ila mata filistin

بسم الله الرحمن الرحيم
Sampai Kapan Masalah Palestina Tetap Terkerdilkan?
********************************
Sesungguhnya masalah Palestina tidak bisa diselesaikan kecuali dengan melenyapkan entitas Yahudi. Sementara untuk melenyapkannya butuh pada tentara bergerak menghantamnya, sehingga entitas Yahudi benar-benar lenyap …
Kaum kafir penjajah pendukung entitas Yahudi dan para anteknya telah berhasil dalam mengkerdilkan (membonsai) masalah Palestina, dari sebagai masalah Islam menjadi masalah Arab, lalu menjadi masalah nasional Palestina, bahkan menjadi setengah permasalahan!
Sungguh telah menjadi jelas bagi semua yang melihat dengan kedua matanya, bahwa Palestina tidak akan dibebaskan secara penuh kecuali dengan mengembalikan permasalahan Palestina menjadi permasalahan Islam. Dengan begitu masalah Palestina menjadi permasalahan semua Muslim baik sipil maupun militer, dari ujung timur di Indonesia hingga ujung barat di Rabath. Dengan demikian, setiap Muslim akan menyadari bahwa Palestina bukan negeri sahabat, dan bukan pula saudara, namun Palestina tidak lain adalah jiwa, bumi, kehormatan, dan kewajiban …
Kaum Muslim adalah satu tubuh “Jika sebagian anggota tubuh mengeluh kesakitan, maka menyebabkan bagian tubuh yang lainnya tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Muslim dari Nu’man bin Basyir).
————————-
Dari Pernyataan Hizbut Tahrir berjudul:
Untuk tentara di negara-negara Muslim, dan khususnya negeri-negeri sekitar Gaza yang berduka!
Tidakkah kejahatan Yahudi menyebabkan darah diurat kalian mendidih, sehingga kalian menolong rakyat Palestina?

vandalisme anti islam

42 persen responden percaya adalah dibenarkan untuk penegakan hukum terhadap orang Arab Amerika atau Muslim Amerika
+ResistNews Blog - Bagaimana orang Amerika memandang orang Arab dan kaum Muslim telah semakin buruk dalam beberapa tahun terakhir, dengan perasaan negatif terkuat di antara kalangan Partai Republik dan warga berusia lanjut, menurut sebuah jajak pendapat yang dirilis pada hari Selasa.
Hanya 27 % orang Amerika yang memiliki opini baik tentang Islam, yang turun dari 35 % pada 2010, menurut jajak pendapat Zogby, yang ditugaskan melakukan jajak pendapat ini oleh Lembaga Nirlaba Arab Amerika. Sikap menguntungkan terhadap orang Arab turun menjadi 32 % dari 43 % pada tahun 2010.
Jajak pendapat itu juga menemukan bahwa 42 % responden percaya bahwa agama Islam seorang Muslim Amerika akan mempengaruhi keputusannya dalam melakukan pekerjaan pemerintah yang penting. Persentase yang sama juga percaya bahwa dibenarkan bagi para penegak hukum untuk bertindak (profiling) terhadap orang Arab Amerika atau Muslim Amerika.
“Bagi saya, kekhawatiran terbesar dalam jajak pendapat ini tidak hanya bahwa orang tidak suka kepada kita, tapi apa yang diterjemahkan apa yang tidak menyukai kita,” kata Presiden Institut Jim Zogby, yang keturunan Lebanon. Dia mengatakan sikap terhadap penggambaran an orang Arab dan Muslim dalam posisi di pemerintahan “mempengaruhi kemampuan kita untuk berfungsi sebagai masyarakat di sini.”
Zogby, yang merupakan saudara dari pengumpul jajak pendapat itu John Zogby, mengatakan penyebabnya adalah memburuknya sikap hingga berita-berita negatif tentang orang Arab dan Muslim.
Jajak pendapat itu juga menemukan tajamnya perbedaan pada partisan, ras dan generasi.
Misalnya, 59 % dari Partai Republik dan 53 % orang berusia 65 tahun atau lebih tua setuju dengan atas penggambaran negatif (profiling) orang Arab Amerika atau Muslim Arab, dibandingkan dengan 32 % dari Partai Demokrat dan kelompok usia 18-29 tahun. Hanya 29 % dari orang non-kulit putih yang mendukung profiling, dibandingkan dengan 47 % orang kulit putih.
Zogby mencatat bahwa banyak orang Amerika yang secara salah membedakan komunitas Arab dan Muslim, dengan asumsi bahwa kebanyakan orang Arab Amerika adalah Muslim, padahal kenyataannya kurang dari sepertiganya, dan bahwa sebagian besar Muslim Amerika adalah Arab, padahal kurang dari seperempatnya.
Setidaknya 3,5 juta orang Amerika adalah keturunan Arab, dimana porsi terbesar, atau 27 %, adalah dari Lebanon, diikuti oleh orang Arab, Mesir, Suriah dan Somalia, menurut situs Institut itu.
Jajak pendapat mensurvei 1.110 pemilih pada akhir Juni, dengan margin kesalahan kurang lebih 3 poin persentase. (News Desk/ +ResistNews Blog )



+ResistNews Blog - Senat Amerika Serikat (AS) dengan suara bulat mendukung tujuan Israel menggempur Jalur Gaza, Palestina, untuk melawan Hamas. Keputusan itu berseberangan dengan sikap terakhir Presiden AS, Barack Obama yang menyerukan gencatan senjata tanpa syarat.

Para pimpinan mayoritas senat AS, Harry Reid, dan Mitch McConnell, kompak memprakarsai disahkannya resolusi yang menyetujui langkah Israel membombardir Gaza.

“Resolusi mendukung hak Israel untuk mempertahankan diri melawan Hamas yang tak henti-hentinya menembakkan roket secara sembarangan ke Israel dan hak Israel untuk menghancurkan Hamas dan terowongannya yang terhubung ke Israel,” bunyi pernyataan senat AS, semalam (30/7/2014), seperti dikutip JTA.

Senat AS setuju dengan kebijakan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang disampaikan Senin lalu, bahwa Israel tidak akan berhenti menyerang Gaza sampai terowongan yang mencapai ke wilayah Israel hancur.





Kelompok American Israel Public Affairs Committee (AIPAC) juga memuji resolusi itu.

”Selain meluncurkan lebih dari 2.500 roket terhadap warga negara Israel, Hamas juga telah merencanakan untuk menggunakan jaringan terowongan yang luas untuk aksi teror ke wilayah Israel. Tujuannya untuk meluncurkan serangan massal dan menculik warga Israel,” bunyi pernyataan AIPAC.

“Pasukan Israel sedang membongkar infrastruktur ‘teroris’ untuk mencegah serangan di masa depan,” imbuh pernyataan AIPAC.

Pasok Bom ke Israel

Pemerintah Amerika Serikat (AS) telah membuka pintu untuk memasok Israel dengan bom, termasuk jenis granat dan mortir untuk melancarkan perang di Jalur Gaza, Palestina. Kebijakan itu telah diberlakukan dalam seminggu terakhir.

Demikian disampaikan juru bicara Pentagon, Laksamana John Kirby. Pasokan amunisi untuk Israel, katanya legal. Sebab, itu sesuai dengan program yang dikelola militer AS yang bernama War Reserves Stock Allies-Israel (WRSA-I) atau stok cadangan perang untuk sekutu Israel.

Dalam program itu, Israel juga dapat mengakses bantuan amunisi AS jika dalam situasi darurat. Kendati demikian, pejabat Pentagon yang berbicara dalam kondisi anonim menyatakan Israel belum menyatakan situasi darurat terkait stok amunisi selama perang di Jalur Gaza melawan Hamas.

Amunisi Pentagon yang bisa diakses Israel dalam situasi darurat, di antaranya, granat 40 mm dan mortir berkaliber 120 mm. “Kedua amunisi itu ada dalam program WRSA-I selama beberapa tahun, jauh sebelum krisis (Gaza) pada saat ini,” kata Kirby, seperti dikutip Reuters, Kamis (31/7/2014).

Israel telah menjadi sekutu utama AS dalam kondisi apa pun. ”Amerika Serikat berkomitmen untuk menjamin keamanan Israel, dan sangat penting untuk kepentingan nasional AS untuk membantu Israel mengembangkan dan mempertahankan kemampuan pertahanan diri yang kuat dan siap.” [atjehcyber/ +ResistNews Blog ]



+ResistNews Blog - HSBC, bank multinasional Inggris, menutup sejumlah rekening milik kelompok Muslim, dan memunculkan pertanyaan apakah kebijakan ini atas pertimbanggan agama.

Media Inggris, Rabu (30/7), melaporkan HSBC -- bank terbesar di Inggris dan Eropa berdasarkan nilai pasar -- mengirimkan surat pemberitahuan kepada klien yang terkena dampak penutupan.

Kepada klien Muslim, pihak HSBC mengatakan hanya akan memberikan pelayanan di luar risk appetite, suatu keputusan manajemen bank untuk tidak ingin mengambil risiko.

Kelompok Muslim yang terpukul atas kebijakan ini adalah sebuah masjid terbesar di Finsbury Park, London. Khalid Oumar, salah satu pengurus masjid, mempertanyakan motif penutupan. HSBC, menurut Oumar, tidak memberikan alasan penutupan.

"Ini membuat kita yakin bahwa satu-satunya alasan adalah karena kampanye Islamofobia yang manargetkan badan-badan amal Muslim di Inggris," ujar Oumar.

Organisasi lain yang terkena dampaknya adalah Ummah Welfare Trust. Mohammed Ahmad, yang menjalankan organisasi ini, mengatakan perwakilan bank tidak memberi penjelasan apa pun.

