Jakarta - Rombongan Komisi III DPR tanpa publikasi ke masyarakat berkunjung ke Jerman selama sepekan. Untuk revisi 2 pasal RUU MK, Komisi III DPR menggunakan anggaran fantastis hingga Rp 2,2 miliar.
“Anggota Komisi III yang saat ini sedang berada di Jerman, sudah jelas akan menghambur-hambur uang pajak rakyat sebesar Rp 1,2 miliar. Jadi, pada bulan April sampai awal Mei 2011 ini, anggota DPR yang melakukan pelesiran ke luar negeri, secara total telah menghabiskan uang pajak rakyat dengan sia-sia sebesar Rp 14,5 miliar,” ujar Koordinator Advokasi dan Investigasi Sekretariat Nasional Forum Indonesia Untuk Transparansi Anggaran (Fitra), Uchok Sky Khadafi, dalam siaran pers, Senin (2/5/2011).

Uchok menyayangkan anggaran sebesar itu hanya digunakan untuk studi banding yang tidak begitu penting. Hal ini dianggapnya sebagai pemborosan uang negara secara berjamaah oleh anggota DPR.
“Uang sebesar Rp 1,2 miliar sebetulnya tidak perlu dihambur-hambur di Jerman. Oleh karena revisi RUU MK hanya 2 pasal saja, dan dalam melakukan revisi RUU MK ini sebetulnya tidak memerluhkan anggaran sebesar Rp 1,2 miliar alias nol anggaran,” kritiknya.
Uchok berharap aggota DPR menghentikan kunjungan kerjanya  ke luar negeri. “Sekali lagi stop kunjungan pelesiran DPR. Karena ini menandakan kepada publik bahwa anggota DPR sedang merusak lembaga demokrasi sendiri yang bernama lembaga perwakilan rakyat tersebut,” tandasnya.
Daftar kunjungan kerja empat alat kelengkapan DPR selama masa reses DPR 8 April hingga 8 Mei 2011 yang diolah oleh Seknas FITRA dari RK dan Dipa DPR tahun 2011 yang mengikuti standar Kemenkeu no. 100/PMK.02/2011 adalah sebagai berikut:
