Archive by date

Hari Ini, Badai Matahari Medium Diprediksi Hantam Bumi

item-thumbnail
ilustrasi
ResistNews - Letusan Matahari berukuran menengah tengah terjadi pada pekan ini. Letusan tersebut melemparkan awan plasma dan partikel bermuatan menuju ke arah Bumi.

Diwartakan Msnbc, Selasa (31/7/2012), lontaran plasma dan pertikel bermuatan tersebut diperkirakan akan menghantam Bumi hari ini.

Letusan kelas M6 tersebut terjadi pada Sabtu lalu dan melepaskan gelombang plasma dan partikel bermuatan yang dikenal sebagai coronal mass ejection (CME) ke luar angkasa. Hantaman CME ini diperkirakan bisa mengganggu kelistrikan di Bumi.

"Ini adalah CME yang bergerak lambat. Kecepatan awan yang lambat (382 kilometer per detik) dikombinasikan dengan lintasannya mengindikasikan dampak yang lemah. Namun, badai geomagnetik di kutub mungkin saja terjadi ketika awan tersebut sampai," tulis astronom Tony Phillips di situs Spaceweather.com.

Efek badai Matahari yang lebih jinak adalah cahaya aurora di kutub utara atau selatan. Ini terjadi ketika partikel CME yang memiliki muatan menabrak medan magnet Bumi.

Letusan Matahari dari kelas M6 merupakan letusan dengan tenaga menengah. Letusan yang lebih lemah lagi disebut sebagai kelas C, sedangkan yang paling kuat disebut sebagai kelas X. (okz)
loading...
Read more »

Siksaan Myanmar Terhadap Muslim Rohingya

item-thumbnail
Foto : Bocah Rohingya (dok IHH)
ResistNews - Relawan Turki dari Foundation for Human Rights and Freedoms and Humanitarian Relief (IHH) dan para jurnalis yang mengunjungi Negara Bagian Arakan, Myanmar, menceritakan kisah mengenaskan yang terjadi pada Muslim Rohingya. Pelanggaran HAM di wilayah itu dinilai sudah sangat berat.

Relawan IHH mengutip pernyataan-pernyataan dari ribuan warga Rohingya yang baru saja tiba di Bangladesh. Said Demir, relawan yang sudah mengunjungi Arakan sebanyak 30 kali mengatakan, dunia masih terdiam dalam menyikapi kekerasan terhadap Rohingya.

Demir menyaksikan seorang perwakilan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengajukan pertanyaan ke warga Rohingya tentang situasi di Arakan. Namun pertanyaan itu diajukan olehnya di depan Pemerintah Myanmar. Warga Rohingya itu pun tidak berani mengatakan hal yang sebenarnya terjadi, karena mereka takut diancam mati.

Sementara itu jurnalis dari kantor berita AHaber, Fatih Er, mengatakan bahwa Pemerintah Myanmar memotong aliran listrik di wilayah Arakan dan para pasukan pun diperintahkan untuk menembak siapapun yang bergerak. Fatih mendeskripsikan hal itu sebagai peristiwa yang sangat mencekam.

"Saya bukanlah seseorang yang emosional, namun situasi di wilayah ini sangat mengejutkan," ujar Fatih Er, dalam keterangan tertulis IHH yang diterima Okezone, Selasa (31/8/2012).

Jurnalis dari media Turki lainnya, Osman Sagirli, juga melaporkan, 400 ribu warga Rohingya terpaksa melarikan diri dari rumahnya Namun PBB melaporkan, jumlah warga yang eksodus mencapai 22 ribu.

Sagirli pun mengutip pernyataan salah satu warga Rohingya yang mengatakan, para pasukan Myanmar tidak menembak warga karena satu peluru yang ditembakkan sangat berharga. Para pasukan justru mengubur warga etnis minoritas itu hidup-hidup.

"Bocah 12 tahun merengek dan memohon pada saya dengan mengatakan, 'selamatkan kami.' Ini merupakan realita di sebuah wilayah dan di manakah PBB? Sebagai seorang jurnalis saya sudah sering memasuki kamp-kamp pengungsi namun krisis yang terburuk ada di wilayah ini," ujar Sagirli.

Para relawan dan jurnalis itu menggelar konferensi pers di IHH Center, Istanbul, Turki. Lewat konferensi pers itu, disimpulkan bahwa ada banyak pelanggaran HAM berat yang terjadi di Arakan, Myanmar.

Pelanggaran HAM itu antara lain adalah, pembantaian, penahanan, penyiksaan, diskriminasi etnis dan religi, pencabutan kewarganegaraan, serta pengusiran warga Muslim Rohingya. Selain itu, ada pula, larangan bepergian, larangan menikah, penghancuran kultur dan nilai-nilai adat, serta tekanan yang dilakukan warga Budha Myanmar terhadap Muslim.(okz)
loading...
Read more »

Puasa dan Ketakwaan

item-thumbnail
Oleh: Rokhmat S Labib, MEI
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (TQS al-Baqarah [2]: 183).
Puasa di bulan Ramadhan merupakan salah satu yang diwajibkan atas umat Islam. Terdapat banyak keutamaan ibadah tersebut. Di antaranya adalah bisa menjadikan pelakunya bertakwa kepada Allah SWT. Ayat ini adalah di antara yang demikian.
Kewajiban Berpuasa
Dalam ayat itu Allah SWT berfirman: Yâ ayyhuhâ al-ladzîna kutiba ‘alaykum al-shiyâm (hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa). Seruan ayat ini ditujukan kepada orang-orang yang beriman. Seruan kepada orang beriman dalam ayat ini dan ayat-ayat lainnya mengandung isyarat bahwa penyifatan iman mewajibkan  pelakunya untuk mematuhi, mengikuti, dan mendengarkan perintah maupun larangan yang hendak disampaikan dalam kalimat berikutnya. Menurut al-Alusi, seruan tersebut diharapkan juga dapat menggelorakan semangat mereka dalam menerima perintah, sekaligus memberikan peringatan kepada mereka bahwa di dalam diri mereka ada sesuatu yang diwajibkan.
Ditegaskan dalam ayat ini bahwa orang-orang yang beriman itu diwajibkan untuk berpuasa. Menurut al-Farra’-sebagaimana dikutip al-Shabuni dalam Rawâi’ al-Bayân–, semua frasa kutiba ‘alâykum dalam Alquran bermakna furidha ‘alaykum (difardhukan atas kamu).
Di samping frasa kutiba ‘alâykum, wajibnya berpuasa juga didasarkan qarînah (indikasi) yang terdapat pada ayat selanjutnya. Bahwa orang-orang yang sakit atau bepergian diizinkan untuk tidak berpuasa. Namun demikian, mereka wajib menggantinya di bulan lainnya sejumlah hari yang ditinggalkannya itu. Kewajiban meng-qadha puasa di hari yang lain ini menunjukkan wajibnya hukum berpuasa.
Secara bahasa, kata al-shiyâm berarti al-imsâk (menahan diri). Sehingga kata tersebut bisa digunakan untuk menahan diri dari makan, minum, atau berbicara. Makna bahasa ini sebagaimana terdapat dalam QS Maryam [19]: 26.
Sedangkan secara syar’i, al-shiyâm berarti menahan diri dari makan, minum, dan jima’ sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari yang disertai dengan niat. Pengertian ini diambil dari beberapa dalil dalam Alquran dan Sunnah. Berkaitan dengan larangan makan, minum, dan jima’ disebutkan dalam firman Allah SWT: Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam (QS al-Baqarah [2]: 187).
Dalam ayat tersebut ditegaskan bahwa kaum Muslim diperbolehkan melakukan melakukan hubungan suami-istri di malam hari pada bulan puasa. Itu artinya, mereka dilarang melakukannya di siang harinya. Demikian pula dengan makan dan minum, mereka dipersilakan melakukannya pada malam hari. Batasnya hingga terbit fajar. Tatkala fajar telah terbit, kaum Muslim diperintahkan untuk berpuasa hingga malam (hattâ al-layl), yakni hingga matahari terbenam.
Berkaitan dengan adanya niat untuk melakukan puasa, hal ini didasarkan pada Hadits dari Umar bin Khaththab, dia mendengar Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya amal perbuatan itu bergantung pada niat, dan sesungguhnya semua perkara bergantung pada niatnya (Bukhari, Abu Dawud, dan Ibnu Majah).
Berdasarkan hadits ini, sebuah amal puasa bisa dinyatakan sebagai ibadah yang absah, jika disertai niat oleh pelakunya. Artinya, ketika seseorang menahan diri untuk tidak makan, minum, dan berjima’ mulai terbit fajar hingga matahari terbenam itu harus dilandasi oleh niat berpuasa. Jika tidak dilandasi dengan niat berpuasa, maka amal perbuatannya tidak dikategorikan sebagai puasa, sekalipun secara dhahir amalnya sama atau menyerupai puasa.
Khusus untuk puasa wajib, niat berpuasa itu harus dilakukan sebelum terbitnya fajar. Diriwayatkan dari Khafshah ra, dari Rasulullah SAW bersabda: Barang siapa yang tidak berniat puasa sebelum fajar, maka tidak [sah] puasa baginya (HR Abu Daud dan al-Tirmidzi).
Sementara pada puasa sunnah, diperbolehkan niat setelah fajar. Dalam riwayat ‘Aisyah bahwa Rasulullah SAW suatu hari pernah menanyakan makanan kepadanya. Ketika diberitahu bahwa tidak ada makanan, kemudian beliau berpuasa. Fi’liyyah (perbuatan) Rasulullah ini menjadi dalil bolehnya niat berpuasa sunnah yang dilakukan pada siang hari.
Selanjutnya dalam ayat ini Allah SWT berfirman: kamâ kutiba ‘alâ al-ladzîna min qablikum (sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu). Frasa ini memberitakan, kewajiban puasa tidak hanya dibebankan kepada umat Rasulullah SAW, namun juga umat-umat yang terdahulu. Sebagai sebuah ibadah, puasa juga diwajibkan kepada mereka kendati terdapat perbedaan kaifiyyah (tata cara). Tentang adanya perbedaan kaifiyyah ini secara umum diberitakan dalam firman-Nya: Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang (TQS al-Maidah [5]: 48.
Agar Bertakwa
Selanjutnya Allah SWT berfirman: la’allakum tattaqûn (agar kamu bertakwa). Di akhir ayat ini dijelaskan bahwa hikmah diwajibkannya puasa adalah agar pelakunya menjadi orang-orang yang bertakwa. Kata taqwâ berasal dari kata waqâ yang berarti melindungi. Kata tersebut kemudian digunakan untuk menunjuk kepada sikap dan tindakan untuk melindungi diri dari murka dan azab Allah SWT. Caranya, dengan menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya. Inilah pengertian takwa menurut para ulama yang didasarkan pada nash-nash syara’.
Menurut ayat ini, sikap takwa tersebut dapat diraih oleh orang-orang yang menjalankan puasa. Jika dicermati, apabila ibadah puasa dipahami dan dilaksanakan dengan benar, niscaya akan berbuah takwa. Dalam berpuasa, seseorang dilatih untuk mengingat Allah SWT dalam setiap ruang dan waktu. Ketika menjalankan puasa, seseorang diingatkan bahwa tidak ada tempat yang tersembunyi dari penglihatan dan pendengaran Allah SWT. Sehingga, di mana pun dia berada, tidak berani makan, walau hanya sesuap nasi; tidak mau minum walau hanya seteguk air; atau tidak akan berhubungan intim dengan istrinya walau berada dalam ruang tertutup. Jika keyakinan itu tertanam dan diimplementasikan dalam seluruh aktivitas kehidupan-bukan hanya saat puasa–, niscaya akan menghasilkan pribadi-pribadi yang bertakwa. Yakni pribadi yang selalu patuh dan taat terhadap perintah dan larangan-Nya. Tidak berani korupsi walaupun tidak ada orang yang mengetahuinya, tidak berani berjudi sekalipun tidak ada petugas yang mengawasinya, tidak berani melakukan transaksi ribawi meskipun tidak ada sanksi bagi pelakunya, dan lain-lain. Pendek kata, keyakinannya bahwa dirinya selalu dilihat Allah SWT akan membuat manusia mengerjakan semua perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, di mana pun dan kapan pun.
Puasa juga melatih manusia untuk mengendalikan hawa nafsu. Benar bahwa manusia membutuhkan makan, minum, atau lawan jenis. Namun itu itu tidak boleh menjadi alasan bagi manusia untuk mengumbar hawa nafsunya sesukanya layaknya binatang. Manusia hanya diperbolehkan mengkonsumsi makanan atau minuman yang halal. Demikian dalam hubungannya dengan lawan jenis. Manusia hanya diizinkan melampiaskannya pada orang pasangan yang dihalalkan.
Dengan puasa, manusia juga dilatih untuk hidup berdisiplin dengan syariah-Nya. Sekalipun haus atau lapar, manusia harus tetap menahannya untuk tidak minum atau makan hingga waktu maghrib tiba. Sekalipun hasrat seksualnya sedang menggebu, manusia harus tetap mampu meredamnya hingga waktu yang diperbolehkan untuk melakukannya. Jika ini berhasil dikerjakan, jalan untuk menjadi pribadi takwa lebih mudah dicapai. Betapa tidak. Jika dalam puasa dia mampu menahan haus dan lapar dari makanan yang di bulan lain dihalalkan, maka selayaknya dia lebih mampu menahan diri dari makan atau minum dari harta yang diharamkan. Jika seseorang mampu menahan diri tidak menggauli istrinya di siang hari, sepatutnya dia lebih mampu menahan diri untuk melakukan perbuatan zina.
Dengan demikian, apabila dipahami dan dikerjakan secara benar, puasa akan mengantarkan pelakunya menjadi pribadi yang bertakwa. Pribadi yang bertakwa adalah yang pribadi yang tunduk dan terhadap syariah secara kaffah. Ketika ada sebagian hukum Islam telantar dan tidak bisa dilaksanakan karena tidak institusi daulah khilafah yang menerapkan, akan mendorong pribadi bertakwa itu untuk berjuang menegakkannya.
Patut dicatat, semua aktivitas ibadah, bukan hanya puasa, jika dipahami dan dilaksanakan dengan benar akan berbuah takwa. Allah SWT berfirman: Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa (TQS al-Baqarah [2]: 21).
Kita bermohon kepada Allah SWT semoga puasa dan semua ibadah dapat mengantarkan kita menjadi pribadi takwa. Pribadi yang tidak terima syariah telantar. Pribadi bersemangat menyambut seruan perjuangan menegakkan syariah dan khilafah. Pribadi yang disediakan baginya surga yang luasnya seluas langit dan bumi. WaLlâh a’lam bi al-shawâb.
Ikhtisar:
1.      Puasa merupakan salah satu ibadah yang diwajibkan atas setiap Muslim
2.      Puasa juga diwajibkan kepada umat yang terdahulu
3.      Puasa, jika dipahami dan dilaksanakan dengan benar, akan menghasilkan pribadi yang bertakwa.
loading...
Read more »

