. Tentu saja janji ini hanyalah sebuah kebohongan saja yang tidak akan membawa dampak perubahan yang berarti. Karena pergantian rezim dan sistemnya masih dalam koridor sistem demokrasi yang anti syariat Islam.
Pergantian rezim atau diktaktor di sebuah negara bukanlah jaminan pasti perubahan kehidupan di negara tersebut. Pengalaman membuktikan pergantian rezim tanpa diikuti pergantian sistem kehidupan secara menyeluruh tidak akan membawa perubahan apapun. Apalagi janji-jani manis perubahan dan reformasi selalu diteriakkan oleh musuh-musuh Islam yang tidak bersedia syariat Islam dan khilafah diterapkan menjadi satu-satunya sistem yang mengatur kehidupan masyarakat Islam. Akhirnya, demokrasilah yang selalu ditawarkan sebagai alternatif terbaik sebuah perubahan. Padahal demokrasi adalah racun berbisa yang sangat mematikan bagi umat Islam yang rindu kembalinya syariat Islam di seluruh aspek kehidupan. Untuk itu, tidak ada alternatif lain, dan tidak ada sistem lain bagi umat Islam dimanapun kecuali kembali menerapkan syariat Islam secara kaafah (sempurna) dalam bingkai khilafah Islam.  
Khilafah, Siap Memimpin Dunia
Dari Nu'man bin Basyir dari Hudzaifah bin Yaman radliallahu 'anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
"Masa kenabian itu ada di tengah-tengah kamu sekalian, adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa Khilafah yang mengikuti jejak kenabian (KHILAFAH 'ALAA MINHAJIN NUBUWWAH), adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa kerajaan yang menggigit (MULKAN ADLON), adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa kerajaan yang menyombong (MULKAN JABARIYYAH), adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa Khilafah yang mengikuti jejak kenabian (KHILAFAH 'ALAA MINHAJIN NUBUWWAH)". Kemudian beliau (Nabi) diam." (H.R. Ahmad dan Al Baihaqi. Misykatul Mashabih: Bab Al Indzar wa Tahdzir, Al Maktabah Ar Rahimiah, Delhi, India. Halaman 461. Musnad Ahmad, juz 4, halaman 273).
Berita dari Nabi SAW., di atas menjadi kabar gembira bagi kaum Muslimin saat ini. Masa atau era khilafah (sistem kenegaraan Islam) yang mengikuti jejak kenabian tidak akan lama lagi akan dimulai pasca runtuhnya era 'mulkan jabariyah' atau era raja-raja yang sombong (bengis) alias para diktaktor.
Fenomena revolusi Tunisia, disusul Mesir, dan seterusnya bisa jadi menandai kebenaran hadits yang diyakini sebagai fase-fase sejarah kemunduran dan kebangkitan umat Islam. Pasca runtuhnya khilafah Islam terakhir di Turki, 3 Maret 1924, kaum muslimin memasuki periode buruk dalam sejarahnya. Digulingkannya sistem khilafah Islam oleh 'dajjal' Mustafa Kemal At Tatruk melahirkan sistem sekuler yang melahirkan para pemimpin diktaktor di seluruh negara-negara Islam. Pada saat itulah berakhir masa "mulkan adlon" dan dimulai masa "mulkan jabariyyah" alias para diktaktor. Para diktaktor ini atas desakan Barat menggunakan sistem demokrasi sekuler dengan pemilu sebagai jargon kebebasan dan perubahan.
Kini, umat sadar betapa bengisnya raja-raja dan pemimpin mereka sang diktaktor. Sistem demokrasi sekuler teryata juga hanya menjanjikan angin surga tanpa ada kenyataan sama sekali. Kondisi kehidupan yang terpuruk akibat menerapkan sistem dan ideologi kufur demokrasi akhirnya membangkitkan kesadaran dan angin perubahan di seluruh negeri-negeri Islam. Revolusi Tunisia menjadi pemicu sekaligus inspirasi.
Bersandar kepada berita gembira dari Nabi SAW., di dalam hadits sejarah umat Islam tersebut, maka pasca tumbangnya para diktaktor yang bengis akan menandai awal kemunculan sistem khilafah Islami dan berlakunya kembali syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Umat pun merindukan kemunculan kembali Al-Mahdi, sosok khalifah yang muncul pasca berakhirnya periode "mulkan jabbariyah" atau para diktaktor bengis. Tergulingnya Ben Ali, dan kemungkinan Husni Mubarak, dan disusuk para diktaktor lainnya menjadi tanda dekatnya masa yang dijanjikan oleh Rasulullah SAW., tentang munculnya khilafah Islamiyah berdasarkan metode kenabian. Revolusi Tunisia bisa jadi menjadi sebuah pengantar datangnya masa yang dijanjikan tersebut, di mana umat Islam dan bahkan umat di seluruh dunia akan hidup dalam ketentraman, kesejahteraan, dan rahmat bagi alam semesta. Untuk itu, bersiapkan wahai kaum Muslimin menyambut datangnya kembali khilafah Islamiyah untuk memimpin dunia!
Wallahu'alam bis showab!  
By: M. Fachry
International Jihad Analysis
Ahad, 25 Shafar 1432 H/30 Januari 2011 M
Ar Rahmah Media Network
http://www.arrahmah.com
The State of Islamic Media
© 2011 Ar Rahmah Media Network

Source: http://arrahmah.com/read/2011/01/30/10825-revolusi-tunisia-jihad-global-saatnya-khilafah-islamiyah-memimpin-dunia1.html#ixzz1GZuQYnil


