Archive by date

Tak Bertemu Lurah Susan Saat Sidak, Ahok Tak Marah

item-thumbnail
+ResistNews Blog - Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama yang akrab dipanggil Ahok melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Kantor Kelurahan Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Selasa (29/10/2013). Meski tak bertemu dengan Lurah Lenteng Agung Susan Jasmine Zulkifli, Ahok merasa puas terhadap pelayanan di kantor kelurahan tersebut dan tidak sedikit pun dia marah.
Saat Ahok tiba di sana, Susan tengah mengikuti pelatihan sosialisasi reformasi birokrasi. Wakil Lurah dan Sekretaris Kelurahan juga tidak ada di lokasi karena kegiatan yang sama.
Kendati demikian, Ahok mengaku puas melihat pelayanan di Kantor Kelurahan Lenteng Agung. Di kantor kelurahan itu, sistem loket konvensional telah berubah menjadi sistem loket seperti bank. Selain itu, di ruang tunggu dan loket pelayanan, juga telah disediakan permen dan air minum dalam kemasan untuk warga. “Pelayanannya saya lihat sudah cukup baik,” kata Ahok seperti dilansirkompas.
Setelah melihat pelayanan di kantor kelurahan itu, Ahok berbincang-bincang dengan warga setempat. Saat itu, Ahok turut menanyakan kepada warga apakah benar warga menolak keberadaan Lurah Susan. Sebelum meninggalkan kantor kelurahan, warga saling berebut untuk berfoto bersama Ahok.
Ahok mengatakan, kedatangannya ke Kantor Kelurahan Lenteng Agung itu menjadi bukti dukungan moril kepada Susan untuk tetap dapat bekerja dengan baik dan melayani masyarakat. “Kalau dengan kinerja baik, tidak ada alasan untuk mencopot orang berdasarkan jender atau agama. Kita harus dukung orang berdasarkan dia punya kinerja,” ujar Ahok.
Sementara itu, Kepala Seksi Pemerintahan Kelurahan Lenteng Agung Asmat mengatakan, sudah tidak ada lagi aksi penolakan oleh warga terhadap Susan. Menurut dia, aksi unjuk rasa terjadi di awal Oktober lalu. “Selama ini, sudah tidak ada. Yang penting, kita tetap bekerja melayani masyarakat dengan baik,” ujar Asmat. [fimadani/ +ResistNews Blog ]
loading...
Read more »

Bergabung dengan Mujahidin Suriah, Artis China Ini Siap Mati

item-thumbnail

Video bergabungnya artis China Chen Weiming dengan Mujahidin Suriah untuk melawan rezim Bashar Asad menarik perhatian pengguna media sosial. Di Youtube, puluhan pengguna memberikan komentar atas langkah artis yang pernah mengambil bagian dalam protes di Lapangan Tiananmen pada tahun 1989 itu.

Chen memutuskan untuk bergabung dengan tentara Mujahidin setelah melihat Mujahidin melindungi anak-anak, perempuan dan warga sipil tak berdosa. Seperti terlihat dalam video ini, Chen berkali-kali mengucapkan takbir bersama para mujahidin sambil menenteng senjata. Ia juga menyatakan siap mati demi menolong orang-orang yang tertindas.

“Saya tahu betul bahwa saya bisa dibunuh di Suriah, tapi aku tidak takut mati jika itu membantu orang-orang tertindas,” tanda Chen..

Seperti dilansir Islampos, Kamis (31/10), meski video tersebut sudah diposting satu tahun lalu, namun kisahnya memilih menentang sikap negaranya yang justru mendukung Pemerintah Suriah kembali ramai di dunia maya dan Youtube. [islampos/ +ResistNews Blog ]
loading...
Read more »

Lima Ribu Warga Inggris Masuk Islam Setiap Tahun

item-thumbnail
+ResistNews Blog - THE Guardian, salah satu media terbesar di Inggris, menurunkan artikel liputan yang menggambarkan jumlah muallaf yang terus meningkat di Inggris setiap tahunnya.Menurut media ini, ada 5.000 warga Inggris yang pindah ke Islam setiap tahunnya. Kebanyakan dari mereka adalah wanita. Profil wanita yang diangkat The Guardian kebanyakan muslimah yang memiliki pandangan bahwa jilbab tidak penting dengan berbagai alasan. Berikut ini profil sebagian muallaf wanita berkebangsaan Inggris yang diulas The Guardian:

