Diboikot Uni Eropa, 80 Pabrik Susu ‘Israel’ Terancam Tutup

+ResistNews Blog - Surat kabar berbahasa Ibrani, Maariv, edisi Jumat (15/8), mengungkapkan, 80 pabrik di wilayah pendudukan ‘Israel’ yang memproduksi susu, dalam jangka satu bulan ke depan terancam tutup akibat resolusi Uni Eropa yang melarang impor susu yang bahan bakunya bersumber dari permukiman ilegal Zionis di tanah Palestina.

Resolusi itu merupakan tindak lanjut dari keputusan Uni Eropa awal tahun ini, yang melarang impor setiap produk yang berasal dari permukiman ilegal ‘Israel’ di Tepi Barat, demikian Koresponden Mi’raj Islamic News Agency (MINA) di Gaza, melaporkan, Sabtu (16/8).

Menurut Maariv, Direktur Produksi Hewani di Kementerian Pertanian ‘Israel’ telah menginstruksikan kepada semua pabrik yang menjadi target dari keputusan ini, untuk waspada bahwa dalam satu bulan ke depan, eskpor ke negara-negara Uni Eropa akan berhenti sepenuhnya.

Larangan tersebut tidak berlaku pada susu ‘Israel’ yang diproduksi di daerah dalam garis hijau.

Uni Eropa pada awal tahun ini memutuskan untuk memboikot produk susu yang diproduksi di permukiman ilegal yang dibangun ‘Israel’ di Tepi Barat, yang mengakibatkan ‘Israel’ mengalami kerugian setidaknya 30 juta dollar AS pertahun.

Tak sampai di situ, media-media ‘Israel’ bahkan menyatakan keputusan ini mungkin akan menjadi keputusan pertama dari serangkaian keputusan yang melarang impor seluruh produk Zionis yang berasal dari permukiman ilegal di Palestina.

Seorang pakar ekonomi Zionis menyatakan, larangan Uni Eropa itu merupakan yang paling berat sejak diumumkannya boikot dari setiap produk atau jasa yang bersumber dari permukiman ilegal ‘Israel’.

“Kemungkinan besar 80 pabrik yang memproduksi susu akan berhenti beroperasi, dan di masa yang akan datang bisa lebih banyak lagi yang terkena dampaknya, menunggu keputusan Uni Eropa selanjutnya,” katanya .

Para pengusaha terkait, menurutnya, harus menekan Pemerintah ‘Israel’ guna menemukan solusi cepat agar Uni Eropa mencabut keputusan boikot ini.

Sementara itu Menteri Keuangan ‘Israel’, Yair Lapid, mengatakan, boikot Uni Eropa ini akan menyebabkan ‘Israel’ mengalami kerugian ekonomi yang besar setiap tahunnya. “Total kerugian ekonomi yang dialami setiap tahunnya adalah 20 miliar dolar AS, sementara 9.980 pekerja akan kehilangan pekerjaannya,” katanya.

Uni Eropa telah mengeluarkan keputusan untuk memutuskan hubungan dengan segala aktivitas di permukiman ilegal ‘Israel’, baik perdagangan, ekonomi, budaya maupun pendidikan.



Uni Eropa mengatakan, keputusan itu diambil sebagai penerapan keputusan Mahkamah Internasional di Den Haag, Negeri Belanda, tahun 2004, yang menyatakan, permukiman ‘Israel’ di Tepi Barat adalah ilegal dan melanggar pasal 49 dari Konvensi Jenewa yang melarang negara penjajah mendirikan permukiman di daerah yang mereka duduki. (mi’rajnews agency/ +ResistNews Blog )

No comments

Post a Comment

Home
loading...