Begini Modus Infiltrasi Intelijen Inggris pada Kelompok Islamis

Setiap kali ada serangan teroris yang meramaikan berita nasional, mesti saja akan ada orang-orang tertentu yang sebenarnya tidak diharapk...



Setiap kali ada serangan teroris yang meramaikan berita nasional, mesti saja akan ada orang-orang tertentu yang sebenarnya tidak diharapkan, tetapi tiba-tiba muncul di berbagai media sebagai narasumber. Seperti sebuah permainan yang vulgar. Sering mereka tampil dari satu acara ke acara yang lain di berbagai media, silih berganti mulai dari dialog dan diskusi di televisi hingga menjadi penulis di media massa.

Beberapa tahun yang lalu, dalam program berita malam, BBC dengan bangga menyiarkan sebuah acara debat antara Maajid Nawaz, direktur lembaga kajian anti ekstrimisme, yaitu The Quilliam Foundation, dengan Anjem Choudary, pemimpin kelompok Islamis yang sebelumnya dikenal dengan nama Al-Muhajirun. Namun, sejak dilarang oleh pemerintah Inggris, Al-Muhajirun telang berulang kali berganti nama. Salah satu nama yang dikenal luas saat ini adalah “Islam4UK”.

Baik Nawaz maupun Choudary keduanya mendapat sorotan luas media mainstream, mewarnai headline di berbagai media, dan mengisi berita utama di televisi serta di acara-acara peristiwa hangat hari ini. Tetapi tak banyak yang tahu, keduanya memiliki “hubungan” yang erat dengan badan intelijen Inggris.

Percaya atau tidak, fakta ganjil tersebut akan menjelaskan mengapa algojo Daulah, yang pernah tinggal di London Barat bernama Mohammed Emwazi – alias “Jihadi John” saat ini bisa berada front jihad Iraq dan Suriah.

Kisah dua orang ekstremis

Dulunya, Maajid Nawaz pernah bergabung bersama kelompok Islamis, Hizbut Tahrir (HT) di Inggris. Nawaz bersama dengan pengikutnya yang juga mantan anggota HT, Ed Husain mendirikan sebuah yayasan bernama The Quilliam Foundation.



Majid Nawaz (kiri) dan Ed Husain (kanan).

The Quilliam Foundation didirikan oleh Husain bersama Nawaz pada tahun 2008 dengan dukungan keuangan yang signifikan dari pemerintah Inggris. Saat awal pendiriannya, yayasan ini mendapatkan publikasi luas dan masif dari rilisan tentang kisah perjalanan hidup Ed Husain, yang tertuang dalam sebuah buku berjudul The Islamist. Buku itu secara berulang menjadi best-seller internasional, kerap mewarnai ratusan tema dialog, hingga berbagai wawancara dan artikel.

Di dalam buku The Islamist tersebut, – sebagaimana buku tebal tulisan Maajid Nawaz, berjudul Radical yang saat ini juga banyak dirilis secara luas – Husain menceritakan perjalanannya sejak ia menjadi seorang pemuda muslim yang terpinggirkan oleh ketidakadilan, lalu menjadi seorang aktifis Islamis, dan akhirnya berujung pada penolakannya secara total terhadap ideologi Islamis(tarajju’).

Kedua tulisan yang menceritakan tentang perjalanan transformasi mereka itu menawarkan cara pandang yang provokatif dan original. Menariknya, kedua buku mereka dimanfaatkan secara langsung oleh pemerintah Inggris.

Penulis Bayaran Pemerintah

Pada akhir tahun 2013, saya mewawancarai seorang mantan peneliti senior di Departemen Dalam Negeri Inggris mengungkap fakta bahwa buku Husain – The Islamist – merupakan buku yang ditulis oleh penulis bayaran di lingkungan pemerintah pusat Inggris, Whitehall.

Pejabat itu menceritakan bahwa pada tahun 2006, dia diberi informasi oleh seorang kolega pemerintah yang dekat dengan Jack Straw dan Gordon Brown bahwa, “rancangannya ditulis oleh Ed Husain sendiri, lalu dikembangkan dengan berbagai “bumbu tambahan” berdasarkan masukan pemerintah”. Pejabat sipil tersebut memberitahu bahwa “dia telah melihat minimal ada lima model naskah dari buku itu, namun hasil akhirnya sangat jauh berbeda dengan yang pertama (disusun oleh Ed Husain, red).”

Naskah buku tersebut – menurut sumber tadi – telah dimanipulasi sedemikian rupa yang secara eksplisit bersifat politis dan pro-pemerintah. Tim penulis yang menyusun tulisan Ed Husain, sebelumnya telah menyerahkan naskah itu terlebih dahulu untuk disetujui kepada bagian publikasi resmi mereka termasuk pejabat senior pemerintah dari Downing Street No. 10, Badan Pusat Analisa Terorisme, dinas intelijen, Kantor Persemakmuran dan Luar Negeri, serta Departemen Dalam Negeri.

