+ResistNews Blog - Situs Hespress, pada tanggal 6/9/2014 mempublikasikan laporan Organisasi Kesehatan Dunia tentang “Bunuh Diri dan Pencegahannya”. Laporan ini mengungkapkan bahwa lebih dari 800 ribu orang melakukan bunuh diri setiap tahunnya di seluruh dunia. Bahkan bunuh diri telah menjadi penyebab kedua kematian pada kelompok usia (15-29 ), dan angka ini tidak termasuk usaha-usaha bunuh diri yang gagal.

*** *** ***

Ini adalah tragedi yang benar-benar mengerikan bahwa angka bunuh diri hampir satu juta orang setiap tahunnya, bahkan angkanya hampir 20 kali lipat (yaitu 16 juta orang) dengan mereka yang mencoba bunuh diri. Lalu dimana akal sehatnya? Apa yang tengah dirasakannya? Apakah karena keputus-asaan yang berat dan dunia menjadi gelap di matanya, sehingga ia tidak melihat ada jalan keluar selain bunuh diri?

Apakah setelah semua ini, manusia masih membutuhkan bukti lagi untuk meyakini bahwa kapitalisme, sebagai sebuah sistem yang mengatur hubungan manusia, adalah sistem yang rusak dan gagal. Sungguh, sistem kapitalisme ini tidak membawa manusia kecuali pada penderitaan dan kesengsaraan?

Meskipun secara umum kita bisa memahami bahwa alasan orang-orang kafir melakukan bunuh diri adalah karena tekanan masalah kehidupan sehari-hari akibat tidak memiliki spiritual, sehingga mereka mengira bahwa dengan melakukan bunuh diri, mereka akan lepas dari masalah mereka. Namun kita tidak bisa menerima bahwa fenomena seperti ini juga terjadi di negeri-negeri kaum Muslim. Sebab dalam Islam perbuatan bunuh diri itu diharamkan, dan hukuman bagi pelakunya adalah kekal dalam neraka. Rasulullah saw bersabda: “Siapa saja yang melompat dari gunung, sehingga membunuh dirinya sendiri, maka ia berada di neraka Jahannam dengan melompat ke dalamnya, dan kekal di dalamnya. Siapa saja yang meminum racun, sehingga membunuh dirinya sendiri, maka ia akan meminum racun yang di tangannya itu di neraka Jahannam, dan kekal di dalamnya. Siapa saja yang membunuh dirinya sendiri dengan besi, maka ia akan menusuk perutnya dengan besi yang di tangannya di neraka Jahannam, dan kekal di dalamnya.” (HR. Bukhari). Artinya, bahwa orang melakukan bunuh diri itu lari dari masalah duniawi sementara, namun ia pergi ke neraka dimana ia kekal di dalamnya, na’ūdzu billāh!

Islam juga menjelaskan bahwa Allah SWT terkadang menguji seorang Muslim di dunia, seperti menyempitkan rizki, dan kesehatannya, serta mengujinya terkait keluarganya, anak-anaknya, harta bendanya, dan yang lainnya. Allah SWT berfirman: “Sungguh Kami akan menguji kalian, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (TQS. Al-Baqarah [2] : 155). Namun seorang Muslim akan menerima semua ini dengan lapang dada. Bahkan ia senang dengan ujian yang Allah berikan pada dirinya, sebab ia melihatnya sebagai kesempatan untuk menebus dosa-dosanya. Rasulullah saw bersabda: “Apapun yang menimpa seorang Muslim, seperti kelelahan, sakit, kegelisahan, kesedihan, derita dan duka, hingga tertusuk duri, kecuali Allah menghapus dosa-dosanya.” (HR. Bukhari).

Dari Mush’ab bin Sa’ad, dari ayahnya yang berkata: “Ya Rasulullah, siapa manusia yang berat ujiannya?” Rasulullah saw bersabda: “Mereka adalah para Nabi, lalu yang sederajat dan yang sederajat. Seorang hamba akan diuji sesuai kadar agamanya. Ujian akan terus diberikan kepada seorang hamba, hingga ia dibiarkan berjalan di atas bumi, sedang ia tidak memiliki kesalahan.” (Shahih Ibnu Hibban, dan di-hasan-kan oleh al-Albanni).

Apa yang terjadi, hingga penyakit kaum kafir Barat menular kepada kami, yang membuat generasi umat Islam menjadikan bunuh diri sebagai solusi untuk lepas dari masalah?