1. Kunjungan Komisi I DPR ke Amerika Serikat 1-7 Mei 2011 menghabiskan anggaran Rp 1.405.548.500
2. Kunjungan Komisi I DPR ke Turki 16-22 April 2011 menghabiskan anggaran Rp 879.908.000
3. Kunjungan Komisi I DPR ke Rusia menghabiskan anggaran Rp 1.286.713.750
4. Kunjungan Komisi I DPR ke Prancis menghabiskan anggaran Rp 944.593.250
5. Kunjungan Komisi I DPR ke Spanyol menghabiskan anggaran Rp 1.201.826.500
6. Kunjungan Komisi X DPR ke Spanyol 24-30 April 2011 menghabiskan anggaran Rp 1.320.374.500
7. Kunjungan Komisi X DPR ke China menghabiskan anggaran Rp 668.730.500
8. Kunjungan Komisi VIII DPR ke China 17-24 April 2011 menghabiskan anggaran Rp 668.730.500
9. Kunjungan Komisi VIII DPR ke Australia menghabiskan aggaran Rp 811.800.250
10. Kunjungan BURT DPR ke Inggris 1-7 Mei 2011 menghabiskan anggaran Rp 1.574.638.500
11. Kunjungan BURT DPR ke Amerika Serikat menghabiskan anggaran Rp 1.966.986.500
12. Kunjungan rombongan Ketua DPR ke luar negeri 1 – 6 Mei 2011 ke Irak menghabiskan anggaran Rp  618.993.250
13. Kunjungan Komisi III DPR ke luar negeri tanggal 25 april – 1 Mei ke Jerman menghabiskan anggaran 1.222.130.250.
Jumlah total anggaran yang dihabiskan RP 14.571.210.750. (detiknews.com, 2/5/2011)

Oleh: Harits Abu Ulya
(Pemerhati Kontra-Terorisme & Ketua Lajnah Siyasiyah DPP-HTI)
Siapa yang tidak kenal dengan Densus 88?, hampir semua orang Indonesia familiar dengan satu nama ini. Apalagi dalam isu terorisme selalu tampil bak bintang film dan “pahlawan”. Tapi saat ini banyak orang mulai akrab dengan sebuah lembaga baru yang bernama BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme), karena para pejabatnya sering nongol di layar kaca menjadi “artis” dalam isu “terorisme”,  dipimpin seorang yang selevel menteri dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Apa bedanya antara dua institusi diatas? Yang paling penting adalah, BNPT memiliki kewenangan luas dan khusus di bidang kontra-terorisme. Dan Densus 88 menjadi bagian dari instrumen penindakan BNPT. Isi BNPT juga nyaris bukan orang baru, banyak orang Densus 88 ditarik menjadi Deputi atau direktur di Lembaga baru ini yang dibentuk  melalui kepres No 46 tahun 2010, resmi di-teken Presiden tanggal 16 Juli 2010. Dan sejak BNPT berjalan maka isu-isu terkait “terorisme” orang-orang BNPT yang sering tampil di muka media. Bahkan ketua BNPT, Ansyad Mbai Laksana seorang orator politik; banyak membangun opini dan propaganda yang tendensius dengan seabrek kepentingan politiknya dibanding bicara fakta. Sejauh ini belum terbuka di hadapan publik tentang mekanisme kontrol terhadap kerja lembaga BNPT.
Hal yang menarik dari BNPT, keseriusannya melakukan langkah “lembut” (soft measure) dibawah payung strategi yang bernama “deradikalisasi”. Sebuah strategi bagian dari proyek “kontra-terorisme”. Dan ini harus jalan karena pendekatan secara keras dianggap belum bisa mereduksi dan menghabisi seluruh potensi yang mengarah kepada tindakan “terorisme”. Bahkan dianggap belum efektif menyentuh akar persoalan terorisme secara komprehensif. Strategi penegakan hukum juga dirasa kurang memberikan efek jera dan belum  bisa menjangkau ke akar radikalisme. Sekalipun diakui cukup efektif untuk “disruption“, ia tidak efektif untuk pencegahan dan rehabilitasi sehingga masalah terorisme terus berlanjut dan berkembang. Jadi ini adalah sebuah program yang lebih banyak berbentuk pendekatan lunak (soft approach), baik kepada masyarakat luas, kelompok tertentu maupun individu tertentu yang dicap “radikal”, “teroris” dan semacamnya.
Maka wajar saja jika proyek seperti ini rawan munculnya teknik kotor untuk memuluskan. Artinya perlu diciptakan kondisi dan situasi yang bisa memediasi program ini berjalan seperti yang diharapkan. Mengingat dari strategi yang ditempuh, obyek sasaran jangka panjangnya jelas-jelas adalah kelompok yang dianggap mengusung ideologi radikal atau fundamentalis. Dalam konteks ini ada pendekatan formal, misalnya langkah BNPT menggandeng MUI di akhir 2010 dengan membuat program Halqoh Nasional Penanggulangan Terorisme dan Radikalisme.
Acara ini diselenggarakan di enam kota besar Indonesia, meliputi Jakarta (11 Nopember), Solo ( 21 Nopember), Surabaya (28 Nopember), Palu (12 Desember) dan terakhir di Medan (30 Desember) tahun lalu. Proyek BNPT tapi Penggagas acara ini diatas-namakan MUI Pusat dan Forum Komunikasi Praktisi Media Nasional (FKPMN) yang diketuai oleh Wahyu Muryadi (Pimred Majalah Tempo). Ketika agenda ini berlangsung, fakta berbicara lain; hampir di semua tempat mendapatkan resistensi dari kalangan ulama’ dan tokoh masyarakat, audien cukup kritis, karena melihat banyak kesenjangan dan kejanggalan antara “niat baik” BNPT dengan fakta di lapangan yang membuat umat Islam merasa terdzalimi. Sebuah fakta yang tidak bisa diingkari dalam upaya menumpas “terorisme”; sarat pelanggaran HAM, extra judicial killing terhadap orang-orang yang disangka “teroris”, seolah berjalan nyaris tanpa koreksi. Bahkan tindakan “Hard Power” ini menjadi sumber kekerasan dan membuat siklus kekerasan yang tidak berujung. Negara seolah berubah menjadi “state terrorism”, kemudian melahirkan perlawanan baru dari berbagai level dengan beragam cara.
