Tank Israel Reuters Ronen Zvulun  Diam Diam, Tentara Zionis dan Pasukan Gaza Masih Terus Berperang
+ResistNews Blog - TAK banyak pemberitaan beredar, jika sebenarnya perbatasan sebelah timur Gaza terus diwarnai ‘Perang Dingin’ antara para pejuang perlawanan Palestina dengan tentara Zionis.
Perang dingin tepatnya terjadi di sepanjang perbatasan Rafah sebelah selatan hingga Bet Hanun di sebelah utara Jalur Gaza sepanjang 40 kilometer. Sementara itu di sepanjang perbatasan sebelah baratnya yang dipisahkan oleh pantai Gaza, juga sering terjadi perang dingin antara mereka.
Dikabarkan sepanjang perbatasan barat yang terdiri dari pantai dan laut, sejumlah pesawat pengintai Zionis tak pernah meninggalkan perbatasan, memantau semua pergerakan sekecil apapun pasukan perlawanan
Disebut-sebut tentara Zionis mneggunakan taktik yang sangat hati-hati, yakni dengan menyembunyikan aksi pelanggaran mereka menyerang Gaza.
Sementara pasukan perlawanan Palestina juga terus melakukan aksi balasan, walau dengan sangat tenang tapi sistematis, terutama setelah penanda tanganan kesepakatan gencatan senjata antara perlawanan dengan Israel atas mediasi dari Mesir pada 21 Nopember tahun lalu.
Mata mereka tak pernah tertidur selalu mengawasi perbatasan detik demi detiknya. Bahkan akhir-akhir ini, psukan perlawnan Gaza menggunakan alat canggih berupa kamera pengintai untuk mengawasi perbatasan dari pergerakan tentara Zionis.
Publik mungkin mengira, jika tentara Israel menyerang Gaza terakhir kalinya pada akhir tahun 2012 lalu, namun kenyataannya Zionis terus melakukan manuver serangan di kawasan Gaza. [islampos/pip/ +ResistNews Blog ]

Checkered Floor1 Checkered Floor; Lantai Hitam Putih Simbol Khas Gerakan Freemasonry
+ResistNews Blog - PERNAH melihat suatu ruangan, rumah atau bangunan dengan lantai seperti kotak papan catur? Sesungguhnya itu adalah simbol khas gerakan Freemason, lantai hitam-putih dalam keyakinan Freemason diyakini sebagai simbol dualitas.
Sebagaimana dijelaskan dalam buku “An Encyclopedia of Freemasonry and its Kindred Sciences tulisan Albert Mackey halaman 494, simbol lantai papan catur: “The mosaic pavement in an old symbol of the Order. It is met with in the earliest rituals of the last century. It is classed among the ornaments of the lodge along with the indented tessel and the blazing star. Its party-colored stones of black and white have been readily and appropriately interpreted as symbols of the evil and good of human life.”
Menurut mereka, lantai berwarna hitam putih itu adalah representasi dari lantai Kuil Raja Sulaiman yang juga merupakan simbol dualitas diantara kebaikan dan keburukan dalam kehidupan manusia.
Bahkan ada yang menafsirkan bahwa checkered floor adalah simbol persilangan dua alam, yaitu alam nyata dan alam ghaib, atau lebih tepatnya, antara alam manusia dan alam jin.
Checkered Floor2 Checkered Floor; Lantai Hitam Putih Simbol Khas Gerakan Freemasonry
Anggota Freemasonry berpose di ruangan yang berdekorkan simbol lantai papan catur dan juga simbol bintang lima
Perhatikan pula betapa simbol lantai papan catur ini pun tertera dalam kartu Tarot “La Papesse”, yang merupakan simbol dualitas sebagaimana simbol Yin dan Yang (– Simbol Yin dan Yang tergambar pada buku yang ada di pangkuan La Papesse tersebut –)
Checkered Floor3 Checkered Floor; Lantai Hitam Putih Simbol Khas Gerakan Freemasonry
“La Papesse” is card number two of the tarot, a number symbolic of duality. Notice the Ying Yang symbol on the Priestress’s book representing the same dualistic principles of the mosaic pavement.
Lantai papan catur (checkered-board) tersebut juga menjadi dekorasi pesta pernikahan pangeran William dari kerajaan Inggris, dan muncul pula dalam serial kartun “Bart Simpson”, serta pada cover album musik Michael Jackson yang berjudul “Blood on the Dance Floor”. [islampos/abuabdurrohman/ +ResistNews Blog ]

jbb Turki Segera Cabut Larangan Berjilbab di Institusi Publik
+ResistNews Blog
 - PERDANA Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan pada hari Senin ini (30/9/2013) mengumumkan bahwa pemerintahnya akan mencabut larangan mengenakan jilbab di lembaga-lembaga publik sebagai bagian dari reformasi untuk meningkatkan hak-hak warga.
“Kami mengangkat larangan jilbab di lembaga publik,” kata perdana menteri Turki tersebut.
Erdogan juga mengumumkan reformasi demokrasi yang dilihatnya sebagai kunci untuk menjalani proses perdamaian yang macet dengan kelompok minoritas Kurdi.
Dia mengatakan aturan yang mencegah pro-Kurdi dan partai kecil lainnya dari memasuki parlemen akan berubah, sedangkan pendidikan berbahasa Kurdi akan diizinkan di sekolah-sekolah swasta.
“Ini adalah saat bersejarah, yang merupakan tahap penting bagi Turki,” ujar Erdogan pada konferensi pers.
Nama Kurdi dapat dikembalikan ke kota-kota yang ada di Turki dan larangan surat kabar Kurdi juga akan dicabut, tandasnya.
Reformasi yang dirancang dalam upaya untuk mengatasi keluhan kelompok minoritas Turki, khususnya Kurdi, setelah adanya proses perdamaian dengan Partai Pekerja Kurdistan (PKK) sempat terhenti.
Pada bulan Maret lalu pemimpin PKK yang dipenjara Abdullah Ocalan mengumumkan gencatan senjata bersejarah setelah berbulan-bulan melakukan negosiasi rahasia dengan dinas rahasia Turki.
Sebagai imbalan untuk menarik para pejuangnya, PKK menuntut amandemen KUHP dan undang-undang serta hak atas pendidikan dalam bahasa Kurdi dan tingkat otonomi daerah.[islampos/afp/ +ResistNews Blog ]

+ResistNews Blog – Senin (30/09/13) Dalam beberapa jam kedepan Nampak krisis keuangan baru, di mana pemerintah federal AS akan dipaksa untuk berhenti bekerja dari Selasa pagi awal Oktober waktu Washington.

Hal ini karena Gedung Putih gagal mencapai kesepakatan dengan Kongres tentang anggaran. Sedangakan Presiden Barack Obama menghadapi dilema berkelanjutan di Kongres, di mana ia tidak memiliki suara mayoritas yang cukup untuk meluluskan keputusan yang ia butuhkan.dan itulah yang menyebabkan krisis antara Gedung Putih dan Kongres dari waktu ke waktu, terutama yang berkaitan dengan anggaran dan menaikkan plafon utang tahun ini, di mana hal itu ditolah oleh para lawannya dari Partai Republik.

