• Latest Stories

      What is new?

    • Comments

      What They says?

Fahmi Salim: MIUMI Tidak Menjadi Ormas


Ustadz Fahmi Salim, MA. Demikianlah nama lengkap intelektual muda Indonesia yang kini duduk sebagai Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI). Peraih gelar MA di bidang Tafsir dan Ulumul Qur’an Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir ini adalah putra kelahiran Jakarta asli  22 Mei 1980. Fahmi terlahir sebagai putra bungsu dari H. Salim Zubair (alm) dan Hj. Yatmi Salim (alm). Selain di MIUMI, Fahmi juga masih tercatat sebagai anggota Komisi Pengkajian dan Penelitian MUI Pusat.

Pada Selasa malam (28/2/2012) lalu, mengenakan kopyah hitam dan berkemeja putih, di Ruang Puri Ratna, Hotel Sahid, Jakarta, Fahmi berdiri di deretan para deklarator MIUMI. Ya, dia adalah salah satu dari belasan ulama dan intelektual muda yang mendirikan MIUMI.

Bagaimana pandangan Fahmi Salim seputar MIUMI dan visi ke depan organisasinya itu?. Apakah organisasi ini kan menjadi organisasi masyarakat (ormas) sebagaimana ormas-ormas Islam yang telah ada?. Berikut cuplikan wawancara sejumlah wartawan media Islam dengan Fahmi Salim di Jakarta.

Bagaimana ceritanya kok bisa langsung jadi Wasekjen MIUMI?


Alhamdulillah, pada saat rapat pembentukan MIUMI ditetapkan secara aklamasi Dr. Hamid Fahmy sebagai Ketua majelis, dan Ustadz Bachtiar sebagai Sekjen. Baru pada pertemuan berikutnya ditetapkan struktur secara lebih rinci yaitu Sekjend dibantu oleh 4 orang wakil sekjend, saya salah satu di antaranya, untuk membantu tugas-tugas sekjend untuk mengkordinasikan kegiatan, sirkulasi ide dan informasi, serta kehumasan, sebab tugas MIUMI cukup berat yaitu meriset, mensosialisasikan dan menegakkan fatwa-fatwa strategis untuk membangun struktur social umat Islam di Indonesia. Bagi saya, posisi ini adalah amanah mulia dalam rangka menjayakan Islam dan umatnya, makanya saya menerima tugas tersebut dengan senang hati.

Sejak awal perjalanan Ust. Bachtiar merangkul dan berdialog dengan para tokoh ulama muda untuk mendiskusikan kemungkinan membentuk wadah perjuangan baru, saya telah dilibatkan oleh beliau. Ide embrio MIUMI disampaikan beliau kepada saya pada event Jalan Sehat dan Fun Bike Aksi Solidaritas Palestina yang digerakkan oleh ASPAC dan SOA pada November tahun lalu. Saya pribadi memiliki ‘humum’ (kegelisahan dan cita-cita) bersama dan sehati dengan Ust. Bachtiar, apalagi sejak awal buku saya “Kritik Terhadap Studi Al-Qur’an Kaum Liberal” dilaunching ke public pertama kali di Majelis Tadabur Qur’an yang diasuh beliau. Dari situ saya melihat ghirah yang tinggi dan kuat dari beliau untuk membentengi Al-Qur’an dari paham-paham dan penafsiran yang destruktif dan liberal. Nampaknya, karena ikatan hati dan ilmu yang kuat di antara kami berdua telah menyatukan langkah kami bersama untuk berkhidmat dan mewakafkan diri dan potensi keilmuan kita dalam wadah MIUMI ini.

Mengapa baru sekarang MIUMI terealisasi?


Betul sekali, namun terbentuknya komunitas MIUMI ini memerlukan waktu dan kesamaan visi dan proyeksi dakwah yang strategis di Negara sebesar dan sekompleks Indonesia. Kalau kita membentuknya asal-asalan dan premature, atau asal comot orang yang tidak faham dan menjiwai dakwah dan keilmuan tentu akan sulit sekali menggerakkan dakwah berbasis riset di Indonesia ini. Kita ingin menjadikan MIUMI sebagai lembaga dakwah sekaligus lembaga think tank yang dapat mempengaruhi opini publik dan para pengambil kebijakan secara maksimal di Indonesia ini. Dakwah kita bukan dakwah biasa dan rutinitas, tapi dakwah yang mengawinkan aktivisme dai dan intelektualisme ulama yang sophisticated (canggih), karena memang lahan dakwah Indonesia ini sudah banyak yang mengisi namun lemah di sisi riset dan wacana ilmiah. Cita-cita kita besar yaitu membangun peradaban Islam dengan segala struktur sosialnya di tengah umat. Dan ini tidak bisa tidak, harus dengan fondasi ilmu yang kuat.

Apa sih kekuatan utama MIUMI?