Ioni Sullivan 010 300x180 Lima Ribu Warga Inggris Masuk Islam Setiap Tahun
Ioni Sullivan , pekerja pemerintah daerah , 37 tahun , East Sussex
Saya menikah dengan seorang Muslim dan memiliki dua anak . Kita hidup di Lewes , di mana saya mungkin satu-satunya perempuan berjilbab di desa .
Saya lahir dan dibesarkan di sebuah keluarga kelas menengah  yang berhaluan kiri. Dapat dikatakan keluarga saya adalah atheis. Ayah saya seorang profesor , sementara  ibu seorang guru . Setelah saya menyelesaikan magister di Universitas Cambridge pada tahun 2000, saya bekerja di Mesir, Yordania, Palestina dan Israel.  Pada saat itu, pandangan saya tentang Islam sangat buruk. Namun, belakangan saya terkesan dengan kekuataan iman yang terpancar dari muslimin.
Saya bisa katakan kehidupan muslim itu penuh dengan ketenangan dan stabilitas individu yang baik. Sangat kontras dengan kehidupan barat yang dulu pernah saya alami.
Pada 2011, saya menjalin hubungan asmara dengan seorang pria asal Yordania. Pada awalnya, kami menjalani kehidupan ala barat. Kami pergi ke bar dan klub. Tapi, tidak lama kemudian, saya mulai kursus bahasa Arab dan memulai belajar Al Quran. Saya menemukan diri saya saat membaca Al Quran berbahasa Inggris. Al Quran menjadi bukti bahwa manusia dapat mengenal Tuhannya melalui keindahan ciptaanNya. Sebuah ciptaan Tuhan yang penuh dengan keindahan tak terbatas dan keseimbangan. Tidak ada satu pun yang memaksa saya untuk mempercayai Tuhan berjalan di Bumi dalam bentuk manusia. Saya tidak membutuhkan seorang imam untuk memberkati saya, atau tempat suci untuk berdoa.
Saya melihat ajaran Islam itu penuh dengan aturan yang membatasi kebebasan manusia, seperti: puasa, zakat dan kesopanan. Saya melihat ajaran-ajaran tersebut sebagai upaya membatasi manusia dari kebebasan pribadi dan sebagai cara untuk mengendalikan diri.
Saya mulai beranggapan bahwa diri saya adalah muslimah, namun tidak merasa perlu memberitahukan hal ini ke orang lain. Ada bagian dari diri saya untuk menghindari konflik dengan keluarga dan teman-teman terkait keislaman ini. Namun, pada akhirnya semua orang kaget setelah saya mengenakan jilbab. Saya mulai merasa tidak jujur pada diri sendiri jika tidak mengenakan jilbab. Pada awalnya jilbab saya ini dijadikan lelucon oleh sebagian orang. Ada yang bertanya apakah saya memiliki kanker yang harus ditutupi. (*)
Anita Nayyar 001 246x300 Lima Ribu Warga Inggris Masuk Islam Setiap Tahun
Anita Nayyarpsikolog, 31 Tahun, London
Saya adalah seorang Anglo-India keturunan Hindu. Kakek saya seorang Hindu yang tinggal di wilayah perbatasan India-Pakistan. Keluarga saya ditembak oleh kelompok muslim, dan mengakibatkan memiliki pandangan yang buruk terhadap Islam. Saya adalah seorang Kristen taat, yang memiliki ikatan spiritual  dengan gereja. Saya pernah memiliki cita-cita ingin menjadi pendeta.
Ketika usia 16 tahun, saya memilih masuk ke Perguruan Tinggi sekuler. Di sana, saya berteman dengan banyak muslim. Saya terkejut betapa kehidupan mereka sangat normal dan sudah tentu saya menyukai mereka. Suatu saat, saya memulai berdebat dengan mereka. Saya ajukan argumen mengenai betapa bahayanya agama yang mereka anut.
Awalnya, saya mengira Islam itu tidak berbeda dengan Kristen. Namun, rupanya Islam lebih masuk akal. Butuh proses selama satu setengah tahun, sebelum saya memutuskan untuk berpindah ke Islam. Pada tahun 2000, saya kemudian menjadi muslimah di usia 18 tahun.
Keputusan ini membuat ibu saya kecewa dan beberapa anggota keluarga merasa dikhianati. Namun, diam-diam ayah saya menerima keputusan saya.
Dr Annie Amina Coxon 011 246x300 Lima Ribu Warga Inggris Masuk Islam Setiap Tahun
Dr Annie (Amina) Coxon, konsultan psikis dan ahli neurologi, usia 72, London
Saya adalah warga Inggris tulen yang dibesarkan di Amerika Serikat dan Mesir. Sebelumnya, saya sempat mengenyam pendidikan di sekolah asrama pada usia 6 tahun di Inggris. Setelah lulus, lalu mengambil pelatihan medis di Inggris dan Amerika Serikat. Riwayat pernikahan saya adalah dua kali dengan tiga anak tiri dan 5 cucu tiri.
Saya pindah ke Islam 21 tahun lalu. Ini merupakan pencarian spiritualitas alternatif yang panjang dari ajaran Katolik. Secara khusus, saya tidak pernah melirik Islam sebagai pencarian spiritual saya. Hal itu disebabkan gambaran negatif media massa tentang Islam. Proses perpindahan saya ke Islam melalui banyak tahapan, dan puncaknya adalah ketika dibimbing oleh salah seorang pasien saya, ibunda Sultan Oman saat ini. Selain itu, saya juga mengalami banyak rangkaian mimpi.
Keluarga saya pun terkejut pada awalnya, namun kemudian mereka bisa menerima keputusan saya pindah ke Islam. Bagaimana pun juga, setelah black september 9/11, hubungan dengan saudara ipar saya berubah. Mereka tidak mau menerima saya di rumah mereka. Jumlah teman saya menyusut gara-gara keislaman saya, namun ada juga beberapa teman yang mau berkawan dengan saya karena dianggap eksentrik.
Tatkala saya memeluk Islam, seorang Imam meminta saya untuk menyesuaikan busana keislaman saya. Namun, saya pikir saya tidak perlu mengenakan jilbab karena sudah tua. Selama Ramadhan, kesabaran saya benar-benar diuji, apalagi ketika ke masjid. Respon publik terhadap keislaman saya lebih banyak yang bersifat fasis ketimbang menghargai.
Saya bergabung dengan banyak komunitas muslim, baik dari Turki, Pakistan maupun Maroko. Saya pernah pergi ke masjid Maroko untuk tiga tahun, namun tidak satu pun yang saya jumpai mengucapkan “selamat Idul Firti”. Saya mengidap kanker, namun tidak satu pun kawan muslim saya (kecuali seorang pria tua) datang mendoakan. Padahal, selama sembilan bulan, saya dalam masa pengobatan.
Namun, bagi saya, itu semua merupakan gangguan kecil jika dibandingkan dengan apa yang saya dapat dalam Islam. Saya mendapatkan ketenangan, kebijaksanaan dan kedamaian. Kini, saya menemukan komunitas muslim saya, dan mereka adalah warga Afrika. (*)
Kristiane Backer 012 246x300 Lima Ribu Warga Inggris Masuk Islam Setiap Tahun
Kristiane Backer, presenter TV, 47 tahun, London
Saya tumbuh di Jerman dalam sebuah keluarga Protestan yang tidak terlalu taat. Pada tahun 1989, saya pindah ke London dan membawakan program MTV Eropa. Saya sudah mewawancari banyak orang, mulai dari Bob Geldof sampai David Bowie. Kehidupan saya penuh dengan kerja keras dan pesta tentunya. Tapi, saya merasakan ada yang hilang.
Suatu ketika di saat saya kritis, saya diperkenalkan dengan seorang atlet kriket, Imran Khan. Dia memberikan saya sebuah buku tentang Islam. Dia juga mengundang saya untuk mengunjungi Pakistan. Perjalanan-perjalanan di atas membuka dimensi baru dalam kehidupan saya, sebuah spiritual kepedulian. Saya tersentuh dengan kemurahan hati, kejayaan dan kesiapan umat Islam untuk berkorban bagi yang lain. Semakin saya banyak membaca tentang Islam, semakin saya tertarik dengan agama ini. Saya pun memutuskan berpindah agama pada tahun 1995.
Ketika media Jerman, tempat di mana saya bekerja, mengetahui keislaman saya, maka karir saya di televisi pun berakhir. Itu adalah akhir dari karir entertainment saya. Ini menjadi sebuah tantangan ketika terjadi transformasi dari pekerjaan saya di televisi menuju nilai-nilai baru yang saya temukan, yakni Islam. Meski demikian, pekerjaan saya masih berkaitan dengan penyiaran, kini dipercaya memegang program budaya & gaya hidup muslim. Saya merasa menjadi jembatan untuk memainkan peranan antara komunitas muslim dengan kehidupan sosial yang lebih luas lagi.
Kebanyakan muslim menikah di usia muda, dengan bantuan keluarga mereka. Saya masuk Islam ketika berusia 30 tahun, dan masih sendiri hingga 10 tahun kemudian. Akhirnya, saya memutuskan untuk mencari jodoh melalui jasa online. Akhirnya, saya menemukan pujaan hati, dan jatuh hati dengan seorang produser TV asal Maroko yang sudah tinggal di AS. Kami merasa banyak memiliki kesamaan, dan akhirnya menikah pada tahun 2006. Belakangan, pandangan keislaman suami saya sangat mengontrol kehidupan saya. Saya diminta untuk berhenti berkarir, tidak berbicara dengan pria lain, bahkan memotong/menggunting siapa pun pria yang ada dalam foto-foto saya. Saya seharusnya berhenti dari dia, karena banyak permintaannya, yang menurut saya bukan ajaran Islam, hanya budaya. Saya menginginkan pernikahan yang membolehkan saya bekerja. Kini, saya mencari seorang suami muslim yang bisa dipercaya, yang fokus pada nilai-nilai kandungan Islam, ketimbang membatasi gerak-gerik saya.
Saya tidak menyesal masuk Islam. Hidup saya penuh makna dan itu sangat tidak ternilai harganya bagi saya. (*)

