Berbeda dengan makhluk-Nya, Allah mencintai orang-orang yang rajin memohon kepada-Nya. Karena hal itu menunjukkan bahwa manusia merasa fakir (butuh) kepada Allah. Dan Allah justru membenci orang-orang yang angkuh dan enggan berdoa kepada-Nya. Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda,
مَنْ لَمْ يَسْأَلِ اللهَ يَغْضَبْ عَلَيْهِ
“Barangsiapa yang tidak memohon kepada Allah, maka Allah murka kepadanya” (HR Tirmidzi dan Bukhari dalam Adabul Mufrad)
Realitanya, ada orang-orang yang merasa dirinya cukup, merasa bisa mendapatkan keinginannya tanpa pertolongan Rabbnya, lalu meninggalkan doa. Sudah barang tentu ia akan mengenyam kesulitan demi kesulitan dalam menjalani hidup, di dunia apalagi di akhirat. Allah berfirman,
“Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup,  serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. “ (QS al-Lail 8 – 10)

Tanpa Doa, Seperti Tentara tanpa Senjata

Di antara kaum muslimin, ada lagi yang meninggalkan doa karena merasa tak mampu memenuhi persyaratannya. Seperti orang  yang berkata, “Saya biasa makan dari rejeki yang tak jelas halal haramnya, sedangkan orang yang mengkonsumsi barang yang haram tidak dikabulkan do’anya, maka percuma saja kalau saya berdoa.” Laa haula wa laa quwwata illa billah. Adakah sesuatu yang bisa diandalkan seorang muslim melebihi ‘senjata’ doa? Hingga ada yang rela mencampakkan doa agar bebas makan apa saja?
Seseorang yang mengerti  urgensi doa, tentu lebih memilih untuk memenuhi syarat terkabulnya doa, katimbang ia harus bertelanjang dari doa. Karena meninggalkan hal yang haram itu lebih mudah dijalani daripada hidup tanpa menyandang senjata doa. Tanpa doa, keadaan seseorang lebih berat dari tentara yang tidak memiliki senjata, petani yang tidak memiliki cangkul, orang sakit yang tak mendapatkan obat, atau seseorang yang ingin membeli barang tanpa memiliki uang.
Hanya mengandalkan kecerdasan pikir, kekuatan fisik maupun alat canggih, jelas tidak memadai bagi manusia untuk bisa meraih tujuan bahagia yang sempurna, atau mencegah datangnya marabahaya. Alangkah kecil modal dan kekuatan, sementara begitu besar cita-cita yang diharapkan, dahsyat pula potensi bahaya yang mungkin datang di hadapan. Untuk itu, manusia membutuhkan ‘kekuatan lain’ di luar dirinya untuk merealisasikan dua tujuan itu. Dan barangsiapa yang menjadikan doa sebagai sarana, niscaya dia akan menjadi orang yang paling kuat, paling sukses dan paling beruntung. Karena doa mengundang datangnya pertolongan Allah Yang Maha Berkehendak, Mahakuasa, Mahakuat dan mampu melakukan apapun yang dikehendaki-Nya, Fa’aalul limaa yuriid. Karena itulah, Ibnul Qayyim dalam al-Jawaabul Kaafi berkata, “Doa adalah sebab yang paling kuat untuk mencegah dari perkara yang dibenci dan menghasilkan sesuatu yang dicari.”

Khasiat Doa Sepanjang Masa

Allah telah banyak mengisahkan dahsyatnya doa, yang menjadi solusi problem-problem besar dan menjadi sebab yang menyelamatkan dalam banyak peristiwa genting dari zaman ke zaman. Dan meski dengan variasi dan kadar yang berbeda, sebenarnya problem-problem yang di hadapi manusia dari zaman ke zaman memiliki karakter yang nyaris sama.
Jika di zaman ini banyak orang yang galau, atau berduka lantaran kesulitan yang menghimpitnya, maka dahulu Nabi Yunus ‘alaihissalam pernah mengalami hal yang sama dan bahkan lebih berat. Toh, kegalauan itu akhirnya sirna dengan doa beliau, “laa ilaaha illa anta subhaanaka inni kuntu minazh zhaalimin,” Karena Allah menjawab doa beliau dengan firman-Nya, “Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan.” (QS al-Anbiya’ 88)
Maka adakah orang yang sedang menyandang kesulitan hari ini mengingat dan berdoa sebagaimana doa beliau?
Jika sekarang banyak orang menderita sakit yang tak kunjung sembuh, dan tak jarang kesulitan untuk menemukan sebab dan obatnya, hal yang sama pernah menimpa Nabi Ayyuub ‘alaihissalam. Dan pada akhirnya penyakit beliau sembuh dengan doa, “Rabbi inni massaniyadh dhurru wa Anta Arhamur Raahimiin”,
Karena Allah menjawab doa beliau dengan firman-Nya, “Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya.” (QS al-Anbiya’ 84)
Jika sekarang banyak orang mengalami rasa takut akan datangnya bencana, atau khawatir dengan bahaya yang mengancam, solusi dari semua itu juga telah ditempuh oleh Nabi yang mulia, Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam, yakni dengan doa, “hasbunallahu wa ni’mal Wakiil”, maka Allah menghindarkan mereka dari bahaya, sebagaimana firman-Nya,
“Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa,” (QS Ali Imran 174)
Begitulah doa, mampu menjadi solusi saat manusia angkat tangan untuk memberi solusi. Doa juga efektif menjadi jalan keluar ketika segala cara menemui jalan buntu. Doa juga mampu mencegah bahaya, yang dosisnya tidak mampu dibendung oleh kekuatan manusia.
Semestinya doa bukan menjadi alternatif  terakhir, atau ia baru diingat setelah ikhtiyar tak menghasilkan jalan keluar. Mestinya doa tetap mengiringi sebelum, di saat dan setelah ikhtiyar ragawi dilakukan.
Faktanya, masih jamak terjadi di kalangan kaum muslimin. Mereka begitu getol dan rajin berdoa saat menghadapi situasi khusus. Saat anak mencari sekolah, ketika sedang mencari lowongan kerja, tatkala ada keluarga yang sakit, atau ketika ada tanda-tanda bencana akan terjadi. Selebihnya, tak ada doa dipanjatkan, tak tersirat dalam pikirannya bahwa Allahlah yang kuasa segalanya, untuk memberi atau menahan sesuatu yang diharapkan. Manusia tidak lepas sedikitpun dari pertolongan Allah untuk meraih kesuksesan. Sehingga ia perlu berdoa kepada Allah untuk kebaikan seluruh urusannya, bukan hanya mengandalkan kehebatan dirinya yang hakikatnya sangat lemah tanpa pertolongan Allah. Karenanya, di antara doa yang diajarkan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam adalah,
اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلاَ تَكِلْنِى إِلَى نَفْسِى طَرْفَةَ عَيْنٍ وَأَصْلِحْ لِى شَأْنِى كُلَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ
“Ya Allah, rahmat-Mu aku harap, dan janganlah Engkau serahkan (nasib) diriku kepada diriku sendiri meski hanya sekejap mata, perbaguslah untukku segala urusanku, tidak ada ilah yang haq kecuali Engkau.” (HR Abu Dawud)

Doa Harian, Menjawab Segala Kebutuhan

Adalah baik jika seseorang membiasakan doa-doa harian yang bersifat ta’abbudiyah maupun adab. Seperti doa sebelum dan sesudah makan, hendak tidur dan setelah bangun, masuk masjid atau keluar, maupun doa-doa lain yang disyariatkan. Ketika ia menjalaninya dalam rangka menjalani sunnah, ia mendapatkan pahala. Inilah fungsi doa yang disebut dengan du’a al-‘ibaadah (doa sebagai realisasi ibadah). Namun ada fungsi lain dari doa, yang disebut dengan du’a al-mas’alah (doa sebagai permohonan).  Ketika doa dilantunkan tanpa adanya kesadaran bahwa dirinya sedang memohon kepada Allah, maka maksud yang dikehendaki dari makna doa tidak akan terwujud. Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda,
ادْعُوا اللهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ

“Berdoalah kepada Allah sedangkan kamu dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai dan alpa.“ (HR Tirmidzi, al-Albani mengatakan, “hasan”).
Andaikan seorang muslim membiasakan diri dengan doa-doa harian yang disyariatkan, sekaligus diiringi dengan kesengajaan dan pengharapan sebagaimana makna yang terkandung dalam doa, niscaya tercoverlah kebutuhan-kebutuhannya, baik yang bersifat duniawi maupun ukhrawi. Karena doa-doa yang Nabi ajarkan dari bangun tidur hingga bangun tidur kembali sudah mencakup segala hal yang dibutuhkan manusia, baik kemaslahatan diiniyyah maupun dunyawiyyah. Permohonan sehat dan dijaga dari penyakit, kemudahan segala urusan, permohonan rezeki, perlindungan dari segala gangguan setan dan keburukan, maupun permohonan jannah dan terhindar dari neraka.
Generasi terbaik di kalangan sahabat, berusaha menghadirkan pengharapan saat berdoa dengan suatu doa yang menjadi rutinitas harian. Ibnu Katsier dalam tafsirnya menyebutkan riwayat dari Ibnu Abi Hatim, bahwa ‘Irak bin Malik, selepas shalat Jumat beliau berdiri di pintu masjid beliau berdoa dengan doa keluar masjid lalu berkata, “Ya Allah, saya telah memenuhi panggilan-Mu, lalu shalat dengan shalat yang Engkau fardhukan atasku, akupun hendak bertebaran di muka sebagaimana yang Engkau perintahkan, maka berilah rezki kepadaku dari karuia-Mu, karena Engkau adalah sebaik-baik Pemberi rezki.”
Perlu kiranya digarisbawahi, bahwa doa dengan segala kelebihan dan faedahnya, tidak menafikan atau menghapus keharusan untuk ikhtiyar. Masing-masing memiliki kadar tersendiri sebagai sebab terkabulnya doa, di samping juga memiliki nilai ibadah tersendiri Wallahu a’lam

ResistNews Ketua Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) DKI Jakarta Ramdansyah mengatakan pihaknya akan mengkaji terlebih dahulu terkait laporan yang dilakukan Komunitas Intelektual Muda Betawi (KIMB) terhadap Dewi Aryani. Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang juga anggota DPR RI itu menyatakan, kebakaran di Jakarta adalah peristiwa yang dikategorikan teror bencana, lantaran semua berada di kantong-kantong suara pasangan Pilkada DKI, Jokowi-Ahok.

"Siapapun yang melaporkan terkait kasus kebakaran ini, Panwaslu pasti tidak pernah menolak laporan dari masyarakat. Yang kedua tentunya kita harus memilih dan memilah apakah ini ranah pidana umum atau ranah pidana pemilukada, atau sama sekali sebuah peristiwa yang tidak ada kaitannya soal perbuatan hukum," kata Ramdansyah usai menerima laporan dari KIMB di kantornya, Jakarta Pusat, Ahad (26/8).

"Jadi dalam hal ini panwaslu tidak serta merta menyatakan tindak pidana pemilukada atau apa. Karena harus ada kajian analisis dulu. Jadi kalau ini ranahnya tindak pidana umum maka kita akan menyerahknanya ke pihak kepolisian," terang Ramdansyah.

Karena itu pihaknya akan mengkaji terlebih dahulu dan menganalisa laporan itu dengan komisioner panwaslu DKI Jakarta yang lainnya. "Nanti baru kita pilah dan kategorikan masalah ini. Setelah itu kita sampaikan ke pelapor. Apakah itu perbuatan pelanggaran Plkada atau pidana umum atau juga tidak ada pelanggaran dalam statementnya tersebut," papar Ramdansyah.

