Demokrasi, Strategi Hapus Jihad fi Sabilillah

Jihad fi sabilillah merupakan syariat yang agung dalam Islam, pelaksanaan jihad tidak pernah absen dari panggung sejarah emas perjalanan u...


Jihad fi sabilillah merupakan syariat yang agung dalam Islam, pelaksanaan jihad tidak pernah absen dari panggung sejarah emas perjalanan umat Islam. Kegemilangan jihad fi sabilillah telah mengantarkan ummat ini ke posisi puncak kejayaannya hingga musuh-musuh pun akhirnya sadar bahwa salah satu kunci untuk menundukkan umat Islam adalah dengan cara menjauhkan mereka dari syariat jihad fi sabilillah.

Upaya untuk menceraikan ummat Islam dari jihad fi sabilillah bukanlah perkara baru di zaman ini, telah berlalu upaya-upaya simultan dari musuh-musuh Islam yang bertujuan menghapus jihad dari benak kaum Muslimin. Tercatat uji coba musuh Islam dalam menihilkan jihad fi sabilillah dilakukan dengan mendistorsi ajaran Islam seperti munculnya aliran-aliran yang meyakini bahwa jihad dalam makna sebenarnya, yaitu perang bersenjata, bukanlah cara memperjuangkan Islam hingga mendistorsi makna jihad itu sendiri.

Cara ini bisa dikatakan merupakan cara klasik untuk memisahkan kaum Muslimin dari jihad, hari ini cara-cara seperti itu sudah tidak terlalu efektif mengingat kesadaran kaum Muslimin untuk kembali menggali ajaran-ajaran Islam dari sumber yang otentik semakin tinggi, oleh karena itu musuh Islam menambahkan formula baru guna melanggengkan tujuan tersebut.

Musuh akan tetap menjadi musuh dan tidak akan berhenti untuk menghancurkan lawannya. Ketika sebuah strategi mengalami penurunan efektifitas maka perlu ada modifikasi atau tambahan elemen baru. Elemen baru itu bernama Demokrasi.

Dua momentum besar di akhir abad 20 dan awal abad 21 mengembalikan kesadaran kaum Muslimin terhadap syariat yang selama ini mereka tinggalkan yaitu jihad fi sabilillah. Era jihad Afghanistan dan lahirnya gerakan jihad global Al Qaeda telah berhasil mensosialisasikan syariat jihad ke tengah-tengah ummat. Peta kekuatan pun berubah, musuh Islam kemudian memetakan ulang kaum Muslimin menjadi 4 elemen utama sebagaimana dipublikasikan oleh Rand Corporation bertajuk “Civil Democratic Islam, Partners, Resources and Strategies” yaitu,
  • Muslim Modernis
  • Muslim Tradisionalis
  • Muslim Sekuleris
  • Muslim Fundamentalis
Rand Corp menggambarkan bahwa 3 kelompok Muslim selain fundamentalis relatif dapat menerima gagasan-gagasan demokrasi, kaum tradisionalis sekalipun dapat dibentuk menjadi moderat dan mau menerima demokrasi sebagai gagasan modern. Sementara kelompok fundamentalis digambarkan sebagai kelompok penentang demokrasi dan nilai-nilai barat karena mereka menginginkan pengamalan syariat Islam secara totalitas. Rand Corp juga merekomendasikan cara melawan fundamentalis dengan memanfaatkan 3 elemen selainnya. (http://www.rand.org/content/dam/rand/pubs/monograph_reports/2005/MR1716.pdf)

Julukan teroris kemudian disematkan kepada siapa saja yang ingin mengamalkan syariat jihad fi sabilillah. Dan kaum fundamentalis dianggap sebagai pihak yang dianggap paling berpotensi melakukan tindak terorisme (baca: jihad fi sabilillah). Atas namaWar on Terror, berbagai riset dan penelitian dilakukan untuk mengkaji berbagai strategi guna mereduksi kembali jihad fi sabilillah dari kaum Muslimin. Dari berbagai riset dan penelitian yang dilakukan musuh-musuh Islam, demokrasi menempati kedudukan penting untuk mereduksi jihad fi sabilillah, mempromosikan demokrasi menjadi startegi modern yang menguatkan strategi klasik dalam rangka kembali memalingkan kaum Muslimin dari jihad.