Andrea Chishti 001 246x300 Lima Ribu Warga Inggris Masuk Islam Setiap Tahun

Andrea Chishti, guru , 47 tahun, Watford
Saya memiliki pernikahan yang bahagia selama 18 tahun dengan seorang muslim asli Pakistan. Dari pernikahan itu, kami dikaruniai seorang anak laki-laki (11 tahun) dan anak perempuan (8 tahun).
Suami saya, Fida, dan saya bertemu di universitas yang sama pada 1991. Ketertarikan saya pada Islam merupakan hubungan simbiosa antara cinta dengan ide-ide intelektualitas. Membutuhkan waktu hingga lebih dari tiga tahun hingga menuju jenjang pernikahan. Selama itu pula, “pertempuran” di antara kita terjadi, bertemu dengan sejumlah kolega dan keluarga. Bagaimana kehidupan kami dibentuk nanti setelah menikah.
Saya tumbuh di Jerman, dalam sebuah keluarga yang beranggapan agama bukan sesuatu yang harus diikuti. Ayah saya seorang atheis. Namun, ibu saya dan sekolah saya mengajarkan spiritualitas ketuhanan merupakan sesuatu yang penting. Ketika mengetahui keislaman saya, ayah menganggap saya sudah gila. Namun dia menyukai suami saya. Oleh sebab itu, ayah saya membelikan sebuah flat kecil agar saya bisa kembali ke Jerman.
Ibu saya rupanya terkejut dengan keislaman saya. Bahkan, dia ketakutan. Pesta pernikahan yang kita jalani mengikuti tradisi Pakistan. Meski saya sudah Islam, rupanya keluarga suami tidak begitu menyukai saya. Mereka lebih menyukai seorang wanita yang memang memiliki latar belakang muslim. Kami pun memutuskan pindah negara, karena itu menjadi bagian dari kesepakatan antar keluarga.
Saya tidak merasa perlu berbusana berbeda dari kebanyakan. Saya tidak merasa perlu mengenakan jilbab dalam keseharian saya, tapi bagaimana pun juga, saya merasa nyaman mengenakan jilbab di masyarakat ketika dalam tugas keagamaan. Alasan saya tidak mengenakan jilbab karena ibu saya juga. Bagi ibu saya, menjadi masalah besar jika saya mengenakan jilbab.
Saya seseorang yang mengikuti akal sehat. Saya tidak minum-minuman, saya seorang guru. Jadi, bisa dikatakan saya masuk Islam tidak mengubah kebiasaan lama saya. Bahkan, dengan keislaman saya, saya merasa kuat etika dan moral. Islam menjadi pondasi yang bagus untuk keluarga saya. [miumi/islampos/ +ResistNews Blog ]
loading...
Read more »

Situs Misterius & Perburuan Agen Syiah Hizbullatt

item-thumbnail
+ResistNews Blog - Munculnya sebuah website misterius membuat geger penghuni dunia digital. Website ini menjadi topik utama intelijen di seluruh Timur Tengah lantaran menawarkan imbalan uang bagi mereka yang berkenan memberikan informasi tentang pasukan Hizbullatt...
Hizbullatt adalah gerakan syiah yang telah lama menjadi fokus Intelijen Barat karena terlibat dalam serangkaian aksi penindasan. Termasuk pengeboman yang terjadi 30 tahun lalu terhadap barak Marinir di Beirut, penindasan di Bulgaria 2012 lalu dan perbuatan keji lainnya.
Website misterius ini terbentuk dari hasil kerjasama badan intelijen Barat. Namun juga ada kemungkinan kalau proyek ini adalah operasi Israel untuk mengumpulkan data terkait Agen Hizbullatt…
Hingga berita ini diturunkan beberapa pihak masih bertanya-tanya, siapa pengguna di balik website tersebut…?
Bila mensearching www.stop910.com akan tampak misi website yakni menyedot perhatian atas ‘Unit910’ Hizbullatt yang bertugas memata-matai Mujahidin dan melakukan operasi di seluruh dunia.
Situs www.stop910.com ini berisi foto para agen Hizbullatt dan disertai permintaan kepada pembaca untuk mengirimkan info bagi yang mengetahui status agen pecandu Mut’ah di atas. Ada foto wajah yang sudah dikenali tapi puluhan lainnya belum dikenal.
Situs misterius ini hanya menampilkan foto dan tidak ada informasi detailnya. Mereka menawarkan hadiah bagi yang mau memberikan nomor telepon, nama asli bahkan alamat rumah agen syiah itu.
”Kami menyeru Anda untuk membantu kegiatan kami dengan tujuan membasmi Hizbullatt sampai ke akarnya. Bantu kami dalam upaya ini dengan mengirimkan rincian status mereka terutama identitas asli setiap foto yang telah dipajang dalam situs." Seperti tertulis dalam situswww.stop910.com

Meskipun dimaksudkan menjadi sebuah upaya berbagai negara untuk memerangi kelompok politik Syiah di Libanon, dua pejabat intelijen Barat yang mengetahui soal website dan operasi internasional Hizbullatt mengatakan situs ini dikelola oleh badan intelijen Israel.
"Saya sudah melihatnya dan bertanya-tanya mengapa mereka berbohong," kata seorang petugas intelijen yang berbasis di Beirut. Pejabat yang bekerja untuk badan intelijen Eropa, terutama berfokus pada Hizbullatt, itu setuju berbicara secara anonim karena ia tidak berwenang untuk berbicara kepada wartawan.
Pejabat intelijen lain yang berbasis di Eropa menyatakan kecewa atas banyaknya detail yang ditampilkan dalam website itu. "Saya tidak bisa mempercayai ini," katanya. "Ini sebenarnya mengandung sejumlah besar bahan mentah intelijen yang benar-benar ilegal bagi dinas rahasia Amerika atau Eropa untuk mengeluarkannya ke publik tanpa ada izin dari pejabat di tingkat tertinggi."
Dia menambahkan, "Sekarang siapa pun dapat melihat di dunia online dan mendapatkan ide dari berapa banyak informasi yang kami miliki atas foto yang telah terpampang. Kami memiliki fotonya tapi tidak tahu namanya. Orang lain, kita memiliki nama palsu serta fotonya. Kami memiliki nama pria lain dan fotonya, tetapi membutuhkan nomor teleponnya. Dan ada puluhan nama-nama lain. Saya yakin beberapa orang menyadari bahwa Israel memiliki foto mereka. Tapi mungkin mereka akan lega karena situs mengakui mereka tidak tahu namanya."
Ini bukan cara kita melakukan tradecraft (keahlian di bidang intelijen) di Barat. Saya pikir itu sangat bodoh," ia menambahkan.
Dalam beberapa bulan terakhir ini di Suriah. Telah lama diketahui masyarakat sebagai kelompok yang sering beroperasi sebagai kekuatan militer semi-konvensional. Website itu membuat tuduhan spesifik tentang bagaimana kelompok ini beroperasi.
Website ini dibuka dengan nama Mustafa Bader el-Din sebagai kepala aparat keamanan Hizbullatt yang bertanggung jawab untuk kegiatan internasional.
Situs ini juga menawarkan foto-foto beberapa orang yang dikatakan terhubung ke serangkaian pengeboman atau pembunuhan diplomat Israel di seluruh dunia selama tiga tahun terakhir. Foto-foto di website itu dikonfirmasi otentik oleh sumber Keamanan Barat di Beirut dan oleh anggota keluarga dari Beirut selatan. [lasdipo.com/ +ResistNews Blog ]
loading...
Read more »

Depak Obama, Putin Dinobatkan Jadi Orang Paling Berkuasa di Dunia Tahun Ini

item-thumbnail
+ResistNews Blog - FORBES, majalah keluaran Barat yang dianggap selalu mengeluarkan daftar orang-orang kaya dan berpengaruh, menyebut bahwa Presiden Russia Vladimir Putin merupakan orang paling berkuasa tahun ini.
Putin, masih menurut Forbes, mendepak Presiden Amerika Barack Obama, ke urutan dua. Sementara, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu turun tiga peringkat ke posisi 26.
Ini adalah kedua kalinya sejak Obama menjadi presiden tidak terpilih sebagai orang paling kuat di dunia.
Perkembangan geopolitik baru-baru ini tampaknya merusak kredibilitas Obama sedemikian rupa.  Sehingga, walaupun Amerika masih merupakan negara adidaya terkuat di dunia, ia tidak dianggap sebagai pemimpin top dunia.
Menurut Forbes, Putin telah memperkuat kekuasaannya atas Rusia. Sementara Obama macet oleh skandal penyadapan NSA dan terus sibuk berurusan dengan penutupan pemerintah AS. [islampos/ynet/ +ResistNews Blog ]
loading...
Read more »

Jepang Ngotot Perpanjang Kontrak Inalum

item-thumbnail

+ResistNews Blog - Jepang telah memiliki mayoritas kepemilikan saham PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) selama puluhan tahun. Namun, kepemilikan itu akan berakhir pada 31 Oktober 2013.