"Saya yakin semua ini disebabkan oleh aktivitas kami di Jalur Gaza," ujarnya. "Kami mendonasikan ambulan, bantuan makanan, medis, dan hibah ke warga Palestina yang menderita." [atjehcyber/ +ResistNews Blog ]



+ResistNews Blog - Militer negara penjajah Israel terus melanjutkan serangan membabi butanya ke Jalur Gaza menyebabkan jumlah korban syahid mencapai 1296 orang (288 anak-anak, 130 wanita, 57 lansia) dan 7200 orang lainnya terluka, sebagaimana diberitakan Palestine Times.

Jubir Kemkes Palestina, Asyraf Al-Qudrah, menyatakan bahwa 54 warga Palestina syahid pada Rabu pagi waktu setempat (30/7/2014) dan 170 lainnya terluka akibat tembakan artileri dan serangan udara Israel yang terus berlanjut ke Gaza. Di antara serangan paling dahsyat Israel ke Gaza pada hari Rabu adalah meluluhlantakkan rumah keluarga Abu ‘Amir di kota Khan Younis, selatan Gaza, menyebabkan tujuh warga Gaza syahid, tiga di antaranya wanita.

Pesawat tempur Israel juga menyerang sekolah milik badan PBB, UNRWA, di pengungsian Jabaliya, menyebabkan 15 warga Palestina syahid. Militer Israel juga menyerang rumah keluarga Al-Asthal di kota Khan Younis yang menyebabkan 10 anggota keluarga tersebut syahid serta membunuh lima anggota di Al-Khalili, timur kota Gaza.

Hingga kini aksi brutal Israel dicoba dibalas para pejuang Palestina dari berbagai kelompok perlawanan, utamanya Hamas dan Jihad Islami. Pihak Israel menyebutkan 53 tentaranya dan 3 warga sipilnya tewas sejak perang dimulai. Sementara Hamas menyatakan bahwa pihaknya telah membunuh 110 tentara Israel dan menawas satu orang bernama Shaul Aaron. (paltimes/islammemo/rem/dakwatuna/ +ResistNews Blog )




+ResistNews Blog - Tiga negara latin, Salvador, Chili, dan Peru mengecam agresi Israel yang terus berlanjut membunuh warga sipil di Jalur Gaza dengan cara menarik duta besarnya dari Tel Aviv, Israel, sebagaimana diberitakan Islam Memo (30/7/2014).

Kementerian Luar Negeri Chili dalam rilis persnya menyatakan keprihatinan mendalam melihat perkembangan agresi militer Israel yang menarget warga-warga sipil di Jalur Gaza tanpa mengindahkan prinsip-prinsip utama dalam hukum internasional.

Petinggi Fatah Urusan Hubungan dengan Amerika Latin, Muhammad ‘Audah, menyatakan bahwa dua negara latin, Chili dan Peru, telah memutuskan untuk menarik duta besarnya dari Tel Aviv sebagai bentuk protes terhadap serangan membabi buta Israel ke Gaza.

‘Audah menyatakan bahwa kedua negara memutuskan untuk menarik duta besarnya setelah usaha sosialisasi oleh warga Palestina yang bermukim di negara-negara latin mengungkapkan kekejaman militer Israel di Gaza dan meyakinkan pemerintah agar menarik duta besarnya dari negara penjajah Yahudi tersebut.

Sebelum Chili dan Peru, negara latin lainnya Salvador telah terlebih dahulu menarik duta besarnya dari Tel Aviv. Kementerian Luar Negeri Salvador menyatakan penarikan duta besarnya berdasarkan perintah Presiden Salvador setelah melihat agresi membabi buta Israel di Gaza yang menarget warga sipil termasik anak-anak dan wanita. (islammemo/rem/dakwatuna/ +ResistNews Blog )

KONFLIK di Jalur Gaza antara Palestina dan Israel mengingatkan Letjen (pur) Rais Abin pada peristiwa 36 tahun silam. Saat itu dia dipercaya sebagai panglima pasukan perdamaian PBB. Kiprahnya ikut mendamaikan Mesir dan Israel membuahkan Perjanjian Camp David.

***
PERISTIWA penandatanganan Perjanjian Camp David itu tidak bisa dilupakan Rais Abin. Perjanjian tersebut telah meredakan konflik antara Mesir dan Israel yang menduduki wilayah Gurun Sinai.

Perjanjian Camp David juga nyaris berdampak kepada perdamaian Israel-Palestina kalau saja presiden Mesir kala itu, Anwar Sadat, tidak terbunuh.

Saat ditemui di kantor pusat Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) di kawasan Semanggi, Jakarta, Selasa lalu (22/7), wajah Rais tampak berseri-seri. Dia selalu bersemangat setiap kali diminta bercerita tentang memori ketika memimpin pasukan perdamaian PBB di Gurun Sinai, Mesir.

Hingga saat ini Rais tercatat sebagai satu-satunya perwira militer Indonesia yang pernah memimpin pasukan perdamaian PBB. Apalagi, misi yang diemban sangat penting: mengawal perdamaian Mesir-Israel.

Ruang kerja Rais di lantai 11 Plaza Semanggi cukup lapang dan tidak banyak berisi perabotan. Selain meja kerja, tampak rak kayu untuk menyimpan kenang-kenangan penghargaan yang pernah diraihnya. Ada pula bendera LVRI, meja rapat, dan sofa untuk menerima tamu.

Saat ini Rais menjabat ketua umum Dewan Pimpinan Pusat LVRI. Di usianya yang tahun ini akan mencapai 88 tahun, Rais masih terlihat prima. Hanya keriput di wajah dan tangannya yang tidak bisa ditutupi bahwa pejuang kelahiran Bukittinggi, Sumatera Barat, itu sudah lanjut usia.

Rais mengharumkan nama Indonesia di kancah politik keamanan internasional saat terlibat dalam pasukan perdamaian PBB di Gurun Sinai pada 1976–1979. Dia dipercaya PBB sebagai panglima pasukan perdamaian yang mengomandoi 6.000 tentara dari tujuh negara perwakilan lima benua.

Selain tentara Indonesia, ada yang dari Polandia, Swedia, Finlandia, Kanada, Australia, dan dua negara Afrika (Senegal dan Ghana). Kiprah Rais dalam pasukan perdamaian itu dimulai saat dia bermain tenis dengan koleganya, Pangdam Siliwangi Mayjen Himawan Soetanto. Kala itu Rais masih menjabat wakil komandan Seskoad berpangkat brigjen.

Rais menuturkan, di tengah permainan itu mendadak Himawan harus menerima telepon dari Mabes ABRI (kini TNI). Tidak lama kemudian, telepon diberikan ke Rais. Rupanya, yang menelepon adalah Asisten Pembinaan Personel ABRI Susilo Sudarman. ”Saya diminta menjadi kepala staf UNEF (United Nation Emergency Force) di Gurun Sinai,” tuturnya.

Alumnus Seskoad Bandung dan Australia itu pun tidak kuasa menolak perintah tersebut karena penunjukan itu tidak bernada perintah, melainkan meminta tolong. Usut punya usut, ternyata Himawan yang merekomendasikan Rais kepada Susilo Sudarman saat menerima telepon. ”Kalau diingat itu kayak joke saja,” ujarnya seraya tertawa.

Rais pun berangkat ke Sinai pada 28 Desember 1975 dan memulai tugas awal Januari 1976 pada misi UNEF II. Karena kiprahnya yang dinilai baik dan mendapat persetujuan dari seluruh anggota Dewan Keamanan PBB, setahun kemudian Rais ditunjuk sebagai panglima UNEF II dengan pangkat mayjen atau bintang dua.

Dia menggantikan Letjen Bengt Liljenstrand asal Swedia yang mengundurkan diri pada 1 Desember 1976. Penunjukan Rais dilakukan lewat surat kawat pribadi dari Sekjen PBB kala itu, Kurt Waldheim. Tugas Rais adalah mendamaikan Mesir dan Israel yang bertikai gara-gara pendudukan Israel atas Gurun Sinai yang merupakan bagian teritori Mesir.

Bukan hal mudah untuk mendamaikan kedua negara yang sama-sama mengklaim Sinai sebagai bagian wilayahnya. Apalagi, posisi Rais saat itu tergolong sulit. Sebab, dia adalah warga negara Indonesia, dan Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.

Dengan susah payah, akhirnya Rais berhasil menemui Menteri Pertahanan Israel Shimon Peres. Peres kemudian menjadi presiden Israel hingga Kamis lalu (24/7) mengundurkan diri dari jabatannya itu di usia 90 tahun.

Persoalan belum berhenti sampai di situ. Menurut purnawirawan kelahiran 15 Agustus 1926 tersebut, meyakinkan pihak Mesir juga sulit. Blokade-blokade oleh tentara Mesir membuat dia dan pasukannya tidak bisa leluasa bergerak.

Mantan Dubes RI di Malaysia dan Singapura itu akhirnya menemui panglima militer Mesir untuk meminta keleluasaan bergerak. Rais mengancam akan mundur dari Sinai jika aktivitas pasukannya dipersulit.

Setelah blokade-blokade dibuka, Rais pun berkali-kali mengundang kedua pihak untuk berunding di markas UNEF di Sinai. ”Tiap dua minggu sekali saya adakan rapat dan selalu di situ (Sinai) karena Sinai merupakan wilayah PBB,” tutur bapak 3 putra, kakek 7 cucu, dan buyut 3 cicit itu.

Setelah Rais beberapa kali memfasilitasi pertemuan antara kedua pihak, tanda-tanda perdamaian mulai muncul. Lalu, dibuatlah konsep perjanjian damai yang akhirnya dinamai Camp David. Perjanjian tersebut sebenarnya memiliki benang merah dengan Palestina.

Ada dua kerangka perjanjian yang disusun. Kerangka pertama berkaitan dengan perdamaian di Timur Tengah, dalam hal ini penarikan mundur pasukan Israel dari Gaza dan Tepi Barat serta melarang pendirian permukiman baru Yahudi. Kerangka kedua berhubungan dengan perdamaian antara Mesir dan Israel. Pada akhirnya, hanya kerangka kedua yang ditandatangani.

