+ResistNews Blog - Delegasi Kongres Amerika, saat pertemuannya pada hari Senin (2/9) dengan Presiden Abdul Fattah al-Sisi, mengatakan bahwa menghadapi terorisme dan ideologi ekstremis merupakan medan pertempuran bersama yang membutuhkan kerjasama antara Mesir dan Washington. Delegasi itu menegaskan dukungan Washington bagi Mesir di masa mendatang, terkait politik dan ekonomi. Presiden Mesir, Sisi bersama dengan delegasi Kongres Amerika membahas tentang perkembangan politik dan situasi di Mesir selama tiga tahun terakhir. Sisi menegaskan bahwa situasi Timur Tengah, dan terorisme yang semakin meluas, “menuntut negara-negara besar untuk melaksanakan tanggung jawabnya dengan mengambil tindakan cepat untuk mendukung negara-negara Timur Tengah yang moderat, dan apa yang mendukung upaya bersama guna mengembalikan negara di sejumlah negara Timur Tengah yang tengah menderita bencana terorisme.”

*** *** ***

Kita tidak perlu menegaskan fakta bahwa Amerika adalah negara musuh bagi Islam. Amerika sebagaimana dikatakan oleh Bush Yunior setelah peristiwa 11 September, bahwa Amerika tengah memasuki perang salib. Selanjutnya, ketika Amerika bersembunyi di balik kata-kata perang melawan terorisme, ekstremisme, dan radikalisme Islam, maka tidak diragukan lagi bahkan orang awam pun mengerti bahwa itu adalah perang terhadap Islam sebagai sebuah sistem kehidupan bagi umat Islam, dan ideologi yang berusaha mengambil kembali tempatnya di dunia, untuk memegang kendali penyelesaian semua masalah dunia. Itulah yang akan menggoncang takhta Amerika, melenyapkannya, serta mencegah kesewenang-wenangannya dan kediktatorannya di dunia.

Oleh karena itu perkataan bahwa Mesir dan Washington sedang memasuki medan pertempuran bersama melawan terorisme dan ideologi ekstremis merupakan perkara pasti. Budak mengikuti tuannya seperti bayangan yang tidak berdaya untuk memisahkannya. Ia akan melaksanakan setiap perintah tuannya tanpa penolakan. Amerika yang menginginkan rezim Mesir agar menggambarkan kepada publik bahwa Amerika sebagai musuhnya, justru kini keduanya memasuki medan pertempuran bersama, bahkan Amerika menjadi pendukung terbesar rezim Mesir. Inilah delegasi Amerika yang datang dan pergi untuk menekankan dukungan Washington bagi Mesir, setelah rezim Mesir menutupi wajah Amerika yang busuk, dengan pemilihan yang minim partisipasi, dimana dunia menyaksikan pemboikotan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Ketika kepala rezim Mesir dalam pernyataannya menggunakan ungkapan “negara-negara Timur Tengah yang moderat”, maka itu berarti negara-negara yang berada di bawah sepatu Amerika. Sehingga mereka ini menyerupai boneka yang digerakkan melalui tali oleh negara-negara kafir Barat penjajah, yang memasuki peperangan mewakili negara-negara kafir Barat untuk menggagalkan proyek besar umat, yaitu proyek Khilafah, dengan slogan “perang melawan terorisme”. Lalu, sikap moderat mana yang diomongkan Sisi? Padahal dialah pembantai dan penyebab terbunuhnya ribuan rakyat Mesir? Apakah yang dikatakan moderat itu adalah membungkam setiap media, menutup channel-channel TV, dan melarang setiap yang menyuarakan kebenaran? Apakah yang dikatakan moderat itu adalah menyeret ribuan orang ke dalam jeruji besi? Seolah-olah rezim Mesir sebagaimana rezim-rezim zalim lainnya di dunia Islam melihat bahwa dengan mengangkat slogan “perang melawan terorisme” akan memuluskannya untuk mendapatkan ridha Amerika. Mereka sepertinya yakin bahwa hanya Amerika yang bisa melanggengkan kekuasaannya. Namun sayangnya, apa yang mereka lihat itu adalah fatamorgana. Sementara akan datang segera negara Khilafah yang akan menggilas mereka, yang akan ditegakkan oleh orang-orang mukhlis dari generasi umat ini. [Syarif Zayed]

Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 9/9/2014.

Post a Comment

Powered by Blogger.