+ResistNews Blog - Penjajah Zionis tetap melarang masuknya bahan bangunan memasuki Jalur Gaza kendati ada kesepakatan gencatan senjata antara Zionis ‘Israel’ dengan kelompok perlawanan Palestina pimpinan HAMAS pada 26 Agustus lalu, kata seorang pejabat senior, Ahad (31/8).

Direktur Lembaga Penyeberangan di Pemerintah Otonomi Nasional Palestina (PNA), Nazmi Muhana, memberitahu Xinhua bahwa saat ini pihak Palestina “belum diberitahu atau menerima keterangan mengenai perubahan apapun yang berkaitan dengan pengoperasian kedua pos utama penyeberangan di perbatasan antara ‘Israel’ dan Jalur Gaza”.

“Sekarang ini, apa yang diperkenankan setiap hari hanyalah 250 sampai 300 truk yang bermuatan makanan, sayuran, pakaian, dan bahan bakar,” kata Muhana sebagaimana dikutip Antara, Senin (1/9) dari Xinhua.

Ia menambahkan, “Jumlah truk itu belum bertambah sejak berakhirnya perang.”

Selama agresi militer Zionis terhadap Gaza, kerusakan parah terjadi pada rumah, bangunan, gedung pemerintah, masjid dan prasarana.

Sebagian kesepakatan gencatan senjata yang dicapai di Kairo, Mesir, ialah memperkenankan semua barang, termasuk bahan bangunan dan dimulainya pembangunan di Jalur Gaza.

“PNA meningkatkan kontaknya selama beberapa hari belakangan guna mengizinkan bahan bangunan dan industri bisa memasuki Jalur Gaza agar proses pembangunan dapat segera dimulai setelah perang berakhir,” kata Muhana.

Pada 2007, Zionis menjatuhkan blokade ketat atas daerah kantung Palestina tersebut, segera setelah HAMAS merebut kendali dengan mengusir pasukan keamanan yang setia kepada Presiden Palestina Mahmoud Abbas.

Namun, pada 2010, penjajah laknatullah itu meredakan blokade tersebut dan mengizinkan pasukan komando Zionis menyerang armada kapal bantuan tujuan Jalur Gaza; sembilan aktivis Turki gugur dalam aksi militer Zionis tersebut.

Selain meredakan blockade Zionis, kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Mesir itu juga memperluas daerah penangkapan ikan bagi nelayan Jalur Gaza dari tiga mil menjadi enam mil.

‘Israel’ dan Palestina juga sepakat melalui Mesir untuk mengadakan perundingan setelah satu bulan gencatan senjata mengenai masalah lain seperti pembangunan pelabuhan laut dan bandar udara bagi Jalur Gaza dan pembebasan tahanan. (Antara/ +ResistNews Blog )

Post a Comment

Powered by Blogger.