Pada tanggal 28 Agustus, Barbara Mae Dacanay, koresponden Gulf News menuliskan berita bahwa anak-anak di Filipina Selatan terus menderita akibat kekerasan militer, meskipun pemerintah Filipina telah memberikan otonomi bagi Muslim Filipina di Selatan. Karapatan, organisasi hak asasi melaporkan pada Gulf News bahwa seorang bayi berusia empatbulan, terluka di paha kirinya akibat ditembak oleh seorang tentara Filipina saat tengah tidur di rumahnya di Desa Dapiawan, Datu Saudi, provinsi Maguindanao, pada tanggal 7 Juni lalu. Karapatan juga melaporkan bahwa Mohammad Abdul Karim dan anaknya Mehad Mohammad, 14, telah diculik setelah mereka ditanyai oleh anggota Batalyon Infantri ke-45 di sebuah pos pemeriksaan militer di desa Meta, Datu Unsay, Maguindanao pada tanggal 3 Juli lalu. Organisasi Karapatan saat ini sedang mempersiapkan laporan terkait terus meningkatnya jumlah anak-anak yang dibunuh, diculik, dan dilecehkan oleh pasukan keamanan di wilayah konflikMindanao.

“Dalam insiden ini, keluarga korban takut untuk berbicara karena takut pembalasan dari militer. Kehadiran militer dalam komunitas mereka telah mengintimidasi mereka, militer juga menduduki sekolah, mengganggu kelas dan berbagai kegiatan sekolah,” kata Cristina Palabay, sekretaris jenderal Karapatan. “Sekitar 18 anak-anak tewas karena kode operasi militer bernama Oplan Bayanihan (kesejahteraan masyarakat) di desa-desa terpencil di Filipina selatan, sejak tahun 2010, sehingga satu solusi untuk masalah ini adalah menarik dari pasukan militer Filipina dari masyarakat sipil di Mindanao, di mana lima juta Filipina-Muslim tinggal,” lanjut Palabay. Ia juga menambahkan, pelanggaran hak asasi manusia terhadap Muslim Filipina belum berakhir meskipun perjanjian damai telah dibuat oleh pemerintah Filipina dengan dua kelompok utama muslim Filipina utama di Selatan.

Solusi otonomi atau negara independen BUKAN solusi yang layak untuk tanah kaum Muslimin

Berlanjutnya penderitaan anak-anak Muslim Moro meski otonomi diberlakukan, adalah bukti bahwa pemberian otonomi khusus pada Muslim di Filipina, sejatinya tidak akan pernah menciptakan kemerdekaan hakiki bagi Muslim Moro yang minoritas, termasuk anak-anak Moro yang puluhan tahun hidup tertindas hingga lebih dari 120 ribu nyawa Muslim Moro melayang selama 40 tahun terakhir.

Pemerintah Filipina dan Front Pembebasan Nasional Moro (MNLF) telah lama membuat dua perjanjian perdamaian pro-otonomi di Tripoli Libya tahun 1976, dan di Malaysia pada tahun 1996. Dimana akhirnya kedua pihak menandatangani perjanjian pro-otonomi di Maret tahun 2014 ini setelah puluhan perundingan panjang yang dimulai pada tahun 1997. Perjanjian tersebut telah menghasilkan perluasan wilayah bagi Daerah Otonom Mindanao Muslim (ARMM) dan peningkatan kemandirian pemerintahan di wilayah Selatan. Negara-negara anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI) telah menjadi perantara penyelesaian politik pemerintah Filipina tersebut.

Namun kehidupan Muslim Moro nyatanya tidak berubah, anak-anak tetap terus menjadi korban tindak kekerasan militer dan Muslim Moro tetap menderita. Pelajaran penting yang harus kita ambil adalah perjuangan untuk meraih otonomi ataupun negara yang independen sesungguhnya tidak akan pernah melindungi darah umat Muslim dan hak-hak hidup mereka, seperti yang terjadi di Gaza dimana solusi dua negara menjadi tawaran solusi dari Barat dengan ratusan resolusi yang telah ditandatangani selama bertahun-tahun, namun TETAP gagal untuk melindungi darah, tanah, harta, dan hak-hak kaum Muslim Palestina. Sehingga harus kita katakan bahwa solusi otonomi atau negara independen BUKANLAH solusi yang LAYAK diperjuangkan oleh umat Islam karena hanya menciptakan harapan palsu dan menempatkan nasib umat Islam dan tanah mereka dalam cengkeraman negara-negara kuat imperialis. Di sisi lain solusi seperti ini bukanlah berasal dari Islam, melainkan berasal dari kepentingan imperialis Barat sebagai kelanjutan ‘kolonisasi’ tanah Muslim dalam cengkeraman mereka.

Dalam konteks Filipina Selatan modus pemberian otonomi hakikatnya adalah sekedar “perangkap demokrasi” yang digunakan untuk semakin menganeksasi wilayah selatan Filipina yang sangat kaya akan sumberdaya alam, melumpuhkan gerakan politik bersenjata Moro Islamic Liberation Front (MILF), dan menjinakkan umat Islam agar menjadi lebih moderat, pragmatis sehingga menyakini bahwa demokrasi adalah kancah perjuangan Islam yang ideal. Anehnya, sebagian kaum Muslim masih menaruh harapan pada bentuk solusi seperti ini. Para pemimpin Muslim khususnya tidak merasa bersalah dengan mengandalkan kaum kuffar dan pihak asing untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi oleh umat Islam.

Khilafah adalah Solusi dan Masa Depan Hakiki bagi Muslim Moro

Islam telah mewajibkan umatnya untuk hidup di bawah satu kepemimpinan politik (Khilafah). Haram bagi mereka terfragmentasi di bawah kepemimpinan politis yang lebih dari satu, apalagi harus hidup tertindas dibawah tirani mayoritas kaum kafir.Rasulullah SAW pernah bersabda:

إِذَا بُويِعَ لِخَلِيفَتَيْنِ فَاقْتُلُوا الْآخَرَ مِنْهُمَا

“Apabila ada dua khalifah yang dibaiat, maka bunuhlah yang paling terakhir dari keduanya.“ (HR. Muslim no. 3444). Oleh karena itu Khilafah akan menyatukan wilayah Filipina Selatan dengan kepulauan Indonesia, Malaysia dengan seluruh tanah kaum Muslimin di seluruh dunia. Khilafah juga akan membebaskan tanah kaum Muslimin di Mindanao, Sulu, Burma, Suriah, hingga Afrika Tengah, serta akan menjadi perisai bagi kehormatan umat Islam termasuk kaum Muslimah dan anak-anak di seluruh wilayah negara Khilafah.

Khilafah dengan visi politik luar negerinya yang luhur tidak akan pernah membiarkan wilayah kaum Muslimin jatuh ke tangan kuffar melalui berbagai jerat perjanjian imperialis. Daulah Khilafah akan mengakhiri politik luar negeri negeri-negeri Muslim yang penuh dengan nuansa kelemahan dan ketertundukan ini akibat jerat nasionalisme dan pengkhianatan penguasa boneka Barat. Khilafah akan menggantinya dengan sebuah visi politik luar negeri yang berorientasi mulia untuk penyebaran dakwah Islam ke seluruh dunia dengan metode dakwah dan Jihad.

Wahai saudariku tercinta Muslimah Moro! ingatlah bahwa jalan satu-satunya untuk merdeka adalah kembali pada pangkuan Islam dan bersatu dengan seluruh umat Islam di bawah naungan Khilafah! Sadarilah bahwa umat Islam tidak boleh kembali masuk perangkap musuh untuk kesekian kalinya, kekuatan umat Islam tidak boleh dilucuti oleh perangkap bernama demokrasi dan nasionalisme! Tetaplah konsisten dengan jalan perubahan melalui metode dakwah yang lurus yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw, karena itu bergabunglah dengan perjuangan demi tegaknya Khilafah Islam yang kedua yang akan membungkam siapapun yang menyerang dan menodai kehormatan kaum Muslimah di seluruh dunia di bawah kalimah Tauhid dan pemerintahan Islam.

Ditulis untuk Kantor Media Pusat Hizb ut Tahrir oleh :

Fika Komara

Anggota Kantor Media Pusat Hizb ut Tahrir

sumber: http://www.hizb-ut-tahrir.info/info/english.php/contents_en/entry_39516

Post a Comment

Powered by Blogger.