Adapun apa yang berlangsung di Saudi, sehingga apa yang terjadi itu bisa dipahami: apakah dia berjalan diatas garis yang sama dengan sebelumnya yang ditempuh oleh Abdullah dalam hubungannya dengan Inggris dan Amerika, ataukah berubah? Dan apa situasi politik untuk raja yang baru, Raja Salman? Saya katakan, sehingga bisa dipahami apa yang terjadi maka harus disebutkan perkara-perkara berikut:
  1. Pengaruh Inggris dan Amerika saling bercampur di dalam keluarga kerajaan Saudi. Pengaruh riil di pemerintahan Saudi mengikuti kekuatan para pengikut kedua pihak, Inggris dan Amerika di sana. Dan berikutnya hal itu menentukan corak hubungan Saudi-Inggris dan Saudi-Amerika.
  2. Dengan menelusuri hubungan-hubungan ini menjadi jelas bahwa pengaruh Amerika lebih kuat (dominan) di Kementerian Pertahanan, setidaknya sejak tahun 1382 H, dimana menteri pertahanannya adalah Sulthan bin Abdul Aziz, yang dikenal termasuk orangnya Amerika. Situasi politik di Kementerian Pertahanan terus berlangsung seperti itu selama Salman bin Abdul Aziz menjabat Menteri Pertahanan pada 9/12/1432 H. Kemudian ia digantikan oleh anaknya Muhammad bin Salman bin Abdul Aziz sejak 3/4/1436 H, ketika Salman bin Abdul Aziz menjadi raja Saudi.
  3. Pengaruh Inggris lebih dominan di Kementerian Garda Nasional, setidaknya sejak tahun 1382 H dimana kepala Garda Nasional kala itu adalah Abdullah bin Abdul Aziz, raja sebelumnya yang baru mangkat. Ia terus menjadi kepala Garda Nasional hingga tahun 1431 H. Kemudian kepala Garda Nasional dijabat oleh anaknya Mit’ib bin Abdullah bin Abdul Aziz pada tahun 1431 H hingga tahun 1434 H, dimana institusi Garda Nasional diubah menjadi Kementerian Garda Nasional dan Mit’ib menjadi menteri di Kementerian Garda Nasional hingga sekarang.
  4. Sesuai pengaturan keluarga tentang siapa yang menjadi raja, pengaturan tersebut tidak membuat penting raja berasal dari institusi yang selalu sama. Bisa saja raja atau putra mahkota berasal dari Kementerian Pertahanan atau Kementerian Garda Nasional atau dari institusi lainnya…. Sudah dikenal luas selama dekade terakhir, bahwa yang berpengaruh di dalam pemerintahan adalah yang datang dari kedua institusi tersebut. Adapun jika datang dari institusi lainnya maka pengaruhnya lebih kecil…
  5. Raja sebelumnya, Raja Abdullah bin Abdul Aziz, berasal dari institusi Garda Nasional. Karena itu pengaruh Inggris yang lebih dominan di Saudi disertai uslub-uslub menyenangkan Amerika. Maka kadang-kadang hubungan Saudi dengan Amerika menegang dan kadang yang lain mereda. Akan tetapi politik umumnya mengikuti corak Inggris disertai tidak berkonfrontasi langsung dengan Amerika. Akan tetapi seperti yang kami katakan, adalah dengan uslub-uslub menyenangkan berdasarkan metode Inggris dimana menampakkan hal yang berbeda dengan yang disembunyikan…
  6. Adapun raja saat ini, dia berasal dari institusi Kementerian Pertahanan. Karena itu, yang mungkin adalah pengaruh Amerika akan lebih dominan selama masa pemerintahannya. Raja Abdullah bin Abdul Aziz memahami hal itu. Karenanya, ia menciptakan penobatan baru di Saudi. Yaitu raja tidak hanya menunjuk putra mahkota penggantinya saja akan tetapi juga menunjuk putra mahkota dari putra mahkota penggantinya. Raja Abdullah bin Abdul Aziz paham bahwa Salman bin Abdul Aziz berjalan bersama Amerika. Supaya Salman tidak menunjuk putra mahkotanya seperti yang berlangsung dalam tradisi sebelumnya yaitu bahwa rajalah yang menunjuk putra mahkotanya, maka raja Abdullah menunjuk putra mahkota dari putra mahkotanya untuk memutus jalan antara raja baru dan wewenang raja baru itu menunjuk putra mahkotanya dari orang-orangnya Amerika. Karena itu,Raja Abdullah telah menunjuk putra mahkota dari putra mahkota. Maka raja Abdullah menunjuk pangeran Muqrin sebagai putra mahkota bagi Salman bin Abdul Aziz untuk tujuan yang kami sebutkan barusan.
  7. Pangeran Muqrin dikenal hubungannya dengan Inggris. Ia adalah lulusan sekolah di Inggris yaitu dari The Cranwell College yang terkenal di Inggris. Ia adalah orang kepercayaan Raja Abdullah bin Abdul Aiz sebelumnya, bahkan termasuk orang dekatnya. Inovasi raja sebelumnya (Raja Abdullah bin Abdul Aziz) untuk menunjuk putra mahkota dari putra mahkota adalah untuk memotong kelangsungan silsilah Amerika setelah Salman bin Abdul Aziz. Raja Abdullah menegaskan penunjukan itu dengan mengeluarkan dekrit yang melarang pencopotan putra mahkota dari putra mahkota!
  8. Berdasarkan paparan sebelumnya itu maka realita politik sekarang adalah sebagai berikut:
  • Raja yang baru adalah dekat dengan Amerika sementara putra mahkotanya dekat dengan Inggris.
  • Ini berarti bahwa pengaruh yang lebih kuat akan jadi milik Amerika dan disaingi oleh pengaruh Inggris sampai pada batas tertentu.
  • Konsekuensi hal itu adalah menurunnya ketegangan antara Amrika dan Saudi. Hal ini akan berpengaruh pada berhentinya penurunan harga minyak mentah.Sebab, raja sebelumnya dan Inggris yang ada dibelakangnya ingin dengan penurunan harga minyak itu untuk menggagalkan Amerika dalam memanfaatkan minyak serpih (shale oil).Sebab, biaya lifting minyak serpih (shale oil) relatif tinggi sekitar US$ 70 perbarel. Jika harga minyak turun, maka produksi minyak serpih (shale oil) menjadi beban dan tidak ekonomis lagi. Sementara pada saat yang sama, biaya lifthing minyak konvensional hanya beberapa dolar “sekitar US$ 7 perbarel”. Kami telah merinci masalah ini dalam jawaban kami terdahulu tertanggal 7 Januari 2015 M.
9. Sebagai penutup, sungguh menyedihkan hati, negara-negara kafir yang memusuhi Islam dan kaum Muslimin memiliki pengaruh di negeri-negeri yang menghimpun kiblat kaum Muslimin, tempat turunnya wahyu kepada Rasulullah saw… menghimpun Dar Hijrah, pusat Daulah Islamiyah pertama! Akan tetapi, Islam memiliki tokoh-tokoh yang siang dan malam berjuang dengan benar dan ikhlas, dengan izin Allah, untuk mengembalikan Daulah Islam, al-Khilafah ar-Rasyidah. Al-Khilafah ar-Rasyidah adalah pasti dengan izin Zat yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa. Pada hari itu kaum Mukmin bergembira dengan pertolongan Allah dan kaum kafir penjajah akan mundur ke pusat negeri mereka jika memang masih tersisa pusat negeri mereka itu…

(Sumber : http://www.hizb-ut-tahrir.info/info/index.php/contents/entry_43412)



+ResistNews Blog - Para mahasiswa di universitas-universitas terkemuka Inggris telah mengutuk RUU kontra-terorisme yang baru dari pemerintah, yang mereka khawatirkan akan menghalangi diskusi tentang ide-ide radikal di kampus dan akan memberi “efek yang membuat dingin” hubungan antara para mahasiswa dan staf.

Kelompok-kelompok mahasiswa di perguruan tinggi seperti UCL, LSE, Queen Mary, Soas, KCL, Cardiff dan Kingston telah mengirimkan pesan darurat untuk para serikat mahasiswa pada pekan yang mendesak mereka untuk bersikap terhadap RUU ini.

Pada pertemuan para serikat mahasiswa di LSE, sebagian mahasiswa berpendapat bahwa RUU itu akan mengkriminalisasi ide-ide dan akan menghentikan para mahasiswa untuk berbicara. Yang lainnya mengatakan hasil itu akan menempatkan kewajiban yang tidak adil pada para dosen untuk memantau para mahasiswa mereka.

Buckley-Irvine, 21 tahun, Sekjen Serikat Mahasiswa LSE, mengatakan: “Saya percaya bahwa kami harus bersikap radikal, saya percaya untuk mempertanyakan nilai-nilai, dan saya percaya untuk memajukan perubahan politik dan moral. Keyakinan ini tidak akan membuat saya atau orang lain menjadi teroris dan tidak membenarkan pemantauan apapun.”

Omar Begg, mahasiswa berusia 23 tahun di LSE, mengatakan dia khawatir piara mahasiswa Muslim di kampusnya secara proporsional akan terpengaruh oleh tindakan itu.

“Mahasiswa lain yang memiliki keluhan akan dirujuk pada penasehat kesehatan mental atau layanan mahasiswa yang memadai, tetapi jika seorang Muslim mengungkapkan sentimen yang sama, profesor atau dosen kami diwajibkan untuk melaporkan kami,” katanya.

“Saya pikir kami akan takut untuk mengekspresikan pendapat kami di kelas. RUU ini pada dasarnya merusak segala sesuatu yang kami lakukan, katakan dan bagaimana kami melakukan pendekatan pada hal-hal atau mengambil tindakan. Kami akan terkurung dalam zona yang terbatas. ”

The National Union of Students juga mengutuk RUU anti-teror itu. Dikatakan: “RUU itu mengusulkan sejumlah langkah baru yang membangun kembali undang-undang pada dekade sebelumnya yang anti-ekstremisme dan telah melegitimasi pengawasan massal dan mengikis kebebasan penduduk sipil di Inggris.

“Setiap keinginan oleh negara untuk melibatkan para staf akademik untuk memantau para mahasiswa mereka sangat mengkhawatirkan, dan bisa berdampak buruk pada hubungan antara staf dan mahasiswa. Kami pada dasarnya percaya bahwa universitas dan perguruan tinggi adalah tempat pendidikan, bukan tempat pengawasan. ”

Ibrahim Ali, wakil presiden Federasi Mahasiswa Masyarakat Islam, yang mengatakan mereka mewakili lebih dari 130.000 mahasiswa Muslim, mengatakan sikap pemerintah terhadap organisasinya telah menjadi “dingin”. Dia mengatakan pemerintah telah menolak untuk terlibat dengan federasi itu sejak tahun 2010.

“Dalam sebuah lingkungan di mana para mahasiswa Muslim sudah merasa seperti berada di bawah peningkatan pengawasan, langkah-langkah yang diuraikan dalam RUU ini hanya akan memperkuat kekhawatiran mereka,” katanya. (theguardian.com/ +ResistNews Blog )



Rasa cinta dan persatuan yang ditampilkan oleh kaum Muslim di Eropa setelah dilakukannya penghinaan oleh majalah Charlie Hebdo dan para pendukungnya terhadap Nabi Muhammad (SAW) yang kami cintai telah menyejukkan hati. Kaum Muslim melihat apakah pemerintahan Muslim akan mengambil tindakan tegas untuk membela kehormatan Nabi (SAW) tetapi sekali lagi reaksi dari rezim-rezim itu begitu sedikit. Hal ini tidak mengejutkan karena tidak adanya negara Khilafah Rasyidah sebagaimana yang didirikan oleh Nabi (SAW) yang peduli terhadap Allah (SWT), Nabi (SAW) dan umat Islam.