Tabligh Akbar Pengalangan Dana untuk Muslim Syria dan Rohingnya

item-thumbnail
Hingga saat ini cukup banyak bahkan sangat banyak Muslim Ahlussunnah di Syria dan di Rohingya disiksa, dilecehkannya kehormatan para muslimah, hingga pembantaian-pembantaian yang begitu mengenaskan.
Oleh karena itu, Kami menyeru kepada Kaum Muslimin Indonesia untuk memberi dukungan sesuai dengan kemampuan masing-masing. Bantulah saudara-saudara Muslim kita disana dan seluruh dunia pada umumnya.
Innamal mukminuuna Ikhwah, " sesungguhnya setiap mukmin adalah bersaudara ".             
Dan Alloh tidak akan memberikan pertolongan kepada mereka yang enggan dan tidak memiliki kepeduliaan untuk saudaranya.
Nas'alullaah as salamah, laa hawlaa wa laa quwwata illaa billaah!
Allohummanshur Muslimiin fii kulli makaan!
Allohummanshur Mujahidiin fii kulli makaan!
Allohummanshur Mujahidiin fii kulli makaan!
"Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Alloh lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang dzalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak". [QS.Ibrahim : 42]
Keterangan Acara :
Tempat : MASJID MUHAMMAD RAMADHAN
Taman Galaksi Pekayon Bekasi Selatan (Samping Kantor Kecamatan Bekasi Selatan)
WAKTU : AHAD, 12 - 08 - 2012
PUKUL : 08.00 - 12.00 WIB
PEMBICARA :
1. Al-Ustadz Anung Al Hamat, Lc. M.Pd.I Hafidzhahulloh
(Pemerhati dunia Islam)
Fokus Pembahasan Sesatnya Pemahaman Syi'ah Nushairiyyah
2. Pembicara dari Indonesia4rohingya*
*: dalam konfirmasi
Siapkan harta terbaik anda... infaqkan untuk menolong umat muslim yang sedang tertindas..
hadiri acara ini ajak saudara, sanak family, tetangga, dan teman.
Contact Person :
Ust. Abu Hibban : 0857 1881 4806
Ust. Iman Hanafidhien : 0812 1019 9336
Ust. Jaysu Muhammad : 0857 1606 2007
loading...
Read more »

Anis Matta kritik kurikulum pendidikan di Indonesia

item-thumbnail
ResistNews - Wakil Ketua DPR RI, Anis Matta, melayangkan kritik pedas terhadap kurikulum yang di terapkan dalam dunia pendidikan. 
Pasalnya, kurikulum yang saat ini dijalankan, dikhawatirkan alokasi dana dari APBN dana 20 persen atau sebesar Rp200 triliun untuk bidang pendidikan akan sia-sia saja di gelontorkan. Karena tidak akan menghasilkan mutu pendidikan yang memadai.

"Karena tidak diajari tentang pendidikan finansial dan entrepreneurship maka ketika kita menjadi sarjana, satu-satunya prestasi yang bisa dilakukan adalah membuat surat lamaran kerja. Tidak pernah kita mendengar seorang mahasiswa kita lulus kuliah lalu membuka lowongan kerja," jelas Wakil Ketua DPR RI, Anis Matta, di hadapan para tokoh dalam acara safari Ramadan, di Solo, Jawa Tengah beberapa waktu lalu, Minggu (29/7/2012)seperti dirilis okezone.

Menurutnya, kurikulum yang saat ini diterapkan dinilainya hanya mendidik murid menjadi tidak mandiri dan tidak mampu mengelola kemampuan pribadinya.

Seharusnya sejak tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga perguruan tinggi, harus ada mata pelajaran maupun mata kuliah pendidikan finansial dan entrepreneurship.

Anis mengambil contoh entrepreneurship yang di tunjukan Nabi Muhammad SAW. Yang mana sejak kecil Nabi Muhammad mengembangkan kemampuannya dengan membuka jasa pengelolaan ternak.

Dari jasa pengelolaan ternak tersebut Nabi Muhammad SAW mampu membelikan mahar berupa 100 ekor unta.

"Bila satu ekor unta seharga Rp10 juta maka saat berumur 25 tahun, beliau saat itu berarti telah mempunyai harta Rp1 miliar untuk membeli unta. Ini contoh dalam mendidik anak-anak kita kedepan," papar Sekjen PKS tersebut. (arrahmah.com)
loading...
Read more »