Karena tidak tercapainya kesepakatan antara Partai Republik dan Partai Demokrat beberapa jam mendatang, maka banyak dari Departemen Federal Amerika akan berhenti bekerja sejak pertengahan Senin Malam Selasa, termauk badan-badan dari Kemterian Luar Negri dan delegasi, dan diberikan cuti wajib kepada ribuan pegawai federal tanpa upah.[imo/ +ResistNews Blog ]

50 brigade Mujahidin Suriah bergabung dan membentuk satuan tentara Islam
Para komandan yang tergabung dalam Jaisyul Islam

+ResistNews Blog – Dipimpin oleh Liwa’ (brigade) al-Islam, salah satu brigade Mujahidin terkuat di ibukota Suriah, Damaskus, sebanyak 50 brigade dan batalyon Jihad Suriah berkumpul pada Ahad (29/9/2013) untuk mempersatukan 50 brigade tersebut dan membentuk Jaisyul Islam/Jaisy al-Islam (Tentara Islam).
Dalam pertemuan tersebut, disepakati bahwa Syaikh Muhammad Zahran bin Abdullah Alusy (Abu Abdullah), pemimpin Liwa’ al-Islam, sebagai pemimpin tertinggi Jaisy al-Islam.
Berikut nama-nama brigade yang bergabung dalam Jaisyul Islam:
1. Liwa Al-Islam
2. Liwa Jays Islam
3. Liwa Jays Muslimin
4. Liwa Saiful Haqq
5. Liwa Nusur Syam
6. Liwa Basya-ir An Nashr
7. Liwa Fath Syam
8. Liwa Daraa Al-Ghoutah
9. Kataib As-Shiddiq
10. Liwa Tauhid Al-Islam
11. Kataib Janub Al-Ashimah
12. Liwa Badr
13. ‘Umar bin Abdul Aziz
14. Liwa Junud At-Tauhid
15. Liwa Saiful Islam
16. ‘Umar ibn Khattab
17. Liwa Mu’adz ibn Jabal
18. Liwa Al-Faruq
19. Liwa Zubair ibn Awwam
20. Liwa zi An-Nurain
21. Liwa Al-Anshar
22. Liwa Hamzah
23. Liwa Ad-Difa’ Al-Jawwi
24. Liwa Al-Midfa’iyah was Shawarikh
25. Liwa’ AL-Mudarra’at
26. Liwa Al-Isyarah
27. Liwa Baibarz
28. Liwa Saiful Haq
29. Liwa Maghawir Qalamun
30. Liwa ‘Ibad ar-Rahman
31. Liwa Murabithin
32. Liwa Al-Badiyah
33. Liwa Anshar Sunnah
34. Liwa Ahlul Bayt
35. Liwa Syuhada Al-atarib
36. Liwa Jabhah As-Sahil
37. Liwa ‘Ain Jalut
38. Kataib Anshar Tawhid
39. Kataib Al-Mujahidin
40. Kataib Shuqur Abi Dahanah
41. Kataib As-Sunnah
42. Kataib Al-Anshar
43. Kataib Al-Barra ibn ‘Azib
44. Kataib Syabab Al-Islam
45. Katiba Ali ibn ABi Thalib
46. Katiba Thalhah ibn Abdillah
47. Katiba Al-Isytihadiyin
48. Katiba Rayat Al-Haqq
49. Katiba Dar’ul Islam
50. Katiba Al-Asyayir
Dalam sebuah pernyataan resmi, setelah resmi dibentuk, Jayshul Islam mengatakan: “Untuk bersama-sama membentuk “Jays Al-Islam” (tentara Islam) dan membawakan kabar gembira kepada Ummat Islam, Ummat yang berjumlah milyaran, yang musuh-musuh Islam telah memotong-motong kaum Muslimin ini menjadi terpisah-pisah dalam berbagai wilayah, yang telah menumpahkan darah-darah kaum Muslimin, yang telah menggunakan harta dan hak kaum muslimin dengan cara yang zhalim, yang telah menanam perpecahahan kelompok dan perbedaan antara kaum muslimin.”
“Mari bersama-sama berada dalam satu kalimat, bersatu dalam satu barisan, dan dalam keridhaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana firman Allah dalam kitab-Nya: Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) dan jangalah bercerai berai,’” tambah pernyataan tersebut.
Sebelumnya, 13 brigade terkuat di Suriah, termasuk Liwa’ al-Islam di dalamnya, sepakat menegaskan bahwa mereka menolak Aliansi Nasional Suriah (kelompok oposisi sekuler yang didukung Barat) dan menegaskan tujuan revolusi Suriah adalah untuk menegakkan Khilafah Islamiyah dan menerapkan Syariat Islam.
Syaikh Muhammad Zahran, yang dibaiat untuk memimpin Jaisyul Islam, adalah seorang penduduk asli Suriah yang dilahirkan di Duma, kawasan di pinggiran kota Damaskus. Ayahnya adalah Syaikh Abdullah Alusy, seorang ulama yang dikenal sebagai ulama yang sangat berpegang teguh kepada manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan dakwah Islam.
Syaikh Muhammad Zahran tercatat lulus dari sekolah Syariah Islam di Universitas Damaskus dan kemudian melanjutkan kembali di Universitas Islam Madinah Munawwarah untuk mempelajari ilmu hadits Nabawi, kemudian ia melanjutkan magisternya di kuliah Syariah Islam di Universitas Damaskus. (arrahmah.com+ResistNews Blog )

Batalyon Al Qassam

+ResistNews Blog - Harian New York Times(NYT) Amerika menurunkan laporan tentang kondisi terkini di Timur Tengah terutama situasi Mesir dan Suriah dan pengaruhnya terhadap gerakan Hamas di Jalur Gaza. Harian ini menegaskan Hamas sebagai gerakan kuat dan tidak mungkin dijatuhkan jika dibandingkan dengan Jamaah Ikhwanul Muslimin di Mesir.
NYT menyebutkan sejumlah faktor sulitnya menjatuhkan Hamas.  Selain karena memiliki popularitas yang begitu luas di mata rakyat Palestina di Jalur Gaza, Hamas juga menguasai pasukan keamanan dan aparat keamanan disana mereka.
Faktor lain sejumlah lembaga-lembaga layanan sosial dikuasai oleh Hamas sehingga membantu eksistensinya yang mengakar kuat di dalam kehidupan sosial di Gaza. NYT menegaskan, Hamas memang terpengaruh dengan situasi regional yang berada di Timur Tengah berupa chaos dan konflik yang berlangsung di Suriah. Sehingga Hamas kehilangan dukungan dari Suriah dan Iran yang selama ini ‘mendukungnya.’ Akan tetapi hal itu bisa dilalui oleh Hamas setelah mereka terlibat dalam perang dengan Israel pada November 2012 lalu.
Terkait situasi di Mesir yang memberikan dampak negatif, Hamas kehilangan dukungan ekonomi dan politik akibat usaha kudeta di Mesir. Kader IM yang berada di pemerintahan saat ini dikejar dan ditangkapi serta dijebloskan dalam penjara.
NYT menegaskan pemerintah Palestina di Gaza telah membentuk tim kabinet untuk mengatasi krisis ekonomi yang menjerat mereka. Belakangan akibat pengaruh yang ditimbulkan kudeta militer di Mesir dan penutupan ratusan terowongan yang selama ini diandalkan secara kuat oleh pemerintah di sana akibat blokade sejak tahun 2007.
NYT menegaskan, penyebab dan faktor yang menjadikan Jalur Gaza semakin rumit adalah karena terhentinya lalu lintas barang melalui terowongan bawah yang selama ini menutupi 90 persen kebutuhannya. Akibatnya mereka tidak bisa memenuhi kebutuhan bahan bangunan dan bahan bakar dari Mesir mereka. Terpaksa mengimpor bahan bangunan dari Israel yang lebih mahal dibanding dari barang barang dari Mesir.
Selain itu penutupan perlintasan Rafah merupakan satu satunya lalu lintas musafir Palestina telah putus baik bagi pelajar, bisnisman dan pasien. Hal itu menjadi tekanan besar bagi Hamas sejak beberapa tahun belakangan.
Akan tetapi harian ini mengisyaratkan Hamas telah mampu selama beberapa tahun terakhir melampaui berbagai tekanan yang mereka alami. Bahkan sebelumnya lebih sulit dan lebih komplet.
Otoritas Palestina yang dipimpin oleh gerakan Fatah berusaha memanfaatkan tekanan internasional terhadap Hamas tersebut dengan melakukan rencana menyebut Gaza sebagai “entitas pembelot” mereka yang mengurangi pendanaan otoritas Palestina. (ran/ul/nyt/bumisyam.com/ +ResistNews Blog )