International Affair Review sebuah lembaga penelitian kebijakan luar negeri Amerika di bawah naungan George Washington University mempublikasi sebuah laporan berjudul “Rethinking The Relationship between Democracy and Terrorism.” Dalam laporan tersebut dibahas salah satu strategi melawan terorisme (jihad) adalah dengan mempromosikan dan atau mendukung demokratisasi di negara-negara yang berpotensi melahirkan para teroris (mujahid) seperti di negara-negara Timur Tengah.

Promosi dan dukungan terhadap demokratisasi harus dilaksanakan secara terpisah dengan strategi kontra-terorisme untuk menghindari resistensi walaupun kedua hal tersebut saling berhubungan. Kebebasan sipil, kesempatan partisipasi politik, penegakkan hukum yang stabil diyakini menjadi latarbelakang demokratisasi terbukti secara empiris dapat menekan terorisme (jihad fi sabilillah). (lihat : http://www.iar-gwu.org/sites/default/files/articlepdfs/Democracy%20and%20Terrorism.pdf)

Pemilu yang sebentar lagi tiba di negri ini adalah waktu yang paling tepat bagi pihak-pihak promotor demokrasi untuk menjalankan agenda programnya. Tentu program ini tidak lepas dari salah satu tujuan yang telah kita bahas diatas yaitu mempengaruhi umat Islam untuk berpartisipasi aktif dalam sistem demokrasi yang tanpa sadar menyeret mereka untuk kembali melupakan jihad fi sabilillah atau minimal menjadikan jihad fi sabilillah hanyalah berupa jargon dan slogan-slogan kosong tanpa amal nyata sesuai ketentuan syariat.

Program dikemas sedemikian rupa dengan memainkan isu, opini dan publikasi-publikasi baik bersifat positif maupun negatif, kesemuanya bermuara pada tujuan yaitu partisipasi dalam demokrasi dari kaum Muslimin dan menyibukkan mereka dengan hal tersebut sehingga meninggalkan segala upaya untuk merealisasikan perjuangan melalui jalan jihad fi sabilillah. Umat harus waspada dan cermat melihat fenomena ini, tidak perlu menari diatas genderang musuh, makar ini hanya pengulangan dari makar-makar masa lalu.

Menilik fakta dalam konteks Indonesia, strategi ini spertinya memang efektif dan relatif berhasil, hal ini terbukti dengan fenomena hilangnya militansi dari aktivis-aktivis Islam berserta tokoh-tokohnya ketika mereka terjun dan mengarungi sistem demokrasi, terlebih semangat jihad fi sabilillah yang kian hari kian menghilang dari mereka.

Aktivis-aktivis tersebut dibuat asyik menikmati demokrasi, mereka kemudian meyakini bahwa demokrasi adalah kancah perjuangan Islam yang ideal, demokrasi adalah cara menyelesaikan masalah tanpa masalah (jihad fi sabilillah dinilai adalah cara memperjuangkan Islam yang menimbulkan masalah). Distorsi makna jihad fi sabilillah pun terjadi. Berpartisipasi dalam pemilu dinilai sebagai jihad, mengawal proses penghitungan suara dibilang ribath dan sejumlah distorsi-distorsi lain yang merusak syariat. Keberhasilan strategi menjauhkan umat dari jihad fi sabilillah dengan demokrasi benar-benar terbukti efektif.

Di negeri ini kita bisa melihat, para aktivis, da’i dan tokoh-tokoh Islam yang dikenal militan, mendukung jihad, mendukung penegakkan syariat, anti demokrasi, menolak hukum sekuler kini setelah mereka berpartisipasi dalam demokrasi semua itu sirna. Ini diperparah dengan perubahan-perubahan pendapat serta sikap mereka yang bertolakbelakang dengan sikap sebelumnya. Ini semua kemudian mempengaruhi kaum Muslimin awam yang ada dibelakangnya.

Jihad fi sabilillah kembali “hilang”, tinggal slogan-slogan kosong yang tersisa. Musuh Islam tentu sangat senang dengan fenomena ini, semakin banyak kaum Muslimin yang awalnya memiliki militansi jihadi kini merubah militansinya tersebut ke ranah demokrasi. Mereka-mereka yang menghapus syariat jihad atas nama perang melawan terorisme pun diuntungkan, cukup dengan menyodorkan kesempatan berpartisipasi dalam demokrasi maka otomatis akan mematikan konsep memperjuangkan Islam dengan jalan jihad, jihad mereka akan berubah di bilik-bilik suara.