Pergolakan sosial sejak awal 2011 di Afrika Utara dan Timur Tengah memberi banyak inspirasi kepada dunia, tak terkecuali umat Islam. Kejadiannya mengalir, disulut oleh suatu peristiwa yang tampak biasa. Bermula dari perlawanan seorang pemuda tukang buah yang membakar diri akibat gejolak kemarahan yang membuncah di dadanya dan tertahankan lagi, sementara salurannya tak ada.  Ia merasa membentur tembok kokoh yang membuat semua jeritan dan tuntutan keadilan yang ia teriakkan menguap terbawa angin.
Tak disangka, peristiwa itu berbuntut panjang. Sontak solidaritas sosial menyebar di tengah rakyat Tunisia yang juga merasakan gumpalan kemarahan serupa. Maka intimidasi aparat tak lagi menakutkan mereka, bahkan kematian juga tidak lagi menjadi penghalang untuk protes dan melawan, bersama-sama dalam satu solidaritas yang mengagetkan penguasa. Seluruh negeri diselimuti kemarahan. Perlawanan menyebar laksana virus menular, hingga ujungnya berhasil membuat penguasa Tunisia terjungkal dari singgasananya.
Keberhasilan Tunisia dengan gegap gempita ditiru oleh rakyat Mesir, yang juga merasakan penindasan serupa. Rejim Husni Mubarak yang didukung oleh kekuatan AS, Israel dan Eropa tak urung juga tumbang. Tak lama kemudian Libya mendapat giliran. Rejim Muamar Gadafy makin tersudut, berada di ambang kebinasaan. Perlawanan yang ia lakukan tak lebih upaya memperlambat hitung mundur untuk kejatuhannya. Yaman juga sedang mengharu-biru, Bahrain, bahkan Saudi yang dikenal konservatif juga ketularan virus pergolakan sosial.
Siapa Memetik Buah Pergolakan ?
Dunia Arab sedang membara. Para rejim penguasa berada pada titik nadir control politik terhadap rakyatnya sendiri, sebaliknya rakyat dalam posisi paling kuat dalam rentang sejarah mereka. Keadaan ini laksana gadis molek yang menarik untuk dipinang oleh siapapun yang punya kepentingan, baik Amerika, Israel, Eropa, Nasionalisme Arab, Demokrasi, Sosialisme, Syiah, Al-Qaeda, dll.
Meski semua berminat untuk memetik buah pergolakan, tapi fakta menunjukkan bahwa terdapat sejumlah keprihatinan yang membuat kita - aktifis Islam - cukup tahu diri untuk tidak mengklaim apa yang tidak nyata. Mengklaim memetik buah revolusi, padahal tidak ada buktinya. Bahwa revolusi ini dikawal oleh ideology Nasionalisme, dengan bumbu Liberalisme, semangat kerakyatan atau kebangsaan - bukan keumatan - dan kesetiaan terhadap jargon HAM, sangat jauh untuk dianggap aktifis Islam telah mengawal dan memetik buahnya dengan baik.
Secara umum kaum Islamis tak memetik buah revolusi. Kalaupun ada buah yang 'kebetulan'  bisa dipetik, itu bukan hasil dari sebuah strategi yang disusun dengan sengaja sebelumnya oleh para aktifis Islam. Tapi semata berkah yang datang tanpa diundang, sebagai karunia dari Allah.
Misalnya buah berupa keterbukaan, yang sebelumnya sangat represif. Keterbukaan yang memungkinkan semua orang boleh menyuarakan apa saja sepanjang tidak masuk ranah anarkis. Buah ini bisa dipetik oleh aktivis Islam dengan memanfaatkannya sebagai peluang menyampaikan materi dakwah sesukanya dan seluasnya karena tak lagi dianggap sebagai makar melawan rejim.
Tapi jangan salah, keterbukaan laksana pisau bermata dua. Buah ini juga dipetik dengan baik oleh aktivis Kristen untuk leluasa melakukan Kristenisasi, aliran sesat untuk menyusupkan aliran sesatnya, Syiah untuk menebar racun pemikiran anti Sahabat, dan semuanya. Tak akan jauh beda dengan apa yang dialami Indonesia setelah pergolakan sosial tahun 1998 berhasil menumbangkan rejim Soeharto, berganti menjadi era keterbukaan. Saat ini kita juga dipusingkan dengan maraknya aliran sesat, kristenisasi, syiah dan sebagainya.
Maknanya bahwa keterbukaan dan hilangnya sikap represif dari penguasa, bukan karunia khas yang hanya diturunkan dari langit untuk aktifis Islam. Ia merupakan buah kemenangan milik bersama, karena ketika memperjaungkannya juga bersama-sama, diikat oleh semangat nasionalisme. Al-jaza' min jinsil 'amal, bentuk imbalan itu sesuai dengan bentuk usaha.
Umat Islam, Basis Massa Pergolakan Rakyat
Satu hal pasti yang bisa kita ambil kesimpulannya dari pergolakan sosial di tanah Arab adalah bahwa umat Islam merupakan basis massa terbesar . Hal ini logis, tak memerlukan pengujian empiris, sebab mayoritas masyarakat Arab beragama Islam. Kalaupun perlu pengujian empiris, hanya sekedar untuk mencari jumlah prosentase yang akurat.
Sebetulnya tidak ada hal istimewa dari pergolakan rakyat ini. Kurang lebih sama dengan yang terjadi di Indonesia tahun 1998. Sama-sama tak bernafaskan sentimen Islam, tapi sentimen nasionalisme. Mesir diikat oleh nasionalisme Mesir, Tunisia juga diikat oleh sentimen nasionalisme Tunisia. Demikian juga Libya dan negara-negara Timur Tengah lain. Bedanya hanya karena dunia Arab dikenal konservatif, tak ada budaya demonstrasi dan protes masal tapi tiba-tiba bisa menumbangkan rejim hanya dengan demonstrasi. Dan berlangsung tiba-tiba dan sangat cepat.
Perobahan yang datang tiba-tiba inilah yang melahirkan banyak spekulasi tentang masa depan dunia Arab pasca tumbangnya rejim-rejim represif dan berobah menjadi lebih terbuka. Siapa yang akan mengambil manfaat terbesar dari situasi ini? Apakah kembali Amerika, Israel dan Eropa akan tetap menancapkan kukunya, ataukah ada perubahan konstelasi? Di posisi mana para aktifis yang selama ini dikenal berbenturan dengan penguasa? Lalu di mana Al-Qaeda dan aktifis jihad lain? Apa yang sedang mereka persiapkan?
Ataukah baru sekedar menjawab pertanyaan; apa yang bisa diambil pelajaran dari pergolakan ini? Apakah bisa umat Islam yang dengan spontan turun ke jalan melakukan perlawanan terhadap rejim zalim, bisa diajak turun sekali lagi untuk memperjuangkan sesuatu yang lebih khas Islam? Apakah kejadian ini bisa direkayasa ulang, ataukah hanya terjadi kali ini?
Maklum, karena apa yang umat Islam Arab suarakan dalam pergolakan rakyat ini hanyalah jargon kemanusiaan yang bukan khas Islam. Tapi jargon yang universal, misalnya keterbukaan, kebebasan bersuara, HAM, bahkan Demokrasi. Universal dalam makna diterima semua bangsa di dunia karena mainstream pemikiran dunia seperti itu, setidaknya untuk saat ini.
Oleh karenanya kita mesti realistis. Tidak perlu terlalu tinggi berharap bahwa pergolakan ini akan melahirkan Khilafah, bahkan untuk sekedar berharap menjadi salah satu anak tangga menuju tegaknya Khilafah. Karena bahan baku dan pondasi tegaknya Khilafah tidak mungkin dengan corak pergolakan nasionalisme dengan bumbu HAM dan Demokrasi seperti ini.
Makanya Al-Qaeda dalam memandang pergolakan sosial di dunia Arab juga cukup hati-hati. Mereka tak larut dalam euforia anggapan bahwa basis massa terbesarnya adalah umat Islam, oleh karenanya bisa dititipi agenda yang khas Islam. Al-Qaeda tak melihat sampai ke situ. Mereka hanya mendukung dalam bab keberanian menumbangkan rejim zalim, sebab tumbangnya kezaliman merupakan salah satu misi terpenting Islam, sesuatu yang selama ini disuarakan dengan konsisten oleh Al-Qaeda.