Profil Raden Bratakesawa: Antara Fakta dan Opini Kristen

item-thumbnail
ResistNews Raden Bratakesawa, seorang tokoh muslim di Jawa, selama ini banyak disalahpahami  orang. Beberapa cendekiawan Kristen, misalnya, menggambarkan pribadinya sebagai tokoh kebatinan. Dari deskripsi manipulatif inilah kesalahpahaman itu berakar. Padahal Bratakesawa adalah seorang muslim, bahkan seorang dai. Hal ini terungkap dari testimoni dan kiprahnya dalam membangun kehidupan rohani masyarakat muslim di Jawa melalui tulisan-tulisan berbobot yang dihasilkannya.
Harun Hadiwijono – doktor ilmu teologi, pendeta, dan penulis sejumlah buku tentang Kristen – memposisikan Bratakesawa masuk ke dalam jajaran tokoh Kebatinan. Ia membahas sosok dan ajaran Bratakesawa ke dalam salah satu bagian dari bukunya ”Kebatinan dan Injil”.  Berpatokan pada penilaian Imam Supardi bahwa karya Bratakesawa ”berlainan sekali dengan tulisan-tulisan tentang kebatinan yang lain”, Hadiwijono menyimpulkan bahwa Bratakesawa merupakan tokoh kebatinan dan ajarannya merupakan doktrin kebatinan.[1]
Bambang Noorsena, Tokoh Kristen Orthodoks Syria (KOS), dalam buku ”Menyongsong Sang Ratu Adil: Menyongsong Sang Ratu Adil” menempatkan ”Serat Kuntji Swarga” karya Bratakesawa sebagai salah satu literatur kebatinan Jawa.[2]Karya tulis Bambang Noorsena ini kurang mengetengahkan model pembahasan yang tertib dan argumentatif. Untuk sebuah tulisan yang berusaha mengungkap relasi antara Kekristenan dan Kejawen, karya ini justru gagal mendefinisikan makna ”kebatinan” maupun ”kejawen” itu sendiri. Kegagalan terminologis ini selanjutnya secara signifikan berpengaruh terhadap proses seleksi dan deskripsi terhadap entitas yang diidentifikasi sebagai ”kebatinan” atau ”kejawen”. Diantara konsekuensi pengunaan model ini, Bambang Noorsena sering menganggap bahwa sosok Nabi Isa dalam literatur Jawa mengacu pada Yesus dalam Kekristenan dan menjadi justifikasi bagi teorinya tentang keberadaan perjumpaan antara entitas Kristen dan Jawa, meskipun sebenarnya Nabi Isa yang dimaksud lahir dari konsepsi Islam.[3]
Pandangan yang memposisikan Bratakesawa sebagai tokoh kebatinan seperti di atas, secara umum tidak memberikan garis batas yang tegas terhadap terminologi ”kebatinan” dan yang di luar itu. Bangunan argumentasinya hanya didasarkan pada karya Bratakesawa dalam kuantitas yang terbatas. Harun Hadiwijono mendasarkan pandangannya berdasarkan dua karya Bratakesawa yaitu ”Serat Kuntji Swarga” dan ”Wirid I.T.M.I.”. Sedangkan Bambang Noorsena hanya pada satu karya Bratakesawa yaitu ”Serat Kuntji Swarga”.
Kekuatan argumentasi yang dibangun dengan sedikit ”dalil” sangat jarang akan menghasilkan sebuah pandangan yang memiliki kebenaran secara meyakinkan. Apalagi dalam kasus ini, baik ”Serat Kuntji Swarga” maupun ”Wirid I.T.M.I” sejak awal justru menunjukkan diri sebagai literatur  keislaman, bukannya ”kebatinan”.  Kedua buku itu saja telah menunjukkan warna keislaman yang kental dari pribadi Bratakesawa. Bahasa yang digunakan oleh kedua buku tersebut juga cukup sederhana sehingga mudah dipahami dan pada titik tertentu seharusnya tidak menimbulkan kesalahpahaman.
PEMIKIRAN BRATAKESAWA
Bratakesawa lahir sekitar tahun 1898 M.[4] Nama sebenarnya adalah Gatoet Sastrodiharjo. Ia mulai karernya di Klaten sebagai sekertaris kedua Insulinde Surakarta tahun 1919 dan komisaris SH Surakarta tahun 1920. selama bertugas di Klaten, Bratakesawa banyak melakukan interaksi berbagai kelompok pergerakan maupun individu. Salah satu tokoh pergerakan juga pimpinan sebuah kelompok yaitu Mangunatmaja sebagai pimpinan Sarekat Abangan sekaligus pimpinan SI Delanggu. Namun dalam bukunya “Falsafah Siti Jenar”,  dia mengatakan tidak terlalu dekat maupun akrab, bahkan pengetahuannya tentang Sarekat Abangan bukan dari Mangunatmaja tetapi dari beberapa keluarga yang bergabung ke Sarekat Abangan. Selama pertemuannya dengan pimpinan Sarekat Abangan tersebut, tidak pernah membahas masalah Sarekat Abangan maupun ajarannya. Topik pembicaraan selalu masalah “politik”, bukan ilmu.
Tetapi setelah Bratakesawa pindah ke Yogyakarta tahun 1922, dan bekerja di majalah “Panggugah”yang di bina oleh R.M. Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Beliau dikunjungi Mangunatmaja sebanyak dua sampai tiga kali. Tetapi beliau tidak terpengaruh sedikitpun dengan ajaran Sarekat Abangan yang saat itu membaur dengan SI Merah. Ini bisa kita lihat dari cerita beliau pada saat mengetahui ada pertemuan  di daerah Gandalayu Yogyakarta, dirumah salah satu pemimpin SI Merah sebanyak kurang lebih 25 orang. Ringkasnya demikian: “ Para hadirin semua, saya persilahkan melihat ini”, kata sang guru sambil menyalakan korek api, jres ; setelah menyala lalu di tiup mati pet. “ Cobalah anda merenungkan, nyala api dari korek api tadi dimana, terutama setelah ditiup.? Sekarang jangan ragu dan jangan pula percaya omongan orang lain yang aneh-aneh……..ya ibarat nyala korek api itulah keadaan kehidupan manusia ituKetika belum dititahkan (lahir) seperti nyala korek api yang belum dinyalakan. Setelah lahir ke dunia, ya seperti nyala korek api yang dinyalakan tadi. Setelah mati ? ibarat nyala api setelah di tiup angin  selesai”. Mereka yang menerima wejangan itu itu nampak senang sekali. Namun Bratakesawa tidak terpengaruh wejangan semacam itu. Ia hanya termenung, “Apa mungkin para sarjana dan cendikiawan yang saling mengejar ilmu serta menyingkirkan diri dari perbuatan dosa itu bodoh-bodoh semua ?”.[5]
Menurut cerita tersebut dapat kita simpulkan bahwa Bratakesawa belum terpengaruh murid-murid Natarata maupun ajarannya. Sehingga pada saat beliau menulis ulang Serat Siti Jenar dengan judul Falsafah Siti Jenar yang diterbitkan oleh yayasan Penerbit Joyoboyo, dapat kita jadi penafsiran yang lebih obyektif di karenakan tingkat pemahaman Bratakesawa dengan Natarata hampir sama yaitu masih berpegang teguh pada ajaran Islam. Ini dipertegas juga oleh Hasanu Simon dalam bukunya Misteri Syekh Siti Jenar yang mengatakan bahwa dalam buku Falsafah Siti Jenar, Bratakesawa menunjukkan keteguhannya dalam mengimani Islam secara benar.[6]
I’TIKAD BRATAKESAWA
 Terkait banyaknya kesalahpahaman terhadap sosok dan i’tikad pribadinya terkait substansi Serat “Kuntji Swarga” dan “Wirid I.T.M.I”, sebenarnya Bratakesawa telah menyadarinya sejak awal. Pembaca tulisan-tulisannya belum semuanya memiliki dasar pemikiran yang jelas. Dalam bahasa Bratakesawa, dereng sangu paham warni-warni ingkang minangka gegaraning panimbang (belum memiliki bekal pemahaman terhadap bermacam-macam pemikiran sebagai kerangka dalam mempertimbangkan). Sehingga sebagian pembaca ini melakukan kekeliruan sebab hanya berpegang pada satu bentuk pemahaman yang belum pernah diperbandingkan dengan pemahaman lainnya (sisip sembiripun lajeng nisih, namung ngencengi salah satunggaling paham, ingkang dereng nate katanding-tanding).[7] Adanya kesalahpahaman terhadap ajarannya inilah yang memotivasi Bratakesawa untuk menjelaskan i’tikad dirinya melalui Serat “Bajanul Chaliq[8]sebagai seorang muslim yang berusaha memegang teguh iman.[9]
Secara umum pemikiran Bratakesawa cenderung mudah untuk dilacak. Mantan wartawan ini termasuk seorang penulis yang produktif menelurkan sejumlah karya.Serat Bajanul Chaliq (baca: bayanul khaliq) merupakan salah satu buku yang mengungkapkan “keyakinan” Islam dari Bratakesawa. Buku ini sengaja ditulis oleh Bratakesawa sebagai bacaan pembanding terhadap Serat Bajanullah (baca: bayanullah) karya Raden Pandji Natarata.[10] Isi dari Serat Bajanul Chaliq ini merupakan wujud tekadnya sebagai seorang muslim yang beriman. Terungkap dalam Bajanul Chaliq sebagai berikut:
 “Iktikad kula ingkang kula sumantakaken wonten ing Serat “Bajanul Chaliq” punika boten sanes kajawi iktikad kula satunggaling tiyang Islamingkang kasandhangan iman. Jalaran saking punika, sanajan ingkang kula sarasehaken punika prakawisipun tiyang sajagad boten pilih agama, ananging pamanggih kula punika migunakaken wawaton ingkang dados cecepenganipun muslim tuwin mukmin.[11]
(Iktikad yang saya bicarakan dalam Serat “Bajanul Chaliq” ini tidak lain adalah iktikad saya sebagai penganut Islam yang memiliki iman. Oleh karena itu, walaupun apa yang saya bicarakan ini merupakan permasalahan orang sedunia tanpa memandang agama, tetapi pendapat saya tersebut menggunakan peraturan yang menjadi pedoman bagimuslim dan mukmin).
 Bratakesawa menjelaskan bahwa muslim adalah orang yang memeluk Agama Islam atau Agama Nabi Muhammad (muslim punika tegesipun tiyang ingkang ngrasuk agama Islam utawi agama Muhammad). Adapun pedoman (paugeran) menjadi muslim, menurut Bratakesawa adalah dengan menjalankan Rukun Islam sebagai berikut:[12]
  1. Ngucapaken kalimah sahadat: La ilaha illallah (ora ana sesembahan kajaba Allah),sldj. (= Mengucapkan kalimat syahadat: La ilaha illallah (Tiada sesembahan kecuali Allah), dan seterusnya).
  2. Nindakaken salat gangsal wekdal, tuwin sanes-sanesipun ingkang nama salat wajib (= Melaksanakan ibadah shalat wajib lima waktu, dan lain-lainnya yang dinamakan shalat wajib).
  3. Ambayar jakat miturut pranatan (= Membayar zakat menurut aturan)
  4. Nglampahi siyam sawulan saben wulan Ramelan (= melaksanakan ibadah siyam selama sebulan setiap bulan Ramadhan)
  5. Kesah Haji dateng Betullah, menawi kuwaos (= pergi haji ke Baitullah jika mampu).
Selanjutnya Bratakesawa menjelaskan bahwa mukmin adalah orang yang memiliki iman atau kepercayaan (mukmin punika tegesipun tiyang ingkang kasandangan iman (kapercayaan)). Adapun rukun iman dijelaskan oleh Bratakesawa sebagai berikut:[13]
  1. Percaya wontenipun Allah ingkang nitahaken langit-langit lan bumi saisinipun sadaya (= percaya adanya Allah yang memerintah langit-langit dan bumi seisinya)
  2. Percaya wontenipun malaekat-malaekating Allah (=percaya adanya malaikat-malaikat Allah)
  3. Percaya wontenipun kitab-kitabing Allah (=percaya adanya kitab-kitab Allah)
  4. Percaya wontenipun para rasul utusaning Allah (=percaya adanya para Rasul utusan Allah)
  5. Percaya wontenipun dinten kiyamat inggih dinten patangening roh-roh saking kubur (=percaya adanya hari kiyamat yaitu hari dibangkitkannya roh-roh dari kubur)
  6. Percaya wontenipun takdir awon lan takdir sae, tumrap satunggal-tunggaling titah (=percaya adanya takdir buruk dan takdir baik, bagi setiap makhluk)
Selanjutnya Bratakesawa menceritakan pengalaman pribadinya dalam menjalankanRukun Islam dan Rukun Iman. Ia telah melakukan upaya maksimal untuk menjalankan tuntunan agama yang dianutnya. Meskipun demikian ia juga mengakui adanya “takdir” yang membuat dirinya belum bisa melaksanakan ibadah haji. Hal ini diungkapkan sebagai berikut:
Kula matur prasaja, pangriptanipun Serat “Bayanul Khaliq” anggenipun ngaken muslim lan mukmin punika boten namung aken-aken utawi lelamisan kemawon.
Istilahipun sapunika, Islam kula boten namung Islam “statistiek” kemawon, sayektosipun ugi netepi rukun-rukunipun, kajawi kesah haji ingkang dereng, amargi dereng kuwaos.
Iman kula ugi netepi rukun-rukunipun, malah percaya kula terus ing sanubari, boten namung tiru-tiru kemawon.
Dados saupami wonten saderek ingkang sanes muslim lan sanes mukmin, kapareng maos serat “Bayanul Khaliq” punika, mugi sampun cuwa ing penggalih, manawi boten cocog kaliyan iktikad kula.[14]
 (Saya berkata jujur, pengarang Serat “Bayanul Khaliq” pengakuannya sebagai muslim dan mukmin itu bukan hanya mengaku-aku atau pemerah bibir belaka.
Istilah sekarang, keislaman saya bukan hanya Islam “statistik” saja, sejatinya juga menetapi rukun-rukun, kecuali naik haji karena belum mampu.
Iman saya juga menetapi rukun-rukunnya, malah percaya hingga dalam sanubari tidak sekedar meniru-niru belaka).
Tentang keyakinan hidupnya, Bratakesawa menceritakan proses dirinya hingga mengenal Islam. Pengenalan terhadap Islam tersebut melalui proses yang panjang. Pengalaman banyak berguru dan membaca buku telah menempa pribadinya untuk lebih dekat terhadap ajaran Tauhid. Pada sekitar 1920-an Bratakesawa telah banyak membaca buku-buku tentang kebatinan, bahkan menjadi salah satu anggota Perhimpunan Theosofi dan menjadi pendengar ceramah-ceramah para “gembong” theosof. Namun persentuhan dengan ajaran kebatinan dan theosofi tidak mampu memuaskan “dunia batin” dalam dirinya.[15] Bratakesawa tidak tanggung-tanggung, ia melakukan serangkaian kajian terhadap sejumlah kitab suci agama lain sebelumnya. Hasil dari proses yang demikian, mengantarkan Bratakesawa mantab memilih Islam. Serat Bajanul Chaliq” mengungkapkan sebagai berikut:
 “Kula punika waunipun tiyang Islam “statistiek” ingkang babar pisan boten sinau dateng hukum lan rukuning agama Islam, dados boten wonten bedanipun kaliyan tiyang ingkang boten gadhah agama. Anggen kula lajeng ngantepi agama Islam, punika sareng sampun sepuh, sasampunipun tuwuk anggen kula maguru-maguru, maos serat-serat wirid, suluk, falsafah lan tashawwuf, punapa dene kitab-kitab agama warni-warni.[16]
(Saya ini sebelumnya adalah penganut Islam “statistik” yang sama sekali tidak mempelajari hukum dan rukun Islam, jadi tidak ada bedanya dengan manusia yang tidak beragama. Adapun kemantapan saya terhadap Islam, ini terjadi setelah usia tua, setelah kenyang berguru, membaca kitab-kitab wirid, suluk, falsafah, dan tasawwuf, juga membaca kitab-kitab dari bermacam-macam agama).
Al QURAN DAN OPINI KRISTEN
