Archive by date

Solusi Tuntas Mengatasi Bencana Asap

item-thumbnail
[Al-Islam edisi 778, 17 Muharram 1437 H – 30 Oktober 2015 M]

Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sebaran asap dari kebakaran hutan dan lahan di Sumatera dan Kalimantan terus meluas. Berdasarkan pantauan satelit Himawari dari BMKG pada Ahad (25/10) pukul 08.30 WIB terdeteksi lebih dari tiga perempat wilayah Indonesia tertutup asap (Bijaks.net, 26/10).

Jumlah penderita Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA) juga makin banyak. Data BNPB, hingga 23 Oktober 2015, sebanyak 900.862 jiwa warga di Sumatera dan Kalimantan telah terpapar serangan ISPA.

Menurut peneliti Center for International Forestry Research (CIFOR), Herry Purnomo (BBC Indonesia, 27/10), dampak ekonomi akibat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia diperkirakan mencapai lebih dari Rp 200 trilliun. Hitungan itu didasarkan pada angka kerugian pada tahun 1997 ditambah dengan kerugian yang dialami Malaysia dan Singapura. Hitungan itu masih sangat kasar dilihat dari kerugian ekonomi, tanaman yang terbakar, air yang tercemar, emisi, korban jiwa dan juga penerbangan.

Para Kapitalis Rakus

Kebakaran hutan dan lahan yang terus berulang tiap tahun pada dasarnya akibat dari kerakusan para kapitalis lokal, nasional bahkan global. Kerakusan itu bersekongkol dengan nafsu jabatan dan kekuasaan.

Peneliti CIFOR, Herry Purnomo, mengungkapkan (Rappler.com, 4/9/2015), “Kebakaran hutan adalah kejahatan terorganisasi karena lebih dari 90% disebabkan manusia atau sengaja dibakar. Tujuannya, membuka lahan perkebunan.”

Menurut Herry Purnomo, pembakaran hutan merupakan cara yang paling murah untuk mengubah lahan hutan menjadi kebun kelapa sawit sekaligus mendongkrak harga lahan. Biaya lahan yang dibakar hanya $10-20 perhektar, sementara lahan yang dibersihkan secara mekanis membutuhkan $200 perhektar (BBC Indonesia, 24/9).

Di luar masyarakat yang menderita kerugian akibat kabut asap, sekelompok orang justru menikmati hasil dari kebakaran hutan. Mereka adalah orang pengejar keuntungan ekonomi dari pembakaran seperti kelompok tani, pengklaim lahan, perantara penjual lahan dan investor sawit. Investor sawit ini adalah para kapitalis tingkat lokal, nasional, regional maupun global; perorangan maupun perusahaan.


Persekongkolan Jahat

Kebakaran lahan dan hutan terjadi terus berulang dan makin rumit di antaranya akibat persekongkolan jahat para kapitalis dengan elit politik, politisi dan penguasa. Indikasinya, setiap kali mendekati pilkadadan pemilu terjadi obral penguasaan lahan. Pengusaan lahan ditengarai dijadikan cara mengumpulkan modal politik dan imbalan kepada para pendukung khususnya para cukong. Hubungan itu juga diisyaratkan dari hasil penelitian tentang ‘ekonomi Politik Kebakaran Hutan dan Lahan’ dari peneliti CIFOR, Herry Purnomo. Hasil penelitian itu mengungkap, kebakaran lahan dan hutan marak terjadi dan berulang setiap kali mendekati pilkada dan pemilu.

Hasil penelitian Herry Purnomo mengungkap fakta dan kesimpulan (BBC Indonesia, 24/10), ada sekitar 20 aktor yang terlibat di lapangan dan mendapat keuntungan ekonomi dari pembakaran hutan dan lahan. Sebagian besar dari jaringan kepentingan dan aktor yang mendapat keuntungan ekonomi ini menyulitkan langkah penegakan hukum. Aksi pemerintah memenjarakan atau menuntut individu serta perusahaan yang diduga membakar lahan tak akan cukup untuk mencegah kabut asap berulang. Kerumitan di lapangan terjadi karena para pelaku pembakar hutan, baik masyarakat maupun kelas-kelas menengah dan perusahaan, selalu berhubungan dengan orang-orang kuat mulai tingkat kabupaten, nasional, bahkan sampai tingkat ASEAN.

pemerintah Gagap, sistem Gagal

Bencana asap ini berulang terjadi tiap tahun sehingga seharusnya sudah bisa diantisipasi dan dicegah oleh pemerintah. Nyatanya, pemerintah tetap saja gagap; tak ada kebijakan dan tindakan cepat dan tanggap serta minim ketegasan.

Hal itu diperparah oleh penanganan kebakaran lahan dan hutan yang masih menggunakan pendekatan sektoral. Penanganannya hanya mengandalkan koordinasi, di antaranya oleh BNPB. Tentu itu tidak bisa maksimal dalam mengerahkan sumberdaya serta untuk melibatkan dan menggerakkan strukturpemerintahan dan semua sektor.

Adanya ego daerah akibat sistem politik dan otonomi daerah yang kebablasan makin menyulitkan. Program yang dicanangkan pemerintah pusat tidak berjalan efektif di daerah. Contohnya, pembangunan sekat kanal. Dana sudah disiapkan melalui pos BNPB hingga Rp 15 miliar, tetapi tak kunjung digunakan dan terkesan dipersulit oleh Pemda. Menteri LHK Siti Nurbaya mengatakan, pihaknya telah berkali-kali mendorong Pemda untuk membangun sekat kanal. “Harusnya sudah sejak 1 Juni dilaksanakan, tetapi Pemda tidak mau…,” ujar Siti (Republika.co.id, 30/8).

Kepemimpinan yang kuat dari seorang kepala negaralah yang bisa mengatasi problem sektoral sehingga semua sektor bergerak bersama, harmonis dan maksimal. Struktur pemerintahan hingga yang terendah juga bisa digerakkan. Semua sumberdaya yang dibutuhkan juga bisa dikerahkan. Sayang, hingga kini hal itu belum terlihat. Penanganan baru dikomandoi oleh Menko Polhukam. Itu pun baru satu minggu ini.

Solusi Total

Solusi total dan tuntas untuk menangani dan mengatasi persoalan ini pada dasarnya ada yang jangka pendek dan jangka panjang. Yang jangka pendek dan segera di antaranya: Pertama, menghentikan kebakaran lahan dan hutan yang menjadi sumber kabut asap. Berbagai cara yang sudah dilakukan seperti water bombing, hujan buatan, pemadaman darat, pembuatan sekat kanal, pembuatan sumur, penyekatan area, dan sebagainya harus terus dilakukan dan digencarkan. Struktur pemerintahan hingga paling bawah mestinya bisa digerakkan. Masyarakat juga bisa digerakkan secara besar-besaran. Untuk itu, mereka bisa diberi honor sebagai pengganti atau kompensasi waktu dan tenaga mereka. Pemilik lahan perorangan dan perusahaan mesti dipaksa ikut memadamkan api secara maksimal.

Kedua, memberikan pelayanan kesehatan dan bantuan kepada korban kabut asap secara gratis dan besar-besaran, sebab jumlah korban sangat besar dan cakupan wilayahnya sangat luas. Untuk itu juga semua struktur dan sumberdaya harus digerakkan. Keterlibatan masyarakat bisa dimaksimalkan. Perlu juga dipikirkan pemberian ganti kerugian kapada masyarakat terdampak.

Dana untuk hal pertama dan kedua ini bisa dikeluarkan dari APBN sampai mencukupi tanpa dibatasi, sebab ini berkaitan dengan nasib rakyat. Dana itu juga bisa ditagihkan kepada pelaku pembakaran danpenguasa lahan baik perorangan maupun perusahaan sebab mereka langsung atau tidak langsung bertanggung jawab atas apa yang terjadi.

Ketiga, penindakan hukum secara tegas terhadap para pelaku pembakaran dan siapa saja yang terlibat. Ini harus dilakukan secara tegas dan tanpa pilih kasih. Bukan hanya yang kecil yang ditindak, tetapi juga yang besar. Selama ini masyarakat melihat, penindakan baru menyentuh yang kecil, sementara yang besar dibiarkan.

Untuk jangka panjang harus diadakan infrastruktur untuk mencegah dan mengatasi kebakaran lahan dan hutan; baik berupa pembuatan kanal, penghutanan kembali, pembuatan sumur sumber hidran, embung, tata ruang dan lahan, termasuk mungkin pembelian pesawat water bombing yang diperlukan.

Lebih dari itu, kebakaran terjadi karena adanya UU dan peraturan yang membenarkan hal itu. Ada pula peraturan yang membenarkan pemberian konsesi sangat luas sampai ratusan ribu hektar kepada swasta. Padahal penguasaan lahan yang sangat luas itu menjadi salah satu akar masalah kebakaran hutan. Selain itu, seperti disinggung di atas, maraknya kebakaran lahan ada kaitannya dengan sistempolitik demokrasi yang sarat biaya. Politisi dan penguasa di antaranya mengumpulkan dana politik dengan pemberian penguasaan lahan. Semua itu harus dicabut dan diganti. Itulah problem sistem dan peraturan perundangan, yang justru menjadi akar masalah kebakaran lahan dan kabut asap. Karena itusistem dan peraturan itu harus dicabut dan diubah.

Wahai Kaum muslim:

Bencana kabut asap hanyalah salah satu problem di antara banyak problem yang melanda bangsa dan negeri ini. Semua ini mestinya membuka mata, pikiran dan hati kita bahwa itu adalah akibat penyimpangan terhadap hukum Allah SWT dalam bentuk penerapan sistem demokrasi dan kapitalismeyang rusak. Karena itu diperlukan solusi total dan tuntas. Caranya tidak lain adalah dengan menggantisistem politik demokrasi dan sistem ekonomi kapitalisme yang menjadi biang masalahnya menjadisistem politik dan sistem ekonomi Islam. Dengan kata lain, solusi total dan tuntasnya adalah dengan kembali ke ketaatan kepada Allah SWT; kembali pada sistem dan hukum Islam dengan menerapkansyariah Islam secara menyeluruh di bawah sistem Khilafah Rasyidah ‘ala minhaj an-nubuwwah.

]ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ[

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah menimpakankepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (TQS ar-Rum [30]: 41).


WalLâh a’lam bi ash-shawâb. []


Komentar al-Islam:

Bersiaplah melihat tagihan listrik membengkak tahun depan. pemerintah dan DPR sepakat memangkas subsidi listrik untuk golongan 450 VA dan 900 VA mulai 1 Januari tahun depan (Kompas.com, 25/10).
  1. Inilah bukti ke sekian bahwa pemerintah bersungguh-sungguh menjalankan liberalisasi energi. Itu artinya, negeri ini makin tenggelam dalam neoliberalisme. Padahal neoliberalisme jadi pangkal problem negeri ini.
  2. Makin total neoliberalisme diterapkan, makin besar beban yang ditimpakan atas rakyat negeri ini.
[hizbut-tahrir.or.id/ +ResistNews Blog ]
loading...
Read more »

Myanmar Tiru Cara Nazi Habisi Muslim Rohingya

item-thumbnail
Rejim militer Myanmar menggunakan cara Nazi dan ketakutan terhadap Islam, atau Islamfobia, untuk memusnahkan muslim Rohingya secara sistematis.

Penyelidikan selama 18 bulan yang dilakukan peneliti Queen Mary University of London mengungkapkan pemerintah, dengan dukunganmiliter di tingkat negara bagian — didukung biksu nasionalis garis keras — mendalangi penghancuran minoritas paling tertindas di negeri itu.

Kepada Sydney Morning Herald, beberapa peneliti mengatakan memiliki bukti yang mengungkapkan betapa penganiayaan terhadap Rohingya, termasuk mendorong mereka ke dalam ghetto, pembantaian sporadis di sejumlah tempat, adalah strategi jangka panjang pemerintah Myanmar untuk mengisolasi, melemahkan, dan akhirnya menghilangkan muslim Rohingya.

Dalam laporan bertajuk Countdown to Annihilation: Genocide in Myanmar, peneliti dari International State Crime Initiative (ISCI) menyimpulkan bahwa teknik dehumanisasi dan stigmatisasi yang digunakan rejim Myanmar nyaris sama dengan yang dipakai Adolf Hitler tahun 1930-an dan Rwanda di awal 1990-an.

Menariknya, peneliti menemukan perlengkapan Nazi; helm dan t-shirt, dalam dokumen resmi Partai Nasional Arakan di negara bagian Rakhine. Salinan Mein Kampt, buku yang ditulis Hitler di penjara dan menjadi manifesto Nazi, dijual di jalan-jalan Rakhine.