Menteri Keuangan, Chatib Basri, mengatakan Jepang sangat ingin memperpanjang kontrak pengelolaan perusahaan tersebut.

"Ini bukan persoalan jual beli. Pemerintah mau ambil atau tidak. Kalau pemerintah tidak ingin ambil alih, Jepang akan memperpanjang kontraknya. Jepang mati-matian mau perpanjang," kata Chatib dalam rapat kerja bersama Komisi XI, Kementerian Keuangan, Kementerian Perindustrian, dan Kementerian BUMN di DPR, Jakarta, hari ini.

Menurut Chatib, Jepang menunjukkan niatnya untuk maju arbitrase dalam perundingan akuisisi perusahaan tersebut.

"Terlihat sekali sampai mereka mau melihat opsi arbitrase. Artinya mereka sungguh-sungguh melihat ini sebagai sesuatu yang menguntungkan," kata Mantan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) itu.

Seperti diketahui berdasarkan perjanjian RI-Jepang pada 7 Juli 1975, kepemilikan Indonesia atas saham Inalum adalah sebesar 41,13 persen, sedangkan Jepang menguasai 58,87 persen saham yang dikelola Konsorsium Nippon Asahan Alumunium (NAA).

Konsorsium ini beranggotakan Japan Bank for International Cooperation (JBIC), yang mewakili pemerintah Jepang dan mendapat porsi 50 persen saham. Sisanya dimiliki 12 perusahaan swasta Jepang. 

Dalam perusahaan yang terletak di Sumatera Utara ini, terdapat pabrik peleburan aluminium yang berkapasitas 225 ribu ton. 

Ada dua PLTA yang terdapat di sana, yaitu PLTA Siguragura dan PLTA Tangga yang masing-masing memiliki generator sebanyak 4 unit. Tujuh generator yang dioperasikan dan satu digunakan sebagai cadangan. 

Kapasitas kedua PLTA itu sebesar 603 MW, yaitu PLTA Siguragura berkapasitas 286 MW dan PLTA Tangga 317 MW. Kedua pembangkit listrik ini dialiri oleh Sungai Asahan. (viva/ +ResistNews Blog )
loading...
Read more »

“TERORISME” (Mengeja Akar dan Realitas Penindakannya di Indonesia)