Oleh : Harits Abu Ulya
Pemerhati Kontra Terorisme & Direktur CIIA (The Community Of Ideological Islamic Analyst)
“Kekerasan adalah anak kandung kekerasan sebelumnya”, ungkapan tersebut cukup tepat untuk menggambarkan peristiwa teror dan kekerasan dalam dua bulan terakhir ini.Di malam jelang 17 Agustus di Pondok Aren Tanggerang dua aparat kepolisian tewas ditembak orang tidak dikenal dan menjadi peristiwa menggemparkan paska ditangkapnya ketua SKK Migas oleh KPK.Spekulasi pun bermunculan terkait dengan motif dan siapa pelaku teror tersebut.
Sayup-sayup terkait motif terdengar bahwa dendam dan kebencian yang menggerakkan aksi teror.Dan bahkan saat ini makin mengumpal kuat bahwa dendamlah yang menjadi motifnya.Pelakunya juga mungkin dari perorangan atau kelompok yang selama ini kepentingannya bersinggungan dengan  aparat kepolisian.Dari sini bisa mengerucut (merujuk kasus dua bulan terakhir) bisa jadi mereka adalah dari kelompok preman, kelompok “teroris”, diluar keduanya adalah kelompok “siluman” yang sengaja mendesain teror untuk kepentingan dan proyek tertentu.
Jika aparat kepolisian profesional maka akan mengurai kasus teror berangkat dari TKP (tempat kejadian perkara), mengumpulkan berbagai variabel analisis yang dibutuhkan.Dan tidak prematur untuk mengiring kepada satu kesimpulan dan kemungkinan tertentu tanpa melihat kemungkinan-kemungkinan lainnya. Karena teror terhadap aparat keamanan sejatinya juga terjadi dibanyak tempat, di Papua oleh kelompok OPM atau simpatisannya kerap terjadi.Polisi menjadi korban dari tindak kriminal dari kelompok preman juga terjadi.
Karenanya sikap mengeneralisir mengarahkan semua teror dengan label teroris dan kelompok teroris cukup tidak proporsional. Akan sangat bijak jika aparat sedikit bicara tapi banyak bekerja, mengurangi volume statemen di hadapan publik melalui beragam media.Mengurangi berbagai pernyataan spekulatif dan menghindari kontruksi opini untuk menggiring persepsi masyarakat kepada kesimpulan tertentu.Tangkap hidup-hidup pelaku teror, seret ke pengadilan dan biarkan vonis hakim yang tentukan bukan hakim jalanan yang bicara.
Pendapat saya, jika dari berbagai parameter analisis bahwa teror tersebut motifnya dendam dan itu terkait kelompok-kelompok terduga terorisme  maka beranikah semua pihak terkait bersikap obyektif dan jujur mengeja dan mengatakan apa akar dari teror tersebut?
Tidak seorangpun menginginkan teror menimpa dirinya, fitrah manusia condong kepada zona aman untuk hidupnya. Namun sekali teror tersebut hadir maka ia adalah ibu kandung dari sang bayi teror-teror dikemudian hari.Maka sejatinya fenomena terorisme dekade beberapa tahun terakhir di Indonesia berbeda dengan diawal-awal tahun 2000-an.Minimal perbedaannya adalah terkait ideologi yang melatarbelakangi aksi mengalami metamorfosis sangat signifikan. Hari ini dendam menjadi determinasi dari sebuah aksi teror. Kebencian telah menjadi spirit dan “ideologi” dari sebuah amaliyat (aksi) dari individu atau kelompok yang di stempel teroris.Terlalu didramatisir jika aksi berbagai teror oleh kelompok-kelompok kecil “teroris” itu diklaim dalam rangka kepentingan dan target politik besar yakni mendirikan negara Islam. Aksi teror lebih banyak keluar dari visi ideologis, berjalan diatas rel mindset derivat-derivat sekunder dengan apa yang disebut qishos (pembalasan).
Maka teror yang tampak sejatinya telah mengirim sinyal dan menjadi pesan kuat kepada semua pihak tentang cara-cara yang tidak proporsional dalam upaya kontra terorisme di Indonesia. Memahami psikologi “teroris” saya berani katakan bahwa teror ini juga sejatinya lahir atas kontribusi tindakan-tindakan aparat (khususnya Densus 88 dan Satgas “liar’ yang dibawah kendali BNPT) yang over acting.
Upaya-upaya law enforcement (penegakkan hukum) atas orang-orang terduga teroris dengan menabrak banyak rambu-rambu hukum bahkan hingga menghilangkan nyawa terduga dengan cara ekstra judicial killing adalah bahan bakar kebencian dan dendam. Cara-cara seperti ini disadari atau tidak telah berbuah fakta teror demi teror terhadap aparat kepolisian.Point ini lebih besar porsinya sebagai stimulus ideologi dendam dibanding hanya alasan karena selama ini pihak-pihak aparat berwenang telah banyak mengagalkan agenda-agenda aksi dan target politik mereka.
Mengurangi teror atas aparat keamanan itu harusnya dengan metode pemberantasan teror bukan dengan cara “teror”. Para pemimpin aparat kepolisian harusnya sadar, anggota mereka menjadi korban teror bisa jadi hanya karena ulah “teror” yang dilakukan oleh segelintir oknum pemberatas terorisme. Atau tidak menutup kemungkinan adanya kelompok-kelompok “siluman” yang  punya interest dan kepentingan pada isu terorisme, dan bisa jadi merekalah dalang dari banyak peristiwa teror dan terorisme. Nah disinilah profesionalisme aparat penegak hukum di uji, masyarakat menunggu hasil kerja mereka untuk bisa mengungkap fenomena teror dan terorisme tidak hanya dilevel superficial (permukaan) nyasar kepada pelaku, tapi tidak menemukan para dalang dari semua aksi tersebut.
Polisi yang profesional, punya kredibilitas dan menjujung tinggi rasa keadilan dan kemanusiaan diharapkan oleh banyak masyarakat bisa mengurai teror.Bukan Polisi atau aparat yang korup, arogan, tebang pilih, tindakan dehumanisasi yang dipertontonkan bahkan lebih sering berkoar-koar membangun propaganda diatas keawaman banyak orang dalam isu terorisme.Evaluasi kinerja di internal penegak hukum (kepolisian dengan Densus 88 nya) mutlak diperlukan.Bahkan pemerintah dan semua pihak terkait perlu mengkaji ulang keberadaan BNPT dengan kewenangan penindakan yang dimiliknya.
Yang tidak bisa di hindari bahwa fenomena teror yang tumbuh silih berganti melahirkan spekulasi bisa jadi benar adanya kelompok “siluman” yang melakukan reproduksi semua ini. Dengan metode pengkondisian, baik melalui inflitrasi kepada kelompok potensial tertentu kemudian melakukan indoktrinasi dilanjutkan agitasi dan provokasi untuk melahirkan aksi teror. Kemudian dari aksi itu melahirkan label teroris/terorisme dan targetnya adalah kontinuitas drama perang melawan terorisme.Dan dibalik itu dalangnya bisa meraup keuntungan-keuntungan pragmatis maupun ideologis.
Karena itu pembacaan yang holistik dari beragam sudut pandang tentang terorisme perlu dikaji.Demikian juga menyangkut relasi konstelasi politik global dan lokal yang berkelindan nyata saling memberikan pengaruh perlu dikaji, agar anak-anak negeri ini tidak menjadi korban dan arogansi dari dari teror oleh sesama warga negara sendiri dan semua berjalan diatas panggung yang berjudul terorisme.Wallahu a’lam bisshowab. (kiblat.net/ +ResistNews Blog )