Kekuatan kita pertama-tama adalah semangat dakwah dan ilmu (baik ilmu syariah maupun ilmu dunia). Inilah modal awal kita. Yang kedua, adalah semangat ukhuwah, di MIUMI seluruh ulama muda lintas mazhab sunni bisa duduk satu meja membahas dan mencari solusi problematika umat. Ketiga, adalah platform ASWAJA dan framework (kerangka) pemikiran yang jelas dan konsisten, para aktifis MIUMI adalah sudah pasti anti liberal, anti syiah, dan anti aliran-aliran sesat. Karena kita semua berkeyakinan, bahwa problematika bangsa ini, dan bahkan dunia, tidak akan bisa selesai dan keluar dari kemelutnya jika solusi yang ditawarkan tidak berlandaskan akidah yang benar dan metodologi pemahaman Islam yang benar dan valid yang telah diwariskan oleh Rasulullah saw dan para ulama sepeninggal beliau. Insya Allah, dengan tiga pilar kekuatan MIUMI itu, kita berharap Allah swt berkenan memberikan pertolongan-Nya kepada umat ini sehingga dapat segera keluar dari krisis multidimensi. Ingat, pertolongan dari Allah Swt ini sangat penting dan faktor kunci, WA MAN NASHRU ILLA MIN ‘INDILLAH, tetapi untuk meraih pertolongan Allah itu tentu saja ada syarat dan ketentuan berlaku! Yang di antaranya adalah akidah yang sahih, ukhuwah dan ittihad yang sejati, dan dakwah yang ikhlas.
Ustadz Fahmi Salim saat menjadi pembicara dalam Majelis Taqarrub Ilallah dan Temu Pembaca Suara Islam di Masjid Baiturahman, Jakarta Selatan, Sabtu (17/3/2012) bersama Sekjen FUI KH M Al Khaththath dan Ketua MUI Pusat KH A Cholil Ridwan.

Kalau kelemahannya?

Factor kekuatan MIUMI yang saya sebutkan di atas, jika tidak dikelola dengan hati dan azam yang kuat, bisa jadi kelemahan kita. Kita sadari latar belakang dari school of thoughts (sekolah pemikiran) Sunni yang heterogen, harus diantisipasi jangan sampai perbedaan furu’ (cabang) agama dapat menciptakan jarak / gap antar para eksponen MIUMI di pusat maupun daerah. Atau bisa jadi imej kalangan awam dan yang fanatik kepada ormas tertentu mungkin akan menilai kita adalah abu-abu dan tidak jelas, ini besar kemungkinan muncul karena kelompok muslim di Indonesia sudah lama terkotak-kotak. Nah kita ingin buktikan bahwa perbedaan antar mazhab sunni di kalangan kita tidak menjadi halangan untuk berjalan bersama dan bersinergi untuk kemajuan umat.

Selain itu manajerial dan finansial. Harus kita akui banyak lembaga dakwah dan pemikiran umat yang manajemennya ala ustaz atau ala kadarnya. Oleh sebab itu MIUMI harus digawangi oleh 2 komponen utama; thinkers, yaitu para ulama dan intelektual, dan kaum professional yang mengatur program dan mencari dana organisasi. Dimana-mana, bahkan sejarah dakwah Islam membuktikan Rasulullah saw selalu ditopang para pengusaha dan professional yang dibina oleh beliau seperti Khadijah RA (istri beliau), Abu Bakr, Usman bin Affan, Abdurrahman bin ‘Auf dll. Tapi kita harus optimis, Man Jadda Wajada, Man Saara ‘ala Darbi Washala…

Bagaimana MIUMI ke depan?. Action apa yang akan dilakukan untuk umat?

Harapan saya, MIUMI harus menjadi lembaga dakwah berbasis riset dan keilmuan. Kita berharap juga MIUMI dapat menjadi think-tank yang disegani oleh seluruh umat Islam dan komponen bangsa yang lain. Dan juga menjadi barometer opini publik nasional terkait isu keIslaman dan kebangsaan. Untuk membentuk opini calon pemimpin nasional misalnya, MIUMI sudah semestinya kampanyekan pentingnya integritas ilmu dan akhlak kepada lembaga-lembaga survey sebagai kriteria calon pemimpin bangsa. Solusi yang ditawarkan oleh MIUMI kepada umat dan bangsa harus fundamental, komprehensif dan solutif. Kita juga punya impian, MIUMI bisa memiliki Islamic Centre (markaz Islami) yang dapat mengorganisir kegiatan dakwah, keilmuan, training, dan pendidikan umat. Itu semua kita lakukan dalam rangka membentuk struktur sosial umat Islam di Indonesia.

Bagaimana konsep MIUMI untuk penyatuan umat?