Menjadi panglima pasukan perdamaian PBB membuat Rais dikenal banyak pemimpin dunia. Dia cukup akrab dengan Anwar Sadat dan pemimpin PLO Palestina Yasser Arafat.

Sebagai pejabat teras di PBB, dia bisa berkomunikasi langsung dengan Kurt Waldheim yang menjadi Sekjen PBB saat itu. Selama masa perundingan Mesir dan Israel, Gurun Sinai menjadi wilayah kekuasaan Rais.

Suami Dewi Asiah itu menuturkan, pada 1981 Anwar Sadat tewas karena dibunuh rakyatnya yang tidak setuju atas kunjungan Sadat ke Jerusalem. Itulah hal yang sangat disayangkan Rais. ”Sadat saat itu sedang berupaya untuk mengembalikan kedaulatan Palestina sesuai Resolusi PBB No 242 Tahun 1967,” tuturnya.

Kala itu Sadat merupakan satu-satunya pemimpin negara di Timur Tengah yang suaranya didengar Israel dan Amerika Serikat. Munculnya Resolusi 242 yang mewajibkan penarikan pasukan Israel dan mengatur batas antara Israel-Palestina juga tidak lepas dari lobi yang dilakukan Sadat.

Penerus Sadat, Husni Mubarak, ternyata tidak bisa tegas memperjuangkan resolusi tersebut. Penjajahan atas Palestina pun terus berlangsung sampai sekarang dengan kekuatan yang tidak sebanding. Menurut Rais, sebenarnya roket-roket pejuang Palestina tidak memberikan dampak apa pun kepada Israel selain perasaan risi.

Keberadaan Hamas dengan pasukannya, Brigade Izzudin Al Qassam, juga tidak lepas dari perang enam hari pada 1967. Gaza saat itu adalah tempat penampungan yang disediakan PBB bagi para pengungsi palestina yang terusir dari tanah airnya. Maka, tidak heran jika saat ini Hamas sangat membenci Israel.

Bagi Rais, untuk mengembalikan kedamaian di bumi Palestina, hanya ada satu solusi. ”Kembalikan batas negara sesuai Resolusi 242. Kalau tidak, konflik ini tidak akan pernah berakhir,” ucapnya. Resolusi 242 mengatur batas kedua negara, Israel di utara dan Palestina di selatan.

Karena itu, dia mengharapkan presiden Indonesia punya keberanian untuk mengungkit kembali resolusi tersebut di hadapan Sekjen PBB Ban Ki-moon. Perhatian Indonesia ke Palestina saat ini sudah cukup baik, namun akan lebih signifikan dampaknya jika bisa membuat PBB membahas lagi Resolusi 242.

Di luar kiprahnya sebagai panglima pasukan perdamaian, Rais punya peran penting di masa-masa awal kemerdekaan Indonesia. Kala itu Rais muda menjadi bagian Tentara Keamanan Rakyat yang menghadapi upaya agresi Belanda. Dia dan beberapa rekannya ditugasi menyuplai senjata untuk tentara maupun pejuang rakyat.

Dia diminta untuk menyelundupkan senjata dari Tumasek (Singapura). Untuk menyelundupkan senjata tersebut tanpa ketahuan Belanda, Rais dkk mengambil jalur laut. ”Kami berangkat dari Tegal (Jateng) menggunakan perahu yang panjangnya hanya 5 meter,” kenangnya.

Pilihan itu terpaksa diambil demi keselamatan. Saat itu Laut Jawa dikuasai armada AL Belanda. Jika nekat menggunakan kapal besar, sudah pasti mereka akan diserang. Upaya mereka tidak sia-sia karena berhasil menuntaskan misi tersebut.

Di usianya yang hampir satu abad, Rais kini menikmati kesibukannya di LVRI. Saat ditanya apa kunci kebugarannya, dia menjawab kesehatan fisik dan pikiran. ”Saya tidak punya ambisi, tidak ingin tenar,” ujarnya.

Bahkan, Rais mengaku tidak memiliki rumah di Indonesia. Ya, rumah yang saat ini ditempati Rais di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, adalah rumah milik istrinya. Rumah tersebut merupakan warisan mertua Rais. Satu-satunya rumah milik Rais berada di Sinai. Rumah tersebut merupakan pemberian PBB sebagai fasilitas jabatannya menjadi panglima pasukan perdamaian.

Satu hal yang masih menjadi keinginan Rais adalah melihat perwira TNI generasi sekarang menjabat panglima pasukan perdamaian PBB seperti dirinya. ”Kita punya banyak perwira hebat, saya yakin kita bisa punya peran yang lebih besar dalam perdamaian,” tandasnya. (jpnn/ +ResistNews Blog )




+ResistNews Blog - Amerika Serikat pada Rabu (30/7) mengutuk pemboman satu sekolah PBB di Jalur Gaza tapi menolak menuding Israel sebagai pelaku penyerangan.

"Amerika Serikat sungguh mengutuk pemboman satu sekolah PBB di Jalur Gaza, yang dilaporkan menewaskan dan melukai orang Palestina yang tak berdosa, termasuk anak kecil dan pekerja kemanusiaan PBB," kata Juru Bicara Gedung Putih Eric Schultz kepada wartawan, lapor Xinhua.

"Kami sangat prihatin bahwa ribuan orang Palestina yang menjadi pengungsi di dalam negeri mereka, yang telah diserukan oleh militer Israel agar meninggalkan rumah mereka, tidak aman di tempat yang dirancang oleh PBB sebagai tempat berlindung di Jalur Gaza," ia menambahkan.

Sedikitnya 20 orang terbunuh pada Rabu pagi, ketika sekolah yang dioperasikan oleh PBB sebagai tempat perlindungan di bagian utara Jalur Gaza dihantam serangan udara Israel, sehingga memicu kemarahan dari seluruh dunia.

Namun Schultz dan wanita Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS Marie Harf menolak untuk menyebut nama Israel dalam serangan tersebut, dan malah menegaskan pentingnya "ketenangan dan penyelidikan segera untuk memastikan yang sebenarnya terjadi".

"Kami juga mengutuk mereka yang bertanggung jawab menyembunyikan senjata di instalasi PBB di Jalur Gaza," kata Schultz, sebagaimana dikutip Xinhua. "Semua tindakan ini melanggar pemahaman internasional mengenai kenetralan PBB."

"Kami mula-mula dan pertama-tama percaya pada hak Pemerintah Israel dan kewajiban untuk mempertahankan warga mereka," kata Schultz. (ANT/ +ResistNews Blog )

KITA tentu sering mendengar istilah “Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan”. Namun rupanya tidak banyak yang tahu darimana istilah ini berasal, dan apa makna sebenarnya dari kalimat tersebut. Pokoknya asal pakai saja, dan ngaku-ngaku itu ajaran Islam, karena kalimat tersebut ‘kelihatannya’ berasal dari Al Qur’an.
Dalam bahasa sehari-hari kata ‘fitnah’ diartikan sebagai penisbatan atau tuduhan suatu perbuatan kepada orang lain, dimana sebenarnya orang yang dituduh tersebut tidak melakukan perbuatan yang dituduhkan. Maka perilaku tersebut disebut memfitnah. Tapi apakah makna ‘fitnah’ yang dimaksud di dalam Al Qur’an itu seperti yang disebutkan itu? Mari kita telaah.
Di dalam Al Qur’an surat Al Baqoroh (2) ayat 191 tercantum kalimat “Wal fitnatu asyaddu minal qotli….” yang artinya
“Dan fitnah itu lebih sangat (dosanya) daripada pembunuhan.”
Imam Ibnu Katsir menjelaskan, bahwa Imam Abul ‘Aliyah, Mujahid, Said bin Jubair, Ikrimah, Al Hasan, Qotadah, Ad Dhohak, dan Rabi’ ibn Anas mengartikan “Fitnah” ini dengan makna “Syirik”. Jadi Syirik itu lebih besar dosanya daripada pembunuhan.
Ayat tersebut turun berkaitan dengan haramnya membunuh di Masjidil Haram, namun hal tersebut diijinkan bagi Rasulullah saw manakala beliau memerangi kemusyrikan yang ada di sana. Sebagaimana diketahui, di Baitullah saat Rasulullah saw diutus terdapat ratusan berhala besar dan kecil. Rasulullah diutus untuk menghancurkan semuanya itu. Puncaknya adalah saat Fathu Makkah, dimana Rasulullah saw mengerahkan seluruh pasukan muslimin untuk memerangi orang-orang musyrik yang ada di Makkah.
Kemudian juga di surat Al Baqoroh (2) ayat 217, disebutkan “Wal fitnatu akbaru minal qotli…” yang artinya
“Fitnah itu lebih besar (dosanya) daripada pembunuhan…”
Ayat ini turun ketika ada seorang musyrik yang dibunuh oleh muslimin di bulan haram, yakni Rajab. Muslimin menyangka saat itu masih bulan Jumadil Akhir. Sebagaimana diketahui, adalah haram atau dilarang seseorang itu membunuh dan berperang di bulan haram, yakni bulan Rajab, Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram.
Melihat salah seorang kawan mereka dibunuh, kaum musyrikin memprotes dan mendakwakan bahwa Muhammad telah menodai bulan haram. Maka turunlah ayat yang menjelaskan bahwa kemusyrikan dan kekafiran penduduk Makkah yang menyebabkan mereka mengusir muslimin dan menghalangi muslimin untuk beribadah di Baitullah itu lebih besar dosanya daripada pembunuhan yang dilakukan oleh orang-orang beriman.
Tak ada satupun ayat di dalam Al Qur’an yang mengartikan kata “fitnah” dengan arti sebagaimana yang dipahami oleh orang Indonesia, yakni menuduhkan satu perbuatan yang tidak dilakukan oleh orang yang dituduh. Kata ‘fitnah’ di dalam Al Qur’an memang mengandung makna yang beragam sesuai konteks kalimatnya. Ada yang bermakna bala bencana, ujian, cobaan, musibah, kemusyrikan, kekafiran, dan lain sebagainya. Maka memaknai kata ‘fitnah’ haruslah dipahami secara keseluruhan dari latar belakang turunnya ayat dan konteks kalimat , dengan memperhatikan pemahaman ulama tafsir terhadap kata tersebut.
Memaknai kata-kata di dalam Al Qur’an dengan memenggalnya menjadi pengertian yang sepotong-sepotong serta meninggalkan makna keseluruhan ayat, hanya akan menghasilkan pemahaman yang melenceng dan keliru akan isi Kitabullah. Dan itulah yang dilakukan oleh orang-orang yang hendak menyalahgunakan Kitabullah demi mengesahkan segala perilakunya. Dan ini juga dilakukan oleh orang-orang yang hendak menyelewengkan makna Al Qur’an dari pengertian yang sebenarnya. [Sumber :http://afissenirupae.blogspot.com/2010/09/bahaya-fitnah.html?zx=b3bba301a1b3c770]



+ResistNews Blog - ANGKATAN Darat Israel pada Rabu mengatakan tiga tentaranya tewas dalam pertempuran di Jalur Gaza.