Bahwa menumbangkannya dengan dibingkai sentimen nasionalisme, bukan menjadi titik permasalahan yang karenanya Al-Qaeda tidak mau mendukung. Sebab titik tekannya pada tumbangnya rejim yang menindas umat Islam. Bahkan Al-Qaeda dalam merumuskan konsep perlawanannya juga menerima model seperti ini, mencapai hasil dengan perantaraan yang tidak ideal, atau bahkan memukul dengan tangan orang lain. Dalam teori Al-Qaeda, bukan mustahil beraliansi dengan China dalam kerangka menjatuhkan Amerika, sebab Amerika merupakan bahaya terdekat sementara China masih lebih jauh. Memukul yang lebih madharat.
Namun Al-Qaeda - demikian juga kita - sadar dengan spenuhnya tak ada jaminan bahwa setelah rejim Thaghut zalim tumbang maka penggantinya bukan Thaghut yang lain. Minimal kadar ke-thaghut-annya tak sepekat dan sekejam rejim Thagut sebelumnya, karena sudah berganti dengan era keterbukaan, kesetaraan, demokratisasi dan HAM.
Tantangan Sesungguhnya, Lahirnya Perlawanan Rakyat Khas Islam
Masalahnya adalah tumbangnya kezaliman belum bisa menjadi tolok ukur keberhasilan perjuangan umat Islam. Sebab umat Islam baru berhasil digerakkan untuk memperjuangkan sesuatu yang diterima oleh semua manusia, baik kafir atau muslim, baik musyrik atau mukmin, belum sesuatu yang khas Islam.
Perjuangan umat Islam akan dinilai berhasil jika sudah mampu memperjuangkan sesuatu yang khas Islam, yang biasanya ditolak oleh manusia anti Islam pada umumnya. Penolakan ini bukan karena Islam tak sesuai dengan nurani manusia, tapi karena nurani manusia telah dirusak oleh pemikiran, aliran dan budaya sesat sehingga menolak kebenaran Islam.
Sebagai contoh, jika umat Islam dapat digerakkan secara masal untuk menumbangkan syirik, berhala, kuburan keramat, nasionalisme, demokrasi, aliran sesat, kultus individu, Yahudi, Nasrani, Amerika, Israel dan sejenisnya maka umat sudah berada di jalur perlawanan yang khas. Bukan semata perlawanan yang ikut trend masyarakat dunia yang bercorak demokrasi, liberalisme dan HAM. Sebab perlawanan dan revolusi model begini tak ada kecaman dan suara sumbang dari masyarakat dunia.
Berbeda sekali dengan perlawanan khas Islam yang menghasilkan hujatan dari masyarakat dunia, bahkan dari kalangan umat Islam secara umum. Maka tolok ukur partisipasi umat islam adalah jika berhasil digalang dan digerakkan secara masal seperti yang terjadi di dunia Arab tapi dalam konteks perlawanan khas Islam. Inilah tantangan kita sesungguhnya.
Abu Mus'ab As-Suri, tokoh jihad kontemporer  yang digelari sebagai Arsitek Jihad Global oleh pengamat Barat, mengkampanyekan seruan perlawanan global yang khas Islam. Perlawanan umat Islam yang berskala global dalam rangka mengentikan dan menumbangkan rejim kafir dunia, sebagai bentuk fokus pada musuh utama. Ia mengarang buku Dakwah Muqawamah Islamiyah 'alamiyah (Seruan Perlawanan Islam Global).
Inti gagasannya adalah mengajak sebanyak mungkin umat Islam untuk terlibat dalam perlawanan global (muqawamah 'alamiyah). Sebab saat ini perlawanan masih bersifat "elitis", hanya dilakukan oleh Al-Qaeda dan yang senafas dengannya, baik yang berada di ranah jihad, dakwah, nahi munkar, politik dan ekonomi. Senafas dalam semangat perlawanannya, bukan senafas dalam keharusan jihadnya.
Bukan hanya mengajak sebanyak mungkin muslim, tapi juga memberikan peta kontribusi untuk seluruh umat Islam. Seolah Abu Mus'ab As-Suri menyeru: ayo kita melawan, dengan potensi apapun yang kita punya, sebisanya, dan kapanpun, dalam satu gerak langkah bersama, untuk menumbangkan musuh bersama umat Islam.
Islam Identik dengan Perlawanan, bukan Persaingan
Islam bernafaskan perlawanan, bukan persaingan. Sebagaimana kekafiran juga dilandasi ideologi permusuhan bukan toleransi.
Sebagai contoh konsep Tauhid. Konsep ini punya misi menghapuskan seluruh bentuk syirik, tak memberi toleransi sedikitpun terhadapnya. Tidak ada kelonggaran bagi kemusyrikan untuk berkembang, tumbuh dan didakwahkan. Semuanya harus dimusnahkan.
Nabi Ibrahim as menjadi contoh terbaik tentang ideologi perlawanan dalam konteks Tauhid, bukan persaingan. Berhala dia hancurkan. Keyakinan syirik yang dipahami Namrudz dibantah dengan tegas hingga kalah telak, meski menghasilkan balasan secara fisik berupa pembakaran. Maknanya, Ibrahim as menang secara argumen Tauhid, tapi kalah secara kekuatan fisik sebab Namrudz didukung balatentara satu negara sedangkan Ibrahim as hanya seorang diri. Ini semua menegaskan satu hal; Tauhid bercorak perlawanan. Di mana tauhid tumbuh dan hidup sebagaimana mestinya, di sana syirik punah sebagai konsekwensi logis. Tak ada hidup berdampingan dengan pola persaingan sehat, layaknya dalam dunia bisnis.
Ideologi model begini sangat tidak populer di mata dunia. Mereka pasti menghujat dan melawan dengan segala daya upaya. Melawan dengan senjata Demokrasi, HAM dan Liberalisme. Celakanya, ketiga senjata itu mendominasi keyakinan dan pandangan umat manusia, tak terkecuali umat Islam.
Bahkan kota yang menjadi cikal bakal sejarah Tauhid, Makkah, yang pondasinya dibangun oleh Ibrahim as dan disempurnakan eksistensi dan perannya oleh Muhammad saw sama sekali tak membolehkan orang musyrik untuk tinggal di sana. Bahkan untuk sekedar melintas saja tidak boleh. Demikian juga Madinah, yang pondasi dan kematangan pertumbuhan kotanya dijaga oleh Muhammad saw, tak boleh dihuni sama sekali oleh orang musyrik.
Bukan hanya Makkah dan Madinah, seluruh jazirah Arab tidak boleh didiami oleh orang musyrik. Ini menandakan bahwa Tauhid yang dibawa Ibrahim as dan diteruskan oleh Muhammad saw bernafaskan perlawanan; menang atau kalah.
Ideologi perlawanan ternyata bukan hanya dalam ranah keyakinan (aqidah), tapi juga bidang ekonomi. Setelah Islam menang, segala bentuk riba diharamkan oleh Islam, dan tak mengijinkan riba beroperasi di wilayah Islam.
Begitu pula ranah sosial, misalnya perzinaan. Islam setelah menurunkan larangannya, tak mengijinkan sama sekali praktek itu tumbuh di tengah masyarakat muslim. Setali tiga uang, praktek mabuk-mabukan dengan cara apapun juga dilarang, tak ditoransi sama sekali.
Melahirkan Umat Perlawanan
Sekali lagi, tolok ukur keberhasilan aktivis Islam adalah jika mereka mampu menyuntikkan ideologi perlawanan kepada umat Islam. Atau menciptakan UMAT PERLAWANAN, bukan UMAT PERSAINGAN, menuju KEMERDEKAAN ISLAM.
Banyak aktivis Islam yang cepat puas ketika sudah berhasil mengamalkan Islam untuk dirinya sendiri atau di tengah realitas sosial umat Islam. Sebagai contoh, para aktivis ekonomi Islam, ketika mereka sudah mampu mendirikan Bank Islam atau Bank Syariah sebagai alternatif muamalat yang halal bagi umat, sudah merasa sudah mencapai tapal batas perjuangan.