Pertama, kita jalin Silaturahim yang intens dan lintas kelompok serta membangun komunikasi dengan menempatkan konsepsi ASWAJA sebagai platform bersama ulama dari seluruh ormas dan kelompok Islam di tanah air. Sebab tantangan dakwah kita kian berat, dan akan sulit kita mengatasi problem eksternal umat ini kalau persatuan internal umat tidak segera dipecahkan lebih dulu. Kedua, menempatkan ilmu dan otoritas ulama di tempat yang patut; sebagai kata kunci untuk menyelesaikan perbedaan ideology, politik dan kepentingan. Jika ilmu dan otoritas ulama yang bebas kepentingan dan tarikan politis tertentu sudah berbicara, maka tidak boleh lagi ideologi, dan kepentingan politik dan golongan boleh atau berhak berbicara. Jika semua bisa diharapkan tunduk kepada otoritas ilmu dan ulama, maka kita optimis perpecahan di tengah umat dan ulama akan bisa diminimalisir. 

Bagaimana rencana pengembangan MIUMI ke seluruh Indonesia? Apakah akan jadi Organisasi Massa (ormas)?

Massa itu penting, tapi kita tidak akan fokus untuk merekrut massa karena memang kita tidak akan menjadi Organisasi Massa (ormas). MIUMI lebih intensif menggarap komunitas-komunitas ilmiah di daerah-daerah sebagai syarat membuka cabang MIUMI di daerah. Kalau Nahdhatul Ulama identik dengan pesantren sebagai syarat pendirian cabang. Juga Muhammadiyah mensyaratkan berdirinya cabang di daerah jika berhasil mendirikan amal usaha seperti sekolah, panti asuhan, atau rumah sakit. Maka keunikan MIUMI terletak pada berdirinya komunitas ilmu di daerah-daerah. Semuanya saling melengkapi dan kita tidak ingin menyaingi siapapun. Tapi bukan berarti MIUMI tidak punya akar basis massa.

Harapan saya, baik di MIUMI pusat maupun komunitas ilmu di daerah itu memiliki basis pendukung yang militan dari kalangan terpelajar dan professional, singkatnya harus menguasai kelas menengah muslim Indonesia tanpa perlu mengeluarkan KTA. Agar, konsep-konsep Islamisasi yang digaungkan MIUMI ini dapat diaplikasikan oleh tenaga-tenaga trampil dan yang berpengaruh di seluruh lapisan masyarakat. Sehingga bisa jadi basis pendukung gerakan MIUMI ini adalah orang-orang pilihan dan potensial dari seluruh ormas Islam yang ada, dan mereka diharapkan bisa mengaplikasikan gagasan Islamisasi yang menyeluruh di dalam wadah mereka berkhidmat untuk umat.

Bagaimana dengan kaderisasi MIUMI?

Kaderisasi ulama akan menjadi agenda penting MIUMI dalam jangka menengah, 5 tahun pertama. Kita harus membangun struktur ilmu yang benar dulu berdasarkan Islamic-worldview (pandangan alam Islam), lalu kita merumuskan syarat-syarat keulamaan yang bisa diterima dalam komunitas MIUMI yaitu mereka-mereka yang memiliki integritas ilmu, integritas akhlak dan integritas sosial. Integritas ilmu artinya dia harus pakar di bidang tertentu. Integritas akhlak artinya dia harus berakhlak mulia yang menjadi cerminan Islam sehingga dia pantas diteladani. Dan integritas sosial artinya dia harus berkarya nyata menjadi agen perubahan umat dengan menulis buku, mengajar, berdakwah, dan aktif di tengah masyarakatnya. Sehingga dengan demikian, para ulama muda yang tergabung dalam MIUMI ini kelak akan menjadi pemimpin masa depan bangsa, baik di ormasnya, di struktur sosialnya, di politiknya, di ekonominya dan seterusnya.

Soal isu aktual terorisme. Bagaimana pandangan MIUMI soal stigmatisasi kekerasan dan terorisme yang dialamatkan pada Islam dan umat Islam?


MIUMI harus benar-benar menerjemahkan Islam sebagai Rahmatan Lil ‘Alamin secara tepat dan beradab. Istilah Rahmatan lil ‘Alamin jangan diartikan sesuai kehendak musuh Islam, bahwa umat Islam harus tunduk dan membebek kepada konsep peradaban lain, harus lunak dan tak boleh melawan ketika dijajah oleh para komprador ekonomi dunia, tidak boleh ada jihad dalam pengertian perang fisik dan lain-lain. Islam Rahmatan lil ‘Alamin biasanya dibelokkan arahnya agar Islam menjadi Moderat dalam konteks Liberal oleh Barat dan sekutunya. Sehingga dengan demikian rusaklah bangunan keilmuan Islam dan istilah-istilah Islam yang sudah mapan. Akibatnya umat tidak bisa lagi membedakan muslim-kafir, tauhid-syirik, jihad-teror, dan ormas Islam yang konsisten pada ide tatbiqu syariah (penerapan syariah Islam) akan dianggap fundamentalis, radikalis dan teroris. Perang wacana ini yang harus kita waspadai.(suara-islam.com)

Tidak ada komentar:

Leave a Reply

comments powered by Disqus


Top