“Tiga tentara meninggal hari ini di Jalur Gaza,” kata seorang juru bicara kepada AFP, Kamis (31/7).

Insiden itu terjadi ketika pasukan Tentara Israel sedang berupaya menutup terowongan buatan Hamas yang menghubungkan antara Gaza dan Israel.

Dalam upaya penutupan itu, Pasukan Hamas memberi perlawanan dan menyebabkan 3 tentara Israel tewas.

Serangan itu juga menyebabkan 15 tentara Israel cedera. Mereka yang cedera karena tertimpa bahan material terowongan. Serangan itu dikatakan pejabat militer Israel oleh Pasukan Hamas di bawah Brigade Izzudin Al Qassam.

Serangan itu dilakukan oleh Hamas dengan memasang bahan peledak di dalam terowongan. Saat diledekan material terowongan runtuh dan menimbulkan korban jiwa bagi pasukan Israel.

“Mereka terjebak dalam terowongan yang sudah dipasang bahan peledak oleh Hamas,” ucapnya. [Islampos/ +ResistNews Blog ]



Tanya :
Ustadz, jika orang membatalkan puasa secara sengaja tanpa udzur syar’i, apakah ada kewajiban qadha atas orang itu? Bagaimana dengan hadits yang menyebutkan “lam yaqdhi shiyamud dahri wa in shaamahu” (dia tak akan dapat meng-qadha`nya dengan puasa satu tahun, meskipun dia melakukan puasa satu tahun)?

Jawab :
Para ulama berbeda pendapat mengenai orang yang dengan sengaja tak berpuasa atau berpuasa tapi membatalkannya tanpa udzur syar’i, misalnya sakit atau dalam perjalanan. Ada dua pendapat sbb; Pertama, pendapat jumhur ulama yang mengatakan orang tersebut wajib mengqadha`. Dalam kitab Rahmatul Ummah fi Ikhtilafil A`immah disebutkan,”Mereka [Imam Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Ahmad] sepakat bahwa orang yang sengaja makan atau minum pada siang hari pada bulan Ramadhan sedang dia dalam keadaan sehat dan mukim (tak dalam perjalanan), maka dia wajib mengqadha`… (M. Abdurrahman Ad Dimasyqi, Rahmatul Ummah fi Ikhtilafil A`immah, hlm. 93).
Dalil wajibnya qadha` adalah hadits dari Abu Hurairah RA yang diriwayatkan Imam Dawud mengenai seorang laki-laki yang menggauli istrinya pada siang hari bulan Ramadhan. Pada ujung hadits, Rasulullah SAW bersabda, “Dan berpuasalah satu hari [sebagai gantinya] dan mintalah ampun kepada Allah [wa shum yauman wastighfirillaah].” (HR Abu Dawud,no 2393). Jumhur ulama mengatakan hadits ini merupakan dalil yang menunjukkan wajibnya qadha` bagi orang yang sengaja berbuka (membatalkan puasanya) tanpa udzur syar’i. (Imam Shan’ani, Subulus Salam, 2/164; Sa’id Al Qahthani, Al Shiyam fil Islam, hlm. 288; Ahmad Huthaibah, Al Jami’ li Ahkam Al Shiyam, hlm. 138).
Kedua, pendapat sebagian ulama, seperti Imam Ibnu Hazm dan Imam Ibnu Taimiyyah, yang mengatakan bahwa qadha` tidak disyariatkan bagi orang tersebut. Dalilnya, hadits dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Barangsiapa berbuka pada satu hari dari bulan Ramadhan tanpa suatu rukhsah yang diberikan Allah kepadanya maka dia tak akan dapat meng-qadha`nya dengan puasa satu tahun (lam yaqdhi ‘anhu shiyaam ad dahr).” (HR Abu Dawud, no 2396; Ibnu Majah no 1672; Ad Darimi 2/10; Ahmad, 2/376).
Dalil lainnya, pendapat sebagian shahabat seperti Abu Bakar Shiddiq, Umar bin Khaththab, Ali bin Abi Thalib, Ibnu Mas’ud, dan Abu Hurairah yang tak mewajibkan qadha` bagi orang yang sengaja berbuka tanpa udzur syar’i. (Ibnu Hazm, Al Muhalla, 2/359; Wahbah Zuhaili, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, 3/108; Abdurrahman Al Harafi, Ahkamush Shiyam, hlm. 45).
Pendapat yang rajih (kuat) adalah pendapat jumhur ulama, yang mewajibkan qadha` bagi orang yang membatalkan puasa secara sengaja tanpa udzur syar’i. Ada dua alasan; pertama, bahwa hadits Abu Hurairah RA bahwa orang yang berbuka tanpa rukhsah tak akan dapat meng-qadha` puasanya walau puasa setahun, adalah hadits yang dhaif (lemah). (Nashiruddin Al Albani, Dha’if Sunan Abi Dawud, hlm. 517).
Alasan kelemahannya, karena ada seorang periwayat hadits bernama Abu Muthawwas yang majhul (tak diketahui dengan jelas identitasnya). Demikian sebagaimana dijelaskan oleh Imam Bukhari dalam At Tarikh Al Kabir, Imam Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Fathul Bari, dan Imam Ibnu Hazm dalam Al Muhalla. Imam Ibnu Hazm berkata,”Abu Muthawwas tidaklah terkenal sifat keadilannya (ghairu masyhur bi al ‘adalah).” (Ibnu Hazm, Al Muhalla, 2/358; Abdurrahman Al Harafi,Ahkamush Shiyam, hlm. 45).
Kedua, pendapat sebagian shahabat yang tak mewajibkan qadha’, kedudukannya hanya sebagai ijtihad yang boleh saja diikuti, namun bukan dalil syar’i. (Mahmud Uwaidhah, Al Jami’ li Ahkam Al Shiyam, hlm. 55). Ijtihad shahabat dalam ilmu ushul fiqih disebut dengan istilah mazhab al shahabi, yakni mazhab seorang shahabat. Para ulama berbeda pendapat apakah mazhab al shahabi dapat menjadi hujjah (dalil syar’i) atau tidak. Namun yang rajih menurut jumhur ulama adalah bukan dalil syar’i. Imam Taqiyuddin An Nabhani berkata,”Madzhab shahabat tidak termasuk dalil-dalil syar’i. [mazhab al shahabi laisa min al adillah al syar’iyyah].” (Al Syakhshiyyah Al Islamiyyah, 3/417). Kesimpulannya, orang yang membatalkan puasa secara sengaja tanpa udzur syar’i,wajib mengqadha`. Wallahu a’lam. [] M Shiddiq Al Jawi

kaum sikh

+ResistNews Blog - Saharanpur – Dua orang dilaporkan tewas dan 19 lainnya luka-luka setelah terjadi bentrokan dengan kekerasan antara Sikh dengan Muslim mengenai tanah Gurdwara di Saharanpur. Enam orang dinyatakan berada dalam kondisi kritis, sebagaimana dilansir oleh Channel News Uttar Pradesh, hari Sabtu.
Namun, Wakil Komisaris Sandya Tiwari tidak mengkonfirmasi adanyakorban yang mati. Pemerintah Saharanpur telah memberlakukan jam malam di bawah UU Bab 144 di distrik itu setelah kekerasan meletus antara dua kelompok di Jalan Gurdwara wilayah Qutub Sher pada Sabtu pagi mengenai tanah Gurdwara. Menurut laporan TV, 13 perusahaan dari PAC, RAF dan CRPF telah dikirim ke lokasi. Kepala Sekretaris Alok Ranjan mengumumkan bahwa jam malam telah diberlakukan di tiga wilayah kantor polisi di Saharanpur.
Beberapa toko dan kendaraan dibakar hingga menjadi abu oleh massa. Pemerintah daerah telah mengerahkan Pasukan Gerak Cepat ke lokasi untuk mengendalikan situasi. Polisi harus menggunakan gas air mata untuk menghalau massa. Saat massa yang marah melempari polisi dengan batu, seorang hakim kota dan lima polisi terluka.
Hakim Distrik Saharanpur Sandya Tiwari mengatakan bahwa situasi dapat dikendalikan setelah jam malam itu diberlakukan di beberapa wilayah kota. (nation.com.pk/ +ResistNews Blog )




+ResistNews Blog - Seorang ulama Pakistan, Syaikh Maulana Tariq Jamil menyampaikan pengalaman dakwahnya di Yordania.

Ketika di Yordania, ia pergi ke daerah perbatasan Yordan-‘Israel’. Sampai di daerah perbatasan, ketika rombongan Syaikh Maulana selesai menunaikan shalat Subuh di salah satu masjid di dekat perbatasan, tiba-tiba seorang tentara ‘Israel’ dari luar melongok ke arah dalam Masjid.

Setelah melihat sebentar, tentara Zionis itu langsung pergi.