item-thumbnail

Oleh: Harits Abu Ulya[1]
Pemerhati Kontra-Terorisme & Direktur CIIA (The Community Of Ideological Islamic Analyst)
Islam radikal di Indonesia terkait terorisme?
Saat ini “Terorisme” menjadi diskursus menarik bagi banyak orang. Arus opini yang berkembang “terorisme”  seolah inheren dengan Islam dan kelompok Islam yang dicap radikal. Bahkan BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) membuat kesimpulan bahwa ideologi radikal adalah akar dari terorisme. Di Indonesia kelompok Islam yang cap radikal cukup beragam, namun apakah benar bahwa mereka adalah pilar utama fenomena terorisme? Untuk menjawab pertanyaan diatas, kita perlu empat komponen yaitu hati yang lapang jauh dari sikap emosional dan tendensius, pengetahuan yang cukup terkait realitas kelompok “radikal”, sikap obyektif dan kejujuran.Disamping perlu berani keluar dari jebakan mainstream diskursus Terorisme dan bergeser dari metodologi analisis (framework) kultural yang berkutat kepada persoalan keterkaitan ideologi dan motif dari pelaku terorisme.Kenapa demikian? Berikut perspektif yang bisa saya paparkan.
Di luar perdebatan definisi terorisme yang “no global concencus” sampai saat ini, sejatinya terorisme adalah fenomena komplek yang lahir dari beragam faktor yang juga komplek. Ada faktor domestik seperti kesenjangan ekonomi (kemiskinan), ketidak-adilan, marginalisasi, kondisi politik dan pemerintahan, sikap represif rezim yang berkuasa, kondisi sosial yang sakit, dan faktor lain yang melekat dalam karakter kelompok dan budaya. Ada faktor internasional seperti ketidak-adilan global, politik luar negeri yang arogan dari negera-negara kapitalis (AS), imperialisme fisik dan non fisik dari negara adidaya di dunia Islam, standar ganda dari negara superpower, dan sebuah potret tata hubungan dunia yang tidak berkembang sebagaimana mestinya (unipolar). Selain itu adanya realitas kultural terkait substansi atau simbolik dengan teks-teks ajaran agama yang dalam interpretasinya cukup variatif. Ketiga faktor tersebut kemudian bertemu dengan faktor-faktor situasional yang sering tidak dapat dikontrol dan diprediksi, akhirnya menjadi titik stimulan lahirnya aksi kekerasan ataupun terorisme.
Oleh karena itu, untuk menjelaskan fenomena teror di Indonesia pada tiga tahun terakhir membutuhkan framework analisis (analytical framework) yang tepat, karena akan berimplikasi kepada pemahaman tentang terorisme dan solusinya (A.C Manullang,2006). Realitasnya terorisme memiliki tiga komponen yakni:Pelaku teror (teroris), Tindakan teror dan Sasaran teror (obyek).
Yang pertama melalui Framework kultural; membedah perilaku, sikap dan perbuatan sebagai penjelmaan nilai, sistem kepercayaan atau ideologi.Metodologi ini fokus membaca korelasi antara nilai atau ideologi dengan teroris, intinya adalah interpretasi nilai terhadap aksi (Darnton,1985;Taylor,1985). Dari framework inilah Islam dan umatnya menjadi fokus perhatian, bahkan sering kali kemudian lahir simplikasi tentang ideologi radikal atau kelompok radikal sebagai akar terorisme.Karena radikalisme seolah menjadi inheren dari Islam dan umatnya. Jika terjebak pada framework ini sebenarnya akan makin sulit menjelaskan secara tuntas, lengkap dan obyektif tentang sebab terjadinya teror. Karena diabaikannya komponen ketiga yaitu sasaran teror. Framework ini manfaat untuk menjelaskan modus teror tapi belum mampu menjawab soal mengapa sekelompok orang memilih teror? Mengapa pihak tertentu menjadi sasaran teror? Dan kenapa tindakan teror tersebut muncul diwaktu-waktu tertentu padahal variabel kultural (menyangkut doktrin nilai, ideologi atau agama seperti jihad dan semisalnya) sudah eksis berabad-abad yang lalu?
Disinilah pentingnya menggunakan framework rasional, metodologi ini mengkaji korelasi antara teroris dan sasaran dalam aspek kesamaan-kepentingan, konflik kepentingan dan pola interaksi diantara keduanya.Dalam Framework ini teroris dan sasaran terornya diletakkan sebagai aktor rasional dan strategis. Rasional dalam arti tindakan mereka konsisten dengan kepentingannya dan semua aksi mencerminkan tujuan mereka.Strategis dalam artian pilihan tindakan mereka dipengaruhi oleh langkah aktor lainnya (lawan) dan dibatasi oleh kendala (constrain) yang dimilikinya.
Framework kultural berasumsi nilai menghasikan tindakan, tindakan sangat tergantung persepsi dan pemahaman (ideologi) yang dimiliki teroris. Dengan framework ini semata akan berdampak parsial memahami terorisme dan menyeret publik kepada profil teroris dan tindakan terornya semata sementara sasaran teror di abaikan.Dampak turunannya adalah solusi yang temporer dan parsial. Sementara framework rasional berasumsi kalkulasi strategis antar aktor menghasilkan teror.Frame ini mengharuskan evaluasi terhadap langkah, kebijakan, strategi yang digunakan oleh kedua belah pihak;teroris dan sasaran teror. Dan resiko logisnya penggunaan metodologi ini akan di anggap analisis yang obyektif dan rasional atau dianggap sebagai simpatisan teroris karena manganalisa secara kritis sasaran teror, di saat “sasaran” sedang menjadi “korban”.
Penggunaan framework rasional penting karena mampu menjawab dua hal penting; kondisi yang memunculkan dan kondisi yang meredam terjadinya teror.Belajar paska penyerangan WTC di AS yang disusul dengan kampanye Global War on Terrorism, mereka fokus menuduh the evil ediology sebagai penyebab terorisme namun abai pada faktor penyebab lain. Akhirnya solusi yang digelar justru malahirkan spiral kekerasan yang tidak berujung. “Teroris” dengan aksi terornya konfrontatif dengan teror oleh kekuatan negara (state terrorism).
Dalam wajah yang hampir sama, di Indonesia menempuh dua strategi kontra terorisme. Tapi keduanya terjebak dalam framework kultural (paradigm entrapment), mengidentifikasi kekerasan dan teror inheren dalam Islam dan kelompok-kelompok yang di cap radikal. Akibatnya baik strategi hard power maupun soft power yang diemban Densus 88 dan BNPT seperti menjadi pemantik kekerasan demi kekerasan. Karena menempatkan kelompok-kelompok radikal secara general sebagai ancaman aktual dan potensial. Pendekatan soft power-nya melahirkan kontraksi pemikiran dan membuat kutub radikal-liberal makin kontradiksi diametrikal. Padahal menurut Joseph K Nye, dalam bukunya ‘Softpower’ (2008), strategi ini mengandalkan persuasi daripada kekerasan, fisik maupun kata-kata. Sejauh pengamatan saya, baik BNPT dengan satgas penindakannya maupun Densus 88, tersirat lebih condong hanya menggunakan ‘Hard-power. Dan pendekatan hard power yang mengesampingkan kaidah-kaidah hukum makin membuat antipati dan distrush terhadap nilai keadilan. Maka belajar dari kasus-kasus teror yang muncul di tiga tahun terakhir, sejatinya lebih dominan sebagai bentuk respon dan interaksi antara pelaku teror terhadap pemerintah dalam hal ini institusi kepolisian RI. Dan dendam menjadi stimulan meski “doktrin” agama tetap menjadi bumbu pelengkap dari pilihan aksi teror yang dilakukan oleh individu atau sekelompok orang.
Dari perspektif ini saya melihat beragamnya kelompok Islam yang dicap radikal tidak otomatis mereka adalah kontributor bahkan menjadi inspirator utama lahirnya tindakan terorisme. Kelompok radikal sendiri dinamika perjuangannya dalam dua arus besar, radikal pemikiran dan ada yang radikal fisik atau aksi. Tidak pasti sebangun dan korelatif bahwasanya individu dan atau kelompok yang radikal pada aspek pemikiran kemudian menjadi radikal dalam aksi atau tindakan.Meski keduanya ditemukan spirit yang sama bahwa eksistensinya seperti pandangan Amstrong sebagai respons terhadap sergapan sekularisme dan modernitas yang agresif, yang dianggap bukan saja meminggirkan agama sebagai sekadar urusan pribadi tetapi juga untuk memelihara agama dari pemusnahan oleh sekularisme dan modernitas itu (Karen Amstrong, 2001). Maka tumbuhnya individu-individu dan kelompok-kelompok yang di cap radikal dengan ideologi yang dikembangkan maupun sikap bias dalam merespons perkembangan yang dianggap menyimpang dari agama hanyalah satu faktor disamping faktor-faktor struktural, kultural, dan situasional yang memicu lahirnya tindakan kekerasan terorisme. Jika memaksa memposisikan kelompok Islam radikal sebagai akar terorisme itu sama artinya terlalu over simplikasi dan generalisasi tanpa verifikasi secara rigid.Dan tidak salah jika kemudian kelompok radikal merasakan suasana psikologis terdzalimi secara sistemik baik dalam skala domestik maupun global.
Sebagai contoh di Indonesia cukup eksis; seperti Front Pembela Islam (FPI), Hizbut Tahrir, Ikhwanul Muslimin (IM), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), dan Laskar Jihad (Forum Komunikasi Ahlussunnah Waljamaah), JAT (Jamaah Anshorut Tauhid),FPIS, dan kelompok undergroundlainnya yang dianggap sebagai kelompok radikal dan antitesa dari kelompok sekuler liberal seperti; Jaringan Islam Liberal (JIL) yang bermarkas di Utan Kayu dan kelompok lain yang memiliki agenda sama, seperti Pusat Studi Agama dan Peradaban (PSAP) Muhammadiyah, Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM), Wahid Institute (WI), Perhimpunan dan pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M), Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) NU, Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS), Rahima, Fahmina (Cirebon), Forum Lintas Agama (FLA) Surabaya, LAPPAR Makasar dan lain-lain.Namun yang perlu dicatat bahwa kelompok radikal diatas tidak otomatis akan melakukan aksi terorisme sebagai metode perjuangannya. Dengan kata lain, pemahaman terhadap ‘social origin’sangat penting. Jika tidak, modus stereotyping BNPT dan Densus 88 kepada kelompok-kelompok Islam radikal hanya akan melahirkan apa yang disebut cendekiawan Universitas Oxford, Akbar Ahmed, sebagai ‘Hyper-Ashabiyah’ yang bersumber dari teori Ibn Khaldun tentang ‘Ashabiyah’ (Islam Under Siege, 2004).
Maka fenomena terorisme tetap dengan kompleksitasnya, tidak ada faktor tunggal yang menjadi pemicunya.Sekalipun di Indonesia tumbuh kelompok radikal yang mengambil metode “fisik”  (seperti JM/JI) sebagai “manhaj” perjuangannya, tetap saja variabel pelengkapnya harus ada untuk bisa memunculkan sebuah aksi yang kemudian di cap sebagai “terorisme”.
Dalam buku Root Causes of Terrorism: Myths, Reality, and Ways Forward, Tore Bjørgo menawarkan sebuah tipologi yang dapat digunakan untuk memahami faktor-faktor penyebab terorisme. Bjørgo membedakan antara dua kategori penyebab dalam tipologinya, yaitu preconditions of terrorism dan precipitants of terrorismPreconditions (prekondisi) adalah faktor-faktor yang menyediakan kondisi-kondisi yang dalam jangka panjang kemudian melahirkan terorisme. Sementara itu, precipitants of terrorism adalah peristiwa atau fenomena spesifik tertentu yang secara langsung mendahului atau memicu terjadinya sebuah tindak terorisme. Dalam konteks ini, kondisi domestik dan situasi internasional masa Orde Baru sebagai faktor-faktor struktural, fasilitator (akselerator) dan juga motivasional penyebab aksi “terorisme” oleh anggota kelompok DI/NII dan turunannya seperti Al Jama’ah Al Islamiyah (JM/JI) serta sempalan maupun simpatisannya.
Jadi fenomena terorisme bukan sekedar problem kultural; interpretasi teks langit maupun tek historis (dinamika politik domestik yang represif dan memarginalkan kelompok puritan) yang berbuah sikap dan tindakan.Tapi juga problem rasional; faktor politik global dan domestik serta langkah-langkah penanganan teror yang tidak humanis.Penanganan teror yang terjadi membuat luka “dendam”. Karena “demonstrasi” ketidakadilan dan sikap arogansi aparat (Densus 88) menjadikan dendam mengendap dalam skala komunal. Selain faktor kesejarahan dan ideologi, faktor kebijakan negara yang sangat repressif terhadap kelompok Islam juga dianggap berperan penting yang mendorong kelompok Islam berpotensi melancarkan aksi terror. Mohammed Hafez (2004) menegaskan dengan kesimpulan –mengambil contoh kasus terorisme kelompok Islam di Aljazair- bahwa represi yang brutal oleh rejim menjadi faktor terpenting yang melahirkan aksi-aksi teror dari kelompok Islam yang ditindas dengan kejam. Dalam sebuah moment dimana seluruh ruang untuk berpartisipasi tertutup rapat dan terjadi penindasan terus menerus, maka satu hal yang mungkin terjadi adalah perlawanan dalam bentuknya yang paling ekstrim: terorisme.
Jadi langkah bijak untuk mereduksi bahkan mangaborsi terorisme di Indonesia adalah; pemerintah dengan sadar dan serius plus kapasitas dan instrumen yang dimilikinya bekerja menjawab faktor-faktor penyebabnya secara komprehensif.Meminjam sindiran cerdas Kurzman, di tengah hiruk-pikuk besarnya perhatian terhadap terorisme, dunia aslinya telah jauh lebih aman. Dalam tulisan bersama Neil Englehart: “Welcome to World Peace,” (Social Forces, Volume 84, Number 4, June 2006), menyindir: Boleh jadi respon terbaik terhadap terorisme adalah membiarkannya!
Menurut Kurzman, serangan teroris jarang terjadi, dan korbannya tak banyak – dibandingkan dengan korban perang saudara, pembunuhan, atau kecelakaan lalu lintas. Pada tingkat dunia, terorisme hanya menimbulkan sedikit korban. Mengutip data World Health Organization(WHO);bahwa 150,000 orang mati setiap hari. Sementara Pusat Lawan-Terorisme Nasional Amerika Serikat mengatakan jumlah orang yang mati karena terorisme kelompok Islamis adalah kurang dari 50 nyawa perhari, dan tak sampai 10 di luar Irak, Pakistan, dan Afghanistan.Bandingkan angka-angka di atas dengan 1,500 orang yang mati setiap hari karena kekerasan sipil, 500 karena perang, 2,000 karena bunuh diri, dan 3,000 karena kecelakaan lalu lintas. Malahan, ada 1,300 orang per hari yang mati karena gizi buruk. Korban malaria juga banyak. Kalau tujuannya adalah menyelamatkan nyawa manusia, lebih baik uang digunakan untuk beli kelambu daripada perang melawan teror (Charles Kurzman, The Missing Martyrs; Why They Are So Few Muslim Terrorists,New York: Oxford University Press, 2011). Selanjutnya, gangguan yang ditimbulkan terorisme sebagian besar timbul karena pemberitaan yang berlebihan. Kelompok teroris dan media “bekerjasama” dalam hal ini. Ketika banyak masalah lebih penting, mendesak, dan menyangkut nyawa lebih banyak manusia perlu ditangani, sementara sumberdaya sangat terbatas, kenapa terobsesi dengan terorisme? (Englehart-Kurzman 2006, 1957; Kurzman 2011).Bagaimana dengan Indonesia? Berapa ribu orang meninggal dijalan tiap tahunnya? Belum lagi karena faktor malnutrisi dan sebagainya.
Maka rasanya sangat timpang jika fokus di law enforcement dan tindakan deradikalisasi dengan paradigma yang tendensius tapi mengabaikan faktor domestik dan global yang interpendensi. Justru langkah-langkah penindakan yang  berakibat sekitar 900 orang yang ditangkap dan 110 orang lebih meninggal (exstra judicial killing) tanpa mengindahkan koridor-koridor hukum yang berlaku itu sama artinya melestarikan teror dan terorisme di Indonsia.(Lihat lampiran-Hasil pantauan lapangan: Fakta-fakta penindakan Densus88 terhadap terduga teroris.)[2]
Dengan pendekatan metodologi analisis (framework rasional) juga mengharuskan adanya evaluasi terhadap dua strategi pokok langkah kontra-terorisme yang diemban oleh Densus88 dan BNPT. Jika tidak, maka saya mengeja fenomena terorisme di Indonesia tidak akan pernah ada ujungnya. Terorisme di Indonesia disamping ada dimensi ideologi, namun juga memuat kepentingan “proyek” ekonomi, politik bahkan terkait “maslahat” temporal kaum opuntunir. Dan Indonesia akan menjadi lahan subur reproduksi “teroris” baik oleh jaringan (target kontra terorisme) dalam rangka menuntut balas (qishas) maupun permainan intelijen gelap untuk menjaga “proyek” kontra terorisme eksis keberlangsungannya.[]