Misalnya, aktivis ekonomi Islam Indonesia dengan puas bercerita tentang prestasinya yang mampu menggolkan konsep DUAL SYSTEM dalam lanskap ekonomi nasional. Yakni sistem ekonomi Islam dan sistem ekonomi konvensional (ribawi) berdiri sama tinggi di Indonesia, dari strata paling bawah hingga strata paling atas; bank sentral. Kepuasan ini wajar jika dibandingkan dengan Malaysia yang hanya menganut konsep WINDOW SYSTEM, yang bermakna sistem ekonomi Islam hanya sub-ordinat dari sistem ekonomi ribawi.
Padahal mau disebut dengan Dual System atau Window System, tetap saja intinya riba belum bisa di-delete dari tengah realitas sosial umat Islam yang mayoritas di negeri ini. Paradigmanya masih sekedar persaingan sehat. Sistem riba dilindungi legalitasnya, sebaliknya sisten anti-riba juga legal dan dilindungi. Keduanya boleh bersaing sepuasnya, asal sehat. Meski harus diakui, dibanding dengan sekian dekade lalu, sama sekali tak ada sistem ekonomi anti-riba. Maknanya, ada kemajuan yang nyata.
Fenomena cepat puas ini dilatarbelakangi pandangan bahwa perjuangan membela dan menegakkan Islam selalu dibingkai persaingan sehat alias fairplay. Tak ada semangat mengalahkan dan mematikan lawan, yang ada ialah semangat saling menghargai. Ini merupakan racun Demokrasi yang menyusup di alam bawah sadar para aktifis. Bahwa bagaimanapun keadaannya, umat Islam harus tetap memberi ruang gerak dan ruang berkembang bagi syirik, munkar, riba, pelacuran, narkoba, pornografi, kristenisasi, aliransesatisasi, dan sebagainya. Dakwah hanya di ranah persaingan, bukan menyingkirkan.
Mendidik Resiko Perlawanan
Cita-cita menegakkan Islam tak bisa mengesampingkan ideologi perlawanan. Dan pilihan ideologi perlawanan harus dibarengi dengan mendidik umat untuk sabar menanggung beban dan resiko perlawanan.
Rasulullah saw pernah marah kepada Khabab bin Art ra gara-gara minta didoakan agar intimidasi dan penyiksaan yang dilakukan kaum musyrik kepada para Sahabat diringankan. Rasulullah saw menjawab dengan ekspresi marah, bahwa orang-orang terdahulu ada yang disiksa karena keimanannya dengan disisir dengan sisir besi hingga habis dagingnya, dan ada yang digergaji badannya hidup-hidup hingga terbelah dua, tapi tak membuat mereka mundur dari keimanannya.
Rasulullah saw kemudian menjelaskan keyakinan akan janji Allah, bahwa perjuangan menegakkan Islam akan sampai pada ending orang berjalan dari Sana'a ke Hadramaut terjamin keamanannya oleh kekuasaan Islam sehingga tak ada yang perlu ia takuti kecuali Allah, atau takut kambingnya akan diterkan oleh serigala. Lalu Rasulullah saw menutup sabdanya dengan kalimat: Tapi kalian tergesa-gesa.
Maksudnya, tergesa-gesa ingin cepat meraih kemenangan sehingga merasakan hidup nyaman tanpa gangguan dan siksaan dari musuh Islam. Bahwa yakin akan janji kemenangan harus tertanam di hati , tapi bersabar menghadapi fase sulit dalam jalan panjang menegakkan Islam juga lebih penting dimiliki. Inilah inti dari nasehat Nabi saw dalam kasus tersebut.
Oleh karenanya, selain kita perlu mengkampanyekan keyakinan akan tegaknya sistem kekuasaan dengan manhaj kenabian (atau yang biasa disebut dengan Khilafah) di akhir zaman, kita juga harus lebih gencar lagi menceritakan resiko perlawanan. Sebab jika kita hanya asyik dengan mengiming-imingi umat awam dengan janji kemenangan, tanpa dibarengi dengan pendidikan kesabaran, bisa menjadi bumerang alias blunder. Ini bagian dari ketergesaan yang karenanya Rasulullah saw marah kepada Khabab bin Art radhiyallahu anhu. Titik blundernya, akan lahir generasi yang kerjaannya menunggu janji kemenangan Islam atau Khilafah, tapi gagap dengan resiko perlawanan. Generasi tidak peka zaman.
Ketika zaman sedang mengharu-biru dengan gelora perlawanan di seluruh jengkal bumi Islam, banyak yang terbunuh, cacat, luka, depresi, janda, kelaparan, dinistakan dan semua bentuk malapetaka lain, lalu kita hanya sibuk menganalisa kapan Khilafah akan tegak, ini adalah pekerjaan orang yang kurang bijak. Mengkampanyekan bahwa Islam akan menang di akhir zaman dengan nubuwat dari Rasulullah saw tidak harus hingar bingar. Tak perlu diblow-up berlebihan.
Tapi yang perlu diblow-up adalah bagaimana jalan menujunya, apa aqidah yang menjadi bekalnya, bagaimana manhajnya, apa resikonya, apa bekal ilmunya, apa bekal amalnya, siapa yang akan menjadi kawan, siapa yang menjadi lawan, dan seluk beluk lainnya. Kesibukan kita 90% harus dalam bidang ini, dan cukup 10% mengkampanyekan terminologi dan janji khilafah.
Peta Perlawanan
Muqawamah (perlawanan sosial) yang kita maksudkan, harus dipetakan dengan baik. Umat Islam pada seluruh strata dan bidang harus paham apa visi besar yang dituju. Lalu paham manhaj dalam mencapainya. Lalu ditunjukkan caranya, diberi contoh dan keteladanan. Lalu dirawat potensinya untuk selalu dalam nafas muqawamah.
Jelas tidak mungkin mengajak semua elemen umat Islam untuk datang ke medan jihad, meski kita memotivasi mereka untuk ingin berjihad dan mati syahid. Umat Islam harus ditunjukkan bagaimana cara melawan tapi yang dekat dengan dunia mereka, dan mungkin mereka lakukan. Bukan selalu diberi imajinasi jihad bersenjata, padahal jauh sekali dari dunia mereka.
Oleh karenanya, muqawamah yang bisa dilakukan adalah memberi nafas perlawanan dan mengalahkan untuk semua yang digeluti umat Islam. Dipahamkan daftar musuh yang dekat dengan mereka, seperti kristenisasi, aliran sesat, ahmadiyah, syiah, syirik, bid'ah, Liberalisme, Riba, mafia hukum, dan sebagainya.
Bila kita hanya menghadirkan Amerika dan Israel sebagai musuh, maka potensi perlawanan umat Islam tak tersalurkan dan terberdayakan dengan baik, karena sosok bernama Amerika dan Israel jauh di benak dan realita umat. Ini bukan cara bijak untuk mendidik UMAT PERLAWANAN, sebab hasrat mereka menjadi tertunda hingga saat yang tak mampu kita jawab.
Oleh karenanya, umat Islam harus digalang untuk memberantas Ahmadiyah, Syiah, kemunkaran, perjudian, narkoba, syirik dan bentuk-bentuk lawan lain - sesuatu yang dekat dengan keseharian mereka. Dengan melawan, umat akan mengalami benturan. Dengan benturan akan bisa menghayati pertarungan, lalu menghayati makna kesabaran. Lalu akan tumbuh solidaritas dan ukhuwah. Lalu menjalin makin solid menjadi kekuatan sosial yang nyata.
Dengan cara ini, tak ada satupun muslim yang tidak turut serta dalam muqawamah global. Bedanya hanya dalam ranah perlawanannya. Jika Al-Qaeda di ranah jihad, umat Islam Indonesia di ranah sosial yang nyata. Semuanya dibingkai paradigma; MELAWAN SEBISANYA ! Jangan biarkan apapun yang menganggu dan merusak Islam berkeliaran tanpa perlawanan dari umat.
Dengan cara ini, jalan menuju muqawamah global makin terbuka. Semoga.
Source : elhakimi.wordpress.com

