+ResistNews Blog - Kerajaan Arab Saudi membantah informasi pemindahan makam nabi Muhammad oleh surat kabar Inggris, The Independent dan Daily Mail. Pihak Kerajaan juga menyatakan bahwa informasi tersebut adalah palsu.

Kerajaan Arab Saudi menuding pemberitaan yang dilakukan oleh The Independent dan Daily Mail adalah sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah Yayasan untuk Urusan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Dalam penjelasan yang didapat surat kabar Al arabiya dari seorang pejabat tinggi kerajaan Saudi mengatakan “Perihal pemindahan makam nabi Muhammad adalah keputusan peneliti bukan pemerintah.”

Sumber tersebut menambahkan, “Keputusan tersebut diajukan peneliti dalam proyek perluasan Masjid Nabawi pada 2 tahun lalu di wilayah sisi utara, setelah adanya keputusan para ulama senior Arab Saudi mengenai perluasan Masjid Nabawi dari sisi utara.”

“Apakah akan ditingkat seperti di Masjidil Haram atau diperluas secara horizontal ke wilayah utara,” ujar sumber tersebut. 

The Independet Melaporkan Bahwa Makam Nabi Muhammad Akan Dipindah

Dalam laporan di harian The Independent berjudul ‘Saudi menghadapi risiko perpecahan baru dengan usulan memindahkan makam Nabi Muhammad’ itu mengutip usulan dalam dokumen seorang akademisi yang beredar di antara para pengawas Masjid Nabawi.

Seperti dikutip dari BBC, Rabu (3/9/2014), dokumen sebanyak 61 halaman itu menurut Independentjuga berisi usulan agar kerangka jenazah Nabi dipindahkan ke pemakaman al-Baqi yang terletak tak jauh dari Nabawi.

Rencana itu diangkat akademisi lain yang mengkritik dirusaknya tempat-tempat suci dan artefak di Kota Mekah.

Namun sejauh ini tidak ada indikasi apakah akan ada keputusan apa pun terkait rencana tersebut.

Pemerintah Saudi sebelumnya selalu menekankan akan menangani perubahan apa pun terkait tempat suci muslim itu secara sangat serius.

Dr Irfan al-Alawi –Direktur Yayasan Penelitian Peninggalan Islam– di Arab Saudi mengatakan upaya apa pun untuk melakukan perubahan terhadap makam akan memicu kerusuhan.

“Sekarang mereka ingin mencegah peziarah dari menghadiri dan penghormatan makam karena mereka percaya ini adalah sirik, atau penyembahan berhala,” ujar Alawi seperti Liputan6.com kutip dari The Independent.

Makam Nabi di sekitar Masjid Nabawi telah diperluas oleh generasi penguasa Arab, khususnya Ottoman. Ini termasuk rincian kaligrafi yang dilukis dengan tangan tentang kehidupan Nabi dan keluarganya.

Nabi Muhammad dihormati oleh kedua aliran besar dalam Islam, Sunni dan Syiah, dan menghapus makam Nabi dapat mengobarkan ketegangan antara kedua kelompok.

Alawi juga mengatakan dokumen konsultasi untuk perombakan Masjid Nabawi di Madinah oleh akademisi terkemuka Saudi Dr Ali bin Abdulaziz al-Shabal, Imam Muhammad bin Saud Islamic University di Riyadh, telah diedarkan kepada Komite Presidium 2 Masjid .

Beberapa halaman dari dokumen konsultasi baru saja dipublikasikan dalam jurnal kepresidenan. Mereka menyerukan penghancuran kamar sekitar makam, yang digunakan oleh istri dan anak perempuan Nabi, dan dihormati oleh Syiah karena hubungan mereka dengan putri bungsunya, Fatimah.

Dokumen itu juga menyerukan untuk membongkar Green Dome, yang meliputi makam dan tempat tinggal Nabi untuk dihapus, dan pemindahan akhir dari tubuh Nabi ke pemakaman di dekatnya.

“Nabi akan anonim. Segala sesuatu di sekitar masjid Nabi telah hancur. Ini dikelilingi oleh buldoser. Begitu mereka telah menghapus segala sesuatu dan mereka bisa bergerak menuju masjid,” ujar Alawi.

“Kuburan Nabi Muhamad dihormati oleh Sunni, yang tidak pernah akan melakukannya. Hal ini sama pentingnya bagi Syiah juga, yang memuliakan putri Nabi, Fatimah. Saya yakin akan ada kejutan di seluruh dunia Muslim. Ini akan menyebabkan kemarahan,” pungkasnya. (dbs/lasdipo/ +ResistNews Blog )

Post a Comment

Powered by Blogger.