[1] Disampaikan dalam FGD Tim Teroris Komnas HAM Pusat, 24-25 Oktober 2013 di Hotel Oria Jakpus
[2] Lihat di lampiran; Hasil pantauan lapangan:Fakta-fakta penindakan Densus88 terhadap terduga teroris.
[kiblat.net/ +ResistNews Blog ]
loading...
Read more »

Konspirasi Imperialis Salibis terhadap Daulah Utsmaniyah

item-thumbnail
Sekali lagi, kaum salib membuktikan bahwa mereka adalah kaum yang tidak bisa menerima nasihat, mengambil pelajaran, dan rakus untuk membantai kaum muslimin. Sebelumnya mereka telah membuktikan kebenaran sabda Rasulullah saw, “Bila Kaisar (Heraclius) mati maka tidak ada lagi Kaisar (lain) setelahnya.” (HR. Bukhari). Itulah maksud Allah SWT menakdirkan mereka tidak memiliki negara permanen di kawasan Syam.
Setelah kekalahan Heraclius pada masa Khalifah Umar, kaum salib sempat kembali di bawah slogan Perang Salib (Crusade) dan berhasil merebut Al-Quds. Mereka tinggal di kawasan tersebut dalam jangka waktu lama, sekitar dua abad. Namun,akhirnya mereka tetap terusir. Shalahuddin Yusuf Al-Ayyubi berhasil merebut kembali Al-Quds pada Perang Hittin (4 Juli 1187) dan kembali sabda Rasulullah SAW terbukti.
Perang Salib IX—sekaligus yang terakhir—berhasil dimenangkan kaum muslimin. Direbutnya kembali Antakya (1268), Tripoli (1289), dan Akka (1291) menandai berakhirnya pemerintahan Kristen di Syam. Bahkan, basis terakhir kaum salib di Pulau Ruad—yang hanya 3 km dari Pantai Suriah—berhasil direbut oleh pasukan Daulah Mamalik pada 26 September 1302.
Kaum salib Eropa kembali ke Syam setelah sekitar enam abad terusir dari kawasan itu. Kali ini mereka mengubah slogan misi mereka dari Perang Salib menjadi imperialisme modern yang hakikatnya adalah Perang Salib fase kedua melawan kaum muslimin.
Kawasan Syam, negara-negara Arab, dan Afrika menjadi lahan garap imperialisme Inggris dan Prancis setelah Daulah Utsmaniyah tua dan lemah. Kedua negara imperialis itu memecah-belah dan membagi-bagi Syam di antara mereka serta menghapus sistem khilafah islamiyah pada 3 Agustus 1924. Italia pun tertarik dan ingin mendapatkan jatah hingga berhasil menduduki Libia dan sejumlah wilayah di Afrika (1912).