Source: http://arrahmah.com/read/2011/03/10/11261-pergolakan-arab-dalam-perspektif-muqawamah.html#ixzz1GZuACjb4

Seorang pembom bunuh diri meledakkan mobilnya Senin pagi ini (14/3) di luar markas batalion tentara Irak di timur negara itu, menewaskan sedikitnya 10 tentara dan melukai 29 orang dalam sebuah pemboman yang meruntuhkan bangunan gedung.
Juru bicara dewan provinsi Diyala Samira al-Shibli mengatakan para pekerja medis masih panik dan mencoba menyelamatkan korban dari bawah reruntuhan beberapa jam kemudian.
Juru bicara direktorat kesehatan Diyala Faris al-Azawi mengatakan pembom mengendarai mobil melewati gerbang keamanan dan meledakkan bahan peledak tepat di luar markas besar sebuah batalyon intelijen militer di Kanan, sebelah timur ibukota provinsi Baqouba, 35 mil (60 km) timur laut Baghdad.
Seorang komandan militer di Diyala menggambarkan sebuah adegan mengerikan akibat bangunan runtuh yang menimpa para tentara. Ia mengatakan pembom mengendarai mobilnya melalui pintu gerbang belakang dan melalui halaman untuk sampai ke kantor pusat.
Komandan itu berbicara dengan syarat anonim karena ia tidak berwenang untuk berbicara kepada media. Ia mengatakan lusinan tentara tewas atau terluka.
Al-Azawi mengatakan sedikitnya 10 tentara tewas. Dia juga mengatakan sedikitnya 29 orang terluka, termasuk 14 tentara.
Seorang pejabat intelijen senior Irak di Baghdad menyalahkan serangan itu dilakukan oleh al-Qaidah dan mengatakan pihak berwenang percaya bahwa pemberontak yang sama mungkin juga merencanakan serangan serupa terhadap pasukan keamanan di ibukota.
Pada bulan Januari lalu, Negara Islam Irak, sebuah kelompok yang berafiliasi dengan al-Qaidah, mengaku bertanggungjawab atas dua pemboman di markas besar keamanan di Baqouba yang menewaskan 10 orang.(fq/ap)