Saat dikonfirmasi secara langsung kepada Ed Husain tentang kebenaran informasi tersebut, dia tidak pernah merespon. Begitu juga Nawaz. Saat ditanya apakah dia mengetahui adanya campur tangan pemerintah dalam tulisan Husain pada buku hasil kerja para “penulis bayaran” tersebut, dan apakah dia juga mengalami hal yang sama dalam pembuatan buku Radical. Dia juga tidak memberikan respon.

Ed Husain telah berhubungan dengan pemerintah Inggris dan juga dengan pejabat intelejen selama penulisan The Islamist dari tahun 2006 hingga diterbitkannya buku itu pada bulan Mei 2007. Pada saat itu, Nawaz terlebih dahulu dipenjara di Mesir. Nawaz akhirnya dilepaskan pada bulan Maret 2006, lalu ia mengumumkan bahwa dirinya telah keluar dari HT tepat satu bulan sebelum peluncuran buku Husain.

Husain mengaku dialah yang paling banyak mempengaruhi Nawaz, hingga akhirnya Nawaz mengambil keputusan seperti itu. Pada bulan November 2007, Husain bergabung dengan Nawas yang menjadi direktur The Quilliam Foundation, sementara Husain sebagai wakilnya.

Masih menurut Husain, Nawaz berperan menentukan bagian-bagian yang harus ditulis pada The Islamist pada tahun yang sama ketika buku itu diedit oleh pejabat pemerintah. “Sebelum publikasi, saya berdiskusi dengan teman-teman saya dan juga dengan saudara seiman saya, Maajid, tentang bagian-bagian di buku itu,” tulis Husain tentang perlunya memverifikasi detail perjalanan mereka ketika masih menjadi anggota HT.


Buku “Radical”, karangan Maajid Nawaz. Buku yang ditulis oleh ghostwriter pemerintah Inggris.

Di sinilah kronologi tulisan Husain dan Nawaz mulai diperinci. Di dalam buku Radical, dan dalam beberapa wawancara, terungkap bahwa proses deradikalisasi telah terjadi pada keduanya. Nawaz mengatakan bahwa dia secara tegas dan bulat menolak ideologi Hizbut Tahrir saat berada di penjara Mesir. Sementara, saat pembebasannya dan ketika dia kembali ke Inggris, Nawaz belum menunjukkan tanda-tanda bahwa dia telah membuat keputusan itu. Sebaliknya, dia melakukan hal yang bertolak belakang.

Pada bulan April 2006, Nawaz menyampaikan kepada BBC bahwa semasa penahanannya di Mesir, Nawaz “(bahkan) semakin meyakinkan dirinya… tentang perlunya menegakkan kekhalifahan sesegera mungkin.” Sejak saat itu, Nawaz yang menjabat sebagai komite eksekutif HT, berpartisipasi dalam berbagai dialog dan wawancara yang dengan penuh semangat untuk mempromosikan pemikiran Hizbut Tahrir.

Pertemuan saya dengan Nawaz pertama kalinya terjadi pada sebuah konferensi pada tanggal 2 Desember 2006 yang diadakan oleh CAMPACC (Campaign Against Criminalising Communities) dengan tema “merebut kembali hak-hak kita”. Saya telah berbicara pada sebuah diskusi kelompok tentang data-data temuan dalam buku saya, The London Bombings: An Independent Inquiry, tentang bagaimana pemerintah Inggris berkolusi dengan para ekstremis Islam memfasilitasi serangan 7 July. Nawaz juga hadir di acara itu sebagai peserta bersama dua orang aktivis senior HT lainnya, dan dalam suatu dialog singkat kami, dia berbicara tentang pekerjaan dia saat ini di HT dengan ungkapan yang ekspresif dan berapi-api.

Pada bulan Januari 2007, Nawaz terlihat berada di barisan depan dalam suatu demonstrasi HT di kedutaan Amerika di London. Ia mengecam operasi militer Amerika di Iraq dan Somalia. Nawaz juga menyampaikan pidato yang menggugah dalam protes tersebut, menuntut diakhirinya ”intervensi kolonialisme terhadap dunia Islam,” dan menyerukan penegakan kekhilafahan Islam untuk menghadapi imperialisme barat serta menghentikan dukungan mereka kepada para diktator penguasa di negeri-negeri muslim.