Dalam salah satu editorial di majalah resminya, terbitan tahun 2012, Partai Nasional Arakan mengatakan;……dalam rangka bertahan hidup suatu negara, kejahatan terhadap kemanusiaan atau tindakan tidak manusiawi dapat dibenarkan untuk dilakukan.

Dalam editorial lainnya, majalah itu menulis; “Kami akan tercatat dalam sejarah sebagai pengecut jika mewariskan masalah Rohingya ke generasi berikut tanpa berbuat apa pun.”

Profesor Penny Green, direktur (ISCI), mengatakan muslim Rohingya terus melemah dan mengalami trauma di kamp-kamp dan ghetto. Mereka hidup dalam ketakutan, setelah rejim Myanmar secara sistematis mengingkari hak-hak hidup mereka.

Myanmar secara resmi menyebut Rohingya sebagai Bengali, atau orang dari Bangladesh. Sebagian besar Rohingya adalah imigran gelap di tengah 90 persen masyarakat pemeluk Buddha.

Jelang pemilu 8 November, yang dianggap sebagai transisi dari pemerintah militer ke era demokrasi, hak politik muslim Rohingya juga dirampas. Tidak ada partai yang menempatkan muslim sebagai kandidat anggota parlemen, lokal atau nasional.

Terakhir, Liga Nasional untuk demokrasi (NLD) — partai oposisi pimpinan Aung San Suu Kyi — juga menyingkirkan semua muslim dari daftar kandidat. Adalah Aung San Suu Kyi, satu-satunya sosok harapan Rohingya, yang melakukan penyingkiran itu.

NLD takut berhadapan dengan kelompok Buddhis ultra-nasionalis Ma Ba Tha, atau Asosiasi Perlindungan Ras dan Agama.

Amnesti Internasional dan kelompok hak asasi manusia juga telah memperingatakan akan kemungkinan bencana kemanusiaan bagi muslim Rohingya pada pemilu ini. muslim Rohingya yang menyadari bahaya ini sebisa mungkin lari. Terlebih, musim hujan telah berakhir di Teluk Benggala.

Banyak lembaga hak asasi manusia mendokumentasikan penganiayaan panjang Rohingya. Sedangkan Queen Mary University of London menemukan muslim Rohingya sebenarnya menghadapi tahap akhir genosida, namun tidak terlihat jelas di Rakhine.

“Bisa saja semua itu dihentikan, tapi tanpa fakta yang tidak bisa dikonfrontir membuktikan terjadi genosida,” kata Profesor Green.

Temuan ini didukung Tomas Ojea Quintana, pelapor khusus PBB untuk hak asasi di Myanmar antara 2008 sampai 2014. “Pada titik ini, situasi Rohingya di Rakhine tidak dapat dipahami tanpa mempertimbangkan kemungkinan genosida,” ujarnya.

Selama beberapa dekade, ujar Quintana, muslim Rohingya menjadi korban kebrutalan pemerintah. Quintana yakin muslim Rohingya sedang berada pada tahap kehancuran menyeluruh.

INILAHCOM. Bangkok — Rejim militer Myanmar menggunakan cara Nazi dan ketakutan terhadap Islam, atau Islamfobia, untuk memusnahkan muslim Rohingya secara sistematis.

Penyelidikan selama 18 bulan yang dilakukan peneliti Queen Mary University of London mengungkapkanpemerintah, dengan dukungan militer di tingkat negara bagian — didukung biksu nasionalis gerais keras — mendalangi penghancuran minoritas paling tertindas di negeri itu.

Kepada Sydney Morning Herald, beberapa peneliti mengatakan memiliki bukti yang mengungkapkan betapa penganiayaan terhadap Rohingya, termasuk mendorong mereka ke dalam ghetto, pembantaian sporadis di sejumlah tempat, adalah strategi jangka panjang pemerintah Myanmar untuk mengisolasi, melemahkan, dan akhirnya menghilangkan muslim Rohingya.

Dalam laporan bertajuk Countdown to Annihilation: Genocide in Myanmar, peneliti dari International State Crime Initiative (ISCI) menyimpulkan bahwa teknik dehumanisasi dan stigmatisasi yang digunakan rejim Myanmar nyaris sama dengan yang dipakai Adolf Hitler tahun 1930-an dan Rwanda di awal 1990-an.