jsx Ternyata Gadis Suriah Dipaksa untuk Buat Pengakuan Jihad Seks di TV Pemerintah
HEBOH kasus “Jihad Seks” di Suriah semakin lama makin terungkap kebohongannya. Sebelumnya media-media mainstream dengan gegap gempita – khususnya media-media pro Bashar dan Syiah – memberitakan kasus ini. Beberapa media dengan sengaja memberitakan informasi yang belum jelas kebenarannya tersebut dengan tujuan untuk melemahkan barisan Mujahidin dan dukungan kaum Muslimin terhadap Jihad di Suriah.
Sebelumnya media pro Bashar dan Syiah memberitakan tentang adanya fatwa “Jihad Seks” dari ulama Saudi Syaikh Muhammad Al-’Arifi, di mana dalam fatwa itu Syaikh ‘Arifi menganjurkan para perempuan untuk membantu para pejuang Suriah dari sisi kebutuhan syahwat seksual mereka. Namun hal tersebut dibantah keras oleh Syaikh ‘Arifi.
“Apa yang disiarkan oleh chanel Al-Jadid pengikut Bashar, dan saya yakin ini juga disiarkan oleh chanel-chanel Rafidhah, yang berkaitan dengan kicauan atas nama saya di twitter, tentang fatwa jihad seks di Suriah adalah dusta!” tandas ‘Arifi beberapa waktu yang lalu.
Akan tetapi, seperti biasa, bantahan tersebut dianggap angin lalu oleh para pemuja Bashar dan Syiah Iran. Bagi mereka pejuang Suriah gila seks dan harus dipuaskan dengan para perempuan yang merindukan ‘surga’ dengan “jihad seks” mereka. Termasuk mempublikasikan foto seorang jihadis perempuan Suriah yang dianggap sebagai pelaku “Jihad Seks”.
Setelah itu media pro Bashar mengeluarkan video testimoni perempuan muda yang mengaku telah menjadi ‘budak seks’ bagi para pejuang Suriah anti Bashar, bersamaan dengan adanya kecaman dari pejabat Tunisia yang menyatakan banyak perempuan hamil setelah berjihad seks di kalangan pejuang Suriah.
Situs Al-Arabiya Jumat kemarin (27/9/2013) melansir informasi terbaru terkait ‘Jihad Seks’ di Suriah. Dalam laporan Al Arabiya dikatakan bahwa wanita Suriah – yang keluarganya mengatakan diculik oleh pasukan keamanan Suriah – telah muncul di televisi pemerintah dengan bercerita tentang bagaimana mereka diperkosa oleh ‘pemberontak’ atau bagaimana mereka bergabung dengan kelompok al-Qaidah untuk memenuhi kebutuhan duniawi para pejuang yang telah digambarkan banyak media sebagai “jihad seks.”
“Ayah saya mengatakan kepada saya untuk pergi dan mandi. Sementara saya sedang mandi, seorang pria datang, ia tampak lebih tua dari usianya yang 50 tahun, dia hanya mengenakan celana dalam. Dia kemudian menarik rambut saya dan memaksa saya ke kamar. Saya menjerit dan ayah saya mendengar teriakan saya, tapi dia tidak melakukan apa-apa,” ujar Rawan Qadah, seorang gadis yang maih di bawah usia 18 tahun, dalam pengakuannya di televisi pemerintah Suriah. Dia menambahkan bahwa ayahnya telah menjual “kehormatan” nya kepada para pemberontak.
Versi yang belum diedit dari video televisi Suriah yang diperoleh Al Arabiya justru menunjukkan keanehan bagaimana gadis itu dalam pernyataannya disutradarai oleh orang yang berada di belakang kamera untuk membaca pernyataan mereka.
Namun, menurut keluarga Rawan Qadah, putri mereka justru diculik oleh pasukan keamanan Suriah setelah kembali dari sekolahnya pada November tahun lalu di kota barat daya Deraa.
Penculikannya telah menyebabkan terciptanya kampanye petisi di situs kampanye sipil global Avaaz.
Pengakuan lain yang disiarkan televisi pemerintah Suriah disampaikan oleh Sarah Khaled al-Alawo dari wilayah timur Deir al-Zourr.
Alawo oleh televisi Suriah digambarkan sebagai anggota Jabhah Al- Nusrah. Dalam pengakuannya dia menyatakan bahwa dia melayani tuntutan seksual para ‘pemberontak’ dengan menyebutnya sebagai “jihad seksual.”
Namun, keluarga Alawo membantah dengan menekankan bahwa putri mereka ditangkap di kampusnya di Damaksus setelah dia menyatakan dukungan kepada pemberontakan melawan rezim Presiden Bashar al-Assad.
Dalam video lain yang diperoleh Al Arabiya sebelum diedit, seorang gadis Suriah meminta orang-orang di belakang kamera untuk memverifikasi tanggal “18″ Tanggal ketika dia diduga diperkosa oleh para pejuang anti Assad.[islampos/alarabiya/ +ResistNews Blog ]