Dalam usahanya untuk menyiarkan Islam kepada masyarakat Jawa, tidak jarang Bratakesawa melakukan perbandingan antara Al Quran dengan kitab suci agama lain. Hal ini dimungkinkan karena sebelum memutuskan untuk beragama dengan benar, guru orang Jawa ini telah mempelajari kitab suci sejumlah agama. Dari pendalaman terhadap sejumlah kitab inilah, ia kemudian mantab memilih Islam sebagai agama ageman.[17]
Dalam buku “Wirid I. T. M. I. : Iman Tauhid Ma’rifat Islam”, Bratakesawa telah berusaha menjelaskan tentang adanya sejumlah faham yang berusaha menolak keberadaan Allah (Atheist). Bratakesawa juga menjelaskan hakikat keyakinan kaum naturalist yaitu manusia yang memiliki pemahaman bahwa penguasa tertinggi alam semesta hakikatnya adalah alam. Kedua paham ini, menurut Bratakesawa adalah pemahaman dari kaum yang kafir yaitu kaum yang tidak mendapatkan cahaya petunjuk. Secara gamblang Bratakesawa memberikan keterangan bagaimana proses kekafiran kaum naturalist terjadi. Menurutnya kekafiran kaum naturalist ini merupakan bentuk penyimpangan pemikiran. Mereka berusaha mengungkap tentang rahasia kehidupan maupun penciptaan, namun karena tidak mendapatkan cahaya petunjuk maka proses pencarian tersebut hanya bersifat “meraba-raba” dan berhenti pada proses memahami kenampakan luar  dari alam raya saja.[18]
Bratakesawa menganggap bahwa kaum naturalist mungkin saja telah mengakses Bibel terutama dalam kitab Genesis (Kejadian). Kitab yang diakui sebagai Taurat oleh Yahudi dan Kristen ini menceritakan bagaimana peran “Tuhan” dalam proses “penciptaan” alam semesta. Hanya saja, menurut Bratakesawa, substansi kitab Kejadian tersebut tidak dapat dijadikan sebagai pegangan mencapai pengenalan terhadap Allah sebab tidak mampu menunjukkan tentang sifat-sifat ketuhanan yang bisa memuaskan mereka.[19]
Terkait kitab-kitab selain Al Quran, guru Jawa ini berpandangan bahwa kitab-kitab tersebut, termasuk Bibel, hanya berwujud babad yang bercerita tentang sejarah Rasul, “pertemuan” dengan Tuhan, dan aspek pewahyuan serta proses penyebaran ajarannya saja. Kitab-kitab tersebut umumnya tidak memberikan informasi yang memadai tentang sifat-sifat Tuhan, kecuali sebagai zat luar biasa yang tidak setiap hamba mengetahui. Namun, menurut Bratakesawa, Tuhan dalam kitab-kitab tersebut selalu digambarkan sebagai zat yang memiliki tubuh material, sebagaimana halnya makhluk ciptaan. Hal ini diungkapkan Bratakesawa sebagai berikut:
 “Andene kitab-kitabe Allah kang sadurunge Qur’an iku, pancen, isine pada awujud babad kang mung nyritakake  sajarahe (asal-usule) Rasul, lelampahane nalika “dipanggihi” Pangeran lan kaparingan dawuh (wahyu), apadene lelampahane liya-liyane bab anggone nyiyarake agama. Ora nyritakake bab sipat-sipating Pangeran, malah yen nyritakake Pangeran iku kaya-kaya ana blegere, nanging bleger luar biasa, ora saben wong weruh.”[20]
 (Adapun kitab-kitab Allah sebelum Al Quran, memang, isinya berwujudbabad yang hanya bercerita tentang sejarah (asal usul) Rasul, kisah ketika “ditemui” Tuhan dan mendapatkan wahyu, juga kisah lainnya dalam penyiaran agama. Tidak menceritakan tentang sifat-sifat Tuhan, malah jika bercerita tentang Tuhan digambarkan seolah memiliki wujud material, tetapi wujud luar biasa yang tidak setiap orang mengetahui).
Berbeda dengan Al Quran, kitab suci umat Islam ini, tidak berwujud babadsebagaimana kitab-kitab lainnya. Al Quran memuat perintah-perintah Allah kepada Nabi Muhammad s.a.w untuk disampaikan kepada umatnya. Perintah-perintah tersebut juga telah disertai dengan informasi mengenai sifat-sifat Allah. Bratakesawa mengungkap hal tersebut sebagai berikut:
 “Hla Qur’an ora babad kaya mangkono iku. Sawutuhe Qur’an kang kandele 30 juz utawa 114 surat (bab) iku mligi ngemot dawuh-dawuhing Pangeran kang ditampa dening Nabi Muhammad s.a.w. Dawuh-dawuh mau akeh banget kang sinartan katrangan bab sipat-sipating Pangeran, antarane kaya kang wis tak aturake kae: (1) tan pisah klawan sira lan pirsa samubarang tindakira (2) nguningani sajroning atinira (3) luwih cedak tinimbang otot bebayunira (4) lan liya-liyane kang surasane sairib mengkono.”
(“Hla Qur’an bukanlah babad seperti itu. Seutuhnya Qur’an setebal 30 juz atau 114 surat (bab) itu memuat perintah-perintah Allah yang diterima oleh Nabi Muhammad s.a.w. Perintah-perintah itu banyak sekali disertai dengan keterangan mengenai sifat-sifat Allah, antara lain seperti sudah kukatakan : (1) tidak berpisah dari dirimu dan mengetahui semua perbuatanmu (2) mengetahui isi hatimu (3) lebih dekat dari pada urat lehermu (kata yang dipakai “otot bebayunira” = “saluran napas kamu”) (4) dan lain-lain yang isinya serupa.”)
Tulisan Bratakesawa yang mengutip ayat Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, untuk ”meluruskan” gagasannya, rupanya juga membuka ruang untuk disalahpahami. Dalam ”Serat Kuntji Swarga[21] misalnya, Bratakesawa menggunakan kitab Kejadian dan Yohanes untuk mendukung konsepsinya tentang manifestasi ”citra” Allah. Bambang Noorsena menilai bahwa pandangan Bratakesawa tentang Yesus sebagai Putra Allah dalam hubungannya dengan  Sang Bapa sudah sesuai dengan pewartaan Injil. Kata ”putra” disana tidak bermakna letterlijk atau harfiah, melainkan simbolis yang serupa dengan bayangan. Hal ini dapat dilihat dalam karya Bratakesawa yang dikutip oleh Bambang Noorsena sebagai berikut:
Kitab Toret (Turat) nyebutake: Allah banjur nitahake manungsa nulad citra-Ne, enggone nitahake kang tinulak citra-Ne Allah, pada katitahake lanang lan wadon” (Purwaning Dumadi 1 : 27).
Ing Injil nyebutke: ” Ora ana wong kang marek marang Sang Rama menawa ora metu ing Aku. Menawa kowe pada wanuh marang Aku, mesthi iya padha wanuh marang Rama-Ku” (Yokanan 14: 6,7). Wong Kang wus ndeleng sang Rama, lan Sang Rama ana ing aku ?” (Yokanan 14: 9, 10). Coba rasakna. Kang ditembungake manungsa nulad citra-Ne Allah ing Kitab Toret iku rak iyo kang tak umpamaake wewayangane srengenge karo srengenge, ta? Lha kang sinebut Sang Putra karo Sang Rama ing Kitab Injil mau rak iyo iku, ta?
Ewadene ing Qur’an perlu nerangake Lam yalid wa Lam Yulad (al-Ikhlas 3 : ”Ora peputra lan ora diputraake”). An da’au lir rahmani waladan wa maajanbaghi lir rahmani an jattachidza waladan (Maryam 91,92: ”Deweke pada kanda yen Pangeran iku kagungan putra, lha pangeran kagungan putra iku ora patut), jalaran ana wong-wong kang nekadake yen tembung ”putra” iku ateges letterlijk, dudu symbolisci kang pepindane wewayangan.
Terjemahan:
Kitab taurat menyebutkan: ”Maka Allah menciptakan manusia sesuai dengan citra diri-Nya, menurut citra Allah diciptakan-Nya laki-laki dan perempuan” (Kejadian 1: 27). Dalam Injil disebutkan: ”Tidak ada seorang pun yang datang kepada sang Bapa, kalau tidak melalui Aku. Apabila kamu mengenal Aku, pasti pula kamu mengenal Sang Bapa (Yoh. 14: 6,7). ”Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat sang Bapa, tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku?” (Yoh. 14: 9,10). Cobalah rasakan, yang dikalimatkan manusia sebagai citra Tuhan dalam Kitab Taurat itu, bukankah sama dengan yang kuumpamakan bayangan matahari dengan matahari? Dan bukankah yang disebut Sang Putera dan Sang Bapa dalam Kitab Injil juga sama dengan itu? Akan tetapi, Alquran perlu enjelaskan Lam Yalid walam Yulad (al-Ikhlas 3: ”Tidak beranak dan tidak diperanakkan”). An da’au li’rahmani waladan wa maajanbaghi lir rahman an jattachidza waladan (Maryam 91:92: ”Mereka mengatakan mempunyai putera, sedangkan mengatakan Tuhan berputera itu tidak patut”). Disebabkan ada orag-orang yang mengartikan kata ”putera” itu secara harfiah, bukan dalam arti simbolis yang diibaratkan bayangan. (sic!)[22]
Dalam menilai kutipan di atas Bambang Noorsena memberikan catatan bahwa meskipun pelukisan Bratakesawa tidak jauh berbeda dengan apa yang diwartakan Injil, namun terdapat perbedaan yang tidak dapat dianggap kecil. Menurut Noorsena, walaupun menggunakan sebutan yang sama, istilah Putera Allah dalam hubungannya dengan sang Bapa dalam Kuntji Swarga dimaksud untuk membenarkan pandangan bahwa Purusha sebagai individueele God dan Isywarasebagai algemeene God. Bratakesawa mengibaratkan keduanya sebagai matahari dan bayangannya, Allah dengan citranya atau Tuhan dengan putera.[23] Selanjutnya, Bambang Noorsena menempatkan bahwa posisi Bratakesawa seolah-olah berusaha menjelaskan bahwa umat Islam telah salah paham  terhadap pengertian ”putera Allah” yang selama ini dimaknai secara harfiah dan fisikal. Hal tersebut diungkapkan oleh Bambang Noorsena sebagai berikut:
 ”Selanjutnya, kendati kita mendapatkan seraut wajah yang serba remang-remang dan penuh tanda tanya, namun berkat tradisi dan budaya Jawa yang luhur dan tinggi pesan Injil lebih mampu ditangkap dan diterjemahkan sesuai dengan polanya sendiri. Pernyataan ini dikemukakan khususnya dengan mengambil perbandingan dengan agama Islam.
Misalnya, mengenai gelar Putera Allah. Harus ditekankan bahwa yang dihadapi oleh Serat Centhini, R. Ng. Ranggawarsita, Bratakesawa, atau Raden Soenarto bukan masyarakat penyembah patung seperti dijumpai Nabi Muhammad. Karena itu tidak pernah ada kekhawatiran bahwa penggunaan istilah Putera Allah akan diterima secara harfiah dan fisik, seperti pertentangan kasar Lam Yalid wa lam Yulad. Alasannya, ”Bagaimanakah Allah beranak, sedangkan Dia tidak beristri? (Qur’an, surah al-An’am 101). Bahkan untuk kesalahpahaman itu, Serat Darmagandhul, Pakde Narto, dan Bratakesawa merasa perlu untuk menjelaskan kepada umat Islam yang belum mengerti.”[24]
Tulisan Bambang Noorsena tersebut seolah memberi peluang bagi pembaca untuk menafsirkan secara beragam. Kalimat-kalimat yang ditampilkannya memiliki kesan ambigu. Pada satu bagian seolah-olah menggambarkan bahwa manusia Jawa yang memiliki tradisi dan budaya luhur nyatanya lebih mampu menangkap esensi putra Allah dalam kekristenan, dibandingkan ajaran Islam. Penggunaan gelar putera Allah dalam Islam , menurut pandangan ini, seringkali dihubungkan dengan hal yang bersifat fisik dan harfiah. Jika yang dimaksudkan oleh Bambang Noorsena adalah hendak menyalahkan pandangan Islam, maka hal itu justru merupakan sebuah peletakan batu bagi monumen ketidakpahaman.
Kritik Islam terhadap paham ”Allah beranak” bukan hanya mencakup terhadap pemahaman yang bersifat alegoris atau simbolis belaka, namun memang menyangkut pada wilayah yang bersifat fisik dan harfiah. Dalam gambaran masyarakat jahiliyah Arab, Allah telah digambarkan memiliki beberapa putri dalam makna yang bersifat fisik. Penyembahan terhadap berhala hakikatnya mewakili konsep penyembahan terhadap Allah melalui perantara putri-putri Allah yang telah dimanifestasikan dalam wujud patung. Salah satu fungsi Al Quran adalah mengkritik pemahaman yang bersifat demikian dan meluruskan ajarannya untuk kembali kepada ajaran azasi millah Ibrahim, yang menyembah Allah sebagai zat yang maha tanpa mempersamakannya dengan makhluk yang memiliki wujud material.
Nama Bratakesawa yang dicatut oleh Bambang Noorsena sebagai salah satu tokoh yang hendak menjelaskan hakikat putera Allah ”kepada umat Islam yang belum mengerti” sebenarnya justru melakukan kritik secara tersirat terhadap ajaran kekristenan. Nampaknya, Bambang Noorsena justru kurang mampu menangkap esensi dari Serat Kunci Swarga ketika melakukan pengutipan terhadap Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Terbukti, Noorsena justru hanya menekankan bahwa Bratakesawa menggunakan ungkapan simbolis ”Matahari dan bayangan” dalam menggambarkan ”Allah dan Putera” sebagai wujud pembenaran teori Individueele God dan Algemeene God. Terkait konsep yang terakhir ini masih dapat diperdebatkan, namun esensinya jauh melampaui wilayah tersebut.
Hal tersebut dapat dicermati pada pengertian yang hendak dibangun Bratakesawa terkait dengan hubungan antara titah dengan khaliq, termasuk posisi simbolis antara Matahari dan bayangannya. Sebagaimana diungkapkan Bratakesawa dalam Kunci Swarga sebagai berikut:
”Paham loro iku mau mungguhing aku: pada benere. Sebabe sulaya, ora liya jalaran ora padha dirasakake disik : endi ta kang diarani titah utawamakhluq ana ing soal kang dirembug iku ?
Yen kang diarani makhluq ana ing wedaran kono iku barang kang mawa wangun – kasara utawa alusa, – mula bener kang anekadake yen makhluq karo khaliq iku loro, ora siji lan ora bisa nunggal, jer khaliq iku tanpa wangun, dudu jisim dudu jirim, tan kena kinya ngapa.
Dene yen kang diarani makhluq ing kono iku Wewayanganing Srengenge mungguhing si jembangan isi banyu, rak iyo bener kang anekadake yen makhluq karo khaliq iku: siji, ta? Rak iya ora kliru yen makhluq iku bisa nunggal karo khaliq, ta? Kepriye, apa kurang cetha keteranganku iki?”[25]
Terjemahan:
Dua paham itu tadi menurutku: sama benar. Penyebab terjadinya perbedaan, tidak lain adalah tidak dirasakan dahulu: mana yang dinamakan makhluk dalam persoalan yang sedang dibicarakan itu?
Jika yang dinamakan makhluk dalam pembicaraan itu adalah barang yang memiliki bentuk – kasar atau pun halus – maka benar yang beranggapan bahwa makhluq dan khaliq adalah dua, bukan satu dan tidak bisa menyatu, sebab khaliq itu tanpa bentuk, bukan jisim dan bukan jirim, tidak dapat dipersamakan dengan sesuatu pun.
Ada pun jika yang dinamakan makhluk di situ adalah bayangan Matahari dalam bejana berisi air, bukankah benar yang beraggapan bahwa makhluq dan khaliq itu satu, kan? Bukankah tidak keliru jika makhluk itu bisa menyatu dengan khaliq, kan? Bagaimana, apa kurang jelas keteranganku ini?