Syaikh Maulana menghampiri tentara penjajah itu dan bertanya apa yang dia tadi lakukan.

“Saya hanya ingin melihat berapa jumlah orang Islam yang hadir shalat Subuh di Masjid,” kata tentara Zionis itu.

Syaikh Maulana Tariq Jamil sambil keheranan bertanya, “Kenapa?”

Si tentara ‘Israel’ itu menjawab, “Di dalam kitab kami (Kitab Taurat) ada tertulis, ‘Jika di seluruh dunia jumlah orang Islam yang hadir untuk shalat Subuh berjamaah di masjid sama banyak dengan jumlah jamaah shalat Jum’at, maka saat itu Yahudi akan hancur.’ Tetapi ketika tadi saya lihat di masjid jumlah orang Islam yang datang untuk shalat Subuh berjamaah masih sedikit, maka hati saya tenang, karena umat Islam pasti tidak akan bisa mengalahkan kami.”

Mendengar penjelasan itu Syaikh Maulana sangat keheranan.

Seperti sudah diketahui bahwa shalat Subuh adalah shalat yang paling sulit ditunaikan. Karena subuh adalah saat masih gelap, dingin, dan kebanyakan orang masih tidur. Jika shalat Subuh dapat ditunaikan, maka shalat lainnya pastilah akan mudah dilaksanakan.

Orang Yahudi selalu berusaha dengan berbagai cara supaya umat Islam bisa meninggalkan shalat lima waktunya. Karena orang Yahudi paham jika umat Islam meninggalkan kewajibannya ini, maka Allah subhanahu wa ta’ala pasti tidak akan menolong kaum Muslimin. Begitulah, semua usaha umat Islam untuk membela Palestina selalu mengalami kegagalan. Wallahu a’lam bish shawab. (Islampos/fahriconqueror/ +ResistNews Blog )


+ResistNews Blog - Daulah Islam menyatakan alasannya kenapa mereka menghancurkan situs situs ritual di kota Mosul Irak, karena beberapa situs tersebut dibangun di atas kuburan orang orang soleh dimana masyarakat setempat sering menggunakan situs situs tersebut untuk ritual penyembahan yang menyimpang .

“Pembongkaran struktur gedung tersebut yang didirikan di atas kuburan adalah masalah besar , karena itu untuk selamatkan kemurnian akidah Islam,” kata kelompok jihad itu dalam sebuah pernyataan yang diposting di jejaring utamanya.

“Pendahulu kami yang saleh juga telah melakukannya … Tidak ada perdebatan tentang legitimasi menghancurkan atau menghapus situs kuburan untuk dijadikan tempat-tempat suci yang menyimpang,” pernyataan dalam situs Daulah Islam.

Daulah Islam juga menghancurkan sebuah Masjid yang didirikan diatas (diyakini) makam Nabi Yunus dan Nabi Seth (Yahudi dan Kristen menyakini Nabi seth adalah anak ketiga dari Nabi Adam dan Siti Hawa ).

Daulah Islam menyatakan Syariah Islam melarang menggunakan kuburan sebagai masjid , dan tidak Islami karena sama saja situs tersebut menjadi ritual penyembahan berhala. (eramuslim/ +ResistNews Blog )



+ResistNews Blog - TEWASNYA 10 tentara Israel oleh Hamas membuat kegoncangan di tubuh militer Israel. Pasukan Israel (Israel Defence Force) menuntut kepemimpinan politik Israel mencapai keputusan mengenai langkah selanjutnya dari serangan darat di Gaza.

“Kepemimpinan politik harus memutuskan sekarang apakah kita terus masuk (ke Gaza) atau kita mundur,” kata Pejabat Militer tingkat tinggi Israel, Selasa (29/7) seperti dikutip media Israel, Yediot Ahronot.

Lima tentara Israel tewas dalam insiden pada hari Senin (28/7/2014) di mana Mujahidin Hamas menyusup ke Israel melalui terowongan bawah tanah. Sukses melakukan penyusupan, Mujahidin kemudian membunuh lima tentara Israel.

Menurut pasukan Israel, mujahidin berusaha untuk menculik seorang tentara yang terluka dalam insiden itu.

Serangan lainnya berlangsung setelah salah satu mortir yang ditembakkan dari Gaza menghantam sebuah pos pasukan Israel, menewaskan lima tentara lainnya.

Yediot Ahronot melaporkan telah terjadi ketegangan antara di tubuh kepemimpinan militer Israel dengan negara. Pihak pemerintah Israel bersikeras untuk terus melakukan serangan ke Gaza. Sementara desakan masyarakat menghendaki untuk menghentikan aktivitas serangan. [el/Islampos/ +ResistNews Blog ]


+ResistNews Blog - Partai buruh Israel mengatakan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah menyesatkan opini publik Israel mengenai jumlah korban di pihak negeri Zionis itu dalam perang terhadap Gaza.

"Hamas memang sedang mempermalukan Netanyahu dengan menargetkan Bandara Ben Gurion di Tel Aviv dengan serangan roket, dan perang Gaza tentunya akan menjadi kekalahan terburuk tentara Israel yang pernah dihadapi dalam catatan militernya yang panjang," kata Isaac Herzog, ketua Partai Buruh Israel, dalam pertemuan publik dengan mahasiswa Universitas Tel Aviv, seperti dilansir kantor beritaMehr, Ahad (27/7).

"Para politisi berkuasa Israel sangat prihatin tentang roket yang ditembakkan dari Gaza, Palestina, tetapi sebenarnya mereka tidak melakukan apa-apa untuk menghentikan serangan roket itu," ujar Herzog.

Dia menyatakan Netanyahu terus mengendalikan ketat media berkaitan dengan jumlah yang tepat dari tentara Israel yang ditangkap, atau tewas dalam serangan yang sedang berlangsung terhadap Jalur Gaza yang terkepung tapi, tetapi dia harus tahu fakta bahwa dia tidak bisa menyembunyikan kebenaran dari satu bangsa. [merdeka/ +ResistNews Blog ]

Herzog mengkritik Netanyahu karena dengan kejam menyembunyikan kenyataan pahit ini.

"Israel banyak menggembar-gemborkan sistem pertahanan Iron Dome lebih seperti saringan besi namun gagal untuk menghancurkan semua, sebab beberapa roket Hamas berhasil ditembakkan ke masyarakat Zionis," kata Herzog.



+ResistNews Blog - Rahasia di balik sistem pertahanan anti-rudal Iron Dome milik Israel sudah diketahui para hacker China. Para hacker itu pernah menyusup ke database dari tiga kontraktor pertahanan milik Israel.

Selain mengambil informasi rahasia Iron Dome, para hacker juga menyadap rencana mengenai proyek-proyek Israel lainnya, termasuk proyek bernama “Unmanned Aerial Vehicles”, proyek roket balistik, dan dan proyek skema rinci dan spesifikasi Arrow III untuk mencegat rudal.

Seorang jurnalis lepas, Brian Krebs, mengungkap, bahwa pada tahun 2011 hingga 2012 kelompok hacker China yang bernama “Comment Crew” berkasi. Kelompok hacker itu diketahui merupakan kelompok prajurit cyber yang terkait dengan Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA).

Pada bulan Mei, Amerika Serikat mendakwa lima anggota kelompok ini dengan tuduhan melakukan spionase cyber terhadap jaringan komputer Amerika. Para hacker dilaporkan menyusup untuk mencuri informasi yang akan memberikan keuntungan ekonomi bagi perusahaan China, termasuk perusahaan milik negara China.



Berbicara kepada Business Insider, peneliti dari University of California, Jon Lindsay, mengatakan aksi para hacker itu menjadi sinyal bahwa China tertarik untuk belajar lebih banyak tentang sistem pertahanan rudal yang dianggap mahir di abad ini.

”Gaya spionase China lebih mirip vacuum cleaner daripada teleskop yang diarahkan,” kata Lindsay. ”Mereka pergi setelah banyak memiliki target, termasuk para pemimpin dalam industri tertentu,” lanjut dia, seperti dikutip Russia Today, Selasa (29/7/2014).

Sementara itu, CEO CyberESI, Joseph Drissel, mengaki banyak informasi yang telah dicuri. CyberESI adalah salah satu kontraktor pertahanan AS yang bekerjasama dengan Israel.

“Sebagian besar teknologi dalam Arrow III tidak dirancang oleh Israel, tetapi oleh Boeing dan kontraktor pertahanan AS lainnya," katanya kepada Krebs. (SND/atjehcyber/ +ResistNews Blog )



DALAm suasana Idul Fitri seperti sekarang ini, bagi Anda yang mempunyai smartphone tentu tak heran dengan fasilitas broadcast message (BM). Sebenarnya broadcast message tidak hanya ada di ponsel Blackberry saja, namun yang pertama kali mengenalkannya secara umum memang jenis ponsel ini.

BM khususnya yang ada pada Blackberry Messenger fungsi awalnya untuk mengumumkan sesuatu yang pantas dinikmati khalayak kontak pemegang ponsel tersebut, yang bersifat menginfokan sesuatu, bukan hal-hal yang bersifat bermain-main dan mengganggu.

Contohnya, si pengirim ini sedang tidak ada kerjaan, kemudian dia iseng-iseng bikin cerita-cerita konyol, kemudian disebarkan ke seluruh kontaknya, atau ada orang yang sangat senang menuliskan angka-angka dan memaksudkan angka-angka tersebut sesuai kreasinya sendiri. Ada jugabroadcast message yang sifatnya mengharuskan meneruskan, kalau tidak, akan terjadi sesuatu yang mengerikan—hallo, ini zaman teknologi, masih saja percaya takhayul seperti itu? Satu lagi adalah test contact, maaf bm, dont reply.

Bm seperti ini pasti muncul hampir setiap hari. Mungkin kita harus berpikir ulang seribu kali jika hendak mem-broadcast message. Pikirkan pada orang-orang yang ada di kontak, sedang sibuk, atau repot. Dikiranya broadcastpenting, ternyata konyol dan tidak jelas.