 
ResistNews--Warga di kota Misrata mengatakan bahwa pasukan pendukung Muammar Qadhafi bertengkar dengan sesama temannya sendiri, setelah sejumlah unit pasukan menolak untuk menyerang kota itu.

Pertikaian dalam tubuh pasukan Qadhafi dikabarkan pecah hari Sabtu (12/3). Namun kabar itu belum dapat dipastikan, karena pihak berwenang Libya tidak mengizinkan wartawan masuk ke kota berpenduduk 300.000 jiwa itu.

"Dari pagi hari mereka (tentara) berkelahi sendiri. Kami mendengar perkelahian itu" kata Muhammad, salah satu anggota pasukan pemberontak kepada Reuters lewat telepon Ahad (13/3).

Perselisihan di tubuh pasukan lawan menurut Muhammad merupakan anugerah dari Tuhan, saat mereka sudah mulai putus asa. "Sekarang kami menunggu untuk melihat apa yang akan terjadi," ujarnya.

Ditanyai tentang kabar perpecahan di kalangan pasukan pendukung Qadhafi itu, jurubicara pemerintah Mussa Ibrahim berkata, "Ini berita sampah. Itu tidak benar. Tentara telah mengepung jantung Misrata. Mereka ada di dalam kota. Para tetua suku sedang berbicara dengan mereka (para pemberontak) agar menyerah."

Meski belum bisa dipastikan, Reuters melaporkan bahwa warga Misrata mengaku mendengar pertengkaran hebat di pangkalan militer sebelah selatan kota.

"Mereka (pasukan Qadhafi) masih bertengkar. Tembakannya ada yang menghantam sebuah rumah dan toko di selatan Misrata. Saya tidak tahu apakah ada korban" kata Jamal, jurubicara pemberontak seperti dikutip Reuters.*

Gembor-gembor tentang reshuffle itu, hanya menjadi angin lalu belaka. Tak pernah terwujud. Presiden SBY sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat yang mula-mulai sudah memberikan 'warning' akan adanya reshuffle, dan memberikan peringatan kepada partai peserta koalisi, ternyata hanya menjadi isapan jempol. Presiden SBY seakan harus terpaksa menjilat air ludahnya sendiri.
Sebagaimana diberitakan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) merasa seperti dipaksa untuk melakukan reshuffle kabinet. Hal tersebut disampaikan saat memberikan pidato sambutan dalam sidang kabinet tentang bidang Polhukam di Kantor Presiden, Kamis (10/3/2011).
"Seolah-olah saya dipaksa, diharuskan didikte untuk segera melaksanakan reshuffle dan kemudian apa yang saya dengarkan, ada yang mengatakan kenapa lamban," jelas Presiden. Presiden mengatakan, reshuffle hanya akan dilakukan bila ada alasan dan kondisi yang mendesak. "Maka tidak bisa setiap jam, acara, terus mendorong agar Presiden melakukan reshuffle", tegasnya.
Berbagai kalangan menilai sejumlah elit Partai Demokrat telah dengan sengaja menekan Presiden SBY melakukan reshuffle kabinet, khususnya mencopot menteri-menteri PKS.
Siapa saja elit-elit Demokrat tersebut? Berikut ini adalah pernyataan para elit Demokrat yang terkesan memaksa Presiden SBY mereshuffle kabinet.
1. Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum.
"Intinya, kalau ada menteri yang tidak mungkin lagi disuntik atau diinjeksi energi baru untuk meningkatkan kinerjanya, ya untuk kebaikan pemerintah dan kebaikan bangsa serta untuk kebaikan pelayanan kepada rakyat, ya, kan, lebih bagus (menteri) itu disegarkan (diganti)," tandas Anas, Minggu (9/1/2010).
2. Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat Syarif Hasan.
"Sebelum mengambil keputusan harus dianalisa. Untuk melakukan analisa harus dikonfirmasi kembali. Partai koalisi masih komited nggak. Kita tunggu aja. Kita nggak tahu. Tapi secepatnya. Mungkin dalam waktu dekat," tandas Syarif, Rabu (2/3/2011).
3. Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat Sutan Bhatoegana.
"Langkah ini (reshuffle) perlu dilakukan secepat mungkin. Meski itu hak prerogatif Presiden. Tapi saya sepakat dipercepat agar tidak ramai terus. Menurut saya kalau sudah diberikan kesempatan, tapi masih seperti itu juga, ini kan perlu untuk dirombak. Katakanlah perubahan secara terbatas. Kan ini sudah pernah dilakukan SBY dalam KIB I. Sampai tiga kali reshuffle, kan kinerjanya jauh lebih baik. Buktinya apa, beliau terpilih kembali " ujar Sutan, Senin (7/1/2011).
4. Wasekjen Partai Demokrat Saan Mustopa.
"Sepertinya reshuffle kabinet semakin dekat," ujar Wasekjen DPP PD, Saan Mustopa, Rabu (2/2/2011).
5. Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat Ahmad Mubarok.
"Insya Allah, perombakan akan dilakukan dalam 1-2 hari atau 1-2 minggu ini dengan penataan ulang yang signifikan," kata Mubarok, Selasa (8/3/2011).
6. Ketua Departemen Keuangan Partai Demokrat M Ikhsan Modjo.
"Kami menilai dua menteri dari PKS, yakni Menteri Pertanian dan Menteri Kominfo memiliki kinerja yang kurang baik. Evaluasi terhadap anggota koalisi bisa dilakukan dengan me-reshuffle dua menteri dari PKS, yakni Menteri Pertanian dan Menteri Kominfo" kata Muhammad Ikhsan Modjo, Senin (28/2/2011).
7. Ketua Divisi Pusat Pengembangan Strategi dan Kebijakan Partai Demokrat Ulil Abshar Abdalla.
"Dalam satu-dua minggu ini. Waktu sudah mendesak untuk reshuffle, time for reshuffle adalah saat ini. Kami memberikan dukungan politik dan moral kepada Presiden Yudhoyono agar segera melakukan reshuffle," kata Ulil, Senin (28/2/2011).
8. Sekretaris Departemen HAM Partai Demokrat Rachland Nashidik.
"Kami ingin secepatnya diadakan reshuffle kabinet untuk memastikan kebijakan publik berjalan dengan baik," ujar Rachland, Senin (28/2/2011).
9. Ketua Divisi Humas Partai Demokrat Ruhut Sitompul.
"Pidato Pak SBY itu sudah sangat tepat, bapak dengan tegas mengatakan ada etika berpolitik yang merujuk pada kesepakatan koalisi. Reshuffle semakin dekat, tapi mungkin bertahap," kata Ruhut, Selasa, (1/3/2011).
"Taruh dimana muka kita jika tidak terjadi reshuffle kabinet," kata Ruhut, beberapa hari lalu. Ternyata, reshuffle sampai hari ini batal dilakukan oleh SBY, karena Presiden SBY, tak bakal mungkin akan mereshuffle menterinya dari Golkar danPKS, karena kedua partai itu menjadi pendukung setianya. Jadi elit Demokrat yang kebelet ingin mendepak Golkar dan PKS, sementara harus bershabar dulu.(mh/inlh)



 

ResistNews--Insiden penolakan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) Jawa Barat terhadap rencana Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bandung untuk menjadi khatib dan imam di Masjid Mubarak milik Ahmadiyah sudah diduga sebelumnya oleh Forum Ulama Umat Islam (FUUI) Jabar.

