MIUMI: Pembacaan Al-Quran dengan Langgam Jawa Tak Relevan dengan Kemajuan Umat


+ResistNews Blog - Pengurus Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Adnin Armas, menilai langkah Menteri Agama yang mendorong pembacaan Al-Quran dengan langgam Jawa tidaklah tepat. Pembacaan AL-Quran memakai langgam Jawa tidak menyentuh esensi dalam perkembangan dakwah di Indonesia.

“Substansinya keliru itu, jika membumikan Islam dengan cara seperti itu,” katanya kepada Kiblat.net pada Jumat (22/5/2015).

Menurut Adnin, problem yang dihadapi umat Islam cukup banyak di era globalisasi ini. Pembacaan Al-Quran dengan tembang Jawa, dinilai tidak memberi solusi atas permasalahan umat yang mendesak untuk diselesaikan.

“Apakah dengan membaca Al-Quran pakai langgam Jawa, umat Islam akan maju berkembang? Bisa berkompetisi di era global? Pertanyaan seperti itu tidak terjawab dengan baca Al-Qur’an pakai langgam Jawa, tidak ada relevansinya dengan kemajuan umat, ” terangnya.

Jadi, lanjut Adnin, tidak aneh jika masyarakat awam pun akhirnya rame-rame mengkritisi pemerintah dengan pertanyaan apakah lagu Indonesia Raya boleh dibawakan dengan irama dangdut dalam acara resmi kenegaraan.

“Apa betul baca al-Qur’an jadi ikut-ikutan semua budaya? Baca Al-Quran itu harus tartil, harus sesuai panjang pendeknya,” ujarnya.

Adnin mengaku prihatin dengan peristiwa pembacaan Al-Quran dengan langgam Jawa tersebut. Menurutnya, acara tersebut hanya ingin mencari kepopuleran.

“Itu hanya khalif tu’rof (berbeda untuk dikenal), saya berharap ada orang yang menyanyikan Indonesia raya dengan dangdutan di acara resmi. Biar mereka merasakan bagaimana al-Qur’an diperlakukan seperti itu,” tandas Peneliti Institute For the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) itu. [kiblat.net/ +ResistNews Blog ]

No comments

Post a Comment

Home
loading...