Smartphone diciptakan agar membuat penggunanya pintar. Untuk itu kita harus hati-hati menggunakan semua fasilitas yang ada di dalamnya. Mulailah cari tahu fungsi dan kegunaan broadcast message. Kalau juga belum mengerti, bertanyalah pada yang sudah ahli. Janganlah jadi bodoh hanya gara-gara sebuah handphone dan janganlah membodohkan diri pada handphone. Smartphone ya ponsel pintar, jadilah smart people yang memang pantas untuk menggunakannya. [Sumber: someoneyouarentlookingfor]



+ResistNews Blog - KOMANDAN Umum Brigade al Qassam, Muhammad Dhaif, menegaskan bahwa para pejuang al Qassam lebih memilih menyerang dan membunuh militer dan tentara Zionis daripada menyerang warga sipil.

Sementara itu penjajah Zionis telah menumpahkan darah warga sipil Palestina yang tidak berdosa.

Hingga saat ini lebih dari 200 anak Gaza telah tewas akibat invasi Israel. Sedangkan 117 wanita gugur akibat pembantaian Israel.

Muhammad Dhaif menambahkan, berbagai aksi penyusupan di belakang garis militer Zionis oleh pejuang al Qassam adalah bukti nyata, agar penjajah Zionis tahu bahwa masalahnya jauh lebih sulit dan keputusan untuk mengirim pasukan dalam perang darat hanya akan mengirim serdadu mereka ke dalam kematian. Demikian dilaporkan Palestina Information Centre. [Pz/Islampos/ +ResistNews Blog ]


Papua kembali diguncang berita penembakan aparat. Delapan aparat anggota Polres Lanny Jaya mendapat serangan dari kelompok bersenjata Papua pada Senin (28/07). Dua di antaranya dinyatakan meninggal di tempat, dua tertembak dan beberapa senjata polisi berhasil dibawa kelompok bersenjata.

“Dua anggota meninggal dunia atas nama Bripda Zulkifli D Putra dan Bripda Yoga AJ Ginuny. Mereka terkena luka tembak di kepala,” ujar Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Irjen Pol Ronny Frangky Sompie di Jakarta, Selasa 29 Juli 2014.

Selain dua orang dinyatakan tewas seketika, Briptu Heskia Bonyadone juga terkena luka tembak di bagian perut. Sementara Bripda Alex Numberi terkena luka tembak di bagian pelipis.

Buntut dari kejadian ini, Kasat Brimob Polda Papua, Direktur Intelkam, dan Wakapolda segera meluncur ke Lanny Jaya melalui Wamena.

Kejadian penembakan aparat di Papua bukan kali ini saja terjadi. Jumlah aparat yang tewas akibat serangan kelompok bersenjata Papua juga bukan angka kecil. Pelakunya juga sudah diidentifikasi wilayah, nama kelompok, jumlah anggota dan pimpinannya.

Namun begitu, meski kerap menghabisi nyawa aparat kepolisian maupun TNI, bahkan ingin meredeka dari Indonesia, kelompok teror Papua tak pernah dijuluki dengan sebutan teroris. Polisi maupun media-media mainstream kerap menjuluki perusuh di Papua dengan sebutan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).

Polisi juga tidak segera menyiagakan Densus 88 sebagai jagoan pemburu “teroris”. Padahal jelas-jelas para gerombolan Papua tersebut ingin memerdekakan diri dari Indonesia, kerap menyerang aparat dan menembaki warga. Kejadiannya juga bukan sekali dua kali, bahkan kelompok tersebut sudah memiliki “cabang” di luar negeri.

Aroma kental pendanaan kelompok terror Papua dari Luar Negeri pun bisa terendus jika aparat serius menanganinya. Namun sayang itu tidak segera dilakukan, atau lamban untuk segera diselesaikan.



Densus 88 dan teroris memang sengaja dibentuk untuk umat Islam. Densus 88 hanya bergerak jika umat Islamlah yang akan digrebek dan ditangkap.

Maka patut menjadi pertanyaan, sebenarnya untuk kepentingan siapa Densus 88 ini dibentuk. Apakah untuk Indonesia? Tapi mengapa saat gerombolan bersenjata yag kerap dan sering merusak dan menyatakan ingin merdeka denses 88 diam seribu bahasa?

Atau untuk asing sehingga Densus akan bergerak sesuai arahan dan petunjuk sesuai pemberi dana. Dampaknya densus akan tebang pilih. Atau Densus 88 bergerak hanya untuk kepentingan segelintir elit pimpinannya yang menjadikan kasus terorisme sebagai alat penaik jabatan dan kucuran dana dari luar negeri?

Wallahua’lam

[lasdipo/ +ResistNews Blog ]



+ResistNews Blog - Sebuah ucapan selamat Idul Fitri dari Gedung Putih di Twitter ditujukan kepada umat muslim di Amerika Serikat dan di seluruh dunia kemarin memicu reaksi terkait posisi Presiden Barack Obama terkait konflik Gaza, di mana lebih dari 20 warga Palestina, termasuk sepuluh anak-anak, terbunuh akibat serangan Israel pada hari Idul Fitri.

Obama sebelumnya mengeluarkan pernyataan mengucapkan selamat Idul Fitri kepada kaum muslim, yang menandai berakhirnya bulan Ramadan, seperti dilansir stasiun televisi Al Arabiya, Selasa (29/7).

“Muslim di seluruh Amerika Serikat dan di seluruh dunia merayakan Idul Fitri, Michelle dan saya mengucapkan salam kami yang paling hangat kepada kalian dan keluarga,” kata Obama.

“Idul Fitri menandai selesainya Ramadan, juga merayakan nilai-nilai umum yang mempersatukan kita dalam kemanusiaan dan memperkuat kewajiban bahwa orang-orang dari semua agama harus saling memiliki satu sama lainnya, terutama mereka yang terkena dampak kemiskinan, konflik, dan penyakit,” tambahnya.

“Kami berdiri dengan orang-orang dari semua agama, di sini dan di seluruh dunia, untuk melindungi dan memajukan hak-hak mereka dalam mencapai kemakmuran, dan kami menyambut komitmen mereka untuk memberikan kembali hak itu kepada komunitas mereka,” ujar Obama.

Namun, seseorang menjawab pesan Obama itu di Twitter dengan mengatakan, “Kecuali orang-orang di Gaza karena mereka terlalu sibuk dibom”.

“Orang-orang di Gaza juga?” tanya Semra Akay, pengguna twitter lainnya yang mengidentifikasi dirinya sebagai seorang kandidat PhD di Inggris.

Sementara Janet Weil menjawab kicauan Gedung Putih itu dengan mengatakan, “Kemunafikan pemerintahan #Obama, mendukung genosida dari ‘pertahanan diri’ #Israel, tidak pernah berhenti memukau. #GazaUnderAttack”.

Pengguna Twitter dengan akun @ abdikarim_abdi3 menulis, “Obama merilis sebuah pernyataan di hari Idul Fitri, tapi benar-benar mengabaikan bahwa anak-anak di Gaza tidak akan dapat merayakan hari spesial itu”.

Ini adalah kontroversi kedua pada bulan ini yang melibatkan Gedung Putih terkait umat Islam dalam kaitannya dengan kebijakan Amerika di Timur Tengah.

Bulan lalu, selama acara buka puasa di Gedung Putih bersama para pemimpin komunitas muslim Amerika, Presiden Obama membuat marah beberapa tamunya dengan mengulangi pernyataan bahwa Israel mempunyai hak untuk mempertahankan diri, di tengah serangan mematikan yang sedang berlangsung di Gaza.

Tarik Takkesh, pembicara dan adovokat keadilan sosial yang diundang ke acara buka puasa di Gedung Putih itu menulis “Presiden Obama secara simbolis menampar tamu muslimnya tidak hanya sekali, tetapi dua kali, di wajah”.

“Dalam kekagetan saya, saya bertanya-tanya, apakah presiden pernah berani mengundang perwakilan dari Hamas untuk makan malam Paskah di Gedung Putih? Atau apakah ini semacam aib yang hanya diperuntukkan bagi komunitas muslim Amerika?” tulis Takkesh dalam sebuah artikel di Mondoweiss.com. (merdeka/ +ResistNews Blog )