Sebelumnya diberitakan, Komunitas Intelektual Muda Betawi (KIMB) melaporkan Dewi Aryani ke Panwaslu DKI Jakarta Ahad siang terkait pernyataan Dewi [baca: Jadi Terlapor, Dewi Tanggapi Santai]. Ketua KIMB Ramdan Alamsyah menilai pernyataan yang dimuat di sejumlah media belakangan itu adalah kampanye hitam yang menyerang pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli.

"Jadi hari ini, kita melaporkan adanya dugaan yang dikategorikan sebagai black campaign yang diduga dilakukan tim sukses Jokowi-Ahok secara personal melalui statementnya dari Dewi Aryani. Beliau juga merupakan anggota DPR dari fraksi PDIP," kata Ramdan

ResistNews Wakil Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Denny Indrayana mengaku siap mengambil risiko untuk menghadapi proses hukum. Ini setelah dirinya mengaku khilaf telah menuding para pengacara atau advokat yang membela para koruptor terkait pernyataannya di jejaring sosial Twitter.

"Untuk perjuangan agar penegakan hukum tetap bersih dan adil, saya ikhlas menerima risikonya, termasuk jikalau pun harus menghadapi pelaporan polisi karena mengkritik oknum advokat yang telah menodai kesucian profesi advokat," kata Denny dalam keterangannya kepada sejumlah wartawan di Jakarta, Senin (27/8).

Kendati demikian, mantan aktivis bergelar profesor itu tetap berperang untuk membersihkan para koruptor. "Untuk advokat yang lebih bersih, untuk hukum yang lebih adil, saya akan terus berjuang hingga hayat di ujung badan," ujarnya.

Namun, Denny memohon doa dari seluruh rakyat Indonesia, terutama agar dirinya tetap kuat dan tabah menjalankan tugasnya. "Demi Indonesia kita yang lebih bersih dan antikorupsi," kilahnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, dalam akun Twitter-nya, Denny menulis advokat pembela koruptor adalah koruptor. Ini menimbulkan reaksi keras dan protes dari para advokat bahkan pakar hukum. Mereka menilai Denny tidak memahami hukum dan profesi advokat sehingga dia disarankan agar kembali belajar ilmum hukum.

Tak ayal, tweet atau kicauan Denny itu membuat geram para pengacara. Salah satunya datang dari pengacara senior O.C. Kaligis. Denny langsung dilaporkan ke Kepolisian Daerah Metro Jaya dengan tuduhan telah melakukan pencemaran nama baik dan penghinaan para advokat. Adapun nomor laporan polisi itu LP/2010/VIII/2012/PMJ/Dit.Reskrim.Um tertanggal 23 Agustus 2012.

Selain Kaligis, reaksi juga muncul dari pengacara Hotman Paris Hutapea yang mengajak advokat lain dan pegawai Kementerian Hukum dan HAM untuk menggugat Denny secara perdata maupun pidana

ResistNews  Mata uang rupiah, Senin (27/8) pagi melemah tipis terhadap dolar AS sebesar satu poin seiring pelaku pasar mengambil posisi wait and see. Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksi antarbank di Jakarta pagi ini bergerak melemah satu poin menjadi Rp 9.500 dibanding posisi sebelumnya Rp 9.499 per dolar AS.

"Pelaku pasar tengah wait and see. Rupiah cenderung mengikuti pergerakan mata uang euro yang tengah konsolidasi dengan cenderung tertekan di tengah ketidakpastian menyusul kabar yang menyebutkan pihak ECB (Bank Sentral Eropa) akan menunda rencana pembelian obligasi hingga ada persetujuan Jerman terhadap dana bantuan Eropa," kata pengamat pasar Monex Investindo Futures, Johanes Ginting.

Ia menambahkan, kekhawatiran juga datang kepada sebagian investor bahwa Yunani mungkin tidak akan mendapatkan pelonggaran dalam menjalankan komitmen dana talangannya. "Diperkirakan rupiah di kisaran antara Rp 9.490 hingga Rp 9.510 per dolar AS pada hari ini," kata dia

ResistNews . Menanggapi tragedi kekerasan di Sampang, Madura, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menggelar rapat mendadak di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (27/8). Dalam rapat yang dihadiri Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Kepala Polri, Panglima TNI, dan Kepala Badan Intelijen Negara, Presiden SBY meminta agar penegak hukum bersikap tegas dan adil.

"Saya meminta pada jajaran penegak hukum, kepolisian , jajajaran Mahkamah Agung untuk benar-benar menegakkan hukum secara tegas dan adil. Kalau tidak tegas akan memancing hal serupa di masa depan. Kalau tegas dan adil, yang kesalahannya berat hukummnya juga berat, itu akan baik di negara kita. Dengan demikian, tidak begitu saja komunitas tertentui melakukan pelanggaran hukum itu," ujarnya kepada wartawan.

Rapat mendadak tersebut ini dipimpin langsung Presiden SBY dengan agenda khusus soal tragedi Sampang, Madura. Presiden meminta penjelasan Kapolri, Kepala Badan Intelijen Negara, serta Menko Polhukam tentang kronologi kejadian hingga antisipasinya.

ResistNews Tuduhan aliran sesat kembali menyebabkan konflik horisontal yang menimbulkan korban tewas. Kali ini terjadi di Sukabumi, yang melibatkan jamaah tarekat At-Tijaniyah pimpinan Sumarna, aliran yang dianggap sesat oleh warga setempat.

Ratusan warga Kampung Cisalopa, desa Bojong Tipar, Sukabumi, Jawa Barat, membakar habis perkampungan yang dihuni pengikut ajaran Sumarna itu. Beruntung aksi anarki yang dilakukan warga ini tidak menimbulkan korban jiwa. Sebab, sebanyak 18 kepala keluarga yang terdiri dari 70 orang pengikut ajaran Tijaniyah telah terlebih dulu dievakuasi polisi dan TNI, menyusul bentrokan yang terjadi sepekan sebelumnya.

Tapi tidak ada asap tanpa ada api. Aksi kemarahan warga yang membakar perkampungan jamaah Tijaniyah disebabkan hilangnya Ustadz Endin, pemuka agama setempat. Warga menduga Ustadz Endin diculik dan dibunuh oleh pengikut Tijaniyah pimpinan Sumarna.

Ustadz Endin kemudian ditemukan di kebon singkong yang terletak sekitar 500 meter dari belakang rumah Sumarna dalam keadaan tewas. Jasad itu ditemukan malam hari usai pembakaran perkampungan At-Tijaniyah, setelah polisi mendapat informasi dari hasil interogasi para tersangka.

Penggalian lokasi tempat Ustadz Endin dikubur dilakukan oleh Polres Sukabumi dibantu oleh anggota TNI dari Batalyon Infanteri (Yonif) 310/Kidang. Saat ditemukan, korban dalam posisi telungkup dengan menggunakan celana pendek, kaos dan jaket hitam. 

Kapolres Sukabumi, AKBP Muhammad Firman, mengatakan telah menetapkan 13 tersangka terkait pembunuhan Ustadz Endin. “Salah satu yang ditahan dan menjadi tersangka adalah Sumarna, jamaah At-Tijaniyah. Tapi kemungkinan masih akan ada tersangka lain dalam kasus ini. Kami masih lakukan pendalaman,” kata Firman, Rabu 22 Agustus 2012.

Kepolisian Daerah Jawa Barat kemudian menjelaskan kronologi yang menyebabkan pembakaran perkampungan Tijaniyah. Menurut Polda Jabar, keluhan warga mengenai aliran sesat jamaah At-Tijaniyah bentukan Sumarna sudah dilaporkan ke Polres Sukabumi sejak 8 Juli 2012.

Atas informasi itu, polisi, pimpinan daerah, dan MUI sudah mengamankan pimpinan dan pengikut ajaran itu. "Setelah diamankan dilakukan pertemuan dan pengucapan dua kalimat syahadat, sebagai pertanda dengan ikhlas kembali kepada ajaran Islam," kata Kabid Humas Polda Jawa Barat, Kombes Martinus Sitompul, dalam keterangan tertulisnya.
Sumarna kemudian membuat pernyataan kontroversial, yaitu akan terjadi kiamat pada 17 Agustus 2012 pada pukul 02.00. Hal ini menyebabkan warga kembali panas dan berkumpul di sekitar rumah Sumarna, tapi polisi dan TNI kemudian mengamankan Sumarna dan adiknya, Budiman.

Pada 19 Agustus pada pukul 14.15, sekitar 1.000 orang kembali berkumpul. Warga berkerumun karena adanya kabar akan hilangnya Ustadz Endin yang sejak 14 Agustus tidak diketahui keberadaannya. "Karena tidak menemukan keberadaan Ustadz Endin di sekitar rumah Sumarna, massa melakukan perusakan dan pembakaran rumah Sumarna," ujar Martinus.

Sekitar pukul 20.00 jasad Ustadz Endin kemudian ditemukan dikubur di belakang rumah Sumarna. Mendengar informasi ini, warga semakin mengamuk dan mulai membakar rumah pengikut Sumarna.

Bukan Tijaniyah


Menanggapi peristiwa ini, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sukabumi, Zezen Zainal Abidin, mengatakan konflik yang menyebabkan tewasnya Ustadz Endin dan pembakaran perkampungan Tijaniyah sebagai tindakan murni kriminal. “Tarekat Tijaniyah tidak sesat. Konflik ini bukan pertentangan pemahaman mengenai tarekat,” ucap Zezen.

Zezen kemudian menjelaskan, MUI telah melakukan pertemuan dengan pimpinan Tarekat Tijaniyah. Dari pertemuan diketahui bahwa Sumarna pernah berlajar ajaran Tijaniyah kepada orang yang salah sehingga ajaran yang diajarkannya pada pengikutnya selama ini sesat.

Selain itu, dari pertemuan dengan para tokoh tarekat Tijaniah diketahui kalau Sumarna bukan tokoh dari tarekat tersebut. Mereka menjelaskan bahwa di Indonesia hanya ada 12 orang yang diangkat menjadi muqqodam atau pemimpin ajaran Thoriqoh Tijaniyah, dan Sumarna bukanlah salah satu dari muqqodam.

Sumarna juga diketahui pernah berusaha membangun ajarannya di Bogor lima tahun lalu. Tapi warga setempat menganggap ajaran Sumarna sesat, Sumarna pun diusir.

"Sumarna mengajarkan ajaran sesat, pada pengikutnya, seperti salat hanya empat waktu, pengikutnya tidak perlu melakukan ibadah salat subuh. Selain itu, tidak ada salat Jumat bagi pengikut Sumarna. Ini jelas salah dan keluar dari aturan agama Islam. Saya menentang ajaran Sumarana karena bukan ajaran tarekat Tijaniyah,” kata Zezen.

MUI meminta masyarakat tidak terjebak polemik ini, sehingga menganggap Tijaniyah sebagai aliran sesat. MUI khawatir bila tidak segera di berikan pencerahaan, masyarakat akan terjebak dan melakukan tindakan anarki pada jamaah tarekat Tijaniyah di tempat lain.

Dari catatan sejarah, keberadaan tarekat Tijaniyah sudah dibahas dalam Muktamar Jam’iyyah Nahdlatul Ulama ke 3 tahun 1928 di Surabaya. Ketika itu muktamar memutuskan bahwa tarekat Tijaniyah adalah muktabarah dan sah.