Di sisi lain, cara-cara yang tidak terbuka juga sangat mungkin dilakukan agar proyek deradikalisasi dengan motif jangka panjangnya mulus berjalan. “Mindset control” melalui media adalah keniscayaan dan krusial menjadi kebutuhan proyek ini. Maka dalam konteks ini, kita bisa membaca relevansi antara isu yang dikembangkan media  tentang NII. Pertanyaannya, kenapa harus NII? Jawaban yang logis adalah; eksistensi NII adalah fakta sejarah di bumi Indonesia, dengan berbagai variannya NII hingga kini (varian tertentu) menjadi anak asuh dari entitas kekuasaan dengan kepentingan politiknya. Maka jika hari ini dihembuskan ulang tentang NII, bidikan sesungguhnya bukan dalam rangka menghancurkan dan memberangus NII. Tapi mengambil satu aspek, yakni terminologi “negara Islam” (alias: darul Islam, daulah Islam). Proyek deradikalisasi, mengharuskan target bisa diraih diantaranya; masyarakat  resisten terhadap terminologi dan visi politik dari sebuah kelompok yaitu “negara Islam”. Penerapan Islam dalam format Negara harus menjadi momok bagi kehidupan sosial politik masyarakat Indonesia, sekalipun penghuninya mayoritas adalah orang Islam. Karena format Indonesia yang sekuler dan liberal dalam bingkai demokrasi adalah “harga mati” menjadi muara dari proyek ini, karenanya wajib mengeliminasi setiap “ancaman” terhadapnya.
Masyarakat masih segar ingatannya; ketika terjadi peristiwa kriminal perampokan Bank CIMB di kota Medan-Sumut, Kapolri saat itu (Bambang HD) menyatakan bahwa  motif perampokan adalah hendak mendirikan negara Islam. Dan ini terulang pada kasus paket Bom Buku, pihak BNPT (Ansyad Mbai) “berorasi” bahwa pelakunya adalah pengusung dan pejuang negara Islam (Khilafah) dan yang menjadi obyek sasarannya adalah penghalang Khilafah. Dengan logika sehat, sulit rasanya untuk membaca hubungan tindakan dengan motif politiknya dalam kasus-kasus diatas, tapi masyarakat melihat pihak BNPT dan instrumennya ngotot mempropagandakan tentang visi politik dari setiap peristiwa yang mereka klaim sebagai “terorisme”.
Maka sesungguhnya ini adalah perang  opini dan propaganda, berangkat dari sikap Islamphobia. Sikap paranoid yang berlebihan, sebagaimana berlebihnya pemerintah mengumumkan “Siaga 1″ untuk seluruh wilayah Indonesia menjelang  “Paskah” umat kristiani dengan alasan dan argumentasi yang tidak bisa dicerna oleh orang-orang yang paham betul masalah aspek-aspek keamanan dan pertahanan ini.
Ala kulli haal, isu NII adalah tidak lebih layaknya pemanis dan menjadi “sambal” dari sebuah menu. Bisa juga menjadi “teror NII“, Ia diangkat ke permukaan untuk di ambil visi politiknya saja, di bawa untuk mendramatisir dan sifat mendesaknya sebuah proyek deradikalisasi harus berjalan dengan maksimal dan melibatkan banyak pihak, bahkan kebutuhan mendesak adanya regulasi (UU) yang bicara tentang keamanan negara, karena dengan berbagai peristiwa “terorisme” dibangun sebuah wacana Indonesia dalam sikon “gawat darurat” karena menghadapi gejala tumbuh suburnya Ideologi impor yang hendak menjadikan Indonesia Darul Islam (negara Islam).Wajar kalau saat ini masyarakat banyak terprovokasi, misalkan komponen ormas NU melalui Ansor-nya hendak membuat Densus-99 untuk menangkap setiap kelompok yang dicurigai melakukan pelatihan dan mengembangkan paham radikal, sama berlebihannya dengan mengintruksikan kepada seluruh  anggotanya untuk melakukan swepping di seluruh masjid NU se-Indonesia untuk membersihkan dari paham radikal dan fundamentalis.
Deradikalisasi menjadi media baru lahirnya adu domba dan potensial memprovokasi lahirnya kontraksi dan gesekan sosial lebih serius antar umat Islam sendiri. Umat Islam dalam jebakan adu domba yang bernama proyek “kontra-terorisme” dengan berbagai strateginya termasuk deradikalisasi. Waspadalah wahai kaum muslimin, karena orang-orang munafik yang benci kepada Islam, siang dan malam menyusun rencana dan agenda untuk memadamkan cahaya Islam atas alasan “demokrasi”,”toleransi”, dan “kebinekaan“. Wallahu a’lam bisshowab

JAKARTA (Arrahmah.com) – Merebaknya isu Negara Islam Indonesia (NII) sudutkan dan dzolimi umat Islam. Media sekuler yang Islamphobia (anti/takut Islam) ikut memperkeruh suasana dengan pemberitaan yang menyudutkan dan tendensius. Salah satu kasusnya adalah isu ‘penyekapan’ Rohani Nurfitri (12) oleh NII yang kemudian berhasil meloloskan diri pada hari Jum’at (29/4/2011) di Pamulang. Umat Islam kembali didzolimi!