kuburan yang nyunnah dan sesuai syariah-2-jpeg.imageInilah kuburan yang syar’i dan dicontohkan, sesuai dengan akidah Islam dan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Tanpa dibangun, dikeramik, ditulisi, ditinggikan kecuali hanya sejengkal, dan tanpa disembah atau diagungkan. Mudah-mudahan calon rumah kita seperti ini semua, tidak seperti kebanyakan kuburan yang ada di sekeliling  kita.
Padahal kuburan yang ada di foto ini adalah kuburannya orang-orang yang memiliki keutamaan di sisi Allah, yaitu kuburan para Sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum di Baqi’, Madinah. Kuburannya tidak lebih bagus dari kuburannya pak RT atau Pak Lurah atau Kiai di tempat kita. Seperti inilah yang membuat Islam bertambah Kejayaannya. Subhanallah.
Dari Abu Al-Hayyaj Al-Asadi dia berkata: Ali bin Abu Thalib berkata kepadaku:
أَلَا أَبْعَثُكَ عَلَى مَا بَعَثَنِي عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ لَا تَدَعَ تِمْثَالًا إِلَّا طَمَسْتَهُ وَلَا قَبْرًا مُشْرِفًا إِلَّا سَوَّيْتَهُ
“Maukah kamu aku utus sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengutusku? Hendaklah kamu jangan meninggalkan gambar-gambar kecuali kamu hapus dan jangan pula kamu meninggalkan kuburan kecuali kamu ratakan,” (HR Muslim No. 969).
Fadhalah bin Ubaid radhiallahu ‘anhu berkata:
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُ بِتَسْوِيَتِهَا
“Saya telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk meratakannya (kuburan),” (HR Muslim No. 968).
Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma dia berkata:
نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang mengapur kuburan, duduk di atasnya, dan membuat bangunan di atasnya,” (HR Muslim No. 970).
Al-Imam At-Tirmidzi dan yang lain meriwayatkan dengan sanad yang shahih dengan tambahan lafadz:وَأَنْ يُكْتَبَ عَلَيْهِ.
Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullahu menerangkan: “Ketahuilah bahwa kaum Muslimin yang dahulu dan akan datang, yang awal dan akhir, sejak zaman sahabat sampai waktu kita ini, telah bersepakat bahwa meninggikan kuburan dan membangun di atasnya… termasuk perkara bid’ah, yang telah ada larangan dan ancaman keras dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam atas para pelakunya.”
Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu berkata: “Aku menginginkan kuburan itu tidak dibangun dan tidak dikapur (dicat), karena perbuatan seperti itu menyerupai hiasan atau kesombongan, sedangkan kematian bukanlah tempat salah satu di antara dua hal tersebut. Aku tidak pernah melihat kuburan Muhajirin dan Anshar dicat. Perawi dari Thawus berkata: ‘Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kuburan dibangun atau dicat’.”
Kuburan yang nyunnah dan sesuai syariah-1-jpeg.imageBeliau rahimahullahu juga berkata: “Aku membenci dibangunnya masjid di atas kuburan.”
Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu berkata pula: “Aku membenci ini berdasarkan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan atsar…”
Asy-Syaikh Sulaiman Alu Syaikh rahimahullahu berkata: “Al-Imam Nawawi rahimahullahu menegaskan dalam Syarh Al-Muhadzdzab akan haramnya membangun kuburan secara mutlak. Juga beliau sebutkan semisalnya dalam Syarh Shahih Muslim.”
Dari Jabir radhiallahu ‘anhu: “Bahwa telah dibuatkan untuk beliau (Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam) liang lahat dan diletakkan di atasnya batu serta ditinggikannya di atas tanah sekitar  satu jengkal,” (HR Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya No. 2160 dan al Baihaqi III/410, hadits ini sanadnya hasan).
Dari Sufyan at Tamar, dia berkata: “Aku melihat makam Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dibuat gundukkan seperti punuk,” (HR Bukhari III/198-199 dan Baihaqi IV/3).
Ibnul Qayyim berkata dalam kitabnya Zaadul Ma’aad, “Dan makam beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam digunduki tanah seperti punuk yang berada di tanah lapang merah. Tidak ada bangunan dan tidak juga diplester. Demikian itu pula makam kedua sahabatnya (Abu Bakar dan Umar).”
Hal tersebut menunjukkan bahwa kuburan Nabi tidaklah dibangun seperti bangunan sekarang ini pada awalnya. Jadi dibangunnya kuburan Nabi bukanlah hujjah yang dapat dipakai, kecuali jika yang membangunnya tersebut adalah para sahabat Nabi dan atas ijma (kesepakatan) mereka. Wallahu  a’lam.
Syaikh Albani ditanya:
“Kuburan Nabi shallallahu  ‘alaihi wasallam ada di dalam Masjid beliau, yang dapat disaksikan hingga saat ini. Kalau memang hal ini dilarang, lalu mengapa beliau dikuburkan disitu?”
Jawabannya:
…Keadaan yang kita saksikan pada zaman sekarang ini tidak seperti yang terjadi pada zaman sahabat. Setelah beliau wafat, mereka menguburkan beliau di dalam bilik (kamar)nya yang letaknya bersebelahan dengan masjid, dipisahkan oleh dinding yang ada pintunya. Beliau biasa masuk masjid lewat pintu itu.
Hal ini telah disepakati oleh semua ulama, dan tidak ada pertentangan di antara mereka. Para sahabat mengubur jasad beliau di dalam biliknya, agar nantinya orang-orang sesudah mereka tidak menggunakan kuburan beliau sebagai tempat untuk shalat, seperti yang sudah kita terangkan dalam hadits ‘Aisyah di bagian muka. Tapi apa yang terjadi di kemudian hari di luar perhitungan mereka.
Pada tahun 88 Hijriah, Al Walid bin Abdul Malik merehab masjid Nabi dan memperluas masjid hingga ke kamar ‘Aisyah. Berarti kuburan beliau masuk ke dalam area masjid. Sementara pada saat itu sudah tidak ada satu sahabat pun yang masih hidup, sehingga dapat menentang tindakan Al Walid ini seperti yang diragukan oleh sebagian manusia.
Al Hafizh Muhamad Abdul-Hady menjelaskan di dalam bukunya Ash-Sharimul Manky: “Bilik (kamar) Rasulullah masuk dalam masjid pada zaman Al Walid bin Abdul Malik, setelah semua sahabat beliau di Madinah meninggal. Sahabat terakhir yang meninggal adalah Jabir bin Abdullah. Ia meninggal pada zaman Abdul Malik pada tahun 78 Hijriah. Sementara Al Walid menjadi khalifah pada tahun 86 Hijriah, dan meninggal pada tahun 96 Hijriah. Rehabilitasi masjid dan memasukkan bilik beliau ke dalam masjid, dilakukan antara tahun-tahun itu.
kuburan yang nyunnah dan sesuai syariah-3-jpeg.imageAbu Zaid Umar bin Syabbah An Numairy berkata di dalam bukunya Akhbarul-Madinah: “Ketika Umar bin Abdul Aziz menjadi gubernur Madinah pada tahun 91 Hijriah, ia merobohkan masjid lalu membangunnya lagi dengan menggunakan batu-batu yang diukir, atapnya terbuat dari jenis kayu yang bagus. Bilik istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dirobohkan pula lalu dimasukkan ke dalam masjid. Berarti kuburan beliau juga masuk ke dalam masjid.”
Dari penjelasan ini jelaslah sudah bahwa kuburan beliau masuk menjadi bagian dari Masjid Nabawi, ketika di Madinah sudah tidak ada seorang sahabat pun. Hal ini ternyata berlainan dengan tujuan saat mereka menguburkan jasad Rasulullah di dalam biliknya.
Maka setiap Muslim yang mengetahui hakikat ini, tidak boleh berhujjah dengan sesuatu yang terjadi sesudah meninggalnya para sahabat. Sebab hal ini bertentangan dengan hadits-hadits shahih dan pengertian yang diserap para sahabat serta pendapat para imam.
Hal ini juga bertentangan dengan apa yang dilakukan Umar dan Utsman ketika memperluas Masjid Nabawi tersebut. Mereka berdua tidak memasukkan kuburan beliau ke dalam masjid.
Maka dapat kita putuskan, perbuatan Al Walid adalah salah. Kalaupun ia terdesak untuk meluaskan Masjid Nabawi, toh ia bisa meluaskan dari sisi lain sehingga tidak mengusik kuburan beliau. Umar bin Khaththab pernah mengisyaratkan segi kesalahan semacam ini. Ketika memperluas masjid, ia mengadakan perluasan di sisi lain dan tidak mengusik kuburan beliau. Ia berkata: “Tidak ada alasan untuk berbuat seperti itu.” Umar memberi peringatan agar tidak merobohkan masjid, dan juga tidak memasukkan kuburan beliau ke dalam masjid.
Karena tidak ingin bertentangan dengan hadits dan kebiasaan khulafa’urrasyidin, maka orang-orang Islam sesudah itu sangat berhati-hati dalam meluaskan Masjid Nabawi. Mereka mengurangi kontroversi sebisa mungkin.
Dalam hal ini An-Nawawi menjelaskan di dalam Syarh Muslim: “Ketika para sahabat yang masih hidup dan tabi’in merasa perlu untuk meluaskan Masjid Nabawi karena banyaknya jumlah kaum Muslimin, maka perluasan masjid itu mencapai rumah Ummahatul-Mukminin, termasuk bilik ‘Aisyah, tempat dikuburkannya Rasulullah dan juga kuburan dua sahabat beliau, Abubakar dan Umar.
Mereka membuat dinding pemisah yang tinggi di sekeliling kuburan, bentuknya melingkar, sehingga kuburan tidak langsung nampak sebagai bagian dari masjid. Dan orang-orangpun tidak shalat ke arah kuburan itu, sehingga merekapun tidak terseret pada hal-hal yang
dilarang.
Ibnu Taimiyah dan Ibnu Rajab yang menukil dari l-Qurthuby, menjelaskan: “Ketika bilik beliau masuk ke dalam masjid, maka pintunya di kunci, lalu disekelilingnya dibangun pagar tembok yang tinggi. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga agar rumah beliau tidak dipergunakan untuk acara-acara peringatan dan kuburan beliau dijadikan patung sesembahan.”
Dapat kami katakan: memang sangat disayangkan bangunan tersebut sudah didirikan sejak berabad-abad di atas kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Di sana ada kubah menjulang tinggi berwarna hijau, kuburan beliau dikelilingi jendela-jendela yang terbuat dari bahan tembaga, berbagai hiasan dan tabir. Padahal semua itu tidak diridhai oleh orang yang dikuburkan di situ, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan ketika kami berkunjung ke sana, kami lihat di samping tembok sebelah utara terdapat mihrab kecil. Ini merupakan isyarat bahwa tempat itu dikhususkan untuk shalat di belakang kuburan. Kami benar-benar heran. Bagaimana bisa terjadi paganisme yang sangat mencolok ini dibiarkan begitu saja oleh suatu negara yang, katanya, “mengagung-agungkan tauhid”?
Meski begitu, kami mengakui secara jujur, selama di sana kami tidak melihat seorang pun mendirikan shalat di dalam mihrab itu. Para penjaga yang sudah ditugaskan di sana mengawasi secara ketat untuk  mencegah manusia yang datang ke sana melakukan sesuatu yang bertentangan dengan syariat di sekitar kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini merupakan suatu yang perlu disyukuri.
Tetapi ini belum cukup dan tidak memberikan jalan keluar yang tuntas. Tentang hal ini sudah lama kami katakan di dalam buku Ahkamul Jana’ iz wa Bida’uha: “Seharusnya Masjid Nabawi dikembalikan ke zamannya semula, yaitu dengan membuat tabir pemisah antara kuburan dengan masjid, berupa tembok yang membentang dari utara ke selatan, sehingga setiap orang yang masuk ke masjid tidak dikejar oleh macam-macam pertentangan yang tidak diridhai pendirinya.
kuburan yang nyunnah sesuai syariah-baqi-4-jpeg.imageKami merasa yakin, ini merupakan kewajiban pemerintah Saudi, kalau ia masih ingin menjaga akidah dan tauhid yang benar. Andai ada rencana perluasan kembali, maka bisa melebar kesebelah barat atau sisi lainnya. Tapi ketika diadakan perbaikan lagi, ternyata Masjid Nabawi tidak dikembalikan ke bentuknya yang pertama sesuai pada zaman sahabat.” (salam-online)
(Oleh Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, diambil dari
Buku “Peringatan! Menggunakan Kuburan Sebagai Masjid”, Bab IV/Hal. 50-83)
[gizanherbal.wordpress.com/salam-online.com/ +ResistNews Blog ]