Dari keterangan di atas Bratakesawa coba membenarkan dua konsep pandangan sekaligus yaitu bahwa makhluk – khaliq tidak bisa menyatu dan dipihak lain, makhluk-khalik bisa menyatu. Menurut pandangan Bratakesawa kedua pandangan yang seolah kontradiktif tersebut pada dasarnya tidak saling bertentangan dan tidak perlu menjadi sumber pertentangan. Hal itu akan terjadi jika pengertian makhluk dalam masing-masing konsep diuraikan secara definitif. Ketika makhluk didefinisikan sebagai wujud material maka ia tidak akan dapat bersatu dengan khaliq yang immaterial. Sedangkan pengertian dari konsep kedua lebih menekankan makhluk sebagai wujud immaterial yang dicontohkan sebagai bayangan matahari dalam jembangan berisi air.
Definisi yang kedua dalam karya Bratakesawa ini sesungguhnya merupakan kritik terhadap konsep persatuan Tuhan dan Manusia dalam kepribadian Yesus. Meskipun pada tingkatan tertentu makhluk dapat menyatu dengan citra khaliq sebagaimana menyatunya bayangan matahari dalam bejana berisi air, namun bayangan matahari tersebut tetap tidak dapat disebut sebagai matahari. Demikian juga meskipun manusia Yesus memiliki citra yang berasal dari Allah, namun Yesus tetap tidak dapat dinamakan Allah. Sebab Yesus hanya menjadi reflektor bagi citra Allah dan memang bukan Allah itu sendiri. Lebih lanjut, Raden Bratakesawa memberikan keterangan bahwa penyatuan antara makhluk dan khalik jangan disamakan dengan ”Mudadama dapat melihat kepada Wredatama”, namun seperti keyakinan ”kaya ngertimu marang dina Ngahad. Anggonmu percaya sebab kantor-kantor pada tutup, sarta dina Jumuwah wis kupungkur let sedina[26] (Seperti pengertianmu terhadap Hari Ahad, engkau percaya bahwa pada hari itu banyak kantor-kantor yang tutup, serta Hari Jumat sudah berjarak satu hari sebelumnya).
Pandangan Bratakesawa yang menggunakan perumpamaan matahari dan bayangan matahari dalam bejana air ini memiliki kemiripan dengan pemikiran Al Ghazali yang tertuang dalam Ihya’ Ulumuddin. Al Ghazali menerangkan bahwa keberadaan Tuhan sebenarnya bersifat ngegla (terang benderang). Hal ini diungkapkan dengan menggunakan tamsil atau analogi bahwa Tuhan adalah seperti halnya matahari. Sedangkan manusia ditamsilkan sebagaimana halnya kelelawar. Selama kehidupannya kelelawar tidak mampu melihat matahari karena inderanya sangat lemah. Cahaya Allah, menurut Al Ghazali, yang dianalogikan seperti matahari itu teramat terang, sementara indera manusia tidak mampu menangkapnya. Manusia akan bisa menangkap cahaya Allah dengan menggunakan mata hati. Hati atau qalbu oleh Al Ghazali diibaratkan dengan cermin (mir’ah). Jika cermin ini dibersihkan dari kotoran duniawi maka manusia akan bisa melihat citra Allah melalui cermin hatinya.[27] Melalui pandangan ini dapat diungkapkan bahwa bayang-bayang (citra) Tuhan bersifat immanen dalam kalbu manusia, maka syarat untuk melihat Tuhan adalah dengan pensucian hati dan mawas diri. Sementara Tuhan itu sendiri tetaptranscendent, mengatasi alam semesta.
KLAIM KEBATINAN
Telah diungkapkan sebelumnya beberapa akademisi Kristen berusaha mengetengahkan bukti bahwa ajaran Bratakesawa menunjukkan rasa “simpatik” dan tidak bertentangan dengan kekristenan. Pandangan ini dilatarbelakangi oleh anggapan bahwa Bratakesawa merupakan tokoh kebatinan, sebuah entitas yang ditempatkan berada di luar Islam. Dengan kata lain penempatan Bratakesawa sebagai tokoh kebatinan ini secara serta merta akan menempatkan sosoknya pada posisi kontra Islam. Meskipun pandangan ini berusaha mengetengahkan “bukti-bukti”, namun agaknya belum mampu memotret secara utuh makna sebenarnya dari “kebatinan”. Tidak mengherankan jika produk dari diskursus ini akhirnya bersifat bias. Meskipun demikian, definisi-definisi tentang kebatinan hingga saat ini juga masih belum menemukan satu formula pengertian yang memuaskan.
Badan Kongres Kebatinan Indonesia II tahun 1956 di Surakarta merumuskan bahwa arti “kebatinan” adalah “sumber azas dan sila Ketuhanan Yang Maha Esa untuk mencapai budi luhur guna kesempurnaan hidup”.[28] Prof. Dr. H.M. Rasjidi, seorang akademisi muslim yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama RI pertama, mengungkapkan kritik bahwa pengertian kebatinan tersebut adalah wujud definisi yang terbalik. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan sila yang penting, sebab Tuhan Yang Maha Esa inilah yang menciptakan alam dan manusia. Ia menciptakan segala wujud, alam ghaib, dan nilai-nilai. Dalam pandangan ini Tuhan Yang Maha Esa menjadi sumber dari segala sesuatu, termasuk menjadi sumber bagi kebatinan. Oleh karenanya, bukan kebatinan yang menjadi sumber Ketuhanan Yang Maha Esa, sebagaimana definisi BKKI tersebut. Melainkan Ketuhanan Yang Maha Esa-lah yang menjadi sumber kebatinan.[29] Meskipun demikian pengertian “kebatinan” dalam definisi ini tetap belum memberikan batasan yang mencukupi.
Bratakesawa tokoh yang “tertuduh” sebagai tokoh kebatinan, juga memiliki definisi sendiri tentang makna “kebatinan”. Ia mendefinisikan kebatinan merupakan “semua pengetahuan yang bukan permasalahan lahir.” Masuk dalam definisi kebatinan adalah sejumlah aji-ajian dan ilmu ghaib. Dalam pengertian ini, Bratakesawa menganggap bahwa ilmu Ketuhanan merupakan ilmu yang berdiri sendiri dan bukan bagian dari ilmu kebatinan. Hal ini diungkapkan Bratakesawa sebagai berikut:
 “Kabatinan” iku luguning tegese: sakabehing kawruh kang dudu babagan lahir. Dadi: sawernaning aji-aji lan kaluwihan iku kalebu kawruh kabatinan kabeh. Hla iku pancen ora kalebu kawruh ka-Allahan.[30]
Terjemahan:
(Kebatinan itu secara sederhana maksudnya semua pengetahuan yang bukan permasalahan lahir. Jadi, sejumlah aji-aji dan kelebihan (yang bersifat ghaib) itu semua termasuk pengetahuan kebatinan. Hla hal itu memang tidak termasuk pengetahuan ke-Allahan.)
Untuk membedakan antara ilmu kebatinan dan ilmu Ketuhanan (ke-Allahan), Bratakesawa memberikan definisi bahwa ilmu ketuhanan adalah pengetahuan yang menerangkan tentang zat, sifat, asma’ dan af’al Allah. Makna ini bisa diperluas dengan menambahkan cara atau metode yang dilakukan manusia untuk berbakti kepada Allah, baik secara lahir maupun batin yaitu dengan menjalani syari’at, Tarikat, Hakikat, dan Ma’rifat.  (“Ka-Allahan” tembunge Indonesia ke-Tuhanan, iku kawruh kang nerangake bab Dat, Sipat, Asma, lan Apngaling Pangeran. Kena dijembarake maneh: uga bab carane ngabekti marang Allah, lahir lan batin, iya Sarengat, Tarekat, Kakekat, lan Makripat iku mau).[31]
Dengan mencermati pengertian “kebatinan” yang dicetuskan oleh Bratakesawa, maka secara kokoh “guru orang Jawa” ini sebenarnya telah mengokohkan dirinya bukan sebagai tokoh kebatinan. Buku-buku karyanya secara umum menunjukkan adanya muatan ilmu Ke-Allahan, sesuatu yang dimaksudkan berada di luar ilmu Kebatinan menurut pengertian Bratakesawa.
Bahkan tulisan Bratakesawa “Kuntji Swarga” merupakan jawaban atas munculnya berbagai aliran kebatinan yang memiliki iktikad menyimpang. Munculnya aliran kebatinan semacam ini, menurut Bratakesawa, menciderai ajaran agama yang telah disiarkan para Rasul. Tumbuhnya aliran kebatinan yang saling berjibaku dan terlibat konflik menjadi akar makin melemahnya bangsa, dan pada giliran selanjutnya merugikan masyarakat dan negara. Oleh karena itu, kehadiran “Kuntji Swarga” adalah sebagai sarana menyebarkan iktikad tentang Allah berdasarkan dalil naqli (Al Quran dan Hadits) dan dalil Aqli (menurut akal pikiran).[32]
Metodologi penalaran induktif yang digunakan oleh Harun Hadiwijono untuk menemukan makna “kebatinan” dan karakteristiknya, akan sulit menemukan sebuah konklusi yang tepat. Proposisi-proposisi yang digunakan oleh Harun untuk mencapai sebuah “konklusi”ternyata tidak semuanya merupakan entitas yang memiliki hubungan dengan “kebatinan”. Buku “Kebatinan dan Injil” karyanya menggunakan lima buah proposisi yang dianggap representasi dari kebatinan  antara lain Paguyuban Sumarah, Sapta Darma, ajaran Bratakesawa, Pangestu, dan ajaran Paryana Suryadipura untuk bisa menghasilkan definisi kebatinan beserta karakteristik mendasarnya. Namun demikian telah dijelaskan sebelumnya Bratakesawa, hanya merupakan salah satu contoh tokoh yang “dianggap” kebatinan belaka. Sementara ia seharusnya tidak dimasukkan ke dalam kelompok ini.
 Tokoh lain yang perlu dicermati adalah dokter Paryana Suryadipura. Dokter ini oleh Harun Hadiwijono juga dikategorikan sebagai salah satu tokoh kebatinan, entitas yang dianggap berada di luar Islam. Harun Hadiwijono mengungkapkan bahwa dr. Paryana Suryadipura bermaksud menganalisa proses pikiran dengan menggunakan salah satu metode yaitu menggunakan patokan agama. Patokan agama yang dimaksud oleh Paryana Suryadipura menurut Harun Hadiwijono adalah “ilmu kebatinan”.[33]
 Pandangan Paryana Suryadipura sebenarnya menekankan adanya 2 (dua) dimensi dalam agama yaitu ilmu lahir dan ilmu gaib (mistik). Ilmu yang bersifat lahir yaitu patokan-patokan agama yang ada dalam kitab suci masing-masing. Dengan cara menjalankan syariat agama dengan baik atau dengan kata lain memperkuat dimensi lahir dari agama, maka tenaga batinnya akan timbul dengan sendirinya. Seseorang tidak akan dapat memperoleh kekuatan batin, apabila tidak mengenal dan menjalankan praktik agama yang dianut dengan sebaik-baiknya. Paryana Suryadipura menyebut proses timbulnya tenaga atau ilmu batin yang muncul dengan menjalankan syariat agama sebagai akibat dari hukum automatisme.[34] Oleh karena itu penilaian Harun Hadiwijana yang menempatkan bahwa metode “patokan agama” yang digunakan oleh Paryana Suryadipura adalah “ilmu kebatinan”, merupakan gagasan yang kurang tepat.
 Paryana Suryadipura mengusulkan adanya penempatan posisi dan relasi yang tepat antara entitas agama dan kebatinan. Ia menyesalkan munculnya praktik dimana “ilmu kebatinan” dijadikan sebagai substitusi agama. Kebatinan seharusnya sekedar menjadi aliran yang berusaha memperdalam pengetahuan tentang filsafat dan secara ideal bernaung di bawah syari’at agama. Para penghayat kebatinan yang mengabaikan syara’ atau bahkan menginjak-injaknya dianggap mewarisi semangat era penjajahan dan sifat mereka itu bersifat paradoks belaka. Usaha menempuh dunia batin dengan mengabaikan syariat agama adalah upaya yang sia-sia, membuang waktu dan tenaga saja. Para pemimpin kebatinan yang percaya kepada Tuhan yang Maha Esa, namun menciptakan sendiri aturan peribadatannya, tanpa mengikuti syara’dianggap telah mengabdi pada kesesatan. Diibaratkan seperti “menjilat sambil meludah” yaitu mencoba mencari kesejatian Allah namun pada saat yang sama mengingkari perintah-Nya.[35] Pada bagian lain, Paryana Suryadipura menunjukkan pendiriannya yang tegas dalam berpegang kepada syariat agama sebagai berikut:
  “Aturan-aturan menurut sara’ adalah lengkap, karena suara yang mengandung amanat berisi sara’ diterima melalui antenne (para Nabi) yang tertinggi, hingga suara itu terdengar semua (tidak ada feeding), jelas, dan suci (tidak dinodai oleh suara yang mengganggu = tidak ada storing). Mungkin tidak ada dosa yang lebih besar dari pada MENJILAT SAMBIL MELUDAH tadi, oleh karena yang dijilat sambil diludahi disini adalah Tuhan sendiri. Didalam Hadits disebut: “Siapa yang mengada-adakan sara’, kufurlah ia”.[36]
Kesalahan Harun Hadiwijono dalam menetukan proposisi ini, baik dalam kasus penempatan Bratakesawa maupun Paryana Suryadipura sebagai tokoh kebatinan, jelas berakibat fatal. Seperti menciptakan sebuah bangunan argumentasi dengan menggunakan “batu bata” yang masih mentah. Bangunan itu bisa saja berhasil didirikan, namun tentu diikuti dengan timbulnya sejumlah kelemahan yang menjadi konsekuensi logis dari pemilihan bahan tersebut.
DAI YANG LUAR BIASA
Salah paham terhadap kepribadian Raden Bratakesawa memang sering terjadi di kalangan para penulis. Beberapa diantaranya menempatkan Bratakesawa sebagai sosok kebatinan Jawa. Apalagi jika terdapat sejumlah sumber dari pihak Kristen yang justru mendukung teori yang keliru tersebut.
Tindakan manipulatif kalangan Kristen ini nampaknya bukan sekedar kesalahpahaman atau kekeliruan. Tetapi merupakan suatu model “perilaku akademis” yang sengaja dipraktikkan. Azyumardi Azra, sejarawan, menempatkan Harun Hadiwijono sebagai salah satu akademisi Kristen yang mempraktikkan strategi dikotomi dan pemisahan oposisional antara Islam dengan kebudayaan Jawa. Diantaranya dengan mensimplifikasi sikap keagamaan masyarakat Jawa sebagai “Kebatinan” (Kejawen). Tujuannya adalah mereduksi dan mengaburkan pengaruh Islam dalam sikap keagamaan itu atau bahkan dalam lapangan kebudayaan yang lebih luas. Bisa ditebak, wajah Islam di Jawa diusahakan semakin memudar dan tersedia peluang lebih besar bagi keberhasilan misionaris.[37]
Padahal makna ”kebatinan” itu sendiri pada dasarnya masih debatable, apalagi jika harus memasukkan ajaran Bratakesawa sebagai salah satu variannya. Hal yang paling nampak dari karya-karya Bratakesawa menunjukkan bahwa ia merupakan sosok yang mencoba mempertahankan dan menempuh jalur ”orthodoksi” Islam. Ia merupakan salah satu anggota Persyarikatan Muhammadiyah yang secara bertepatan memiliki ”kesenangan” untuk mengkaji tentang masalah budaya Jawa. Namun demikian karya-karyanya tidak jarang menampakkan wajah paham ”Asy’ariyah” yang pada masanya menjadi salah satu ciri khas dari pemikiran kalam dalam Nahdhatul Ulama (NU). Juga karya-karyanya yang mencoba membedah sejumlah produk budaya Jawa dan Islam seperti almanak[38], pengetahuan tentang Candra Sengkala[39], perhitungan selamatan orang mati[40], dan lain sebagainya. Dengan demikian, Raden Bratakesawa memang merupakan sosok yang unik dan sekaligus menarik.
Penulis: SusiyantoPeneliti di Pusat Studi Peradaban Islam (PSPI)Dipublikasikan ulang seizin penulis dari www.susiyanto.wordpress.com



FOOTNOTE:
[1] Tulisan Imam Supardi yang dimaksud merupakan sebuah prakata dari buku ”Kuntji Swarga” cetakan keenam karya Bratakesawa. Lihat Dr. Harun Hadiwijono.Kebatinan dan Injil. Cetakan IX. (BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2006). Hal. 43
[2] Bambang Noorsena. Menyongsong Sang Ratu Adil: Perjumpaan Iman Kristen dan Kejawen. Cetakan II. (Penerbit Andi, Yogyakarta, 2007). Hal. 77-79
[3] Lihat Susiyanto. Strategi Misi Kristen Memisahkan Islam dan Jawa. (Cakra Lintas Media, Jakarta, 2010). Hal. 247-250
[4] Perkiraan ini didasarkan pada cerita Bratakesawa saat bertemu guru Sarekat Abangan yaitu Mangunatmojo, dia mengaku umur 23 tahun. Sedang bratakesawa ditugaskan di Klaten sebagai sekretaris Insulide Surakarta sekitar 1921.
[5] Moh Hari Suwarno. Syekh Siti Jenar. (PT.Antar Surya Jaya,tanpa kota tanpa tahun). Hal.20
[6] Prof. Dr. Hasanu Simon. Misteri Syekh Siti Jenar. (Pustaka Pelajar,Yogyakarta;2008). Hal.380
[7] Bratakesawa. Serat Bajanul Chaliq: Ngewrat Wedaran Bab Ingkang Sinebut Al-Chaliq utawi Allah. Cetakan III. (Kulawarga Bratakesawa, Yogyakarta, 1958). Hal. 3-4
[8] Raden Bratakesawa menjelaskan bahwa motivasi penulisan buku “Serat Bajanul Chaliq” disebabkan bahwa masyarakat pembaca “Serat Kuntji Swarga” dan “Wirid I.T.M.I” banyak yang berasal dari kalangan awam yang belum memiliki pemahaman mendasar untuk mengakses kedua kitab tersebut. Juga sebagai bacaan pembanding atas terbitnya karya Raden Panji Natarata, baik Falsafah Sitidjenarmaupun Serat Bayanullah.  Serat Bajanul Chaliq merupakan kitab yang menjelaskan pandangan dan jati diri Bratakesawa sebagai seorang muslim. Lihat Bratakesawa.Serat Bajanul Chaliq … Ibid. Hal. 3-4
[9] Lihat Bratakesawa. Serat Bajanul Chaliq … Ibid. Hal. 7
[10] Raden Pandji Natarata (hidup sekitar tahun 1810-1890) pernah menjabat sebagai kepala distrik Ngijon, Yogyakarta. Sebelumnya ia bernama Raden Sasrawidjaja dan pernah mengampu pelajaran Bahasa Jawa di sebuah sekolah guru di Surakarta. Serat Bayanullah merupakan karya Raden Panji Natarata yang membahas tentang sejumlah aliran menyimpang yang bertentangan dengan Islam dan pernah berkembang di Jawa. Dalam karya ini Raden Panji Natarata berusaha menjelaskan dan menyanggah terhadap penyimpangan yang terjadi pada aliran-aliran yang ada. Bratakesawa, yang pada masa selanjutnya berperan dalam mengedit dan menerbitkan karya yang sebelumnya merupakan tulisan tangan tersebut, menyatakan bahwa Serat Bayanullah sebelumnya pernah di muat di Almanak H. Buning, sekitar tahun 1910-an.  Lihat Bratakesawa (ed.). Serat Bayanullah: Anggitanipun swargi Raden Pandji Natarata. (Y.P. Jaya Baya, Surabaya, 1975). Hal. 1-4
[11] Bratakesawa. Serat Bajanul Chaliq: Ngewrat Wedharan Bab Ingkang Sinebut Al-Chaliq utawi Allah. Cetakan III. (Kulawarga Bratakesawa, Yogyakarta, 1958). Hal. 7. Garis bawah (underline) pada sejumlah kata berasal dari naskah aslinya, namun ejaan dalam pengutipan ini telah disesuaikan dengan ejaan yang saat  ini berlaku.
[12] Bratakesawa. Serat Bajanul Chaliq … Hal. 8
[13] Bratakesawa. Serat Bajanul Chaliq … Hal. 8
[14] Bratakesawa. Serat Bajanul Chaliq … Hal. 8-9
[15] Lihat Bratakesawa. Falsafah Sitidjenar: Ngewrat Pangrembag Paham Wahdatul-Wudjud (Pantheisme) ing Tanah Jawi, Ingkang Menggok Dados Paham Ngaken Allah Tuwin Ngorakaken Wontenipun Ingkang Nitahaken (Atheisme). Cetakan VI. (Jajasan Penerbitan “Djojobojo”, Surabaya, tth). Hal. 10
[16] Bratakesawa. Serat Bajanul Chaliq ..Opcit. Hal. 9
[17] Lihat pengakuan Bratakesawa. Serat Bajanul Chaliq ..Opcit. Hal. 9
[18] Bratakesawa. Wirid I. T. M. I: Iman Tauhid Ma’rifat Islam Jaiku Bapa-Babuning Kabeh Wirid Kang Adedasar Falsafah Islam. Cetakan V. (Jajasan Penerbitan “Djajabaya”, Surabaya, tth). Hal. 22
[19] Bratakesawa. Wirid I.T.M.I. … Hal. 22
[20] Bratakesawa. Wirid I. T. M.I … Hal. 23
[21] Buku Kunci Swarga merupakan karya dari Raden Bratakesawa yang dirancang untuk menerangkan sejumlah pokok-pokok keyakinan Agama Islam. Penyampaian isi bukunya  dilakukan dengan metode dialogis yang melibatkan dua orang karakter, pertama bernama Wredatama, yaitu seorang yang berusia lebih tua dan mumpuni dalam ilmu keagamaan dan kedua, Mudadama yaitu seorang yang lebih muda yang berusaha untuk mencari dan mengkaji ilmu tentang kasunyatan. Diceritakan bahwa Mudadama telah berguru kepada sejumlah guru ngelmu dan kebatinan serta membaca sejumlah buku-buku yang terkait, namun bukannya menemukan pencerahan justru ia menuai kebingungan sebab ajaran masing-masing guru dan keterangan dari setiap buku bacaannya tidak memiliki kesamaan, bahkan beberapa bertentangan. Maka maksud kedatangan Mudadama kepada Wredatama adalah meminta sang ”tetua” mengurai kerumitan akibat kajian ngelmu yang telah diperolehnya. Selanjutnya terjadi percakapan diantara kedua terus berlangsung hingga menyangkut masalah-masalah yang lebih mendalam dalam ajaran Islam. Menariknya, buku karya Raden Bratakesawa disusun dengan bahasa yang umumnya mudah dipahami dengan melibatkan emosi persaudaraan antara kedua karakternya dan disertai dengan contoh-contoh yang relevan dengan keseharian orang Jawa, sehingga dengan demikian pembaca akan turut menilai alur pembicaraan sebagai sebuah realitas yang selalu saja hadir disekeliling pembaca. Meskipun memang dalam beberapa bagian terdapat pula bahasa-bahasa yang meng”awang” (melangit), namun gaya penceritaan yang selalu memberikan keterangan memadai akan menggugurkan kesulitan tersebut.
[22] Kutipan kitab kunci swarga dan terjemahannya berasal dari Bambang Noorsena.Menyongsong … Opcit. Hal. 78-79. Sebagai sebuah kutipan terdapat perbedaan dengan naskah asli yang dikutip meskipun demikian tidak terlampau berarti kecuali penulisan ”Maryam 91:92” dalam penterjemahan yang mungkin saja  bisa menimbulkan kesalah pahaman. Hal itu terjadi mungkin karena salah pengetikan yang dilakukan Bambang Noorsena. Bandingkan Bratakesawa. Kunci Swarga (miftahu’l jannati). Cetakan VIII. (Keluarga Brotokesawa, Yogyakarta, 1979). Hal. 56-57
[23] Bambang Noorsena. Menyongsong … Ibid. Hal. 82
[24] Bambang Noorsena. Menyongsong … Ibid. Hal. 87
[25] Bratakesawa. Kunci Swarga … Opcit. Hal. 55-56
[26] Bratakesawa. Kunci Swarga … Ibid. Hal. 49
[27] Lihat Simuh. Tasawuf dan Perkembangannya Dalam Islam. (PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta, 1996). Hal. 169-170
[28] Lihat Hasil Seminar Kebathinan Indonesia ke-I Jakarta. (Badan Kongres Kebathinan Indonesia, Jakarta, 1959). Hal.  139. Lihat juga Prof. Dr. H.M. Rasjidi.Islam dan Kebatinan. (Jajasan Islam Studi Club Indonesia, Jakarta, 1967).  Hal. 75
[29] Prof. Dr. H.M. Rasjidi. Islam dan Kebatinan. (Jajasan Islam Studi Club Indonesia, Jakarta, 1967). Hal. 75
[30] Bratakesawa. Kuntji Swarga (Miftahu’l Djannati). Jilid I. Cetakan V. (Keluarga Bratakesawa, Yogyakarta, 1955). Hal. 15
[31] Bratakesawa. Kuntji Swarga. Jilid I. Ibid. Hal. 15
[32] Lihat “Prawacana” Bratakesawa. Kuntji Swarga (Miftahul Djanati). Cetakan VII. Penerbit Jajasan Djajabaja, Surabaya, 1966). Hal. 3
[33] Dalam menilai pandangan dr. Paryana Suryadipura, Harun Hadiwijana hanya menggunakan salah satu buku karya dokter Jawa itu saja. Buku yang dimaksud adalah “Alam Pikiran”. Lihat Dr. Harun Hadiwijono. Kebatinan dan Injil. …Opcit. Hal. 109-110
[34] Lihat dr. R. Paryana Suryadipura. Daya Upaya Memperoleh Kesampurnaan. (Akademi Metafisika Sapta Gama Surakarta- Adhiningrat, Surakarta, 1956). Hal. 2 dan 6
[35] Lihat dr. R. Paryana Suryadipura. Manusia Sempurna (Al Insan Kamil).  Ceramah Pada Pembukaan Akademi Metafisika Sapta – Gama di Surakarta 12 Februari 1956
[36] Dikutip dengan penyesuaian ejaan. Lihat dr. R. Paryana Suryadipura. Manusia Sempurna  … Ibid
[37] Lihat Pengantar Azra dalam Karel Steenbrink, Kawan Dalam Pertikaian (Mizan, Bandung, 2005). Hal.  xxii
[38] Almenak yang dimaksud berisi tentang cara menghitung konversi antara sistem kalender Masehi, Arab, dan Jawa. Lihat Bratakesawa. Almenak Atusan Tahun. (Panjebar Semangat, Surabaya, 1968)
[39] Buku Bratakesawa menunjukkan bahwa meskipun pengetahuan tentang Candra Sengkala telah dipraktikkan di Jawa sejak jaman pra-Islam, namun keberadaan Islam turut memberikan warna tersendiri bagi corak Candra Sengkala yang baru. Lihat Bratakesawa. Katrangan Tjandrasangkala. Cetakan II. (Balai Pustaka, Jakarta, 1952)
[40] Karya Bratakesawa ini dimuat ulang oleh Majalah Panjebar Semangat dalam memperingati  Ulang Tahunnya yang ke-60 tahun. Sebelumnya dimuat dalam majalah yang sama pada No. 19 tgl. 20 Juni 1964. Lihat Bratakesawa. Petung Slametane Wong Mati: Carane Nggoleki Dina lan Pasarane. Majalah Panjebar Semangat No. 36 – 4 September 1993. Hal. 23 -24
loading...
Read more »