Media sekuler diskriminatif dan tendensius
Isu Negara Islam Indonesia (NII) kembali sudutkan dan dzolimi umat Islam. Kondisi ini diperparah dengan maraknya pemberitaan media sekuler (Islampobhia) yang menyudutkan dan tendensius terhadap umat Islam. Media-media sekuler menurunkan judul yang provokatif dan menjerumuskan opini masyarakat dengan mengaitkan apa saja dan siapa saja kepada isu NII.
Salah satu kasusnya adalah isu ‘penyekapan’ Rohani Nurfitri (12) yang dikatakan telah dihipnotis dan disekap oleh jaringan NII, yang akhirnya meloloskan diri pada hari Jum’at (29/4/2011) di Pamulang.
Metrotvnews.com di hari yang sama, Jum’at (29/4) menurunkan berita tersebut dengan judul “Seorang Gadis Cilik Pulang setelah Disekap 4 Tahun”. Dalam berita yang ditulis oleh Nur Cholis/RNN tersebut terlihat sumber berita baru dari satu fihak, yakni fihak Rohani Nurfitri. Fihak yang dituduhnya sebagai jaringan garis keras dan yang telah mendoktrin Nurfitri sama sekali tidak ditanyakan. Metrotvnews.com juga tidak mengkonfirmasi masalah Nurfitri kepada kakak-kakaknya yang juga dituduhkan hilang.
Media Indonesia on line lewat wartawannya Dede Susianti bahkan menulis pada hari Sabtu (30/04/2011) dengan judul lebih tendensius lagi memojokkan Islam dan kaum Muslimin. Dia menulis dengan judul “Disekap Wanita Bercadar, Rohani Berhasil Kabur”. Dalam tulisan tersebut, disamping tidak akurat dengan mengatakan Rohani kembali ke pangkuan ayahnya bersama tiga saudara kandung lainnya, juga tidak mengkonfirmasi kepada fihak yang dituduhnya. Bahkan dengan seenaknya wartawan dengan kode OL-5 ini menuduh Rohani direkrut jaringan yang mengajarkan aliran sesat!
Konyolnya lagi, pada hari Senin (2/05/2011) harian Media Indonesia dengan wartawan yang sama, Dede Susianti, menurunkan tulisan dengan judul “Penyekapan Korban Hipnotis di Pamulang” yang dengan tendensius mengarahkan polisi agar segera bertindak. Bukti-bukti sudah cukup kuat, tapi polisi belum juga mengetok pintu rumah tempat penyekapan Rohani Nurfitri, korban hipnotis, tulis Media Indonesia.
Padahal, sebagaimana disampaikan oleh Bachrumsyah, pemilik rumah yang selama ini menampung Rohani Nurfitri, kemarin, Ahad (1/05/2011) wartawan Media Indonesia yang mendatangi rumahnya bernama Afri, seorang lelaki berusia sekitar 28 tahun, bukan Dede Susianti. Pria bernama Afri ini kemudian bertanya panjang lebar tentang kasus Rohani Nurfitri yang diisukan disekap olehnya dan juga dihipnitos. Bachrumsyah sudah membantah isu hipnotis dan menjelaskan bahwa Rohani Nurfitri ditampung di rumahnya atas permintaan kakaknya, Ming Ming Sari Nuryanti alias Ukhti Muna yang telah dibantu sebelumnya. Anehnya lagi, seluruh hasil wawancara Bachrumsyah dengan lelaki bernama Afri yang mengaku sebagai wartawan Media Indonesia ini tidak satupun yang dimuat dalam berita yang diturunkan Media Indonesia, Senin (2/05/2011). Jadi, siapa sebenarnya Afri? Apakah dia juga berarti Dede Susianti?
Selain dua media di atas, dua media sekuler lainnya juga ikut-ikutan mendiskriditkan umat Islam. Liputan6.com menulis dengan judul “Bocah Belasan Tahun Kabur dari NII”. Berita yang diturunkan hari Sabtu (30/04/2011) ini secara serampangan menduga Rohani sebagai korban perekrutan jaringan kelompok Negara Islam Indonesia atau NII.
