Akuntansi syariah yang saat ini sedang berkembang bukanlah suatu ilmu yang baru dan asing. Bahkan, tidak benar jika dikatakan bahwa akuntansi syariah merupakan ilmu turunan dari akuntansi konvensional. Dalam artikel sebelumnya, kita sudah mengetahui bahwa teori akuntansi pertama kali muncul bukan karena buku Summa karya Luca Pacioli pada tahun 1494. Puluhan tahun sebelum itu, seorang Ulama dari kerajaan Turki Utsmani, Almazindarani telah menuliskan karya di bidang akuntansi dengan judul “Risalah Falakiyah Kitab As Siyaqat pada tahun 1363 M.
Islam memiliki pengaruh besar dalam perkembangan ilmu akuntansi, di antaranya adalah :

1. Akuntansi sangat terbantu sekali dengan penyebaran angka arab dan penemuan angka 0. Hal ini disebabkan, angka 0 membuat pencatatan transaksi menjadi lebih sederhana. Sebelum ditemukan angka 0, manusia masih menggunakan sistem angka yang rumit. Para ilmuwan menggunakan semacam daftar yang membedakan satuan, puluhan, ratusan, ribuan, dan seterus nya. Daftar yang dikenal sebagai abakus itu berfungsi menjaga setiap angka dalam bilangan agar tidak saling tertukar dari tempat atau posisi mereka dalam hitungan.

Sistem tersebut berlaku hingga abad ke-12 M, ketika para ilmuwan Barat mulai memilih menggunakan raqm al-binji (angka Arab) dalam sistem bilangan mereka. Raqm albinji menggunakan angka “nol” yang diadopsi dari angka India, meng hadir kan sistem penomoran desimal yang belum pernah digunakan sebelumnya.

Angka 0 sendiri ditemukan oleh Abu Ja’far Muhammad bin Musa al-Khawarizmi. Ia lahir di Khawarizmi (sekarang Khiva), Uzbekistan, pada 194 H/780 M

2. Kewajiban Membayar Zakat dalam Islam Menghendaki Adanya Pencatatan Keuangan
Dalam Islam, pemberlakuan wajib zakat menjadikan setiap orang harus menghitung berapa aset yang dimilikinya selama 1 tahun penuh. Besar zakat yang berbentuk presentase menyebabkan setiap orang harus menghitung berapa asset yang dimilikinya untuk menentukan besaran zakat yang harus dibayar.

Oleh karena itu, zakat dalam Islam merupakan salah satu instrumen yang menyebabkan adanya kemajuan dalam bidang keuangan, yaitu pencatatan aset.

3. Albaqarah 282 Sebagai Ayat Akuntansi
Salah satu sumbangsih besar Islam terhadap ilmu akuntansi terdapat pada ayat ke 282 dalam surat kedua Kitab Suci Alqur’an. Surat Albaqarah ayat 282 menjelaskan secara eksplisit dan detail tentang pencatatan transaksi keuangan. Detail yang sudah Allah turunkan melalui ayat ini terbukti masih relevan sampai sekarang. Selain itu, hal ini juga membuktikan bahwa Islam merupakan ajaran yang menyeluruh. Semua detail dalam ayat akuntansi ini sejalan dengan nilai yang kita hadapi dalam transaksi ekonomi sehari-hari.

Perintah dalam surat Albaqarah ayat 282 yang berhubungan dengan pencatatan transaksi keuangan adalah sebagai berikut :

• Setiap transaksi (terutama yang tidak tunai) harus dicatat dan transaksi tidak tunai memiliki jangka waktu (jatuh tempo).
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.”

• Kewajiban seorang pencatat transaksi (akuntan) untuk menuliskan setiap transaksi dengan benar dan jujur tanpa rekayasa
“Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar.”

• Pencatat transaksi (akuntan) tidak boleh merasa enggan untuk menuliskan transaksi dan harus melakukannya segera saat transaksi berlangsung
“Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya, maka hendaklah dia menulis”

• Orang yang berhutang (debitur) juga wajib menulis hutangnya dalam catatan pribadinya. Debitur yang tidak mampu menuliskan hutangnya dalam catatan pribadi, hendaknya dibantu oleh orang lain yang dipercaya.

“Dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah dia bertakwa kepada Allah Rabbnya, dan jangan-lah dia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur.”

• Hendaknya menyertakan saksi dalam setiap perjanjian jual beli tidak tunai

“Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil”

• Tidak boleh menyepelakan nominal transaksi yang kecil. Berapapun besarnya harus tetap ditulis (dicatat)

“Dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu.” [muslimdaily/ +ResistNews Blog ]

Post a Comment

Powered by Blogger.