Muslim Hijau, Kelompok Muslim Pecinta Lingkungan

item-thumbnail
ResistNews Agama Islam menganjurkan pemeluknya untuk mencintai alam. Demikian pendapat Hendrik Jan Bakker, ketua Stichting Groene Moslims atau Yayasan Muslim Hijau. Mungkin para kritisi Islam seperti Geert Wilders tidak bisa membayangkan, agama Islam ini ramah lingkungan.

Hendrik Jan Bakker adalah warga Belanda yang sudah cukup lama masuk Islam dan kini menjadi ketua Yayasan Muslim Hijau Belanda.

Kata hijau di sini tidak merujuk warna yang disebut sebagai warna Islam, karena misalnya bendera Arab Saudi warnanya hijau. Tapi hijau ini adalah lambang ramah lingkungan. Jadi muslim hijau adalah sebutan bagi orang Islam yang ramah lingkungan. Hendrik menyamakan gerakannya dengan Greenpeace, tapi tidak "radikal" .

Terisinspirasi ajaran Islam
Menurut Hendrik Jan Bakker ia mendirikan yayasan pencinta alam ini diinspirasi ajaran Islam yang berdasarkan Al Quran dan Hadis.

"Ketika saya membaca Al Quran saya banyak menemukan ayat-ayat tentang alam dan makhluk. Al Quran menyuruh agar semua itu diperlakukan dengan baik dan hati-hati, " katanya kepada Radio Nederland sebagaimana dilansir hari Rabu 1 Februari.

Hendrik menambahkan Nabi Muhammad SAW dalam berbagai hadis melarang menebang pohon sembarangan. "Misalnya nabi melarang menebang pohoh-pohon di Mekkah. Nabi juga melarang orang menebang pohon saat berperang."

Kewajiban
Hendrik pun merasa aneh mengapa tidak ada orang Islam di sekitarnya yang sadar akan isu lingkungan hidup. Kenapa hanya orang Belanda dan Eropa yang lebih peduli?

Sejak itu sebagai seorang muslim ia merasa berkewajiban untuk melindungi alam.

Tidak banyak negara muslim yang mempraktekkan ajaran Islam untuk mencintai alam. Namun menurut Hendrik tidak demikian. Misalnya di Libya ada kelompok lingkungan hidup. Dan di Mesir ada Sekem. "Mereka membeli padang pasir yang disulap menjadi lahan subur tanpa menggunakan pupuk buatan dan obat-obat pemberantas hama.

Yayasan
Groene Moslims bukanlah kelompok muslim hijau pertama di Barat. Di Inggris dan Amerika sudah sejak lama ada kelompok muslim hijau. Terinspirasi oleh para pencinta alam Islam tersebut, maka Hendrik pun melahirkan gagasan untuk mendirikan Yayasan Muslim Hijau.

Hendrik dan kawan-kawan juga menyorot hewan sembelihan yang sehat. Mereka menilai sangat perlunya hewan itu selama hidupnya diperlakukan dengan baik sesuai dengan tuntutan Islam.

Kebutuhan untuk mendirikan suatu wadah seperti yayasan pun tambah terasa.
"Maka kami merasa perlu mendirikan sebuah organisasi, yayasan, perkumpulan atau apalah namanya," tegasnya kepada Radio Nederland.

Menurut para kritisi Islam seperti Wilders di Belanda, Islam adalah agama terbelakang. "Lihat saja Timur Tengah. Semakin penting peranan Islam, semakin buruk nasib orang di sana, " kata politikus populis kepada Radio Nederland secara terpisah.

Menurut Hendrik pendapat orang-orang seperti Wilders tentu saja tidak benar. Namun ia mengakui muslim belum memberi contoh yang baik. "Sayang sekali. Dalam hal ini, para kritisi Islam itu ada benarnya juga."

Mereka tidak tahu, zaman dahulu kala umat Islam berhasil menunjukkan bahwa Islam menyuruh umatnya mencintai alam. "Contohnya, di masa-masa awal Islam, Arab Saudi dan Suriah mempunyai tradisi menjadikan lahan, padang rumput sebagai kawasan lindung, yang harus diperlakukan dengan baik."

Industrialisasi
Sejak industrialisasi, maka negara-negara Islam seperti Arab Saudi tidak begitu peduli lagi dengan lingkungan hidup. Ini terjadi juga di dunia Barat pada awal proses industrialisasi.

Makanya penting sekali untuk untuk menjelaskan bahwa Islam agama ramah lingkungan, tegas Hendrik.

