+ResistNews Blog - Pengadilan Mesir menghukum seorang pemimpin Ikhwanul Muslimin dan ulama dengan hukuman 20 tahun penjara pada hari Selasa dengan tuduhan berusaha untuk membunuh dua polisi, demikian laporanworldbulletin.net.

Mohamed El-Beltagy dan ulama Safwat Hegazy dihukum dengan tuduhan menahan dan mencoba untuk membunuh polisi selama protes terhadap penggulingan militer terhadap Presiden terpilih Mohamed Mursi pada 3 Juli 2013.

Demonstrasi damai oleh pendukung Mursi di Rabaa al-Adawiya di Kairo dibubarkan dengan paksa oleh pasukan keamanan, yang menewaskan ratusan orang.

Seperti banyak tokoh Ikhwanul Muslimin yang lain, Beltagy menghadapi beberapa kasus hukum. Pada bulan April, ia dijatuhi hukuman satu tahun penjara karena menghina pengadilan. Dia juga telah menerima hukuman seumur hidup karena dituduh menghasut kekerasan setelah kudeta militer terhadap Mursi.

Beltagy adalah seorang kritikus vokal dari penggulingan Mursi, yang didalangi oleh mantan panglima militer Abdel Fattah al-Sisi, yang kemudian menjadi presiden terpilih Mesir melalui pemilu yang ditengarai telah dimanupulasi.

Hegazy adalah ulama pendukung Ikhwan Ikhwanul Muslimin dan penasihat medianya.

Ia ditangkap Agustus tahun lalu ketika mencoba untuk menyeberang ke Libya. Sidang ditunda sejak tahun lalu. Tiga dewan hakim yang ditunjuk telah mengundurkan diri dari kasus ini. Mereka dikabarkan khawatir dengan tekanan dari pemerintah.

Human Rights Watch mengatakan sedikitnya 817 demonstran tewas dalam pembubaran akdi damai di Rabaa al-Adawiya. Oleh banyak pengamat, pembunuhan terhadap demonstran ini disamakan dengan pembantaian pada tahun 1989 terhadap demonstran di Lapangan Tiananmen, Beijing. [muslimdaily/ +ResistNews Blog ]

Post a Comment

Powered by Blogger.