Meskipun terdapat tekanan dari banyak politisi, intelektual dan media, banyak Muslim di Eropa yang bersumpah untuk menentang penghinaan terhadap Rasulullah (SAW). Namun, sebagian suara komunitas Muslim berpendapat bahwa umat Islam di Barat harus mengabaikan penghinaan itu dan tidak perlu meresponnya dengan mengatakan bahwa saat ini adalah periode Mekkah, dimana Nabi SAW sendiri tidak menanggapinya dan oleh karena itu tidak perlu mengatakan apa-apa.

Apakah pernyataan ini karena rasa takut mereka? Sedangkan, saat dimana umat Islam di Eropa sedang menghadapi iklim penentangan yang kuat dari undang-undang anti-teror, dengan dilakukannya penangkapan dan penggerebekan yang menargetkan kaum Muslim yang berbicara mengenai kebijakan pemerintah Barat sehingga begitu banyak memiliki alasan untuk tidak mau merubah situasi. Atau apakah pernyataan itu adalah pelajaran akurat yang diambil dari Sirah Nabi pada periode Makkah?

Tampaknya sebagian orang telah salah paham tentang apa yang sebenarnya terjadi pada periode Mekah. Karena ketika kita melihat pada Asbabul Nuzul dari beberapa ayat yang diturunkan di Makkah, kita dapat benar-benar memahami apa yang sebenarnya terjadi ketika sebagian orang mencoba mencoreng citra Nabi Muhammad (SAW) dengan memberikan berbagai tuduhan palsu supaya orang-orang tidak mau mendengarkan beliau. Kaum Quraisy menyebutnya gila, peramal (Kahin) penyair gila dan berbagai istilah yang menghina lainnya untuk memalingkan manusia untuk mendengarkan beliau. Dalam hal ini, Allah (Swt) menunjukkan bagaimana Nabi (Saw), para Sahabat dan umatnya harus menanggapi upaya menodai citra Nabi Muhammad (Saw). Jadi ayat-ayat Surah al-Haqqah (69: 40-43) diturunkan untuk melemparkan kembali argumen palsu mereka dan menunjukkan kontradiksi dan kebohongan berbagai tuduhan tersebut.

((إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ))

“Sesungguhnya Al Quran itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia,”

((وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَاعِرٍ ۚ قَلِيلًا مَّا تُؤْمِنُونَ))

“dan Al Quran itu bukanlah Perkataan seorang penyair. sedikit sekali kamu beriman kepadanya.”

((وَلَا بِقَوْلِ كَاهِنٍ ۚ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ))

“dan bukan pula Perkataan tukang tenung. sedikit sekali kamu mengambil pelajaran daripadanya.”

((تَنزِيلٌ مِّن رَّبِّ الْعَالَمِينَ))

“ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam.”

Bagaimana mungkin bahwa kemarin, sebelum nya Wahyu, mereka memanggilnya orang yang terpercaya, dan tiba-tiba pada hari ini, mereka menuduhnya seorang pendusta! Mereka tahu betul bahwa kata-kata yang kini ada bukanlah kata-kata seorang peramal atau seorang gila, tetapi adalah Wahyu dari Sang Pencipta langit dan bumi. Surah al-Masad bahkan menyebutkan nama salah satu penuduhnya (Abu Lahab) dan Surah al-Haqqah ini dibacakan oleh para Sahabat dan digunakan ketika mereka berdebat dengan kaum pemuka Quraisy dan orang-orang lain yang ingin menodai citra Nabi dan membuat orang untuk berpaling dari beliau dan pesan-pesannya. Gambaran yang Anda dapatkan adalah gambaran tentang salah satu perdebatan intelektual yang kuat antara kaum Muslim dan para penuduhnya, bukan gambaran tentang diamnya kaum Islam saat ini atas tuduhan palsu yang dibiarkan untuk menenggelamkan dan menelan orang-orang muslim kebanyakan.

Jadi bagaimana orang bisa mengaku telah mengetahui Sirah sehingga umat Islam di Eropa harus berdiam diri dalam menghadapi penghinaan ini? Bagaimana seseorang bisa mengaku mencintai Nabi (Saw) dan tidak berbicara ketika pikiran kaum muslim kebanyakan sedang diracuni untuk menentang Islam dan kaum Muslim?

Semakin mereka menghina Nabi (Saw), semakin kita akan mengasihi beliau, dan semakin berpegang kepada Sunnah dan semakin membelanya sebagaimana yang diajarkan Allah kepada kita.

Ditulis Untuk Kantor Media Pusat Hizbut Tahrir oleh
Taji Mustafa

Perwakilan Media Hizbut Tahrir Inggris



+ResistNews Blog - Terbitnya larangan menjual minuman beralkohol (mihol) di bawah 5 persen atau jenis bir oleh Menteri Perdagangan Rachmat Gobel, sejumlah aktivis anti miras oplosan protes. Sebab, aturan pembatasan peredaran mihol di minimarket itu bukan menekan peredaran miras oplosan, tapi justru makin marak dijual di pasar gelap.

Aturan itu tertuang dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 06/M-DAG/PER/1/2015 tentang pengendalian dan pengawasan terhadap pengadaan, peredaran, dan penjualan minuman beralkohol yang ditandatangani pada 16 Januari 2015 lalu.

Adalah Rudhy Wedhasmara, Koordinator East Java Action, sebuah lembaga non-profit yang bergerak di bidang anti narkotika. Rudhy mengaku menyayangkan terbitnya kebijakan peredaran mihol di bawah 5 persen di minimarket tersebut.

“Sebelum peraturan itu berlaku, saat ini saja, penjualan miras jenis oplosan melalui pasar gelap, terus meningkat. Peningkatan ini berbanding lurus terhadap jumlah korban tewas karena menenggak miras oplosan,” kata Rudhy, Rabu (28/1/2015). Seperti dilansir merdeka.

Pendiri rumah terapi korban miras oplosan di Surabaya, Jawa Timur ini juga memaparkan, sejak Tahun 2013 hingga saat ini, sudah ada 147 peraturan daerah (perda) baru berisi larangan dan membatasi penjualan mihol.

Namun, lanjut dia, perda-perda baru itu tidak bisa menekan angka kematian yang mencapai 18 ribu per tahunnya di Indonesia, akibat mengonsumsi miras oplosan.

“Beberapa daerah di Jawa Barat, seperti Cirebon misalnya. Sejak 2014 lalu, sudah menerapkan aturan penjualan mihol segala jenis di supermarket dan minimarket. Tapi nyatanya, di tahun 2013 hingga 2014, ada sekitar 107 korban tewas akibat oplosan.”

Terkait pembatasan peredaran mihol di bawah 5 persen dan hanya boleh menjual mihol golongan A saja di supermarket atau hipermarket berdasarkan Permendag Nomor 06/M-DAG/PER/1/2015 tersebut, pebisnis minimarket wajib menarik mihol jenis bir dari gerai miliknya paling lambat tiga bulan sejak aturan tersebut diterbitkan.

“Sebenarnya tidak hanya di Indonesia. Awal Tahun 1920, Pemerintah Amerika Serikat juga pernah memberlakukan amandemen 18, yang secara tegas melarang pembuatan, pengangkutan dan penjualan alkohol,” ungkap Rudhy mencontohkan aturan di Negeri Paman Sam, Amerika.

Kata Rudhy, aturan yang dimaksudkan menyelamatkan masyarakat dari dampak buruk alkohol oleh Pemerintah Amerika itu, justru sebaliknya, peredaran mihol illegal dan penyalahgunaannya makin meningkat serta menyebar, hingga akhirnya aturan itu dicabut.

“Salah satu solusi untuk menekan jumlah penyalahgunaan alkohol secara berlebihan dan juga peredaran oplosan yaitu dengan adanya edukasi alkohol seperti yang sudah diterapkan di beberapa sekolah yang ada di Inggris,” ungkapnya memberi solusi.

Senada, Koordinator Komunitas Anti Miras Oplosan, Indra Harsaputra juga mengatakan, maraknya peredaran miras oplosan secara ilegal telah banyak menelan korban jiwa, tidak hanya warga Indonesia, melainkan juga turis-turis mancanegara yang datang ke Indonesia.

Lanjut Indra, masih ingat kematian turis asal Australia, Liam Davies yang tewas setelah mengonsumsi arak oplosan ketika merayakan pesta Tahun Baru 2013 di Lombok?

“Atas peristiwa itu, Pemerintah Australia mengeluarkan travel warning bagi warganya yang berkunjung ke Bali dan Lombok,” katanya.

Di tahun yang sama, masih kata dia, seorang remaja asal Sydney menjadi buta setelah minum koktail dicampur metanol dalam sebuah perayaan di Bali. Juni 2012, Johan Lundin Backpacker asal Swedia, juga meninggal dunia karena kasus yang sama di Lombok.

“Kematian Lundin itu beberapa bulan setelah kematian pemain Rugby asal Perth, Michael Denton juga akibat keracunan metanol di Bali,” ucapnya. [muslimdaily.net/ +ResistNews Blog ]



+ResistNews Blog - Umat Islam Indonesia membutuhkan media yang mampu membela Islam dan umat Islam, ungkap Ustadz Muhammad Yunus, Sekretaris MUI Jawa Timur, Rabu (28/01).

Pernyataan tersebut disampaikan Yunus saat memberikan sambutan dalam acara Simposium Media Islam Online. Bertempat di Surabaya yang diselenggarakan Bina Qalam Indonesia. Sebelummya Yunus juga mengapresiasi acara tersebut sebagai salah satu sarana untuk menghasilkan penulis dengan tulisan yang baik.

“Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim, tetapi pemerintahnya tidak mengambil kebijakan berdasarkan inspirasi-inspirasi Islam, bahkan sering umat Islam termarjinalkan,” ujarnya. Maka dari itulah umat Islam memerlukan media yang dapat membela kepentingan umat, paparnya.

Selain itu dia juga menyampaikan, media Islam kedepannya harus mampu menjadi rujukan masyarakat Indonesia. Dan menjadi media yang berwibawa.

“Cuma kenyataannya media belum memenuhi harapan seperti itu,” bebernya.

Yunus melanjutkan, media Islam tidak dibaca kebanyakan kaum muslimin. Karena memang tidak dikenal.

“Banyak media islam yang kontennya membingungkan masyakarakat,” katanya.

“Sementara media yang anti syariat yang suka nyinyir, dapat menampilkan seolah-olah bahasa cara pemberitaan yang sejuk,” tambahnya

Dia mencontohkan kasus penembakan 12 orang di Paris. Berita tersebut lebih heboh dimasyarakat dibanding kasus penghinaan nabi.

Oleh karena itu menurut Yunus ada dua hal yang perlu dilakukan media Islam. Yaitu, penyeragaman pemikiran dan gerak langkah bersama. [muslimdaily.net/ +ResistNews Blog ]



+ResistNews Blog - Mencerminkan histeria yang melanda Prancis sejak serangan Charlie Hebdo, seorang siswa muslim berusia 8 tahun diinterogasi oleh polisi Prancis pada Rabu, 28 Januari. Bocah kecil itu diinterogasi setelah menolak untuk mengambil bagian dalam hening cipta selama satu menit untuk menghormati para korban serangan terhadap Charlie Hebdo.

“Ayah dan anak yang sangat terkejut dengan perlakuan mereka yang menggambarkan histeria kolektif yang melanda Prancis sejak awal Januari,” kata Collective Against Islamophobia in France (CCIF) dalam sebuah pernyataan, demikian lansir onislam.net.

Persoalan ini muncul ketika Ahmed, 8 tahun, dan ayahnya dipanggil oleh polisi daerah Nice St Augustin pada Rabu 28 Januari. Ahmed dituduh memaafkan terorisme karena ia menentang kartun Charlie Hebdo.

Sebelum dipanggil oleh polisi, anak itu menggambarkan sebuah episode dari penghinaan dan pelecehan psikologis oleh guru sekolah dan kepala sekolah. Guru mengirimnya ke Kepala Sekolah yang bertanya tiga kali kepadanya di depan seluruh kelas: Apakah kamu Charlie?

Anak itu melaporkan bahwa ia mendapat penghinaan secara psikologis oleh beberapa guru. Ahmed yang menderita diabetes mengatakan bahwa, setelah kejadian guru mengambil insulin dari dia.

Setelah interogasi, orang tua Ahmed mengatakan anak mereka telah sangat terpengaruh oleh kejadian di sekolah dan investigasi polisi.

“Apa yang terjadi di sekolah sangat membuatnya trauma. Dia sekarang menderita sulit tidur dan gangguan perilaku,” katanya kepada CCIF dalam sebuah pernyataan.

Kelompok hak asasi Muslim CCIF telah berjanji untuk tetap mendukung Ahmed dan keluarganya.

“CCIF juga akan mengingatkan otoritas publik untuk sampai ke dasar masalah ini dan memperjelas tanggung jawab guru dan polisi menangani kasus ini,” kata kelompok itu. [muslimdaily.net/ +ResistNews Blog ]



+ResistNews Blog - Masih ingat Al-Qur’an raksasa yang diklaim datang secara ghaib oleh Nanang Asrianto (38) di rumahnya, Desa Glagaharum Kecamatan Porong? Ya, dalam waktu dekat Al-Qur’an yang memiliki panjang 2 meter dan lebar 2,40 meter itu akan dibakar.

Hal itu sesuai kesepakatan antara MUI, Kemenag Sidoarjo, Kepala Desa Glagaharum, Forpimka Porong, Bakesbangpol Linmas dan lain-lain. Kesepakatan itu dilakukan setelah ada pertemuan tertutup di kantor MUI Jalan Pahlawan Sidoarjo.

“Setelah kita melakukan pertemuan di kantor MUI, pada intinya hasil itu sepakat bahwa Al-Qur’an yang ditemukan secara ghaib itu tidak benar,” kata Ketua MUI Kabupaten Sidoarjo KH Usman Bahri kepada wartawan di kantornya, Rabu (28/1/2015).

Dan Al-Qur’an tersebut, jelas dia. akan dimusnahkan dengan cara dibakar di kantor Pendopo Kabupaten Sidoarjo.

“Rencananya akan disaksikan oleh bupati serta masyarakat Sidoarjo,” ujarnya usai menggelar pertemuan.

Pihaknya, tambah Usman, sudah meneliti Al-Qur’an tersebut dengan melibatkan 3-4 penghafal Al-Qur’an. Hasilnya, terlalu banyak kesalahan. Di antaranya, harokat, panjang pendek dan penambahan huruf, serta penggabungan 2 ayat menjadi 1/2 ayat.

“Selain itu Al-Qur’an tersebut juga tidak ada nomor halaman, nama surat juga juznya juga tidak ada. Bila Al-Qur’an ini nanti disimpan atau dimuseumkan dikhawatirkan akan menyesatkan umat,” terangnya.

Sementara penemu Alquran, Nanang Asrianto, menyadari atas kesalahannya dan sepakat Al-Qur’an tersebut dimusnahkan. Bahkan Nanang sudah menandatangani kesepatakan tidak akan menuntut apapun.

“Al-Qur’an itu dia dapat dari membeli ke seseorang yang tidak mau disebut namanya dengan harga sekitar Rp. 42 juta, hanya untuk ketenaran,” tambah ketua MUI menirukan Nanang.

Saat wartawan akan mengklarifikasi, Nanang lari menghindari kejaran wartawan. Nanang memilih masuk ke ruang sekretariat MUI. (dtk/lasdipo/ +ResistNews Blog )



+ResistNews Blog - Jangan salahkan publik, ujar Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Muhammad Ismail Yusanto, bila berkesimpulan rumor yang selama ini berkembang bahwa di belakang Jokowi itu aseng dan asing ternyata faktual.

“Asing itu di antaranya adalah Amerika, benar adanya terbukti sekarang ini, Jokowi lembek, tidak berani bertindak tegas terhadap Freeport,” ujarnya kepadamediaumat.com, (29/1) menanggapi perpanjangan izin PT Freeport Indonesia ekspor bahan tambang mentah.

Kalau memang tidak ada apa apanya, pemerintah seharusnya mempidanakan Freeport. “Dengan mereka meminta perpanjangan ekspor, jelas itu bertentangan dengan UU kan? Jadi harusnya Freeport itu dipidanakan bukan justru mendapatkan kemudahan,” tegas Ismail.

Karena waktu yang diberikan kepada Freeport untuk membangun smelter sudah lebih dari cukup. Mereka sudah dikasih waktu, ada jeda beberapa tahun setelah UU Minerba disahkan. Kemudian ada tenggang enam bulan, setelah lebih dari enam bulan, mereka tidak juga segera membangun smelter, malah mereka diizinkan lagi langsung ekspor.

Menurut Ismail, jelas pemberian izin tersebut merupakan kesalahan besar. “Itu sebuah kesalahan besar!” tegasnya.

Ismail juga mengingatkan penting untuk pemerintah memiliki sikap dasar terhadap Freeport juga terhadap perusahaan perusahaan swasta khususnya asing yang selama ini terlibat dalam pengelolaan sumber daya alam. Sikap dasar tersebut adalah menarik pengelolaan sumber daya alam dari perusahaan swasta kepada negara. Karena hanya dengan cara itulah maka kekayaan sumber daya alam yang melimpah di Indonesia ini bisa betul betul dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat.

“Dan kalau itu diwujudkan oleh pemerintahan Jokowi, baru ini cocok dengan apa yang dia janjikan selama ini,” ujarnya.

Maka, lanjutnya, segala keputusan pemerintah yang bertentangan dengan sikap dasar tersebut harus dianggap sebagai kesalahan, sama seperti keputusan pemerintah kemarin memperpanjang MoU yang membolehkan Freeport untuk kembali mengekspor setelah masa tenggangnya habis.

“Jadi ini sebuah kesalahan besar karena bertentangan dengan sikap dasar tersebut!” pungkasnya.

Sebagaimana dilansir tempo.co, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said mengatakan telah memperpanjang izin kontrak ekspor PT Freeport Indonesia. Perpanjangan izin ekspor itu berlaku sampai enam bulan ke depan.

“Namun perpanjangan kontraknya belum diputuskan. Kami akan ambil waktu enam bulan ke depan untuk menyepakati hal-hal yang belum disepakati,” kata Sudirman saat konferensi pers bersama Chairman Freeport-McMoran James R. Moffet di Kementerian ESDM, Jakarta, 25 Januari 2015. (mediaumat.com/ +ResistNews Blog )



+ResistNews Blog - Pemerintah dalam hal ini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan PT Freeport Indonesia sepakat untuk memperpanjang pembahasan amandemen kontrak hingga enam bulan ke depan.

“Jadi kita membuat rancangan kelanjutan Memorandum of Understanding (MoU) yang akan expired (tanggal) 24 Januari 2015,” kata Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba), Kementerian ESDM, R Suhyar, Jakarta, Jumat (23/1/2015).

Sukhyar menuturkan, pemerintah bersama Freeport akan menyusun poin-poin kesepakatan baru di luar yang lama. Ada fokus-fokus tambahan dalam MoU yang baru ini, salah satunya adalah memperbesar benefit Freeport bagi Papua.

“Pertanyaannya kan kenapa diperpanjang? Satu, yang jelas (MoU) pertama belum selesai. Kedua, kita ingin Freeport membangun Papua,” kata Sukhyar.

Lebih lanjut dia bilang, Freeport bisa membangun industri di Papua, paling gampang adalah membangun indsutri hilir berbasis tembaga. Menurut Sukhyar, opsi ini lebih mudah ketimbang Freeport membangun smelter di Papua.

Pertama, sudah ada pasokan tembaga yang bisa dipasok ke Papua. Kedua, industri hilir tembaga dinilai lebih menjanjikan. “Apa misalnya? Pipa, tembaga aloy, kawat, dan plat-plat baja. Itu lebih promising. Tapi bukan berarti (di Papua) tidak ada potensi membangun smelter copper,” imbuh dia.

Namun, saat dikonfirmasi soal keinginan pemerintah agar Freeport membangun smelter di Papua, Sukhyar tidak menjawab dengan tegas. “Yang jelas, kalau ingin memperlihatkan wujud pemurnian, kalau mau cepat itu di Jawa. Di Papua butuh waktu lama, tapi bukan berarti tidak bisa. Tapi yang cepat (dibangun di Papua) adalah industri hilir berbasis tembaga. Itu lebih promising,” kata Sukhyar. (kompas.com/ +ResistNews Blog )



+ResistNews Blog - Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Ma’ruf Syamsudin menyebutkan bahwa 80 persen saham di perusahaan tambang itu adalah milik Amerika Serikat. Sedangkan mayoritas pekerjanya berasal dari penduduk pribumi Indonesia.

Jumlah pekerja mencapai 12.333 orang. Dari jumlah itu, 4.296 karyawan berasal dari Papua atau sekitar 34,83 persen. Selain itu, masih ada 7.859 pekerja yang berasal dari luar Papua atau sekitar 63,72 persen dari total karyawan. Sementara, tenaga asing berjumlah 178 karyawan atau 1,44 persen.

Hal itu diungkapkan dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VII DPRI RI, Selasa (27/1). Dalam rapat itu, Ma’ruf juga menyampaikan keinginan Freeport mengkaji pembangunan smelter di Gresik dan beberapa lokasi lainnya.

“Kami juga ada komunikasi terus sama pemerintah pusat dan daerah untuk mendapatkan masukan tentang pembangunan Papua,” terang Ma’ruf.

Tanah dan kekayaan alam milik Indonesia tapi mayoritas saham dan pengurusnya adalah Amerika Serikat, sementara penduduk pribumi hanya ‘mampu’ menjadi pekerja biasa.

Jadi, justru terjajah di negeri sendiri ? dan sudah puas dengan jerih payah yang sedikit sementara mayoritas dikuasai asing.



+ResistNews Blog - Abu Hurairah Qasim al-Raymi atau juga disebut Abu Hurairah al-Sana’ani adalah seorang Mujahid dari Yaman yang merupakan salah satu senior sekaligus penanggung jawab militeral-Qaeda di Semenanjung Arab (AQAP).

Menurut Dewan Komite Keamanan dunia yang meneliti tentang jaringan global Al-Qaeda, beliau memiliki nama panjang Qasim Yahya Mahdi al-Raymi. Oleh Jamestown Foundation dan beberapa peneliti lainnya, Al-Raymi adalah pihak yang paling bertanggung jawab dalam kemiliteran al-Qaeda Semenanjung Arab (AQAP).

Beliau dijatuhi hukuman lima tahun penjara pada tahun 2005 oleh pemerintahan Yaman karena telah merencanakan pembunuhan terhadap Duta Besar Amerika Serikat di Yaman. Namun denganizinAllah, pada 3 Februari 2006 beliau bersama dengan 23 mujahidin al-Qaeda lainnya termasuk Syeikh Nasir al-Wuhaisy berhasil meloloskan diri dari penjara.

Selepas keluar dari penjara, pada tahun 2007 beliau dan Syeikh Nasir al-Wuhaisy hafidzahullah mengumumkan pembentukan Tandzim Al-Qaeda untuk wilayah Yaman.

Dan pada tahun 2009, Beliau bersama petinggi Al-Qaeda lainnya mendirikan Tandzim Jihad Al-Qaeda di Semenanjung Arab (AQAP) atau Ansharu Syariah dengan pimpinan Syeikh Nasir Al-Wuhaisy hafidzhullah atas komando langsung dari Syeikh Usamah bin Laden rahimahullah.





Komandan Militer dan Pengatur Strategi

Abu Hurairah Al-Raymi hafidzhullah adalah seorang yang memiliki kepribadian tegas dan konsisten dalam keyakinannya. Beliau adalah salah satu pendiri Al-Qaeda Yaman, yang namanya ikut mencuat atas serangan terhadap kapal USS Cole di Aden pada tahun 2000 hingga menewaskan 17 militer Amerika dan 39 lainnya luka-luka. Aksi heroik ini merupakan serangan paling mematikan terhadap kapal Angkatan Laut AS sejak tahun 1987.

Beliau juga dituduh sebagai dalang dibalik operasi isytisyhadiyah yang menewaskan sembilan orang turis Spanyol di provinsi Mareb pada Juli 2007.

Kemudian, Pada tahun 2009 pemerintah Yaman menyebutnya sebagai komandan militer dan penanggung jawab dalam kamp pelatihan al-Qaeda di provinsi Abyan.

Mujahid yang juga memiliki nama kunyah Abu Hurairah ini, juga dilaporkan menjadi salah satu pengatur aksi isytisyhadiyah Umar Faruq Abdul Mutallab yang menarget pesawat terbang tujuan Amsterdam-Detroit pada 25 Desember 2009.

Dalam berbagai aksinya, Al-Rimi telah memainkan peranan penting dalam barisan Mujahidin AQAP atas berbagai serangan global yang selalu tertuju pada seluruh infrastruktur barat berikut aspek kepentingannya.





Mujahid yang Diburu oleh PBB, Amerika dan Rezim Saudi

Dalam sebuah video yang dipublish melalui Youtube, Abu Hurairah pernah muncul bersama dengan tiga petinggi AQAP lainnya. Dua darinya adalah mantan tawanan Guantanamo yaitu Abu Haris Muhammad al-Oufi dan Abu Sufyan al-Azdi al-Shahri, sedangkan satu lagi dalam adalah Syeikh Abu Bashir Nasir al-Wuhayshi.

Pada 3 Februari 2009, pejabat keamanan Saudi resmi memasukkan beliau ke dalam draft daftar ‘teroris’ bagi rezim Saudi. Beliau masuk dalam daftar pencarian yang ke-68 dengan nama Qasim Muhammad Mahdi Al-Rimi atau Abu Hurairah atau Abu Ammar. Menurut Associated Press ia juga memiliki peran besar dalam plot project yang menarget kedutaan Amerika Serikat di Sana’a, Yaman.

Depertemen Amerika juga telah memburu komandan AQAP ini dengan harga buronan mencapai $5 juta bersama dengan pemimpin AQAP lainnya seperti Qasim al-Rimi, Othman al-Ghamdi, Ibrahim Hassan Tali al-Asiri , Shawki Ali Ahmed Al-Badani, Jalal Bala’idi, Ibrahim al-Rubaysh, dan Ibrahim al-Banna.

Tidak hanya diburu oleh rezim Saudi dan AS saja namun nama Qasim al-Rimi juga telah masuk dalam perburuan organisasi Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) sebagai individu yang ‘berbahaya’ pada Mei 2010. Beliau dituduh sebagai orang yang memainkan peran penting dalam menghidupkan kembali simpul regional al-Qaeda terutama di Yaman dan Saudi Arabia.

Organisasi Internasional yang bermarkas di Manhattan itu juga telah menyerukan kepada seluruh anggota PBB untuk memboikot dan membekukan asset milik Mujahid asal Yaman tersebut.





Klaim Palsu Militer Yaman dan AS Tentang Kematian Beliau

Abu Hurairah Qasim al-Rimi pernah diisukan gugur dalam sebuah serangan aparat keamanan Yaman pada tanggal 9 Agustus 2007, namun hal itu hanyalah kalim berita sepihak dan palsu. al-Rimi juga pernah ditarget dalam serangan rudal jelajah AS yang menghantam kamp al-Qaeda di Yaman pada tanggal 17 Desember 2009, namun beliau dengan izin Allah subhaanah masih diberi kehidupan dan melanjutkan jihadnya bersama mujahidin Yaman.

Selanjutnya beliau kembali dilaporkan gugur dalam serangan pasukan keamanan Yaman yang menarget sejumlah mujahidin Al-Qaeda pada 4 Januari 2010 dan 15 Januari 2010, namun lagi-lagi dua laporan itu terbukti palsu.

Beberapa klaim palsu itu terbantahkan dengan sendirinya pasca kemunculan beliau dalam sebuah rekaman suara yang diupload melalui internet saat mengumumkan pembentukan “Tentara Aden-Abyan” untuk membebaskan Negara Arab dari kungkungan pasukan salib dan agen bonekanya yang telah murtad.



Tidak hanya bertekad memerangi Amerika saja, namun Al-Raymi juga menggelorakan perlawanan terhadap kelompok yang bekerjasama dengan Amerika dan melecehkan ajaran Islam sebagaimana yang telah dilakukan oleh Syiah Houthi. Beliau juga menyerukan persatuan seluruh suku sunni dengan Mujahidin untuk memerangi Houthi dan Amerika.

Dalam sebuah video yang dirilis pada bulan November 2014, beliau bersumpah untuk melancarkan serangan mematikan terhadap milisi Syiah Houthi di seluruh penjuru negeri.

“Kepada milisi Houthi kami katakan, bersiaplah untuk menghadapi serangan mematikan dari kami yang dapat membuat rambut anak-anak berubah menjadi uban,” kata Qassem al-Rimi tegas.



Seruan untuk Memerangi Amerika

Pemimpin militer AQAP ini terus mengadakan perlawanan dan ancaman terhadap Amerika jika mereka terus-terusan menindas dan menjajah wilayah kaum Muslimin. Dalam pesan yang ditujukan “untuk bangsa Amerika”, Qassim al-Rimi mengatakan, “keamanan Anda tidak akan pernah tercapai karena Anda telah menyerang dan menindas Negara lain.”

Dalam sebuah statement yang diterbitkan oleh Yayasan Al-Malahim pada bulan Februari 2013, Beliau menyatakan telah menangkap adanya pesan tersembunyi dibalik invasi AS terhadap negeri kaum muslimin yang bertujuan melemahkan aqidah umat, merampas kekayaan kaum muslimin dan terus-terusan mengacaukan urusan internal dalam negeri.

Beliau juga menyerukan kepada para pemuda Muslim di AS untuk melakukan perlawanan ala “lone wolf” terhadap kebusukan pemerintahannya. Karena seluruh cara dan sumber daya terkait alat peledak sudah umum dan dijabarkan secara terperinci dalam majalah AQAP.

Al-Rimi juga menunjukkan bahwa beberapa bukti ketidakamanan Amerika karena berbagai rilisan majalah Inspire adalah adanya serangan bom maraton Boston pada bulan April, penyerangan surat beracun dan berbagai serangan lainnya (kepada AS) telah banyak mengancam dan mengguncang negeri Paman Sam tersebut sejak pertempuran berbarokah yang meluluhlantakkan gedung WTC di kota New York.



Sumber

Al-Malahim, en.wikipedia, Youtube, Associated Press, stategov, washingtontimes, state, id.wikipedia, longwarjournal, rewardsforjustice, un, dailymail, huffingtonpost, ent.siteintelgroup, intelcenter.

+ResistNews Blog - Jabhah Nushrah berhasil menguasai Markas Angkatan Darat suriah (SAA) Brigade 82 dekat kota Sheikh Miskeen. Penguasaan markas tersebut oleh Jabhah Nushrah menjadikan militer Assad menarik diri dari wilayah tersebut.

Menurut sumber militer , 14 tentara tewas dalam serangan tersebut.

Kota Syaikh Miskeen kerap dilanda bentrokan selama berbulan-bulan antara mujahidin dengan militer rezim yang setia kepada Bashar Assad.

Faksi gabungan wilayah selatan tersebut berhasil menguasai sepenuhnya Brigade 82 di Sheikh Miskeen di provinsi Daraa setelah perlawanan sengit dan kekerasan oleh pasukan Assad.

Mujahidin akan melanjutkan pertempuran menguasai kota Izra’a yang dianggap sebagai benteng terbesar rezim assad di wilayah Dara’a. (za/lasdipo/ +ResistNews Blog )



+ResistNews Blog - Sebuah kelompok hak-hak sipil yang berbasis di AS mengungapkan kekhawatirannya atas melonjaknya pesan-pesan onlinekebencian anti-Muslim, yang dipicu oleh film‘American Sniper’, yang menjadi box office baru yang memecahkan rekor dan menghasilkan keuntungan lebih dari $ 180 juta dalam empat minggu.

The American-Arab Anti-Discrimination Committee (ADC), mengirimkan surat kepada direktur film itu, Clint Eastwood, dan bintangnya, Bradley Cooper, dan meminta mereka untuk mempromosikan toleransi dengan mengutuk bahasa kebencian yang digunakan terhadap Muslim secara online. “Ini adalah pendapat kami bahwa Anda bisa berperan penting dalam membantu kami mengurangi bahaya yang sedang kami hadapi,” Reuters mengutip surat itu, tertanggal 21 Januari.

ADC mengatakan anggotanya telah menerima peningkatan jumlah “ancaman kekerasan” sejak awal pekan lalu, hanya beberapa hari sebelum film itu dirilis. Bahkan FBI dikatakan terlibat dengan ADC dalam memilah-milah lebih dari 100 pesan online yang dikumpulkan untuk membangun kredibilitas dan menilai tingkat risiko.

Salah satu tulisan yang dikumpulkan di Twitter mengatakan: “Senang melihat film di mana orang-orang Arab digambarkan siapa mereka sebenarnya – hanya sampah yang berniat menghancurkan kami.”

Dalam surat itu, ADC memperingatkan: “Ancaman-ancaman itu menyokong pembunuhan terhadap orang Arab, dimana salah satunya mengatakan,” Film yang sangat bagus dan sekarang saya benar-benar ingin membunuh beberapa orang yang memakai turban”.

Ancaman lain terlihat di Twitter seperti:

#AmericanSniper Mempromosikan kebencian terhadap Islam-TheRaganBrockdezmondharmon@harshnewyorker @ItsReeceyYh#Islamophobiapic.twitter.com/hatbJCCJJn

- Nunya Dambiz (@doubledouble416) 20 Januari 2015

ADC meminta para anggotanya untuk mengawasi lebih banyak ancaman lagi. Namun, tidak ada kasus kekerasan fisik yang dilaporkan sejak film itu dirilis.

Kelompok hak-hak sipil mengatakan kepada The Guardian bahwa ancaman telah menjadi tiga kali lipat sejak film layar lebar itu dirilis. “Terakhir kali kami melihat peningkatan tajam seperti itu pada tahun 2010, saat rencana pembangunan Masjid Ground Zero,” ujar direktur hukum dan kebijakan nasional kelompok itu, Abed Ayoub, yang merujuk pada rencana untuk membangun sebuah Islamic Center yang terletak hanya beberapa blok dari World Trade Center.

Presiden ADC Samer Khalaf mengatakan bahwa organisasi itu awalnya mempertimbangkan untuk memboikot film itu, tetapi memutuskan untuk tidak melakukannya. “Orang-orang malah akan melihat film. Jika kita memboikot, hal itu hanya akan menyebabkan lebih banyak orang yang ingin melihatnya, “katanya, hari Sabtu.

Film ini telah menjadi box office dan telah menerima enam nominasi Academy Awards, termasuk sebagai film terbaik.

‘American Sniper’ bercerita tentang seorang Navy SEAL yang telah tewas Chris Kyle, yang merupakan seorang penembak jitu di Irak. Kyle terkenal karena membunuh 160 orang dalam empat Perang Irak – angka kematian paling banyak dalam sejarah militer AS. Film ini didasarkan pada otobiografi Kyle tahun 2012.

“Kebiadaban, kekejian. Itulah yang kita sedang perangi di Irak,”tulis Kyle. “Saya hanya berharap telah membunuh lebih banyak orang. Bukan untuk membual, tapi karena saya percaya dunia akan menjadi tempat yang lebih baik adanya kebiadaban di luar sana yang mengambil nyawa orang Amerika. ”

Kyle sendiri tewas terbunuh pada suatu latihan menembak di Texas pada tahun 2013 oleh seorang veteran AS yang merasa tidak puas, yang kini menyatakan tidak bersalah dengan alasan gila.

The National Review Online mengatakan film itu “menciptakan momen budaya.” Sebaliknya, Salon telah memberi judul pada ulasan film itu “7 Kebohongan Keji film ‘American Sniper Kepada Orang Amerika.” Dan David Edelstein dari majalah New York menyebut film itu sebagai “tanda bahaya yang penuh skandal… sebuah film propaganda.” (Russia Today/ +ResistNews Blog )



+ResistNews Blog - Google menyerahkan email dan data milik WikiLeaks dan tidak memberitahu kelompok itu bahwa mereka telah melakukannya selama tiga tahun.

Dalam apa yang disebut WikiLeaks sebagai “pelanggaran serius terhadap privasi dan hak jurnalistik staf WikiLeaks ‘”, Google menyerahkan informasi di bawah surat perintah penggeledahan rahasia yang dikeluarkan oleh hakim federal tahun 2012. Google kemudian menulis surat kepada Wikileaks pada malam Natal tahun 2014, yang menceritakan kepada kelompok itu bahwa mereka telah memenuhi perintah Departemen Kehakiman untuk menyerahkan data digital termasuk semua email dan alamat IP dari tiga anggota staf WikiLeaks.

Permintaan data itu dianggap berkaitan dengan penyelidikan yang sedang berlangsung terhadap WikiLeaks, yang diluncurkan pada tahun 2010. Hal ini terkait dengan penerbitan ratusan ribu kabel rahasia pemerintah AS yang diberikan oleh Bradley Manning kepada Wikileaks.

Dalam sebuah surat yang diterbitkan pagi ini, WikiLeaks mengatakan bahwa mereka “terkejut dan terganggu” oleh berita itu. Mereka merujuk kasus serupa dengan Twitter, di mana jaringan sosial itu menolak surat perintah yang sama dan setelah menggugat secara hukum yang akhirnya memenangkan hak untuk memberitahu penggunanya tentang permintaan tersebut.

Mereka meminta Google untuk memberikan informasi mengapa tidak diberitahu kepada WikiLeaks tentang dikeluarkannya surat perintah pencarian itu. Mereka juga menanyakan apakah Google mulai menggugat secara hukum agar menjamin dan memberi detail waktu dan setiap surat perintah yang dikeluarkan lebih lanjut untuk Google.

Surat itu ditandatangani oleh tiga anggota staf yang terlibat dalam kasus ini, serta Julian Assange, pengacara WikiLeaks dan Michael Ratner dari kelompok advokasi hukum Pusat Hak Konstitusi.

Google menyerahkan data yang diberikan pada penyelidikan Editor WikiLeaks, British Sarah Harrison; Juru bicara Kristinn Hrafnsson; dan Joseph Farrell, bagian editor. Surat perintah itu diperoleh lewat konspirasi dan spionase yang dapat menyeret korbannya hingga 45 tahun penjara.

WikiLeaks merilis surat perintah pencarian dan penyitaan yang terkait dengan tiga anggota staf di situsnya.

Mereka menunjukkan bahwa Google pada awalnya dicegah untuk mengungkapkan proses hukum untuk WikiLeaks oleh perintah larangan pengungkapan. Kemudian baru-baru ini menerima perintah kedua yang memungkinkan Google untuk mengungkapkan kepada WikiLeaks versi proses hukum yang diedit- yang menyediakan dokumen yang kini tersedia di WikiLeaks.

Surat perintah itu, yang dikeluarkan oleh Pengadilan Distrik AS di Distrik Timur Virginia, diperlukan Google untuk mengungkapkan isi semua email, termasuk rancangan email dan email yang dihapus; semua catatan pribadi seperti alamat dan waktu saat pengguna login; dan semua informasi lainnya yang disimpan oleh Google, seperti rincian kalender, gambar dan file.

Google biasanya memberitahukan pengguna melalui email sebelum berbagi informasi dengan pihak berwenang, dimana mereka menulis pada pertanyaan yang sering diajukan yang merupakan bagian dari Transparency Report-nya. Tapi mereka membuat pengecualian terhadap kebijakan jika ada perintah pengadilan yang melarang Google memberitahu pengguna tentang permintaan pengadilan, serta jika suatu keadaan bisa mengakibatkan kematian atau cedera atau jika yakin bahwa akun tersebut telah dibajak.

Seorang juru bicara Google mengatakan kepada The Independent: “Kami tidak bicara tentang kasus-kasus individu.”

“Jelas, kami mengikuti hukum sebagaimana perusahaan lain. Ketika kami menerima surat perintah pengadilan, kami memeriksa untuk melihat apakah hal itu memenuhi baik surat itu sendiri maupun semangat hukum sebelum kami penuhi. Dan jika tidak, kami bisa mengajukan keberatan atau meminta permintaan atas hal itu agar dipersempit. Kami memiliki track record advokasi atas nama para pengguna kami,” kata juru bicara Google itu. (The Independent/ +ResistNews Blog )



+ResistNews Blog - Sambutan hangat Raja Arab Saudi yang baru, Salman, terhadap kedatangan Presiden Amerika Obama, menurut anggota Kantor Berita (Maktab I’lamiy) DPP Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Farid Wadjdi, merupakan bukti Saudi tetap di bawah kontrol Amerika.

“Tidak ada perubahan yang berarti dari kebijakan Saudi ke depan pasca meninggalnya Raja Abdullah, Salman tetap akan menjalankan kebijakan raja sebelumnya,” prediksi Farid kepada mediaumat.com, Rabu (28/1) melalui surat elektronik.

Saudi, yang menurut Farid akan tetap menjadi negara monarki yang berkiblat ke Amerika Serikat tersebut akan tetap menjamin tiga kepentingan utama Amerika Serikat di Timur Tengah. “Suplai minyak murah; menjaga eksistensi entitas Yahudi di Palestina; dan mencegah munculnya negara Khilafah yang benar-benar menerapkan syariah Islam,” ujarnya.

Namun demikian, Farid optimis, rezim Saudi dan penguasa Timur Tengah lainnya akan menghadapi gelombang baru perlawanan umat Islam, setelah secara nyata mereka melihat penguasa mereka merupakan penguasa boneka Barat dan bertindak represif. “Akan datang revolusi berikutnya di Timur Tengah dengan tiga pilar yang jelas!” tegasnya.

Ketiga pilar yang dimaksud Farid adalah meruntuhkan sistem yang ada saat ini dengan seluruh simbol dan pilar-pilarnya; menolak intervensi asing (negara-negara kafir) beserta seluruh agen-agennya; dan menegakkan Daulah Khilafah a’la minhajin Nubuwah.

Sebelumnya, televisi pemerintah Saudi menayangkan Salman menyambut hangat Obama dan istrinya, Michelle di karpet merah yang digelar di bandara Internasional King Khalid, Riyadh, pada 27 Januari, sementara grup musik militer memainkan lagu kebangsaan kedua negara.(meidaumat.com/ +ResistNews Blog )



[Al-Islam edisi 741, 9 Rabiuts Tsani 1436 H – 30 Januari 2015 M]

Akhir-akhir ini, pentas politik di negeri ini kembali diramaikan oleh perseteruan yang melibatkan KPK dan Polri. Kasus ini mengingatkan publik pada kasus “Cicak vs Buaya” beberapa tahun sebelumnya, yang juga melibatkan KPK dan Polri.

Karena Presiden Jokowi

Kasus ini bermula saat KPK menetapkan Komjen Pol. Budi Gunawan (BG) sebagai tersangka. Padahal BG telah diajukan oleh Presiden Jokowi ke DPR sebagai calon tunggal Kapolri untuk menggantikan Jenderal Sutarman. Meski BG sudah ditetapkan sebagai tersangka, pencalonan BG sebagai Kapolri tetap diproses dalam Sidang Pleno DPR. DPR pun setuju dan menerima. Namun, karena BG jadi tersangka, Presiden Jokowi memutuskan menunda pelantikan BG sebagai Kapolri. Jokowi lalu memberhentikan dengan hormat Jenderal Sutarman dari jabatan Kapolri dan mengangkat Wakapolri Komjen Badrodin Haiti sebagai pelaksana tugas Kapolri.

Setelah itu bermunculan upaya yang dianggap oleh publik sebagai balas dendam kepada KPK karena menjadikan BG sebagai tersangka. Mula-mula beredar foto yang memperlihatkan Ketua KPK Abraham Samad berpose mesra dengan Putri Indonesia. Belakangan banyak pihak mengungkap bahwa foto itu hasil rekayasa.

Berikutnya, Pelaksana Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto membeberkan adanya pertemuan Ketua KPK Abraham Samad dengan dirinya dan kader PDI-P lainnya sebelum Pilpres. Saat itu, katanya, Samad melobi PDIP agar dapat menjadi calon wakil presiden bagi Jokowi. Karena itu Abraham dituduh melanggar kode etik KPK. Beberan itu menimbulkan kesan bahwa penetapan BG jadi tersangka karena Samad sakit hati tidak dijadikan cawapres bagi Jokowi.

Lalu, Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto (BW) ditangkap oleh Bareskrim Mabes Polri. BW dituduh mengarahkan saksi untuk memberikan keterangan palsu dalam sidang sengketa Pilkada Kotawaringin Barat Kalteng di MK. Namun, itu terjadi pada 2010 lalu.

Kemudian, Wakil Ketua KPK Adnan Pandu Praja dilaporkan ke Bareskrim. Ia dituduh telah menguasai saham PT. Daisy Timber di Berau, Kalimantan Timur dengan cara-cara yang tidak benar. Namun, kasus itu pun sudah lama, yakni terjadi pada tahun 2006 (Lihat: Republika.co.id, 24/1).

Selanjutnya, Presidium Jatim Am dari Aliansi Masyarakat Jawa Timur, Fathorrasjid, menyatakan bahwa pihaknya akan melaporkan Zulkarnain ke Bareskrim. Zulkarnain diduga menerima uang suap sekitar Rp 5 miliar pada 2010 untuk menghentikan penyidikan perkara penyelewengan anggaran Program Penanganan Sosial Ekonomi Masyarakat (P2SEM) Jawa Timur pada 2008. Saat itu Zulkarnain menjabat Kepala Kejaksaan Tinggi Jatim (Lihat: Tempo.co.id, 26/1).

Alhasil, ketua dan semua wakil ketua KPK dilaporkan ke polisi. Tak pelak, publik menilai semua itu sebagai upaya kriminalisasi KPK.

Semua hiruk-pikuk itu terjadi karena keputusan Presiden Jokowi yang ngotot mencalonkan BG sebagai calon tunggal Kapolri menggantikan Jenderal Sutarman. Andai Jokowi tidak ngotot melakukan itu, niscaya kisruh ini tak terjadi. Kengototan Jokowi itu dipertanyakan banyak pihak. Pasalnya, penggantian Kapolri tidak mendesak sebab Jenderal Sutarman baru akan pensiun Oktober 2015 atau masih 10 bulan lagi. Lagi pula sudah banyak diberitakan bahwa BG termasuk jenderal Polri yang diduga memiliki rekening gendut. Jika dalam penyusunan kabinet Jokowi melibatkan KPK dan PPATK untuk menjamin menterinya bersih, maka dalam pencalonan Kapolri mestinya Jokowi jauh lebih berkeinginan untuk melibatkan KPK dan PPATK. Namun, hal itu malah tidak dilakukan oleh Jokowi.

Alhasil, Presiden Jokowilah yang semestinya menjadi orang yang paling bertanggung jawab atas kisruh yang terjadi ini. Semua ini terjadi karena Presiden Jokowi.

Politik ‘Saling Sandera’

Kisruh yang terjadi ini untuk kesekian kalinya membuktikan betapa penegakan hukum masih sarat dengan kepentingan, terutama kepentingan politik. Kisruh ini juga membuktikan bahwa politik ‘saling sandera’ terus terjadi. Masing-masing pihak mengetahui kelemahan atau cacat pihak lain. Semua ini lantas dijadikan alat tawar-menawar demi kepentingan masing-masing. Jika pihak lain tidak sejalan maka cacatnya pun diungkap.

Kasus penetapan BG sebagai tersangka mengesankan adanya kepentingan di balik hal itu. Selain prosesnya yang dinilai oleh sebagian pihak sangat cepat, juga waktunya dilakukan setelah BG diajukan sebagai calon tunggal Kapolri dan sebelum disetujui DPR dan dilantik. Padahal dalam beberapa kasus, KPK sudah menetapkan tersangkanya, namun kasusnya kini tidak jelas lanjutannya. Contohnya adalah mantan Menteri Agama Suryadharma Ali, mantan Menteri ESDM Jero Wacik, mantan anggota DPR Sutan Bhatoegana, mantan Ketua BPK/Dirjen Pajak Hadi Purnomo dan mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari. Semuanya sudah ditetapkan sebagai tersangka, tetapi hingga kini mereka belum ditahan. Prosesnya terkesan lambat, bahkan kelanjutannya tidak jelas.

Di sisi lain, pelaporan atas pimpinan KPK terkait dengan kasus-kasus lama. Kasus Adnan terjadi tahun 2006. Kasus Zulkarnaen terjadi tahun 2010. Kasus BW terjadi tahun 2010. Semuanya diungkap lagi saat ini. Mengapa baru saat ini diungkap dan dilaporkan? Mengapa tidak sejak saat kasus itu terjadi? Mengapa pula bukti-bukti atas kasus-kasus itu—jika memang ada—tidak disampaikan dalam fit and proper test pada saat proses seleksi pimpinan KPK kala itu?

Jadi, ada kesan kuat bahwa berbagai kasus seolah disimpan dan tidak diungkap untuk dijadikan alat tawar. Kasus-kasus itu dijadikan alat untuk mencegah pihak lain menggagalkan total kepentingan masing-masing pihak, atau mencegah berbagai pihak saling mengungkap kasus pihak lainnya, atau mendorong berbagai pihak untuk berkompromi. Akhirnya, ada semacam ‘ancaman’: siapapun yang berani berulah maka cacat dan kasusnya akan diungkap. Itulah politik ‘saling sandera’ satu pihak atas pihak lain.

Di sisi lain, kepentingan rakyat makin terpinggirkan. Rakyat makin sengsara. Alhasil, doktrin demokrasi bahwa dengan pemilihan langsung oleh rakyat akan dihasilkan penguasa dan politisi yang mendengarkan aspirasi rakyat hanyalah ilusi.

Buah Demokrasi

Sistem politik demokrasi yang mahal dan bertumpu pada popularitas, meniscayakan politik ‘saling sandera’ terjadi. Hal itu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sistem demokrasi. Dalam sistem demokrasi, siapa pun tak bisa menjadi penguasa dan pejabat kecuali jika mendapat dukungan politik dan modal. Karena itu dalam sistem demokrasi peran cukong politik dan cukong modal sangat menentukan. Tentu tidak ada sesuatu yang gratis. Cukong politik (parpol dan khususnya elit parpol) dan cukong modal (para kapitalis) pada akhirnya akan sangat berpengaruh terhadap penguasa dan kebijakannya. Jadilah penguasa dalam sistem demokrasi tersandera oleh cukong politik dan cukong modal itu. Apalagi jika penguasa itu bukan orang yang berkuasa dalam parpol; pengaruh atau bahkan kontrol dari para cukong itu jauh lebih terasa dan kelihatan. Itulah yang secara kuat bisa dirasakan terjadi di negeri ini saat ini, mulai dari penyusunan menteri hingga penunjukkan calon Kapolri. Ke depan hal itu masih akan terus terjadi.

Dengan sistem demokrasi seperti itu, di belakang para politisi, penguasa dan pejabat, semuanya ada kepentingan politik dan ekonomi (modal) yang terus menyertai. Agar kepentingan semua pihak bisa diwujudkan, semua pihak harus terus berkompromi satu sama lain. Agar kompromi itu terus terjadi maka salah satu caranya adalah dengan saling menyandera satu sama lain. Dengan begitu masing-masing pihak akan terkontrol dan tidak saling berulah sehingga merugikan kepentingan mereka sendiri.

Dengan demikian politik ‘saling sandera’ menjadi bagian tak terpisahkan dari sistem demokrasi. Politik ‘saling sandera’ ini akan terus ada dalam sistem demokrasi. Pasalnya, masing-masing pihak ingin mengamankan kepentingan mereka berikut kepentingan para cukong politik dan cukong modal yang mengontrol di belakang mereka.

Pangkal semua ini adalah pemberlakuan sistem demokrasi di negeri ini. Semua yang terjadi juga menjadi bukti bahwa demokrasi hanya menawarkan ilusi demi ilusi: ilusi kesejahteraan, ilusi keadilan, ilusi kedaulatan, ilusi rezim yang senantiasa mendengarkan aspirasi rakyat dan ilusi-ilusi lainnya. Semua itu pada akhirnya menjadi bukti kebobrokan sistem demokrasi. Pada titik inilah tepat direnungkan firman Allah SWT:

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ

Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki. Hukum siapakah yang lebih baik dibandingkan dengan hukum Allah bagi orang-orang yang yakin? (TQS al-Maidah [5]: 50).

Sistem demokrasi adalah sistem jahiliah. Ayat tersebut dengan jelas menyatakan bahwa selain sistem dan hukum yang berasal dari Allah adalah sistem dan hukum jahiliah.

Segera Campakkan Demokrasi

Umat Islam tentu hanya meyakini kebenaran Islam serta keadilan sistem dan hukum yang berasal dari Allah. Untuk membuktikan keyakinan itu umat ini harusnya segera meninggalkan sistem dan hukum jahiliah—termasuk sistem demokrasi—dan segera mengambil sistem dan hukum Allah SWT. Bentuk konkretnya adalah: segera campakkan sistem demokrasi kapitalisme; segera terapkan syariah Islam secara total dan menyeluruh di bawah naungan sistem pemerintahan Islam, yaitu Khilafah ar-Rasyidah ‘ala minhaj an-nubuwwah.

WalLâh a’lam bi ash-shawâb.[]



Komentar al-Islam:

Pemerintah akhirnya memperpanjang izin ekspor konsentrat tembaga bagi PT. Freeport Indonesia (PTFI) selama enam bulan ke depan. Ini merupakan perpanjangan nota kesepahaman (MoU) sebelumnya yang berakhir pada 24 Januari 2015 (Republika, 26/1).
  1. Lagi-lagi Pemerintah menganakemaskan PT. Freeport. Ini membuktikan untuk ke sekian kali bahwa Pemerintah lemah di hadapan PT. Freeport, yang di belakangnya tentu saja adalah pemerintah AS.
  2. Jika benar Pemerintah serius ingin mewujudkan kemandirian negeri, sekaranglah saatnya. Pemerintah harus segera memutus dan mengakhiri izin Freeport, lalu mengambil-alih sepenuhnya tambang yang dikelola PT. Freeport untuk dikelola oleh Negara, lalu semua hasilnya untuk kesejahteraan rakyat.
[hizbut-tahrir.or.id/ +ResistNews Blog ]



+ResistNews Blog - Menjelang berlangsungnya pertemuan negara penggerak ekonomi global di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, Oxfam memperingatkan bahwa peningkatan kesenjangan ekonomi telah “meninggalkan rakyat biasa tidak bersuara dan kepentingan tidak terurus.”

Kekayaan kolektif 1 persen penduduk terkaya di dunia akan melebihi 99 persen kekayaan penduduk dunia pada tahun depan, kecuali langkah-langkah diambil untuk mengatasi kesenjangan, Oxfam memperingatkan menjelang pertemuan Davos tahunan.

Oxfam, sebuah badan amal anti-kemiskinan, merilis sebuah laporan berjudul, “Wealth: Have it All and Wanting More (Orang-orang Kaya: Memiliki Semuanya dan Ingin Lebih),” yang mengungkapkan bahwa 1 persen orang terkaya, yang memiliki kekayaan rata-rata $ 2,7 juta per orang dewasa pada tahun 2014, telah melihat melambungnya kekayaan mereka lebih lanjut, meningkat dari 44 persen pada 2009 menjadi 48 persen pada tahun 2014.

Pada tingkat ini, penduduk terkaya yang berjumlah 1 persen, menjadi titik fokus kemarahan publik selama berlangsungnya protes Occupy Wall Street tahun 2011, dimana mereka akan memiliki lebih dari 50 persen kekayaan dunia pada tahun 2016.

Direktur Eksekutif Oxfam Winnie Byanyima, yang akan menjadi wakil ketua simposium Davos, mengatakan dia akan menarik perhatian pada fakta suram bahwa “satu dari sembilan orang tidak memiliki cukup uang untuk membeli makan dan lebih dari satu miliar orang masih hidup dengan pendapatan kurang dari $ 1,25 per hari , “katanya kepada The Guardian.

Tahun lalu, Oxfam melaporkan bahwa 85 orang terkaya di dunia memiliki kekayaan yang sama dengan kekayaan 50 persen (3,5 miliar orang) orang termiskin. Tahun ini, Oxfam mengatakan kenyataannya bahkan lebih mengkhawatirkan, dimana hanya 80 orang yang memiliki jumlah kekayaan yang sama dengan lebih dari 3,5 miliar orang.

Sektor-sektor korporasi menghabiskan $ 550.000.000 untuk “melobi para pembuat kebijakan di Washington dan Brussels pada tahun 2013.”

Badan amal itu mengatakan kekayaan 80 orang super-kaya meningkat dua kali lipat antara tahun 2009 hingga 2014, dan bahwa kekayaan itu digunakan oleh mereka untuk memajukan kepentingan mereka sendiri, biasanya dengan melobi pemerintah. (rt.com/ +ResistNews Blog )


Noam Chomsky adalah Professor Emeritus Fakultas Linguistik dan Filsafat di Massachusetts Institute of Technology, Amerika Serikat. Buku terbarunya berjudul “Masters of Mankind”. Situs pribadinya adalah www.chomsky.info. Tulisan berikut ini adalah opini Chomsky yang dimuat di portal berita CNN (20/1).

+ResistNews Blog - Setelah serangan teroris ke Charlie Hebdo yang menewaskan 12 orang termasuk editor dan empat kartunis, dan pembunuhan empat orang Yahudi di swalayan halal Yahudi tidak lama setelahnya, Perdana Menteri Perancis Manuel Valls mendeklarasikan “perang terhadap terorisme, terhadap jihad, terhadap Islam radikal, terhadap semua hal yang merusak persaudaraan, kebebasan, solidaritas.”

Jutaan orang berdemonstrasi mengutuk kekejaman tersebut, semakin dilantangkan oleh paduan suara kengerian di bawah bendera “Saya Charlie”. Tersirat jelas pernyataan kemarahan, yang diungkapkan dengan baik oleh Pemimpin Partai Buruh Israel dan kandidat utama pada pemilu mendatang, Isaac Herzog, yang mengatakan bahwa “terorisme adalah terorisme. Tidak ada dua istilah untuk itu” dan bahwa “semua negara yang mencari perdamaian dan kebebasan (menghadapi) tantangan besar” dari kekerasan yang brutal.

Kejahatan itu juga memicu banjir komentar, mempertanyakan hingga akar serangan yang mengejutkan ini dengan kebudayaan Islam dan mencari cara mengatasi gelombang pembunuhan oleh terorisme Islam tanpa mengorbankan nilai-nilai kita. New York Times menyebut serangan itu sebagai “benturan peradaban”, namun dikoreksi oleh kolumnis harian tersebut Anand Giridharadas, yang mencuit bahwa itu “bukan dan tidak akan pernah menjadi atau berada di antara perang peradaban. Tapi sebuah perang UNTUK peradaban melawan kelompok di luar itu. #CharlieHebdo.”

Keadaan di Paris digambarkan dengan terperinci oleh koresponden veteran Eropa untuk New York Times Steven Erlanger: “Hari dimana sirine, helikopter di udara, kepanikan kantor berita; barisan polisi dan massa yang cemas; anak-anak dipulangkan dari sekolah demi keamanan. Itu adalah, seperti dua peristiwa sebelumnya, penuh darah dan horor di dalam dan sekitar Paris.”

Erlanger juga mengutip seorang wartawan yang selamat yang mengatakan “Semuanya pecah. Tidak ada jalan keluar. Ada asap dimana-mana. Sangat buruk. Orang-orang berteriak. Ini mimpi buruk.” Laporan lainnya bertuliskan “ledakan besar, dan semuanya gelap gulita.” Sebuah keadaan yang oleh Erlanger dilaporkan sebagai “keadaan yang dipenuhi pecahan kaca, tembok yang rusak, kayu yang bengkok, cat yang hangus dan kerusakan emosional.”

Kutipan-kutipan terakhir di atas—seperti yang diingatkan oleh wartawan independen David Peterson—bukan dari peristiwa pada Januari 2015. Tetapi, itu laporan Erlanger pada 24 April 1999, yang kurang menarik perhatian. Saat itu Erlanger tengah melaporkan “serangan rudal” NATO “ke markas stasiun televisi pemerintah Serbia” yang membuat “Radio Televisi (RTV) tidak tayang,” membunuh 16 jurnalis.

“NATO dan pejabat Amerika membela serangan tersebut,” lapor Erlanger, “sebagai sebuah upaya melemahkan rezim Presiden Slobodan Milosevic di Yugoslavia.” Juru bicara Pentagon Kenneth Bacon dalam pernyataannya di Washington mengatakan bahwa “TV Serbia adalah bagian dari mesin pembunuh Milosevic seperti militernya” sehingga menjadi target sasaran yang dibenarkan.

Tidak ada demonstrasi atau letupan kemarahan, tidak ada teriakan “Kami RTV,” tidak ada yang mempertanyakan akar serangan itu dalam kebudayaan Kristen dan sejarah. Sebaliknya, serangan terhadap media itu dipuji. Diplomat AS yang sangat dihormati Richard Holdbrooke, yang saat itu jadi utusan untuk Yugoslavia, mengatakan kesuksesan serangan pada RTV “sangat penting dan, saya kira, adalah perkembangan yang positif,” sebuah pernyataan yang diamini banyak orang.

Ada banyak peristiwa lainnya yang tidak memicu pertanyaan soal kebudayaan barat dan sejarah—contohnya, serangan tunggal terparah di Eropa dalam beberapa tahun terakhir, pada Juli 2011, saat Anders Breivik, seorang ekstremis Kristen ultra-Zionis dan Islamofobik, membantai 77 orang, kebanyakan remaja.

Yang juga diabaikan dalam “perang terhadap terorisme” yaitu sebuah kampanye teroris paling ekstrem di era modern—kampanye pembunuhan global Barack Obama yang mengincar orang-orang yang diduga atau mungkin berniat mencelakai kita suatu hari nanti, dan orang-orang malang yang kebetulan ada di dekatnya. Orang-orang malang ini tidak pernah berkurang, seperti 50 warga sipil yang dilaporkan terbunuh dalam serangan pengeboman (udara) yang dipimpin AS di Suriah Desember lalu, yang jarang dipublikasikan.

Satu orang dihukum terkait serangan NATO ke RTV—Dragoljub Milanovic, direktur umum stasiun TV itu, yang dihukum oleh Pengadilan HAM Eropa selama 10 tahun penjara karena gagal mengevakuasi gedung, seperti disampaikan Komite Perlindungan Jurnalis. Pengadilan Kriminal Internasional untuk Yugoslavia menganggap serangan NATO, menyimpulkannya bukan sebuah kejahatan, walaupun korban sipil yang jatuh “sayangnya banyak, (namun) tak tampak tidak proporsional.”

Perbandingan kasus-kasus ini membantu kita memahami kutukan terhadap New York Times dari pengacara hak sipil Floyd Abrams yang terkenal dengan pembelaannya yang luar biasa terkait kebebasan berekspresi. “Ada waktunya untuk menahan diri,” tulis Abrams, “tapi di saat terjadi serangan paling mengancam jurnalisme yang pernah diingat, (editor the Times) sebaiknya menunjukkan dukungan terhadap kebebasan berekspresi dengan terlibat di dalamnya” dengan mempublikasikan kartun Charlie Hebdo yang mengejek Muhammad sebagai pemicu serangan.

(catatan redaksi: New York Times adalah satu-satunya koran besar di AS yang tidak menampilkan gambar sampul edisi terbaru Charlie Hebdo)

Abram memang benar dengan menggambarkan serangan Charlie Hebdo sebagai “serangan paling mengancam jurnalisme yang pernah diingat.” Alasan penggunaan konsep “yang pernah diingat,” sebuah kategori yang dengan teliti dimaksudkan untuk menunjukkan kejahatan mereka terhadap kita, namun dengan sangat hati-hati mencoba mengecualikan kejahatan kita terhadap mereka—yang terakhir ini bukanlah kejahatan, namun sebuah pertahanan yang mulia terhadap nilai-nilai tinggi, yang terkadang tidak sengaja dicitrakan dengan tanpa cacat.

Ini bukan tempat untuk mempertanyakan soal apa yang “dipertahankan” saat RTV diserang, tapi pertanyaan sangat informatif.

Banyak ilustrasi lainnya untuk “yang pernah diingat.” Salah satunya adalah serangan Marinir di Fallujah pada November 2004, salah satu kejahatan paling buruk AS dan Inggris dalam invasi ke Irak.

Serangan itu dibuka dengan dikuasainya Rumah Sakit Umum Fallujah, sebuah kejahatan perang besar terlepas dari bagaimana pelaksanaannya. Kejahatan ini dilaporkan secara mencolok di halaman depan New York Times, dihiasi dengan foto yang menggambarkan bagaimana “pasien dan pegawai rumah sakit dikeluarkan dari ruangan oleh pasukan bersenjata dan diperintahkan duduk atau berbaring di lantai sementara tentara mengikat tangan mereka di belakang.” Pendudukan rumah sakit itu dipuji dan dibenarkan: tindakan itu “mematikan apa yang disebut aparat sebagai senjata propaganda militan: Rumah Sakit umum Fallujah, dengan aliran laporan korban sipilnya.”

Terbukti, ini bukanlah serangan terhadap kebebasan berekspresi, dan tidak masuk kualifikasi “yang pernah diingat.”

Ada pertanyaan lainnya. Seseorang secara alami akan bertanya bagaimana Perancis menegakkan kebebasan berekspresi dan prinsip suci “persaudaraan, kebebasan, solidaritas.”

Contohnya, apakah Undang-undang Gayssot, yang berkali-kali diterapkan, memberikan negara hak untuk menentukan fatwa Kebenaran Historis dan menghukum para pembangkang dari fatwa tersebut? Dengan mengusir keturunan para pelaku Holocaust (Roma) untuk diadili di Eropa Timur? Dengan perlakuan menyedihkan terhadap imigran Afrika Utara di pinggiran kota Paris tempat teroris Charlie Hebdo menjadi jihadis? Saat jurnal pemberani Charlie Hebdo memecat kartunis Sine dengan alasan komentarnya bernada anti-semit? Banyak pertanyaan lain yang akan dengan cepat muncul.

Semua orang dengan mata yang terbuka akan dengan cepat menyadari hal-hal lainnya yang hilang. Mereka yang paling menonjol yang menghadapi “tantangan besar” dari kekerasan brutal adalah warga Palestina, sekali lagi selama serangan kejam Israel terhadap Gaza pada musim panas 2014, yang membunuh banyak wartawan, terkadang saat berada di mobil yang terpampang jelas tanda pers, bersama dengan ribuan warga lainnya, sementara penjara luar ruangan yang dijalankan Israel, sekali lagi menjadi puing dengan alasan yang runtuh seketika saat dilakukan pemeriksaan.

Pertanyaan yang juga diabaikan adalah pembunuhan tiga jurnalis lagi di Amerika Latin pada Desember, sehingga jumlahnya tahun lalu menjadi 31. Di Honduras saja ada lebih dari sepuluh wartawan yang terbunuh pada kudeta militer tahun 2009 yang diakui Amerika Serikat (tapi sedikit negara lainnya), mungkin Honduras pasca-kudeta merupakan juaranya pembunuhan jurnalis per kapita. Tapi sekali lagi, ini bukan dianggap serangan terhadap kebebasan berekspresi yang pernah diingat.

Tidak sulit menjabarkannya. Contoh yang sedikit ini menggambarkan prinsip yang sangat umum yang diterapkan dengan dedikasi dan konsistensi yang mengagumkan: semakin banyak kita menyalahkan kejahatan musuh, semakin besar kemarahannya; semakin besar tanggung jawab untuk kejahatan tersebut, sehingga semakin banyak yang kita bisa lakukan untuk menghentikannya. Namun semakin sedikit perhatiannya, maka akan cenderung dilupakan dan muncul penolakan.

Berbeda dengan pernyataan sebelumnya, ini bukanlah perkara “terorisme adalah terorisme. Tidak ada dua istilah untuk itu”. Jelas ada dua istilah untuk kasus ini: Mereka versus kita. Dan bukan hanya terorisme.(cnnindonesia.com/ +ResistNews Blog )



+ResistNews Blog - Selama pemboman Israel dan penembakan di Jalur Gaza pada musim panas lalu, seorang tentara Israel mendekati seorang wanita Palestina berusia 74 tahun Ghalya Abu-Ridha untuk memberinya seteguk air. Ketika sedang memberinya air, dia mengambil foto bersamanya lalu menembak kepalanya dari jarak satu meter. Dia kemudian menyaksikan wanita itu berdarah hingga dia mati, Pusat Informasi Palestina melaporkan.

Hal ini dilaporkan oleh Ahmad Qdeh, seorang jurnalis di Al-Aqsa TV, saat menggambarkan adegan yang dia saksikan selama agresi Israel . Juru bicara tentara Israel, Avichay Adraee, berbagi foto tentara Israel itu yang sedang memegang botol air dan membantu memberi minum kepada wanita tua itu sebagai contoh sisi “kemanusian” yang dimiliki tentara Israel terhadap warga sipil di Jalur Gaza.

Eksekusi di lapangan dilaporkan oleh Qdeh selama agresi Israel di Jalur Gaza. Dia mengatakan: “Ghalya Ahmad Abu-Ridha tinggal di daerah Khuza’a di timur kota Khan Younis. Saya juga tinggal di daerah itu dan membuat laporan televisi mengenai kisahnya setelah tentara Israel mengeksekusinya saat agresi militer.”

Ghalya lahir pada tahun 1941. Dia tinggal sendirian di sebuah ruangan dekat dengan rumah saudara-saudaranya di wilayah Khuza’a Abu-Ridha. Dia tidak punya anak. Lingkungannya adalah salah satu tempat pertama yang diserang oleh tentara Israel selama agresi.
Eksekusi Lapangan

Majed Abu-Ridha, keponakan Ghalya, menegaskan kepada media bahwa bibinya itu tunanetra dan hampir tidak bisa melihat. Dia mengatakan bahwa tentara Israel telah berdusta dengan mengklaim melakukan hal yang manusiawi padahal menembak bibinya dengan berdarah dingin.

Ghalya, dengan tubuh yang lemah dan rambut ubanan, menolak untuk meninggalkan rumahnya setelah tentara Israel memerintahkan penduduk Khuza’a untuk mengungsi. Dia mengira karena dia sudah tua dia tidak akan menjadi target serangan sehingga dia tinggal di rumahnya dan menolak bergabung dengan mayoritas penduduk yang meninggalkan daerah itu saat invasi dimulai.

Pada tanggal 3 Agustus, pasukan Israel mengumumkan gencatan senjata dan membolehkan staf medis mencapai wilayah Khuza’a. Ghalya ditemukan tewas setelah dia ditembak di kepalanya hingga mati di dekat rumahnya.

Misinformasi

Profesor media di Universitas Gaza, Ahmad Al-Farra, mengatakan: “Foto yang di-shared oleh juru bicara militer Israel adalah propaganda menyesatkan oleh tentara Israel untuk menyajikan potret sisi manusiawi tentaranya Tindakan ini dapat memberikan kesempatan untuk mengejar tentara Israel sebagai penjahat perang di depan Mahkamah Pidana Internasional. ”

Dia melanjutkan:””Pendudukan Israel berbohong dan memberikan informasi menyesatkan untuk mempengaruhi opini publik internasional. Ini memanfaatkan media Arab dan diplomasi Palestina dalam mengungkap kejahatan pendudukan Israel.” Dia menuntut dilancarkannya kampanye besar untuk mengungkap kebohongan Israel. (MEMO/ +ResistNews Blog )



+ResistNews Blog - Anak sekolah Perancis akan diberikan pelajaran mengenai simbol-simbol nasional termasuk tiga warna bendera dan Marseillaise dalam upaya untuk memerangi penyebaran fundamentalisme agama.

Pemerintah mengumumkan langkah-langkah baru itu termasuk “hari sekularisme” setelah terdapat kekhawatiran bahwa sebagian anak – terutama mereka yang berasal dari penduduk imigran – gagal memahami “nilai-nilai republik”.

Pada ini, banyak guru yang mengeluh bahwa sebagian murid menolak untuk mengheningkan cipta selama satu menit bagi 17 korban tiga serangan teroris dua pekan lalu. Sebagian sekolah juga melaporkan bahwa sejumlah murid Muslim menolak gerakan “Je suis Charlie” setelah serangan Charlie Hebdo, dan mengatakan gambar majalah satir tentang Nabi Muhammad itu telah menghina agama mereka.

Para guru akan diberikan pelatihan mengenai “nilai-nilai republik” dalam upaya menghentikan “kaum muda yang putus pendidikan terjerumus ke dalam ekstremisme”. Hal ini merupakan bagian dari skema yang menelan biaya € 250 juta (£ 190 juta) untuk tiga tahun ke depan. Hari Nasional “Hari Sekularisme ” akan diperingati setiap tanggal 9 Desember.

Pekan lalu Perdana Menteri Perancis, Manuel Valls, mengatakan kegagalan untuk mengintegrasikan penduduk imigran dari utara Afrika dan wilayah lain telah menyebabkan semacam “apartheid sosial dan etnis” di Perancis. Para menteri pemerintah juga telah berbicara tentang “ghetto”, yaitu perumahan kumuh di mana terdapat banyak penduduk migran disertai tingginya angka pengangguran dan kemiskinan. (theguardian.com/ +ResistNews Blog )



+ResistNews Blog - Mantan Operator pesawat drone Brandon Bryant mengakui bahwa dia “tidak tahan” atas partisipasi dirinya dalam program pesawat tak berawak AS selama enam tahun – dengan menembaki target yang identitasnya sering belum dikonfirmasi.

Sejak tahun 2001, sejak di bawah pemerintahan Obama, AS telah melakukan serangan pesawat tak berawak terhadap target-target yang diyakini berafiliasi dengan organisasi teroris di negara-negara seperti Afghanistan, Yaman, Pakistan dan Somalia. Program itu, yang telah terselubung kerahasiaan, telah secara rutin dikritik karena tingginya jumlah korban sipil yang diakibatkannya.

Pengadilan Tinggi Peshawar Pakistan memutuskan pada 2013 bahwa serangan drone merupakan kejahatan perang dan melanggar Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia PBB. Sementara pemerintahan Obama terus bersikeras bahwa perang drone adalah metode yang tepat dan efektif dalem pertempuran.

Menurut data yang dikumpulkan oleh kelompok HAM Reprieve dan diterbitkan November lalu, drone mencoba membunuh 41 orang yang ditargetkan di seluruh Pakistan dan Yaman dan mengakibatkan kematian 1.147 orang. Seringkali untuk membunuh dibutuhkan beberapa kali serangan, catat kelompok itu.

Bryant, yang bekerja sebagai operator sensor kamera drone dan hardware intelijen lainnya, bekerja dari sebuah pangkalan udara di Nevada. Operator yang meninggalkan jabatannya pada tahun 2011itu mencela dengan keras program dan kepemimpinan yang bertanggung jawab untuk menyetujui serangan itu.

“Tidak ada pengawasan. Saya hanya tahu bahwa seluruh program itu busuk dan orang-orang perlu tahu apa yang terjadi pada orang-orang yang berada di dalam ruang kontrol, “katanya. “Orang-orang perlu mengetahui kurangnya pengawasan, kurangnya tanggung jawab yang terjadi.”

Bryant merasa bersalah dan meminta maaf kepada keluarga korban yang meninggal dan diperkirakan dia telah membunuh ratusan orang dan tidak tahan diri untuk terus melakukannya. (Russia Today/ +ResistNews Blog )



+ResistNews Blog - Bagi Majalah ‘Elan’ Linda Sarsour adalah salah satu dari 15 wanita paling inspiratif dari Timur Tengah, Afrika Utara dan Asia Selatan. Majalah itu menunjukknya sebagai seorang yang banyak melakukan “aktivisme sosial” yang memberdayakan baik komunitas Arab Amerika dan Afrika Amerika.

Namun, dirinya digambarkan oleh “ahli teror” Steven Emerson sebagai seorang Islamis yang bersimpati dengan kelompok ‘teroris’ seperti Hamas.

Sarsour mengatakan bahwa dia senantiasa blak-blakan berbicara menentang apa yang dia yakini sebagai kejahatan perang yang dilakukan oleh pemerintah Israel, suatu hal yang tidak disukai orang seperti Steven Emerson.

Emerson menjadi berita utama baru-baru ini saat muncul di CNN dengan mengatakan bahwa Birmingham, kota kedua terbesar di Inggris, adalah kota terlarang untuk non-Muslim. Bersama tokoh-tokoh lain seperti Brooke Goldstein, Brigitte Gabriel dan Robert Spencer, dia adalah bagian dari kelompok yang lembaga-lembaga thinktank untuk menyebarkan sentimen anti-Islam (Islamofobia).

Sebuah laporan yang dirilis oleh Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR) tahun lalu mengungkapkan bahwa lebih dari $ 119 juta telah disalurkan melalui yayasan dan donor kepada lembaga-lembaga tersebut, yang menawarkan para “ahli” untuk berbicara di televisi nasional dan untuk menyarankan para penegak hukum bersaksi di sidang dan bekerja dengan legislator negara. Lembaga-lembaga itu juga mendapat pendanaan dari kelompok-kelompok pro-Israel.

Menurur Sarsour apa yang dilakukan orang-orang seperti Steven sangat berbahaya di Amerika dimana yang dilakukannya adalah menfitnah Islam dan Muslim. Menurut Sarsour, rata-rata orang Amerika akan mengambil pandangan dari orang-orang semacam Emerson secara serius karena mereka mendapatkan outlet berita utama dan muncul di TV sebagai ahli terorisme. “Outlet berita utama terus memberikan platform bagi orang-orang yang tidak ahli dalam hal apapun yang memungkinkan mereka untuk terus menyebarkan informasi yang salah dan kebodohan dari masyarakat yang fanatik,” kata Sarsour.

Prasangka buruk tersebut memiliki banyak konsekuensi bagi komunitas Muslim di Amerika. “Wanita yang berjilbab akan dikeriksa dan di-skrining setiap kali ke bandara,” kata Sarsour.

Selain media, sistim sekolah juga memberikan kontribusi terhadap sikap anti-Islam di AS, karena tidak ada studi yang mengintegrasikan antara Arab atau Muslim Amerika dalam kurikulum. “Setiap kali ada serangan teroris yang mereka dengar adalah Islam dan terorisme,” katanya. Selain itu, film-film Hollywood sering menggambarkan Arab Amerika sebagai penjahat atau teroris. “Tidak ada yang menggambarkan mereka sebagai pahlawan atau seseorang yang memberikan kontribusi terhadap masyarakat.”

Di 24 negara bagian AS telah ada upaya untuk mensyahkan UU Anti Syariah “yang pada dasarnya akan membatasi Muslim untuk mempraktekkan agama mereka sepenuhnya,” kata Sarsour. Undang-undang seperti itu dirancang untuk melawan “ancaman yang dirasakan bahwa kaum Muslim merusak konstitusi AS dan akan memberlakukan hukum Syariah,” kata sebuah artikel di loonwatch.com.

Yang mengejutkan adalah bahwa para anggota parlemen percaya bahwa mereka bisa mencoba meloloskan UU yang membatasi kebebasan beragama di masyarakat di negara seperti Amerika dan yang lebih mengejutkan adalah tidak ada protes besar dari rakyat Amerika.

Mendapatkan izin untuk membangun sebuah lembaga keagamaan Islam dalam beberapa tahun terakhir ini sangat sulit dan keterlaluan dan mendapat tantangan.

“Di Amerika Serikat mereka berbicara tentang kebebasan berbicara, kebebasan berekspresi, kebebasan beragama dan namun kami mendapat UU yang menentang pembangunan masjid. Orang-orang berbicara tentang kebebasan berbicara seolah-olah itu hanya nilai-nilai Barat.”

Sarsour juga telah meluncurkan hashtag #WhereIsTheSolidarity di mana para pengguna media sosial dapat bersatu untuk membahas solidaritas kelompok kulit hitam dan Arab. Masyarakat Afrika Amerika memiliki keluhan yang serupa dengan Arab Amerika dalam hal bullying, perlakukan oleh para agen penegak hukum, kesalahpahaman dan bias media dan bagaimana mereka diperlakukan dalam sistem sekolah.

Serangan Charlie Hebdo baru-baru ini di Paris tidak diragukan lagi akan memiliki dampak di seluruh dunia. “Kami kembali lagi harus berbicara tentang hubungan Islam dan terorisme dan itu adalah percakapan yang sangat bermasalah,” kata Sarsour. “Setiap kali kami merasa maju beberapa langkah ke depan, kami menemukan diri kami bergerak mundur beberapa langkah karena orang-orang tenggelam dalam percakapan yang tidak bernuansa dan tidak memiliki konteks.”

“Jika seorang pria kulit putih mengebom klinik aborsi kami tidak mengatakan: “Hei, semua orang Kristen silakan berdiri dan kutuk orang kulit putih ini.”

“Tidak pernah ada pembenaran atas pembunuhan orang yang tidak bersalah, tetapi di tempat seperti Perancis orang tidak memiliki kebebasan beragama – Saya tidak bisa memakai jilbab dan belajar di perguruan tinggi negeri, saya tidak bisa memakai jilbab dan bekerja untuk pemerintah. Kami dilarang shalat di luar. Dalam musim panas lalu mereka dilarang melakukan protes pro-Palestina atas Perang Gaza. Anda tidak dapat berbicara tentang kebebasan berbicara dan kebebasan berekspresi dan kemudian memiliki undang-undang yang berdampak kepada komunitas mayoritas Muslim,” pungkasnya.[]

(middleeastmonitor.com/ +ResistNews Blog )
Powered by Blogger.