Keputusan ini kemudian diperkuat lagi dengan Muktamar NU ke VI tahun 1931 di Cirebon, yang intinya tetap memutuskan bahwa Tijaniyah adalah muktabarah dan sah. Jadi ditinjau dari keputusan NU maka tarekat Tijaniyah sudah ada di
Indonesia sebelum tahun 1928.

“Tarekat Tijaniyah adalah sah dan tidak sesat. Kami juga akan terus berupaya mengembalikan nama baik tarekat Tijaniyah setelah terjadinya kasus ini. Dan kepada anggota thoriqoh Tijaniyah, kami imbau tidak melakukan tindakan yang bisa menambah panjang konflik ini," ucap Zezen.

ResistNews. Awalnya, warga menghadang pengikut Syiah yang ingin kembali bersekolah Massa intoleran hari ini menyerang pemukiman warga Syiah di desa Nangkernang, Sampang, Madura. Penyerangan ini menewaskan dua orang warga Syiah dan terbakarnya sejumlah rumah milik warga Syiah.

Mabes Polri pun kemudian menjelaskan kronologi peristiwa ini. Awalnya, sebanyak 20 anak dari permukiman Syiah di desa Karang Gayam, kecamatan Omben, yang bersekolah di Jawa (Bangil, Pasuruan) pulang untuk memperingati Idul Fitri.

Tapi ketika akan kembali ke pesantren di Jawa, mereka dihadang oleh kelompok massa dengan menggunakan 30 sepeda motor. Siswa Syiah yang sudah naik ke angkutan umum pun disuruh turun, sedangkan yang mengendarai kendaraan dipaksa pulang ke rumahnya masing-masing.

"Saat di Tempat Kejadian Perkara terjadi keberingasan massa dan ada perlawanan dari kelompok Syiah," ucap Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Brigjen Pol Anang Iskandar, dalam keterangan tertulis yang diterima VIVAnews, 26 Agustus 2012.

Dalam penghadangan ini pun terjadi pertengkaran. Keadaan semakin memanas seiring semakin banyaknya massa.

Oleh: Hendra Madjid

Seorang dosen, kita sebut saja namanya Budiman membawa sebuah ember seng kosong. Selain itu dia juga membawa sekantong pasir, sekantong batu, sekantong kerikil dan beberapa botol air. Jelas Budiman sedang tidak melakukan praktek fisika, kimia atau biologi. Karena Budiman adalah sarjana social, jadi kuliah yang diberikan kepada mahasiswanya tidak pernah menyentuh pelajaran eksak sedikitpun. Beberapa mahasiswa yang telah menunggu sebelum kelas dimulai tampak penasaran.
Tanpa banyak bicara, Budiman lalu memasukkan beberapa bongkah batu ke dalam ember. Seluruh batu Nampak sesak meliputi bibir ember. Budiman lalu bertanya, “saudara-saudara, apakah ember ini telah penuh?” Koor, semua mahasiswanya menjawab “Penuh”. Sedetik berselang, dosen berkacamata tebal itu kemudian memasukkan sekantong krikil sehingga setiap ruang kosong di antara batu-batu tadi terisi oleh kerikil. Masih Nampak penuh. Budiman mengulangi pertanyaannya “anda sudah yakin ember ini telah penuh?” kini sebagian mahasiswanya mulai ragu, antara penuh dan tidak.
Sejurus kemudian budiman memasukkan sebagian pasir. Lalu bertanya lagi kepada mahasiswanya. Hampir seluruhnya menjawab “penuh” saat Budiman mengulangi pertanyaannya. Saat Budiman menyiramkan air hingga ember itu limpuar, Dosen ini baru mendapati seluruh mahasiswanya yakin bahwa ember itu telah benar-benar penuh.
Waktu adalah prioritas
Cerita di atas sebenarnya berlanjut dengan penjelasan Budiman tentang pentingnya memiliki prioritas dalam kehidupan. Mengatur hal-hal besar sebagai prioritas kehidupan kita, lalu semakin kecil berarti semakin berkurang tingkat kepentingan sebuah aktivitas dalam hidup. Ember sendiri bermakna seluruh hidup kita dan batu, kerikil, pasir dan air adalah aktivitas kegiatan dan isi hidup kita. Dan mengertilah kita, bahwa seandainya kita mengisi ember itu dengan air terlebih dahulu hingga penuh, maka kita tidak akan pernah bisa memasukkan batu, kerikil bahkan pasir. Karena ember telah dipenuhi dengan air.
Banyak sekali orang yang kebingungan, bagaimana caranya mengatur waktu. Agar hidup kita jadi lebih disiplin, lebih produktif, lebih sukses dan tertata rapi. Jawabannya singkat, aturlah prioritas dalam hidup kita.
Bahwa Al Quranpun telah menuntun kita agar hidup kita beruntung, maka kita harus meninggalkan yang remeh dan tidak berguna. Allah berfirman:
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, (TQS Al Mu’minun 1-3)
Bertanyalah kemudian penulis tentang kebiasaan tidur selama 8 (delapan) jam sehari. Apakah itu tidak terlalu banyak dan membuang-buang waktu? Bukankah 8 jam adalah sepertiga hari (sehari 24 jam). Dan jika setiap kita tidur sepertiga hari, maka dari 60 tahun rata-rata usia manusia, kita telah menggunakan setidaknya 20 tahun hidup kita hanya untuk tidur.
Hal ini tentu bukan berarti kita harus meninggalkan tidur agar seluruh hidup kita lebih produktif dan lebih sukses. Tidur tetap diperlukan setidaknya dua jam sehari. Belum lagi jika kita menghitung, berapa banyak sih waktu yang kita alokasikan untuk keluarga? Untuk beribadah? Untuk bersosialisasi dengan masyarakat? Semua tergantung kita, dan diukur dari prioritas kita dalam hidup.
Menyelaraskan prioritas dengan visi hidup
Tentu saja, seorang yang memiliki visi akan mendapatkan hidup yang lebih terarah dan lebih bermakna. Hal ini pulalah yang membuat Muhammad Al Fatih, Collumbus, Bill Gates, Mark Zurckenberg, Stephen Spillberg, Steve Jobs, Chairul Tanjung, Jacob Oetama dan sederet nama besar lainnya mendapatkan kesuksesannya. Mereka memiliki prioritas hidup yang selaras dengan visinya. Apalah jadinya, jika Bill Gates yang memiliki visi agar seluruh rumah memiliki komputer desktop tidak selaras dengan prioritas hidupnya. Boleh jadi kita tidak akan pernah mengenal namanya. Bill Gates mendedikasikan seluruh hidupnya untuk pekerjaannya dan mimpi-mimpinya.
Sama seperti Muhammad Al Fatih yang telah sedari kecil memilki visi menaklukkan Konstantinopel kemudian mewujudkannya. Motivasi dari hadits nabi tentang penaklukan Konstantinopel dan Roma terus dibacakan setiap hari oleh gurunya. Sehingga seluruh waktunya di habiskan untuk belajar tentang strategi perang, geografi, bahasa, motivasi dan penguatan spiritualitasnya kepada Allah. Dan sejarahpun mencatat pada abad ke 15 (tahun 1453), Al Fatih yang saat itu berada di usia awal 20-an mampu menjadi sebaik-baik pemimpin dengan menaklukkan Konstantinopel.
Tidak ada waktu terbuang untuk hal yang sia-sia. Dan diisi dengan aktivitas dan perkara-perkara yang membuat kita mewujudkan mimpi kita. Boleh jadi, beberapa tahun ke depan kita akan memiliki orang-orang yang tangguh dalam dunia usaha dan bidang ekonomi, faqih sebagai ulama serta pemimpin yang bekerja efektif dan berisi. Kita juga akan senang, saat memiliki janji dan ditepati. Saat memulai acara sesuai jadwal, menuntaskan pekerjaan sesuai dateline dan meraih mimpi sesuai visi.
Indonesiapun, sebenarnya bisa menjadi lebih baik. Jika para pemimpin yang mengatur negeri ini memiliki visi sekaligus prioritas dalam membangun Negara. Walau perlu dicatat, tokoh-tokoh besar yang penulis sebut di atas selain memilki visi dan prioritas dalam hidup juga menjadikan menjadikan keyakinan sebagai pondasi awalnya sebelum mewujudkan mimpinya. Lalu mengisi negaranya dengan batu-batu besar, kerikil, pasir dan terakhir dengan air.
Boleh jadi, PR-PR besar Negara kita bukanlah bagaimana memajukan sepak bola ke Piala Dunia atau mengembalikan kejayaan bulu tangkis di ajang olimpiade atau Piala Thomas. Tapi sesuatu yang lebih besar lagi. Mungkin masalah profesionalisme dan kejujuran para pejabat Negara, mungkin masalah penegakkan hokum yang tidak pandang bulu. Atau, melakukan revolusi terhadap sistem dan visi Negara ini?
Semua tergantung pada kita, bangsa Indonesia. Akan menghabiskan waktu untuk hal sepele dan menjadi Negara gagalkah? Atau mengumpulkan prioritas-prioritas utama yang sesuai visi Negara dan menjadi Negara maju? Kita bisa lihat nanti. Apakah kita mengisi Negara ini dengan seember air, atau seember batu. Wallahua’lam.


oleh: Hendra Madjid

Di Negara lain, tidak pernah ada istilah mudik atau pulang kampung menjelang hari raya idul fitri tiba. Setidaknya sebatas pengetahuan yang kami miliki, mungkin tradisi ini juga ada di Negara lain, tapi tidak serutin dan sepadat di Indonesia. Pulang ke kampung halaman, bertemu orang tua, sanak famili, teman-taman lama dan tak lupa membagikan “amplop” berisi uang sebagai bukti keberhasilannya di negeri perantauan.

Hal ini tentu tak lepas dari kondisi sosil masyarakat kita yang mengadu nasibnya ke kota besar. Karena di kampung mereka lapangan pekerjaan dan usaha lebih terbatas dibandingkan dengan kota. “Apalah menariknya, jika hanya bertani dan bertani?” Begitu kira-kira ungkapan dari urbanisator (pelaku urbanisasi) mengungkap alas an mereka “hijrah” ke kota besar. Selain ibukota provinsi, Jakarta adalah satu destinasi paling menarik perhatian urbanisator. Dengan atau tanpa kepastian pekerjaan yang didapatkan, mereka tetap berangkat untuk mencari membuka pundi-pundi rizki di negeri orang.

Selain itu, ada juga beberapa suku di Indonesia yang secara kultur “mewajibkan” para lelaki di kampungnya untuk merantau ke kota besar untuk mengembangkan dirinya. Sebut saja banyaknya warung masakan padang yang tersebar di mana-mana sebagai sebuah bukti bahwa suku Minang memiliki tradisi rantau yang sangat lekat. Dan saat lebaranlah saat yang paling tepat untuk kembali pulang “kandang”.

Berbagai masalah hadir di dalam masa mudik itu. mulai dari masalah lalu lintas, masalah percaloan, masalah harga tiket yang melonjak tajam, kerawanan kriminalitas dan lain-lain. Tapi, seolah masalah itu tidak pernah bisa menghalangi niat para pemudik untuk kembali ke kampung halamannya. “jika tidak pulang, kita tak bisa bermaafan” begitu mungkin salah satu alasan melakukan aktifitas mudik. Padahal, kecanggihan teknologi saat ini sangat memungkinkan untuk bisa bersilaturrahim dengan keluarga. Mulai dari telepon, pesan singkat, bahkan video call yang bisa membuat kita saling bertatap muka dengan orang yang kita telepon. Walau pada akhirnya, rasa haru, keakraban dan kedekatan tidak bisa dirasakan tanpa pertemuan secara langsung. Ada berkah yang mungkin hilang saat kita tidak pulang.

****

Mudik ke akhirat

“Di mana kampung sejati kita? Bukan… bukan kampung halaman tempat lahir kita…” seorang ustadz retoris bertanya sekaligus menjawab kepada jamaah tempat dia berceramah. “sesungguhnya sebelum kita lahir, kita telah berada di alam ruh, kampung akhirat. Saat kita mati, kitapun akan kembali lagi ke kampung itu. Ke kampung akhirat…” kadang saya merinding sendiri mendengar ceramah semacam ini. Tapi, jika dipikir-pikir ceramah-ceramah model ini harus sering diampaikan ke tengah-tengah umat. Karena kondisi saat ini seolah telah membuat umat lupa dengan tempat asalnya.

“jika kita pulang kampung, banyaaaak sekali barang yang kita bawa. Tak cukup hanya pakaian dan oleh-oleh, tabungan yang dikumpulkan selama setahunpun ikut dibawa serta. Untuk kemudian dibagi-bagi kepada sanak saudara di kampung halaman. Menjadi bukti, bahwa kita telah berhasil di negeri perantauan… lalu, bekal seperti apa yang kita bawa ke kampung akhirat nanti?” si ustadz kali ini nada bicaranya mulai meninggi. Dan houding serta mimik mukanya seolah sangat menekankan kalimat ini. “kita tidak membawa oleh-oleh, tidak membawa pakaian, tidak pula membawa kendaraan, apalagi deposito kita di bank…. Tidak! Sekali lagi tidak! Justru yang kita bawa hanyalah amal perbuatan kita selama berada di dunia, tempat kita merantau. Jika amalan kita baik, maka bahagialah kita saat mudik. Jika ternyata amalan kita jelek, maka pantaslah jika di dalam kubur kita terhimpit. Saudaraku, bukanlah terlarang kita mengejar dunia… tetapi, jadilahlah ia sebagai cara untuk kita beramal sebaik dan sebanyaknya untuk mendapatkan mudik yang berkah…”

Deposito akhirat

Kalau dalam hadits yang sering juga kita dengar, bahwa ada amalan tertentu yang pahalanya akan tetap mengalir meski hayat tak lagi di kandung badan. Dia adalah ilmu yang manfaat, shadaqah jariyah dan do’a anak-anak yang shalih. Menurut saya, rata-rata usia manusia tak lebih dari 70 tahun di dunia ini. Maka dengan usia sesingkat itu, mengupakan amal yang terus mengalir melebihi usia kita adalah salah satu cara menutupi kekurangan bekal kita di kampung akhirat. Saya menyebutnya amal kontinyu. Semacam deposito akhirat yang terus bisa kita manfaatkan meskipun kita tidak “nabung” lagi.

Teman saya Abay Abu Hamzah, yang juga seorang ustadz, sering sekali berujar. “sebagian besar manusia itu mati hanya meninggalkan tiga baris sejarah hidupnya. Namanya, fulan bin fulan; tanggal lahirnya dan tanggal matinya. Selain itu, tidak ada. Tapi, bagi orang-orang yang serius mencatat sejarah dirinya di dunia ini haruslah beramal memberi manfaat dan melakukan perubahan terhadap sekitarnya. Jika tidak, sejarah kita hanya akan berakhir pada tiga baris tadi”. Saya sepakat dengan beliau. Karena kita harus sadar, bahwa sebagian besar kita saat ini hanya berupaya untuk memenuhi kebutuhan pribadi saya. Tanpa mementingkan amal social yang ternyata memiliki dimensi lebih kuat dan berlaku lebih tua dari usia kita. Dan amal kontinyu yang saya ungkap di atas berkaitan erat dengan ini.

Sebagai contoh, ilmu yang bermanfaat itu adalah ilmu yang tidak terbatas pada diri sendiri saja. Melainkan ilmu itu dibagi melalui diskusi, ceramah, tulisan di Koran, buku, blog, status, tweet dan lain-lain. Sepanjang orang merasakan, mengamalkan lalu menyampaikan ilmu itu kepada orang lain, pahalanya akan terus mengalir tiada henti. Saya bisa bayangkan betapa berlimpahnya pahala para da’I, ulama dan penulis di masa lalu.

Lalu shadaqah Jariyah, ini juga amal social. Meski motivasi utamanya adalah untuk amal kontinyu kita di akhirat, tapi dimensinya masih berada pada dimensi social. Berapa banyak orang yang terbantu dengan adanya jembatan yang kita buat dan biayai pembuatannya. Atau berapa banyak orang yang nyaman beribadah di masjid yang ada peran kita dalam mendirikannya. Termasuk dengan banyaknya santri yang memahami agama di pesantren atau madrasah yang kita bangun. Karena dimensinya sangat luas, tentu mereka yang melakukan shadaqah jariyah mendulang berlimpah pahala.

Sama dengan investasi amal kita berupa anak-anak yang shalih. Pelajaran dan pendidikan kita saat mereka dalam bimbingan kita, membuat mereka mau mendoakan kita setiap dia shalat. Dan kabar baiknya, doa itu diijabah oleh Allah. Intinya sih, tiga amal kontinyu ini adalah deposito yang sangat-sangat menjanjikan. Tinggal dipilih dan di pikirkan amal mana yang kira-kira bisa kita kerjakan. Semua bisa kita kerjakan secara bersamaan. Di akhirat kita mendapatkan hasilnya berupa pahala, di dunia sejarah akan mencatat kita sebagai manusia yang memberi manfaat kepada lingkungan sekitar kita.

Saatnya mudik…

“jika mudik ke kampung akhirat, harus mati dulu dong?”. Iya bos, benar sekali. Kematian adalah gerbang tol menuju kampung kita. Jika tidak mati, kita tidak bisa pulang. Tapi, sebagian besar orang banyak pula yang takut menghadapi kematian. Kenapa mesti takut? Toh kita semua pastiakan mati. Setuju atau tidak setuju, kita tetap mati. Ya khan?. Kalaulah kita harus hidup selamanya, gak enak juga. Bayangin, kalau semua orang mati tapi kita masih hidup. Ya tidak seru, tidak asik dan sepi. Justru, kematian itu sebenarnyai fitrah untuk semua manusia. Dan kematian harus dihadapi dengan optimisme yang besar. Tentu kita tidak boleh melupakan amal ibadah kita di dunia. Agar nanti di akhirat kita tidak pulang dengan tangan kosong.

Pembahasan ini memang sudah terlalu telat jika dibandingkan dengan masa mudik yang telah habis. Tapi, jika mengaitkannya dengan mudik sejati kita ke kampung akhirat, tema ini tidak pernah habis. Karena semua kita pasti mudik. Kita memang tidak boleh merasa aman dengan amal ibadah kita. Walau begitu, rasa optimis untuk mendapatkan kebaikan di akhirat nanti tidak boleh luntur. Maka kita harus siap dong untuk mudik ke kampung akhirat…

SEMPAT diberhentikan sementara dari keanggotaan OKI, Iran membela habis-habisan Assad. Berlangsungnya KTT Mekkah dan menjadi salah satu agenda puncak, posisi Suriah memang kian terjepit. Suriah dengan basis Syiah yang dipimpin Assad, kini tengah mendapat pertolongan Iran—negara sesama Syi’ah itu. Meski kekejaman pemerintahan Syi’ah di Suriah sudah sedemikian nyata, karena kedekatan kedua negara yang dilandasi faktor Syiah, tentu Iran tidak tinggal diam .
Kepala Intelejen Iran mengatakan pada Presiden Bashar al-Assad bahwa Suriah adalah bagian dari aliansi regional penting dan Teheran tidak akan membiarkannya hancur.
Ayham Kamel dari Eurasia Group percaya bahwa Iran khawatir al-Assad segera tenggelam. “Iran mungkin memiliki informasi yang sangat baik tentang posisi Assad. Informasi itu memperjelas posisi Iran yang khawatir akan kehilangan sekutu di kawasan itu, yang akan mengurangi jangkauan strategisnya,” katanya.
Bukan rahasia lagi, oposisi Suriah kebanyakan adalah kaum Sunni. Belakangan, Qatar dan Arab Saudi, yang notabene juga Sunni, menyatakan dukungannya terhadap kubu oposisi. Dan Assad mengecam karena tidak terima negara-negara asing tertentu mendukung kubu oposisi di Suriah dengan mempersenjatai para pemberontak.
Iran jelas adalah sekutu terakhir Assad. Para pejabat intelijen Barat percaya bahwa Republik Islam Iran memberikan bantuan teknis seperti intelijen, komunikasi, dan rekomendasi untuk pengendalian massa serta  senjata.
Sebuah panel PBB melaporkan pada Mei bahwa senjata Iran yang ditujukan untuk Suriah disita di Turki termasuk senapan serbu, bahan peledak, detonator, senapan mesin, dan mortir.
Menteri Luar Negeri Iran beberapa hari lalu, mengakui bahwa ke-48 warga Iran yang diculik akhir pekan lalu oleh Pasukan Pembebasan Suriah di dekat Damaskus adalah para mantan personel militernya.
“Beberapa individu adalah pensiunan Garda Revolusi dan tentara dikirim ke Suriah untuk melakukan ziarah,” kata Menteri Luar Negeri Ali Akbar Salehi. Pernyataan ini  dimanfaatkan oleh kubu oposisi sebagai konfirmasi bahwa Iran secara langsung membantu rezim al-Assad.
Menurut analisa CNN, Suriah juga penting bagi Iran karena merupakan saluran utama ke Hizbullah, milisi Syiah di Lebanon.  Pada tahun 2009, diplomat tertinggi Amerika  di Damaskus mengungkapkan bahwa Suriah telah mulai mengirimkan rudal balistik kepada Hizbullah, menurut dokumen rahasia yang bocor dan diterbitkan oleh WikiLeaks. [nr/islampos/cnn/blog.resistnews.web.id]