“Ibu, kenapa semua orang melupakan Suriah begitu perang di Gaza dimulai?”“Jawaban rumit dengan keterbatasan sumber daya media dan penonton yang berempati, persamaan dan perbedaan antara dua perang”
+ResistNews Blog - Adalah sebuah kenyataan bahwa organisasi dan para pembaca akan mengalami kesulitan untuk memahami lebih dari satu kiris besar di dunia dalam satu waktu. Bila perang di Gaza bukanlah berita yang besar, maka berita jatuhnya pesawat Malaysia Airlines MH17 di Ukraina akan menjadi berita yang amat sangat besar. Akan tetapi, bagaimana dengan Suriah? Dimana lebih dari 1700 orang dilaporkan meninggal dalam 10 hari terakhir.
Kebangkitan perlawanan melawan Bashar al-Assad telah menjadi berita terbesar dan terlama dari yang sebelumnya disebut dengan “Arab Spring”. Baru-baru ini gelombang pasang dari peperangan tersebut telah berbalik, karena keberhasilan militer pemerintahan, perpecahan pejuang, kebangkitan ISIS di Suriah dan di Irak dan juga divisi Internasional yang tetap teguh dalam membonsai perjuangan rakyat Suriah.
Melaporkan kasus tersebut sangatlah sulit, Visa untuk masuk ke Suriah diberikan sangat terbatas, sulit dan aksesnya sangat dibatasi. Sementara melaporkan dari para pejuang yang berada di sisi Turki situasinya sangat berbahaya. Akan jauh lebih mudah untuk masuk kedalam peperangan Gaza, dimana banyak institusi berita Internasional memiliki perwakilan di sana. Dari sisi keuangan dan SDM serasa bumi dan langit bedanya.
Korban terakhir di Syria sekitar 700 orang terbunuh hanya dalam waktu dua hari di daerah Homs, dan ratusan lainnya dalam peperangan melawan ISIS di sekitar ladang minyak di daerah Deir al-Zur. Barang siapa yang ingin melakukan permainan tebak angka yang mengerikan, total keseluruhan masih lebih kecil daripada proporsi 800 korban jiwa di Gaza-Palestina dibanding populasi Gaza yang berjulah 1.8 juta jiwa.
Akan tetapi, tingkat pembantaian di Syria menjadi rutinitas sebelum Gaza meletus. Menurut perkataan seorang wanita Libya, “Anak saya yang berusia 10 tahun bertanya kenapa semua orang melupakan Syria begitu perang di Gaza dimulai? Dan saya menjawab, mereka sudah lupa tentang Suriah sejak beberapa waktu lalu.”
Kedua krisis di Timur Tengah ini memang terpisah, akan tetapi memiliki hubungan dalam banyak hal. Media yang dikontrol oleh rezim Suriah melakukan serangan dan pengeboman lewat udara oleh “musuh Zionis”, bahasa yang umum digunakan dalam puluhan tahun konfrontasi ini. Laporan tersebut menggambarkan anak-anak Palestina yang tewas yang mengingatkan potret buram anak-anak yang menjadi korban bom gentongnya Assad, yang tidak pernah muncuk di TV pemerintah. Dalam beberapa kasus, foto-foto yang berasal dari Aleppo di tampilkan di berbagai sosial media sebagai foto-foto yang berasal dari Gaza, seakan-akan kondisi aslinya tidak lebih mengerikan.
Bab terakhir dalam perang yang tak berimbang antara Israel dan Palestina membuat Assad mengubah arti sebuah cerita tentang “axis of resistance” yang memasukkan Syria dan sekutu mereka Iran dan Hizbullat. Cukup berharga untuk diingat, Hamas dipaksa untuk meninggalkan kantor mereka di Damaskus ketika mereka harus menunjukkan sikap mereka melawan pejuang yang melawan rezim Suriah, dimana ini adalah salah satu alasan yang merupakan kelemahan mereka, walau dapat dibantah, hal ini adalah keputusasaan untuk memilih lawan yang lebih besar secara cepat.
Kekejaman Suriah terhadap negara tetangga di bagian selatan cukup nyata. Israel mencaplok Dataran Tinggi Golan dam menekan rakyat Palestina (yang hidup nyaman di Suriah dibanding dengan rakyat Palestina yang hidup di negara-negara arab lainnya), meskipun Assad, seperti bapaknya, telah mengeksploitasi rakyat Palestia untuk kepentingannya.
“Sekarang, konflik Arab-Israel kembali ke panggung utama, Assad kembali ke zona nyamannya” kecam Nadim Shehadi anggota kelompok pemikir Chatham House. “Rezim menggunakan konflik ini untuk mengesahkan dirinya sendiri, dan pihak oposisi mengabaikannya dan meuntut segala hal yang tidak berhubungan dengan hal terebut”
Mengumpulkan dua perang mebuat kontroversi instan. Komentator dianggap berpihak kepada Israel menggunakan Suriah “untuk mengalihkan perhatian dari perang Israel dan kejahatan di Gaza.” Atau menjadi tertarik untuk mengangkat perihal Assad dimana jadi mengesampingkan PM Israel Benyamin Netanyahu. Banyak pendukung Palestina kembali menekan para penentang presiden Suriah dengan tuduhan mereka adalah jihadi fanatik yang di dukung oleh isu sektarian dan negara-negara teluk, padahal para pendukung Palestina ini mengesampingkan elemen-elemen oposisi yang demokrat dan moderat.
Israel dan para pendukung mereka mengeluh tentang “kemarahan selektif” dan sering mengisyaratkan motif anti-Semit. Tidak jelas, namun bagaimanapun membuat perhatian media lebih dekat ke Suriah atau kurang fokus pada Gaza, akan membantu menyelesaikan masalah Palestina, kecuali solusi dapat ditemukan dengan PR (Public Relation) yang lebih efektif. Aktivis Anti-Assad memprotes “internasionalisme selektif” yang menentang “hukuman kolektif dan pembunuhan massal warga Palestina dan Arab dalam satu lahan dengan satu pemerintahan dan mendukung atau membenarkan hukuman kolektif mereka dengan pembunuhan massal ketika pemerintah yang berbeda adalah pelaku untuk target yang sama”.
Untuk menyebut Suriah dan Palestina sebagai “satu revolusi, dan kebebasan yang tak terpisahkan” mungkin slogan yang menggerakkan, akan tetapi mengabaikan banyak perbedaan di antara dua perang tersebut. Namun, mereka memiliki satu hal penting yang sama: sejak runtuhnya dukungan PBB dan pembicaraan Jenewa pada bulan Februari, tidak ada negosiasi perdamaian tentang masa depan Suriah. Hal yang sama telah berlaku untuk Palestina dan Israel sejak upaya maraton mediasi John Kerry menjadi omong kosong pada bulan April. Pelajaran bagi komunitas internasional, lelah atau bosan dengan bersaing cerita tentang pembantaian Timur Tengah, adalah masalah yang dibiarkan bernanah lebih buruk – dan selalu mengambil korban manusia yang mengerikan.
(lasdipo/hasi/ +ResistNews Blog )