Menariknya, peneliti menemukan perlengkapan Nazi; helm dan t-shirt, dalam dokumen resmi Partai Nasional Arakan di negara bagian Rakhine. Salinan Mein Kampt, buku yang ditulis Hitler di penjara dan menjadi manifesto Nazi, dijual di jalan-jalan Rakhine.

Dalam salah satu editorial di majalah resminya, terbitan tahun 2012, Partai Nasional Arakan mengatakan;……dalam rangka bertahan hidup suatu negara, kejahatan terhadap kemanusiaan atau tindakan tidak manusiawi dapat dibenarkan untuk dilakukan.

Dalam editorial lainnya, majalah itu menulis; “Kami akan tercatat dalam sejarah sebagai pengecut jika mewariskan masalah Rohingya ke generasi berikut tanpa berbuat apa pun.”

Profesor Penny Green, direktur (ISCI), mengatakan muslim Rohingya terus melemah dan mengalami trauma di kamp-kamp dan ghetto. Mereka hidup dalam ketakutan, setelah rejim Myanmar secara sistematis mengingkari hak-hak hidup mereka.

Myanmar secara resmi menyebut Rohingya sebagai Bengali, atau orang dari Bangladesh. Sebagian besar Rohingya adalah imigran gelap di tengah 90 persen masyarakat pemeluk Buddha.

Jelang pemilu 8 November, yang dianggap sebagai transisi dari pemerintah militer ke era demokrasi, hak politik muslim Rohingya juga dirampas. Tidak ada partai yang menempatkan muslim sebagai kandidat anggota parlemen, lokal atau nasional.

Terakhir, Liga Nasional untuk demokrasi (NLD) — partai oposisi pimpinan Aung San Suu Kyi — juga menyingkirkan semua muslim dari daftar kandidat. Adalah Aung San Suu Kyi, satu-satunya sosok harapan Rohingya, yang melakukan penyingkiran itu.

NLD takut berhadapan dengan kelompok Buddhis ultra-nasionalis Ma Ba Tha, atau Asosiasi Perlindungan Ras dan Agama.

Amnesti Internasional dan kelompok hak asasi manusia juga telah memperingatakan akan kemungkinan bencana kemanusiaan bagi muslim Rohingya pada pemilu ini. muslim Rohingya yang menyadari bahaya ini sebisa mungkin lari. Terlebih, musim hujan telah berakhir di Teluk Benggala.

Banyak lembaga hak asasi manusia mendokumentasikan penganiayaan panjang Rohingya. Sedangkan Queen Mary University of London menemukan muslim Rohingya sebenarnya menghadapi tahap akhir genosida, namun tidak terlihat jelas di Rakhine.

“Bisa saja semua itu dihentikan, tapi tanpa fakta yang tidak bisa dikonfrontir membuktikan terjadi genosida,” kata Profesor Green.

Temuan ini didukung Tomas Ojea Quintana, pelapor khusus PBB untuk hak asasi di Myanmar antara 2008 sampai 2014. “Pada titik ini, situasi Rohingya di Rakhine tidak dapat dipahami tanpa mempertimbangkan kemungkinan genosida,” ujarnya.

Selama beberapa dekade, ujar Quintana, muslim Rohingya menjadi korban kebrutalan pemerintah. Quintana yakin muslim Rohingya sedang berada pada tahap kehancuran menyeluruh. (inilah.com/ +ResistNews Blog )
loading...
Read more »

Mengapa BNPT Bungkam Seribu Bahasa Di Saat Teroris Katolik Beraksi?

item-thumbnail
Siang itu tiba-tiba seluruh pengunjung di Mall Alam Sutera menjerit ketakutan, pasalnya mendadak ada ledakan Bom di siang bolong, tentu saja panik dan takut menghantui setiap pengunjung yang ada.

Meski tidak memakan korban jiwa dan hanya memecahkan kaca toilet tapi hal itu sangat menteror para pengunjung yang datang, kejadian itu pada Kamis (9/7) sekitar pukul 13.20 WIB terjadi di sebuah toilet Mall Alam Sutera.

Penyidik Polda Metro Jaya bersama tim Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri menyatakan bom yang meledak di Mal Alam Sutera Tangerang Banten, mirip dengan bom di ITC Depok Jawa Barat pada beberapa waktu lalu.

"Kita dalami termasuk mencari karakter bom signaturnya," kata Kepala Polda Metro Jaya Inspektur Jenderal Polisi Tito Karnavian, Sabtu (11/7).