Terlahir dari sebuah keluarga sederhana, saat ini Recep Tayyip Erdogan adalah salah satu Perdana Menteri Turki yang paling sukses. Erdogan lahir pada tanggal 26 Februari 1954 di Rize, sebuah kota kecil di pantai Laut Hitam Turki. Anak dari lima bersaudara ini dulunya hanya hidup dari pendapatan sang ayah yang merupakan seorang penjaga pantai di Angkatan laut, di samping sebagai politisi Muslim.
Ketika Erdogan berusia 13 tahun, ia dan keluarganya pindah ke Istanbul demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Erdogan kemudian masuk ke sebuah sekolah Islam. Lulus dari sana, ia melanjutkan studinya tentang manajemen bisnis di Istanbul Marmara University. Ketika masih aktif menjadi mahasiswa, ia bergabung dengan gerakan politik yang berkembang di Negara Islam tersebut.
Bekal ketika menjadi aktivis kemahasiswaan itulah yang kemudian membantu perjalanan karirnya. Pada tahun 1994, ia mulai aktif dalam dunia politik dengan mengikuti pemilihan Walikota Istanbul, kota terbesar di Turki. Berkat kemampuannya dalam berpidato dan strategi-strategi kampanyenya, ia berhasil menduduki kursi Walikota Istanbul dengan dukungan sebagian besar warga ibukota Turki tersebut.
Pada bulan Januari 1998, pengadilan tertinggi Turki menutup partai yang ia pimpin dan melarang anggotanya untuk melakukan kegiatan politik. Ia kemudian ditahan karena dianggap berusaha untuk melemahkan dasar-dasar sekularisme negara tersebut.
Ia menjabat Perdana Menteri Turki sejak 14 Maret 2003. Ia juga seorang pimpinan Adalet ve Kalkınma Partisi (AKP, atau Partai Keadilan dan Pembangunan). Pada tahun 2010, Erdogan terpilih sebagai Muslim paling berpengaruh di dunia.
Erdogan & Istri, Emine Gulbaran
Erdogan terpilih Sebagai Walikota Istanbul dalam pemilu lokal pada 27 Maret 1994. Dia dipenjara pada 12 Desember 1997 karena puisinya yang bermasalah.Ia menentang paham sekular di negaranya. Ia ingin mengembalikan Islam sebagai satu-satunya sistem dalam seluruh aspek kehidupan.
Setelah empat bulan di penjara, Erdogan mendirikan Partai Keadilan dan Pembangunan (Partai AK) pada tanggal 14 Agustus 2001. Dari tahun pertama, Partai AK menjadi gerakan politik terbesar yang didukung publik di Turki. Pada pemilihan umum tahun 2002, Partai AK memenangkan dua pertiga kursi di parlemen, membentuk pemerintahan partai tunggal setelah 11 tahun. Namun, karena masih dalam masa hukuman, Erdogan tidak bisa menjadi perdana menteri saat itu; sehingga Abdullah Gul, kemudian diangkat menjadi perdana menteri.
Pada bulan Desember 2002, Dewan Pemilihan Agung membatalkan hasil pemilihan umum 2001 karena disinyalir terjadi ketidakberesan pemilihan.Pemilihan baru dijadwalkan pada 9 Februari 2003. Di pemilu ulangan inilah ia kemudian kembali unggul. Erdogan pun diangkat menjadi perdana menteri.Walau berada di tengah masyarakat dan negara Turki yang sekuler, Erdogan dan partainya tetap ingin memperjuangkan nilai-nilai Islam yang redup di negara yang pernah berdiri Kekhalifahan Islam terakhir ini.
Pada tanggal 4 Juli 1978, Erdogan menikah dengan seorang Muslimah bernama Ermine Gulbaran. Sang istri lahir pada tahun 1955 di Siirt. Dari pernikahan ini, Erdogan menjadi seorang ayah dari empat anak: Ahmad Burak, Necmettin (Najmuddin) Bilal, Sumayyah, dan Isra.
Setelah tamat di sekolah dasar dan menengah Islam, Erdogan melanjutkan kuliah di Universitas Marmara, fakultas ekonomi dan bisnis. Selain mengikuti pendidikan, pada usia 16 tahun, Erdogan muda ikut tergabung dalam tim sepak bola semi profesional. Selain itu, ia juga bekerja di perusahaan angkutan kota Istanbul.
Pada tahun 1980, Erdogan meninggalkan sepak bola dan bekerja di sektor swasta. Dua tahun kemudian, Erdogan terkena wajib militer dan sempat menjadi perwira dengan tugas khusus.
Ada peristiwa miris di tahun 1980. Saat itu, terjadi kudeta militer di Turki yang akhirnya mengeluarkan kebijakan pelarangan semua partai politik. Tiga tahun kemudian, akhirnya kebijakan tersebut mengalami pemulihan dengan membolehkan kembali partai-partai politik.
Erdogan juga Peringatkan Myanmar agar Berhenti Merendahkan Umat Islam
Sebelum pelarangan partai, Erdogan sudah bergabung dengan Partai Keselamatan Nasional yang Islamis pimpinan Najmuddin Erbakan yang dibubarkan militer. Ketika partai sudah diperbolehkan lagi di Turki, para mantan pengurus partai pimpinan Erbakan mendirikan partai baru yang bernama partai Refah atau Partai Kesejahteraan. Dua tahun kemudian, atau tahun 1985, Erdogan menjadi ketua partai tersebut untuk Provinsi Istanbul.
Pada pemilu 1991, Partai Kesejahteraan melampaui ambang 10 persen yang menjadi syarat memperoleh kursi di Dewan Nasional Agung. Dan saat itu, Erdogan terpilih menjadi anggota dewan mewakili provinsi Istanbul. Sayangnya, Komisi Pemilihan Pusat mencabut posisi Erdogan karena dianggap telah menyalahi sistem pemilu yang berlaku.
Tiga tahun kemudian, pada pemilu lokal yang diselenggarakan pada 27 Maret 1994, Partai Kesejahteraan memperoleh suara terbanyak untuk pertama kalinya di wilayah Istanbul. Dari kemenangan itu, Erdogan resmi menjadi wali kota Istanbul Raya serta Presiden dari Dewan Metropolitan Istanbul Raya.
Kepiawaian Erdogan dalam memimpin Istanbul menjadi bukti bahwa ia memang sanggup dan layak menjadi pemimpin umat. Ia berhasil membangun prasarana dan jalur-jalur transportasi Istanbul, pengadaan air bersih, penertiban bangunan, mengurangi kadar polusi dengan penanaman ribuan pohon di jalan-jalan kota.
Dalam aspek moral, Erdogan pun tidak mau tinggal diam. Erdogan melarang segala praktik prostitusi dengan memberikan pekerjaan lebih terhormat kepada para wanita muda. Ia juga melarang menyuguhkan minuman keras di tempat yang berada di bawah kontrol walikota.
Istri Erdogan, Emine Gulbaran, tak kuasa menahan isak tangisnya saat menemui dan memberi bantuan pengungsi Muslim Rohingya di Arakan, Myanmar
Selain soal pelacuran dan minuman keras, kasus korupsi juga tidak luput dari pembenahan. Sebelumnya, anggaran belanja Istanbul selalu minus. Dengan pembenahan yang dilakukan Erdogan, anggaran belanja menjadi plus, suatu hal yang belum pernah terjadi di pemerintahan daerah Istanbul. Ini semakin meningkatkan citra partai Rafah (kesejahteraan) di mata masyarakat.
Keistiqamahan Erdogan membuat para sekuleris di Turki gelisah. Dan saat itu, Erdogan memang menyatakan perjuangan demi Islamnya secara terang-terangan. Padahal, Turki memang masih menganut ideologi sekuler seperti Indonesia sampai sekarang.
Pernyataan Erdogan yang mengejutkan kaum sekuleris adalah, “Menjadi sekuleris dan Muslim secara beriringan adalah berbahaya.” Kontan saja, para kaum sekuler memberikan peringatan kepada lembaga tinggi negara tentang ancaman yang bisa merongrong wibawa ideologi sekuler di Turki. “Kita harus melawan Erdogan. Karena ini ancaman serius untuk ideologi kita yang sudah dibangun oleh pendiri negara ini!”
Tahun 1998, Erdogan akhirnya dipenjara. Pengadilan memutuskan penjara 9 bulan untuk Erdogan. Ia dianggap mengkhianati asas Sekularisme negara. Dalam waktu yang sama, justru Erdogan mendapat simpati dari rakyat banyak karena karakternya yang berani menegakkan kebenaran. Selama ini, masyarakat Turki memang sudah muak dengan moto ideologi sekuler yang hanya berisi kebobrokan para rezim di Turki yang korup.
Dalam suatu jajak pendapat, Erdogan justru terpilih sebagai walikota terfavorit dari 200 walikota di Turki. Erdogan tidak kehilangan semangat dengan penangkapannya ini. Ia justru menggubah sebuah puisi karangan Ziya Gokalp, yang menambah semangat para pendukungnya, yang sebagian besar adalah umat Islam yang merupakan mayoritas di Turki.
Berikut puisinya (terjemahan bebas), Bahasa Turki:
Minareler süngü, kubbeler miğfer Camiler kışlamız, mü’minler asker Bu iláhi ordu dinimi bekler Allahu Ekber, Allahu Ekber.
Erdogan & istri
Bahasa Indonesia:
Masjid adalah barak kami, Kubah adalah helm kami, Menara adalah bayonet kami, Orang-orang beriman adalah tentara kami. Tentara ini menjaga ad-Din kami. Perjalanan suci kami adalah takdir kami. Akhir tujuan perjalanan kami adalah syahid (di jalan-Nya). Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Setelah Partai Rafah dibubarkan oleh dewan nasional karena dianggap bertentangan dengan ideologi negara sekuler Turki, pada Agustus 2001, Erdogan mendeklarasikan partai baru yang bernama Partai Keadilan Pembangunan (AKP: Adalet ve Kalkinma Partisi, yang artinya putih, bersih, dan murni). Meski tidak secara tegas mencantumkan asas Islam karena hal itu memang dilarang, orang-orang AKP sudah dikenal masyarakat Turki sebagai penerus perjuangan Erbakan.
Meski baru berusia 12 bulan, pada pemilu 3 November 2002, AKP secara fantastis meraih 34,1 persen suara. Perolehan ini menjadikan AKP sebagai partai pemenang pemilu mengalahkan partai-partai nasionalis dan sekuler.
Karena masih berstatus terpidana, Erdogan tidak boleh menjabat sebagai perdana menteri. Dan jabatan itu dipegang oleh wakil ketua AKP, Abdullah Gul. Beberapa bulan kemudian, pada tanggal 12 Maret 2003, setelah kasus tuduhan terhadap Erdogan dianggap selesai dan disetujui parlemen, Erdogan pun akhirnya menjadi perdana menteri menggantikan Abdullah Gul.
Salah satu kebijakan Erdogan yang dianggap mengkhianati ideologi sekuler Turki adalah pencabutan larangan memakai jilbab. Padahal, sejak pendirian negara Turki sekuler oleh Mustafa Kemal Ataturk, jilbab sudah tidak lagi diperbolehkan berada dalam dinamika pemerintahan dan masyarakat Turki.
Erdogan & istri saat berkunjung ke Somalia memberikan bantuan
Karena pelarangan jilbab itulah, Erdogan terpaksa menyekolahkan anak-anak gadisnya ke Amerika dan Eropa yang memang membolehkan siswi berjilbab. Hal ini karena demi menjaga jilbab agar tidak lepas dari busana anak-anak wanitanya.
Fenomena inilah yang diperjuangkan Erdogan di Turki. Menurutnya kepada publik Turki, bagaimana mungkin Eropa dan Amerika yang jauh lebih sekuler dari Turki masih membolehkan siswi untuk mengenakan jilbab. Sementara Turki malah melarang. Erdogan pun akhirnya mengangkat logika ini untuk menyerang para anti Islam yang berlindung di balik topeng ideologi sekuler.
Akhirnya, pada pemilu 2007, partai yang dipimpin Erdogan mendapatkan suara yang sangat luar biasa, 46, 7 persen. Suatu perolehan yang belum pernah terjadi di pemilu Turki secara demokratis. Angka ini menjadikan AKP memperoleh 340 kursi dari 550 kursi parlemen.
Dalam kemenangan itulah, Erdogan dan partainya mengajukan proposal RUU Paket Demokrasi. Yang di antaranya, undang-undang yang membolehkan jilbab di sekolah, kampus, dan kantor-kantor pemerintah.
Keberpihakannya pada perjuangan umat Islam di Palestina, membuatnya secara aktif mengunjungi berbagai negara untuk melakukan lobi demi mendukung perjuangan Palestina. Dalam diskusi internasional ‘World Economic Forum’ di Davos, Swiss, yang dihadiri Presiden Israel Shimon Peres, Sekjen PBB Ban Ki-Moon, dan Amir Moussa, Erdogan yang duduk di samping Presiden Israel Shimon Peres menyatakan, “Israel adalah negara yang lebih daripada sekadar biadab.” Ia menatap tajam mata Presiden Israel Shimon Peres yang seolah cuek saja dengan Erdogan. Setelah itu, Erdogan pun meninggalkan forum.
Walau masih tidak terang-terangan menyatakan menegakkan syariat Islam di Turki, Erdogan dan partainya sudah berhasil meyakinkan masyarakat Turki yang sudah sekian puluh tahun terkungkung dalam topeng sukuler Turki kepada pembangunan nilai-nilai Islam yang universal.
(dari berbagai sumber)

yang JK maksud adalah dari segi jumlah korban dan kerusakan, bukan peristiwanya.
blog.resistnews.web.id - Jusuf Kalla (JK) mengatakan, krisis yang terjadi di Arakan, Myanmar baru sepuluh persen dibanding konflik di Ambon awal tahun 2000-an lalu.