Inggris akan gelar KTT NATO 2014 untuk membahas Afghanistan


+ResistNews Blog – Inggris telah mengumumkan pada Jum’at (27/9/2013) bahwa akan menggelar KTT NATO berikutnya dengan para petinggi militer negara penjajah yang akan fokus membahas terkait Afghanistan.
“Saya senang Inggris akan menjadi tuan rumah KTT NATO 2014,” kata Perdana Menteri Inggris David Cameron. Namun tanggal dan tempatnya belum diumumkan, demikian AFP melaporkan.
Cameron menunjukkan bahwa Afghanistan akan menjadi pusat pembahasan 28 negara anggota NATO, karena pasukan pimpinan NATO yang sedang berperang di Afghanistan dijadwalkan akan ditarik pada akhir 2014.
Kabar yang beredar bahwa NATO akan meninggalkan sejumlah pasukan mereka di Afghanistan pasca penarikan pasukan pada 2014 dengan dalih untuk melatih aparat rezim boneka Afghan.
Mujahidin Imarah Islam Afghanistan atau Taliban yang kini sedang berperang melawan tentara penjajah menegaskan bahwa mereka tidak akan membiarkan para tentara penjajah mendirikan basis permanen di Afghanistan pasca 2014, Mujahidin akan terus memerangi para penjajah dan antek mereka hingga negeri Afghanistan sepenuhnya bebas dari tangan-tangan penjajah. (arrahmah.com+ResistNews Blog )

