Media Tak Adil Sikapi Isu ISIS dan Tragedi Kemanusiaan di Suriah



+ResistNews Blog - Ketua Dewan Syuro Jurnalis Islam Bersatu (JITU) M. Ubay Salman menyatakan bahwa merebaknya isu ISIS dan Daulah Khilafah belakangan ini menjadi aksi kriminalisasi terhadap Islam dan pelecehan terhadap simbol-simbol Islam.

Menurutnya, ini merupakan bagian dari agenda musuh-musuh Islam yang sudah direncanakan untuk mendelegitimasi ajaran Islam.

“Hal ini sudah mereka rencanakan jauh-jauh hari dan akhirnya mereka eksekusi lewat pemberitaan yang tujuannya adalah untuk membuat orang Islam sendiri benci dengan ajaran Islam, dengan sunnah-sunnah Rasulullah SAW, dengan jhad dan simbol-simbol Islam,” ungkap Ubay kepada Kiblat.net, Kamis malam, (14/08).

Senada dengan hal itu, Sekjen JITU, Muhammad Pizaro juga menambahkan bahwa pelecehan simbol-simbol Islam terkait pemberitaan soal ISIS merupakan suatu pelanggaran.

Sebagaimana dikabarkan sebelumnya, sejumlah media dianggap melakukan penodaan terhadap Islam dan simbol-simbolnya terkait pemberitaan soal ISIS. Sejak awal Ramadhan, harian berbahasa Inggris The Jakarta Post telah dilaporkan ke kepolisian akibat karikatur yang dianggap menghina lafadz tauhid. Beberapa hari yang lalu, RCTI juga mendapat sorotan ketika menayangkan lafadz kalimat syahadat yang disilang dengan garis merah.

“Kalau dalam hukum Islam, jelas hal itu pelanggaran. Karena lafadz Allah menempati posisi sakral dalam Islam. Di sinilah media-media yang ada harus cermat dalam memberitakan masalah ISIS. Bahwa mereka tidak setuju dengan ISIS, itu hak mereka. Tapi jangan sampai ketidaksetujuan mereka turut melecehkan simbol-simbol yang ada,” tukas Pizaro.

Ia menilai akibat ketidakcermatan media dalam memberitakan, masyarakat awam akan ikut melecehkan simbol tersebut, karena media ikut menebar kebencian kepada simbol-simbol Islam.

“Media harus ingat bahwa Indonesia adalah negara mayoritas muslim. Jangan sampai tindakan mereka menyilang lafadz Allah dan nama Rasulullah menyinggung perasaaan umat Islam,” pungkas jurnalis yang aktif menulis berbagai macam buku ini.

Terakhir, Sekjen JITU ini menyoroti ketidakberimbangan media dalam menyikapi masalah ISIS dan tragedi kemanusiaan di Suriah.

“Media di Indonesia sangat tidak fair. Di tengah ketertindasan masyarakat Suriah oleh rezim yang sudah mencapai korban 250 ribu jiwa, mereka lebih menyoroti isu ISIS-nya. Padahal rakyat Suriah kini butuh bantuan. Ketika ditindas media menyebut pemberontak, ketika mereka memperjuangkan hak-haknya, media malah menuduh mereka teroris,” tutup Pizaro. [kiblat.net/ +ResistNews Blog ]

No comments

Post a Comment

Home
loading...