Saud Al-Faisal: Kelemahan Kami Membuat Israel Terus Melakukan Pembantaian di Gaza



+ResistNews Blog - Surat kabar “Elaf” pada tanggal 12//214 mempublikasikan berita berikut: Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Saud al-Faisal menilai bahwa kelemahan yang tengah diderita umat Islam telah membuat Israel terus melakukan pembantaian di Jalur Gaza. Kemudian ia mengajukan pertanyaan: “Apakah Israel mampu melakukan agresi demi agresi jika umat Islam bersatu.”

Pernyataan Menteri Luar Negeri Arab Saudi ini disampaikan pada awal pertemuan darurat kedua tingkat menteri luar negeri Komite Eksekutif Organisasi Kerjasama Islam di Jeddah, tentang agresi Israel di Jalur Gaza. Sementara itu, al-Faisal adalah kepala sesi ke-41 Dewan Menteri Luar Negeri Organisasi ini.

Al-Faisal menambahkan: “Hal ini penting agar kita tidak lari dari tanggung jawab … Dimana semangat umat Islam, mengapa kita lemah tidak memiliki kekuatan dan ragu-ragu mengambil tindakan … apa yang terjadi pada kita, dan bagaimana kita memperbaiki internal kita sampai kita mampu melawan tantangan yang kita hadapi tanpa ada kelemahan dari internal kita?”

“Bukankah, Israel berani terus-menerus melakukan kejahatan terhadap rakyat Palestina, karena ia melihat kaum Muslim lemah, akibat perpecahan, disintegrasi, dan peperangan yang menyelimutinya, di mana seorang Muslim menghalalkan darah dan kehormatan saudara Muslimnya atas nama agama. Dan bukankah perpecahan ini telah menjadikan umat Islam terbelah dalam sekte-sekte dan kelompok-kelompok, yang membuat kekuatan asing campur tangan dalam urusan mereka, serta mempermainkan potensi dan keamanannya.”

*** *** ***

Dalam hal ini, seolah-olah Saud al-Faisal mengungkap apa yang tidak diungkap oleh orang lain, yaitu lemahnya kekuatan, ragu dalam mengambil tindakan, disintegrasi, perpecahan, dan peperangan yang menyelimutinya. Kemudian ia menggiring pendengar kepada apa yang ia inginkan, sebab yang ia maksud dengan “kelemahan” itu bukan karena adanya lebih dari lima puluh entitas monster di negeri-negeri kaum Muslim, namun maksudnya adalah “perpecahan umat menjadi sekte-sekte dan kelompok-kelompok”, dan tentu saja juga adanya partai-partai. Kelompok-kelompok inilah penyebab perpecahan, kelemahan, kekalahan dan keragu-raguan dalam mengambil tindakan. Semua inilah yang selalu dinyanyikan al-Saud, para syaikhnya dan murid-murid mereka … Di mata mereka, kalau bukan karena keberadaan partai-partai, kelompok-kelompok dan jamaah-jamaah ini, niscaya umat ada dengan ribuan kebaikannya. Adapun keberadaan entitas-entitas lemah tak berdaya—termasuk entitas negaranya—, maka itu tidak ada kaitannya dengan kelemahan, kerendahan, kehinaan, keantekan, dan kepengkhianatan; itu bukan penyebab agresi entitas Yahudi di Gaza; dan itu bukan alasan utama hilangnya Palestina. Tidak ada bukti bahwa “pasukan besar mereka” telah membela Palestina, sebab sampai nafas terakhir belum juga memberi bantuannya—sehingga sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang tendensius—Palestina santapan lezat tanpa pertempuran dan peperangan!

Siapa yang mereka tertawakan? Atau kebijakan “meng-keledai-kan umat”, menganggap umat tidak berakal, dan tidak berperasaan hingga terus-menerus menceramahinya?

Beberapa hari yang lalu, tepatnya 26 hari setelah penghancuran Gaza, dan setelah 1.500 orang syahid, yang sebagian besar perempuan dan anak-anak, Raja Arab Saudi mengeluarkan pernyataan terbuka bahwa Gaza sedang mengalami krisis kemanusiaan. Di sinilah Saud al-Faisal tengah mencampur racun dan lemak, sebagaimana rajanya. Kemudian memberikan solusi praktis untuk Gaza dan Palestina, yaitu 300 juta real kepada Kementerian Kesehatan Palestina dan Bulan Sabit Merah, serta 500 juta dolar untuk rekonstruksi, akan tetapi itu semua melalui “koordinasi dengan negara-negara donor”, yakni para majikan mereka.

Inikah apa yang dinanti Gaza dan Palestina dari mereka? Apakah dana itu mengembalikan kehidupan seorang anak yang tidak bersalah di Gaza? (Dengan asumsi bahwa dana itu benar-benar sampai).

Benar, bahwa Gaza bahkan seluruh Palestina sedang menanti persatuan umat yang sesungguhnya di bawah kepemimpinan satu orang, yang memimpin umat untuk membebaskan negeri-negeri dan rakyat dari kotoran kaum kafir penjajah. Gaza bahkan seluruh Palestina tengah menanti 1,6 miliar kaum Muslim yang dipimpin oleh satu orang penguasa yang memimpin mereka berdasarkan Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunnah Rasul-Nya, yang akan mengirim tentara menuju Palestina.

Gaza bahkan seluruh Palestina sedang menanti “kehendak” umat sendiri, bukan kehendak negara-negara besar, para majikan bagi penguasa kaum Muslim, yaitu kehendak untuk membebaskan umat dari penindasan para penjajah, baik politik, militer, ekonomi, budaya dan media. Semua inilah yang sedang dinanti Gaza bahkan seluruh Palestina, juga yang tengah dinanti oleh umat Islam, yang dijanjikan kemenangan dan kekuatan, namun itu—akan dibangun—di atas reruntuhan negara-negara pembawa bencana tersebut! [Ir. Hassamuddin Mustafa]

Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 15/8/2014.

No comments

Post a Comment

Home
loading...