BANNER YUSUF MAULANA 490x326 (Tanpa) Tikaman Pembubar Miss World
KEJADIAN hampir 40 tahun lalu itu berulang. Subjeknya masih sama: umat Islam. Peringkat masih pertama di negeri ini: umat mayoritas. Wibawa suara tidak kunjung berubah: diabaikan penguasa.
Kalender masih ada pada angka 1974. Pemerintahan Soeharto bergeming dengan suara-suara umat Islam. Suara-suara pemuda turun ke jalan memprotes pergelaran Sidang Raya Dewan Gereja-gereja se-Dunia (DGD) di Jakarta. Sayang, Soeharto kala itu kadung akrab dengan kalangan Nasrani. Jangankan suara pemuda, suara para tokoh seperti M.Natsir, H.M. Rasjidi, dan banyak eksponen ulama karismatik umat pun diabaikan. Didiamkan seolah tidak pernah ada pengaruh besar jasa mereka bagi negeri ini.
Mengapa perhelatan DGD ditolak? Meski statistik tidak sampai sepuluh persen, sebuah keberanian umat Nasrani di Indonesia melangsungkan acara di negara berpenduduk mayoritas Muslim. Dengan dukungan jejaringnya di lingkaran Soeharto, misalnya T.B. Simatupang (kala itu juga salah satu ketua DGD), mereka percaya diri melangkah. Rencana nyaris sempurna dan didukung Soeharto.
Besarnya dukungan Soeharto tidak main-main. Wacana kerukunan antaragama yang digaungkannya menjadi senjata untuk memperbolehkan acara DGD di Ibu Kota. Jenderal-jenderal militer loyalisnya, yang umumnya Islamofobia, mengondusifkan penghempasan aspirasi umat Islam. Persiapan terus berjalan, bila sesuai rencana, setahun berikutnya, yakni 1975, Sidang Raya DGD dibuka.
Meski suara-suara umat Islam diabaikan begitu saja oleh penguasa, amat menarik terjadi di sana. Semua komponen umat bisa bersatu. Bersyukur, kala itu Gus Dur atau Cak Nur, yang pada dekade berikutnya fasih sebagai juru bicara kelompok minoritas, belumlah menjadi sosok ‘besar’ dan terpandang. Suara umat satu, bisa berjamaah untuk mengkritik langkah Soeharto.
Ikhtiar umat nyaris kandas, dan tinggal berhitung bulan pelaksanaan Sidang Raya DGD hadir. Sebuah tamparan kala itu, meski hari ini banyak anak negeri di sini memandangnya sebagai bukti toleransi. Boleh jadi, mereka yang alami era 1970-an itu terlalu fanatik, dan kita sekarang terbilang toleran. Tapi jangan bangga. Bisa jadi kemungkinan kedua yang berlaku di hadapan Allah, mereka yang hadir pada era 1970-an lebih mengerti sendi agama sehingga cemburu membela Islam begitu tinggi; adapun kita saat ini, sudah kadung termakan dengan buaian hidup toleransi, pluralisme, kemajemukan, dan omongan yang sering kali tidak sinkron dengan jiwa agama sendiri.
Rasjidi, intelektual sekaligus ulama terpandang dekade itu, harus angkat suara dan pena. Ditulisnya Sidang Raya DGD di Jakarta 1975 – Artinya Bagi Dunia Islam melalui penerbitan Dewan Dakwah Islamiyah. Tulisan Rasjidi tegas: Sidang Raya DGD tidak lebih agenda pemurtadan umat Muslim di Indonesia. Bahkan, disebutnya, paralel dengan kolonialisme.
Sebelum itu, Natsir yang merupakan tokoh disegani di dunia Islam, lebih dulu menuliskan topik serupa. Melalui salah satu muridnya yang menghimpun topik relasi Islam dan umat Nasrani di sini, lahirlah Islam dan Kristen di Indonesia (1969). Napasnya masih sama: waspada dengan cara-cara pemurtadan.
Seiring jatuhnya Orde Lama dan hadirnya Orde Baru, proyek pemurtadan marak. Tokoh-tokoh umat seperti Natsir dan Rasjidi terpanggil untuk berjuang tidak semata di pentas politik. Sidang Raya DGD di Jakarta bukan sebuah acara biasa; bukan semata penarik devisa—kalau meminjam istilah klise birokrat kita hari ini.
Meski kekuatan Islam-politik saat itu sudah kadung dihabisi, cemburu pada api Islam belumlah pudar. Bukan hanya ada di dada Natsir atau Rasjidi, tapi juga rakyat biasa. Hasyim Yahya, salah satunya. Jengah dengan tulinya penguasa Orde Baru terhadap masukan dan aspirasi umat Islam (padahal, Umat Islamlah yang menopangnya untuk naik sebagai presiden, setelah lebih dulu getol menghadap kekuatan komunis), Hasyim Yahya tidak mau bergeming di Surabaya, kota mukimnya selaku pengusaha.
Hasyim tahu bagaimana hasil yang diperbuat saudara-saudaranya yang mendemo penguasa. Nihil. Tapi panggilan Qur`an begitu menancap di dada. Terlebih anutan umat semacam Rasjidi membakar militansi umat untuk mencintai agama dan negerinya dari kaki tangan penjajah. Hasyim pun punya rencana.
Tikaman Pengubah
Juli 1974, berangkatlah Hasyim ke Ibu Kota. Bersama beberapa saudara seiman yang tidak sampai sehitungan jemari tangan kanan. Didatanginya penginapan (hotel) tempat salah seorang pemuka DGD di Jalan Arif Rachman Hakim. Naluri Hasyim berjalan. Maklum saja, dia terbiasa berhitung untung-rugi. Dia menyamar hingga berhasil memasuki ruang penginapan. Tiada senjata apalagi bom. Dia bukan kaki tangan aparat pemerintah semacam Densus 88 sekarang. Dia juga bukan komprador lembaga negara yang kerap bikin kisruh agar isu terorisme undang kucuran dolar dari luar sana.
Hasyim yang kala itu masih muda dapati seorang aparat berjaga. Sumber resmi di kemudian hari sebutkan aparat itu seorang Muslim juga. Masa itu, ukuran agama tidak relevan. Militer ‘hijau’ masih amat asing adanya. Yang bejibun, loyalis para jenderal anti-Islam seperti Ali Moertopo dan L.B. Moerdani. Aparat militer penjaga itu, versi resmi kepolisian, dibunuh Hasyim dan kawan-kawannya, sebelum akhirnya nyawa Eric Constable pun meregang di tempat sama.
Siapa Eric? Dia bukan sosok biasa; dia pendeta Gereja Anglikan asal Australia. Kabar dari Jakarta itu mengagetkan. Pihak penyelenggara, terutama dari DGD, memandang kematian Constable merupakan sinyal membahayakan kegiatan mereka. Putusan pun dibuat. Sidang Raya ke-5 DGD pun akhirnya dipindahkan ke Nairobi, Kenya.
Bukan peralatan canggih. Bukan pula aksi bermodalkan bom. Terlampau jauh semua itu. Cukup dengan sebilah pisau menghempaskan nyawa tokoh yang bersiap ‘menyelamatkan gembala tersesat‘di Indonesia. Tidak perlu rapat repot; tidak butuh mobilisasi. Keberanian bersahaja demi memenuhi panggilan hati. “Saya hanya melaksanakan perintah Quran,” kata Hasyim. Putusannya bulat meski itu perbuatannya Hasyim haru dibui. Menariknya, aparat kepolisian kala itu menyebut Hasyim sosok ‘tekena penyakit syaraf’. Sebuah tudingan yang jelas tidak akan diakui Hasyim. Hasyim boleh saja dituduh ‘merampok’ dan ‘syaraf’, tapi ini tidak lebih permainan aparat agar kasus sensitif tersebut tidak mengguncang ihwal kerukunan yang dicanangkan Soeharto.
Hari ini, empat dekade nyaris kemudian, perhelatan yang juga undang kemarahan umat Islam hadir. Memang, berbeda di masa Hasyim Yahya, ajang kontes kecantikan sejagat hadirkan pro-kontra. Manusia Indonesia, Muslim mengaku ‘ulama’dan cendekiawan sekalipun, tidak sedikit yang bersuara mendukung. Demi promosi pariwisata, demi devisa, demi dolar, demi nama harum bangsa, demi dan demi yang lainnya yang salah satunya: ini bukan negeri padang pasir. Tidak tahu, lantaran apa mengaitkan padang pasar dengan para penentang kontes kecantikan.
Demo demi demo menolak kontes buka aurat itu, hanya lahirkan kebisuan penguasa. Suara-suara tokoh memang masih ada, sayangnya kadang dibantah saudaranya sendiri yang memilih berbeda. Tiada lagi kekompakan di antara para alim ulama seperti di masa Hasyim Yahya. Bila dahulu yang kompak seirama saja buntu hasilnya (sebelum pisau Hasyim Yahya bicara), apatah lagi sekarang yang banyak umat kadang merasa tahu dan melecehkan alim yang menolak kontes kecantikan tersebut. Ada yang namanya islami, tapi berkicau di Twitter begini, “Metallica boleh tampil di Jakarta, kenapa Miss World tidak? Aku dukung KESETARAAN.” Masih banyak suara serupa, termasuk tokoh yang telanjur dicap ‘islami’. Karena centang perenang begini, bisa diprediksi bagaimana reaksi penguasa, termasuk juga pemegang modal—nama yang menjadi promotor acara—terhadap ketidakkompakan dalam urusan yang menurut penyinis suara anti-kontes itu sebagai “remeh-temeh”.
Hasyim Yahya sendiri pernah berujar, seperti dilansir di sebuah situs islamis, bahwa ajang kontes itu tidak lain adalah “proyek deislamisasi”. Tidak ada yang berubah dari kemilitansian lelaki yang kini sering dipanggil ustad.
Saya menduga, Hasyim Yahya sejatinya tahu kondisi kesamaan congeknya telinga penguasa di era mudanya dan masa tuanya. Dulu dia berlaku sunyi, tanpa gaduh dengan sebilah pisah mampu hentikan ajang internasional. Kini, dia terbuka, dan saya yakin pengalaman mengajarkan untuk arif. Terlampau banyak rekayasa yang menjerat para saudara seimannya dengan tudingan tanpa dosa saat ini. Cara serupa di masa lalu untuk gagalkan acara di Bali, sama artinya menyiapkan saudara Muslim yang lain untuk dihinakan.
Memang itulah lagak penguasa; berdiam dengan maksiat selagi potensial (katanya) hadirkan devisa. Saat yang sama, ada aparat di bagian tukang jual isu terorisme, berharap ada radikalisme di kalangan pemuda Muslim. Dikait-kaitkan dengan soal penolakan Miss World lantas berujung penggerebekan dan pembunuhan. Beruntung, Hasyim Yahya lahir hanya di era L.B. Moerdani, bukan di era Densus 88 dan ulama penjual ayat suci.
Bila penguasa tidak suka dengan kekerasan, semestinya potensi yang mengundang kekerasan sudah harus dienyahkan. Bukan terus dipelihara dengan atas nama Pancasila atau bahasa tidak membumi lainnya. Sebilah pisau, atau apa pun cara mengekspresikan ketidakpuasan, semua ini hanya reaksi. Boleh saja kita tidak setuju dengan cara-cara yang ditempuh seperti ini. Hanya saja, memandang mereka sebagai penyebab utama kekerasan, rasanya nalar dan suara hati ini mau ditaruh di mana. Maka,ajang ataupun acara yang jelas-jelas bertentangan dengan esensi negeri berketuhanan dan berkemanusiaan ini harusnya dikembalikan dengan semangat awal membangun negeri. Lihatlah bagaimana amanat di Pembukaan UUD kita? Kita merdeka karena rahmat Tuhan, lantas inikah cara kita mensyukurinya dengan mengatasnamakan perbedaan sikap atas ajang Miss World di Indonesia adalah rahmat?  [islampos/ +ResistNews Blog ]