"Ini hanya 10 persen dibanding Ambon," katanya pada acara rapat rencana aksi untuk Rohingya bersama LSM-LSM di kantor PMI Pusat Jakarta (14/08/2012) kemarin.

Tapi yang JK maksud adalah dari segi jumlah korban dan kerusakan, bukan peristiwanya. Dia membandingkan, di Ambon korban jiwa 5000 orang di Arakan 80, di Ambon rumah yang hancur 30 ribu di Arakan 4000, di Ambon konflik berlangsung 2 tahun, di Arakan 2 hari.

Pada 11 Agustus lalu, JK telah melakukan kunjungan ke Arakan bersama utusan dari Qatar dan Organisasi Konferensi Islam (OKI). Dia mengaku telah meninjau ke pengungsian Muslim Rohingya dan pihak Rakhine Buddha.

Dia juga bertemu Presiden Myanmar, U Thein Sein. JK mengatakan, Presiden Myanmar optimis keadaan bisa pulih.

Dia juga mengatakan,PMI beserta OKI baru bisa ke Myanmar selepas hari raya Idul Fitri nanti. PMI juga akan melibatkan LSM-LSM dari Indonesia yang ingin menyalurkan bantuan ke sana.(hidayatullah/blog.resistnews.web.id)

oleh: Akbar Muzakki
MINGGU ini, tepat di bulan suci Ramadhan, bangsa Indonesia memperingat 67 tahun kemerdekaan. Di usia yang seharusnya mulai matang, perjalanan kelahiran bangsa ini masih tetap diliputi dengan ironi-ironi, khususnya menyangkut sejarah kemerdekaan.  Terlebih menyangkut  nilai-nilai perjuangan Islam dalam bernegara di Indonesia. Betapa tidak, the founding fathers bangsa ini telah mengkonsep persiapan kemerdekaan, dasar Negara, lambang Negara, dan Undang-undang dasar negera dengan detail dan cermat. Namun ujungnya, banyak hal yang akhirnya "dicurangi".

Hal ini dimulai dari keputusan untuk membentuk Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang bertugas :

Sidang-Sidang BPUPKI

1.  Sidang Pertama BPUPKI

Sidang ini dilaksanakan pada 29 Mei – 1 Juni 1945. Dalam sidang kala itu, dibahas rumusan Undang-Undang Dasar dan dasar negara.

Pada tanggal 29 Mei, Moh. Yamin mengemukakan pidatonya tentang Asas Dasar negara Indonesia. Lalu, 31 Mei, Prof. Dr. Mr. Supomo juga mengemukakan dasar negara indonesia menurut opininya.

Pada hari terakhir, 1 Juni, Ir. Soekarno menyampaikan dasar negara Indonesia merdeka. Beliau juga mengusulkan nama dari dasar negara Indonesia, yaitu Pancasila.

Setelah itu pun, dibawah pengawasan BPUPKI, dibentuklah panitia sembilan. Sesuai namanya, terdiri dari sembilan orang yang diketuai Ir.Soekarno.

Pada akhirnya, Panitia sembilan dapat merumuskan maksud dan tujuan pembentukkan negara Indonesia merdeka. Rumusna itu pun ditandatangani oleh Mr. Muh. Yamin yang lalu diberi nama Jakarta Charter atau Piagam Jakarta.

Rumusan dasar negara Indonesia Merdeka berdasarkan Piagam Jakarta sebagai berikut:

a.   Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya.

b.   (menurut) dasar kemanusian yang adil dan beradab.

c.   Persatuan Indonesia.

d.   (dan) kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.

e.   (serta dengan mewujudkan suatu) keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

2.   Sidang kedua BPUPKI

Sidang yang berlangsung pada 10-17 Juli 1945 ini fokus pada undang-Undang Dasar negara Indonesia. Lalu, dibentuklah Panitia Perancang Undang-Undang Dasar Negara Indonesia yang diketui Ir.Soekarno.

Pada sidang tanggal 11 Juli 1945, Panitia Perancang Undang-Undang Dasar dengan suara bulat menyetujui prembule yang diambil dari Piagam Jakarta.

Lalu, dibentuklah panitia kecil perancang Undang-Undang Dasar diketuai oleh Prof.Dr. Mr. Supomo. Serta Panitia penghalus bahasa yang terdiri dari Supomo, Husein Djajadiningrat dan H. Agus Salim.

14 Juli 1945, BPUPKI menerima laporan dari Pantia Perancang Undang-Undang Dasar.

Ada juga beberapa kalimat yang diganti yaitu :

a.   Pada aline ke-4, perkataan “Hukum Dasar”, diganti “Undang-Undang Dasar”.

b.   ... berdasarkan kepada ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syareat Islam bagi pemeluk-pemuluknya menurut dasar kemanusian yang adil dan beradab. Diganti menjadi “berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusian yang adil dan beradab.

c.   Diantara “Permusyawarata perwakilan” dalam Undang-Undang Dasar di tambah garis miring ( / )

Lalu pada tanggal 7 Agustus 1945, BPUPKI di bubarkan dan dibentuklah PPKI sebagai Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia.

Pada kesempatan lain BPUPKI juga menggagas rencana dasar Negara karena dianggap sebuah pilar terbentuknya sebuah bangsa dan Negara. Maka pada pada 29 Mei – 1 Juni 1945 rencana dasar negara itu dibicarakan dan dikemudian hari bangsa ini menyebut dengan lahirnya Pancasila.

Adapun lima azas yang disebut Pancasila dan diusulkan Soekarno pada 1 Juni 1945 antara lain :
(1) Kebangsaan Indonesia
(2) Internasionalisme dan Peri Kemanusiaan
(3) Mufakat atau Demokrasi
(4) Kesejahteraan Sosial
(5) Ketuhanan Yang Maha Esa

Tiga hari sebelumnya pidato Soekarno, tepatnya 29 Mei 1945, Muhammad Yamin sudah terlebih dahulu menyampaikan pidatonya yang juga mengandung usulan lima azas bagi Indonesia Merdeka, yaitu :
(1) Peri Kebangsaan
(2) Peri Ketuhanan
(3) Kesejahteraan Rakyat
(4) Peri Kemanusiaan
(5) Peri Kerakyatan

Pancasila dan Kemerdekaan
Menurut Dr Adian Husaini, dalam bukunya, "Pancasila, Bukan untuk Menindas Hak Konstitusional Umat Islam" tidak ada perbedaan fundamental antara lima asas Yamin dengan lima dasar Soekarno. Menurut Mohammad Roem, panjang naskah pidatonya pun sama, yaitu 20 halaman. Karena itulah BJ. Boland dalam bukunya, The Struggle of Islam in Modern Indonesia (The Hague: Martinus Nijhoff, 1971), menyimpulkan bahwa “The Pancasila was in fact a creation of Yamin’s and not Soekarno’s.” (Pancasila faktanya adalah karya Yamin dan bukan karya Soekarno). Menurut Adian, sebagian lain menyebut, bahwa yang tepat kelahiran Pancasila adalah 22 Juni. Sebab pada 22 Juni 1945, untuk pertamakalinya dikeluarkan rumusan Pancasila hasil kompromi antara 4 orang dari kaum kebangsaan (nasionalis) dan 4 orang dari pihak Islam. Rumusannya dikenal dengan Piagam Jakarta (Jakarta Charter) yang berisikan:

(1). Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya
(2). Kemanusiaan yang adil dan beradab, (3). Persatuan Indonesia
(4) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan
(5). Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Tetapi ada pula yang menyebutkan, bahwa 18 Agustus lebih tepat menjadi penanda peringatan kelahiran Pancasila. Sebab pada 18 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) menyepakati rumusan Pancasila yang seperti sekarang ini. Jadi, penggunaan 1 Juni sebagai peringatan kelahiran Pancasila dengan hanya mendasarkan pada Bung Karno, masih perlu penelaahan sejarah yang lebih serius.
Bukti-bukti sejarah justru menunjukkan bahwa rumusan Pancasila resmi seperti rumusan saat ini lahir pada 18 Agustus 1945. Oleh sebab itu, lebih tepat jika hari lahir Pancasila disebut tanggal 18 Agustus 1945. Tapi ingat bahwa Badan Konstituante yang bersidang membicarakan dasar Negara itu dalam keputusan Dekrit Presiden  pada 5 Juli 1959 pada pukul 17.00 di Istana Merdeka dalam konsiderannya berbunyi :
Pembentukan MPRS dan DPAS dalam waktu yang sesingkat-singkatnya
Pemberlakuan kembali UUD 1945 yang sesuai dengan mukadimah UUD dan tidak   berlakunya UUDS 1950
Pembubaran Konstituante
Beranjak seiring dengan waktu, Jepang telah jatuh karena dibombardir sekutu pada 14 Agustus 1945. Rakyat Indonesia sadar bahwa ini sebuah momentum untuk segera bertindak untuk menyatakan kemerdekaan.

Pada tanggal 14 Agustus 1945 Jepang menyerah kepada Sekutu. Tentara dan Angkatan Laut Jepang masih berkuasa di Indonesia karena Jepang telah berjanji akan mengembalikan kekuasaan di Indonesia ke tangan Sekutu. Sutan Sjahrir, Wikana, Darwis, dan Chaerul Saleh mendengar kabar ini melalui radio BBC. Setelah mendengar desas-desus Jepang bakal bertekuk lutut, golongan muda mendesak golongan tua untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Namun golongan tua tidak ingin terburu-buru. Mereka tidak menginginkan terjadinya pertumpahan darah pada saat proklamasi. Konsultasi pun dilakukan dalam bentuk rapat PPKI. Golongan muda tidak menyetujui rapat itu, mengingat PPKI adalah sebuah badan yang dibentuk oleh Jepang. Mereka menginginkan kemerdekaan atas usaha bangsa kita sendiri, bukan pemberian Jepang.

Soekarno dan Hatta mendatangi penguasa militer Jepang (Gunsei) untuk memperoleh konfirmasi di kantornya di Koningsplein (Medan Merdeka). Tapi kantor tersebut kosong.