Harian Warta Kota, yang termasuk dalam jaringan media Kompas Gramedia bahkan secara lebay menurunkan tulisan di hari Senin (2/05/2011) dengan judul “ABG Disekap NII 3 Tahun”. Wartawannya Wid/kompas.com menulis : Rohani Nurfitri (12) berhasil meloloskan diri dari kelompok yang diduga aktivis Negara Islam Indonesia (NII) setelah disekap selama 3 tahun. Ia direkrut oleh kakak-kakaknya sendiri yang sudah lebih dulu dijerat NII.
Sama, semua media sekuler ini hanya bersumber dari satu fihak, yakni fihak Rohani Nurfitri saja dan ayahnya. Tidak ada klarifikasi dari fihak yang dituduh menyekap dan terkait NII, yakni fihak Bachrumsyah dan Ming Ming Sari Nuryanti. Kalaupun ada wawancara ke Bachrumsyah dari Media Indonesia, teryata semua hasil wawancara tersebut tidak satupun yang dimuat. Sungguh. media-media sekuler yang Islamphobia tersebut telah bersikap diskriminatif dan tendensius menuduh dan mendzolimi umat Islam!
Bachrumsyah : “Aliran kami Ahlus Sunnah wal Jama’ah”
Bachrumsyah, lelaki yang dituduhkan menyekap Rohani Nurfitri menyatakan ke Arrahmah.com bahwa semua itu adalah dusta dan upaya mendiskriditkan dirinya yang memang aktif berdakwah dan melakukan aksi sosial lainnya. Kepada wartawan Media Indonesia yang datang ke rumahnya juga sudah disampaikan bahwa dia tidak pernah menghipnotis Nurfitri, menyekapnya, dan mengekangnya. Nurfitri dititipkan kepadanya oleh kakak-kakaknya, termasuk Ming Ming Sari Nuryanti, akibat ayah mereka kerap melakukan tindakan kekerasan.
Bachrumsyah mengungkapkan bahwa Rohani Nurfitri tidak pernah dilarang untuk keluar rumah, dan banyak tetangga yang bisa dijadikan saksi. Nurfitri juga disekolahkan, meskipun akhirnya dia sendiri yang menolak melanjutkan sekolah tersebut. Jadi, tidak benar berita yang mengatakan bahwa Nurfitri dikekang tidak boleh keluar kemana-mana.
Hal di atas dibenarkan oleh Ming Ming Sari Nuryanti kepada Arrahmah.com, bahkan dengan menunjukkan sebuah Surat Pernyataan yang ditanda tangani oleh Syaefudin, ayah Ming Ming dan juga ayah Rohani Nurfitri, di atas materai tertanggal 5 Oktober 2008. Dalam surat peryataan tersebut, Syaefudin, ayah Rohani Nurfitri berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatan tersebut, yakni melakukan kekerasan/pemukulan terhadap anak-anaknya!
Ketika ditanya oleh Afri, lelaki yang mengaku wartawan Media Indonesia, “apa alirannya”, Bachrumsyah menjawab bahwa aliran dirinya adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yang mengikuti salafus sholeh, bukan NII. Bachrumsyah juga ditanya siapa pemimpinnya yang menggerakkan dirinya selama ini, apakah Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, atau Ustadz Abu Jibriel, dan dijawabnya bahwa yang mengatur hidupnya selama ini adalah Al Qur’an.
Ming Ming Sari Nuryanti, secara khusus bahkan telah menulis bantahan yang juga diserahkan kepada Arrahmah.com untuk dipublikasian. Dalam bantahannya tersebut dia mengatakan :
“Saya Ming Ming sari Nuryanti dan kedua adik saya yaitu Lisa dan Melati dalam keadaan sehat wal afiat dan Allah masih berkenan melindungi kami, ini semua karena nikmat dan karunia Nya. Menanggapi pemberitan sepihak (metro tv, media Indonesia dan situs-situs internet) yang sedang berkembang tentang saya dan kedua adik saya, maka saya katakan…. Astaghfirullah, ini adalah berita bohong dan fitnah yang kejam”!