Persatuan Dunia Islam adalah mimpi buruk bagi Barat. Barat terus menggunakan strategi integrasi untuk mengeksploitasi berbagai kepentingan ekonominya dengan berbagai proyek regionalisme seperti Uni Eropa, APEC dll.
Di sisi lain mereka terus melakukan strategi pecah-belah terhadap Dunia Islam. Ketakutan Barat terhadap persatuan Dunia Islam dilatarbelakangi oleh pengalaman sejarah yang ‘menakutkan’ ketika mereka harus menghadapi negara adidaya (super power state) Khilafah Islam sepanjang sejarah peradaban dunia. Umat Islam yang bersatu di bawah Kekhilafahan Islam berhasil menggedor Eropa, bahkan menguasai sebagian wilayahnya seperti Andalusia pada masa Kekhilafahan Ummayah-Abbasiyah dan Balkan pada masa Kekhilafahan Utsmaniyyah.
Setelah Khilafah Islam terakhir Turki Utsmani berhasil mereka tumbangkan, Barat terus berupaya mencegah kemunculan persatuan Dunia Islam, apalagi di bawah naungan Khilafah. Berbagai negeri Muslim yang dianggap memiliki kapabilitas sebagai negara yang kuat dilemahkan, bahkan kalau perlu dipecah-belah lagi menjadi beberapa negara. Inilah yang dialami Sudan; dipecah menjadi Sudan dan Sudan Selatan. Ini juga yang dialami Pakistan, yang kemudian menghasilkan penglepasan Bangladesh dari Pakistan. Bahkan ketika Kekhilafahan Turki Ustmani dalam keadaan lemah, mereka menjebaknya untuk terjun dalam Perang Dunia I. Sebelumnya, mereka merancang pembagian wilayah Khilafah dalam Perjanjian Rahasia Sykes-Picot antara diplomat Inggris dan Prancis. Perjanjian ini kemudian terbongkar karena terjadi Revolusi Bolshevic yang mengubah Kerajaan Rusia menjadi Uni Sovyet.
Upaya pecah-belah ini tidak akan berakhir. Ini adalah bagian dari strategi Barat terhadap Dunia Islam. Ini pula yang saat ini dilakukan Barat terhadap Irak.
Roadmap Pecah-Belah Irak
Irak adalah negeri Muslim yang sangat penting. Irak adalah bekas pusat Kekhilafahan Islam Abbasiyah yang berpusat di Baghdad. Pasca dikuasai Inggris setelah menang Perang Dunia I pada Oktober 1919, Irak awalnya mengadopsi sistem kerajaan dengan menempatkan ‘boneka’ Inggris dari Dinasti Hashemit/Hasyimiyah; dimulai dari Raja Faishal I yang merupakan anak dari Hussein bin Ali penguasa dari Hijaz hingga Raja Faishal II, cucunya.
Amerika Serikat lalu mengambil-alih dominasi Irak dari Inggris dengan men-support kudeta militer yang dilakukan oleh Muhammad Najib ar-Ruba’i pada tahun 1958. Karena Irak adalah negara yang kuat, perlu langkah-langkah yang lebih jitu lagi untuk melemahkan Irak.
Irak adalah negara dengan komposisi penduduk sekitar 75-80% bangsa Arab. Kelompok etnis utama lainnya adalah Kurdi (15-20%), Asiria, Turkmen Irak, dll. (5%). Muslim di Irak menurut Britannica terdiri dari Syiah 60%, Sunni 40%. Menurut CIA World Fact Book, di Irak Syiah 60%-65% dan Sunni 32%-37%. Demografi Irak yang demikian menjadi salah satu potensi untuk memecah-belah Irak.
Upaya melemahkan Irak dimulai bukan ketika Amerika menginvasi Irak dan menjatuhkan Saddam Hussein. Sejak tahun 1991 Amerika Serikat menjatuhkan sanksi zona larangan terbang (no flying zone) di wilayah Irak utara. Sejak itu, wilayah tersebut yang mayoritas penduduknya beretnis Kurdi menjadi mirip sebuah negara.
Saat menduduki Irak pada Maret 2003, awalnya Amerika Serikat menempatkan Letjen Jay Gardner sebagai gubernur jenderal di sana. Namun, karena dianggap gagal-total menangani Irak, Amerika menggantikan dia dengan Paul Bremer. Dialah yang ditugasi melakukan ‘penjarahan’ besar-besaran terhadap Irak. Langkahnya yang paling mendasar adalah menetapkan konstitusi yang isinya mengandung benih perpecahan Irak. Bersama Peter Galbraith, milyarder yang menulis buku The End of Iraq, terbitan 2006, Bremer membuat konstitusi Irak itu dengan memberikan kuota aliran dan sektarian. Undang-Undang Dasar baru Irak menekankan betul betapa pentingnya desentralisasi dan otonomi daerah di Irak.
Melalui UUD baru Irak, pemerintahan daerah termasuk di dalamnya Kurdistan, berhak mendirikan angkatan bersenjatanya sendiri; berhak sepenuhnya atas kepemilikan bumi, air, minyak dan mineral yang terkandung di wilayah Kurdistan. Bahkan Kurdistan berhak untuk mengelola ladang minyak yang ada wilayah kekuasaannya, termasuk dalam mengelola pendapatan hasil minyak mereka meski pemerintahan pusat Baghdad tetap berwenang mengelola produksi komersial ladang minyak tersebut. Konstitusi permanen ini memberikan legitimasi terhadap semua proses invasi Amerika Serikat terhadap Irak.
Perlahan Amerika Serikat mulai memberikan partisipasi yang lebih luas bagi rakyat Irak. Pada bulan Desember 2011 militer Amerika Serikat mulai ditarik dari Irak. Namun, dalam hal keamanan dan politik pengaruh Amerika Serikat masih menancap kuat di Irak.
Amerika Serikat menjaga Irak dengan mendudukkan seorang diktator sektarian tulen, Nuri al-Maliki. Secara sengaja pemerintahan-nya melakukan penindasan di wilayah-wilayah yang secara etnis minoritas di utara dan barat Irak. Jadilah eskalasi berbasiskan sektarian terus meningkat dengan hadirnya berbagai milisi bersenjata Syiah bentukan dari al-Maliki yang juga memiliki latar belakang Syiah yang kuat.
Nuri al-Malaki telah menjadi perdana menteri Irak sejak pemerintahan transisi berakhir pada tahun 2006. Kekuatan politik dan militer di Irak sangat terpusat di kantor Perdana Menteri Nuri al-Maliki. Al-Maliki mendominasi tentara Irak, unit operasi khusus, intelijen dan departemen pemerintah utama. Semuanya telah menjadi kantor pribadinya. Pemerintah Irak kemudian berkonsentrasi untuk menghadapi milisi Kurdi dan Sunni yang membentuk Islamic State of Irak, yang kemudian berubah menjadi Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).
Persoalan yang sangat mendasar di Irak adalah sektarianisme yang semakin menguat, apalagi didukung oleh negara-negara sekitar Irak yang mendorong pihak-pihak yang memiliki kesamaan etnis/mazhab dengan mereka.
Inilah yang terjadi di Irak yang merupakan implementasi politik pecah-belah yang dijalankan oleh Barat. Amerika sebagai aktor utama di Irak di-support oleh Inggris, penguasa Irak sebelumnya. Mereka tidak menginginkan Irak bersatu-padu. Mereka menginginkan Irak terpecah-belah. Setiap pecahannya saling bermusuhan dan bersaing serta saling memerangi satu sama lain.
Warga Irak memiliki latar belakang etnis yang berbeda. Letak geografis Irak juga terpisah. Adapun Konstitusi Irak menekankan pada otonomi daerah. Dengan semua itu jadilah setiap pihak bersikukuh merasa memiliki daerah kekuasaan. Masing-masing menyerukan secara terbuka pemisahan diri berdasarkan kedaerahan masing-masing.
Strategi Barat Memecah-Belah Dunia Islam
Barat sangat memahami bahwa persatuan adalah inti dari kekuatan umat Islam. Khilafah Islam pada masa kegemilangannya telah menunjukkan posisinya sebagai superpower pada masa Abad Pertengahan. Memang, Islam berpotensi melahirkan perbedaan. Namun, dalam Islam ada prinsip “perbedaan adalah rahmat” dan “amrul imam yarfa’ al-khilaf” (perintah imam [khalifah] menghilangkan perbedaan pendapat). Prinsip ini mampu mengembalikan berbagai perbedaan yang muncul di Dunia Islam ke persatuan dan kesatuan umat.
Barat senantiasa mencari celah untuk dapat masuk dan memecah-belah umat Islam. Saat Khilafah terakhir berada di tangan orang-orang Turki (Turki Utsmani), mereka menghembuskan isu Turanisme vs Arabisme. Dengan ide nasionalisme yang berkembang di Eropa pasca Perjanjian Westphalia, Dunia Islam pun dipaksa mengadopsi ide nasionalisme. Jadilah Perang Dunia I momentum untuk menghabisi keberadaan Khilafah Islam terakhir.
Inggris dan Prancis, dua negara superpower saat itu, merancang pembagian wilayah pasca perang melalui Perjanjian Sykes-Picot yang ditandatangani pada tanggal 16 Mei 1916. Perjanjian ini diberi nama sesuai dengan nama diplomat Prancis François Georges-Picot dan diplomat Inggris Sir Mark Sykes. Keduanya merundingkan pemecahan wilayah Khilafah Turki Utsmani tersebut. Khilafah pun dapat diruntuhkan dan jadilah Dunia Islam terpecah menjadi lebih dari 50 negara.
Apa yang dilakukan Barat tidak berhenti di situ. Barat sangat memahami potensi persatuan Islam ini. Karena itu berbagai upaya dilakukan untuk mencegah persatuan kembali umat Islam. Beberapa strategi kontemporer dapat dirujuk dari rekomendasi Rand Corporation, sebuah lembaga think-tankneo konservatif Amerika Serikat yang banyak mendukung berbagai kebijakan Gedung Putih. Dalam rekomendasi yang disampaikan oleh Cheryl Benard yang berjudul “Civil Democratic Islam, Partners, Resources and Strategies” secara detil diungkapkan upaya untuk memecah-belah umat Islam.
Tulisan dari Dr. Michael Brant, mantan tangan kanan Direktur CIA yang berjudul “A Plan to Divide and Destroy the Theology”, pun menunjukkan bagaimana CIA sampai mengalokasikan dana sebesar 900 juta US dolar untuk memecah-belah umat Islam.
Bahkan terkait dengan krisis Irak, Amerika Serikat sudah dalam tahapan pengkondisian legitimasi reinvasi Amerika dan implementasi peta baru Timur Tengah dengan menjadikan Irak menjadi tiga negara: Sunni, Syiah, Kurdi. Sebagaimana yang diungkap oleh Letnan Kolonel Ralph Peters, pensiunan dari National War Academy AS, dalam buku yang diterbitkan Angkatan Bersenjata Journal pada bulan Juni 2006, peta Irak dalam buku ini telah digunakan dalam program pelatihan di NATO Defense College untuk perwira militer senior.
Penegasan hal tersebut diungkapkan oleh Wakil Presiden Amerika Serikat Joe Biden yang mengklaim bahwa perwujudan tiga negara bagian federal (berdasarkan kesepakatan etnis dan suku) telah menjadi opsi penting dalam menyelesaikan krisis di Irak. Joe Biden dalam pertemuannya Sabtu (1/6/14) dengan sekelompok tokoh Irak di Washington mengatakan, “Pembentukan tiga negara bagian terpisah (Syiah-Sunni-Kurdi) adalah untuk menyelesaikan krisis dalam negeri Irak.
Menghadapi Politik Adu-Domba Barat
Barat, khususnya Amerika, telah memiliki pandangan yang khusus terhadap Timur Tengah sejak terjun ke dalam politik dunia pasca melepaskan Doktrin Monroe.
Karena itu umat Islam perlu memiliki kesadaran politik mengenai negara-negara yang memiliki peran penting dalam percaturan politik internasional. Mereka adalah Amerika Serikat, Rusia, Inggris, Prancis dan Cina. Selain itu penting juga memahami keterkaitan (connections) antara orang-orang yang memiliki hubungan yang erat dan dekat dengan negara-negara berpengaruh tersebut. Menjadikan seseorang menjadi ‘boneka’ negara asing bukanlah proses yang instan; butuh pendalaman, interaksi yang intens yang keterkaitan kepentingan yang saling berkelindan satu sama lain.
Dalam menghadapi politik adu-domba Barat, sekali lagi, penting ditegaskan mengenai kebutuhan akan persatuan dan kesatuan umat Islam di bawah naungan Khilafah Islam. Khilafah Islam yangsyar’i dapat menghapus berbagai perbedaan akibat pemahaman asing dengan senantiasa menjadikan akidah Islam sebagai asas kenegaraannya.
Penutup
Alhasil, di sinilah nilai penting seruan kepada rakyat Irak dan umat Islam pada umumnya; lebih khusus kepada bangsa Arab yaitu kalangan Kurdi, Sunni dan Syiah yang ada di Irak untuk waspada terhadap realitas ini. Selama pendudukan Amerika Serikat di Irak masih kokoh, tidak henti-hentinya strategi politik mereka terus dijalankan. Mereka akan terus berupaya mencegah Irak menjadi negara yang kuat, bahkan membuat Irak terpecah-belah menjadi beberapa negara baru.
Irak adalah negeri persatuan umat Islam. Irak pernah menjadi pusat Khilafah Islam yang membentang dari pantai barat Afrika hingga kepulauan Nusantara di timur Asia pada masa Abbasiyah. Karena itu umat Islam harus kembali pada contoh yang ditunjukkan oleh generasi pertama yang dimuliakan Allah SWT, yaitu memutuskan perkara dengan apa yang telah Allah turunkan, berjihad di jalan Allah, memutus hubungan dengan musuh-musuh umat, membuang jauh-jauh sektarianisme dan berpegang teguh hanya dengan Islam.
Semua persoalan ini bisa diselesaikan dengan menegakkan kembali Khilafah Rasyidah yang mengikuti metode kenabian. Dengan Khilafah inilah kaum Muslim menjadi mulia. [Dari berbagai sumber[H. Budi Mulyana, S.IP., M.Si.; Lajnah Khusus Intelektual DPP HTI]
Powered by Blogger.