Strategi Menjalankan Pemerintahan di Wilayah Konflik


Muqoddimah

Alhamdulillah, was shalatu was salaamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala ‘Aalihi wa shahbihi wa man waalah… amma ba’du,

Sebelum ini saya telah menulis kajian tentang tingkat persiapan fisik dari salah satu gerakan Islam yang (untuk zaman sekarang) menurut kami benar-benar tegak di atas perintah Allah dan besar kemungkinan pertolongan Allah akan turun kepadanya.

Kajian itu mengupas tentang ide faksi tersebut dalam mengeluarkan umat Islam dari kehinaan mereka selama ini dan agar mereka kembali memimpin umat manusia kepada petunjuk Islam dan jalan keselamatan. Ide itu lalu kita bandingkan dengan banyaknya konsep kelompok-kelompok perjuangan Islam lain yang membuat kalangan aktifis muda kebingungan.

Banyak para aktifis muda memilih cara perjuangan tertentu berdasarkan kecenderungannya terhadap suatu pekerjaan atau menyesuaikan diri dengan kemauan hawa nafsu dan mencari enaknya saja. Yang jelas, sebagian mereka kebingungan dengan banyaknya ide penyelesaian suatu masalah yang masalah itu sebenarnya telah ada solusi penangannya menurut nash-nash syar’i kalau mereka mau memperhatikan.

Di antara isi kajian tersebut adalah sebagai berikut:

“Dari semua aliran gerakan Islam, tidak ada yang menuangkan ide perjuangannya ke dalam bentuk tulisan kecuali lima gerakan saja. Setelah kita sisihkan gerakan dakwah dan tabligh, salafiyah-tashfiyah-tarbiyah (baca: salafi-sufi), salafi-pemerintah, dan gerakan-gerakan serupa lainnnya, kita akan sampai kepada kesimpulan bahwa pergerakan yang mencanangkan konsep perjuangan riil secara tertulis dan layak dikaji bersama ada lima kelompok:
  1. Gerakan Salafi-Jihadi.
  2. Gerakan Salafi-Shahwah yang dimotori Syaikh Salman Al-Audah dan Safar al-Hawali.
  3. Gerakan IM pusat yang telah tersebar di seluruh dunia.
  4. Gerakan IM ala Hasan At-Turabi.
  5. Gerakan Jihad Sya’bi (pro-rakyat), contoh: Organisasi Hamas, MILF dan lain-lain.

Mengenai konsep salafi-shahwah yang belakangan ini lebih menitik beratkan kepada pembentukan lembaga-lembaga tertentu, maka dalam hampir semua aspek dapat dikatakan memiliki kemiripan dengan gerakan IM. Tetapi satu yang ingin saya tegaskan, gerakan itu tidak akan pernah melewati fase pertama dari ide perjuangannya walaupun telah menghabiskan waktu beribu-ribu tahun; sebab banyak sekali sunah kauniyah (dan syar’iyyah-nya juga) yang ia selisihi, akibatnya mereka seperti berputar-putar dalam lingkaran kosong dan hanya menjadi bahan permainan kaum kafir, thaghut dan orang-orang munafik.

Bedanya, salafi-shahwah berusaha secara ketat menjalankan langkah perjuangannya persis seperti apa yang tertulis secara teori (Itu berlangsung hingga terjadilah serangan 11 September, sejak itu mereka mengoreksi banyak sekali teori yang mereka gagas sebelumnya, sebelum akhirnya mereka mengikuti jejak para pendahulunya dari orang-orang IM).

Adapun gerakan IM, mereka menuangkan konsep mereka hanya sebatas tulisan,sedangkan pada tingkatan eksekusi di lapangan mereka menjalankan proyek yang bid’ah (proyek yang masih kental dengan nuansa sekulerisme). Dalam menjalankan proyek perjuangan itu mereka menggalang dukungan para pemuda di tingkat akar rumput dengan menawarkan konsep perjuangan tertulis dan slogan-slogan menipu, sampai-sampai mereka tidak merasa risih meneriakkan slogan: al-jihad sabiluna, al-mautu fi sabilillah asmaa amaaniinaa ! Bahkan mereka terang-terangan pernah menyatakan: Kita harakah bermanhaj salaf ! padahal sebenarnya mereka memakai konsep pemikiran sufi, seperti yang mereka tegaskan sendiri.

Adapun gerakan salafi-jihadi, menurut saya telah meletakkan konsep dan tujuan perjuangan yang komperehensif mengikuti tuntutan sunah syar’iyyah maupun kauniyah. Tetapi walaupun manhaj mereka adalah manhaj rabbani , para pelakunya tetaplah manusia biasa yang juga memiliki kekurangan dan ketidak sempurnaan, mereka terkena hukum-hukum sunah kauniyah seperti manusia lainnya, mereka bisa terjerumus dalam kesalahan ketika menjalankan perjuangannya sebagaimana yang juga terjadi pada generasi salaf, dan kemungkinan besar kesalahan mereka lebih banyak karena generasi salaf adalah generasi terbaik tanpa diragukan lagi. Mengenai tema ini, saya anjurkan pembaca membaca tulisan Syaikh Umar Mahmud Abu Umar (Abu Qotadah) yang menurut saya cukup baik dan relevan dengan realitas kekinian.

Saya katakan, meskipun sebagai manusia mereka punya kekurangan dan hukum kauniyah Allah berlaku atas mereka, hanyasaja dalam menjalankan idenya mereka konsisten dengan apa yang tertulis dalam khithah perjuangan sesuai sunatullah yangkauniyah maupun syar ’iyyah yang shahih. Bahkan seringkali mereka mendapat pertolongan dan penjagaan dari Allah sehingga mereka mempercepat langkah di beberapa tahapan, mereka senantiasa terlibat konfrontasi melawan musuh-musuh mereka, konfrontasi yang serupa dengan konfrontasi para rasul melawan kaum kafir dan tirani, bahkan sebetulnya konfrontasi mereka adalah lanjutan dari konfrontasi yang diwariskan para rasul.

Mengenai gerakan IM ala Al-Turabi (yang tadinya menginduk kepada IM pusat), gerakan ini sebenarnya sudah memenuhi sunnah-sunah kauniyah sehingga mereka berhasil mendirikan sebuah negara/daulah (Daulah Omar Basyir-Turabi, terlepas dari ketidak harmonisan hubungan mereka berdua belakangan ini). Tetapi ada perkara-perkara syar’i yang tidak mereka ketahui, bahkan sebagian lagi mereka selewengkan, sehingga Daulah tersebut sebenarnya tak jauh beda dengan negara sekuler, nilai-nilai Islam di dalamnya hanya berfungsi sebagai alat tawar menawar saja. Dan penjabaran tentang gerakan ini sangatlah panjang jika diteruskan.

Adapun gerakan jihad-sya’bi (gerakan Hamas dan Jihad Islam di Palestina), Anda bisa memahami arah perjuangannya melalui keempat gerakan yang telah kami sebutkan sebelumnya. Yang pada intinya, cita-cita perjuangan mereka hampir sama dengan gerakan salafi-jihadi, hanya saja strategi politik yang mereka pakai telah tercampuri manhaj IM, baik pusat maupun IM-Turabi. Ditambah lagi, di saat menjalankan proses tarbiyah mereka kurang menanamkan nilai-nilai keilmuan yang benar di kalangan kader-kadernya, sehingga mereka rentan terperangkap dalam salah satu dari dua akibat:

Pertama, buah dari jihad mereka di akhir nanti akan dipetik dan jatuh ke tangan kaum sekuler-nasionalis murtaddin. Kedua, mereka berhasil membangun sebuah negara namun tak jauh bedanya dengan Daulah ala Omar Basyir-Turabi di Sudan. Penjabaran tentang gerakan ini sangat panjang jika mau diurai.”

(Selesai kutipan dari kajian tersebut).

Saya menulis kajian itu, saat itu saya katakan bahwa saya sedang menyelesaikan riset yang akan mengurai benang kusut dari poin-poin pembahasan di dalamnya. Dalam riset itu, saya berusaha menyimpulkan garis besar cita-cita perjuangan ahli tauhid wal jihad melalui publikasi dan materi yang mereka rilis sejak lama dan diketahui oleh siapa saja yang mengikuti perkembangan mereka. Di situ juga kita kupas ide-ide dari harakah Islam yang lain. Semoga Allah senantiasa mengkaruniakan kepada kita keikhlasan dan sikap adil, serta mengampuni kesalahan-kesalahan kita semua.

Riset yang berjudul “Idarah tawahusy: akhtar marhalatin satamurru biha al-ummah” (Pemerintahan di wilayah konflik: fase paling krusial yang akan dilalui umat Islam) ini hanyalah penjelasan yang sifatnya umum, tidak mendetail. Teknis detail dari keumuman itu kami serahkan kepada dua fihak; pertama, mereka yang fokus meneliti masalah-masalah yang dikaji dalam tulisan ini. Kedua, para pemegang kebijakan (qadah) di lapangan yang nantinya benar-benar akan menjalankan kontrol kekuasaan di wilayah-wilayah yang dikuasai oleh idarah tawahusy(pemerintahan di wilayah konflik). Kalaulah dalam tulisan ini nanti ada beberapa masalah yang diperinci, maka itu semata-mata karena pentingnya masalah tersebut atau sebagai contoh saja agar lebih mudah dimengerti.

Idarah tawahusy adalah fase paling krusial yang akan dilewati umat Islam. Jika kita berhasil mengendalikannya dengan baik, dengan izin Allah itu akan menjadi jembatan yang menghantarkan menuju tegaknya Daulah Islam yang telah lama kita nanti sejak runtuhnya khilafah. Tetapi jika toh kita gagal -semoga Allah Melindungi kita darinya- maka bukan berarti semuanya telah berakhir. Hanya saja, kegagalan ini akan mengakibatkan situasi kacau (tawah-husy) yang kita lewati itu semakin sulit ! Dan kalaulah situasi kekacauan itu semakin parah akibat kegagalan kita maka bukan berarti fase itu lebih buruk dari fase kita sekarang dan fase sebelum kita (dekade 90-an dan era-era sebelumnya). Seburuk apapun situasi tawah-husy, itu jauh lebih baik daripada hidup stabil tapi di bawah hukum kafir.

(Dikutip dari buku berjudul “Idarah tawahusy: akhtar marhalatin satamurru biha al-ummah”)

No comments

Post a Comment

Home
loading...