Sejak kejadian kali pertama (Bom di Toilet) di Mall Alam Sutera pihak kepolisian, para pengamat, BNPT dan media bernafsu untuk menggiring kasus ini masuk pada isu terorisme. Bahkan dicoba narasi keterkaitan dengan kelompok atau jaringan terorisme tertentu di Indonesia.

Begitu pula di kejadian kali kedua, terorisme sudah menjadi bingkai opini untuk membaca kasus bom Alam Sutera. Di lapangan, aparat dengan cepat bisa menangkap pelakunya dan hasil penyidikannya dibuka ke publik.

Namun, publik akhirnya dikejutkan oleh realitas aktual baru bahwa ternyata pelakunya adalah Leopard Wisnu Kumala (29) alias Leo, seorang etnis Cina dan beragama Katolik. Media akhirnya seperti gagap untuk menata ulang opini, bahkan sebagian pengamat yang sebagian besar memegang pakem metode "framework analisis kultural" juga kelu lidahnya.

Bisa jadi BNPT juga mules perutnya karena teori terorisme yang diusung selama ini kesandung di Alam Sutera. demikian tulis beliau. Kini pelaku Bom Alam Sutera telah tertangkap, pelaku identitas juga sudah jelas hanya saja ada yang berbeda kali ini dengan tindakan yang sering di anggap terorisme selainya.

Dimana dalam kasus ini, media nasional menutup mata dan tokoh tokoh yang mengecam aksi terorisme pun sama bungkam seribu bahasa tiada memberikan komentar yang pedas di media yang ada. Bahkan, Leo mengaku sering melihat video tentang ISIS. Lagi-lagi yang menjadi kambing hitam ISIS, dan si "LEO",bukan teroris.

BNPT tak muncul batang hidungnya, si Asad mbay yang biasa berkali kali muncul di media televisi meski sudah lagi tak punya jabatan, kali ini pun diem tak berkutik.

Bahkan BNPT sibuk sosialisasi mengkampnyekan Penanggulangan Terorisme mengajak kalangan pemuda khususnya yang aktif di dunia maya ikut memerangi terorisme dari para mujahidin dan umat islam.

Padahal dalam kasus kali ini sangat jelas, bahwa Aksi Brutal terorisme Kafir Katolik ini harusnya membuka wacana otak BNPT kalau agama Kristen, Katholik dan lainya juga sangat bisa melakukan tindakan terorisme, sehingga bukan hanya Islam saja yang di hakimi.

Sebelumnya Indonesia Police Watch (IPW) sempat menduga ledakan bom yang terjadi di Mal Alam Sutera Tangerang mirip aksi gerakan radikal baru dari kawasan Xianjiang, Tiongkok. Gerakan ini diduga mulai masuk ke Indonesia. Alasannya karena model ledakannya tidak jauh berbeda.

Namun Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Krishna Murti tidak setuju dengan pernyataan IPW tersebut. Sebab, IPW tidak melakukan penyelidikan seperti pihaknya. Sehingga ia merasa memiliki otoritas resmi untuk menolak klaim IPW.

"Sekarang kalau IPW merilis seperti itu, apakah mereka melakukan penyelidikan? Tidak kan," ujar Krishna di Mapolda Metro Jaya, Jakarta pada Jum'at (30/10).

Masih terngiang di ingatan umat Islam dan tak mungkin terlupa, bila aksi serupa di lakukan oleh kaum Muslimin, yang belum tentu juga dia pelakunya. atau karena sandiwara politik, pasti umat Islam akan di takut takuti dengan berbagai macam.

Keluarganya, temanya, anaknya sampai ke paling privasi pun akan di munculkan di televisi, seperti penggledahan rumah, kamar yang kocar kacir hingga buku buku yang di miliki pun tak lepas dari sorotan mereka

Tapi kali ini mana ada yang mengupas siapa sosok Leopard Wisnu Kumala? mengapa rumahnya tak di geledah? keluarganya tidak di tangkap? teman temanya aman? apakah dia sendiri atau punya gank? mengapa tidak diungkap secara terbuka sebagaimana BNPT mengungkap sebagaimana tindakan terorisme selainnya?

Sungguh ini adalah bukti ketidak keperpihaan para pemegang kekuasaan negeri ini terhadap Islam, dan jelas ini adalah sebuah pembelaan terhadap kaum kufar yang kian hari akan bertindak konyol untuk menghancurkan Islam.[Protonema/bbs/voa-islam/ +ResistNews Blog ]
loading...
Read more »

Presiden Obama : Amerika Serikat Mengirim Pasukan Darat Untuk Memerangi ISIS/Islamic State di Suriah

item-thumbnail
+ResistNews Blog  – Sesudah Rusia melakukan serangan udara secara besar-besara ke kota-kota yang dikuasai oposisi, sekarang Presiden Amerika Barack Obama mengambil keputusan mengerahkan pasukan khusus Amerika di Suriah.

“Amerika akan mengirim pasukan darat, yang akan memerangi kelompok Daulah Islam Irak dan Suriah (ISIS)”, ungkap Obama di Gedung Putih, Jum'at, 30/10/2015.

Mula-mula Amerika Serikat akan mengerahkan "kurang dari 50" pasukan khusus yangn akan membantu kelompok oposisi yang “moderat” sebagai penasehat, kata pejabat Amerika Serikat, sebagai kekuatan utama, sesudah berlangsung pertemuan di Wina, yang ingin mencari jalan solusi politik, Jum'at.

Presiden Barack Obama secara resmi akan mengirim satuan pasukan khusus yang berskala kecil - kurang dari 50 – dan bertugas secara khusus dan akan ditempatkan ke utara Suriah. Di mana mereka akan membantu koordinasi pasukan pasukan darat dan upaya koalisi melawan ISIS," kata seorang pejabat senior Pentagon.

Seorang pejabat pertahanan Amerika mengatakan akan mengirim pesawat tambahan, termasuk F-15, yang digunakan membantu pejuang oposisi, dan ditempatkan di pangkalan udara Incirlik di Turki.

Sumber Pentagon mengatakan, langkah ini diharapkan akan diumumkan pada hari Jumat (kemarin), dan langkah Washington ini mencerminkan strategi yang lebih luas yang bertujuan memperkuat oposisi moderat di Suriah, termasuk Washington mengintensifkan upaya menemukan solusi diplomatik untuk mengakhiri perang yang sudah berlangsung selam empat.

Di Wina berlangsung pembicaraan mencari solusi politik, dan sejumlah negara bertemu di Wina. Diantaranya Amerika, Arab Saudi, Turki, Soviet, dan Iran yang akan membahas upaya mengakhiri konflik di Suriah. (voa-islam.com/ +ResistNews Blog )
loading...
Read more »

Salamuddin Daeng : Melalui APBN 2016, Pemerintah Jokowi Mencekik Rakyat!

item-thumbnail
+ResistNews Blog  - RAPBN 2016 disyahkan oleh DPR menjadi UU APBN 2016, sesudah terjadi perdebatan selama 10 jam oleh anggota DPR. APBN

Namun, menurut Salamuddin Daeng, terjadi perampokan melalui penyertaan modal ke BUMN, penyertaan modal ke lembaga keuangan international, seperti AIIB dan World Bank, untuk tujuan melipatgandakan utang, ungkap Salamuddin, Jum'at, 30/10/2015.

“Di tengah kejatuhan harga komoditas seperti sawit, batubara, minyak, dan sumber daya alam lainnya, para taipan, saudagar, yang di-backup oleh para marsose, bodyguard politik dan intelektual, semakin kelaparan dan kehausan, semakin ganas dan “haus darah segar”. Darah paling segar itu adalah APBN,” ungkap Salamuddin.

Menurut Peniliti Assosiasi Politik dan Ekonomi (AEPI), Salamuddin Daeng, RAPBN 2016 sangat ambisius, naik dari target APBNP 2015. Padahal APBNP sebelumnya tersebut tidak mencapai target. Ini jelas tidak waras bagaikan pungguk merindukan bulan.

“Ambisi ini akan dicapai dengan mencekik rakyat dengan pajak berlipatganda, cukai yg selangit, dan berbagai pungutan yang mencekik leher. Tidak hanya itu, drakula politik akan menjual negara kepada asing dengan mengemis utang luar negeri, menjual BUMN dan menjadikan APBN sebagai proyek bersama antara para taipan, saudagar, yang menguasai negeri bersama sama dengan modal asing,” ungkapnya.

Salamuddin menegaskan, negara yang dipimpin oleh Presiden yang lemah, dengan sistem politik amburadul telah dimanfaatkan oleh para drakula politik yang habitatnya tidak punya nurani terhadap penderitaan rakyat, miskin, menganggur dan menderita berbagai penyakit akibat bencana pembakaran lahan dan asap.