“Kami sudah menduga hal tersebut tidak bisa dilakukan,” ujar KH Athian Ali Da’I, Ketua FUUI Jabar kepada hidayatullah.com, Senin (14/3) pagi.

Athian menilai ide yang dicetuskan oleh Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, agar umat Islam mau memberikan khutbah dan shalat di masjid-masjid milik Ahmadiyah merupakan ide yang bagus. Namun, ide ini bakal sulit dilakukan.

Pasalnya, kata Kiai Athian, Ahmadiyah menganggap orang yang berada di luar golongannya adalah kafir.
“Mana mau Ahmadiyah mendengarkan khutbah dan diimami oleh mereka yang dianggap kafir? Pastilah mereka melakukan penolakan. Kecuali bila mereka (Ahmadiyah) yang mengimami dan memberikan khutbah kepada kita (umat Islam),” katanya.

Bila pun nanti Ahmad Heryawan diterima menjadi khatib di masjid milik Ahmadiyah, Kiai Athian menduga bila itu taktik berpura-pura menerima yang dilakukan oleh pengurus Ahmadiyah.
“Kalau pun nanti Gubernur bisa berkhutbah di Masjid Ahmadiyah, saya menduga itu taqiyyah (berpura-pura) saja,” jelas Kiai Athian.

Cara terbaik untuk merangkul anggota Ahmadiyah kembali kepada ajaran Islam yang benar adalah dengan membubarkan organisasi Ahmadiyah terlebih dahulu.
“Setelah bubar, kita ajak syahadat, lalu lakukan pembinaan,” jelasnya.

Seperti yang dikabarkan hidayatullah.com sebelumnya bahwa rencana MUI Kota Bandung menjadi khatib dan imam shalat Jum’at (11/3/2011) di masjid milik Ahmadiyah batal, lantaran JAI Jabar tak memberikan izin.

Beberapa menit menjelang dikumandangkannya adzan, Dr. KH. Asep Zaenal Ausof dari MUI Kota Bandung yang sedianya menjadi khatib dan imam, mendadak diajak ke ruang DKM.

Dalam ruang DKM tersebut telah menunggu beberapa pimpinan JAI Jabar. Sementara itu KH. Asep Zaenal ditemani beberapa orang polisi, termasuk Kapolrestabes Kota Bandung, Kombes. Pol. Jaya Subriyanto, yang sengaja datang untuk ikut shalat jumat.

Inti dari pertemuan singkat tersebut, DKM menolak jika yang menjadi khatib dan imam di masjid Mubarak tersebut orang di luar jemaat Ahmadiyah.*


 
ResistNews--Komite Perlindungan Wartawan mengatakan bahwa tujuh wartawan dari beberapa media yang meliput kejadian di Libya, tidak ada kabarnya lagi. Pihak komite mengkhawatirkan keselamatan mereka.

Menurut Komite, salah satu dari jurnalis tersebut adalah seorang koresponden surat kabar Inggris, The Guardian, Abdul Ahad. Sebelum menghilang, ia meliput di pinggiran pantai kota, yang merupakan tempat pertempuran sengit antara pendukung setia Qadhafi dan pemberontak.

Surat kabar tempat Abdul Ahad bekerja telah melaporkan hal tersebut di situsnya, dan menyatakan bahwa pihaknya telah menghubungi pemerintah Libya di Tripoli, serta meminta pemerintah Inggris segera bertindak untuk menemukan keberadaannya.

Hal serupa juga dialami oleh enam wartawan lainya. Untuk saat ini keberadaan mereka tidak diketahui. Di antaranya adalah Atef Al-Atrash, yang menghilang tak lama setelah berbicara dengan Al-Jazeera dari Benghazi.

Selain itu, komite juga melaporkan hilangnya seorang blogger dan penulis politik Muhammad As-Sahim, kartunis Muhammad Al-Amin, serta penulis dan mantan editor majalah Arajen, Idris Musmar.*