Dengan demikian bisa dikatakan bahwa isu Negara Islam Indonesia (NII) telah dimanfaatkan untuk menyudutkan dan mendzolimi Islam dan kaum Muslimin dan diperkeruh oleh media-media sekuler yang Islamphobia dengan pemberitaan yang diskriminatif dan tendensius. Saatnya media Islam bersatu dan menghalau isu negatif dan murahan ini serta membantu saudara-saudara Muslimnya yang didzolimi. Allahu Akbar! (M Fachry/arrahmah.com)

PAKISTAN (ResistNews) - Kabar mengenai syahidnya, Insha Allah, petinggi Al Qaeda, Syeikh Usamah bin Ladin yang diumumkan oleh Barack Obama laknatullah, semakin janggal.  Beberapa laporan menunjukkan kontradiksi dengan pengumuman oleh teroris Amerika Serikat.
Media Rusia memberitakan bahwa Intelijen Pakistan mengabarkan bahwa Syeikh Usamah bin Ladin masih hidup dan berada dalam kondisi aman.  Selain itu hingga kini AS belum memperlihatkan jasad dari Syeikh Usamah jika benar beliau telah meninggal.  Sejauh ini hanya sebatas klaim yang diumumkan oleh AS.
AS mengklaim bahwa jenazah Syeikh Usamah akan ditenggelamkan dilaut, namun hingga kini belum ada laporan lanjutan dan belum ditunjukkan peti mati dari jenazah Syeikh Usamah.
Selain itu, pemerintah Pakistan juga tidak tahu-menahu mengenai “operasi” yang dilancarkan AS di kota Abbottabad.  Pemerintah Pakistan baru mengetahuinya saat operasi sudah selesai dan diumumkan oleh Barack Obama.  Bukankah ini merupakan suatu kejanggalan lainnya?  Biasanya AS akan menggandeng bonekanya saat melakukan operasi di wilayah Pakistan, tapi kali ini “operasi” yang disebut-sebut telah dipersiapkan selama kurang lebih sembilan bulan, ditutupi dari otoritas AS.
Tehrik e Taliban bantah kabar kematian Syeikh Usamah
Kabar tandingan untuk membantah laporan kematian Syeikh Usamah juga datang dari wilayah Pakistan.
Mujahidin Taliban Pakistan dalam sebuah statemen yang keluar beberapa saat setelah AS mengumumkan kematian orang nomor satu Al Qaeda menyatakan bahwa Syeikh Usamah masih hidup.
Reporter Televisi Geo di Pakistan melaporkan kelompok Taliban menyatakan Usamah masih hidup dan laporan kematian itu sebagai tidak berdasar.
Berdasarkan pengamatan arrahmah.com, forum Islam Syamikh kini dapat kembali dibuka.  Mereka menyarankan untuk tidak mempercayai semua berita dari media sekuler yang beredar.
Jihad tidak akan surut
Kabar kematian Syeikh Usamah bin Ladin jika memang benar, ternyata tidak menyurutkan semangat Mujahidin.  Seperti yang dikatakan Abu Rusdan saat diwawancarai oleh TV one melalui sambungan telepon mengatakan bahwa Jihad tidak tergantung figur, akan tetap berlangsung sampai hari akhir.
“Kabar kematian Syeikh Usamah bin Ladin hafidzahullah, jika memang benar, tidak akan menyurutkan semangat Mujahidin di manapun ia berada, karena Jihad tidak tergantung oleh figur, Jihad akan terus berlangsung sampai hari akhir,” ujar Abu Rusdan.
Hingga saat ini kabar kematian Syeikh Usamah masih belum mendapat konfirmasi resmi dari Al Qaeda.
Apa yang ingin disembunyikan AS?
Entah apa yang ada dalam pikiran AS saat mengeluarkan pengumuman kematian Syeikh Usamah bin Ladin.  Jika pengumuman mereka benar, mengapa mereka tidak secara gamblang mengeluarkan berbagai bukti yang dapat menguatkan klaimnya?
Apakah ini hanya sebuah bentuk kampanye oleh Obama untuk memperbaiki citra dan mengembalikan kepercayaan publik Amerika Serikat yang telah menurun terhadap dirinya menjelang kampanye mendatang?
Ataukah ini hanya bagian dari propaganda AS untuk menyembunyikan rasa malunya terkait kekalahan telak mereka di Afghanistan.  Dengan kabar kematian ini, mereka akan memiliki alasan untuk menarik diri keluar dari Afghanistan tanpa rasa malu, wallahualam.  (haninmazaya/arrahmah.com)
Powered by Blogger.