Sekali lagi kaum Muslimin harus sadar bahwa mereka sedang masuk perangkap untuk kesekian kalinya, kekuatan mereka yang pernah membawa mereka memperoleh kejayaan sedang dilucuti dengan sebuah perangkap bernama demokrasi. Pilihan ada di tangan umat Islam, masuk kedalam perangkap musuh atau memilih menyelamatkan diri.

Ada kata yang sering diucapkan, “Hidup itu pilihan.” Mari memilih dengan cermat, jujur dan bertanggungjawab baik di dunia dan di akhirat.

Penulis: Abu Syimar

[kiblat.net/ +ResistNews Blog ]

COMMENTS

Name

#indonesiatanpajil,4,afghanistan,158,afrika,54,agama,303,agenda acara,3,ahmadiyah,3,ajzerbaijan,1,Aksi Gema Pembebasan Soloraya tolak RUU Pendidikan 7 May 2012,1,al islam,178,aljazair,6,amerika,628,analisi,1,analisis,330,analisisjihad,69,arab saudi,91,argentina,1,asean,1,asia,1,australia,51,austria,3,azerbaijan,1,bahrain,4,bangladesh,16,belanda,23,belgia,3,berita,618,beritanasional,1973,bisnisdanekonomi,39,bolivia,1,brasil,5,brunei,15,budaya,25,buletin islam underground noname zine,2,bulgaria,1,ceko,3,chechnya,8,china,80,cina,1,contact,1,democrazy,40,denmark,5,detik2hancurkapitalisme,77,disclaimer,1,diskusi,6,dubai,9,ekonomi,488,eropa,51,ethiopia,2,event,35,faeture,3,feature,4517,featured,13,filipina,28,focus,10,Foto : Pasukan Israel (huffington post),1,Foto-foto Aksi Sebar Flyer #IndonesiaTanpaJIL di Car Free Day Solo,1,galeri,45,ghana,1,guatemala,1,guyana,1,hacker,6,halal,16,healthnews,33,hikmah,8,hukum,412,india,29,informasi,58,inggris,171,intelijen,2,internasional,3748,interview,26,irak,122,iran,61,irlandia,3,islamichistory,79,islamophobia,2,islandia,1,israel,96,italia,16,jepang,8,jerman,35,kamboja,3,kamerun,1,kanada,14,kashmir,1,kaukasus,2,kazakhstan,4,kenya,10,kesehatan,24,khilafahbangkit,33,khutbahjumat,2,kiamat,1,kirgistan,1,kolombia,4,komunitas,6,konspirasi,86,korea,6,kosovo,1,kristologi,1,kuba,1,kuwait,6,laporankhusus,4,lebanon,13,libanon,4,liberal,6,liberia,1,libya,28,malaysia,33,mali,24,maroko,7,media,140,meksiko,1,mesir,244,minoritas,1,motivainspira,4,movie,1,mujahidin,439,muslimah,84,myanmar,104,nafsiyah,73,nasional,1,nigeria,14,norwegia,12,olahraga,1,opini,222,pakistan,69,palestina,511,papua,1,pendidikan,40,pengetahuan,70,perancis,102,perjalanan,32,polandia,1,politik,617,poster propaganda,2,praha,1,press release,135,qatar,8,resensi,17,review,141,rusia,83,sejarah,13,senegal,1,singapura,5,skotlandia,1,slovakia,1,somalia,63,sosial,1186,sosok,43,spanyol,13,spionase,1,srilanka,8,sudan,8,suriah,441,swedia,7,swiss,5,syariah,3,syiah,4,Tafsir,1,taiwan,1,tajikistan,4,takziyah,1,technews,51,technews',1,teknologi,80,thailand,26,timor leste,1,timur tengah,3,transkrip,32,tsaqofah,151,tunisia,25,turki,86,ukraina,3,uruguay,2,uzbekistan,8,vatikan,8,venezuela,4,video,361,wasiat,14,wawancara,89,yahudi,7,yaman,75,yordania,29,yunani,4,zimbabwe,1,zionist,4,
ltr
item
ResistNews Blog: Demokrasi, Strategi Hapus Jihad fi Sabilillah
Demokrasi, Strategi Hapus Jihad fi Sabilillah
http://www.kiblat.net/thumb.php?w=300&h=0&src=/files/2014/03/demokrasi.jpg
ResistNews Blog
http://blog.resistnews.web.id/2014/03/demokrasi-strategi-hapus-jihad-fi.html
http://blog.resistnews.web.id/
http://blog.resistnews.web.id/
http://blog.resistnews.web.id/2014/03/demokrasi-strategi-hapus-jihad-fi.html
true
1507099621614207927
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy