+ResistNews Blog - Sebuah video beredar berisi tentang pembunuhan seorang laki-laki oleh organisasi tertentu. Kemudian insiden itu dinilainya sebagai aksi terorisme yang menjadi misi dibentuknya kelompok-kelompok Islam. Sehingga itu menjadi alasan untuk mengirim pasukan dan para pilot. Bahkan ada pihak di PBB yang menyerukan agar melakukan “perang global”. Sementara ratusan ribu warga sipil yang dibantai, serta jutaan terluka dan diusir hanya menjadi masalah yang diperdebatkan!

Dengan logika ini, kekuatan kolonial memperlakukan apa yang terjadi di tanah Syam. Dan dengan tolok ukur ini, kekuatan kolonial menilai kejahatan rezim Suriah, yang baru-baru ini membantai puluhan perempuan dan anak-anak pengungsi di pedesaan selatan Idlib dengan tong-tong berisi bahan peledak. Dengan demikian, istilah terorisme ini dibikin oleh Amerika sesuai dengan kebutuhannya, diberikan pada siapa saja yang dikehendaki, dan disembunyikan dari siapa saja yang dikehendaki!

Semua ini menunjukkan fakta-fakta yang tidak diragukan lagi bahwa klaim kekuatan kolonial adalah dusta dan palsu. Klaim itu sebenarnya dirancang oleh mereka untuk mencegah tegaknya kembali Khilafah, dan untuk memperkuat pengaruh kolonialismenya. Sehingga selain darinya hanyalah klaim dan penyesatan (pal-tahrir.info/ +ResistNews Blog ).



+ResistNews Blog - Sebuah pernyataan dirilis di media online, tentang bagaimana amannya gereja dan komunitas Kristen di Mosul Irak yang dilindungi oleh mujahidin Daulah Islamiyah setelah mereka membayar jizyah.

Dalam pernyataan itu disampaikan bahwa hukum Allah adalah hukum yang melindungi semua manusia.

“Kota Mosul adalah rumah bagi sekitar 130.000 orang warga Kristen yang hidup dengan nyaman dan tenang atas keadilan hukum Allah, yang dikelola oleh Daulah Islamiyah (Khilafah Islam),” dimikian seperti dilansirArraqqah Media, pada Ahad (27/10/2014).

“Kristen di bawah Daulah Islamiyah diwajibkan untuk membayar jizyah (pajak) dan setelah itu mereka dilindungi dari siapa pun. Kami adalah saksi kepada media massa melalui portal web, saluran televisi dan layar yang ingin menunjukkan bila warga Muslim itu setan, dan semua warga Muslim di cap sebagai pembunuh, teroris, haus darah, seseorang yang berharap kekacauan. Namun hal-hal yang terjadi adalah kebalikan dari semua cap atau label yang diberikan oleh kaum kafir terhadap warga muslim.”

“Muslim secara historis menunjukkan kebenaran dan kebaikan mereka. Foto di bawah ini menunjukkan bagaimana polisi kekhalifahan Islam melindungi gereja dan orang Kristen Kristiani di bawag Daulah Islamiyah yang telah membayar jizyah.”

Demikian menurut pernyataan itu. Dalam posting tersebut terlihat bebeberapa foto dimana seorang pendeta kristen baru saja turun dari mobil, warga kristan dan anak kecil terlihat beraktifitas biasa saja disekitarnya dengan seorang mujahidin Daulah Islamiyah berjaga-jaga. [panjimas/ +ResistNews Blog ]











+ResistNews Blog - Penutupan masjid Al-Aqsa oleh Zionis Israel menyusul penembakan seorang Yahudi garis keras adalah sama dengan “pernyataan perang,” kata Presiden Palestina Mahmud Abbas.

“Eskalasi berbahaya Israel ini adalah pernyataan perang terhadap rakyat Palestina dan terhadap tempat-tempat suci bangsa Arab dan negara Islam,” kata juru bicara Abbas, Nabil Abu Rudeina, seperti dikutip AFP.

“Kami menganggap pemerintah Israel bertanggung jawab atas eskalasi berbahaya di Yerusalem ini yang telah mencapai puncaknya lewat penutupan Masjid Al-Aqsa pagi ini,” kata dia kepada AFP.

Kompleks peribadatan itu adalah tempat paling suci ketiga dalam Islam, namun Zionis Yahudi juga mengklaimnya sebagai tempat suci dan menyebutnya sebagai Gunung Kuil.

Yahudi tidak diperkenankan berdoa di sana karena khawatir itu bisa mengganggu status quo yang rapuh di sana.

“Keputusan ini adalah tindakan yang berbahaya dan tantangan terang-terangan yang akan membawa kepada ketegangan dan ketidakstabilan lebih besar serta akan menciptakan atmosfer negatif nan berbahaya,” kata dia.

“Negara Palestina akan mengambil semua langkah hukum agar Israel bertanggung jawab dan menghentikan serangan yang sedang berlangsung ini.”

Zionis Israel memerintahkan kompleks peribadatan Islam itu ditutup bagi segala pengunjung, baik muslim maupun Yahudi, hari ini setelah insiden penembakan yang terjadi semalam lalu di mana seorang pria bersepeda motor berusaha menembak mati seorang aktivis Yahudi ultranasionalis yang sudah lama berjuang menjamin hak-hak beribadat Yahudi di alun-alun Al-Aqsa.

Beberapa jam kemudian, polisi menyerbu rumah seorang Palestina tersangka penembakan itu, dan memicu tembak menembak yang membuat pria Palestina itu gugur.

Yerusalem timur yang dihuni Arab dan diduduki Zionis Israel pada Perang Enam Hari 1967 dan kemudian dicaplok itu yang tak pernah diakui oleh masyarakat internasional, terus diguncang kekerasan sejak awal Juli. Hampir setiap hari terjadi bentrok antara pemuda Palestina bersenjatakan batu melawan polisi Zionis Israel, demikian AFP. [AW/Ant/panjimas/ +ResistNews Blog ]



+ResistNews Blog - Pakar Anti Komunis, Ustadz Alfian Tanjung mengungkap hal mencengangkan tentang dugaan gerakan komunis di balik kemenangan Jokowi.

Hal itu disampaikan Ustadz Alfian Tanjung yang mengungkapkan bahwa lingkungan tempat tinggal Jokowi di Solo dikenal sebagai Basis Revolusioner.

“Jokowi secara pribadi memang tidak bisa distigma sebagai sosok PKI, tetapi kampungnya, secara historis lingkungan tempat tinggalnya di Solo itu memang Basrev, Basrev itu Basis Revolusioner, itu sudah diketahui banyak orang,” kata Ustadz Alfian Tanjung usai menjadi pembicara Majelis Taqarrub Ilallah (MTI), di Masjid Abu Bakar Siddiq, Jalan Otista Raya, Jakarta Timur, Sabtu (25/10/2014).
jargon yang dimunculkan persis seperti pada tahun 1963-1964, pada tahun itu jargon yang muncul bunyinya; ‘Nasakom adalah Kita’ jadi silahkan dipahami sendiri, jargon atau idiom apa yang mirip digunakan Jokowi

Ia juga menyampaikan dalam kampanye Jokowi ada idiom yang menurutnya mirip dengan idiom saat kampanye PKI.

“Yang jadi persoalan adalah ketika kampanye Jokowi itu ada idiom, jargon yang dimunculkan persis seperti pada tahun 1963-1964, pada tahun itu jargon yang muncul bunyinya; ‘Nasakom adalah Kita’ jadi silahkan dipahami sendiri, jargon atau idiom apa yang mirip digunakan Jokowi,” bebernya.

Bahkan, Ustadz Alfian Tanjung juga menyebut adanya dugaan orang-orang yang menggunakan kaos bergambar palu arit saat mengawal kampanye Jokowi.

“Pada saat kampanye Pilpres itu bisa dilihat ada orang-orang yang mengawal kampanye menggunakan kaos berlogo palu arit terutama di daerah-daerah basis seperti di Jawa Tengah, Jawa Timur,” ungkapnya.

Intinya, kata Ustadz Alfian Tanjung kemenangan Jokowi dalam Pilpres menjadi kegembiraan bagi kaum Komunis.

“Yang jelas kemenangan Jokowi menjadi kegembiraan di kalangan keluarga besar PKI secara nasional,” tuturnya. [AW/panjimas/ +ResistNews Blog ]



+ResistNews Blog – Publikasi media jihad semakin hari semakin terlihat nyata, beberapa majalah baru bermunculan sebagai bentuk perlawanan dan penyeimbang media asing dan propaganda barat.

Al Qaeda memiliki “Inspire” dan “Resurgence”, sementara Taliban Afghanistan memiliki “Al-Somood”, ISIS memiliki “Dabiq” dan sekarang giliran mujahidin Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP) merilis majalah sendiri dengan nama “Ihyae Khilafah”.

Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP) mengalamai beberapa pergeseran struktur menyusul bergabungnya beberapa jihadis ke kubu ISIS.

TTP dinilai mulai mengadakan publikasi informasi besar-besaran di bidang media setelah sebelumnya hampir empat tahun menerbitkan majalah berbahasa Urdu saja, kini mereka mulai menggerakkan media dengan berbagai bahasa agar dapat diketahui public dunia.

Ehsanullah Ehsan, juru bicara Taliban, mengatakan kepada NBC News bahwa tujuan merilis majalahnya dalam berbagai bahasa adalah untuk memberi informasi kepada seluruh dunia dan merekrut jihadis yang lebih luas.

Ehsanullah Ehsan memasukkan muatan prinsipil agama yang meliputi aspek rohani, politik Islam dan perjuangan.

“Kami akan menyampaikan berita tentang perjuangan kami dan prestasinya melawan musuh,” tambahnya.

Majalah itu juga menampilkan artikel seperti “Hidup di bawah naungan Khilafah,” tanya jawab dengan mujahid terkemuka “Mengapa saya memilih untuk berjihad”, testimonial dari mujahid Taliban asal Inggris dan artikel tentang “cerita, gagasan dan pendapat langsung dari medan perang.”

TTP yang menyatakan baiatnya kepada Mulla Umar, terus mengadakan perlawanan melawan tentara AS dan militer Pakistan.

Pemimpin Redaksi Majalah ini adalah Abu Obaida al-Islamabadi, seorang mantan perwira militer di Pakistan. Dalam sebuah video yang dirilis baru-baru ini oleh Taliban, al-Islamabadi mengatakan bahwa nama aslinya adalah Tariq Ali, seorang yang pernah belajar ilmu bedah di London.

download majalah Ihyae Khilafah di sini. (nb/ld/lasdipo/ +ResistNews Blog )



+ResistNews Blog - Pentagon telah merevisi perkiraaan biaya yang dikeluarkan Amerika Serikat dalam perang di Irak dan Suriah, dengan mengatakan bahwa serangan terhadap kelompok Negara Islam (IS/ISIS) menghabiskan dana sekira 8,3 juta dolar AS atau Rp. 100,8 miliar sehari.

Sejak serangan-serangan udara mulai dilancarkan pada 8 Agustus, termasuk 6.600 serangan mendadak oleh pesawat AS dan sekutu-sekutunya, biaya yang telah dihabiskan adalah sebesar 580 juta dolar (Rp7 triliun), kata juru bicara Pentagon Komandan Bill Urban.

Departemen Pertahanan AS itu sebelumnya memperkirakan bahwa biaya harian yang dikeluarkan untuk operasi militer sebesar lebih dari 7 juta dolar sehari.

Angka yang lebih tinggi itu memperlihatkan meningkatnya serangan udara serta penerbangan-penerbangan terkait lainnya, kata seorang pejabat departemen pertahanan yang tidak ingin disebutkan namanya kepada AFP.

Namun, para analis independen mengatakan Departemen Pertahanan bersikap menyepelekan biaya sebenarnya dari perang tersebut, yang dimulai pada pertengahan Juni dengan dikerahkannya ratusan pasukan AS untuk memberikan perlindungan bagi kedutaan besar Amerika di Baghdad serta menjadi penasihat bagi tentara Irak.

Sejumlah mantan pejabat yang mengurusi anggaran serta para pakar di luar departemen tersebut memperkirakan bahwa biaya perang sudah mencapai satu miliar dolar dan bisa meningkat hingga menjadi beberapa miliar dolar dalam waktu setahun.

Todd Harrison dari Center for Strategic and Budgetary Assessmentsmelihat bahwa perang tersebut bisa memakan dana 2,4 hingga 3,8 miliar dolar dalam satu tahun.

Perkiraan itu tercantum dalam analisis yang dikeluarkan pada 29 September.

Jika kekuatan serangan bom diperluas, perang melalui udara bisa memakan biaya sebesar 4,2 hingga 6,8 miliar per tahun, demikian menurut laporan Harrison.

Salah satu faktor yang menguras anggaran untuk perang udara adalah begitu banyaknya penerbangan-penerbangan untuk pengawasan dan pengintaian yang diperlukan untuk melaksanakan pemboman, kata para analis. (rol/lasdipo/ +ResistNews Blog )



+ResistNews Blog - Sebanyak 970 Wbsite Israel menjadi sasaran serangan kelompok Hacker Muslim, dalam pesannya mereka mengajak semua Hacker untuk terus menyerang situs-situs milik Israel dan mengekspos segala bentuk kejahatan mereka terhadap rakyat Palestina melalui Media.

Mereka juga menyatakan bahwa peluncuran roket-roket ke wilayah Israel merupakan tindakan respon atas kebiadaban tentara Israel selama ini dan itu merupakan tindakan logis yang dibenarkan bukan merupakan sebuah tindakan terorisme.

“Israel tidak pernah ada, yang ada hanyalah Palestina, jika anda seorang Hacker, aktivis HAM, maka seranglah situs Israel dan eksposlah kejahatan mereka ke seluruh dunia, betapa banyak darah anak-anak dan wanita yang tak berdosa telah berlumuran di tangan mereka,” tulis mereka dalam pesannnya pada sebagian dari 970 website yang berhasil mereka deface.

Untuk diketahui, kelompok Hacker Muslim yang menamakan dirinya AnonGhost ini merupakan kumpulan dari beberapa kelompok Hacker dari seluruh dunia antara lain: Mauritania Attacker – Virusa Worm – Jih4d – AnonxoxTn – Tak Dikenal – Younes Lmaghribi – Mrlele – Mauritania K!ll3r – V0RT3X – Dr.SaM!M_008 – BillGate – RudeAt Localhost – Pr3d4T0r – X-Wanted – PhObia_PhOneyz – Mauritania InjeCtor – Donnazmi – Black Cracker – Extazy007 – M-c0d3r – DarkR00T – haxOr trojAn – Hamzah Uygun – Hellion – CoderSec – HusseiN98D – Mr.Ajword – xIdontknow – Mr HuNT3r – rummykhan – Hani Xavi – Samir inject0r – Noname-Hax0r – Mr-Domoz Ps – TRAFIQUANT – Ghostralia – Don Maverick RevCrew

Hingga berita ini ditulis, sebagian tampilan website yang telah menjadi target belum juga diperbaiki. Beberapa website tersebut adalah:

http://www.viva.co.il/

http://www.mgnz.co.il/
http://www.palm.co.il/
http://www.profit1.co.il/
http://www.bioisrael.com
http://www.galmir.co.il/upload/
http://www1.idf.il
http://ilanza.co.il/
http://ikalderon.co.il/
http://hacozat-baryochai.co.il/
http://gutmanadv-law.co.il/
http://grarbengigi.co.il/
http://grar-baruch.co.il/
http://gazit-kitchens.co.il/
http://gabiproject.co.il/

…..

Daftar selengkapnya bisa dilihat di sini.

————————————————– #VivaHamas
| https://facebook.com/AnonGhostTeamOfficial | #VivaAlQassam
| https://twitter.com/AnonGhostTeam |
————————————————–
Breaking : 970 Israeli websites HaCkeD by AnonGhost #OpSaveAlAqsa
Official Video #OpSaveAlAqsa https://www.youtube.com/watch?v=l0mSGuq02Q0

(Newsman/pastebin/shoutussalam/lasdipo/ +ResistNews Blog )



+ResistNews Blog - Uni Emirat Arab (UEA) telah memainkan peran besar dalam menjual rumah-rumah penduduk Arab di Silwan, di selatan Masjid Al-Aqsa, untuk perusahaan-perusahan konstruksi pemukiman Israel, anggota senior Gerakan Islam telah mengungkapkan.

Dalam sebuah wawancara dengan saluran berita Al-Quds, wakil ketua Gerakan Islam di Israel Sheikh Kamal Khatib mengatakan:. “Mungkin dalam beberapa hari mendatang akan lebih banyak lagi yang terungkap. Namun, seseorang harus menyebutkan bahwa sejumlah besar uang telah ditransfer dari UEA ke Bank of Palestina dan bahwa kantong-kantong uang diserahkan kepada sekitar 34 keluarga yang memiliki apartemen di Silwan.”

Khatib ditanya: “Awalnya direncanakan bahwa uang itu melalui dana moneter Palestina Jadi, pertanyaan saya adalah … mengapa tidak dilakukan?”

Dia menyerukan kepada pihak yang berwenang Otoritas Palestina untuk melakukan penyelidikan untuk menindaklanjuti hal ini secepat mungkin.

Para pemukim di Yerusalem telah menguasai sebuah gedung apartemen dan sebuah rumah dengan tanah sekitarnya di distrik Al-Hawa di Silwan. Properti ini terletak tepat di sebelah selatan Masjid Al-Aqsa dan semua itu sekarang di bawah pengawasan tentara Israel.

Koran Haaretz mengungkapkan beberapa hari yang lalu sebuah perusahaan palsu milik Elad, sebuah geng Israel, telah terdaftar di luar negeri atas nama Kandel Finances dan telah membeli rumah-rumah Palestina secara tidak langsung. (middleeastmonitor.com/ +ResistNews Blog )



+ResistNews Blog - Dua orang analis politik dari Jalur Gaza menilai langkah Mesir menciptakan zona penyangga di sepanjang perbatasan Gaza sebagai “proyek Israel yang bertujuan untuk membersihkan kelompok perlawanan dan melumpuhkan kemampuan militernya dalam menghadapi agresi Israel” dalam bentuk agresi apapun di masa mendatang, dan penghapusan “Hamas” sepenuhnya dari panggung politik.

Naji Bathah spesialis urusan Israel mengatakan bahwa proyek yang tengah dijalankan Mesir dengan memulai pembentukan zona penyangga di perbatasan dengan Jalur Gaza adalah “perang yang membinasakan, tidak kenal belas kasih, dan terus dilakukan terhadap kelompok perlawanan Palestina, dengan dalih menjaga keamanan nasional Mesir”, dan mengesampingkan arti hubungan antara perbatasan Gaza dan keamanan nasional Mesir.

Naji menegaskan: “Sebenarnya tidak ada kepentingan apapun bagi Mesir dalam membangun zona ini. Namun itu adalah kepentingan istimewa bagi Israel”.

Naji menekankan dalam pernyataannya pada situs “arabi 21” bahwa “ancaman sebenarnya bagi keamanan nasional Mesir adalah Israel itu sendiri, kecuali jika doktrin tempur Mesir berubah, yaitu menjadi musuh bangsa Arab, dan bangsa Arab menjadi musuhnya”.

Pasukan Mesir mulai mengevakuasi perbatasan dengan Jalur Gaza dari penduduk Mesir, dimana banyak dari mereka yang dipaksa agar meninggalkan rumah mereka sebagai awal untuk pembentukan zona penyangga.

Naji mengatakan bahwa ada tiga dimensi dari proyek ini, yaitu: dimensi militer, yang bertujuan “untuk menghentikan semua perlengkapan militer ke Jalur Gaza, sehingga tetap menjadi jaminan atas penyerahan Jalur Gaza secara periodik”. Sedang dimensi kedua adalah politik, “sebab Presiden Mesir Sisi dan rezim politiknya berusaha untuk mewujudkan tujuan pihak-pihak yang mendukungnya agar mendapatkan legitimasi politik dari sudut pandangnya”.

Naji menjelaskan bahwa pihak yang memimpin pembangunan zona penyangga ini adalah “intelijen militer Mesir, dan ini dianggap sebagai prestasinya di antar intelijen negara-negara di kawasan itu, setelah dinas keamanan Israel—Shabak, Mossad dan Aman—gagal dalam mencegah penyelundupan senjata canggih dan modern ke Jalur Gaza, yang sangat mengancam bagi pendudukan,” dan ini merupakan dimensi terakhir, yakni dimensi keamanan.

Naji menilai bahwa proyek ini “utamanya tiga dimensi seperti tersebut di atas yang akan diwujudkan di Jalur Gaza, dalam upaya untuk menciptakan keamanan melalui poros-pros baru yang lahir di kawasan Timur Tengah”. Naji menambahkan bahwa Perdana Menteri Israel Netanyahu mengatakan bahwa ada poros-poros yang mulai terbentu, yaitu “poros Kairo, Tel Aviv, Riyadh, Amman dan Abu Dhabi”.

Analis spesialis urusan Israel ini menjelaskan bahwa “kita hidup dalam suasana kontra-revolusi di Mesir yang konsisten dengan proyek-proyek Israel di kawasan Timur Tengah. Sebenarnya pembentukan zona penyangga merupakan program tentara Israel, yang telah disetujui pada tahun 2004, seperti yang diberikan surat kabar Israel, Haaretz, edisi tanggal 27 Oktober 2014”.

Surat kabar Israel itu mengatakan bahwa pendudukan menetapkan zona penyangga dengan panjang 14 km dan lebar 300 meter, dan membuat saluran air berasal dari laut yang dalamnya 50 meter dan lebarnya 20 meter, di sepanjang perbatasan Mesir dengan Jalur Gaza, hingga penyeberangan “Kerem Shalom” Israel. Inilah proyek yang sekarang tengah dilaksanakan di dalam wilayah Mesir.

Sementara itu, analis politik Hatim Abu Ziyadah menjelaskan bahwa proyek ini adalah “permintaan terpenting Israel. Rencana dari proyek ini telah diajukan pada rezim Mesir sebelumnya yang dipimpin oleh Husni Mubarak, namun karena banyaknya hambatan, ia tidak bisa memulai proyek tersebut”. Hatim mengatakan bahwa “kekalahan pendudukan dalam perang—yang oleh kelompok perlawanan dinamakan dengan—al-ashfu al-ma’kūl, daun-daun yang dimakan (ulat), dimana perang ini benar-benar telah merusak reputasi tentara Israel, dan agar kejadian ini tidak terulang kembali, harus dilakukan penutupan terhadap semua terowongan” (islammemo.cc/ +ResistNews Blog ).




[Al-Islam edisi 728, 7 Muharram 1436 H-31 Oktober 2014 M]

Akhirnya Presiden Joko Widodo bersama Wapres Jusuf Kalla pada Ahad (26/10) mengumumkan susunan kabinetnya. Kabinet yang terdiri dari 34 menteri itu dinamakan “Kabinet Kerja”. Esoknya, Senin (27/10), kabinet tersebut dilantik, dilanjutkan dengan sidang kabinet pertama yang langsung dipimpin Presiden Jokowi. Presiden mengawali sidang dengan meminta seluruh menteri untuk langsung bekerja. “Kita harapkan para menteri bisa langsung kerja dan tancap gas” (Republika, 28/10).

Selama lima tahun ke depan Kabinet Kerja menghadapi tantangan besar. Pasalnya, kondisi negeri ini terpuruk di berbagai lini. Karena itu cukup berat mewujudkan janji-janji Jokowi-JK—setidaknya ada 60 janji—yang pernah mereka sampaikan sebelumnya selama masa kampanye Pilpres.

Sebagian besar janji itu akan diwujudkan selama lima tahun. Beberapa janji akan diwujudkan segera sejak keduanya terpilih dan dilantik. Membangun e-government, e-budgeting, e-procurement, e-catalog dan e-audit, misalnya, dijanjikan terwujud kurang dari dua minggu (http://news.detik.com).

Namun, masyarakat tampaknya harus siap kecewa jika janji-janji itu tak terwujud. Pasalnya, pada awal pembentukan kabinet saja, beberapa janji tidak terpenuhi. Jokowi, misalnya, pernah berjanji tidak akan bagi-bagi kursi menteri ke partai pendukungnya (http://m.merdeka.com); juga tidak akan berada di bawah bayang-bayang Megawati (http://www.solopos.com, 22/7). Faktanya, dari 34 menteri dalam Kabinet Kerja, 14 menteri berasal dari orang-orang berlatar belakang parpol (PDIP 4 menteri, PKB 4 menteri, Nasdem 3 menteri, Hanura 2 menteri dan PPP 1 menteri). Alokasi menteri untuk parpol pendukung sebenarnya selalu terjadi. Dalam sistem demokrasi, itu adalah wajar, bahkan merupakan keniscayaan. Karena itu sejak awal janji koalisi tanpa syarat dianggap tak mungkin atau sekadar pencitraan.

Dalam sistem demokrasi, penguasa juga tidak mungkin lepas dari pengaruh parpol. Pasalnya, sejak awal parpollah yang menentukan mereka menjadi calon penguasa. Suara, kepentingan dan pengaruh parpol tentu tidak bisa diabaikan. Ketua umum adalah pihak yang sangat menentukan dalam sebuah parpol. Itu artinya, dalam sistem demokrasi, penguasa pasti banyak dipengaruhi oleh parpol, khususnya ketua umumnya. Apalagi jika penguasa itu bukan termasuk orang kunci di dalam parpol pengusungnya. Karena itu janji untuk lepas dari pengaruh parpol atau ketum parpol sulit bahkan mustahil terwujud.

Faktanya, Presiden Jokowi dan Wapres JK meminta pertimbangan para ketua umum partai politik, termasuk Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dalam menyusun kabinetnya. JK mengatakan, masukan dari pimpinan partai politik penting. “Karena di ujungnya nanti kalau ada apa-apa, yang dukung, yang bela itu parpol juga, maka konsul dengan pimpinan parpol penting itu, apalagi parpol usulkan calon bagian koalisi partai itu,” kata Kalla dalam wawancaranya dengan Najwa Shihab pada acara Mata Najwa yang disiarkan Metro TV, Selasa (22/10) malam (Kompas.com, 23/10).

Sekretaris Fraksi PDI Perjuangan Bambang Wuryanto mengatakan, empat nama kader PDI Perjuangan yang ditunjuk sebagai menteri di Kabinet Jokowi semuanya berasal dari Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. “Kalau PDI Perjuangan, itu keluar dari Ibu Ketum,” kata Bambang (Inilah.com, 28/10).

Jokowi pun pernah berjanji membentuk kabinet ramping (slim cabinet). Bahkan ketika Tim Transisi dibentuk, santer diberitakan kabinet nanti akan dirampingkan maksimal hanya 30 menteri. Alasannya, kementerian yang ada terlalu gemuk. Negara dengan jumlah penduduk lebih banyak dan skala ekonomi lebih besar saja jumlah menterinya sedikit (AS 15 menteri dan Tiongkok 25 menteri). Kenyataannya, Jokowi-JK mengambil jatah maksimal yang dibolehkan oleh pasal 15 UU No. 39/2008 tentang Kementerian Negara, yaitu 34 kementerian.

Kabinet Kerja justru tampak lebih gemuk. Ada tambahan kementerian koordinator baru, yaitu Kementerian Koordinator Kemaritiman, dan satu kementerian, yaitu Kementerian Agraria dan Tata Ruang. Agar bisa ditambah, kementerian yang ada dipecah dan digabungkan. Kementerian Kehutanan digabung dengan Kementerian Lingkungan Hidup menjadi Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup. Ditjen Dikti dipisahkan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, lalu digabungkan ke Kementerian Ristek menjadi Kementerian Ristek dan Pendidikan Tinggi. Ditjen Tata Ruang dipisahkan dari Kementerian PU dan digabung dengan BPPN menjadi Kementerian Agraria dan Tata Ruang. Kementerian Perumahan Rakyat digabungkan ke Kementerian PU menjadi Kementerian PU dan Perumahan Rakyat. Urusan Transmigrasi dipisahkan dari Kementerian Tenaga Kerja dan digabungkan ke Kementerian PDT menjadi Kementerian PDT dan Transmigrasi. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dikurangi bidang ekonomi kreatif menjadi Kementerian Pariwisata. Adapun untuk urusan ekonomi kreatif akan dibentuk badan sendiri.

Selain itu ada tiga lembaga yang akan dibentuk Presiden Jokowi, yaitu kepala staf kepresidenan dengan beberapa direkturnya yang—menurut Andi Widjojanto, mantan Deputi Tim Transisi Jokowi—akan dibentuk pada Februari 2015 (Inilah.com, 27/10). Selain itu, menurut Menteri PPN/Kepala Bappenas Andrinof Chaniago, juga akan dibentuk dua lembaga ekonomi, yaitu badan ekonomi kreatif dan badan promosi ekspor nasional (Liputan6.com, 28/10). Padahal selama ini sudah ada puluhan badan dan lembaga yang oleh banyak pihak dianggap jadi salah satu biang pemborosan anggaran dan sering tumpang-tindih. Tentu Kabinet Kerja menjadi lebih gemuk, apalagi dengan adanya pembentukan badan baru.

Konsekuensinya, Presiden Jokowi dan Wapres JK akan dihadapkan pada masalah baru yang muncul dari lahirnya delapan kementerian baru. Lima di antaranya hasil penggabungan sejumlah kementerian itu. Pengamat kebijakan publik Universitas Airlangga Surabaya, Gitadi Tegas Supramudyo, meramalkan bahwa masalah akan muncul karena tidak mudah menggabungkan urusan di dua kementerian terpisah ke kementerian yang baru. Menurut dia, “Memindahkan kewenangan ini rumit, namun harus diselesaikan pada awal pemerintahan. Kalau tidak, tumpang-tindih urusan antar-kementerian seperti yang terjadi selama ini kembali terulang.”

Menurut Ketua Tim Pengkaji Arsitektur Kementerian Lembaga Administrasi Negara Anwar Sanusi, “Ini persoalan serius yang harus diselesaikan pada awal pemerintahan Jokowi-JK. Jika tidak, Pemerintah tidak bisa maksimal dalam menjalankan tugasnya.” (Kompas, 28/10).

Yang jelas, dengan lahirnya kementerian baru serta adanya pemisahan dan penggabungan kementerian itu, sebagian kabinet tidak bisa langsung kerja dan tancap gas seperti yang dijanjikan oleh Presiden. Dalam sistem yang ada, kementerian baru itu belum memiliki anggaran, lantas dari mana bisa jalan? Apalagi agar bisa jalan normal, untuk delapan kementerian baru itu harus terlebih dulu dilakukan restrukturisasi, re-manajemen, re-budgetting, reorientasi dan reformulasi kerja. Dari pengalaman yang ada selama ini, semua itu perlu waktu bahkan hingga setahun atau lebih.

Selain itu Kabinet Kerja diisi oleh banyak menteri pebisnis, baik berlatar belakang pengusaha atau direktur/komisaris perusahaan. Setidaknya sembilan menteri seperti itu. Mungkin hal itu tidak aneh karena Presiden dan Wapres sendiri juga berlatar belakang pengusaha. Apalagi banyak diungkap bahwa di belakang keduanya juga banyak pengusaha, taipan dan pemilik modal. Tentu tidak berlebihan jika ada kekhawatiran bahwa “kabinet pengusaha” seperti itu nantinya akan lebih pro bisnis dan pragmatis; kepentingan penguasa dan pemilik modal akan lebih banyak diutamakan daripada kepentingan rakyat.

Apalagi Kabinet Kerja nanti tetap tidak bisa lepas dari karakter neo-liberal karena dua sebab. Pertama: kerangka sistem yang dibentuk oleh berbagai UU yang ada adalah kerangka neo-liberal. Kedua: rekam jejak Presiden dan Wapres serta sebagian besar menteri—terutama menteri ekonomi dan menteri teknis—diwarnai corak neo-liberal. Salah satu ciri neo-liberal adalah doktrin bahwa peran negara harus seminimal mungkin dalam perekonomian dan pelayanan publik, sementara peran swasta harus sebesar-besarnya.

Peringatan

Dalam hal ini semua pihak perlu mengingat pesan Rasulullah saw., bahwa kepemimpinan dan jabatan itu adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban, sebagaimana sabdanya:


«وَإِنَّهَا أَمَانَةٌ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْىٌ وَنَدَامَةٌ إِلاَّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِى عَلَيْهِ فِيهَا»

Sesungguhnya jabatan itu adalah amanah. Sesungguhnya jabatan itu pada Hari Kiamat akan menjadi kerugian dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mengambil jabatan itu dengan benar dan menunaikan kewajiban di dalamnya (HR Muslim, Ibn Khuzaimah dan al-Hakim).

Dalam konteks ini, baik pejabat dan pihak yang mengangkat dia tentu akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT, apakah amanah itu ditunaikan atau tidak. Amanah kekuasaan atas pemimpin dan penguasa bukan hanya datang dari rakyat, namun juga dari Allah. Amanah kekuasaan dari Allah itu harus digunakan untuk memelihara kemaslahatan rakyat. Amanah kekuasaan itu juga harus digunakan untuk memutuskan segala perkara menurut wahyu yang telah Allah turunkan, yakni syariah Islam. Rakyat yang mengangkat penguasa juga harus menjaga amanah dengan terus mengontrol penguasanya. Tujuannya adalah agar penguasa senantiasa berjalan di atas kebenaran dan mengurusi rakyat menurut petunjuk yang diturunkan oleh Allah SWT dan dibawa oleh Rasul saw.

WalLâh a’lam bi ash-shawâb. []


Komentar Al-Islam:

Wacana kenaikan harga bahar bakar minyak (BBM) pada 1 November memicu keresahan di sejumlah daerah. Kekhawatiran terlihat dari pedagang yang mulai menaikkan harga bahan pokok sampai penimbunan bahan bakar. (Republika, 28/10).

  1. Belum dinaikkan saja sudah berdampak negatif. Saat benar-benar dinaikkan, pasti dampak negatifnya brkali-kali lipat. Akibat kenaikan harga BBM, rakyat buntung, sementara asing dan kapitalis untung.
  2. Wacana dan kebijakan tidak peduli rakyat seperti itu akan terus ada selama doktrin yang dipegang Pemerintah adalah neo-liberal dan ideologinya adalah kapitalisme demokrasi.
[hizbut-tahrir.or.id/ +ResistNews Blog ]



+ResistNews Blog - Ratusan metode penyiksaan terhadap para tahanan Palestina selama interogasi yang dilakukan di tahanan-tahanan Israel telah diamati oleh organisasi HAM dan asosiasi hak-hak narapidana.

Sebuah laporan PBB berisi sekitar 200 metode penyiksaan. Kelompok HAM Israel B’Tselem mendaftar sekitar 105 metode penyiksaan. Terlepas dari angka tersebut, semua laporan ini menunjukkan tingkat parahnya pelanggaran yang dilakukan Israel terhadap warga Palestina setelah mereka ditangkap.

Fouad Khuffash, Direktur Studi dan HAM Tahanan Ahrar, menyatakan bahwa penyiksaan itu terbagi dalam dua kategori: fisik dan psikologis. Sebagian percaya bahwa penyiksaan psikologis kurang berbahaya daripada penyiksaan fisik, namun luka-luka mental yang ditinggalkan oleh kedua jenis penyiksaan itu meninggalkan trauma yang lama kepada para tahanan setelah mereka dibebaskan.

Khuffash menambahkan:. “Penyiksaan di penjara-penjara Israel dilakukan sistematis mulai dari saat seorang narapidana ditangkap, bukan dari saat mereka mulai diinterogasi. Ini adalah skenario yang terencana dan bertahap yang bisa berubah sesuai dengan kasus tahanan dan sifat mereka. Para penyidik secara bergantian memainkan berbagai peran yang ditetapkan di awal bagi setiap investigator.”

Fahd Abu Al-Hajj, Direktur Pusat Abu Jihad Lembaga Urusan Tahanan di Universitas Yerusalem, mencatat bahwa ada 73 metode interogasi yang dianggap ” paling populer” di penjara-penjara Israel. Metode-metode itu menunjukkan kebiadaban pendudukan dan kurangnya penghormatan terhadap standar dasar HAM, katanya.

Dia menambahkan: “Tidak ada yang menjadi bukti lebih dari kematian yang berulang dari para tahanan yang diinterogasi, yang terbaru merupakan kematian tahanan Raed Al-Jabari.”

Al-Hajj percaya bahwa penggunaan penyiksaan yang sistematis, diadopsi oleh badan intelijen Israel dan bahwa tidak ada para tahanan yang bisa terhindar dari hal ini di dalam penjara-penjara Israel.

Dia juga menjelaskan bahwa metode-metode itu berkisar dari pemukulan, menempatkan tahanan di bawah air dingin lalu diikuti dengan air panas, memborgol atau menahan mereka dengan tangan mereka di belakang dan kemudian mengikat mereka ke pintu atau jendela untuk jangka waktu yang lama, yang sering berlangsung selama berjam-jam. Para tahanan juga diperintahkan untuk duduk di kursi kemudian dipukuli dengan tongkat hingga mereka tidak sadar. Pemukulan ini dapat menargetkan wilayah-wilayah sensitif dari tubuh mereka yang memiliki potensi untuk meninggalkan efek negatif jangka panjang, kadang-kadang menyebabkan penyakit kronis.
Bentuk-bentuk Penyiksaan

Organisasi HAM Israel B’Tselem mengakui dalam laporannya bahwa 105 metode penyiksaan yang digunakan terhadap para tahanan Palestina dianggap merupakan pelanggaran berat HAM. Sebuah komite HAM PBB dijelaskan penyiksaan di penjara-penjara Israel sebagai “melampaui batas “, dan mencatat bahwa metode-metode brutal penyiksaan oleh Israel termasuk mematahkan punggung, menarik jari-jari dan memutar testis.

Intelijen Israel mendasarkan penyiksaan para tahanan itu pada apa yang disebut sebagai pedoman rahasia yang disetujui pada tahun 1987, setelah pecahnya Intifada pertama. Pedoman ini memungkinkan mereka untuk menerapkan tekanan fisik “ringan” dan psikologis terhadap para tahanan. Hal ini memberikan payung hukum untuk penyiksaan-penyiksaan yang dilakukan oleh agen-agen intelijen Israel.

Dalam 10 tahun terakhir, para interogator mengurangi penggunaan penyiksaan, dan mengganti dari penyiksaan fisik kepada penyiksaan psikologis yang keras yang dapat meninggalkan bekas-bekas luka abadi, sambil terus menggunakan penyiksaan fisik langsung dengan berbagai tingkatan.

Mohammed Kilani, yang telah mengalami banyak interogasi, mencatat bahwa sel-sel isolasinya melebihi dua bulan dari masa tahanan adalah tempat di mana dia dipaksa untuk tetap dirantai ke kursi, dan ini adalah metode penyiksaan yang paling keras yang dia alami.

Dia juga menambahkan bahwa seluruh sistem penjara di seluruh dunia, tidak terdapat metode penyiksaan yang belum terpikirkan atau digunakan oleh otoritas Israel dalam beberapa hal.

Menurut statistik, sekitar 72 tahanan tewas akibat penyiksaan di penjara-penjara Israel sejak tahun 1967, dari jumlah total lebih dari 200 tahanan yang tewas di balik jeruji besi.

Tahanan pertama yang mati akibat disiksa adalah Yousef Al-Jabali yang tewas pada tanggal 4 Januari 1968 di penjara Nablus. Sejak itu, banyak tahanan yang bernasib sama, seperti Qassem Abu Akar, Ibrahim Al-Rai, Abdul Samad Harizat, Attia Za’anin, Mustafa Akkawi, dan lain-lain, termasuk yang paling baru adalah Raed Al-Jabari. (middleeastmonitor.com/ +ResistNews Blog )



Ini adalah sebuah fakta yang telah diketahui, bahwa media Barat selalunya bias dalam menggambarkan agama Islam kepada publik. Semua orang Islam di dunia yang membaca surat-surat kabar, menonton televisi atau mendengarkan radio hampir-hampir merasakan dan tahu bagaimana barat terutama Amerika dan sekutunya telah menjadikan media sebagai biang perlawanan terhadap islam dan kaum muslimin.

Hal ini sudah dibuktikan oleh beberapa organisasi islam dalam perlawanannya terhadap media. Jika kita mau memperhatikan keadaan sekitar maka akan didapati kecenderungan oleh beberapa pihak tertentu untuk melaporkan bentuk ‘kekerasan palsu’ yang dilakukan oleh sebagian umat Islam dan hampir tak ada berita atau laporan bila bentuk kekerasan itu menimpa kepada kaum muslimin.

Tren ini sekarang sudah menjadi standar media barat dalam membentuk opini politik dan ekonomi demi memerangi Islam dan kaum muslimin. Perlakuan media bermacam-macam ketika harus memberitakan keadaan kaum muslimin dalam hal politik. Dan kenyataanya perang melawan Islam melalui media adalah bentuk kenyataannya Perang Salib 2,0 yang sengaja dirahasiaakan oleh badan intelijen Negara untuk memanipulasi opini, pikiran dan proses berpikir orang-orang awwam.

Perusahaan media dunia terutama BBC, CNN, FOX News, Sky NEWS dan lainnya telah menjadi poros informasi yang paling ampuh bagi Negara-negara Barat dalam memerangai kaum muslimin. Mereka tak pernah memberitakan tindakan brutal pasukan AS di penjara-penjara dan pusat penahanan dunia di Teluk Guantanamo serta Bagram. Mereka tidak pernah melaporkan situs-situs yang digunakan CIA untuk menyiksa warga sipil muslim yang tak memiliki salah dengan mereka.

Semua itu dilakukan media barat untuk menyabotase realitas sekitar: Misalnya Penyiksaan yang telah dilakukan tentara bayaran AS -BLACK WATER- di Irak serta pemboman terhadap warga sipil di Afghanistan, Irak, Suriah, Yaman, Somalia, Sudan, dan Palestina dengan dalih membela diri dari ancaman padahal dalam kenyataannya merekalah yang membantai warga sipil yang tak berdosa.

Kejadian kapal bantuan “The Freedom Flotilla”, yang memuat obat-obatan untuk warga Palestina menjadi contoh penyerangan brutal angkatan bersenjata Israel, dimana seluruh penumpangnya dibantai dan ditembak. Dan itu dibenarkan oleh mereka sebagai tindakan mempertahankan diri oleh media Barat.

Tragedi di tahun ini juga menjadi saksi manipulasi kebenaran media barat; dimana 3.500 warga Gaza dibantai dalam kurun waktu kurang dari 3 minggu sementara media barat tak pernah bersuara apa-apa tentang hal itu. Hampir semua media Barat tidak pernah memperlihatkan citra Islam yang sebenarnya kepada khalayak padahal esensi besar dari agama ini didasarkan pada saling menghormati, berbuat kebajikan, menyebarkan kedamaian, rasa cinta dan menjunjung tinggi martabat manusia.

Mereka tidak pernah menunjukkan fakta sejarah bahwa Nabi Muhammad sallahu’alaihiwasallamadalah contoh teladan dan pelopor hak asasi manusia karena menghormati martabat manusia. Mereka tidak pernah mengutip ayat Al-Qur’an yang menyatakan bahwa membunuh satu orang sama dengan membunuh semua orang dalam pandangan Islam. Mereka juga tidak pernah memberitakan kepada khalayak umum bahwa dalam pandangan Nabi Muhammad sallahu’alaihiwasallammembunuh seekor burung pipit untuk mempermainkannya adalah melanggar aturan.

Untuk mengatasi hal-hal bias seperti ini maka hendaknya umat harus dijelaskan dengan pemahaman bahwa faktanya media barat itu adalah media yang dikendalikan dan didanai oleh instansi pemerintah untuk tujuan menjalankan kepentingannya dan memaksakan ide-ide dusta. Di era modern ini, informasi dan jejaring sosial telah dengan jelas memperlihatkan kepada kita betapa banyak penekanan media sekuler yang mempromosikan kedustaan untuk memperburuk Islam dan kaum muslimin. [lasdipo/ +ResistNews Blog ]




+ResistNews Blog - Suara adzan rencananya akan dilarang di Israel. Seorang anggota parlemen Israel mengusulkan untuk melakukan larangan menyuarakan Adzan karena dianggap mengganggu ketenangan umum.

The Telegraph mengabarkan Rabu (29/10/2014), usulan itu diutarakan Robert Ilatov. Anggota parlemen ultra nasionalis Partai Yisrael Beiteinu ini mengungkapkan alasanyang sangat dibuat-buat, bahwa suara Adzan menimbulkan kebisingan yang tak bisa ditoleransi oleh warga yang sedang tidur.

Usulan yang didukung Menlu Israel, Avigdor Leiberman, pemimpin partai Yisrael Beiteinu menyebutkan, larangan itu diberlakukan di seluruh Israel.

Usulan dikritik kelompok Muslim di Israel itu akan dibawa ke komisi kementerian di parlemen dalam beberapa pekan mendatang. Selanjutnya akan dibawa ke kementerian dalam negeri untuk diputuskan apakah usulan itu bisa diterapkan sebagai peraturan dan apakah sebuah masjid diizinkan mengudarakan Adzan selama lima waktu sehari.

Sementara itu, Robert Ilatov menekankan bahwa kebebasan beragama harus ditunjukkan dengan cara damai dan kondisi tenang. “Kebebasan beragama bersifat universal dan bisa diterapkan di setiap negara yang demokratis, termasuk Israel,” kata Ilatov kepada harian Yedioth Ahronoth.

Aneh memang, membunuh hingga ribuan orang dan meluluhlantakkan rumah beserta isinya dianggap “memelihara perdamaian” dan tidak pernah dibahas itu sebagai gangguan sedangkan Adzan dianggap “kebisingan yang tidak toleran.” (sindo/lasdipo/ +ResistNews Blog )



+ResistNews Blog - Setelah melakukan banyak aksi dengan beragam variasi, kini mujahidin Taliban kembali melancarkan aksi yang tak diduga musuh. Seorang mujahid Taliban, Ansharullah Laghmani, melakukan aksi istisyhadiyah terhadap segerombolan tentara AS.

Menurut Al-Emarah dari sumber-sumber yang terpercaya mengatakan bahwa hasil operasi tersebut enam tentara AS mati terkapar dan delapan lainnya luka-luka. Alhamdulillah…

Aksi single mujahid yang dilakukan di Provinsi Parwan tersebut adalah aksi kesekian kali dari Taliban untuk mengusir tentara penjajah AS yang telah melakukan banyak kejahatan di Afghanistan.

Taliban semakin menguatkan posisinya di Afghanistan menyusul semakin berkurangnya tentara asing yang sudah jenuh berperang di Afghanistan. [lasdipo/ +ResistNews Blog ]



+ResistNews Blog – Kebrutalan polisi AS, membunuh pria kulit hitam sakit jiwa dengan 45 tembakan di Michigan, terekam video. Milton Hall, pria kulit hitam berusia 49 tahun itu, tewas oleh tembakan polisi di Saginaw tahun 2012. Ia ditembak delapan polisi yang masing-masing melepas tembakan enam kali.

Hall tak ubahnya boneka di lapangan tembak, dengan setiap polisi berusaha membidik kepala dan tubuhnya. Sebanyak 14 ditembakan diyakini menjadi penyabab kematiannya, lainnya tidak.

American Civil Liberties Unian (ACLU) merilis video ini, Senin (27/10) waktu setempat. Dua tahun lalu, saat peristiwa ini terjadi, orang kulit hitam marah.

Video juga memperlihatkan bagaimana insiden itu terjadi. Delapan polisi membunyikan bel ke seorang lelaki di tempat parkir penuh, dan seekor anjing mengeram ke arah orang miskin.

Hall tidak membawa senjata. Ia hanya membawa pisau lipat. Entah bagaimana polisi kemudian menembaknya.

ACLU menyerahkan rekaman itu ke perwakilan Organisasi Negara-negara AS sebagai upaya menekan pemerintah federal. ACLU hanya menginginkan para pejabat melihat bagaimana Hall tewas mengenaskan.

Februari lalu, Departemen Kehakiman mengatakan tidak menemukan cukup bukti adanya kesengajaan, yang menjadi dasar penuntutan terhadap delapan polisi itu.

Senin lalu, Mark FAncher — pengacara ACLU dari Michigan — mengatakan petugas tidak ubahnya regu tembak. Ia mengecam Departemen Kehakiman yang tidak menuntut polisi itu.

Fencher mengatakan insiden itu tidak hanya sembrono, tapi tidak adil, dan melanggar hak asasi Milton Hall untuk hidup. (ini/lasdipo/ +ResistNews Blog )



+ResistNews Blog - Serangan udara pemerintah Suriah di dua dilayah yang dikuasai oleh para pejuang di provinsi tengah Homs menewaskan sedikitnya 25 warga sipil, 11 dari mereka adalah anak-anak, kelompok pemantau mengatakan pada hari Minggu (26 Oktober).

Enam belas anggota dari satu keluarga di adalah diantara 18 orang yang tewas dalam penggerebekan hari Sabtu malam di kota Talbisseh, Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia mengatakan. Mereka termasuk 10 anak-anak dan tiga perempuan, kata kelompok pemantau itu yang berbasis di Inggris yang memiliki jaringan sumber yang luas di wilayah Suriah.

Di distrik Waer di pinggiran Homs – yang merupakan satu-satunya wilayah kota ketiga di Suriah di tangan para pejuang – serangan udara malam itu menewaskan tujuh orang, termasuk seorang anak, Observatorium menambahkan. (channelnewsasia.com/ +ResistNews Blog )



+ResistNews Blog - Marinir Amerika Serikat (AS) dan Angkatan Bersenjata Inggris secara resmi menyerahkan kendali markas militer terbesar mereka kepada pasukan keamanan Afghanistan kemarin (Senin 27/10).

Dengan penyerahan ini, pasukan koalisi tidak lagi bertanggung jawab atas operasi militer di Camp Leatherneck dan Camp Bastion. Dua markas terbesar dan berdekatan ini sehari-hari melaksanakan operasi di dataran Helmand yang gersang.

Bagi militer Inggris, penyerahan camp kepada militer Afghanistan ini menandai akhir dari semua operasi tempur mereka di Afghanistan yang telah menewaskan ratusan tentaranya.

Sedangkan untuk Marinir AS, perginya mereka berarti akhir dari era Marinir AS di Afghanistan dimana lebih dari 1000 tentaranya tewas.

Dari tahun 2001 hingga 2008, pasukang Inggris ditempatkan di Helmand, sebuah propinsi bergolak di wilayah selatan. Helmand sering dianggap sebagai tempat kelahiran Taliban.

Camp Leatherneck yang ditinggalkan pasukan koalisi adalah sebuah markas besar yang memiliki fasilitas komplit. Camp ini memiliki jalan layaknya sebuah kota dengan lampu lalu lintas, sistem pembuangan limbah. Bahkan di dalam camp ini memiliki fasilitas pengolahan air yang dapat menghasilkan 15.000 galon air minum perhari.

Sementara camp Bastion bisa menyimpan 25.000 ton makanan.

Pada tahun 2012 Taliban pernah melakukan serangan di camp Bastion dimana Pangeran Harry ditempatkan disitu. Taliban langsung menargetkan landasan helikopter dimana Pangeran Harry melakukan pendaratan helikopter.

Baku tembak berlangsung selama empat jam. Meski Taliban gagal membunuh Pangeran Harry namun berhasil menghancurkan delapan pesawat militer AS. Kerugian mencapai ratusan juta dolar, seperti diberitakan ABC News.

Beberapa hari menjelang penarikan seluruh Pasukan Inggris dan Marinir AS dari Afghanistan musim panas ini, eskalasi pertempuran meningkat sengit antara Taliban dan tentara Afghanistan.

Kini tentara Afghanistan dihantui kekhawatiran, apakah mereka mampu menghadapi serangan Taliban setelah ditinggalkan Marinir AS.(Ahmad/ABC News/panjimas/ +ResistNews Blog )

2



Aktivis hak anak-anak asal IndiaKailash Satyarthidan remaja PakistanMalala Yousafzai, mendapat anugerah Nobel Perdamaian. Menurut Komite Nobel, dua tokoh ini mendapatkan nobel berkat perjuangan mereka melawan penindasan anak dan perjuang hak semua anak untuk mendapat pendidikan.

Penembakan Malala seorang gadis kecil tentu sulit untuk diterima,ini jelas merupakan tindak keji. Namun sikap Barat yang terus menerus membangun opini kepahlawan tentang gadis kecil ini tentu patut dipertanyakan. Kenapa hanya Malala yang mendapat perhatian dari Barat. Bagaimana dengan ribuan anak-anak yang terbunuh akibat tindakan kejam Amerika Serikat dengan pesawat tanpa awaknya?

Bisa dimengerti, Malala menjadi selebriti di media Barat karena dia adalah korban dari Taliban yang menjadi musuh Barat. Dengan memunculkan Malala, serangan bisa diarahkan kepada Taliban sebagai musuh Amerika. Sekaligus melakukan stigma negatif terhadap syariah Islam berkaitan dengan perlakukan terhadap wanita dan pendidikan untuk perempuan.

Tentu halnya berbeda kalau yang dimunculkan adalah korban keganasan Amerika dan sekutunya. Seperti menimpa Nabila Rahman yang neneknya terbunuh di depan matanya akibat serangan pesawat tanpa awak Amerika. Nabila Rahman yang berusia 8 tahun saat itu sedang bekerja di samping rumah mereka bersama kedua kakak dan nenek mereka. Tidak pernah ada permintaan maaf, penjelasan atau pembenaran yang diberikan atas peristiwa itu.

Berbeda dengan Malala, upaya Nabila bersama ayah dan saudaranya pergi ke Amerika pun sepi dari publisitas. Pejabat dan media masa Amerika menyambutnya dengan dingin. Tidak hanya mereka sudah mengalami hambatan luar biasa ketika melakukan perjalanan dari desa terpencil ke Washington ‘DC, saat memberikan kesaksian di sidang Kongrespun mereka tidak dipedulikan. Hanya dihadiri lima dari 430 wakil rakyat yang muncul.

Malala sesungguhnya hanya korban dari permainan politik kotor Amerika dan sekutu-sekutunya sekaligus korban pengkhianatan penguasa Pakistan. Melalui penembakan Malala Amerika dan Pakistan berupaya melegalkan pembantaian mereka terhadap umat Islam di Waziristan. Tentu saja semua ini akan menambah korban anak-anak dan wanita yang tidak bersalah.

Tindakan Amerika dan dukungan pengusa Pakistan seakan benar, dengan alasan Amerika menyerang Taliban yang tidak berprikemanusian terhadap anak-anak seperti Malala ! Sementara pemerintah Pakistan juga berusaha menutupi pengkhianatan keji mereka yang telah memberikan jalan seluas-luasnya bagi Amerika untuk membunuh rakyatnya sendiri atas nama perang melawan Taliban.

Tentu bukan suatu kebetulan kalau, pasca serangan terhadap Malala Yousafzai, jumlah korban serangan drone meningkat menjadi 18 dan 27 pada hari sebelum dan sesudahnya. Komite PBB untuk Hak-Hak Anak pernah mengeluarkan laporan ratusan anak-anak dilaporkan tewasakibat serangan tidak pandang bulu pasukan militer AS di Afghanistan antara tahun 2008 dan 2012. Kepahlawanan Malala yang dibangun Barat sukses mengalihkan dunia dari kejahatan Amerika dan pasukan NATO-nya.

Kita perlu menegaskan apa yang diderita oleh Malala, Nabila, dan anak-anak Afghanistan lain, bukanlah akibat Islam. Tapi merupakan buah dari kebijakan kolonialisme Barat di dunia Islam. Peranglah yang dipimpin Amerikalah yang membawa derita anak-anak di sana. Mereka terluka dan terbunuh akibat pesawat drone Amerika. Perang telah membuat mereka menjadi anak-anak yang terlantar. Mereka kehilangan orang tua yang seharusnya melindungi, menafkahi mereka.

Memang perang kerap kali menjadikan sekolah-sekolah menjadi target. Menurut laporan PBB, mengenai “Anak-anak danKonflik” pada tahun 2013, sekitar 115 sekolah di Mali diserang pada, 321 sekolah di wilayah pendudukanPalestina, 167 sekolah di Afghanistan dan 165 sekolah di Yaman. Bukankan pelaku dari semua kejahatan itu berpangkal dari kebijakan imperialistik Amerika ?
Perang yang dipimpin Amerika pun telah mejadi penyebab terlantarnya pendidikan rekan-rekan Malala dan Nabila. Perang telah membuat orangtua khawatir anak-anak mereka pergi ke sekolah. Serangan tanpa pandang bulu Amerika pun membuat anak-anak tidak pernah tenang bersekolah. Bagaimana mungkin pendidikan untuk anak-anak Afghanistan bisa berjalan baik, kalau nyawa mereka bisa terancam setiap saat ?

Tidak mengherankan lebih dari 10 tahun pendudukan,hampir 9 dari 10 perempuan Afghanistan buta huruf. Kebijakan luar negeri penjajahan Barat yang buas dan merusak, bukan hanya merampok hak anak-anak untuk mendapat pendidikan yang layak, perang buas Amerika ini pun telah merampok kehidupan dan martabat mereka.

Kita perlu tegaskan kembali hanya Khilafahlah yang bisa menjamin nyawa setiap muslim termasuk para anak-anak dan wanita. Khilafah pula yang bisa memberikan pelayaanan terbaik untuk pendidikan anak. Pendidikan berdasarkan keimanan yang berkualitas, gratis dan berlaku sama untuk laki-laki maupun perempuan. Di bawah sistem Khilafah-lah pendidikan kaum perempuan berkembang. Peradaban Islam menghasilkan banyak penemu perempuan yang cemerlang.

Sebutlah Marium al-Istirlabi yang mempelopori pengembangan astrolabe di abad ke-10 untuk menghitung posisi matahari dan bintang-bintang. Terdapat pula insinyur terkemuka seperti Fatima Al-Fihri yang membangun universitas pertama di dunia di Qarawayyin, Moroko. Muhammad Akram an Nadwi, menulis biografi 8000 ulama perempuan yang hidup dalam peradaban Islam. Semua ini mencerminkan bagaimana Islam sangat memperhatikan pendidikan bagi perempuan. (Farid Wadjdi)



+ResistNews Blog - Surat kabar Inggris “Times” melihat bahwa Presiden Mesir Abdul Fattah al-Sisi tengah berusaha menyulap warga Mesir untuk memata-matai satu sama lain. Dan ini merupakan komentar atas Rancangan Undang-Undang (RUU) yang telah disetujui oleh Departemen Konstitusi Dewan Negara Mesir, tentang pembentukan cabang baru dari Kementerian Dalam Negeri, dengan nama “Polisi Masyarakat”.

Surat kabar mempublikasikan sebuah laporan berjudul “Sisi menciptakan jaringan mata-mata warga”. Hal ini menegaskan bahwa rezim Mesir tengah menciptakan aparat kepolisian dari warga yang memiliki otoritas untuk menangkap warga yang lain, dan memata-matai publik.

Surat kabar tersebut menganggap bahwa ini dibuat dalam rangka upaya rezim Mesir yang didukung oleh militer untuk memperkuat cengkeramannya pada aparat keamanan negara. Sementara alasan di balik semua ini adalah RUU yang telah disahkan oleh Dewan Negara, dan menunggu pengesahan dari Sisi supaya ia berubah menjadi undang-undang.

Surat kabar mengatakan bahwa RUU ini akan memungkinkan warga sipil untuk bergabung dengan kepolisian setelah 18 bulan pelatihan. Sementara pelatihan aparat polisi profesional membutuhkan waktu tiga sampai empat tahun.

Departemen Konstitusi Dewan Negara Mesir telah mengamandemen undang-undang lembaga kepolisian sehingga memungkinkan pembentukan divisi baru yang disebut “pembantu polisi masyarakat” dalam mewujudkan pengendalian moral (islammemo.cc/ +ResistNews Blog ).

1


+ResistNews Blog - Saksi mata mengatakan puluhan tentara Israel dikerahkan di sekitar masjid al-Aqsa, sejak hari Rabu siang dan menghentikan banyak wanita Palestina yang meninggalkan masjid, sebelum menculik sembilan dari mereka.

Mereka mengatakan tentara menculik Zainab Abu Mayyala, Zeinat Abu Sbeih dan Rana Da’na, saat meninggalkan Masjid melalui Gerbang Bab Hatta, sementara Noura Al-Herbid dan Mayy al-Assad dan Amna meninggalkan Masjid melalui Gerbang Bab al-Asbat dan tiga perempuan meninggalkan Masjid juga melalui Bab al-Asbat, dan tiga perempuan lainnya melalui Gerbang Raja Faisal.

Semua wanita yang diculik lalu dipindahkan ke kantor polisi al-Qashla di kota tua Yerusalem Timur yang diduduki.

Tentara juga menyerahkan dua wanita, yang diidentifikasi sebagai Latifa Abdul-Latif dan Wahba Sarhan dan memerintahkan dia untuk pergi ke kantor polisi untuk diinterogasi, hari Kamis. (imemc.org/ +ResistNews Blog )

1


Oleh : Adi Victoria

Salah satu perbedaan antara umat Islam dengan umat selain Islam adalah terkait penanggalan tahun. Jika umat lain memiliki penanggalan tahun yakni seperti tahun masehi untuk agama masehi (agama nasrani,red), tahun baru Saka untuk umat Hindu, maka umat Islam pun memiliki kalender tahunan sendiri yakni yang dikenal dengan kalender Hijriah sebagai tahun baru Islam dengan 1 Muharram sebagai awal tahun baru Islam/tahun hijriyah.

Penetapan kalender Hijriyah dilakukan pada jaman Khalifah Umar bin Khatab, yang menetapkan peristiwa hijrahnya Rasulullah saw dari Mekah ke Madinah. Sebelumnya, orang Arab pra-kerasulan Rasulullah Muhammad SAW telah menggunakan bulan-bulan dalam kalender hijriyah ini. Hanya saja mereka tidak menetapkan ini tahun berapa, tetapi tahun apa. Misalnya saja kita mengetahui bahwa kelahiran Rasulullah SAW adalah pada Tahun Gajah. Abu Musa Al-Asyári sebagai salah satu gubernur di zaman Khalifah Umar r.a. menulis surat kepada Amirul Mukminin yang isinya menanyakan surat-surat dari khalifah yang tidak ada tahunnya, hanya tanggal dan bulan saja, sehingga membingungkan. Khalifah Umar lalu mengumpulkan beberapa sahabat senior seperti Utsman bin Affan r.a., Ali bin Abi Thalib r.a., Abdurrahman bin Auf r.a., Sa’ad bin Abi Waqqas r.a., Zubair bin Awwam r.a., dan Thalhan bin Ubaidillah r.a.

Mereka kemudian bermusyawarah mengenai kalender Islam. Ada yang mengusulkan berdasarkan milad Rasulullah saw. Ada juga yang mengusulkan berdasarkan pengangkatan Muhammad saw menjadi Rasul. Dan yang diterima adalah usul dari Ali bin Abi Thalib r.a. yaitu berdasarkan momentum hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Yatstrib (Madinah). Maka semuanya setuju dengan usulan Ali r.a. dan ditetapkan bahwa tahun pertama dalam kalender Islam adalah pada masa hijrahnya Rasulullah saw. Sedangkan nama-nama bulan dalam kalender hijriyah ini diambil dari nama-nama bulan yang telah ada dan berlaku pada masa itu di wilayah Arab. [1]

Menarik kalau kita telaah kenapa Ali ra mengusulkan agar momentum yang digunakan adalah saat Nabi Muhammad saw hijrah dari Kota Makkah ke Madinah yang kemudian di sepakati oleh seluruh sahabat sebagai tahun baru Islam yang pertama.

Kota Makkah kala itu merupakan suatu wilayah atau negeri yang di dalamnya berlaku kehidupan kufur jahiliyah, sedangkan Madinah adalah suatu negeri dimana di dalamnya terdapat kehidupan yang Islami, berbanding terbalik dengan kehidupan yang berlangsung di Makkah. Ini berkat usaha dari Mush’ab bin ‘Umair yang di utus oleh Rasulullah saw untuk ke Yastrib (nama Madinah waktu itu) guna menyampaikan Islam, dan alhamdulillah, kurang lebih selama dua tahun kemudian Mush’ab bin ‘Umair berhasil menjadikan penduduk Yastrib memeluk Islam yang diawali dengan masuk Islamnya ahlul quwwah kota Yastrib yakni Sa‘ad bin Muadz bin An-Nu’man dari Suku Aus dan Sa‘ad bin Ubadah dari suku Khazraj, serta menjadikan aqidah Islam sebagai landasan kaedah berfikir mereka, dan syariat Islam sebagai pengatur kehidupan mereka.

Setelah itu kemudian para sahabat Nabi melakukan hijrah dari kota Makkah menuju Kota Madinah, yang kemudian diikuti oleh hijrahnya Rasulullah saw yang ditemani oleh Abu Bakar ra setelah mendapat ijin dari Allah swt untuk berhijrah ke Madinah.

Terkait hijrah, Umar ra saat pernah berkata bahwa “Hijrah itu memisahkan antara kebenaran dan kebatilan” (HR Ibn Hajar).

Secara bahasa, hijrah adalah berarti berpindah tempat. Adapun secara syar‘i, para fukaha mendefinisikan hijrah yaknikeluar dari darul kufur menuju Darul Islam. [2]

Maka seharusnya, sebagai muslim yang baik, kita seharusnya betul-betul memahami apa makna hakiki di balik peristiwa Hijrah yang kemudian dijadikan sebagai penanggalan tahun untuk umat Islam yakni tahun Hijriah. Bukan hanya sebatas perayaan seremonial setiap akan memasuki tanggal 1 Muharram sebagai pertanda mulai masuknya tahun baru Islam.

Umat Islam seharusnya melakukan muhasabah dan berupaya agar perpindahan tahun baru islam itu menuju perpindahan kehidupan yang lebih baik. Kehidupan yang lebih baik tentunya yang di maksud di sini adalah kehidupan yang dibangun dengan berpijak kepada syariat Islam. Sehingga kehidupan di tahun yang baru lebih baik dari kehidupan tahun sebelumnya.

Relevansinya di kehidupan sekarang dalam konteks Hijrah adalah hijrahnya seorang muslim dari kehidupan sistem sekuler menuju kepada sistem Islam. Jika tidak, maka yang terjadi hanyalah perpindahan tahun saja (atau hanya memasuki tahun baru islam tanpa ada perubahan riil) tanpa diikuti dengan perpindahan kehidupan. Karena kehidupan diatur oleh sistem yang dijalankan di negeri tersebut, maka jika ingin memiliki kehidupan yang baik, harus menuju kepada sistem yang baik, dan sistem yang baik adalah yang bersumber dari dzat yang maha baik Dia-lah Allah swt. Dan Islam adalah sistem kehidupan yang telah Allah swt turunkan kepada Nabi Muhammad saw, untuk mengatur seluruh hubungan kehidupan manusia, baik hubungan kehidupan manusia dengan penciptanya yakni dalam perkara aqidah dan ibadah, kemudian hubungan kehidupan manusia dengan sesamanya dalam perkara muamalah dan ‘uqubat, serta hubungan kehidupan manusia dengan dirinya sendiri yakni dalam perkara akhlaq, makanan, pakaian dan minuman.

Dan untuk mengatur hubungan kehidupan manusia tersebut haruslah ada sebuah system yang mengatur, dan sistem tersebut adalah sistem Khilafah Islam, sebuah sistem yang berfungsi untuk menjalankan hukum syariat Islam. Sistem pemerintahan yang diwariskan oleh Rasulullah saw kepada para penerusnya yakni para khalifah. Dimana sistem khilafah tersebut, selama 13 abad lamanya telah terbukti berhasil menjadikan umat Islam menjadi umat yang terbaik (khoiru ummah) sebagaimana yang dipredikatkan oleh Allah swt dalam firmanNya :

”Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah”. (TQS Ali Imron : 110)

Namun sayang, predikat sebagai khoiru ummah tersebut sekarang hanyalah sebuah predikat tanpa bukti yang nyata. Kalau kita lakukan pengamatan sekilas saja, tentu kita melihat bahwa umat ini bukan lagi menjadi khoiru ummah, melainkan umat yang dihinakan, bahkan disebut sebagai dunia ketiga. Umat ini dihinakan oleh sistem kapitalis-sekuler yang dibawa oleh barat. Sehingga seluruh aspek kehidupan umat islam diatur oleh kehidupan sekuler tersebut.

Oleh karenanya, hendaknya tahun baru Islam tahun ini yakni tahun baru Hijriyah 1436 H kembali dapat menjadi momentum bagi seluruh kaum muslim dari berbagai lapisan masyarakat untuk menjadikan tahun hijriah sebagai tahun untuk berusaha berpindah menuju ke kehidupan yang baik, dari kehidupan jahiliyah menuju kepada kehidupan Islam. Dari sistem kapitalis-sekuler menuju kepada sistem Islam yakni sistem Khilafah. Selamat menyambut tahun baru Islam, 1 Muharram 1436 H dengan ikut berjuang melanjutkan kehidupan islam dengan menegakkan khilafah islamiyah yang insya Allah akan segera tegak berdiri . Insya Allah. Wallahu a’alam bisshowab[].

Catatan kaki :

[1]. http://id.wikipedia.org/wiki/Kalender_Hijriyah

[2]. Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani, Asy-Syakhsiyyah al-Islâmiyyah, II/276


[Al-Islam edisi 727, 29 Dzulhijjah 1435 H-24 Oktober 2014 M]

Datangnya pemerintahan baru digambarkan oleh media sebagai harapan baru. Majalah Times edisi Asia pada vol. 184 edisi no. 16 yang akan nongol pada 27 Oktober nanti di halaman sampul menampilkan foto Jokowi disertai tulisan “A New Hope” atau artinya Sebuah Harapan Baru. Tidak sedikit dari rakyat negeri ini yang menggantungkan harapan barunya kepada pemerintahan baru Jokowi-JK. Apalagi selama ini sudah banyak janji-janji yang disampaikan. Namun sikap realistis agaknya yang justru harus dipupuk. Hal itu setidaknya bisa didapat dengan mengurai kondisi politik dan ekonomi yang menjadi tantangan saat ini.

“Mafia Demokrasi dan Demokrasi Mafia”

Tantangan pertama Jokowi-JK adalah membentuk kabinet seperti yang dijanjikan. Janji tidak ada bagi-bagi kursi dan jabatan dalam koalisi tidak terbukti. Susunan kabinet yang dijanjikan segera diumumkan pun ditunda berkali-kali. Bisa jadi itu karena sulitnya mengakomodasi keinginan berbagai pihak.

Ada juga tantangan lain dalam mengelola dukungan politik di parlemen. Pemerintahan dalam sistem demokrasi hanya akan berjalan efektif jika mendapat dukungan politik yang kuat di parlemen. Hal ini tidak dimiliki oleh pemerintahan baru, setidaknya hingga konstelasi yang ada saat ini. Kondisi itu bisa berbalik jika Jokowi-JK dan Koalisi Indonesia Hebat yang mendukungnya bisa menarik sebagian dari Koalisi Merah Putih untuk berbalik ke pihaknya. Tentu ini terjadi dengan sejumlah konsesi politik bahkan jabatan, sesuatu yang dijanjikan akan dijauhi oleh Jokowi.

Tantangan lebih besar dalam konteks politik bagi pemerintahan baru adalah adanya semacam “mafia demokrasi dan demokrasi mafia”. “Mafia demokrasi” mencerminkan tatanan politik demokrasi yang dikendalikan dan diatur secara terorganisir oleh sekelompok elit dari kalangan aristokrat dan pemilik modal yang saling bekerja sama untuk menjaga kepentingan bersama.

Dalam “mafia demokrasi”, parpol tidak lagi menjadi penyambung aspirasi rakyat, tetapi berubah menjadi alat untuk tujuan kekuasaan dan harta. Para politisi di panggung politik berperan sebagai pemain yang harus memainkan peran yang diberikan. Pejabat negara bahkan penguasa yang berlatar belakang parpol bertindak lebih sebagai petugas partai, lebih bertanggungjawab kepada partai dibanding kepada rakyat. Amanat partai lebih diutamakan dari pada amanat rakyat. Fenomena yang jamak terjadi bahkan di negara kampiun demokrasi.

Demokrasi sudah didesain sedemikian rupa sehingga parpol menjadi penentu jalannya politik. Dengan begitu pengendali parpol sejatinya adalah pengendali politik dan berikutnya pengendali negara. Desain politik biaya tinggi membuat pemodal berkolaborasi dengan pengendali parpol menjadi pengendali politik dan pengendali negara.

“Mafia demokrasi” seperti itu melahirkan perilaku politik ala politik mafia yang dipenuhi aroma persekongkolan. Politik mafia berpedoman bahwa tidak ada lawan dan kawan yang permanen, sebaliknya “enemy of my enemy is my friend”, lawan dari lawan saya adalah kawan saya. Dalam politik mafia tak ada lagi peran ideologi. Koalisi dan oposisi lebih untuk mendapatkan konsesi. Janji-janji tinggal janji. Berperilaku kental dengan kolusi dan manipulasi.

Dengan politik mafia seperti itu, negara pun dipenuhi dengan mafia dan berubah menjadi negara mafia. Akhirnya menjadi “demokrasi mafia”. Para aktor pun cenderung saling melindungi satu sama lain. Perilaku korupsi di Indonesia yang didukung oleh jaringan sistematik di legislatif, eksekutif, dan yudikatif, merupakan salah satu bukti. Banyak pihak merasakan negeri ini dipenuhi mafia, diantaranya mafia hukum dan peradilan, mafia korupsi, mafia pajak dan bea cukai, mafia kehutanan, mafia tambang dan energi, mafia narkoba, mafia keuangan dan perbankan, mafia perdagangan, mafia perikanan, dll.

Tantangan “mafia demokrasi” dan “demokrasi mafia” itulah yang harus diselesaikan sebelum tantangan politik dan pemerintahan lainnya. Bisakah pemerintahan baru mengatasinya? Anda bisa menjawabnya sendiri.

Kondisi Ekonomi Membuat “Ngeri”

Tantangan besar lain yang harus dihadapi adalah tantangan di bidang ekonomi. Hampir sebagian besar indikator ekonomi menjadi tantangan. Dalam hal penguasaan terhadap aset dan investasi, sebagian besar dikuasai asing. Hal itu bisa dilihat dari penguasaan tambang. PMA (Penanaman Modal Asing) menguasai US$ 4,8 miliar atau sekitar Rp 57,6 triliun, sementara PMDN hanya 18,8 triliun (Republika, 20/10). Artinya penguasaan asing atas pertambangan mencapai 75,39 persen, sementara nasional hanya menguasai 24,61 persen. Begitu pula penguasa asing pada sektor migas. Menurut Ketua Asosiasi Kewirausahaan Sosial Indonesia Bambang Ismawan, 60 persen industri penting dan strategis telah dikuasai investor asing, seperti perbankan, telekomunikasi, elektronika, asuransi dan pasar modal (Republika, 20/10). Ketika, kekayaan alam dan industri penting dan strategis lebih dikuasai asing, pada hakikatnya negeri ini masih terjajah. Sebab dengan itu kekayaan negeri ini dan hasil industrinya banyak mengalir demi kesejahteraan asing. Menghadapi tantangan ini, hingga saat ini belum ada gambaran apa yang akan dilakukan. Sebaliknya, yang terjadi pihak asing akan diberi jaminan investasi. Jika demikian, masalah penguasaan asing ini akan terus “dipertahankan” oleh pemerintahan baru.

Tantangan dasar yang ada sebenarnya adalah mendesain sistem ekonomi yang bisa memberikan kesejahteraan kepada seluruh rakyat dan mendistribusikan kekayaan kepada mereka secara adil. Skala perekonomian memang terus meningkat. Bahkan PDB Indonesia tahun 2014 diprediksi sebesar Rp 10.063 triliun. Pertumbuhan negeri ini juga terus ada di atas angka 5 persen. Namun semua itu diikuti dengan kesenjangan yang makin tinggi. Hal itu bisa dilihat dari Indeks Gini yang terus meningkat. Jika pada tahun 2009 Indeks Gini 0,37, angka itu terus naik menjadi 0,413 tahun 2013 dan tahun 2014 diprediksi mencapai 0,42 atau 0,43. Ini menandakan hasil pertumbuhan dan kekayaan lebih banyak di nikmati oleh segelintir kecil orang. Hal itu dibuktikan oleh data distribusi simpanan di bank umum pada Juli 2014 yang dikeluarkan oleh LPS. Pemilik rekening di atas 5 miliar yang jumlahnya hanya 0,05 persen menguasai 43,59 persen dari total nominal tabungan. Pemilik rekening di atas 1 miliar yang jumlahnya 0,27% dari total rekening menguasai 61,44 % dari total nominal simpanan.

Dengan pertumbuhan disertai kesenjangan seperti itu, wajar saja jika jumlah orang miskin tidak berkurang, sebab mereka sama sekali tidak merasakan hasil dari pertumbuhan. Jumlah orang miskin pada Maret 2013 sebesar 28,066 juta orang, naik menjadi 28,280 juta orang pada Maret 2014. Jika pada November harga BBM jadi dinaikkan Rp. 3.000 per liter, maka tak ayal lagi jumlah orang miskin itu akan melonjak.

Pertumbuhan yang ada meski lebih tinggi dibanding rata-rata negara-negara di dunia, ternyata juga tidak bisa mengurangi angka pengangguran. Buktinya per Juli 2014 sesuai data BPS angka pengangguran terbuka masih sebesar 7,15 juta. Tiap tahun angkatan kerja bertambah sekitar 2,5 juta orang. Untuk mengatasi pengangguran dan menyerap tambahan angkatan kerja baru itu, banyak pihak meminta pemerintah meningkatkan pertumbuhan di atas 10 persen. Padahal solusi pertumbuhan tanpa memperhatikan kualitas distribusi kekayaan dan pemerataan sudah terbukti gagal mengatasi angka kemiskinan dan pengangguran. Namun selama ini yang terdengar dan didorongkan hanya solusi mempertinggi pertumbuhan itu, yang memang menjadi doktrin dari pemerintahan baru. Maka di bawah pemerintahan baru nanti, masalah angka kemiskinan dan pengangguran akan terus menjadi masalah.

Di sisi lain, negeri ini sudah terjebak dalam jerat utang. Total utang pemerintah per 30 September mencapai Rp. 2.601,72 triliun. Terdiri dari Rp 684 triliun utang dan Rp 1.918 triliun dari Surat Utang Negara. Akibat terus membengkaknya utang, APBN tiap tahun terbebani untuk membayar cicilan pokok dan bunga yang terus meningkat. Pembayaran bunga utang sampai September 2014 sudah mencapai Rp 103,352 triliun dan cicilan pokok mencapai Rp 170,062 triliun. Pagu APBN 2014 untuk cicilan pokok Rp 247,696 triliun dan cicilan bunga Rp 121,386 triliun, totalnya Rp 368,981 triliun. Sedangkan di APBN-P 2014, cicilan bunga ditetapkan Rp 135,453 triliun. Bahkan sejak 2010 total cicilan pokok dan bunga utang selalu di atas 230 triliun pertahun. Untuk mengatasi problem jerat utang ini belum ada skenario dari pemerintahan baru. Justru yang sudah ada adalah penarikan utang baru di tahun 2015 seperti yang ada di APBN 2015.

Ini hanya beberapa problem besar ekonomi negeri ini. Masih banyak problem ekonomi lainnya. Semua problem itu pangkalnya adalah penerapan sistem ekonomi kapitalisme liberal. Jika sudah ada komitmen dari pemerintahan baru untuk melanjutkan model sistem ekonomi kapitalisme liberal, maka problem-problem itu sulit untuk diatasi.

Akibat Meninggalkan Islam

Semua problem yang terjadi di negeri ini termasuk problem politik dan ekonomi di atas tidak lain karena mengambil sistem aturan yang tidak bersumber dari wahyu Allah. Akibatnya adalah tersesat di jalan dan kesempitan hidup di dunia dan di akhirat kelak. Allah SWT berfirman:

﴿فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ ﴿١٢٣﴾ وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا﴾

“Maka barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit” (TQS Thaha [20]: 123-124)

Karena itu solusinya bukan dengan melanjutkan sistem aturan demokrasi kapitalisme yang menyimpang dari wahyu Allah dan menyimpang dari syariah Islam. Solusinya tidak lain adalah kembali kepada petunjuk wahyu dengan menerapkan syariah Islam secara total di bawah sistem Khilafah Rasyidah yang mengikuti manhaj kenabian. Allah SWT berfirman:

﴿ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ﴾

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (TQS ar-Rum [30]: 41)


Wallâh a’lam bi ash-shawâb. []
Komentar Al Islam:

Bank Indonesia (BI) menyebutkan bahwa sistem keuangan dalam negeri mampu menghadapi guncangan di sektor keuangan. Meski terjadi pembalikan arus modal asing atau capital reversal, sistem keuangan diperkirakan masih bisa bertahan. (DetikFinance, 21/10)
  1. Hakikatnya, sistem keuangan dan moneter dalam sistem kapitalisme adalah sistem yang rapuh. Buktinya siklus krisis terus berulang dan makin dekat.
  2. Sistem apapun yang dibangun di atas basis riba pasti akan terus goyah dan sempoyongan layaknya orang yang teler.
  3. Sistem keuangan dan moneter yang stabil dan kuat hanya sistem Islam yang diterapkan dalam kerangka sistem ekonomi Islam.



+ResistNews Blog - Kemarin (Jumat, 17/10/14), kepolisian tiran Sheikh Hasina menembaki pengunjuk rasa di Mohammadpur, Dhaka, yang diselenggarakan oleh Hizbut Tahrir yang menentang komentar yang dibuat oleh Latif Siddique yang menjelek-jelekkan Rasulallah SAW dan ibadah haji yang penuh berkah. Mereka menembak seorang shabab, Muhammad Nafis Salam, seorang Konsultan IT berusia 36 tahun, dari belakang dan ketika dia roboh ke tanah dengan terluka mereka menembaknya lagi di kaki dua kali dari jarak dekat. Orang-orang jahat di kepolisian Hasina kemudian melanjutkan dengan memukulinya tanpa ampun saat dia terluka tergeletak di jalan sementara darah mengalir keluar. Nafis Salam kini berjuang untuk hidupnya. Kita berdoa untuk kesejahteraan saudara kita dan menyerukan kaum muslim untuk berdoa baginya; benar-benar dia adalah hamba Allah yang tulus, kami menganggapnya demikian, namun kami tidak memuji siapapun di hadapan Allah SWT.

Semoga Allah SWT menghancurkan Sheikh Hasina dan rezimnya yang tidak bertuhan. Dia telah melakukan pelanggaran di negerinya dengan angkuh … seorang musuh Allah SWT, Rasul-Nya dan orang-orang beriman. Dia telah melahirkan banyak orang seperti Latif sementara secara brutal menekan umat Islam yang cinta Allah, Rasul-Nya dan Diennya dan menyerukan untuk menghukum para pelaku kejahatan seperti Latif. Belum lagi kejahatannya yang tidak terhitung jumlahnya dan tindakan berbahaya lainnya terhadap umat.

Kami menyerukan kepada orang-orang untuk berbicara dengan tegas menentang tiran Hasina dan tidak tidak tinggal diam atas tindakan keji yang dilakukan oleh rezim-nya. Jika tidak, maka kebrutalannya akan semakin meningkat untuk mengamankan kekuasaannya karena dia tahu bahwa tidak ada dukungan atas kekuasaannya dari rakyat. Inilah alasannya mengapa dia menanggapi setiap protes oleh rakyat dengan kekerasan seolah-olah mereka adalah musuh-musuhnya. Berbicara menentang penguasa tiran adalah tugas dan kewajiban semua Muslim.

Kami menyerukan kepada para perwira yang tulus di militer untuk memberikan dukungan kepada orang-orang yang benar dari umat yang mengorbankan dan memberikan darah mereka untuk Allah SWT, Rasul-Nya, Islam dan kaum Muslimin. Para perwira yang tulus adalah orang-orang yang seharusnya menjadi yang pertama dalam mendukung Dien Allah dan berdiri melawan tirani, karena mereka adalah orang-orang yang memiliki kekuatan untuk menggulingkan rezim. Jadi mereka harus melenyapkan Hasina dari kekuasaan dan memberikan kekuasaan kepada Hizbut Tahrir untuk mendirikan negara Khilafah yang akan melindungi Dien Allah dan menjadi pelindung bagi rakyat, dan bukan menjadi musuh mereka.

Kantor Media Hizbut Tahrir Wilayah Bangladesh

https://www.facebook.com/PeoplesDemandBD2

Sabtu 24 Dzul Hijjah 1435 H

18/10/2014

Ref: 1435-1412 /03



Oleh: Hafidz Abdurrahman

Khilafah Islam, secara qath’i, pernah berdiri. Khilafah adalah satu-satunya bentuk negara dan sistem pemerintahan yang diwariskan oleh Nabi Muhammad saw. Nabilah yang mendirikan negara Islam yang pertama di Madinah, dengan bentuk dan sistemnya yang khas. Bentuk dan sistemnya yang khas ini pun kemudian diwariskan kepada para sahabatridhwanullah ‘alaihim. Inilah Negara Khilafah.

Karena itu, mengingkari Khilafah sebagai bagian dari ajaran Islam, dan menolak kewajiban untuk menegakkannya bukan hanya membawa dosa besar bagi pelakunya, tetapi bisa mengancam akidahnya. Karena jelas-jelas telah mengingkari apa yang secara mutawatir dipraktekkan oleh Nabi saw. Juga mengingkari apa yang secara mutawatir disepakati dan dipraktekkan oleh para sahabat Nabi saw. Ini seperti orang yang mengingkari kewajiban shalat, puasa, zakat, haji dan jihad.

Khilafah adalah sistem pemerintahan Islam yang diwajibkan oleh Tuhan semesta alam. Di dalam sistem khilafah ini, Khalifah diangkat melalui baiat berdasarkan Kitabullah dan sunah Rasul-Nya untuk memerintah (memutuskan perkara) sesuai dengan apa yang diturunkan oleh Allah. Dalil-dalilnya banyak, diambil dari al-Kitab, as-Sunah dan Ijmak Sahabat.


Dalil Wajibnya Menegakkan Khilafah

Pertama, Dalil dari al-Qur’an, bahwa Allah SWT. telah menyeru Rasul saw:



﴿فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ﴾



“Putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. (QS. al-Maidah [5]: 48)



﴿وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ﴾



“Hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu.(QS. al-Maidah [5]: 49).

Seruan kepada Rasul saw untuk memutuskan perkara diantara mereka sesuai dengan apa yang diturunkan oleh Allah juga merupakan seruan bagi umat Beliau saw. Mafhum-nya adalah hendaknya umat Beliau mewujudkan seorang hakim setelah Rasulullah saw untuk memutuskan perkara di antara mereka sesuai dengan apa yang diturunkan oleh Allah. Perintah dalam seruan ini bersifat tegas (jazim). Karena yang menjadi obyek seruan adalah wajib. Sebagaimana dalam ketentuan ushul, ini merupakan indikasi yang menunjukkan jazm (tegas). Hakim yang memutuskan perkara di antara kaum muslim setelah wafatnya Rasulullah saw adalah Khalifah. Karena itu, sistem pemerintahan menurut aspek ini adalah sistem Khilafah.

Terlebih lagi, bahwa penegakan hudud (sanksi) dan seluruh ketentuan hukum syara’ merupakan sesuatu yang wajib. Kewajiban ini sendiri tidak akan terlaksana tanpa adanya penguasa. Sementara kewajiban yang tidak sempurna, kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu itu hukumnya menjadi wajib. Artinya, mewujudkan penguasa yang menegakkan syariat itu hukumnya wajib. Penguasa menurut aspek ini, tak lain adalah Khalifah, dan sistem pemerintahannya adalah sistem khilafah.

Kedua, adapun dalil dari as-Sunnah, telah diriwayatkan dari Nafi’, ia berkata, “Abdullah bin ‘Umar telah berkata kepadaku, “Aku mendengar Rasulullah saw. pernah bersabda:

«مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ لَقِيَ اللهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَ حُجَّةً لَهُ وَ مَنْ مَاتَ وَ لَيْسَ فِيْ عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً»



“Siapa saja yang melepaskan tangan dari ketaatan, ia akan menjumpai Allah pada hari kiamat kelak tanpa memiliki hujah, dan siapa saja yang mati sedang di pundaknya tidak terdapat baiat, maka ia mati seperti kematian jahiliyah.” (HR. Muslim)

Nabi saw telah mewajibkan kepada setiap Muslim agar di pundaknya terdapat baiat. Beliau juga menyifati orang yang mati, sedangkan di pundaknya tidak terdapat baiat, maka ia mati seperti mati jahiliyah. Baiat tidak akan terwujud setelah Rasulullah saw, kecuali kepada Khalifah, bukan yang lain. Hadits ini mewajibkan adanya baiat di atas pundak setiap Muslim, yang berarti mewajibkan adanya Khalifah yang dengan adanya Khalifah itu adanya baiat di atas pundak setiap Muslim bisa direalisir. Imam muslim meriwayatkan dari al-A’raj dari Abu Hurairah dari Nabi saw, Beliau pernah bersabda:



«إِنَّمَا اْلإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَ يُتَّقَى بِهِ»


“Seorang imam tidak lain laksana perisai, dimana orang-orang akan berperang di belakangnya dan menjadikannya pelindung.” (HR. Muslim)

Imam Muslim telah meriwayatkan dari Abi Hazim, ia berkata, “Aku mengikuti mejelis Abu Hurairah selama lima tahun, dan aku mendengar ia menyampaikan hadits dari Nabi saw, Beliau pernah bersabda:

«كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ اْلأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدِي وَسَتَكُونُ خُلَفَاءُ فَتَكْثُرُ، قَالُوا فَمَا تَأْمُرُنَا؟ قَالَ: فُوْا بِبَيْعَةِ اْلأَوَّلِ فَاْلأَوَّلِ أَعْطُوهُمْ حَقَّهُمْ فَإِنَّ اللهَ سَائِلُهُمْ عَمَّا اسْتَرْعَاهُمْ»


“Dahulu Bani Israel diurusi dan dipelihara oleh para nabi, setiap kali seorang nabi meninggal digantikan oleh nabi yang lain, dan sesungguhnya tidak ada nabi sesudahku, dan akan ada para Khalifah, dan mereka banyak, para sahabat bertanya : “lalu apa yang engkau perintahkan kepada kami?” Nabi bersabda : “penuhilah baiat yang pertama dan yang pertama, berikanlah kepada mereka hak mereka, dan sesungguhnya Allah akan meminta pertanggung-jawaban mereka atas apa yang mereka diminta untuk mengatur dan memeliharanya.” (HR. Muslim)

Di dalam hadits-hadits ini terdapat sifat bagi Khalifah sebagai junnah (perisai). Sifat yang diberikan Rasul saw bahwa imam adalah perisai merupakan ikhbar (pemberitahuan) yang di dalamnya terdapat pujian atas keberadaan seorang imam. Ini merupakan tuntutan (thalab). Karena pemberitahuan dari Allah dan Rasul saw, jika mengandung celaan (dzamm) merupakan tuntutan untuk meninggalkan (thalab at-tark), yakni larangan (nahy). Jika mengandung pujian (madh), maka merupakan tuntutan untuk melakukan (thalab al-fi’l). Jika aktivitas yang dituntut pelaksanaannya memiliki konsekuensi tegaknya hukum syara’, atau jika diabaikan mempunyai konsekuensi terabaikannya hukum syara’, maka tuntutan itu bersifat tegas (thalab jazim). Dalam hadits ini juga terdapat pemberitahuan bahwa orang yang mengurus kaum Muslim itu adalah para Khalifah. Karena itu, hadits ini sekaligus merupakan perintah mengangkat Khalifah. Terlebih lagi, Rasul saw memerintahkan untuk mentaati para Khalifah dan memerangi orang yang hendak merebut kekuasaan dalam jabatan khilafahnya. Ini artinya, perintah untuk mengangkat Khalifah dan menjaga eksistensi Khilafah dengan cara memerangi semua orang yang hendak merebutnya. Imam Muslim telah meriwayatkan bahwa Rasul saw pernah bersabda:

«وَمَنْ بَايَعَ إِمَامًا فَأَعْطَاهُ صَفْقَةَ يَدِهِ وَ ثَمْرَةَ قَلْبِهِ فَلْيُطِعْهُ إِنْ اِسْتَطَاعَ فَإِنْ جَاءَ آخَرٌ يُنَازِعُهُ فَاضْرِبُوْا عُنُقَ اْلآخَرِ»



“Dan siapa saja yang telah membaiat seorang imam lalu ia telah memberikan genggaman tangannya dan buah hatinya, maka hendaklah ia mentaatinya sesuai dengan kemampuannya, dan jika datang orang lain yang hendak merebut kekuasaannya maka penggallah orang lain itu.” (HR. Muslim)

Perintah mentaati imam ini merupakan perintah untuk mengangkatnya. Perintah memerangi orang yang hendak merebut kekuasaannya merupakan qarinah (indikasi) yang tegas tentang wajibnya menjaga keberlangsungan Khalifah yang satu.

Ketiga, sedangkan dalil berupa Ijma’ Sahabat, maka para sahabat –ridhwanaLlâh ‘alayhim– telah sepakat atas kewajiban mengangkat Khalifah (pengganti) bagi Rasulullah saw setelah Beliau wafat. Mereka telah sepakat untuk mengangkat Abu Bakar sebagai Khalifah, lalu ‘Umar bin Khaththab sepeninggal Abu Bakar, dan sepeninggal ‘Umar, ‘Utsman bin ‘Affan. Telah nampak jelas penegasan Ijmak Sahabat terhadap wajibnya mengangkat Khalifah dari penundaan pemakaman jenazah Rasulullah saw, dimana mereka lebih menyibukkan diri untuk mengangkat Khalifah (pengganti) Beliau. Sementara mengebumikan jenazah setelah wafatnya Nabi adalah wajib. Para sahabat adalah pihak yang berkewajiban mengurus jenazah Rasul saw dan mengebumikannya, tetapi sebagian dari mereka lebih menyibukkan diri untuk mengangkat Khalifah, sementara sebagian yang lain diam saja atas hal itu dan mereka ikut dalam penundaan pemakaman jenazah Rasul saw sampai dua malam. Padahal mereka mampu mengingkarinya dan mengebumikan jenazah Rasul saw.

Rasul saw wafat pada waktu dhuha hari Senin, lalu disemayamkan dan belum dikebumikan pada malam Selasa, dan Selasa siang saat Abu Bakar dibaiat. Kemudian jenazah Rasul dikebumikan pada tengah malam, malam Rabu. Jadi pengebumian itu ditunda selama dua malam dan Abu Bakar dibaiat terlebih dahulu sebelum pengebumian jenazah Rasul saw. Maka fakta ini merupakan Ijmak Sahabat untuk lebih menyibukkkan diri mengangkat Khalifah dari pada mengebumikan jenazah. Hal itu tidak akan terjadi kecuali, bahwa mengangkat Khalifah lebih wajib daripada mengebumikan jenazah. Juga bahwa para sahabat seluruhnya telah berijmak sepanjang hidup mereka akan wajibnya mengangkat Khalifah. Meski mereka berbeda pendapat mengenai orang yang dipilih sebagai Khalifah, namuan mereka tidak berbeda pendapat sama sekali tentang wajibnya mengangkat Khalifah, baik ketika Rasul saw wafat, maupun ketika para Khulafaur Rasyidin wafat. Maka Ijmak Sahabat ini merupakan dalil yang jelas dan kuat atas wajibnya mengangkat Khalifah.

Pendapat Para Ulama’ tentang Wajibnya Khilafah

Para ulama’ dari berbagai mazhab, baik Sunni, Syi’i, Muktazilah, Khawarij maupun yang lain, telah menyepakati wajibnya Khilafah, serta mengangkat seorang Khalifah. Pendapat mereka, antara lain, sebagai berikut:

1- Al-Imam al-Mawardi (w. 450 H), dari mazhab Syafii, menyatakan:

وَعَقْدُهَا لِمَنْ يَقُوْمُ بِهَا وَاجِبٌ بِالْإجْمَاعِ وَإِنْ شَذَّ عَنْهُمُ اَلْأَصَمُّ



“Melakukan akad Imamah (Khilafah) bagi orang yang [mampu] melakukannya, hukumnya wajib berdasarkan Ijma’, meskipun Al Asham menyalahi mereka (ulama) [dengan menolak wajibnya Khilafah].” (Lihat, al-Mawardi, al-Ahkam as-Sulthaniy-yah, hal. 5).


2- Ibn Hazm (w. 456 H), dari mazhab Dhahiri, berkata:

إتَّفَقَ جَمِيْعُ أهْلِ السُنَّةِ وَجَمِيْعُ الْمُرْجِئَةِ وَجَمِيْعُ الشِيْعَةِ وَجَمِيْعُ الْخَوَارِجِ عَلَى وُجُوْبِ اْلإمَامَةِ….


“Telah sepakat semua Ahlus Sunnah, semua Murji`ah, semua Syi’ah, dan semua Khawarij mengenai wajibnya Imamah (Khilafah)…” (Lihat, al-Fashlu fi al-Milal wa Ahwa’ wa an-Nihal, Juz IV/87).

وَاتَّفَقُوْا أَنَّ الْإِمَامَةَ فَرْضٌ وَأَنَّهُ لاَ بُدَّ مِنْ إِمَامٍ حَاشَا النَّجْدَاتِ..



“Mereka (ulama) telah sepakat bahwa Imamah (Khilafah) itu fardhu dan bahwa tidak boleh tidak harus ada seorang Imam (Khalifah), kecuali an-Najadat…” (Lihat, Ibn Hazm, Maratib al-Ijma’, hal. 207).


3- Al-Imam Abu Ya’la al-Farra’ (458 H), mazhab Hambali, mengatakan:

نَصْبَةُ اْلإِمَامِ وَاجِبَةٌ وَقَدْ قَالَ أَحْمَدُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فِيْ رِوَايَةِ مُحَمَّدِ ابْنِ عَوْفِ بْنِ سُفْيَانَ الْحِمْصِيِّ ” ألْفِتْنَةُ إذَا لَمْ يَكُنْ إمَامٌ يَقُوْمُ بِأَمْرِ النَّاسِ.



“Mengangkat seorang Imam (Khalifah) hukumnya wajib. Imam Ahmad RA dalam riwayat Muhammad bin ‘Auf bin Sufyan al-Himshi berkata, “Adalah suatu ujian, jika tak ada seorang Imam (Khalifah) yang menegakkan urusan manusia.” (Lihat,Abu Ya’la Al Farra’, al-Ahkam as-Sulthaniyyah, hlm. 19).

4- Al-Qahir al-Baghdadi (w. 469 H), mazhab Ahlussunnah, mengatakan:


وَقَالُوْا فِي الرُّكْنِ الثَّانِيْ عَشَرَ الْمُضَافِ إِلىَ الْخِلاَفَةِ وَاْلإِمَامَةِ: إِنَّ اْلإِمَامَةَ فَرْضٌ وَاجِبٌ عَلىَ اْلأُمَّةِ، لِأَجْلِ إِقَامَةِ اْلإِمَامِ يَنْصِبُ لَهُمُ الْقُضَاةَ وَاْلأُمَنَاءَ، وَيَضْبَطُ ثُغُوْرَهُمْ، وَيُغْزِيْ جُيُوْشَهُمْ، وَيَقْسِمُ اْلفَيْءَ بَيْنَهُمْ، وَيَنْتَصِفُ لِمَظْلُوْمِهِمْ مِنْ ظَالِمِهِمْ



“Mereka [ulama Ahlus Sunnah] berkata mengenai rukun ke-13 yang disandarkan kepada Khilafah atau Imamah, bahwa Imamah atau Khilafah itu fardhu atau wajib atas umat Islam, agar Imam dapat mengangkat para hakim dan orang-orang yang diberi amanah, menjaga perbatasan mereka, menyiapkan tentara mereka, membagikan fai’ mereka, dan melindungi orang yang didzalimi dari orang-orang yang dzalim.” (Lihat, Abdul Qahir al-Baghdadi, al-Farqu Baina al-Firaq, Juz I/340).


5- Al-Imam al-Ghazali (w. 505 H), mazhab Ahlussunnah-Syafii, mengatakan:

فَبَانَ أَنَّ السُّلْطَانَ ضَرُوْرِيٌّ فِيْ نِظَامِ الدِّيْنِ وَنِظَامِ الدُّنْيَا، وَنِظَامُ الدُّنْيَا ضَرُوْرِيٌّ فِيْ نِظَامِ الدِّيْنِ، وَنِظَامُ الدِّيْنِ ضَرُوْرِيٌّ فِيْ الْفَوْزِ بِسَعَادَةِ اْلآخِرَةِ ، وَهُوَ مَقْصُوْدُ الْأَنْبِيَاءِ قَطْعًا ، فَكَانَ وُجُوْبُ اْلإِمَامِ مِنْ ضَرُوْرِيَّاتِ الشَّرْعِ الَّذِيْ لاَ سَبِيْلَ إِلىَ تَرْكِهِ فَاعْلَمْ ذَلِكَ..



“Maka jelaslah, bahwa kekuasaan itu penting demi keteraturan agama dan keteraturan dunia. Keteraturan dunia penting demi keteraturan agama, sedang keteraturan agama penting demi keberhasilan mencapai kebahagiaan akhirat, dan itulah tujuan yang pasti dari para Nabi. Maka kewajiban adanya Imam (Khalifah) termasuk hal-hal yang penting dalam syariat yang tak ada jalan untuk meninggalkannya. Ketahuilah itu ! ”(Lihat, Imam Ghazali, al-Iqtishad fi al-I’tiqad, hal. 99).


6- Al-Imam al-Quthubi (w. 671 H), mazhab Maliki, mengatakan:

وَلاَ خِلَافَ فِيْ وُجُوْبِ ذَلِكَ بَيْنَ الْأُمَّةِ وَلاَ بَيْنَ الْأَئِمَّةِ، إِلاَّ مَا رُوِيَ عَنِ الْأَصَمِّ، حَيْثُ كَانَ عَنِ الشَّرِيْعَةِ أَصَمُّ. وَكَذَلِكَ كُلُّ مَنْ قَالَ بِقَوْلِهِ وَاتَّبَعَهُ عَلىَ رَأْيِهِ وَمَذْهَبِهِ ).


“Tidak ada perbedaan pendapat mengenai wajibnya hal itu (mengangkat Khalifah) di antara umat dan para imam [mazhab], kecuali apa yang diriwayatkan dari Al Asham, yang dia itu memang ‘asham’ (tuli) dari Syariat. Demikian pula setiap orang yang berkata dengan perkataannya serta mengikutinya dalam pendapat dan mazhabnya.” (Lihat, al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkami al-Qur`an, Juz I/264).


7- Al-Imam an-Nawawi (w. 676 H), mazhab Syafii, mengatakan:

أَجْمَعُوْا عَلىَ أَنَّهُ يَجِبُ عَلىَ الْمُسْلِمِيْنَ نَصْبُ خَلِيْفَةٍ

“Imam Nawawi (w. 676 H) berkata,”Mereka [para shahabat] telah sepakat bahwa wajib atas kaum muslimin mengangkat seorang Khalifah.” (Lihat, an-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, Juz XII/hal. 205).



8- Ibn Taimiyyah (w. 728 H), mazhab Hanbali, mengatakan:

يَجِبُ أَنْ يُعْرَفَ أَنَّ وِلاَيَةَ أَمْرِ النَّاسِ مِنْ أَعْظَمِ وَاجِبَاتِ الدِّيْنِ، بَلْ لاَ قِيَامَ لِلدِّيْنِ إِلاَّ بِهَا. فَإِنَّ بَنِيْ آدَمَ لاَ تَتِمُّ مَصْلَحَتُهُمْ إِلاَّ بِالْاِجْتِمَاعِ لِحَاجَةِ بَعْضِهِمْ إِلىَ بَعْضٍ، وَلاَ بُدَّ لَهُمْ عِنْدَ اْلاِجْتِمَاعِ مِنْ رَأْسٍ حَتىَّ قَالَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “إِذَا خَرَجَ ثَلاَثَةٌ فِيْ سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوْا أَحَدَهُمْ” رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ مِنْ حَدِيْثِ أَبِيْ سَعِيْدٍ وَأَبِيْ هُرَيْرَةَ … وَلِأَنَّ اللهَ تَعَالَى أَوْجَبَ اْلأَمْرَ بِالْمَعْرُوْفِ وَالنَّهْيَ عَنِ الْمُنْكَرِ، وَلاَ يَتِمُّ ذَلِكَ إِلاَّ بِقُوَّةٍ وَإِمَارَةٍ



“Wajib diketahui bahwa kekuasaan atas manusia termasuk kewajiban agama terbesar. Bahkan agama tak akan tegak tanpa kekuasaan. Karena manusia tak akan sempurna kepentingan mereka kecuali dengan berinteraksi karena adanya hajat dari sebagian mereka dengan sebagian lainnya…Dan tak boleh tidak pada saat berinteraksi harus ada seorang pemimpin hingga Rasulullah saw. bersabda, “Jika keluar tiga orang dalam satu perjalanan maka hendaklah mereka mengangkat satu orang dari mereka untuk menjadi pemimpinnya.” (HR Abu Dawud, dari Abu Said dan Abu Hurairah). Karena Allah telah mewajibkan amar ma’ruf nahi mungkar, dan kewajiban ini tak akan berjalan sempurna kecuali dengan adanya kekuatan dan kepemimpinan.” (Lihat, Ibn Taimiyyah, Majmu’ al-Fatawa, Juz XXVIII/390).

9- Ibn Hajar (w. 852 H), mazhab Syafii, mengatakan:

وَأَجْمَعُوْا عَلىَ أَنَّهُ يَجِبُ نَصْبُ خَلِيْفَةٍ وَعَلىَ أَنَّ وُجُوْبَهُ بِالشَّرْعِ لاَ بِالْعَقْلِ.



“Dan mereka [para ulama] telah sepakat bahwa wajib hukumnya mengangkat seorang khalifah dan bahwa kewajiban itu adalah berdasarkan syara’ bukan akal.” (Lihat, Ibn Hajar al-Asqalani, Fathu al-Bari, Juz XII/205).

10-Al-Imam ar-Ramli (w. 1004 H), mazhab Syafii, mengatakan:

يَجِبُ عَلىَ النَّاسِ نَصْبُ إِمَامٍ يَقُوْمُ بِمَصَالِحِهِمْ، كَتَنْفِيْذِ أَحْكَامِهِمْ وَإِقَامَةِ حُدُوْدِهِمْ… لِإِجْمَاعِ الصَّحَابَةِ بَعْدَ وَفَاتِهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ عَلىَ نَصْبِهِ حَتَّى جَعَلُوْهُ أَهَمَّ الْوَاجِبَاتِ، وَقَدَّمُوْهُ عَلىَ دَفْنِهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَلَمْ تَزَلِ النَّاسُ فِيْ كُلِّ عَصْرٍ عَلىَ ذَلِكَ

“Wajib atas manusia mengangkat seorang Imam (Khalifah) yang menegakkan kepentingan-kepentingan mereka, seperti menerapkan hukum-hukum mereka (hukum Islam), menegakkan hudud mereka… Hal itu berdasarkan Ijma’ Sahabat setelah wafatnya Nabi saw. mengenai pengangkatan imam hingga mereka menjadikannya sebagai kewajiban yang terpenting, dan mereka mendahulukan hal itu atas penguburan jenazah Nabi saw. Dan manusia senantiasa pada setiap masa selalu berpendapat demikian (wajib mengangkat Imam).” (Lihat, Syamsuddin ar-Ramli, Ghayatu al-Bayan,hal. ).


11- Al-Imam ‘Ali as-Syaukani (w. 1250 H), mazhab Zaidiyyah, mengatakan:

فَصْلٌ يَجِبُ عَلىَ اْلمُسْلِمِيْنَ نَصْبُ إِمَامٍ: أَقُوْلُ قَدْ أَطَالَ أَهْلُ اْلعِلْمِ اْلكَلاَمَ عَلىَ هَذِهِ اْلمَسْأَلَةِ فِي اْلأُصُوْلِ وَاْلفُرُوْعِ… وقال: وَقَدْ ذَهَبَ اْلأَكْثَرُ إِلىَ أَنَّ اْلإِمَامَةَ وَاجِبَةٌ …فَعِنْدَ اْلعِتْرَةِ وَ أَكْثَرِ اْلمُعْتَزِلَةِ وَ اْلأَشْعَرِيَّةِ تَجِبُ شَرْعاً


“Pasal: Wajib atas kaum Muslim mengangkat seorang Imam (Khalifah): Saya katakan sungguh para ulama telah membicarakan masalah ini dengan panjang lebar dalam perkara ushul dan furu’…” (Lihat,as-Syaukani, as-Sailu al-Jarar, Juz IV/hal. 503). Beliau juga mengatakan, “Mayorias ulama berpendapat Imamah itu wajib… maka menurut ‘Itrah (Ahlul Bait), mayoritas Mu’tazilah, dan Asy’ariyah, [Imamah/Khilafah] itu wajib menurut syara’.” (Lihat, as-Syaukani,Nailu al-Authar, Juz VIII/265).

12-As-Syaikh Dr. Wahbah Zuhaili mengatakan:

تَرَى اْلأَكْثَرِيَّةُالسَّاحِقَةُمِنْعُلَمَاءِاْلإِسْلاَمِوَهُمْأَهْلُالسُّنَةِوَالْمُرْجِئَةُوَالشِّيْعَةُوَاْلمُعْتَزِلَةُإِلاَّنَفَراً مِنْهُمْ، وَاْلخَوَارِجُمَا عَدَا النَّجْدَاتِ : ) أَنَّاْلإِمَامَةَأَمْرٌوَاجِبٌأَوْفَرْضٌمُحَتَّمٌ


“Mayoritas ulama Islam –yaitu ulama Ahlussunnah, Murji’ah, Syi’ah, dan Mu’tazilah kecuali segelintir dari mereka, dan Khawarij kecuali Sekte an-Najdat– berpendapat bahwa Imamah (Khilafah) adalah perkara yang wajib atau suatu kefardhuan yang pasti.” (Lihat, Wahbah Zuhaili, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, Juz VIII/272).

Inilah pendapat seluruh ulama’ kaum Muslim, dari berbagai mazhab, baik Sunni, Syi’ah, Mu’tazilah, Murji’ah, Khawarij, maupun Hanafi, Maliki, Syafii, Hanbali, Dhahiri dan Zaidi. Dari zaman dulu hingga sekarang. Semuanya sepakat, bahwa hukum menegakkan Khilafah dan mengangkat seorang Khalifah adalah wajib bagi kaum Muslim. Jika ada yang mengatakan tidak wajib, maka meminjam ungkapan Imam al-Qurthubi, itu adalah orang tuli, seperti al-Asham, dari Sekte Muktazilah, dan an-Najadat, dari Sekte Khawarij. Mereka ini merupakan kelompok sempalan.

Karena itu, hukum menegakkan Khilafah merupakan perkara Ma’lum[un] min ad-din bi ad-dharurah (yang sudah diketahui urgensinya dalam Islam). Maka, tidak boleh ada kaum Muslim tidak tahu, bahwa menegakkan Khilafah hukumnya wajib. Sebagaimana tidak boleh tidak tahu, bahwa hukum menegakkan shalat lima waktu hukumnya wajib.

Khilafah untuk Rahmatan li al-‘Alamin


Satu-satunya sistem pemerintahan yang sempurna, yang pernah diterapkan oleh umat manusia di muka bumi, tidak ada lain, adalah sistem Khilafah. Karena ini adalah satu-satunya sistem pemerintahan yang digariskan oleh Allah SWT. dan diwariskan oleh Rasulullah saw. secara turun-temurun. Allah pun menjamin, bahwa Islam yang diemban oleh Nabi, dengan sistem pemerintahannya ini merupakan rahmat bagi alam semesta:

﴿وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ﴾


“Dan, Kami tidak mengutus kamu (Muhammad), kecuali menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (QS. al-Anbiya’ [21]: 107)

Makna rahmat[an] li al-‘alamin dijelaskan oleh al-‘Allamah al-Qadhi Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani (w. 1977 M) dengan,“Jalb al-mashalih wa daf’u al-mafasid” (Terwujudnya kemaslahatan dan tercegahnya kerusakan). Hanya saja, kerahmatan bagi seluruh alam ini bukan ‘illat syara’, tetapi hikmah. Karena ayat ini terkait dengan pengangkatan Nabi Muhammad saw. sebagai Rasul, maka konteks ayat ini sebenarnya terkait dengan syariat Islam secara utuh, yang meliputi akidah dan hukum syara’. Dengan kata lain, Islam sebagai rahmat[an] li al-‘alamin ini bisa diwujudkan, jika akidah dan hukum Islam diterapkan secara menyeluruh dalam sebuah negara. Rahmat[an] li al-‘alamin ini juga merupakan hasil dari penerapan Islam secara kaffah (Lihat, an-Nabhani, Muqaddimatu ad-Dustur, Juz I/58-59).

Adapun manifestasi dari rahmat[an] li al-‘alamin itu seringkali dirumuskan oleh ulama’ Ushul Fiqh, sebut saja al-Syathibi (w. 790 H), dalam empat bentuk kemaslahatan berikut:

1- Kemaslahatan vital (al-Mashlahah ad-Dharuriyyah);

2- Kemaslahatan pelengkap (al-Mashlahah at-Takmiliyyah);

3- Kemaslahatan yang dibutuhkan (al-Mashlahah al-Hajiyyah);

4- Kemaslahatan kesempurnaan (al-Mashlahah at-Tahsiniyyah)

(Lihat, al-Hafidz as-Syathibi, al-Muwafaqat fi Ushul as-Syari’ah, Juz II/7).

1- Kemaslahatan vital (al-Mashlahah ad-Dharuriyyah)

Yang dimaksud dengan kemaslatan vital ini kemaslahatan yang harus ada, jika tidak kemaslahatan dunia dan agama tidak akan terwujud (Lihat, al-Hafidz as-Syathibi, al-Muwafaqat fi Ushul as-Syari’ah, Juz II/7). Kemaslahatan vital yang dihasilkan dari penerapan syariat Islam, seperti:

1- Terjaganya agama (hifdh ad-din): Murtad dilarang dalam Islam. Bagi orang yang murtad diminta bertaubat, dan diberi waktu 3 hari. Setelah 3 hari tetap tidak mau kembali pada Islam, maka dikenai sanksi riddah (murtad), yaitu dibunuh. Dengan cara seperti itu, Islam akan terjaga. Nabi saw. bersabda:

مَنْ بَدَّلَ دِيْنَهُ فَاقْتُلُوْهُ

“Siapa saja yang murtad dari agamanya, maka bunuhlah.” (HR. Malik dari Ibn ‘Umar).

Bukan hanya orang yang murtad dikenai sanksi, tetapi orang yang menghina Islam, mengaku sebagai Nabi, atau mengemban dan menyebarkan paham yang bertentangan dengan Islam.

2- Terjaganya akal (hifdh al-‘aql): Minuman keras, narkoba, dan sejenisnya diharamkan. Bagi orang yang meminum atau mengkonsumsinya, maka dikenakan sanksi Syarib al-khamr (peminum khamer), yaitu dicambuk sebanyak 80 kali. Dengan cara seperti itu, akal setiap warga negara Khilafah akan terjaga, bersih dan sehat.

3- Terjaganya jiwa (hifdh an-nafs): Membunuh, melukai atau mencederai anggota badan orang yang darahnya haram (ma’shum ad-dam) hukumnya haram. Bagi yang melakukannya, maka dikenai sanksi, bisa dijatuhi qishash, atau diyat. Jika keluarga korban pembunuhan tidak menerima permohonan maaf pelaku, maka dia harus dibunuh. Tetapi, jika dimaafkan, maka dia diwajibkan membayar diyat. Begitu juga, ketika melukai atau mencederai anggota tubuh orang lain, maka dikenai diyat. Dengan cara seperti itu, maka jiwa tiap rakyat negara Khilafah terjaga, dan mahal harganya.

4- Terjaganya keturunan (hifdh an-nasl): Menikah, sebagai satu-satunya metode untuk melanjutkan keturunan, jelas wajib. Sebaliknya, zina dinyatakan sebagai metode yang salah dalam memenuhi kebutuhan biologis.

وَلاَ تَقْرَبُوْا الزِّنَا إِنَّهُ كاَنَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيْلاً


“Janganlah kalian mendekati zina, sesungguhnya zina itu merupakan perbuatan keji, dan cara (metode) yang buruk..”(Q.s. al-Isra’ []: 32)


Karena itu, orang yang berzina dikenai sanksi. Bagi yang berzina, dengan status Muhshan (sudah menikah), dikenai sanksirajam hingga mati. Sedangkan bagi yang berzina, dengan status Ghair Muhshan (belum menikah), dikenai sanksi jild 100 kali. Dengan cara seperti itu, maka keturunan umat manusia bisa terjaga.

5- Terjaganya kehormatan (hifdh al-karamah): Menuduh orang berzina diharamkan. Pelakunya pun dikenai sanksiqadzaf, yaitu dicambuk 80 kali, dan tidak diterima kesaksiannya. Dengan begitu, kehormatan orang yang baik akan terjaga.

6- Terjaganya harta (hifdh al-mal): Mencuri, merampok, ghashab dan korupsi diharamkan. Pelakunya pun dikenai sanksi yang tegas. Bagi orang yang mencuri, dengan nishab tertentu, dikenai sanksi potong tangan. Bagi perampok, bisa sampai dibunuh dengan disalib. Bagi orang ghashab dan korupsi, bisa dikenai ta’zir. Dengan cara seperti ini, maka harta akan terjaga.

7- Terjaganya negara (hifdh ad-daulah): Mentaati Khalifah yang menerapkan hukum Islam hukumnya wajib, memisahkan diri dari kekuasaannya, membangkang dan melakukan perlawanan pada negara haram. Pelakunya dinyatakan sebagia Bughat, yang dikenai sanksi diperangi hingga menyerah.

Inilah 7 bentuk kemaslahatan vital yang akan diraih oleh umat manusia, baik Muslim maupun non-Muslim, ketika syariat Islam diterapkan secara kaffah. Tujuh kemaslahatan vital ini sekaligus merupakan manifestasi dari rahmat[an] li al-‘alamin.



2- Kemaslahatan pelengkap (al-Mashlahah at-Takmiliyyah)

Islam bukan saja mewujudkan kemaslahatan vital bagi umat manusia, tetapi juga kemaslahatan pelengkap, yang dengannya kemaslahatan vital bisa diwujudkan dengan sempurna. Sebagai contoh, perintah menikah, dan larangan berzina. Perintah dan larangan ini tidak akan bisa diwujudkan, jika hukum-hukum syara’ lain, yang menjadi pelengkap perintah dan larangan tersebut tidak diterapkan.



Terkait dengan perintah menikah, maka Islam menetapkan sejumlah hukum pelengkap, sehingga perintah menikah tersebut bisa dilaksankan dengan mudah dan benar:

1- Islam memerintahkan pernikahan dini, khususnya bagi yang sudah mampu berkeluarga.

2- Bagi yang sudah sanggup berkeluarga, tetapi secara materi belum mencukupi, Islam memerintahkannya menikah, meski hanya dengan mahar berupa cincin besi. Bahkan, bisa membayar mahar dengan mengajarkan al-Qur’an kepada isterinya.

3- Bagi yang sudah sanggup berkeluarga, tetapi secara materi betul-betul tidak punya, maka negara bisa membantunya.

Sedangkan terkait dengan larangan berzina, Islam juga menetapkan sejumlah hukum pelengkap, sehingga larangan tersebut bisa dihindari dengan sempurna:

1- Baik pria maupun wanita, sama-sama diwajibkan menutup aurat di hadapan lawan jenisnya.

2- Wanita tidak boleh berpakaian yang menarik perhatian lawan jenisnya (tabarruj).

3- Mereka, masing-masing, juga diwajibkan menundukkan pandangannya terhadap lawan jenisnya.

4- Mereka, masing-masing, juga tidak boleh memandang lawan jenisnya dengan pandangan syahwat.

5- Mereka tidak boleh berkhalwat dengan lawan jenisnya, tanpa disertai mahram.

6- Mereka juga tidak boleh bercampur baur (ikhtilath), baik dalam kehidupan khusus maupun umum, kecuali yang dibenarkan oleh syara’.

7- Islam juga mengharamkan produk-produk yang bisa mendorong perzinaan, seperti film, gambar dan bacaan porno.

8- Kehidupan pria dan wanita juga wajib dipisahkan secara penuh.

9- Islam juga mengharamkan pria maupun wanita dieksploitasi seksualitasnya untuk menarik perhatian lawan jenisnya, seperti menjadi pramugari, dan sebagainya.

10- Islam melarang pria dan wanita bepergian selama sehari semalam, kecuali disertai mahram.

Semuanya ini membuktikan, bahwa kemaslahatan vital itu tidak bisa diwujudkan dengan sempurna, tanpa adanya hukum lain yang merupakan pelengkap. Sebagai contoh, perintah menikah sangat sulit diwujudkan, ketika mahar bagi kaum perempuan sangat mahal. Begitu juga, perzinaan sulit diberantas, jika rangsangan seks sangat marak di dalam kehidupan masyarakat. Dalam kondisi seperti ini, jika sanksi rajam diberlakukan, tetap tidak akan menyelesaikan masalah perzinaan. Karena Islam tidak diterapkan dengan sempurna.

Beberapa ketentuan hukum Islam yang menjadi pelengkap, baik bagi perintah menikah maupun larangan berzina di atas bisa disebut sebagai bentuk kemaslahatan pelengkap (al-mashlahah at-takmiliyyah). Di sana, kita bisa menyaksikan betapa adilnya Islam, ketika sanksi zina diberlakukan di saat seluruh pintu perzinaah ditutup rapat, dan pintu pernikahan dibuka lebar-lebar.

3- Kemaslahatan yang Dibutuhkan (al-Mashlahah al-Hajiyah)

Manusia, sebagai makhluk, dengan segala keterbatasan, terkadang berada dalam situasi dan kondisi yang tidak normal. Dalam kondisi normal, hukum yang berlaku pun normal. Tetapi, dalam situasi dan kondisi yang tidak normal, Islam telah menetapkan hukum-hukum tertentu sebagai bentuk keringanan (rukhashah).

Sebagai contoh, bagi orang yang tidak bepergian, dan kondisinya normal, diperintahkan shalat Dhuhur dan Ashar sebanyak 4 rakaat. Tetapi, ketika bepergian, dalam kondisi yang tidak normal, dia boleh memendekkan shalatnya menjadi 2 rakaat, termasuk menggabungkannya dalam satu waktu, bisa di awal maupun di akhir. Hal yang sama berlaku bagi orang yang sakit, boleh shalat sambil duduk atau terbaring, sesuatu yang tidak boleh dalam kondisi normal.

Begitu juga orang yang berpuasa, ketika tidak bepergian, tidak boleh membatalkan puasanya. Tetapi, ketika bepergian, dia boleh membatalkan puasanya, kemudian wajib menggantinya di luar bulan suci Ramadhan. Bagi orang yang hamil, atau menyusui juga demikian, diberikan keringanan untuk tidak berpuasa, jika mengkhawatirkan diri dan bayinya. Dia pun boleh membayar fidyah sejumlah hari yang ditinggalkan.

Kemaslahatan yang dibutuhkan (al-Mashlahah al-Hajiyah) ini benar-benar dibutuhkan oleh manusia dalam situasi dan kondisi yang tidak normal. Jika tidak ada kemaslahatan seperti ini pasti akan menyulitkan, dan sangat mungkin hukum syara’ akan ditinggalkan.

4- Kemaslahatan Kesempurnaan (al-Mashlahah at-Tahsiniyyah)

Kemaslahatan ini semakin membuktikan kesempurnaan dan keindahan ajaran Islam. Islam, misalnya, memerintahkan khitan, baik bagi kaum prian maupun wanita. Dengannya, kebersihan kelamin masing-masing bisa dijaga, karena tempat bersemainya kotoran bekas kencing telah dihilangkan. Dengan begitu, mereka terhindar dari penyakit kelamin. Selain itu, disyariatkannya khitan ini juga untuk menyempurnakan perintah pernikahan yang bertujuan untuk melanjutkan keturunan.

Mandi, mandi junub, berwudhu, mencuci tangan, mulut, gigi dan mulut juga diperintahkan oleh Islam. Dengannya, tubuh kaum Muslim terjaga kebersihannya, sehingga terhindar dari penyakit kulit, jerawat, bisul, kutu dan mulut. Islam memerintahkan bersuci dengan air suci mensucikan, bukan sekedar suci tetapi tidak mensucikan, serta melarang bersuci dengan air najis, termasuk air yang terkena sinar matahari langsung. Dengan cara seperti itu, kesehatan kulit dan fisik kita akan terjaga.

Bahkan, kesehatan lingkungan juga diperhatian oleh Islam. Islam, misalnya, melarang kencing di lubang. Islam juga melarang buang air di air yang menggenang, tidak mengalir. Islam juga melarang merusak pepohonan, dan ekosistem. Semuanya ini terkait dengan pelestarian lingkungan hidup.

Seluruh bentuk kemaslahatan, baik kemaslahan vital, pelengkap, yang dibutuhkan maupun kemaslahatan kesempurnaan, ini merupakan manifestasi dari Islam sebagai rahmat[an] li al-‘alamin. Semuaya ini, sekali lagi, hanya bisa terwujud, dengan menerapkan Islam secara kaffah, baik dari aspek akidah maupun hukum syara’-nya di dalam naungan Negara Khilafah. Tanpanya, slogan rahmat[an] li al-‘alamin hanyalah isapan jempol semata.

Sebagai rakmat bagi alam, Islam bukan hanya rahmat bagi kaum Muslim, tetapi juga non-Muslim. Berikut ini adalah surat George II kepada Khalifah kaum Muslim:

Dari George II, Raja Inggeris, Swedia dan Norwegia,

Kepada Khalifah – penguasa kaum Muslimin –

di Kekhilafahan Andalusia,

Yang Mulia, Hisyam III,


Yang Mulia..



Setelah salam hormat dan takdzim, kami beritahukan kepada yang Mulia, bahwa kami telah mendengar tentang kemajuan yang luar biasa, dimana berbagai sekolah sains dan industri bisa menikmatinya di negeri yang Mulia, yang metropolit itu.


Kami mengharapkan anak-anak kami bisa menimba keagungan yang ideal ini agar kelak menjadi cikal bakal kebaikan untuk mewarisi peninggalan yang Mulia guna menebar cahaya ilmu di negeri kami, yang masih diliputi kebodohan dari berbagai penjuru.


Kami telah memutuskan puteri saudara kandung kami, Dubant, untuk memimpin delegasi dari puteri-puteri pemuka Inggeris agar bisa memetik kemuliaan … agar kelak beliau bisa ditempatkan bersama teman-teman puterinya dalam naungan kebesaran yang Mulia.


Puteri kecil kami, juga telah dibekali dengan hadiah kehormatan untuk menghormati kedudukan yang Mulia nan agung..


Hamba mengharapkan kemuliaan yang Mulia dengan berkenan menerimanya, dengan penuh hormat dan penuh cinta yang tulus.


Tertanda,

Pelayan yang Mulia nan taat,

George II



Begitulah, Islam sebagai rahmat[an] li al-‘alamin benar-benar nyata, dirasakan dan dinikmati bukan hanya oleh orang Islam, tetapi juga non-Muslim. Bahkan, juga bukan hanya dirasakan dan dinikmati oleh manusia, tetapi hewan dan lingkungan hidup pun merasakannya.[]
Powered by Blogger.