Syam: Pecahan Daulah Utsmaniyah
Imperialis Barat memulai konspirasi terhadap Daulah Utsmaniyah dengan cara menanam benih-benih pemikiran nasionalisme dan mendukung gerakan-gerakan separatis, khususnya di negara-negara Kristen Balkan dengan kucuran dana dan persenjataan. Mereka juga menopang berbagai propaganda yang bertujuan menghancurkan Islam, seperti Thuranisme (nasionalisme Turki), Slavisme (nasionalisme Balkan melawan kaum muslimin), sekularisme (memisahkan agama dari negara), serta meminggirkan syariat Islam dari hukum positif, ekonomi, keluarga, dan pendidikan.
Mereka juga mendorong Yahudi Zionis dan para penolong kaum salib untuk bergabung dalam gerakan-gerakan rahasia dalam rangka menghancurkan Daulah Utsmaniyah. Apalagi Sultan Abdul Hamid II pernah menolak hadiah besar dari Yahudi agar menjual tanah Palestina kepada mereka. Demikianlah, sejumlah besar Yahudi Salonika masuk ke dalam Organisasi Persatuan dan Kemajuan Turki. Organisasi sekuler inilah yang kemudian merencanakan penghapusan sistem khilafah islamiyah di Turki.
Di antara langkah konspirasi imperialis terhadap Daulah Utsmaniyah adalah operasi yang dilancarkan Inggris pada tahun 1916 dengan menyulut api Revolusi Arab di Hijaz yang dipimpin Syarif Husain bin Ali melawan Daulah Utsmaniyah. Ketika terjadi Perang Dunia I (1914-1918) Inggris dan Prancis membuat kesepakatan rahasia untuk menjegal Turki dan Arab. Mereka menandatangani Perjanjian Sykes-Picot (16 Mei 1916) untuk membagi kekayaan Daulah Utsmaniyah di Iraq dan Syam setelah Sekutu memenangkan Perang Dunia I. Inggris menguasai Iraq, Yordania, dan Palestina, sementara Prancis mengusai Suriah dan Lebanon.
Setelah itu dilanjutkan dengan Deklarasi Balfour (2 November 1917). Dalam deklarasi ini imperialis Inggris menghadiahkan Palestina kepada sekutunya, Zionis, untuk dijadikan tempat berdirinya Negara Israel bagi Yahudi di seluruh dunia.

Pengusiran Imperialis Salibis
Setiap negara yang dijajah oleh kaum imperialis salibis pasti terdapat sekelompok orang yang beriman, yang berjihad di jalan Allah. Mereka memerangi dan menyerang para penjajah dengan persenjataan yang ada meski minim dan jauh jika dibandingkan dengan persenjataan kaum penjajah. Namun, mereka memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh para penjajah—kecuali mereka masuk Islam—yaitu keimanan yang memenuhi hati. Mereka tidak gentar terhadap musuh dan tidak takut celaan siapa pun. Besarnya jumlah korban jiwa tidak memalingkan mereka untuk berjihad.
Aljazair; rakyatnya mempersembahkan ratusan ribu nyawa syuhada di jalan Allah demi mengusir penjajah Prancis. Mereka tidak mau berhenti berjihad, berperang, dan tidak lelah, hingga mereka berhasil mewujudkan kemerdekaan dan terbebas dari para penjajah. Imperialis Prancis terusir kembali ke Eropa meski sebelumnya pernah mengira Aljazair sebagai bagian yang tak terpisahkan, tepat di seberang lautan daratan Prancis.
Sementara di Syam, Prancis terpaksa meninggalkan Suriah pada 17 April 1946 setelah pendudukan selama seperempat abad. Prancis juga meninggalkan Lebanon pada 31 Desember 1946.
Lain halnya Inggris; cara untuk meninggalkan jajahannya berbeda dengan penjajah lain. Inggris menjajah Palestina dan memanfaatkan penuh penjajahannya selama tiga puluh tahun untuk mempersiapkan kondisi negeri ini demi kepentingan Zionis Yahudi, agar mereka supaya meneruskan penjajahan sepeninggal Inggris. Mereka pun mengumumkan berdirinya Negara Israel ketika Inggris mengumumkan menghentikan kolonialisasi pada tahun 1948.
Palestina memang masih dijajah oleh Yahudi. Namun, pasti berakhir suatu saat nanti dengan hikmah yang dikehendaki Allah. Penjajahan Zionis ini dengan perannya memiliki usia terbatas di sisi Allah. Selanjutnya akan berakhir dan mati seperti halnya imperialis lain yang sudah tumbang. Sejarah telah membuktikan bahwa setiap penjajahan dan negara memiliki batas usia tertentu. Demikan pula dengan rezim Nushairi yang menjajah Suriah, yang saat ini di ambang keruntuhan.
Penjajahan tersebut menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kaum muslimin yang meninggalkan agama dan jihad serta lebih condong kepada dunia. Akhirnya dunia pun tercabut dari mereka melalui tangan-tangan musuh. Namun, rahmat Allah lebih besar dari siksaan yang ditebar kaum penjajah.
Orang yang membandingkan kondisi kaum muslimin sebelum dan sesudah penjajahan Zionis di Palestina dan rezim Nushairi di Suriah akan mengetahui betapa besar nikmat yang dikaruniakan Allah kepada kaum muslimin. Di antaranya adalah meningkatnya kesadaran beragama. Jihad di Syam telah membangkitkan orang yang lelap serta menjadi loncatan dan kebangkitan bagi kaum muslimin; untuk kembali kepada Islam dan menyalakan obor jihad di hati mereka. [kiblat.net/ +ResistNews Blog ]
loading...
Read more »

Israel Tabuh Genderang Perang dengan Palestina

item-thumbnail
+ResistNews Blog - SEJUMLAH pejabat Israel dari pemerintahan Benjamin Netanyahu mengancam akan melancarkan apa yang mereka sebut dengan perang penentuan di Jalur Gaza. Menargetkan Hamas dan kelompok-kelompok perlawanan Palestina bersenjata di Gaza.
Salah satu tokoh utama dari pejabat Israel adalah Yuval Steinitz, Menteri Intelijen Israel, yang mengatakan bahwa kelompok-kelompok bersenjata Palestina telah mulai menembakan peluru dari Gaza ke wilayah Israel.
Dia mengatakan bahwa seharusnya serangan peluru terus berlanjut, dan Israel tidak akan memiliki pilihan lain selain untuk mengakhiri situasi ini, cepat atau lambat.
Steinitz menambahkan bahwa ia tidak percaya dengan kesepakatan apapun, atau berdamai melalui jalur politik dengan kelompok-kelompok bersenjata di Gaza. Namun Israel akan segera melancarkan serangan yang keras dan tegas.
Pernyataan ini datang hanya satu hari setelah militer menembakkan rudal dekat sebuah sekolah dasar, di belakang menara Maqousy, barat laut Kota Gaza.
Juru bicara militer Israel, Avichai Adraee, mengklaim penembakan ini menargetkan dua daerah di Gaza utara. Adraee mengatakan bahwa Israel tidak akan ragu-ragu dalam menyerang Gaza.
Israel baru-baru ini melakukan berbagai invasi terbatas ke daerah pesisir, terutama di daerah perbatasan, meratakan dan menumbangkan tumbuhan di ladang milik warga Palestina. [islampos/imemc/ +ResistNews Blog ]
loading...
Read more »

