Bela Muslim Rohingya, Mantan Pejabat NLD Diganjar Penjara



+ResistNews Blog - U Htin Lin Oo menebar senyum ke semua orang di ruang sidang setelah Hakim U Lin Min Tun, Rabu (3/6), memvonisnya dua tahun penjara dan hukuman kerja paksa baginya.

Hakim Min Tun mengatakan Lin Oo, mantan pejabat Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD), bersalah karena menyerang Ma Ba Tha Sayadaw (Asosiasi Biksu Nasionalis dan penggerak pembantaian massal Muslim Rohingya) lewat kritik-kritik kerasnya.

Namun hakim membebaskannya dari tuduhkan kedua, yaitu sengaja melukai perasaan keagamaan. Namun Lin Oo juga telah membantah tuduhan itu.

“Saya memenangkan perkara ini,” ujarnya kepada wartawan. “Meski saya dikirim ke penjara dan menjalani kerja paksa, saya tidak akan pernah menyesal karena telah melakukannya.”

Kepada pendukungnya, Lin Oo berjanji akan terus berbicara setelah keluar dari penjara. “Aku menyeru kepada Ma Ba Tha Sayadaw untuk hidup dalam disiplin biksu, dengan tidak memicu kekerasan terhadap minoritas Muslim Rohingya.”

Myanmar Times menulis kelompok hak asasi manusia (HAM) mengecam pemenjaraan Lin Oo. Dari Jenewa, kantor HAM PBB mendesak pemerintah Myanmar membebaskan Lin Oo tanpa syarat, atau berisiko menciptakan generasi baru tahanan politik.

“Myanmar memenjarakan orang yang berani mempertanyakan penyalah-gunaan dan memanipulasi agama untuk tindakan ekstrem dan menghasut pembantaian Muslim Rohingya,” demikian pernyataan kantor HAM PBB.

Lin Oo tak tahan melihat peraih Nobel Perdamaian itu diam, ketika biksu memanipulasi agama untuk menghasut kebencian, dan memicu kekerasan terhadap Muslim Rohingya.

Ia berbicara keras, membuat telinga para biksu ‘pembunuh’ memerah. Aparat kepolisian menangkapnya dan menjatuhkan tuduhan. NLD, tentu saja dengan sepengetahuan Aung San Suu Kyi, memecatnya.

“Ini adalah indikasi menyedihkan,” ujar Rupert Abbot, direktur riset Amnesti Internasional. untk Asia Tenggara dan Pasifik.

U Thein Than Oo, pengacara Lin Oo, mengatakan hakim ditekan selama persidangan. Namun Hakim Min Tun mengatakan; “Tidak ada yang menekan saya. Saya membuat keputusan, karena pelanggaran itu terbukti.”

Di London, Burma Campaign UK (kelompok warga Myanmar di Inggris) mengutuk putusan itu dan meminta Menlu Inggris Philip Hammond menuntut pembebasan Lin Oo.

“Lin Oo mengkritik penggunaan Buddhisme untuk mempromosikan diskriminasi dan kebencian,” ujar pernyataan Burma Campaign UK. (mt/in/lasdipo/ +ResistNews Blog )

No comments

Post a Comment

Home
loading...