opcw Seluruh Senjata Kimia Suriah Segera Dimusnahkan
+ResistNews Blog - ORGANISASI Pelarangan Senjata Kimia Internasional (OPCW), yang beranggotakan 41 negara dilaporkan telah menyepakati program akselerasi penghapusan senjata kimia Suriah. Inspeksi yang diperlukan di Suriah rencananya akan dimulai pada tanggal 1 Oktober 2013.
Rezim Suriah diharuskan menyerahkan nama, jenis, jumlah, dan lokasi dari semua senjata kimia yang dimilikinya, atau telah di bawah hukum ke Sekretariat OPCW dalam 7 hari ke depan, worldbulletin melaporkan pada Sabtu (28/9).
Keputusan itu juga menyerukan ancaman ambisius untuk kehancuran senjata kimia, yang akan ditetapkan oleh Dewan Keamanan PBB pada tanggal 15 November mendatang.
Putusan tersebut juga dikemukakan bahwa penghancuran produksi senjata kimia dan pencampuran/mengisi peralatan, harus diselesaikan pada 1 November 2013. OPCW telah mempertimbangkan untuk merusak seluruh gudang senjata kimia di Suriah pada pertengahan 2014, jika diperlukan. [islampos/wb/ +ResistNews Blog ]

syekh anjem 2 Beri Motivasi Syariah dan Khilafah, Syekh Anjem Choudary Kunjungi Indonesia
+ResistNews Blog - JUMA’T malam (26/9) Forum Aktivis Syariat Islam (FAKSI) menggelar Multaqod Da’wi ke 5 di Masjid UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Berbeda dari gelaran sebelumnya, kali ini FAKSI mendatangkan langsung Syekh Anjem Choudary (Aktifis Shariah For World) dan Abu Izzudin (Islam Revolution).
Dalam sambutannya, Syekh Anjem mengungkapkan rasa gembiranya bisa datang ke Indonesia untuk bertemu para pejuang Syariah Dan Khilafah. Kesempatan ini dimanfaatkan Syekh Anjem untuk memberikan semangat dan motivasi agar para aktivis senantiasa istiqomah memperjuangkan Syariat Islam.
Ulama asa Inggris ini menyatakan umat Islam di seluruh dunia sedang mengalami penderitaan luar biasa. Konflik di Mesir, Palestina, Afghanistan, Pakistan adalah sederetan bukti kezhaliman yang dilakukan musuh-musuh Allah.
“Lalu apakah kita diam saja? Kita harus bergerak menyelamatkan mereka. Karena Rasulullah mengatakan umat Islam adalah satu tubuh,” katanya di depan 300 jamaah yang datang dari Jadobetabek hingga Bandung dan Surabaya.
Untuk menyelesaikan problematika umat, Syekh Anjem menyerukan umat Islam untuk berjihad dan meninggalkan demokrasi. Karena Khilafah tidak akan tegak dengan demokrasi.
Dia kemudian mengutip Surat Ali Imron ayat 110, yang berbunyi: Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.
“ Allah akan memenangkan kita, Insya Allah,” tegasnya.
Rencananya, setelah Jakarta, Syekh Anjem Choudary akan memberikan ceramah di Medan, Bandung, Cianjur, Bogor, Tangerang, Depok, Bukittingi, dan Malang. [Islampos/ +ResistNews Blog ]

pemukiman yahudi 490x326 Dalam Dua Bulan, Yahudi Bangun 4000 Unit Pemukiman di Yerusalem
+ResistNews Blog - RASIM Obeidat, seorang aktivis Palestina di Yerusalem mengatakan bahwa aktivitas orang Yahudi di kota tersebut secara signifikan meningkat sejak dimulainya kembali perundingan Israel-Otoritas Palestina sekitar dua bulan lalu.
Perundingan itu sendiri terjadi atas inisiasi Amerika Serikat.
Obeidat menunjukkan bahwa orang-orang Yahudi membangun ribuan unit pemukiman. “Kami menyaksikan proses pembangunan di Yerusalem. Hal ini bukan lagi suatu rahasia,” terang Obeidat.
Obeidat menegaskan bahwa Israel telah menyetujui pembangunan 4.000 unit perumahan Yahudi di banyak kota Palestina di bagian timur Yerusalem, sejak perundingan dilakukan dengan Otoritas Palestina pimpinan Mahmoud Abbas. [islampos/pic/ +ResistNews Blog ]


+ResistNews Blog - Al-Azhar melakukan sesuatu yang sangat kontroversial.  Seorang mahasiswa yang menyusun desertasi terkait hijab diberi predikat ‘mumtaz’ dan gelar doktoral oleh Universitas al-Azahar. Padahal, kesimpulan dari desertasi tersebut menyebutkan Hijab hanyalah budaya dan kebiasaan bukan sebuah kewajiban Syar’ie.
Mahasiswa yang diberi gelar doktor ini bernama Musthofa Muhammad Rasyid. Dalam desertasi doktoralnya itu, Musthofa menyebutkan bahwa hijab atau yang ia istilahkan dengan ‘kain penutup kepala’ hanyalah kebiasaan wanita-wanita zaman dahulu.
Ia telah menyimpang dari al-Qur’an, As-sunnah dan Ijma’ para ulama. Dengan gegabah ia mengatakan, tafsir yang digunakan oleh ulama dalam memahami ayat-ayat alQur’an terkait hijab, terlalu kontekstual. Dia juga menuduh para ulama yang menghafal alQur’an dan ribuan hadits sebagai orang-orang yang melupakan ‘sejarah dan asbabun nuzul’ dalam menafsirkan ayat-ayat hijab. Sayangnya, sumber berita di Mesir, tidak menjelaskan berapa surat dan hadits yang dihafal oleh pengugat syari’ah yang baku ini.* (Akrom/alm/an-najah.net/ +ResistNews Blog )


+ResistNews Blog - Kelompok pemuda hacker anti Israel yang menamakan diri sebagai Brigade Gaza Elektronik menyerukan penyerangan kembali terhadap situ-situs Zionis, Sabtu (28/9) besuk. Brigade menyebut aksi itu "Sabtu Hitam" sebagai hari Perlawanan Elektronik Intifada Al-Aqsha, bertepatan dengan peringatan 13 tahun Intifadah Al-Aqsha yang meletus pertama kali pada pada 28 September 2000, lansir InfoPalestina.

Brigade Gaza Elektronik dalam gambar yang disebarkan melalui media internet menyatakan, para hacker di dunia Arab dan Islam dituntut terlibat dalam hari pembobolan dan peretasan situs-situs dan halaman web zionis ‘Israel’. Hal ini sebagai 'pembalasan' atas pembunuhan para pejuang Palestina dan menghidupkan spirit revolusi dan perlawanan terhadap penjajah Israel.

Mereka mengancam akan membuat kejutan di hari Sabtu Hitam bagi zionis. Mereka menyatakan akan melakukan dokumentasi dan rekaman video terhadap seluruh aktifitas pembobolan terhadap situs-situs tersebut.

Sebelumnya, sejak awal tahun ini kelompok hacker Anonymous beserta relawan dari berbagai penjuru dunia melancarkan serangan bertubi-tubi ke Israel sebagai bentuk solidaritas kepada Palestina. Serangan “paling mematikan” diakui entitas Israel berlangsung pada bulan April lalu. Lebih dari seribu situs Israel dilaporkan rontok, termasuk situs-situs pemerintah dan perbankan. 

Situs berita ekonomi Globes melaporkan, akibat serangan pada triwulan pertama saja, perusahaan Zionis yang bergerak di bidang sistem informasi mengalami kerugian 200 juta shekel atau sekitar 55,4 juta dolar. [IK/IP/bersamadakwahcom/ +ResistNews Blog ]
Powered by Blogger.