ilustrasi, foto: ydsf.orgilustrasi, foto: ydsf.org

“Aku ingin istri yang cantik Ma, yang pintar dan bisa enak diajak diskusi, nyambung ketika bicara dan mudah dibawa masuk ke dalam acara keluarga, dan utamanya menerima kekurangan dan kelebihan kita Ma,” Anto memaparkan alasan kenapa sudah 32 tahun belum juga mau menikah.
“Mama, tahu kan betapa menderitanya bang Ucok, punya istri yang kaya raya namun arogan setengah mati, Ma tahu kan bahwa bang Ucok itu apalagi setelah di PHK makin sering dimarahin istrinya siang dan malam, kemarin saja aku dengar sendiri istrinya jerit-jerit di telepon suruh bang Ucok pulang cepat-cepat dari sini, itu karena si Maryam, anak bang Ucok yang ke dua sakit panas. Yaa mestinya istrinya ngertilah bahwa bang Ucok kan juga cuma sebentar di sini, cuma mampir nengokin anak yang baru pulang dari rumah sakit, kan juga cuma sebentar. Aku melihat istri kalau salah pilih malah bikin suami-suami jadi pusing, dan rumah tangga jadi gak bahagia,” Urai Anto panjang lebar dan seakan meminta pengertian sang Mama.
“Ada lagi istri si Umar, Mama ingat kan Umar kawan kuliahku dulu yang adalah ketua rohis? yang berjenggot itu lho Ma, Da’i yang rajin banget sholat bahkan ikut-ikut berdakwah, bahkan sekarang sesekali dia juga berdakwah di mushola kantorku... tapi baru saja ku dengar mereka bercerai, masing-masing bawa satu anak, karena ku dengar istrinya itu sangat kasar dan suka melempar-lempar barang kalau marah, kebayang gak sih punya istri marah-marah melulu, hidup jadi gak tenang kan..” gerutu Anto lagi.
“Lalu kamu mau punya istri yang kaya siapa To? di dunia ini kan tidak ada bidadari yang numpang lewat lalu menawarkan diri jadi istri kamu,” tanya Mamanya Anto dengan lembut. “Tidak ada perempuan yang sempurna di dunia ini, susah nyari yang sempurna, pasti ada cacat celanya,” Mama meneruskan sambil memegang bahu Anto dengan penuh kasih sayang. “Mama ini sudah tua To, Mama hanya ingin sepeninggal Mama nanti, kamu ada yang mengurus, merawat dan juga sudah punya anak-anak yang akan membuatmu menjadi dewasa dan gembira karena anak-anak itu membuat seorang suami menjadi lebih bertanggung jawab atas rumah tangga dan kehidupan ini.. Tidak lama lagi mungkin Mama akan menyusul ayahmu To, Mama hanya ingin sepeninggal Mama, kamu telah memperkenalkan istrimu pada Mama..” isak ibunya Anto tertahan..
Anto hanya terdiam dan tercenung lama, gumamnya dalam hati, “karena aku belum menemukan wanita seperti dirimu, Ma yang diam saja bila dimarahi suaminya, yang selau berkata lembut, yang selalu mengerti aku, yang selalu mengalah dan mendahulukan kepentinganku, yang pasrah dikasih uang berapa saja oleh suaminya, yang cantik seperti dirimu, yang menyayangi anak-anaknya seperti dirimu, aku susah sekali menemukan wanita yang baik seperti dirimu di zaman sekarang ini, banyak perempuan cantik namun mereka tidak memiliki sifat-sifat yang kuinginkan dari seorang wanita yang mengalah dan keibuaan seperti dirimu,” demikian renung Anto dalam hati.
Hmm, namun Anto sebenarnya tidak tahu bahwa sudah berapa kali ibunya mendengking pada ayahnya, sudah berapa kali ibunya minta cerai pada ayahnya, sudah berapa kali ibunya membantah ucapan ayahnya, sudah berapa kali ibunya marah-marah dan membanting pintu dengan keras pada ayahnya dalam hal berbeda pendapat yang cukup banyak, dalam ucapan-ucapan yang kerap salah pemaknaannya yang sering kali memicu pertengkaran hebat di rumah tangga mereka, bahkan Mamanya pernah sekali meninggalkan rumah ayahnya sambil menggendong Anto kecil yang diikuti bang Ucok dikala berusia 7 tahun, pergi dari rumah dengan amarah dan meninggalkan surat yang berisi permintaan cerai pada suaminya.
Dulu, di kala anak-anak masih kecil, dikala ibunya Anto masih muda, di kala rumah tangga mereka baru berusia di bawah 10 tahun, dulu ketika ekonomi keluarga belum mantap, ketika jiwa belum stabil, ketika semua masalah diselesaikan dengan emosi, Anto tak tahu bahwa untuk menjadi tenang dan berwibawa serta penuh kasih sayang seperti Mama, seorang wanita memerlukan banyak tahun untuk memberinya pengalaman agar lebih dewasa dalam mengarungi bahtera kehidupan dan diperlukan juga kesabaran dari sang suami untuk mendidik sang istri agar menjadi istri yang solihah, dan semua itu tidak dapat dilakukan dalam satu kedip mata, membutuhkan tahunan untuk memproses dari seorang wanita lugu dan tidak tahu apa-apa, serta jiwa yang sangat tidak stabil menjadikan seorang wanita dewasa yang pengertian, menyayangi dan menjadi wanita idaman.
Maka tak salah kan bila ku katakan bahwa SBY menjadi presiden dan dalam kehidupannya matang sebagai presiden karena pendampingnya adalah bu Ani yang lembut dan sudah matang dalam asam garam kehidupan, dan itu tidak mungkin dilakukan ketika usia pernikahan mereka masih seumur jagung.
Hmm, paham kan kenapa presiden selalu berumur tua, karena perlu di dampingi oleh istri yang sudah tua juga dan dewasa serta penuh hikmah. Anto akan menemukan istri idaman yang seperti ibunya, bila Anto melalui proses seperti ayahnya juga, butuh bertahun-tahun untuk mendapatkan istri idaman seperti yang diharapkan Anto.
"... dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf. akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. Al-Baqarah [2] : 228)


JAKARTA (ResistNews) -  Sidang dengan terdakwa ustadz Ba'asyir hari ini (14/3/2011) yang dijadwalkan menggunakan teleconference saksi-saksi diwarnai aksi walk out (keluar) pihak TPM dan ustadz Abu Bakar Ba'asyir.
TPM menyatakan tidak setuju dengan hakim Heri Swantoro yang tetap mengijinkan saksi dihadirkan melalui percakapan jarak jauh. Meskipun layar untuk telewicara sudah disiapkan namun TPM tetap menolak persidangan. Terjadi sedikit kericuhan saat salah satu anggota TPM membanting sebuah buku yang kemudian ditanggapi petugas keamanan dengan "menangkap" salah satu anggota dari TPM.
Aksi tersebut disusul walk out seluruh pengacara ustadz Abu Bakar Ba'asyir. Sidang lalu di skors sekitar satu jam, dan dilanjutkan dengan tanpa kehadiran TPM.

Ustad Ba'asyir Walk Out

Setelah skors berakhir, ustadz Abu yang masih duduk di kursi terdakwa meminta waktu sebentar untuk menjelaskan hakikat persidangan yang sedang dijalani, bahwasanya persidangan tersebut merupakan kebatilan. Karena menurut ustadz Abu para jaksa telah melecehkan Islam dengan menyatakan i'dad (latihan militer) sebagai kejahatan.
Dengan itu ustadz Ba'asyir menyatakan menolak persidangan dan memilih keluar dari persidangan.
Abdul Haris saksi pertama teleconference
Pasca walk out TPM serta ustadz Abu Bakar Ba'asyir yang juga diikuti para pengunjung sidang, hakim tetap melanjutkan jalannya persidangan.
Jadi sidang berjalan hanya dengan majelis hakim dan JPU, tidak ada terdakwa , tidak ada pengacara dan tidak ada pengunjung sidang kecuali aparat.
Pada saat pengunjung mulai meninggalkan ruang sidang, terjadi kericuhan saat salah satu pendukung ustadz Abu Bakar Ba'asyir berteriak "teleconference bohong", sontak hakim langsung memerintahkan petugas dan polisi mengeluarkan pendukung ustadz Abu tersebut.
Setelah pengunjung sidang keluar semua, hanya tersisa majelis hakim dan JPU yang kemudian menghadirkan saksi pertama yakni Abdul Haris (mantan amir JAT wilayah Jakarta) melalui teleconference dari Mako Brimob Kelapa Dua, Depok.
Karena para pengunjung sidang dipaksa keluar oleh petugas keamanan, beberapa orang yang masih ingin mengikuti pernyataan saksi Abdul Haris harus menonton melalui layar televisi yang disediakan di halaman PN Jaksel, namun suara saksi serta jalannya persidangan tidak terdengar, karena speaker dimatikan. (muslimdaily/arrahmah.com)

Source: http://arrahmah.com/read/2011/03/14/11340-tpm-dan-ustadz-abu-tinggalkan-persidangan.html#ixzz1GZrNfNFB
Powered by Blogger.