Soekarno dan Hatta bersama Soebardjo kemudian ke kantor Bukanfu, Laksamana Muda Maeda, di Jalan Medan Merdeka Utara (Rumah Maeda di Jl Imam Bonjol 1). Maeda menyambut kedatangan mereka dengan ucapan selamat atas keberhasilan mereka di Dalat. Sambil menjawab ia belum menerima konfirmasi serta masih menunggu instruksi dari Tokyo. Sepulang dari Maeda, Soekarno dan Hatta segera mempersiapkan pertemuan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada pukul 10 pagi 16 Agustus keesokan harinya di kantor Jalan Pejambon No 2 guna membicarakan segala sesuatu yang berhubungan dengan persiapan Proklamasi Kemerdekaan.
Perundingan antara golongan muda dan golongan tua dalam penyusunan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia berlangsung pukul 02.00 - 04.00 dini hari. Teks proklamasi ditulis di ruang makan di laksamana Tadashi Maeda Jln Imam Bonjol No 1. Para penyusun teks proklamasi itu adalah Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan Mr. Ahmad Soebarjo. Konsep teks proklamasi ditulis oleh Ir. Soekarno sendiri. Di ruang depan, hadir B.M Diah Sayuti Melik, Sukarni dan Soediro. Sukarni mengusulkan agar yang menandatangani teks proklamasi itu adalah Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta atas nama bangsa Indonesia. Teks Proklamasi Indonesia itu diketik oleh Sayuti Melik. Pagi harinya, 17 Agustus 1945, di kediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56 telah hadir antara lain Soewirjo, Wilopo, Gafar Pringgodigdo, Tabrani dan Trimurti. Acara dimulai pada pukul 10:00 dengan pembacaan proklamasi oleh Soekarno dan disambung pidato singkat tanpa teks. Kemudian bendera Merah Putih, yang telah dijahit oleh Ibu Fatmawati, dikibarkan.

Teks Proklamasi  yang berbunyi… Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia. Hal2 jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempoh jang sesingkat-singkatnja.
Djakarta, 17-8-05

Wakil-wakil bangsa Indonesia.
Soekarno/Hatta

Teks ini sesungguhnya dipaksakan oleh para  perumusnya yang ditunggui Tadashi Maeda. Padahal  sesunggungnya teks kemerdekaan telah disiapkan dengan sungguh-sungguh oleh BPUPKI sebagaimana yang tertuang dalam Piagam Jakarta yang disebut juga dalam Pembukaan UUD 1945 sebagai berikut:

"Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan."

"Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur."

"Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya." ….

Meski demikian akhirnya Indonesia merdeka pula. Namun bagi umat Islam konsep kemerdekaan yang telah disiapkan dengan rujukan perjuangan umat islam itu mulai pudar. Bahkan sehari beikutnya manakala  PPKI bersidang pada 18 Agustus 1945.

Secara garis besarnya, kegiatan rapat PPKI tanggal 18 Agustus 1945 dibagi ke dalam dua tahap, yaitu: Tahap Sebelum Rapat PPKI Pada tahap ini diadakan rapat kecil yang terdiri dari Drs. Mohammad Hatta, Ki Bagus Hadikusumo. Wahid Hasyim. Mr. Kasman Singodimejo, dan Teuku Moh. Hasan.
Mereka mengadakan rapat pendahuluan dan menghasilkan kesepakatan mengubah kalimat "Ketuhanan, dengan Kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya" menjadi "Ketuhanan Yang Mahaesa". Dengan perubahan tersebut, maka seluruh hukum Undang-undang Dasar dapat diterima oleh daerah-daerah Indonesia yang tidak beragama Islam, misalnya daerah­-daerah vang diduduki Kaigun.

Menurut Drs. M. Hatta, adanya perubahan itu memberikan tanda bahwa para pemimpin bangsa pada waktu itu lebih mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa. Rapat Utanta PPKI Rapat ini dipimpin oleh Ir. Soekarno dan M. Hatta.

Dalam rapat ini diputuskan tiga keputusan penting, yakni: 1) Menetapkan dan merigesahkan UUD 1945 setelah mengalami perubahan di sana-sini. Dalam UUD tercantum dasar negara.

Dengan demikian PPKI pun telah menetapkan dasar negara RI yang baru diproklamasikan sehari sebelumnya; 2) Memilih dan mengangkat Ir. Soekarno dan Drs. Hatta, masing-masing sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia; 3) Membentuk Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) yang berfungsi membantu presiden dan wakil presiden sebelum lembaga-lembaga negara yang diharapkan UUD 1945 terbentuk secara resmi.

Khusus mengenai penetapan UUD 1945, bahan yang digunakan ialah bahan hasil sidang BPUPKI tanggal 10 s.d. 16 Juli 1945. Sedangkan untuk Pembukaannya diambil dari Piagam Jakarta dengan beberapa perubahan.

Usulan-usulan yang masuk kepada Wakil Ketua Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, dikemukakan M. Hatta sebagai berikut:

a.     Menghilangkan Rencana Pernyataan Indonesia Merdeka serta Rencana Pembukaan yang telah disetujui Badan Penyelidik tanggal 15 Agustus 1945 dan menggantinya dengan usul Rencana Pembukaan Hukum Dasar yang dirumuskan oleh Panitia Sembilan tanggal 22 Juni 1945 dengan beberapa perubahan.

b.    Perubahan yang dimaksud diantaranya "Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya" diganti dengan "Ketuhanan Yang Mahaesa". Dengan perubahan ini, maka seluruh hukum Undang-undang dasar dapat diterima oleh daerah-daerah Indonesia yang tidak beragama Islam. Perubahan ini telah mendapat persetujuan dari berbagai golongan dan akan menyatukan seluruh bangsa.

c.     Dengan adanya perubahan pada Pembukaan, maka ada perubahan dalam Rencana Undang­undang Dasar, yaitu: 1) "Presiden ialah orang Indonesia asli yang beragama Islam" diubah menjadi "Presiden ialah orang Indonesia asli" (Pasal 6 ayat 1); 2) Negara berdasar atas Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya" diubah menjadi "Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Mahaesa" (Pasal 29 ayat 1).

d.     Dalam pasal-pasal UUD 1945 terdapat pula beberapa perubahan; c. Menambahkan kepada Rencana Undang-undang Dasar tanggal 16 Juli 1945 dan tambahan itu disahkan, yaitu: · Bab XVI pasal 37 tentang Perubahan Undang-undang Dasar; · Aturan Peralihan Pasal I sampai dengan IV; · Aturan Tambahan angka 1 dan 2.


Setelah dilakukan amandemen terhadap UUD hasil sidang BPUPKI tanggal 16 Juli 1945, maka disahkanlah UUD Republik Indonesia. Sekarang, UUD hasil putusan sidang PPKI tannggal 18 Agustus 1945 dikenal dengan nama UUD 1945.

Maka sejak itu hingga kini umat Islam belum bisa mengembalikan makna perjuangan Islam dalam kontek berbangsa dan bernegara yang sesuai dengan ajaran dan syariat Islam bagi pemeluknya.*
Penulis penikmat sejarah, tinggal di Surabaya

blog.resistnews.web.id - Milisi Syiah Hizbullah Lebanon menculik lebih dari 23 pengungsi Suriah di Lebanon, Selasa (14/8/2012). Milisi Hizbullah menjadikan mereka sebagai sandera dan alat barter bagi seorang anggota milisi Hizbullah yang ditawa oleh Tentara Kebebasan Suriah.
Beberapa hari sebelumnya Tentara Kebebasan Suriah (FSA) merilis video yang sangat memukul milisi Syiah Hizbullah Lebanon. Dalam video yang diupload ke situs youtube itu, Nampak beberapa Tentara Kebebasan Suriah memegang senjata, berdiri di belakang Hasan Salim Miqdad. Miqdad adalah anggota kelompok Syiah Amal Lebanon dan seorang petempur milisi Syiah Hizbullah yang ditawan oleh Tentara Kebebasan Suriah dalam pertempuran di Damaskus pekan ini.




Milisi Syiah Hizbullah Lebanon  dan keluarga besar Miqdad mengancam akan menculik para pengungsi Suriah di Lebanon jika Tentara Kebebasan Suriah tidak membebaskan Miqdad. Ancaman itu dibuktikan dengan penculikan sedikitnya 23 pengungsi Suriah di Lebanon. Milisi Syiah Hizbullah menculik mereka dari beberapa tepat di Lebanon Utara, Biqa', Bait Syamak dan daerah pegunungan Lebanon.
Penangkapan anggota milisi Syiah Hizbullah yang berperang di pihak rezim jagal Suriah telah terjadi beberapa kali. Peristiwa itu semakin meyakinkan dunia internasional akan partisipasi milisi Syiah Hizbullah Lebanon dalam kebiadan militer rezim Suriah terhadap kaum muslimin Suriah. Milisi Syiah Hizbullah Lebanon sendiri telah mempublikasikan video pasukannya yang menodongkan senjata kepada para pengungsi Suriah yang mereka culik dan sandera.
Peristiwa ini akan semakin memperbesar konflik bersenjata di Suriah dan sekitarnya. Tentara Kebebasan Suriah dan mujahidin Islam Suriah bertekad melanjutkan jihad mereka walaupun rezim Suriah semakin brutal membantai rakyat muslim sunni. (arrahmah.com/blog.resistnews.web.id)

blog.resistnews.web.id - Beberapa hari dari pembentukannya, kini kelompok ekonomi di bawah pemerintah Mesir telah memulai aktivitasnya, dan mendekati IMF untuk mendapat utang senilai 3,2 miliar dolar, dimana hal itu telah dinegosiasikan oleh pemerintah sebelumnya.
Menteri Keuangan Mesir, Mumtaz Said mengumumkan bahwa tujuan dari utang Mesir ini adalah untuk memperoleh pengakuat internasional terkait kemampuan ekonomi Mesir dalam memenuhi kewajiban-kewajiban internasionalnya.
Sementara pemerintahan Isham Syaraf  sebelum pemerintahan Janzuri, pada bulan Mei 2011 telah menolak penandatanganan persetujuan utang IMF.
Sungguh persetujuan mendapatkan utang dari IMF yang dilakukan oleh pemerintah yang berlatar belakang gerakan Islam merupakan aib bagi gerakan-gerakan Islam yang mengklaim bahwa ia tengah berusaha untuk menjadikan negara yang dikuasainya berdasarkan Islam.
Lalu, lalu dari dasar (referensi) Islam yang mana, yang membolehkan untuk mengambil utang secara riba, apalagi dari lembaga riba dunia terbesar dan terpenting!?
Dan, dasar (referensi) Islam yang mana, yang mengklaim bolehnya secara ideologi untuk bekerja sama dengan IMF, yang dalam dekade terakhir merupakan penyebab utama hancurnya perekonomian negara, dan yang membuat negara dalam jeratan utang selamanya?
Dalam hal ini, pemerintah yang menyebut dirinya sebagai pemerintah yang berasaskan Islam, bukannya berusaha membangun perekonomian Islam yang sebenarnya, yang bebas riba, dan hanya bersandar pada sumber daya umat, justru ia lebih mengutamakan perekonomian riba. Sehingga kami dapati bahwa negara ini, pada ujian pertama telah jatuh ke dalam perangkap lembaga-lembaga riba kapitalis dunia (kantor berita HT, 12/8/2012).

KTT Luar Biasa Organisasi Kerjasama Islam di Mekkah, Arab Saudi

Bocoran KTT, keanggotaan Suriah di OKI akan dibekukan.

blog.resistnews.web.id - Suriah di bawah rezim Bashar al Assad semakin dijauhi para tetangganya. Setelah menerima sejumlah sanksi internasional dan diasingkan dari pergaulan di Liga Arab, rezim Assad kini dikucilkan oleh sesama negara Muslim yang tergabung dalam Organisasi Kerjasama Islam (OKI).