Namun dalam tulisan terakhirnya, pada setiap bagian aksi yang sangat mengagitasi publik itu dengan mengatasnamakan HT, yang ia lakukan sejak pertengahan 2006, Nawaz bahkan menolak ideologi yang selama itu sudah ia khotbahkan dengan begitu keras. Di periode itulah, tatkala dia berhubungan dengan temannya bernama Ed Husain – yang saat itu masih berada di Jeddah – dan membantu dia (Husain) dengan tulisannya, sebuah manifesto anti pemikiran HT, untuk menyusun The Islamist, yang juga sudah diperiksa oleh pejabat dengan tingkat paling tinggi di pemerintahan Inggris.

Kedekatan dan hubungan rahasia intelejen Inggris dengan Husain telah terjadi sebelum publikasi bukunya pada tahun 2007. Hal itu menunjukkan bahwa, berkebalikan dengan biografi resminya, pendiri The Quillium Foundation itu sudah dekat dengan pemerintah Inggris sejak lama sebelum dia dikenal oleh publik. Bagaimana dia membangun hubungan pada level ini?

Menurut Dr Noman Hanif, seorang pengajar terorisme internasional dan politik Islam di Birkbeck College, Universitas London, kehadiran kelompok Hizbut Tahrir (HT) di Inggris sepertinya memberi banyak peluang bagi intelijen barat untuk menembus dan mempengaruhi gerakan itu.

Dr Hanif, yang memperoleh gelar doktor melalui tesisnya tentang kelompok HT, menunjukkan bahwa jabatan Ed Husain di dalam tubuh HT menurut tulisannya sendiri terjadi “di bawah kepemimpinan Omar Bakri Mohammed,” ulama kontroversial yang akhirnya meninggalkan kelompok tersebut pada tahun 1996 untuk kemudian mendirikan Al-Muhajirun, sebuah jaringan militan yang hari ini selalu dikaitkan dengan setiap rencana aksi teroris di Inggris.

Kepemimpinan Bakri di HT, menurut Dr Hanif, telah membentuk “penyimpangan paling konseptual selama periode keberadaan HT di Inggris”. Bakri dianggap membelok sangat jauh dari ide-ide inti kelompok itu, dikarenakan pembelaannya terhadap aksi kekerasan serta konsentrasinya mendirikan negara Islam di Inggris, sebuah tujuan yang berlawanan dengan doktrin HT.

Ketika Bakri meninggalkan HT dan kemudian mendirikan al-Muhajirun pada tahun 1996, menurut John Loftus, seorang mantan perwira intelijen militer AS dan jaksa penuntut umum Departemen Kehakiman, bahwa Bakri dengan segera direkrut oleh oleh MI6 untuk memfasilitasi aktivitas para Islamis di Balkans.

Ketika Bakri telah mendirikan al-Muhajirun pada tahun 1996 dengan bantuan dinas intelijen Inggris, teman sesama pendiri lainnya adalah Anjem Choudary. Choudary sangat dekat terlibat dalam program untuk melatih dan mengirim warga Inggris untuk berperang ke luar negeri, dan tiga tahun kemudian, dengan bangga menyampaikan ke Sunday Telegraph bahwa “beberapa jenis pelatihan mereka menggunakan senjata dan peluru sungguhan”.

Ahli sejarah Mark Curtis, dalam tulisannya yang masih terus dikembangkan, “Secret Affairs: Britain’s Collusion with Radical Islam,” mendokumentasikan bagaimana di bawah pengendalian ini, Bakri melatih ratusan warga Inggris di kamp-kamp di Inggris dan Amerika, dan mengirim mereka untuk bergabung dengan para pejuang afiliasi al-Qaidah di Bosnia, Kosovo, dan Chechnya.

Tidak lama sebelum Bom London 2005, Ron Suskind, salah seorang wartawan Wall Street Journal peraih hadiah Pulitzer Prize untuk kategori reportase investigatif, – diberitahu oleh seorang pejabat senior MI5 bahwa Bakri merupakan seorang informan dinas rahasia yang sudah cukup lama “telah membantu MI5 pada beberapa penyelidikan.”

Suskind menambahkan dalam bukunya The Way of the World, Bakri dengan ragu-ragu mengakui hubungan tersebut dalam satu wawancara di Beirut, tetapi Suskind menjelaskan tidak ada indikasi bahwa hubungan tersebut pernah berakhir.

Seorang pengacara senior kasus terorisme di London yang telah mewakili kliennya dalam beberapa kasus terorisme profil tinggi memberitahu saya bahwa kedua orang tersebut: Bakri dan Choudary telah melakukan pertemuan rutin dengan perwira MI5 sejak tahun 1990-an.

Pengacara tersebut yang bekerja untuk kantor pengacara terkenal dan secara reguler berhubungan dengan MI5 dalam suatu sidang tertutup yang melibatkan bukti-bukti rahasia, mengatakan, ”Omar Bakri telah melakukan lebih dari 20 kali pertemuan dengan MI5 dari sekitar tahun 1993 sampai dengan akhir dekade 90-an. Anjem Choudary tampaknya ikut dalam pertemuan-pertemuan itu terutama menjelang akhir dekade. Ini sebetulnya sudah diketahui secara luas di antara para pemimpin senior Islamis di Inggris pada waktu itu.”


Omar Bakrie

Menurut Dr Hanif dari Birkbeck College, hubungan Bakri dengan dinas intelijen kemungkinan bermula dan terjadi selama “6 tahun kepemimpinannya di dalam Hizbut Tahrir di Inggris,” yang pada akhirnya akan memberi peluang yang besar bagi intelijen Inggris untuk secara luas meng-infiltrasi kelompok itu.

HT sudah lama menjadi target pengawasan MI6 di luar negeri karena dukungan level inti mereka di Yordania dan aktivitas mereka yang selalu konsisten berada di level tertentu di berbagai wilayah di Timur Tengah selama lebih dari lima dekade.

Paling tidak ada beberapa anggota Hizbut Tahrir yang muncul dan menyadari koneksitas Bakri dengan intelijen, termasuk juga, nampaknya Ed Husain sendiri.

Pada satu bagian di buku The Islamist (hal-116), Husain menceritakan: “kami juga prihatin dengan pengajuan Omar untuk mendapatkan suaka politik.. Saya angkat masalah ini dengan Bernie (anggota HT yang lain). “Oh tidak”, katanya, Di sisi lain, Inggris seperti ular, mereka hati-hati bermanuver. Mereka memerlukan Omar di Inggris. Bisa jadi, Omar akan menjadi duta besar khilafah di sini atau dia pergi untuk tinggal di negara Islam. Orang-orang kafir tahu bahwa dengan membiarkan Omar tinggal di Inggris akan memberikan mereka suatu permulaan yang baik, keuntungan diplomatis, ketika mereka harus berurusan dengan negara Islam. Membuat supaya Omar melayani mereka dengan baik untuk masa depan. MI5 tahu persis apa yang sedang kami lakukan, siapa kami ini sebenarnya, dan lalu mereka memberi pengaruh, memberi kami lampu hijau untuk beroperasi di Inggris.”

Ed Husain keluar dari HT setelah Bakri pada bulan Agustus 1997. Menurut Faisal Haque, seorang pegawai sipil pemerintah Inggris dan mantan anggota HT yang mengenal Ed Husein ketika ia masih menjadi anggota kelompok itu, Husein punya hubungan pribadi yang kuat dengan Bakri. Ia tidak meninggalkan HT karena alasan ideologis, kata Haque. “Ini terjadi lebih karena hubungan personal yang dekat dengan Omar Bakri (ia keluar ketika Bakri dipecat), tekanan dari ayahnya dan alasan-alasan pribadi lainnya yang saya tidak ingin menyampaikan,” jelasnya.

Husein kemudian melanjutkan bekerja untuk organisasi budaya Inggris British Council di Timur Tengah. Dari tahun 2003 sampai dengan 2005, ia di Damaskus. Selama masa itu, atas kemauannya sendiri, ia melaporkan beberapa warga Inggris lainnya yang menjadi anggota HT atas tindakan menghasut warga untuk melawan rezim Bashar Assad, yang membuat mereka akhirnya dideportasi oleh pemerintah Suriah kembali ke Inggris. Pada saat itu, CIA dan MI6 secara rutin bekerja sama dengan Assad dalam program rendisi (extraordinary rendition).

Husain kemudian bekerja untuk British Council di Jeddah, Saudi Arabia, dari tahun 2005 akhir hingga akhir tahun 2006.

Sepanjang tahun itu, menurut mantan pejabat Dalam Negeri yang saya wawancarai, Husain bisa berhubungan langsung dengan pejabat senior Whitehall yang ikut memeriksa naskahnya untuk buku The Islamist. Pada bulan November, Husain memposting di DeenPort, sebuah forum diskusi online, satu komentar yang sekarang telah dihapus karena secara tidak sengaja menyebut pekerjaan “dinas intelijen” di dalam tubuh HT: “Bahkan di tubuh HT di Inggris hari ini, ada perbedaan yang besar antara elemen modernis (pembaharu) dan elemen-elemen yang lebih radikal. Dinas intelijen sangat berharap elemen modernis tersebut bisa menjinakkan yang radikal…Saya memperkirakan di sana ada perpecahan yang lain. Wallahu a’lam. Saya sudah berbicara melebihi yang seharusnya saya sampaikan tentang masalah ini! (maka) Dari sekarang, saya tidak lagi mau bicara hal tersebut!”

Tidak lama setelah itu, Maajid Nawaz akan mengumumkan dirinya telah keluar dari Hizbut Tahrir dan kemudian akan bergabung dengan Quillium Foundation bersama beberapa orang lain yang berasal dari kelompok itu. Menurut Nawaz, banyak dari mereka bekerja dengannya dan dengan Husain sebagai satu tim di belakang layar agenda radikalisasi-deradikalisasi pemerintah pada saat ini.

‘Mantan jihadis’ yang belum pernah menjadi jihadis

Barangkali masalah terbesar yang berkaitan dengan klaim Husain dan Nawaz sebagai ahli masalah terorisme adalah mereka tidak pernah “berstatus” sebagai jihadis. Hizbut Tahrir merupakan sebuah gerakan non-kekerasan yang ingin menegakkan kekhalifahan dunia melalui perjuangan sosial, dan fokus kepada perlunya kegiatan politik di dunia Islam. Apapun masalahnya dengan ideologi politik mereka yang keras, mereka tidak ada hubungannya dengan Al-Qaidah.

Namun demikian, Husain dan Nawaz, selama bersama dengan pemerintah yang menolongnya, meyakinkan kita bahwa pengalaman personal terkait program “radikalisasi” dan “deradikalisasi” itu bisa dijadikan contoh untuk diterapkan dalam kebijakan perang atas nama terorisme.

Meskipun, dalam realita tak satupun dari mereka yang punya gambaran tentang dinamika jaringan jihadis secara aktual, dan proses radikalisasi yang mengarahkan kepada tindakan ekstremisme kekerasan. Hasilnya adalah sebuah obsesi yang sama sekali tidak terarah dan tanpa bukti dengan penolakan terhadap ideologi ekstremis non-kekerasan sebagai cara utama untuk mencegah terorisme.


Maajid Nawaz (kiri) dari The Quilliam Foundation menawarkan gagasan anti kekerasan dalam program deradikalisasi bersama pengamat terorisme lainnya di program News Night, BBC.

Melalui The Quilliam Foundation, pandangan-pandangan fundamentalis Husain dan Nawaz tentang ekstremisme non-kekerasan bermetamorfosis menjadi diskursus-diskursus resmi anti-terorisme yang berpengaruh di dunia barat. Ini adalah ungkapan rasa terima kasih atas jutaan poundsterling yang mengucur dari pemerintah, dukungan intensif dari media, demikian juga dorongan pemerintah terhadap direktur The Quilliam dan para stafnya dalam menyediakan pelatihan deradikalisasi untuk pemerintah dan pejabat keamanan di Amerika dan Eropa.

Di Inggris, cara pendekatan The Quilliam telah diadopsi oleh berbagai lembaga tanki pemikir termasuk yang berhaluan sayap kanan maupun moderat kanan, seperti CCS (Centre for Social Cohesion) dan Policy Exchange, yang semuanya memainkan peran yang besar dalam mempengaruhi program pemerintah dalam mencegah ekstremisme atau tindakan preventif yang serupa.

Kendati demikian, seberapa besar persisnya tingkat kebangkrutan cara pendekatan ini, akan dapat ditentukan dari upaya-upaya PM Inggris, David Cameron untuk mengekspresikan pemahamannya akan resiko ekstrimisme non-kekerasan, satu ciri utama dari undang-undang keamanan dan anti-terorisme pemerintahan koalisi Orwellian. Yang terakhir, membangun kekuasaan yang belum pernah terjadi sebelumnya akan pengawasan elektronik dan dasar untuk tugas pencegahan, yang menyerukan semua institusi sektor publik untuk mengembangkan profil “penilaian resiko” terhadap seseorang yang dianggap “berisiko” tertarik ke dalam ekstrimisme non-kekerasan.

Dalam pidatonya di forum PBB tahun lalu, Cameron menjelaskan bahwa ukuran counter-kontra-terorisme itu harus membidik orang yang sama sekali tidak terlibat kekerasan, tetapi mereka yang punya cara pandang terhadap dunia yang dapat dipakai sebagai pembenaran atasnya. Sebagai contoh ide-ide berbahaya yang menjadi akar sebab terorisme, Cameron menunjuk “teori konspirasi,” dan yang paling kuat menurutnya adalah, “cara pandang bahwa muslim ditindas di seluruh dunia sebagai tindakan yang disengaja dari kebijakan Barat.”

Dengan kata lain, jika anda percaya bahwa pasukan Amerika dan Inggris secara sengaja memimpin operasi militer yang brutal atas dunia Islam yang mengakibatkan kematian yang dapat diduga dari para orang-orang sipil yang tidak bersalah yang jumlahnya tak terhitung, maka anda adalah ekstrimis non-kekerasan.

Dalam satu naskah akademis yang dipublikasi tahun lalu, seorang ahli terorisme Perancis yang juga sebagai pegawai kebijakan di Kementerian Dalam Negeri, Dr Claire Arenes, mencatat bahwa: “Dengan definisi, seseorang akan tahu bahwa radikalisasi disebut kekerasan hanya jika pada akhir prosesnya terjadi tindak kekerasan. Oleh karena itu, sejak terminologi terbaru dari istilah radikalisasi tidak bisa didefinisikan di depan, kebijakan yang dimaksudkan untuk memerangi radikalisasi kekerasan memerlukan kecenderungan struktural untuk memerangi segala bentuk radikalisasi”.

Benar bahwa obsesi bodoh ini mencoba mendeteksi dan menghentikan “segala bentuk radikalisasi”, meskipun dengan cara non-kekerasan, yang menghambat penyelidikan polisi dan pihak keamanan, serta membebani mereka dengan risiko yang tidak perlu.

Pada titik ini, layak diingat bahwa pandangan Nawaz dan Choudary yang muncul dan saling bertolak belakang di acara BBC Newsnight itu bukan hanya menggelikan, namun juga secara simbolik menunjukkan secara telanjang bagaimana krisis keamanan nasional hari ini diprovokasi dan dieksploitir oleh dinas intelijen pemerintah.

Selama satu dekade terakhir, dalam periode waktu yang sama, Inggris telah memelihara “para mantan jihadis yang belum pernah menjadi jihadis” untuk bisa diparadekan di sekitar kompleks industri media untuk mengangkat isu “ekstrimisme non-kekerasan”.

Sementara, isu itu bukanlah merupakan ancaman bagi CIA dan MI6 yang mengkoordinasikan pendanaan kepada para mantan jihadis di seluruh Timur Tengah dan Asia Tengah untuk meng-counter pengaruh Syiah Iran.

Dari tahun 2005, dinas intelijen Amerika dan Inggris mendorong sejumlah operasi undercover untuk mendukung kelompok-kelompok oposisi Islamis, termasuk para militan yang terkait al-Qaidah, dengan tujuan mengurangi pengaruh regional Iran dan Suriah. Kemudian pada tahun 2009, konsentrasi operasi-operasi ini bergeser ke Suriah.

Omar Bakri, Anjem Choudary dan Jihadi John

Sebagaimana telah saya dokumentasikan dalam bukti-bukti tertulis pada sebuah dokumen berjudul, “UK Parliamentary Inquiry into Prevent” pada tahun 2010, salah satu penerima pendanaan tersebut tak lain adalahj Omar Bakri, yang pada saat itu ia berbicara kepada seorang wartawan: “Hari ini, ahlusunnah Lebanon yang marah meminta saya untuk mengorganisir jihad mereka melawan Syiah… Al-Qaidah di Lebanon… merupakan satu-satunya pihak yang bisa mengalahkan Hizbullah.”

Secara bersamaan, Bakri secara teratur berhubungan dengan wakilnya, Anjem Choudary, melalui internet dan bahkan mengirim pesan suara secara online kepada para pengikutnya di Inggris serta memerintahkan mereka untuk bergabung dengan Daulah (IS). Dia saat ini ditahan dan didakwa oleh otoritas Lebanon karena dianggap membangun sel teror di negara tersebut.

Bakri juga terlibat secara mendalam dengan pelatihan bagi para pejuang mujahidin di perbatasan Suriah dan juga yang ada di sisi Palestina. Para peserta pelatihan itu termasuk empat orang Islamis warga negara Inggris dengan latar belakang sebagai professional yang selanjutnya akan bergabung dengan jihad di Suriah.

Bakri juga mengklaim telah melatih “banyak pejuang”, termasuk orang-orang dari Jerman dan Perancis, semenjak dirinya tiba di Lebanon. Apakah Jihadi John alias Mohammed Emwazi juga termasuk di antara mereka? Ini pertanyaan menarik.

Tahun lalu, murid Bakri bernama Mizanur Rahman mengkonfirmasi bahwa paling tidak lima orang muslim Eropa yang terbunuh dalam perang bersama IS di Suriah adalah para pembantu Bakri.

Namun, padatahun 2013, waktu itu David Cameron mencabut embargo senjata untuk membantu pejuang Suriah. Dan sekarang kita tahu bahwa sebagian besar bantuan militer Barat jatuh ke tangan Islamis afiliasi al-Qaidah, kebanyakan mereka terkait dengan para jihadis lokal.

Pemerintah Inggris sendiri mengakui bahwa ada warga Inggris dengan jumlah yang signifikan pernah ikut berperang di Suriah, dan akan berusaha melakukan serangan terhadap kepentingan Barat… atau di negara-negara Barat.

Masih menurut mantan perwira intelijen kontra-terorisme Inggris, Charles Shoebridge, meskipun hal ini beresiko, pemerintah “menutup mata terhadap perjalanan para jihadis yang berasal dari negara mereka (Inggris) ke Suriah, meskipun banyak video dan bukti-bukti lain atas keterlibatan mereka di sana,

“Hal ini karena sesuai dengan kebijakan luar negeri AS dan Inggris yang anti-Assad,” jelas Shoebridge.

Situasi inilah yang memungkinkan orang seperti Emwazi melakukan perjalanan ke Suriah dan bergabung dengan IS – meskipun berada dalam daftar pengawasan MI5. Dia telah dicekal oleh intelijen dari melakukan perjalanan ke Kuwait pada tahun 2010, tapi kenapa tidak terjadi ketika dia hendak ke Suriah?

Shoebridge, yang sebelumnya merupakan perwira militer Inggris sebelum bergabung dengan The Metropolitan Police, memberitahu saya bahwa meskipun melakukan tindakan teror di luar negeri merupakan sesuatu yang ilegal di Inggris sejak tahun 2006, bisa dicatat bahwa hanya menjelang akhir 2013 ketika IS mulai memerangi kelompok oposisi dukungan barat, dan mungkin juga seandainya titik krusial antara tujuan dari kebijakan luar negeri dan kekhawatiran dinas rahasia MI5 terhadap reaksi negatif para jihadis di dalam negeri tercapai, apakah otoritas Inggris telah mulai mengambil langkah serius untuk menanggulangi aliran jihadis Inggris?

Ia melanjutkan, dukungan langsung maupun tidak langsung AS dan Inggris kepada para jihadis, telah membuat Suriah menjadi tempat paling aman bagi para jihadis regional dari serangan drone “selama lebih dari dua tahun”. Suriah sebelumnya merupakan satu-satunya tempat di mana para jihadis Inggris bisa bertempur tanpa khawatir terhadap serangan drone Amerika ataupun kekhawatiran ditangkap ketika pulang.

Mungkin akan berbeda misalnya jika sejumlah orang yang sama dari para jihadis Inggris pernah melakukan perjalanan misalnya ke Yaman atau Afghanistan – hal ini sesuai dengan kebijakan anti-Assad.

Setelah situasinya berkembang dengan adanya ancaman-ancaman fatual dari Daulah (IS) terhadap sandera dan target Barat, pemerintah Barat saat ini tengah mengeksploitasi hal yang menyebabkan kekacauan itu kepada pembenaran atas gagalnya narasi kontra-ekstrimismenya. Narasi yang dipromosikan oleh para ‘pakar’ yang dipilih dan dipelihara oleh negara seperti Husain dan Nawaz.


Majid Nawaz (kiri) dan Ed Husain (kanan) dari The Quilliam Foundation.

Konsep mereka, diperkirakan, adalah memperluas jangkauan kekuasaan negara polisi untuk mengidentifikasi dan menderadikalisasi siapa saja yang berfikir bahwa kebijakan luar negeri Inggris terhadap dunia Islam berlaku sewenang-wenang, hanya untuk kepentingannya sendiri, dan tidak peduli dengan hilangnya nyawa warga sipil. Sumber-sumber pemerintah mengkonfirmasi bahwa masukan Nawaz berkontribusi dalam mempengaruhi pemikiran David Cameron tentang ekstrimisme non-kekerasan dan bentuk terbaru strategi pencegahan.

Ironisnya, Husain kemudian malah diangkat menjadi anggota tim penasehat departemen luar negeri untuk kebebasan beragama dan berkeyakinan pada tahun yang lalu.

Sementara itu, wakil Bakri yaitu Anjem Choudary tidak bisa dipahami bagaimana ceritanya bisa terus maju dan tampil menjadi “ulama garis keras” yang menjadi media darling warga Inggris.

Paspornya yang disita karena ditangguhkan setelah polisi menangkapnya tanpa alasan, membuat dia terhindar dari tuntutan. Dan dia masih bebas meradikalisasi orang-orang muslim Inggris yang keras kepala untuk bergabung dengan IS. Dia merasa nyaman bahwa pidatonya tersebut akan disiarkan secara luas, dan yang pasti akan memprovokasi sentimen umum di kalangan muslim Inggris.

Jika seandainya kita bisa dengan sistematis mendudukkan bersama The Quilliam maupun Al-Muhajirun, lalu mendorong mereka ke atas perahu dan berlayar, lalu menurunkan mereka semua ke suatu tempat antah berantah, mereka bisa menikmati segala kesenangan yang mereka inginkan untuk saling melakukan “radikalisasi” dan “deradikalisasi” ke dalam isi hati mereka. Dan kita di sini barangkali akan mendapatkan sedikit kedamaian. Dan mungkin kita bisa juga mengirim agen intelijen pengendali mereka sekalian bersama-sama. (Tamat)



*Artikel ini ditulis oleh Nafeez Ahmad, jurnalis investigasi untuk berbagai kolom surat kabar. Ia adalah pengamat keamanan internasional, tulisannya tersebar di media-media besar seperti The Independent, Sydney Morning Herald, The Age, The Scotsman, Foreign Policy, The Atlantic, Quartz, Prospect, New Statesman, Le Monde diplomatique, dan New Internationalist.



Alih Bahasa: Sanist Siberia

Sumber: The Middle East Eye

COMMENTS

Name

#indonesiatanpajil,4,afghanistan,158,afrika,54,agama,303,agenda acara,3,ahmadiyah,3,ajzerbaijan,1,Aksi Gema Pembebasan Soloraya tolak RUU Pendidikan 7 May 2012,1,al islam,178,aljazair,6,amerika,628,analisi,1,analisis,330,analisisjihad,69,arab saudi,91,argentina,1,asean,1,asia,1,australia,51,austria,3,azerbaijan,1,bahrain,4,bangladesh,16,belanda,23,belgia,3,berita,618,beritanasional,1973,bisnisdanekonomi,39,bolivia,1,brasil,5,brunei,15,budaya,25,buletin islam underground noname zine,2,bulgaria,1,ceko,3,chechnya,8,china,80,cina,1,contact,1,democrazy,40,denmark,5,detik2hancurkapitalisme,77,disclaimer,1,diskusi,6,dubai,9,ekonomi,488,eropa,51,ethiopia,2,event,35,faeture,3,feature,4517,featured,13,filipina,28,focus,10,Foto : Pasukan Israel (huffington post),1,Foto-foto Aksi Sebar Flyer #IndonesiaTanpaJIL di Car Free Day Solo,1,galeri,45,ghana,1,guatemala,1,guyana,1,hacker,6,halal,16,healthnews,33,hikmah,8,hukum,412,india,29,informasi,58,inggris,171,intelijen,2,internasional,3748,interview,26,irak,122,iran,61,irlandia,3,islamichistory,79,islamophobia,2,islandia,1,israel,96,italia,16,jepang,8,jerman,35,kamboja,3,kamerun,1,kanada,14,kashmir,1,kaukasus,2,kazakhstan,4,kenya,10,kesehatan,24,khilafahbangkit,33,khutbahjumat,2,kiamat,1,kirgistan,1,kolombia,4,komunitas,6,konspirasi,86,korea,6,kosovo,1,kristologi,1,kuba,1,kuwait,6,laporankhusus,4,lebanon,13,libanon,4,liberal,6,liberia,1,libya,28,malaysia,33,mali,24,maroko,7,media,140,meksiko,1,mesir,244,minoritas,1,motivainspira,4,movie,1,mujahidin,439,muslimah,84,myanmar,104,nafsiyah,73,nasional,1,nigeria,14,norwegia,12,olahraga,1,opini,222,pakistan,69,palestina,511,papua,1,pendidikan,40,pengetahuan,70,perancis,102,perjalanan,32,polandia,1,politik,617,poster propaganda,2,praha,1,press release,135,qatar,8,resensi,17,review,141,rusia,83,sejarah,13,senegal,1,singapura,5,skotlandia,1,slovakia,1,somalia,63,sosial,1186,sosok,43,spanyol,13,spionase,1,srilanka,8,sudan,8,suriah,441,swedia,7,swiss,5,syariah,3,syiah,4,Tafsir,1,taiwan,1,tajikistan,4,takziyah,1,technews,51,technews',1,teknologi,80,thailand,26,timor leste,1,timur tengah,3,transkrip,32,tsaqofah,151,tunisia,25,turki,86,ukraina,3,uruguay,2,uzbekistan,8,vatikan,8,venezuela,4,video,361,wasiat,14,wawancara,89,yahudi,7,yaman,75,yordania,29,yunani,4,zimbabwe,1,zionist,4,
ltr
item
ResistNews Blog: Begini Modus Infiltrasi Intelijen Inggris pada Kelompok Islamis
Begini Modus Infiltrasi Intelijen Inggris pada Kelompok Islamis
http://2.bp.blogspot.com/-5Yj--UifBzs/VPmvXoPBSrI/AAAAAAAAFX4/SAnVpVEyRFo/s1600/thumb%2B(1).jpg
http://2.bp.blogspot.com/-5Yj--UifBzs/VPmvXoPBSrI/AAAAAAAAFX4/SAnVpVEyRFo/s72-c/thumb%2B(1).jpg
ResistNews Blog
http://blog.resistnews.web.id/2015/03/begini-modus-infiltrasi-intelijen.html
http://blog.resistnews.web.id/
http://blog.resistnews.web.id/
http://blog.resistnews.web.id/2015/03/begini-modus-infiltrasi-intelijen.html
true
1507099621614207927
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy