Athena, Ibu Kota di Eropa Tanpa Masjid



+ResistNews Blog – Konstitusi Yunani menyebutkan negara melindungi kebebasan beragama, dan setiap pemeluk agama bebas menjalankan ibadahnya. Namun Athena, ibu kota Yunani, adalah satu-satunya ibu kota negara di Eropa yang tidak memiliki tempat ibadah selain untuk Kristen Ortodoks.

Situs worldbulletin melaporkan masjid sempat hadir di Athena beberapa tahun lalu, tapi telah hangus terbakar dua tahun lalu dan lenyap. Seperti di Italia, 300 ribu Muslim di Yunani harus shalat Jumat di garasi, ruang bawah tanah, dan tempat-tempat darurat.

Peraturan Yunani menyebutkan mengubah tempat darurat sebagai sarana ibadah melanggar hukum, tapi Muslim di Yunani tidak punya pilihan selain harus melakukan hal itu untuk melaksanakan shalat Jamaah.

Sejak krisis finansial sejak 2008, tempat ibadah ilegal agama pun menjadi sasaran kekerasan. Partai sayap kanan Golden Dawn memicu kekerasan terhadap kelompok Muslim dan pemeluk agama lain. Akibatnya, tidak ada Kaum Muslimin yang berani membangun masjid.

Sementara itu dalam salah satu insiden lain, sekitar 100 pendukung partai sayap kiri memprotes penggunaan sebuah tempat darurat sebagai masjid dan mengancam akan membantai jamaahnya.

Sejak 2012, menurut data pemerintah Yunani, terjadi 800 serangan terhadap Muslim. Salah satu yang paling fatal adalah serangan yang menewaskan Shahzad Luqman, Muslim asal Pakistan.

Penyerangnya adalah sekelompok anggota partai sayap kiri Golden Dawn. Pemerintah Yunani bertindak keras, dengan memenjarakan semua penyerang seumur hidup. Namun kekerasan dan kebencian terhadap orang Islam tidak berhenti sampai di situ.

Anggota Golden Dawn secara aktif menyatakan keberatan akan dibangunnya masjid, dan pandangannya didukung pula oleh otoritas Gereja Ortodoks Yunani.

Uskup Seraphim mengatakan Yunani harus melestarikan identitasnya. Selama lima abad Yunani berada di bawah kekuasaan Turki Ottoman, dan mengijinkan pembangunan masjid akan sangat melukai para ‘pahlawan’ mereka.

Muslim dan pemeluk agama lain juga tidak memiliki pemakaman. Jadi, jika ada Muslim di Athena meninggal, keluarganya harus membawa jenazahnya kemebali ke negaranya.

Atau jika kebetulan yang meninggal adalah orang Yunani yang memeluk Islam, keluarganya harus memakamkannya di Thrasia Barat — 800 kilometer dari Athena.

Hanya di Thrasia Barat terdapat banyak pemakaman Muslim, tapi dengan harga tanah yang sangat mahal.

Kepada Today Zaman, Imam Abdelrahim Abdel-Sayed di Athena mengatakan; “Saya bisa mengatakan kita bisa shalat di mana saja, kendati tidak memiliki masjid, tapi kita tidak bisa mengubur saudara kita yang meninggal dunia di Yunani kecuali di Thrasia Barat.”

Mengubur seorang Muslim di Thrasia Barat bukan sesuatu yang murah. Setidaknya dibutuhkan 1.400 euro. Padahal, umat Islam di Yunani sangat miskin. Mereka adalah orang-orang yang lari dari Perang Balkan dan Muslim Albania.

Kini, Yunani terancam keluar dari euro. Jika itu terjadi, krisis finansial Yunani akan semakin parah dan imigran dipastikan akan meninggalkan negeri itu.

Industri Yunani, termasuk pariwisata, digerakan oleh imigran karena sebagian besar angkatan kerja di negeri itu lebih suka menjadi pegawai negeri. Yunani adalah negeri pegawai negeri, dengan masyarakat yang mementingkan rasa aman dan kepastian jaminan sosial.

Entah sampai kapan pemerintah Yunani akan menolak imigran, mengabaikan hak orang lain, dan menyebut diri negara monokultur. (wb/ty/inilah/lasdipo/ +ResistNews Blog )

No comments

Post a Comment

Home
loading...