Untuk mengetahui penyebab semua itu, tidak perlu banyak pengetahuan: Sunggh, sistem kapitalisme benar-benar telah gagal dalam memberikan kebutuhan dasar masyarakat, sehingga meningkatkan angka pengangguran, kemiskinan dan ketidakmampuan masyarakat untuk meraih hidup layak bagi dirinya dan keluarganya. Semua ini membuat tekanan terhadap masyarakat yang setiap harinya terus bertambah. Sedang sistem ini tidak cukup dengan menciptakan semua tekanan, namun ia juga berusaha memalingkan masyarakat dari agamanya, dengan menyebarkan kebebasan berpikir dan bertingkah laku; serta memerangi sikap konsisten dengan agama, dan menganggapnya sebagai jenis ekstremisme. Sehingga tidak diragukan lagi, bahwa resep yang sempurna untuk mengakhiri meningkatnya angka bunuh diri, adalah menghilangkan tekanan di satu sisi, dan memperkuat akidah masyarakat serta membekalinya kemampaun untuk memikulnya, di sisi yang lain.

Kaum Muslim selama berabad-abad tidak mengenal fenomena ini, meskipun mereka ditimpa berbagai krisis, politik, ekonomi dan militer, namun mereka tetap terikat dengan hukum-hukum Allah, sehingga mereka dengan segera mampu memulihkan kembali keadaan. Dengan demikian, kekuatan akidah dan kejernihannya akan membuat mereka mampu memikul kesulitan dunia, bahkan menganggapnya kecil dibanding pahala di sisi Allah. Sehingga yang terlintas dalam pikirannya adalah ketakutan mengakhiri hidupnya dengan cara yang dimurkai Allah.

Sementara hari ini, dalam naungan sistem kapitalisme yang rusak, yang mengabaikan pemeliharaan terhadap masyarakat, merusak pikirannya, dan membuatnya hidup dalam sebuah masyarakat rimba, dimana dengan legal yang kuat memakan yang lemah. Dengan ini, wajar akan terjadi penyebaran fenomena ini. Kita melihat bagaimana seorang melakukan bunuh diri karena tidak lagi mampu melaksanakan tanggung jawabnya, kehilangan bisnisnya, rahasianya terbongkar, kekasihnya pergi, dan banyak lagi. Semua alasan ini sangatlah mudah jika diselesaikan dengan sudut pandang syariah Islam.

Solusi dari Allah SWT adalah obat mujarab untuk semua masalah kemanusiaan. Bagaimana tidak, solusi itu dikeluarkan oleh Dzat Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui kondisi manusia, karakternya, dan apa yang baik untuknya. Allah SWT berfirman: “Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?” (TQS. Al-Mulk [67] : 14).

Sehingga kami menyeru para pemikir, intelektual dan pakar agar dengan serius mengkaji Islam, lalu mengambil setiap solusi darinya, dan membuang yang lainnya. Sebab kami yakin bahwa apapun masalah yang dihadapi manusia, baik dulu, sekarang maupun yang akan datang, pasti Allah telah menjelaskan solusi yang ampuh dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. Dan perlu diingat, bahwa obat tidak akan berguna apa-apa, sekalipun ia obat yang ampuh, jika tidak diminum oleh yang sakit. Begitu juga dengan solusi Islam, maka ia tidak akan memberikan kebaikannya kepada semua orang, jika ia tidak diterapkan. Sementara untuk bisa menerapkannya harus ada sistem yang menerapkannya, yaitu sistem Khilafah yang akan menerapkan hukum-hukum Allah dan solusinya. Dengan demikian, kesempitan dan kesengsaraan yang menimpa masyarakat bisa dihilangkan. Bahkan kenyamanan hidup dan kebaikannya, tidak hanya dirasakan oleh kaum Muslim saja, namun juga akan dirasakan oleh seluruh umat manusia.

Hizbut Tahrir sudah menempuh cara ini selama beberapa dekade. Hizbut Tahrir membahas sebagian besar masalah yang menimpa umat manusia, dan memberinya solusi. Bahkan Hizbut Tahrir telah memaparkan secara rinci bentuk negara yang mampu menerapkan hukum-hukum Allah. Semua hasil kajian dan penelitian ini, tersedia di situs-situs Hizbut Tahrir, kantor-kantor medianya, dan para aktivisnya di semua negeri-negeri kaum Muslim. Untuk itu, kami menyeru kalian agar mengkaji tsaqāfah (pemikiran Islam yang telah diadopsi) Hizbut Tahrir, menghubungi para aktivisnya, dan menjadikantsaqāfah ini obyek diskusi dalam kapasitasnya sebagai tsaqāfah (pemikiran) Islam, dan solusi praktis yang rinci bagi semua masalah manusia, juga kesempitan dan kesengsaraan yang dihasilkan oleh sistem kapitalisme. Semoga Allah mencatat kebaikan ini di tangan kalian. [Muhammad bin Abdullah]

Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 10/9/2014.

Post a Comment

Powered by Blogger.