Organisasi yang beranggotakan 57 negara Islam maupun negara yang mayoritas berpenduduk kaum muslimin itu merasa perlu menggelar Konferensi Tingkat Tinggi Luar Biasa di Kota Suci Mekkah, Arab Saudi, selama 14-15 Agustus 2012. Sebagai anggota OKI dan negara berpenduduk Muslim terbanyak di dunia, Indonesia turut hadir dengan mengutus Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa. 

Krisis di Suriah menjadi agenda utama pertemuan para pejabat senior dan pemimpin anggota OKI. Mewakili sekitar 1,5 miliar umat Muslim di dunia, OKI menilai bahwa masalah di Suriah sudah seharusnya mendapat perhatian yang serius.

Sudah lebih dari setahun terjadi pergolakan di salah satu negara Arab itu. Assad masih tidak mau berkompromi dengan sebagian rakyat yang sudah tidak puas atas dominasi rezim Partai Baath yang dia pimpin. Kekerasan atas warga sipil pun terus berlanjut sehingga - menurut laporan dari PBB dan sejumlah kelompok HAM - sudah menewaskan lebih dari 20.000 jiwa.

Belum ada upaya yang solid dari masyarakat internasional untuk mengatasi krisis itu, walaupun PBB sudah mengirim Misi Pemantau di Suriah, yang juga melibatkan sejumlah personel militer asal Indonesia. Itulah sebabnya, walau keputusannya tidak bersifat mengikat, OKI punya kewajiban moral untuk ikut memberi perhatian atas masalah di Suriah, yang sudah dipandang sebagai krisis kemanusiaan.

Walau hingga Rabu tengah malam WIB belum ada keputusan resmi dari para peserta KTT Luar Biasa, kalangan media massa sudah mendapat bocoran mengenai pernyataan OKI atas Suriah. Dalam kutipan rancangan kesepakatan akhir OKI yang diperoleh Arab News, disebutkan bahwa keanggotaan Suriah harus dibekukan karena "Otoritas Suriah tetap saja melanjutkan opsi militer" dan gagalnya rencana damai yang sudah dipelopori utusan dari PBB, Kofi Annan.

Rancangan kesepakatan akhir itu juga menuntut bahwa rezim Assad "harus segera mengakhiri semua aksi kekerasan" sambil mempertahankan "persatuan, kedaulatan, kemandirian, dan integritas teritorial Suriah." Tahun lalu, Liga Arab pun membekukan keanggotaan Suriah.

Keputusan akhir para pemimpin anggota OKI merupakan cerminan dari hasil pertemuan tingkat menteri luar negeri organisasi itu, yang berlangsung 13 Agustus 2012. Sekjen OKI, Eklemeddin Ihsanoglu, mengungkapkan bahwa pertemuan tingkat menteri itu mempersiapkan KTT Luar Biasa.

Hasilnya, para menteri OKI sepakat bahwa keanggotaan Suriah patut dibekukan. "Keputusan itu sudah disetujui berdasarkan konsensus dengan mayoritas absolut," kata Ihsanoglu seperti dikutip Gulf Times.

Tanda-tanda dikucilkannya Suriah, untuk sementara, dari keanggotaan OKI sudah terlihat sebelum digelarnya KTT di Mekkah. Menurut Arab News, Presiden Assad maupun pejabat tinggi Suriah tidak diundang datang. Malah, OKI mengundang Amerika Serikat - yang bukan negara anggota dan gencar menekan rezim Assad - untuk datang ke pertemuan. Maka, dengan senang hati AS mengirim utusan khususnya, Rashad Hussain, ke Arab Saudi walaupun berstatus sebagai peninjau dan tidak punya hak suara.

Usulan Indonesia
Sebagai anggota, Indonesia turut memberi pendapat atas Suriah. Dalam pidatonya di hadapan para pemimpin di KTT Luar Biasa, Menlu Natalegawa menilai bahwa saat ini Suriah berada di titik kritis. "Sebagai satu organisasi, kita harus dapat bertindak dengan itikad untuk mencapai tujuan dan rasa persatuan," kata Natalegawa dalam pidato yang disebarkan oleh Kementerian Luar Negeri RI.

Atas isu Suriah ini, Indonesia memaparkan dua pokok pemikiran. Pertama, kata Natalegawa, kekerasan, pembunuhan harus dihentikan.

Selama ini upaya untuk menggugah kesadaran semua pihak terkait untuk mengakhiri kekerasan dan pembantaian belum membawa hasil yang diharapkan. "Masyarakat internasional, PBB, tidak dapat hanya sekedar mengamati apa yang dengan jelas tengah terjadi: militerisasi situasi telah membawa dampak kemanusiaan ke taraf bencana," kata Natalegawa.

Maka, merupakan kebutuhan mendesak agar Dewan Keamanan dapat bersatu, dan, secara konsisten dengan Piagam PBB, dapat mengambil langkah-langkah efektif untuk membawa atau menciptakan perdamaian di Suriah. Pada taraf yang lebih luas, terdapat kebutuhan agar Umat Muslim, agar OKI, dapat menjadi kekuatan yang mempersatukan di Suriah. Umat yang bersatu, yang semuanya menyuarakan perlunya perdamaian, akan meningkatkan kemungkinan diakhirinya lingkaran kekerasan di Suriah.

Pada pokok pemikiran kedua, dengan ditekannya kekerasan dan dibawanya perdamaian melalui suatu mandat Dewan Keamanan yang matang, didukung dan, bahkan, diprakarsai oleh OKI, organisasi ini dapat mendorong adanya kondisi minimal yang kondusif bagi adanya suatu proses politik yang inklusif. Proses politik yang memungkinkan rakyat Suriah memilih keputusannya sendiri bagi masa depan mereka.

Situasi di Suriah dipandang tidak dapat diatasi dengan solusi militer. Ketika perdamaian telah tercipta dan bantuan kemanusiaan telah dapat diberikan, setiap upaya harus dikerahkan untuk menciptakan solusi politik. Indonesia pun mendorong OKI agar dapat bersatu untuk menghentikan kekerasan dan terjadinya pembunuhan terhadap rakyat sipil di Suriah.

“OKI harus menyampaikan kesatuan pesan agar DK PBB dapat segera bertindak untuk menghentikan aksi kekerasan di Suriah, jika perlu menggunakan pasal 7 Piagam PBB” tegas Natalegawa. Indonesia juga mengusulkan agar OKI bersiap untuk mengirimkan pasukannya sekiranya dibutuhkan misi pasukan damai PBB di Suriah.

Menlu RI juga menyatakan bahwa yang paling utama dan pertama bagi OKI saat ini adalah menghentikan kekerasan dan pembunuhan terhadap rakyat sipil. Transisi politik di Suriah bukanlah hal yang mendesak saat ini dan dapat dilakukan setelah perdamaian dapat diciptakan di Suriah.

Kekerasan Berlanjut
Saat para pemimpin OKI membicarakan keanggotaan Suriah, kekerasan di negara itu terus berlanjut. Lagi-lagi kekerasan itu memakan korban warga sipil.

Kekerasan tidak saja melibatkan rezim Assad, namun juga kaum pemberontak. Warga asing turut menjadi korban.

Menurut kantor berita Reuters, militer Suriah melancarkan serangan udara ke wilayah utara, tepatnya di Kota Azaz pada Rabu, 15 Agustus 2012. Seorang dokter setempat bernama Mohammad mengungkapkan bahwa 80 orang tewas dan 150 lainnya terluka - termasuk tujuh warga Lebanon - saat sebuah jet tempur pemerintah membombardir Azaz, yang menjadi salah satu basis pemberontak.

Di kota itu pula pemberontak menyandera sebelas warga Lebanon. Kelompok pemberontak menyalahkan serangan jet pemerintah, yang melukai para sandera. "Gedung tempat mereka berada ditembak. Kami berhasil mengeluarkan mereka dari reruntuhan. Mereka terluka," kata seorang komandan pemberontak bernama Ahmed Ghazali kepada stasiun televisi Lebanon, Al Jadeed.

Sebelumnya, pada hari yang sama, ledakan bom berlangsung di Ibukota Damaskus, tepatnya di dekat suatu hotel tempat menginap para anggota Misi Pemantau PBB di Suriah. Tiga orang cedera, namun tidak satupun staf PBB yang cedera.

Deputi Menteri Luar Negeri Suriah, Faisal Mekdad, mengatakan bahwa insiden bom itu membuktikan "aksi kriminal dan sifat barbar mereka yang melancarkan serangan - berikut para pendukung mereka di Suriah dan di luar negeri." Di Damaskus pula kembali berlangsung baku tembak antara pasukan pemerintah dan kaum pemberontak. (viva/blog.resistnews.web.id)

blog.resistnews.web.id - Tiga negara Arab telah mendesak warganya meninggalkan Libanon di tengah-tengah tanda bahwa konflik Suriah akan tumpah ke negara tetangganya.
Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Qatar mendesak tindakan segera setelah serangkaian penculikan terhadap Muslim Sunni oleh klan Syiah yang memiliki kekuatan.
Mereka membalas atas penculikan seorang anggota klan oleh pejuang Suriah di Damaskus.
Pejuang Suriah mengatakan orang tersebut berjuang untuk pemerintah Suriah atas nama gerakan Hizbullah Syiah Libanon.
Warga Libanon terjebak dalam krisis Suriah ketika pesawat tempur rezim pada Rabu (15/8/2012) menghantam kota Azaz di utara Aleppo yang dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 30 orang.
Di antara mereka yang terluka dalam serangan di perbatasan Suriah-Turki adalah tujuh sandera asal Libanon yang ditawan pejuang Suriah sejak Mei lalu.  Empat sandera dikatakan menghilang setelah gedung di mana mereka berada dihantam serangan.
Setelah laporan stasiun TV yang belum dikonfirmasikan mengatakan bahwa keempatnya telah tewas, kerusuhan terjadi di jalan utama menuju bandara Beirut, perusuh membakar ban dan penerbangan Air France beralih rute ke Yordania untuk alasan keamanan.
Peringatan klan
Klan Syiah Al Meqdad mengatakan telah menculik lebih dari 20 orang yang mereka klaim terkait dengan pemberontak Suriah.  Sebuah video yang disiarkan oleh sebuah saluran televisi pro-rezim Suriah memperlihatkan dua pria yang tampaknya merupakan salah seorang komandan Angkatan Darat Tentara Pembebasan Suriah.
Meskipun sebagian besar yang diculik adalah pria Suriah, namun seorang pengusaha Turki dan seorang warga Saudi juga dilaporkan berada di antara mereka.
Al Meqdad mengancam akan terus melakukan penculikan, lapor kantor berita resmi Saudi, Spa, mengutip pernyataan seorang pejabat kementrian luar negeri dan mengatakan bahwa warga Saudi harus menghindari perjalanan ke Libanon untuk keselamatan mereka.
Seorang pejabat kementrian luar negeri Uni Emirat Arab mengatakan telah mengeluarkan peringatan setelah kedutaan menerima informasi tentang warga mereka yang menjadi sasaran dan karena keadaan yang sulit dan sensitif di Libanon, lapor WAM.
Libanon adalah tujuan wisata populer warga Saudi dan warga negara Teluk lainnya. (arrahmah.com/blog.resistnews.web.id)
Powered by Blogger.