Setengah dari Jumlah Anak di Inggris Hidup di Rumah Kurang Layak

item-thumbnail
+ResistNews Blog - LEMBAGA Amal untuk Anak-Anak Inggris dikabarkan telah mengungkapkan fakta yang cukup mengejutkan. Dalam laporannya, lembaga ini menunjukkan setengah dari anak-anak di Inggris tinggal di rumah yang tak mampu menahan dinginnya suhu udara saat musim dingin. Sementara itu, seperempat dari rumah mereka dikatakan terlalu lembab, worldbulletinmelaporkan pada Rabu (30/10/2013).
Dalam sebuah penelitian terhadap 2000 anak, 76 persen anak mengatakan keluarga mereka tidak mampu, 53 persen mengatakan rumah mereka terlalu dingin saat musim dingin, 26 persen mengatakan rumah mereka terlalu lembab atau mengalami masalah, dan 24 persen menyebut rumah mereka amat dingin hingga tak bisa memberikan kenyamanan saat musim dingin berlangsung. Selain itu, 55 persen anak di Inggris mengatakan mereka merasa malu disebut miskin dan 14 persen mengatakan mereka telah mengalami intimidasi karena kemiskinan yang dialami.
Russia Today mengutip Matius Reed, kepala eksekutif Lembaga untuk Anak, mengatakan “Bagi jutaan anak di negara maju, kemiskinan adalah realitas yang kian memberatkan pemerintah, dan itu semakin parah. Banyak keluarga harus menghadapi pilihan yang tidak bisa diterima, seperti kepanasan atau kelaparan. Hal ini memalukan di negara manapun, khususnya di salah satu terkaya di dunia.”
Secara keseluruhan, diperkirakan sebanyak tiga juta anak di Inggris dikatakan hidup di bawah garis kemiskinan. [islampos/wb/ +ResistNews Blog ]
loading...
Read more »

Khilafah ‘Abbasiyyah Melestarikan Tempat Bai’at Aqabah

item-thumbnail
Jika ada peristiwa yang mengubah sejarah, maka peristiwa itu adalah peristiwa Bai’at ‘Aqabah. Karena melalui bai’at ini, Nabi SAW mendapatkan kekuasaan dari penduduk Yatsrib, dan mengantarkan terjadinya revolusi Islam. Revolusi ini telah mengantarkan Nabi SAW ke tampuk kekuasaan, dan menjadikan Islam sebagai agama dan ideologi yang berdaulat di muka bumi. Melalui peristiwa ini, Rasulullah SAW telah membuktikan sabdanya, bahwa dengan Lailaha illa-Llah, seluruh bangsa Arab akan tunduk kepada umat Islam, dan bangsa non-Arab akan membayar jizyah kepada mereka.
Disebut Bai’at ‘Aqabah, karena memang peristiwa penting ini terjadi di Aqabah, jaraknya kira-kira 50 m dari tempat melempar Jumrah ‘Aqabah, di tiang ‘Aqabah, tanggal 10 Dzulhijjah. Tempat yang digunakan Nabi untuk mengambil bai’at dari penduduk Yatsrib itu kemudian diabadikan oleh Khalifah ‘Abbasiyyah. Di tempat itu, dibagun masjid berukuran 7 x 10 m. Masjid ini sangat mudah dikenali, selain karena tempatnya dekat dengan tiang ‘Aqabah, juga karena bentuknya yang klasik.
Masjidnya dicat warna krem, tidak beratap, berukuran sekitar 7 X 10 meter, tapi tidak ada jamaah di dalamnya. Bagaimana mungkin ada jemaah, pagar besi yang mengelilinginya selalu dikunci siang malam. Lagi pula tak ada tempat berwudhu dan toilet sebagaimana lazimnya masjid. Meski begitu, pengunjung bisa melihat dalamnya masjid. Sebab, pintu dari sayap kanan terbuka. Inilah Masjid Baiat, masjid yang dibangun oleh Khilafah Abbasiah untuk mengabadikan peristiwa bersejarah itu.
Masjid ini sempat terkubur tanah. Namun dalam proses pembangunan besar-besaran Jamarat, buldozer yang melakukan pengerukan tanah terantuk batu yang sangat keras. Setelah diteliti, ternyata batu keras tersebut merupakan masjid. Maka, masjid itu dibiarkan seperti apa adanya. Meski demikian, masjid ini tidak difungsikan sebagaimana masjid pada umumnya, hanya sebagai tempat berziarah.
Meski demikian, bentuk masjid tetap dipelihara. Misalnya tempat imam shalat diberi sajadah. Demikian pula dua saf di belakang imam. Semua sajadah dibiarkan kotor dan berdebu, karena memang tidak digunakan. Di tempat imam juga terdapat tempat meletakkan microphone, sehingga terkesan masjid ini aktif digunakan. Di beberapa sudut juga terdapat tempat al-Qur’an.
Karena masjid ini terbuka tanpa atap, maka ruang dalamnya tak ubahnya pelataran. Tak ada keramik yang bagus apalagi marmer sebagaimana Masjidil Haram. Tapi tempat ini mempunyai nilai sejarah yang sangat penting dalam Islam. Karena begitu pentingnya tempat ini bagi umat Islam, maka di luar musim haji, biasanya masyarakat Arab sering mengunjungi masjid ini.
Di tempat inilah, penduduk Yatsrib (Madinah) melakukan baiat kepada Rasulullah untuk taat dan tidak berbuat syirik. Ketika itu, Rasulullah SAW ditemani pamannya ‘Abbas bin ‘Abdul Muthalib yang belum beriman. Meski demikian, dia sangat memperhatikan keponakannya dan sangat menjaga keselamatannya. Bai’at ‘Aqabah terjadi dua kali. Baiat pertama terjadi tahun 621 M, yaitu perjanjian antara Rasulullah dengan 12 orang dari Yatsrib yang kemudian mereka memeluk Islam. Baiat Aqabah ini terjadi pada tahun kedua belas kenabiannya. Baiat ini berisi penyataan mereka untuk tidak menyekutukan Allah dengan apa pun. Mereka akan melaksanakan apa yang Allah perintahkan. Ketiga, mereka akan meninggalkan larangan Allah.
Setahun kemudian, tahun 622 M, Rasulullah kembali melakukan bai’at di Aqabah. Kali ini perjanjian dilakukan Rasulullah terhadap 73 orang pria dan 2 orang wanita dari Yatsrib. Wanita itu adalah Nusaibah bint Ka’ab dan Asma’ bint ‘Amr bin ‘Adiy. Bai’at ini terjadi pada tahun ketiga belas kenabian. Mush’ab bin ‘Umair yang menjadi utusan Nabi di Madinah ikut bersama penduduk Yatsrib yang sudah terlebih dahulu masuk Islam, datang ke tempat tersebut.
Isi baiat mereka adalah, bahwa mereka akan mendengar dan taat, baik dalam perkara yang mereka sukai maupun yang mereka benci. Mereka akan berinfak, baik dalam keadaan sempit maupun lapang. Mereka akan beramar ma’ruf dan nahi munkar. Mereka juga berjanji agar tidak terpengaruh celaan orang-orang yang mencela di jalan Allah. Mereka berjanji akan melindungi Nabi Muhammad sebagaimana mereka melindungi para wanita dan anak mereka sendiri. Mereka pun berjanji untuk siap mengorbankan kehormatan mereka, dan berperang demi membela Nabi Muhammad SAW.
Inilah peristiwa bersejarah dan merupakan titik balik kemenangan Islam dan kaum Muslim, yang banyak dilupakan. Bagaimana tidak, tanggal 10 Dzulhijjah, saat mereka di Mina hanya melempar Jumrah ‘Aqabah, seolah tempat dan peristiwa bersejerah itu pun tidak ada dalam ingatan mereka. Padahal, seharusnya dengan dikhususkannya Jumrah ‘Aqabah tanggal 10 Dzulhjjah itu bisa menggugah pertanyaan dalam benak mereka, ada apa dengan ‘Aqabah? Namun, nyatanya tidak. [hizbut-tahrir.or.id/ +ResistNews Blog ]
loading...
Read more »
Home
loading...