Intelijen Gunakan Gerakan Takfir untuk Hancurkan Gerakan Jihad



+ResistNews Blog - Katib Majelis Syariah Jamaah Ansharusy Syariah Ustadz Fuad Al Hazimi mengatakan ulama ideolog jihad sudah sejak lama mengingatkan bahwa gerakan takfir (pengkafiran) ekstrim seringkali dimanfaatkan oleh intelijen untuk menghancurkan gerakan jihad, seperti yang terjadi dalam kasus Jamaah Islamiyah Al-Musalahahdi Aljazair.

“Dalam bukunya Dakwatul Muqawamah Al-Alamiyah, Syaikh Abu Mushab As-Suri menyatakan bahwa Jamaah Islamiyah Al-Musalahahmenuju kehancurannya lebih banyak dilakukan oleh orang-orang yangtaujih-tauhih-nya (arahan) dimanfaatkan oleh mukhobarot (intelijen) dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh mukhobarot itu sendiri,” Kata Fuad saat berbicara dalam pertemuan bertema ‘Menyikapi Perkembangan ISIS di Indonesia’ oleh Forum Indonesia Peduli Syam (FIPS) di Arrahman Qur’anic Learning (AQL) Islamic Center, Jakarta, pada Minggu (10/8).

“Sudah barang tentu yang dimaksud taujih-taujihnya itu ghuluw (Ekstrim) dalam takfir,” lanjutnya.

Jamaah Islamiyah Al-Musalahah merupakan gerakan jihad yang cukup menonjol di Aljazair pada tahun 1990an, ketika terjadi perlawanan bersenjata terhadap rezim militer yang memberangus kemenanagan mutlak partai FIS. Namun, dikemudian hari jamaah itu bterjatuh ke dalam pemikiran Ekstrim takfir.

Lebih dari itu, Syaikh Abu Mushab As-Suri juga menyatakan bahwa tidak ada kaitannya antara fikroh (pemikiran) jihadi dengan fikroh takfiri.

“Fikroh jihadi mendasarkan pada ajakan kepada umat Islam secara menyeluruh mengadakan perlawanan terhadap Yahudi dan Nasrani yang menjajah tanah-tanah Kaum Muslimin. Sementara fikroh takfiri, justru mengajak mengkafirkan umat dan Baro’ah (berlepas diri) dari mereka.Ini bukan sebuah pemikiran yang bisa disatukan, ini jelas berbeda.” ujar Fuad.

Lanjut Fuad, Syaikh Abu Mushab As-Suri juga menyinggung situasi Aljazair pada saat itu terkait banyaknya peremehan dan pelecehan ulama yang diakui dalam kancah jihad. Sebagaimana hal itu terulang di masa sekarang, dengan banyaknya peremahan dan celaan terhadap ulama-ulama jihadi.

“Bahkan, Syaikh Athiyatullah al Liby juga melihat situasi itu merupakan aksi intelijen untuk menjauhkan aktivis Baru Ghiroh (ABG) dari ulama. Sehingga mereka tidak memiliki rujukan ulama untuk Aqliyan au Adabiyan (pemikiran atau adab), Akhlaqon wa Sulukan (Akhlak dan perilaku), kemudian mereka pun terjatuh dalam perdebatan tanpa adab yang berujung pengkafiran,” tegasnya. [kiblat.net/ +ResistNews Blog ]

No comments

Post a Comment

Home
loading...