Setahun pemerintahan Jokowi telah menimbulkan malapetka dan "disaster" yang dahsyat atas kehidupan rakyat jelata. Jokowi dengan serta merta membuat asumsi APBN 2016 dengan asumsi yang sangat ambisius, yang akhirnya membebani rakyat jelata dengan berbagi kenaikan harga dan pungutan yang mencekik.

Lebih lanjut, Salamuddin Daeng, mengaakan bahwa pertama kali tujuan negara diubah pemerintah Jokowi menjadi sekedar suatu proyek semata. Bayangkan tujuan negara dalam RAPBN adalah; mempercepat Pembangunan Infrastruktur Untuk Memperkuat Fondasi Pembangunan Yang Berkualitas".

Tujuan negara yang seharusnya mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan rakyat menjadi sekedar proyek bancakan penguasa.

Tanpa panjang lebar RAPBN 2014 langsung membahas proyek proyek bancakan penguasa. Beberapa megaproyek tersebut yakni :

1. Beberapa proyek percepatan pembangunan infrastruktur yang diharapkan dapat mendorong kinerja sektor konstruksi antara lain pembangunan konstruksi pembangkit tenaga listrik 35 GW selama lima tahun

2. Di bidang energi, rasio elektrifikasi diharapkan mencapai 90,15 persen serta tersedianya kapasitas pembangkit sebesar 61,5 giga watt.

3. Infrastruktur tahun 2016 diarahkan antara lain untuk pembangunan 15.000 unit rusun, penyediaan fasilitas untuk rumah swadaya sebanyak 18.000 RT,

Begitulah pemerintahan Jokowi dalam mengatur dan mengelola negara, seperti perusahaan mebel. Tentu, yang paling menikmati berkah pemerintahan Jokowi para "taoke" Cina. Mereka mendapatkan segala proyek dari Jokowi. Sementara itu, bangsanya sendiri tambah mlarat.

(voa-islam.com/ +ResistNews Blog )
loading...
Read more »

Bomber Leopard Runtuhkan Stigma Terorisme Islam

item-thumbnail
LWK (27) tersangka pelaku pengeboman 
Mal Alam Sutera diapit petugas di 
Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (29/10). 
(Repubika/ Wihdan)
+ResistNews Blog - Munculnya sosok Leopard Wisnu Kumala (29) dalam kasus bom Mal Alam Sutera seperti titik balik yang bisa meruntuhkan stigmatisasi terhadap Islam selama ini dalam isu terorisme.

“Leopard seorang dari etnis Cina, beragama Katolik, pandai meracik bom dengan bahan peledak high explossive jenis Triaceton Triperoxide (TATP) kali pertama di Indonesia terjadi,” tegas Direktur Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) Harits Abu Ulya, Jumat (30/10).

Harits merinci, Leopard melakukan empat kali pengeboman di Alam Sutera meski tidak semua meledak. Maka, ujarnya, teror menjadi cara untuk meraih kepentingan oportunisnya.

“Jika konsisten dengan nafsu untuk menarik kasus ini ke isu terorisme maka apa sulitnya untuk menyebut Leopard teroris? Saya pikir, istilah teroris lonewolf (serigala sendirian) adalah tepat,” terang Harits.

Ia pun berasumsi, sosok Leopard yang menganut Katolik membuat aparatur pemerintah dan pemilik media memilih diksi judul pada setiap berita steril dari diksi terorisme.

“Publik juga sudah cerdas. Inilah terorisme di Indonesia, sebuah bangunan terminologi yang memiliki dimensi sarat tendensi, stigma, kepentingan politis, dan ideologis di baliknya,” urai Harits. [republika.co.id/ +ResistNews Blog ]
loading...
Read more »

Mengapa Putin dan Rusia Akan Gagal di Suriah?

item-thumbnail
Moskow secara resmi bergabung dengan perang Suriah pada 30 September, dengan meluncurkan serangan udara di wilayah yang dikuasai oposisi dan membunuh sebagian besar warga sipil dan pejuang oposisi. Selain itu Rusia juga memberikan dukungan udara untuk pasukan rezim Assad, IRGC Iran dan Hizbullat dalam operasi ofensif di Hama, Latakia dan Aleppo. