Maslahat Hukuman Mati bagi Penghina Nabi

Penyerangan terhadap kantor majalah penghina rasul Charlie Hebdo membuat semua mata tertuju ke Perancis. Berbagai kecaman datang dari Neg...



Penyerangan terhadap kantor majalah penghina rasul Charlie Hebdo membuat semua mata tertuju ke Perancis. Berbagai kecaman datang dari Negara Barat. Akan tetapi pujian demi pujian dari elemen umat Islam pun mengalir untuk aksi heroik tersebut. Seakan aksi tersebut mewakili kemarahan umat Islam yang nabi mereka dilecehkan dan dihina. Bahkan Presiden liga Katolik Amerika Bill Donahue mengecam “intoleransi” yang diusung oleh Charlie Hebdo dan mengatakan bahwa umat Islam berhak marah.

Namun, sebagian muslim menyayangkan hal ini, bahkan lebih parah salah seorang lulusan Al-Azhar Kairo yang berada di Manchester dalam tulisannya mengajak umat Islam untuk mengutuk hal tersebut. Ia beralasan bahwa aksi ini akan berdampak negatif pada umat muslim Eropa, padahal selama ini umat muslim Eropa dan para dai di sana sudah “berhasil” mencitrakan Islam yang toleran dan diterima di kalangan bangsa Eropa.

Itu hanya salah satu contoh. Bila kita ingin melihat lebih dalam, pihak-pihak dari kalangan muslim yang menolak dan mengutuk aksi penyerangan terhadap Charlie Hebdo melihat sisi maslahat bagi keberlangsungan dakwah di Eropa. Maka untuk melihat tinjauan maslahat dalam masalah ini ada baiknya kita pahami dulu maslahat itu sendiri.

Maslahat dalam bahasa Arab berasal dari kata shalah (صلاح). Dalam kamus Al-Muhith kata shalah diartikan sebagai lawan kata fasad (kerusakan). Sementara dalam kamus Al-Munjid disebutkan bahwa shalah adalah segala sesuatu yang tidak ada kerusakan di dalamnya. Maslahat adalah segala sesuatu yang mendatangkan kebaikan.

Secara istilah, Imam Ghazali dalam Al Mustashfa menyebutkan bahwa, “Maslahat adalah upaya untuk mendatangkan manfaat dan menolak bahaya, akan tetapi yang kami maksud bukan itu,karena sesungguhnya mendatangkan manfaat dan menolak bahaya adalah orientasi setiap makhluk (manusia) dan kemaslahatan makhluk terdapat pada tercapainya tujuan dan orientasi mereka. Akan tetapi yang kami maksud dengan maslahat di sini adalah upaya penjagaan terhadap tujuan-tujuan syariat, dan tujuan-tujuan syariat terhadap manusia itu ada lima: menjaga agama, jiwa, akal, keturunan dan harta. Maka segala upaya untuk menjaga kelima hal ini maka itulah maslahat dan segala sesuatu yang mendatangkan bahaya kepada 5 hal ini maka itulah yang disebut madharat (bahaya)”. (Al Mustasfa 2/481-482).

Poin dari definisi yang disampaikan oleh Imam Ghazali adalah, maslahat yang dimaksud bukanlah maslahat dalam arti mendatangkan manfaat dan menolak bahaya apa pun tanpa batasan. Akan tetapi yang dimaksud maslahat dalam istilah syariat adalah maslahat yang diakui oleh syariat. Yaitu berupa penjagaan terhadap lima perkara yang telah disebutkan sebelumnya.

Syariat Islam adalah syariat yang memperhatikan kemaslahatan bagi umatnya. Oleh karena itu semua perilaku syar’i tidak lepas dari yang namanya maslahat atau menolak mafsadat. Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitab Miftahu Daris Sa’adah berkata :

وإذا تأملت شرائع دينه التي وضعها بين عباده وجدتها لا تخرج عن تحصيل المصالح الخالصة أو الراجحة بحسب الإمكان، وإن تزاحمت قدم أهمها وأجلها وإن فات أدناها، وتعطيل المفاسد الخالصة أو الراجحة بحسب الإمكان، وإن تزاحمت عطل أعظمها فساداً باحتمال أدناها.

“Jika kamu memperhatikan syariat-syariat agama yang Allah turunkan bagi hamba-hamba-Nya, maka kamu akan mendapati bahwa hal tersebut tidak terlepas dari mendatangkan maslahat murni atau yang lebih kuat semaksimal mungkin. Jika satu maslahat bertentangan dengan maslahat lainnya, maka didahulukan yang lebih penting dan lebih besar, meskipun dengan mengeliminasi maslahat lainnya yang tingkat urgensinya lebih rendah, dan juga dengan menolak mafsadat secara utuh atau sebagian besarnya sebisa mungkin. Dan apabila antara menolak satu mafsadat dengan menolak mafsadat lainnya bertentangan, maka dieliminasi mafsadat yang lebih besar walaupun menimbulkan mafsadat yang lebih kecil.” (Miftahu Daris Sa’adah: 2/222)

Ibnul Qayyim mengisyaratkan bahwa syariat Islam tidak lepas dari mendatangkan maslahat ataupun menolak mafsadat. Maka setiap hal yang disyariatkan oleh agama —apapun hal itu, maka itu jelas ada maslahatnya untuk menolak sebuah mafsadat. Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah,kapan sesuatu itu bisa disebut maslahat?

Di dalam kitab Nadzariyatul Maslahah fi Fiqhil Islami disebutkan bahwa penghukuman akal saja atas sesuatu perkara yang merujuk kepada tujuan-tujuan syariat, tidaklah cukup untuk menjadikan sesuatu hal itu maslahat secara syar’i.

Jadi tidak cukup mengandalkan akal saja dalam menentukan sesuatu itu maslahat atau bukan. Karena bisa saja menurut akal sesuatu itu maslahat yang sesuai dengan maqashid syari’ah, akan tetapi ada dalil lain yang secara eksplisit menjelaskan posisi syar’i dalam masalah tersebut yang bertentangan dengan maslahat yang disangkakan oleh akal manusia. Contohnya, secara akal jika seseorang terancam harta dan nyawanya, dan nyawanya tidak bisa selamat melainkan dengan mengorbankan hartanya, maka sesuai maqashid syariat seharusnya dia mengorbankan hartanya demi keselamatan jiwanya. Karena menurut maqashid syariat keselamatan jiwa lebih utama daripada keselamatan harta. Secara akal dan tinjauan maqashid syariat, hal ini sudah benar.

Akan tetapi bila dilihat dari kacamata syariat, hal ini belum tentu benar. Karena ada hadits dari Abu Hurairah RA , beliau berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika seseorang ingin merampas harta saya?’ Rasul menjawab, ‘Janganlah engkau memberikannya.’ Lelaki tadi berkata, ‘Lantas bagaimana bila ia berusaha membunuhku?’ Rasul menjawab, ‘Bunuhlah dia.’ Lelaki berkata, ‘Bagaimana bila ia membunuhku?’ Rasul menjawab, ‘Engkau mati syahid.’ Lelaki berkata, ‘Bagaimana kalau saya membunuhnya?’ Rasul menjawab, “Ia di neraka.” (HR Muslim).

Dalam hadits di atas, secara tegas rasul mengatakan bahwa hendaklah seseorang melawan jika ada orang yang ingin merampas hartanya, walaupun akan mengakibatkan kehilangan nyawanya. Di sini jelas sekali terlihat perbedaan kajian maslahat di atas dengan makna hadits. Titik tekannya di sini adalah bahwa sesuatu itu disebut maslahat jika oleh syariat dinyatakan sebagai maslahat dan sebaliknya, sesuatu itu mafsadat jika oleh syariat disebut mafsadat.

Di antara contoh yang menurut akal manusia adalah maslahat, sementara tidak diakui oleh syariat adalah kaffarat berhubungan suami istri pada siang bulan Ramadhan bagi seorang raja yang kaya raya. Kita mengetahui bahwa kaffaratnya adalah membebaskan budak, bila tidak mampu membeli budak maka berpuasa selama dua bulan penuh. Kalau menurut akal kita, sebaiknya raja yang kaya raya tadi diperintahkan untuk berpuasa selama dua bulan, agar mampu memberikan efek jera bagi sang raja. Karena dihukum dengan membebaskan budak sama sekali tidak akan memberikan efek jera kepada sang raja, karena dia memiliki banyak budak dan harta berlimpah. Akan tetapi para ulama tidak memperbolehkan hal ini, karena dalil dari hadits menunjukkan kaffarat bagi seorang yang berhubungan suami istri pada siang hari bulan Ramadhan adalah membebaskan budak. Walaupun sekilas terlihat tidak memberikan efek jera bagi sang raja, akan tetapi inilah maslahat yang diatur oleh syariat.

Contoh lain adalah sebelum Islam akal manusia menganggap bahwa khamr memiliki maslahat, sehingga mereka menghalalkannya. Akan tetapi syariat Islam melarang meminum khamr walaupun syariat Islam sendiri mengakui adanya sedikit manfaat dalam khamr, akan tetapi kerusakan yang ditimbulkan lebih besar.

Contoh lainnya, secara akal manusia mungkin menikah dengan satu istri saja memiliki maslahat demi keutuhan keluarga dan rumah tangga, akan tetapi syariat memperbolehkan seorang laki-laki untuk menikah lebih dari satu, karena syariat melihat maslahat yang terkandung dalam poligami.

Contoh-contoh di atas memberikan kita pemahaman bahwa tidak selamanya maslahat yang disangkakan oleh akal manusia sejalan dengan maslahat syariat. Dikarenakan akal manusia terbatas dan cenderung terkotori oleh hawa nafsu.

Charlie Hebdo dalam Timbangan Maslahat

Sebagian kaum muslimin mempertanyakan kajian maslahat dan madharat aksi penyerangan Charlie Hebdo. Dengan beralasan bahwa aksi itu memberi madharat terhadap umat Islam, terutama umat Islam di Eropa. Mereka beralasan bahwa gerak dakwah akan mendapat tekanan lebih besar dibanding sebelumnya. Umat Islam akan semakin dicurigai, orang-orang akan lari dari dakwah Islam. Islam mengajarkan terorisme dan berbagai macam kekhawatiran lainnya.

Merujuk sejarah, apa yang dialami oleh Charlie Hebdo mirip dengan apa yang dialami oleh Ka’ab Al-Asyraf. Ka’ab bin Al-Asyraf adalah seorang Yahudi yang gemar menghina Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau menawarkan kepada para sahabatnya untuk membunuh Ka’ab bin Al-Asyraf. Maka majulah Muhammad bin Maslamah. Ia mengatur siasat untuk membunuh Ka’ab bin Al Asyraf. Hingga akhirnya Ka’ab tewas di tangan Muhammad bin Maslamah. Kejadian ini apple to apple dengan kejadian Charlie Hebdo dan jelas hukuman bagi para penghina Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hukuman mati. Bisa kita katakan bahwa membunuh orang yang menghina Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah suatu maslahat. Karena bersandar pada dalil hadits yang shahih.

Ada yang mengatakan bahwa eksekusi Ka’ab bin Al-Asyraf itu dilakukan saat Islam kuat, sementara hari ini Islam dalam keadaan lemah. Sehingga yang harusnya kita lakukan adalah menahan diri karena itu lebih mendatangkan maslahat.

Maka perlu diketahui sebenarnya, yang membuat Islam itu lemah adalah sikap kita terhadap musuh yang cenderung takut dan pengecut. Padahal Islam saat ini menjadi agama terbesar di dunia dengan persentase 22.43% dari tujuh miliar manusia di dunia. Banyak, akan tetapi laksana buih, karena terjangkiti penyakit wahn, cinta dunia dan takut mati. Seandainya separuh umat Islam di dunia memiliki keberanian melawan musuh-musuh Islam, niscaya kejayaan Islam akan kembali tegak. Sebenarnya kelemahan bukanlah alasan, sebenarnya kita kuat akan tetapi kita terlanjur pengecut, sehingga begitu takut terhadap musuh.

Jika dibandingkan dengan keadaan Nabi dahulu, seharusnya kita lebih kuat. Karena saat itu Islam baru menguasai kota Madinah, sementara hari ini Islam sudah menjajak ke setiap pelosok negeri.

Adapun yang berkaitan dengan mudarat yang ditimbulkan yang berupa penghalangan terhadap dakwah, intimidasi terhadap umat Islam yang minoritas di Eropa, semakin sulitnya dakwah di Eropa dan lain-lain. Hal ini tidak bisa kita pungkiri, akan tetapi agaknya kita perlu merenungkan ayat :

وما نقموا منهم إلا أن يؤمنوا بالله العزيز الحميد

“Dan tidaklah mereka memusuhi mereka melainkan karena keimanan mereka kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” (Al-Buruj : 8).

Ayat ini bercerita tentang kisah Ashhabul Ukhdud yang beriman kepada Rabbnya Ghulam. Keimanan mereka membuat raja murka sehingga raja memerintahkan kepada prajuritnya untuk membuat parit bernyala api kemudian mereka dilemparkan satu persatu ke dalam api. Hanya dengan beriman kepada Rabbnya Ghulam membuat orang-orang itu dibakar hidup-hidup. Kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa ujian dalam berdakwah, ujian dalam beriman adalah sebuah tuntutan iman. Ujian ini mengandung beban berat, akan tetapi ujian dalam keimanan termasuk sesuatu yang lazim dan lumrah dalam din ini.

Syaikh Abdul Wahhab Khalaf dalam dalam buku beliau yang berjudul Ilmu Ushul Fiqih mengatakan bahwa beban itu terbagi menjadi dua. Pertama adalah beban yang sanggup dipikul oleh manusia secara umum. Beban inilah yang terkandung dalam hukum-hukum syar’i. Beban jenis kedua adalah yang apabila manusia memikulnya dalam waktu yang lama niscaya manusia tidak akan mampu. Taklif syar’i jauh dari beban jenis ini.

Jadi adanya halangan dakwah merupakan sebuah sunnatullah bagi orang yang beriman. Hal ini didukung oleh firman Allah ta’ala :

ولن ترضى عنك اليهود ولا النصرى حتى تتبع ملتهم

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan ridha terhadapmu hingga kamu mengikuti ajaran mereka.” (Al-Baqarah: 120).

Ayat ini menegaskan permusuhan abadi antara keislaman dan kekufuran. Jalan kekafiran akan senantiasa memberikan gangguan, rayuan dan hasutan kepada umat Islam untuk meninggalkan agama mereka.

Jalan dakwah Islam ini bukanlah jalan yang dipenuhi oleh bunga dengan taman di kanan kiri, akan tetapi jalan yang penuh onak dan duri, yang sudah ditempuh oleh pendahulu kita. Kita masih ingat bagaimana siksaan yang diterima oleh keluarga Yasir, bagaimana Bilal bin Rabah dihimpit batu besar di teriknya matahari. Inilah sunatullah dalam beragama. Memang hal-hal tadi secara kasat mata adalah mudharat akan tetapi maslahat yang ada di balik itu semua sanggup mengalahkan mudharat tersebut.

Sungguh merupakan salah kaprah kalau kita memahami bahwa beragama ini aman-aman dan santai-santai saja. Dalam agama ini ada yang namanya syariat jihad yang secara kasat mata mungkin mafsadat, karena dengan berjihad harta dan jiwa terkorbankan. Allah ta’ala berfirman :

كتب عليكم القتال و هو كره لكم و عسى أن تكرهوا شيئا وهو خير لكم و عسى أن تحبوا شيئا وهو شر لك

“Dan diwajibkan atas kalian berjihad dan jihad itu tidak kalian sukai. Dan bisa saja kalian membenci sesuatu padahal baik bagi kalian. Dan bisa saja kalian mencintai sesuatu dan hal itu buruk bagi kalian…” (Al-Baqarah: 216).

Ayat di atas menjelaskan kewajiban jihad yang sebenarnya tidak disukai oleh fitrah manusia, akan tetapi diwajibkan oleh Allah ta’ala, karena ada maslahat yang terkandung dalam jihad tersebut.

Contoh lain adalah bagaimana Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dengan gagah berani menghancurkan berhala-berhala kaumnya. Secara akal apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim adalah “bunuh diri”. Bayangkan, seorang diri menghancurkan berhala-berhala kaumnya. Hal ini terbukti dengan dibakarnya Ibrahim. Apakah penghancuran yang dilakukan oleh Ibrahim sebuah hal yang terlarang karena menimbulkan mafsadat? Jawabannya tentu tidak, bahkan apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim diabadikan dalam Al-Qur’an sebagai bentuk pengingkaran terhadap kesyirikan.

Penutup

Sebagian orang sering menjadikan akal dan pikirannya dalam menghukumi kemaslahatan. Padahal dalam Islam, secara garis besar maslahat itu dibagi menjadi tiga:
Maslahat Mu’tabarah, yaitu maslahat yang diakui oleh syariat sebagai maslahat. Maslahat jenis ini adalah maslahat yang kemaslahatannya didasarkan kepada dalil-dalil syar’i. Maka bisa disimpulkan setiap perintah atau larangan syar’i mengandung maslahat. Shalat, zakat, puasa jihad, dilarangnya khamr, judi dan hal-hal lainnya. Semuanya itu sisi kemaslahatannya diakui oleh syariat.
Maslahat Mulghah, yaitu maslahat yang sisi kemaslahatannya tidak diakui oleh syariat. Sesuatu yang mengandung unsur maslahat akan tetapi unsur maslahatnya terkalahkan oleh mudharat yang ditimbulkan. Seperti maslahat yang ada pada khamr. Khamr memiliki maslahat di antaranya adalah mampu memberikan kehangatan tubuh, akan tetapi juga memiliki mudarat lebih besar dari maslahat yang ada, sehingga dilarang oleh syariat.
Maslahat Mursalah, para ulama ushul mengatakan bahwa maslahat mursalah adalah maslahat yang secara eksplisit tidak disebutkan oleh syariat, dan juga tidak dilarang oleh syariat. Dan untuk maslahat jenis ini sebagian ulama mengingkarinya, sementara sebagian yang lain mengakuinya akan tetapi memberikan syarat-syarat tertentu.

Kembali ke kasus Charlie Hebdo, perkara pertama kali yang perlu dilakukan adalah melihat kasus ini dengan dalil syar’i. Kalau ada dalil syar’inya, berarti sisi kemaslahatannya diakui oleh syariat dan ditetapkan sebagi sebuah maslahat. Oleh karena itu, ketika syariat sudah menetapkan suatu perkara sebagai maslahat, maka tidak boleh lagi bagi akal dan khayalan-khayalan manusia untuk menganulirnya. Wallahu a’lam.

Penulis: Miftahul Ihsan, Lc.
Editor: Agus Abdullah

COMMENTS

Name

#indonesiatanpajil,4,afghanistan,158,afrika,54,agama,303,agenda acara,3,ahmadiyah,3,ajzerbaijan,1,Aksi Gema Pembebasan Soloraya tolak RUU Pendidikan 7 May 2012,1,al islam,178,aljazair,6,amerika,628,analisi,1,analisis,330,analisisjihad,69,arab saudi,91,argentina,1,asean,1,asia,1,australia,51,austria,3,azerbaijan,1,bahrain,4,bangladesh,16,belanda,23,belgia,3,berita,618,beritanasional,1973,bisnisdanekonomi,39,bolivia,1,brasil,5,brunei,15,budaya,25,buletin islam underground noname zine,2,bulgaria,1,ceko,3,chechnya,8,china,80,cina,1,contact,1,democrazy,40,denmark,5,detik2hancurkapitalisme,77,disclaimer,1,diskusi,6,dubai,9,ekonomi,488,eropa,51,ethiopia,2,event,35,faeture,3,feature,4517,featured,13,filipina,28,focus,10,Foto : Pasukan Israel (huffington post),1,Foto-foto Aksi Sebar Flyer #IndonesiaTanpaJIL di Car Free Day Solo,1,galeri,45,ghana,1,guatemala,1,guyana,1,hacker,6,halal,16,healthnews,33,hikmah,8,hukum,412,india,29,informasi,58,inggris,171,intelijen,2,internasional,3748,interview,26,irak,122,iran,61,irlandia,3,islamichistory,79,islamophobia,2,islandia,1,israel,96,italia,16,jepang,8,jerman,35,kamboja,3,kamerun,1,kanada,14,kashmir,1,kaukasus,2,kazakhstan,4,kenya,10,kesehatan,24,khilafahbangkit,33,khutbahjumat,2,kiamat,1,kirgistan,1,kolombia,4,komunitas,6,konspirasi,86,korea,6,kosovo,1,kristologi,1,kuba,1,kuwait,6,laporankhusus,4,lebanon,13,libanon,4,liberal,6,liberia,1,libya,28,malaysia,33,mali,24,maroko,7,media,140,meksiko,1,mesir,244,minoritas,1,motivainspira,4,movie,1,mujahidin,439,muslimah,84,myanmar,104,nafsiyah,73,nasional,1,nigeria,14,norwegia,12,olahraga,1,opini,222,pakistan,69,palestina,511,papua,1,pendidikan,40,pengetahuan,70,perancis,102,perjalanan,32,polandia,1,politik,617,poster propaganda,2,praha,1,press release,135,qatar,8,resensi,17,review,141,rusia,83,sejarah,13,senegal,1,singapura,5,skotlandia,1,slovakia,1,somalia,63,sosial,1186,sosok,43,spanyol,13,spionase,1,srilanka,8,sudan,8,suriah,441,swedia,7,swiss,5,syariah,3,syiah,4,Tafsir,1,taiwan,1,tajikistan,4,takziyah,1,technews,51,technews',1,teknologi,80,thailand,26,timor leste,1,timur tengah,3,transkrip,32,tsaqofah,151,tunisia,25,turki,86,ukraina,3,uruguay,2,uzbekistan,8,vatikan,8,venezuela,4,video,361,wasiat,14,wawancara,89,yahudi,7,yaman,75,yordania,29,yunani,4,zimbabwe,1,zionist,4,
ltr
item
ResistNews Blog: Maslahat Hukuman Mati bagi Penghina Nabi
Maslahat Hukuman Mati bagi Penghina Nabi
http://4.bp.blogspot.com/-sRP-149qOWM/VPmwN7lDsGI/AAAAAAAAFYE/3RcZ7XL79Rs/s1600/HukumanMati.jpg
http://4.bp.blogspot.com/-sRP-149qOWM/VPmwN7lDsGI/AAAAAAAAFYE/3RcZ7XL79Rs/s72-c/HukumanMati.jpg
ResistNews Blog
http://blog.resistnews.web.id/2015/03/maslahat-hukuman-mati-bagi-penghina-nabi.html
http://blog.resistnews.web.id/
http://blog.resistnews.web.id/
http://blog.resistnews.web.id/2015/03/maslahat-hukuman-mati-bagi-penghina-nabi.html
true
1507099621614207927
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy