Kartu identitas ke-45 tentara UNDOF yang disandera oleh Jabhah Nushrah


Berikut pernyataan resmi Jabhah Nushrah terkait penangkapan dan penyanderaan 45 tentara PBB (UNDOF) di perbatasan Suriah-‘Israel’, Dataran Tinggi Golan, sebagaimana dirilis oleh Yayasan Media Al-Manarah Al-Baidha’ dan dikutip muqawamah.com, Ahad (31/8):

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

Penjelasan tentang Penyanderaan 45 Tentara Pasukan PBB untuk Pengawas Penyelesaian Konflik Bersenjata (UNDOF):

Segala puji milik Allah Yang telah memerintahkan kepada kita untuk memutuskan perkara di antara manusia secara adil, dan mensyariatkan kepada kita perlawanan yang semisal terhadap agresi. Shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Rasul yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan seluruh sahabatnya yang baik lagi suci. Amma ba’du.

Telah berlangsung lebih dari tiga tahun jihad penduduk negeri Syam yang diberkahi melawan rezim Syiah Nushairiyah yang menyerang nyawa dan harta kaum Muslimin negeri Syam. Selama masa jihad tersebut, penduduk Syam telah dan masih terus mempersembahkan pengorbanan-pengorbanan besar, untuk melawan agresi biadab rezim Nushairiyah; meskipun sedikit sekali penolong, dan pihak Timur maupun Barat menelantarkan penduduk Syam. Cukuplah Allah sebagai penolong kita dan Dialah sebaik-baik pelindung.

Selama lebih dari tiga tahun berlangsungnya jihad, PBB berlagak seolah-olah mendukung revolusi dan perlawanan penduduk Syam terhadap rezim kriminal Nushairiyah. Meskipun begitu selama masa tersebut penduduk Syam tidak mendapatkan dari PBB selain pernyataan-pernyataan ompong dan kalimat-kalimat kosong. PBB berpura-pura tidak tahu sepenuhnya terhadap kebiadaban-kebiadaban dan pembantaian demi pembantaian yang telah dan masih terus dilakukan oleh rezim kriminal Nushairiyah terhadap kaum Muslimin penduduk negeri Syam yang tak bersenjata, dari kalangan anak-anak, wanita dan orang tua.

Senjata kimia yang dipergunakan oleh rezim Nushairiyah tidak sedikit pun menggerakkan keputusan-keputusan PBB. Demikian pula bom-bom barel kematian yang membantai ribuan penduduk yang tak bersalah, foto-foto dan video-video penyiksaan keji dalam penjara-penjara rezim, puluhan pembantaian massal terhadap anak-anak dan wanita, jutaan warga yang terusir dan mengungsi tanpa mendapatkan tempat berteduh dan makanan; semua hal itu sedikit pun tidak menggerakkan PBB mengeluarkan satu pun keputusan yang membawa manfaat, yang bisa menghentikan kejahatan demi kejahatan rezim kriminal Nushairiyah terhadap penduduk negeri Syam.

Sebaliknya, PBB justru secara sepakat mengambil sejumlah keputusan terhadap Mujahidin yang menghadang kejahatan-kejahatan rezim Nushairiyah Suriah dengan nyawa, harta dan segala hal yang mereka miliki. PBB menerapkan sejumlah hukuman terhadap Jabhah Nushrah. Lalu PBB menempatkan Jabhah Nushrah dalam daftar kelompok “teroris”.

PBB tidak menghukum Jabhah Nushrah melainkan karena Jabhah Nushrah berjihad melawan kebiadaban rezim agresor Nushairiyah, Jabhah Nushrah melawan pasukan rezim Nushairiyah dan milisi-milisi loyalisnya, dan Jabhah Nushrah membebaskan rakyat Syam dan bumi Syam dari kamp-kamp militer, posko-posko militer dan penjara-penjara rezim Nushairiyah.

Maka barangsiapa membela rakyat yang dizalimi dan melindungi rakyat yang tak bersalah, dalam pandangan PBB adalah para “teroris”: “Sungguh buruk sekali vonis yang mereka jatuhkan.”

Bahkan baru-baru ini PBB memasukkan Jabhah Nushrah dalam pasal ketujuh, yang merupakan langkah operasional PBB untuk melakukan intervensi militer secara langsung dan mengaborsi jihad penduduk negeri Syam. PBB mulai melakukan persiapan-persiapan operasional dan menggalang aliansi internasional untuk menyerang penduduk negeri Syam dan mengaborsi proyek Islami (penegakan daulah Islamiyah dan penerapan syariat Islam, red) yang sedang diperjuangkan oleh Mujahidin dan menjadi harapan seluruh kaum Muslimin.

Semua langkah itu dilakukan PBB untuk memantapkan kekuasaan rezim kriminal Nushairiyah yang sampai saat ini bercokol dan melakukan tragedi pembantaian baru terhadap penduduk negeri Syam untuk mencerai-beraikan usaha-usaha dan pengorbanan-pengorbanan yang telah dicurahkan oleh penduduk Syam, bahkan oleh seluruh umat Islam, selama tiga tahun lebih ini.

Sepanjang sejarah kontemporer, kami tidak melihat pasal ketujuh diterapkan PBB kecuali terhadap kaum Muslimin. Kejahatan pembantaian terhadap umat Islam di Republik Afrika Tengah dan Burma (Rohingya) telah didengar dan disaksikan oleh seluruh penduduk dunia, namun PBB sedikit pun tidak bergerak. Bombardir Zionis “Israel” terhadap Gaza dan pembantaian-pembantaian mereka terhadap rakyat Gaza masih terus berlanjut, namun kita sedikit pun tidak mendengar pasal ketujuh (diterapkan oleh PBB terhadap “Israel”, red)!

Kebiadaban dan kejahatan rezim Nushairiyah Suriah dan sekutunya seperti milisi Syiah “Hizbu Iran” dan lain-lain terjadi setiap hari, menurut pengakuan PBB sendiri dan organisasi-organisasi internasional lainnya, namun sedikit pun kita tidak mendengar pasal ketujuh (diterapkan)!

Hal itu agar kaum Muslimin mengetahui bahwa keputusan-keputusan internasional seperti itu tidak diterapkan kecuali untuk melawan kaum Muslimin dan melawan jihad kaum Muslimin, agar kaum Muslimin tetap lemah, hina dan mengekor kepada kekuatan negara-negara besar yang merampok kekayaan alam mereka dan mengatur kehidupan mereka menurut kemauan negara-negara besar tersebut.

Maka sebagai reaksi atas kejahatan-kejahatan PBB tersebut dan konspirasi PBB terhadap negeri Syam dan penduduk Syam, Jabhah Nushrah menyandera 45 tentara Pasukan Pengawas PBB untuk Penyelesaian Konflik Bersenjata (UNDOF), pasukan yang dipaksakan oleh PBB terhadap penduduk Syam sejak tahun 1974, untuk menjamin keamanan dan mengamankan perbatasan negara jajahan Zionis “Israel” yang menjajah negeri kaum Muslimin.

Sementara pada saat yang bersamaan, Pasukan UNDOF berpura-pura tidak mengetahui sama sekali darah kaum Muslimin yang ditumpahkan setiap hari di wilayah perbatasan yang berseberangan dengan wilayah perbatasan yang diduduki Zionis “Israel” tersebut. Bahkan Pasukan UNDOF berkomplot dengan pasukan Nushairiyah, dan berulang kali memberikan kemudahan ruang kepada pasukan Nushairiyah untuk bergerak dan beroperasi menyerang kaum Muslimin yang tertindas, melalui apa yang mereka namakan “kawasan netral”.

Kami menegaskan bahwa para tentara Pasukan UNDOF yang disandera berada di tempat yang aman, dalam kondisi kesehatan yang sangat baik, dan kepada mereka diberikan layanan makanan dan medis yang mereka butuhkan. Sebab agama kami, Islam, memerintahkan kepada kami untuk memperlakukan para tawanan secara baik. Allah Ta’ala berfirman:

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا * إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا

Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.

Sesungguhnya kami memberi makanan kepada kalian hanyalah untuk mengharapkan wajah Allah. Kami tidak menghendaki balasan dari kalian dan tidak pula ucapan terima kasih. (QS Al-Insan: 8-9).

Shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya. Allah Maha Menguasai urusan-Nya akan tetapi kebanyakan manusia tidak memahaminya.

Jabhah Nushrah

Yayasan Media Al-Manarah Al-Baidha’

Janganlah melupakan kami dalam doa kebaikan kalian

Segala puji milik Allah Rabb seluruh alam

Sabtu, 4 Dzulqa’dah 1435 H / 30 Agustus 2014

[muqawamah.com/salam-online.com/ +ResistNews Blog ]

Post a Comment

Powered by Blogger.