Terakhir pria Belanda yang suka mengenakan semacam tulban sufi ini mengatakan, bahwa dia dan kawan-kawannya tidak berniat untuk mendirikan partai politik. "Kami hanya mau menjadi gerakan kemasyarakatan, tidak akan menjadi partai. Banyak partai yang membela kepentingan Islam dan lingkungan hidup," katanya kepada Radio Nederland.
loading...
Read more »

MUI : transaksi penukaran uang receh termasuk riba

item-thumbnail
ResistNews Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat Bidang Komisi Fatwa Salim Umar menegaskan transaksi penukaran uang receh yang marak menjelang hari raya Lebaran termasuk kegiatan jual-beli uang yang diharamkan oleh Islam.
Di Kantor MUI Jawa Barat, Bandung, Senin, Salim mengatakan transaksi penukaran uang receh tergolong riba yang secara tegas diharamkan oleh hukum Islam.
"Itu termasuk riba yang mengambil keuntungan dari perdagangan yang tidak sah," ujarnya dikutip antaranews.
Uang menurut ajaran Islam, kata Salim, adalah alat tukar dan bukan komoditi yang boleh diperdagangkan.
Transaksi penukaran uang receh dalam mata uang Rupiah, lanjut dia, tidak bisa dipersamakan dengan transaksi penukaran uang ke dalam mata uang negara lain.
"Jelas transaksi penukaran uang receh termasuk riba karena misalnya satu lembar pecahan sepuluh ribu ditukar hanya dengan sembilan lembar pecahan seribu," katanya.
Meski demikian, Salim mengatakan, MUI sampai saat ini belum mengeluarkan fatwa yang menegaskan bahwa transaksi penukaran uang receh adalah haram .
"Kami tidak mengeluarkan fatwa karena beranggapan masyarakat sudah tahu bahwa transaksi tersebut termasuk riba yang diharamkan," demikian Salim.
loading...
Read more »

Pagi Ini Pimpinan KPK Berikan Keterangan Pers

item-thumbnail
ResistNews - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan menggelar konferensi pers terkait penggeledahan di markas Korlantas Polri, di Jalan MT Haryono, Jakarta.
"Jam 7.30 WIB konpers di kantor KPK," tulis juru bicara KPK Johan Budi SP dalam pesannya kepada Tribunnews.com, Selasa (31/7/2012). Johan Budi mengatakan, jajaran Pimpinan KPK juga akan menghadiri konpers ini.
Sebelumnya sejak Senin (30/7/2012) malam, sejumlah penyidik KPK melakukan penggeledahan di markas Korlantas Polri, terkait kasus dugaan korupsi pengadaan simulator SIM.
Tidak tanggung-tanggung, guna mendalami kasus yang melibatkan petinggi Polri berinisial DS ini, tiga pimpinan KPK ikut mengawal sejumlah anak buahnya dalam melakukan penggeledahan.
"Selain saya (Wakil Ketua KPK Busyro Muqoddas), ada AS (Ketua Abraham Samad), BW (Wakil Ketua Bambang Widjojanto) dan Dirdiklitut (Direktur Penuntutan yang merangkap sebagai Plt Direktur Penyidikan Warih Sadono)," kata Busyro saat dikonfirmasi Tribunnews.com.
loading...
Read more »

Habib Bahar bin Ali bin Smith (Pimpinan Majelis Pembela Rasulullah) Gara-Gara Terapkan Nahi Munkar Ditangkap Polisi

item-thumbnail
ResistNews - Habib Bahar bin 'Ali bin Smith, Pimpinan Majelis Pembela Rasulullah SAW, yang juga dikenal dengan Habib Bule dikarenakan parasnya yang wajahnya yang kubule-bulean, ditahan oleh Mapolresta Jakarta Selatan.

Penahanan tersebut dilakukan karena aksi Nahi Munkar (mencegah kemungkan) di bulan Ramadhan terhadap Cafe De Most, Jl Veteran Raya Kavling 8 Bintaro, Pesanggrahan, Jaksel. Aksi Nahi Munkar tersebut dilakukan untuk menjaga kesucian bulan Ramadhan yang dinodai oleh orang-orang penista bulan Ramadhan.

"Habib Bahar sudah ditetapkan tersangka dan ditahan di Polres Jakarta Selatan," kata Kepala Polres Jaksel Kombes Pol Imam Sugianto kepada wartawan di kantornya, Jalan Wijaya I, Jakarta Selatan, Minggu (29/7/2012), demikian dilansir oleh detik.com

Pada kesempatan yang sama, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto mengatakan, Habib Bahar berperan aktif dalam aksi tersebut dengan mengerangkan pesonelnya. Di rumah Habib Bahar pula di kawasan Pondok Aren, Tangerang, konsolidasi untuk aksi sweeping itu dilakukan. Konsolidasi itu dilakukan 2 minggu sebelum aksinya.

Kepada polisi, Habib Bahar mengaku kesal dengan adanya kafe yang membandel selama bulan puasa. Habib Bahar kemudian berinisiatif untuk melakukan aksi nahi munkar tanpa berkoordinasi dengan aparat terkait.

"Dengan alasan kafe masih buka dan disinyalir ada (barang atau kegiatan) yang dilarang selama bulan puasa, mereka insiatif menutup namun dalam tindakannya melakukan tindakan perusakan. Untuk itu kita melakukan pengamanan agar tidak terjadi lagi," paparnya.

Selain Habib Bahar, polisi juga menetapkan 23 tersangka lainnya. Mereka dijerat dengan pasal 170 KUHP tentang pengrusakan subsider Pasal 2 ayat (1) UU Darurat No 12 Tahun 1951 dengan ancaman hukuman 12 tahun penjara. Dari para tersangka, polisi menyita barang bukti berupa 1 buah golok, 1 bilah celurit, 4 bilah samurai, 4 batang stik golf, 1 buah double stik dari besi, 1 potong kayu, 1 buah bendera Majelis Pembela Rasulullah serta satu set alat musik milik kafe.

Seperti diberitakan oleh detik.com, polisi menggaruk 62 anggota ormas Majelis Pembela Rasulullah di Kafe De Most pukul 23.00 WIB. Sementara 39 lainnya dilepaskan dan dikembalikan ke orangtuanya masing-masing dengan alasan mereka masih di bawah umur. Massa mendatangi kafe tersebut dengan persenjataan seperti celurit, stik golf, golok dan samurai serta bendera ormas. Para pelaku kemudian merusak dan menghancurkan barang-barang di kafe dan memukul dua orang karyawan kafe.

Habib Bahar bin Smith sendiri, tidak hanya aktif melakukan aksi nahi munkar, namun juga dakwah Islam, bahkan pembinaan terhadap ormas-ormas para pemuda (kepemudaan). Habib Bahar juga sangat anti terhadap pelecehan yang dilakukan oleh orang-orang kafir Ahmadiyah.  Dan juga pernah ikut mempertahankan Makam Mbah Priok.

Habib Bahar bin Smith tidak hanya berdakwah di pulau Jawa dengan memberikan ceramah-ceramah kepada beberapa ormas seperti FBR (Forum Betawi Rempuk) dan FORKABI (Forum Komunikasi Anak Betawi) dan lain sebagainya. Namun juga aktif dakwah di Kalimantan.  Oleh karena itu, jama'ahnya tidak hanya di ada di jawa, namun juga di Kalimantan.

Menanggapi penangkapan terhadap dirinya, Habib Bahar mengatakan "Demi Allah, penjara tidak membuat kami gentar. Kami menjaga kesucian dan kemuliaan bulan Ramadhan. Jadi bagi para orang-orang munafik yang banyak omong atas apa yang kami lakukan, diam aja kalian semua. Kalian tidak tahu apa-apa. Saya Pimpinan Majelis Pembela Rasululloh bertanggung jawab dunia akhirat atas apa yang terjadi semalam. Allahu Akbar", demikian yang disampaikan oleh Habib Bahar.

Dukungan terhadap Habib Bahar tidak hanya dari jama'ah yang berada di Jawa, namun juga jama'ahnya yang berada di Kalimantan
loading...
Read more »

2 Anggota Majelis Pembela Rasulullah Masih Diamankan Polres Jaksel

item-thumbnail
ResistNews – Ahad (29/7) lalu, sebanyak 62 anggota Organisasi Masyarakat (Ormas) Majelis Pembela Rasulullah (MPR) diamankan Polres Kota Tangerang. Ke-62 anggota ormas MPR itu ditangkap di Jalan Pondok Kacang, Kampung Bulok, RT 01/02, Kelurahan Pondok Kacang Timur, Kecamatan Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan (Tangsel) setelah melakukan aksi sweeping tempat hiburan malam Kafe d’Mos di Pesanggrahan,Tanah Kusir, Jakarta Selatan, Minggu (29/7) dini hari. Saat ini proses penanganan ke 62 anggota MPR tersebut menjadi kewenangan Polres Jakarta Selatan untuk diperiksa lebih lanjut.Janji polisi menindak tegas ormas yang melakukan sweeping tempat hiburan malam di bulan Ramadhan ternyata dibuktikan. Penangkapan anggota ormas itu, seperti dikatakan Kapoles Kota Tangerang Kombes Bambang Priyo Andogo, berdasarkan perintah Polda Metro Jaya, untuk tidak mentolerir segala bentuk kegiatan ilegal berupa sweeping.
Menurut Kapolres, selain 62 anggota ormas, pihaknya juga menyerahkan 26 unit sepeda motor yang digunakan massa untuk beraksi. Tidak hanya sepeda motor yang diamankan, namun senjata tajam seperti parang, samurai, stik golf hingga bambu runcing diamankan Polres Kota Tangerang ini. “Ormas itu berasal dari berbagai wilayah. Ada yang Jakarta Barat, Jakarta Selatan dan lainnya,” kata Bambang.
Sementara itu Kapolres Jakarta Selatan Kombes Pol Imam Sugianto mengatakan, aparat Polres Jakarta Selatan menangkap 62 orang anggota Ormas Majelis Pembela Rasullulah yang melakukan sweeping di tempat hiburan malam d’Mos, Jalan Veteran Raya, Pesanggrahan, Jaksel. “Total yang ditangkap ada 62 orang. Terdiri dari 41 anak-anak dan 21 orang dewasa. Mereka merusak tempat hiburan di wilayah Jakarta Selatan,” katanya.
Polisi saat ini telah menetapkan 23 orang di antaranya menjadi tersangka. Kapolres menambahkan, massa yang datang dengan mengendarai sepeda motor langsung masuk ke pos keamanan dan ke dalam kafe tersebut. Mereka meminta kafe ditutup saat itu juga.
Dengan menggunakan stick golf, kata polisi, massa memecahkan dinding kaca pos keamanan. Belum puas, sekitar 20 botol berisi minuman keras berbagai merek dihancurkan oleh anggota ormas. Kepada petugas, mereka mengaku datang atas perintah Habib HR yang juga menjabat sebagai ketua majelis.
Polisi juga menyita berbagai senjata tajam dari tangan pelaku yang ditahan. “Pasal yang dilanggar 170 KUHP dengan ancaman 5 tahun penjara. Kami sita stick golf, pedang, celurit dan lain-lain,” katanya.
Catatan Polisi Soal Habib HR
Berdasarkan catatan kepolisian, pimpinan ormas MPR, Habib HR juga pernah menyerang masjid Jamaah Ahmadiyah di Kebayoran Lama. “Pimpinan majelis tersebut Habib HR pernah melakukan perusakan di masjid Jemaah Ahmadiyah di Kebayoran Lama tahun 2010,” tukas Kombes Imam Sugianto.
Habib HR juga terlibat dalam bentrokan di makam Mbah Priuk beberapa tahun lalu. Ditambahkan Imam, saat menyerang d’Mos, Habib HR dengan gagah membawa dua buah pedang. “Dia buat dari besi di daerah Pondok Aren. Alasannya untuk berjaga dari preman yang menjaga cafe tersebut,” bebernya.
Imam mengatakan, anggota MPR mayoritas usia belia, yakni dari usia belasan tahun atau kalangan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Anggotanya sendiri tersebar dari berbagai daerah di Bintaro, Jakarta Selatan, Jakarta Barat dan lainnya.
Ketika dimintai komentarnya soal aksi sweeping yang dilakukan ormas Islam di beberapa daerah, Ketua DPD Front Pembela Islam (FPI) Jakarta Habib Salim Assegaf alias Habib Selon,  sejak Polda Metro Jaya dipimpin Jenderal Timur Pradopo hingga menjadi Kapolri, FPI tidak pernah melakukan sweeping tempat hiburan malam. "Kita hanya berkoordinasi dengan kepolisian. Merekalah yang bekerja berdasarkan hasil laporan kami," ujarnya
Habin mengaku mereka tidak wajib sweeping. Mereka hanya membantu kerja Satpol PP agar kesucian bulan Ramadhan tidak ternoda. Menurutnya, sudah tiga tahun FPI tidak melakukan sweeping. Ia membantah soal sweeping minuman keras yang dilakukan di Bandung.

Menurutnya, tindakan tersebut adalah tindakan masyarakat yang dibantu FPI dan kepolisian. Tindakan tersebut dilakukan karena Bandung tidak memiliki Perda seperti yang dimiliki Jakarta. Sebelumnya, dikabarkan, FPI Kota Bandung melakukan sweeping penjual minuman keras yangberkedok toko kelontong di Jalan Gabus Nomor 9 RT 02 RW 05, Kelurahan Ciroyom, Kecamatan Andir, Kota Bandung, Kamis (19/7).  (Desastian/satelit/dbs)
loading...
Read more »
Home
loading...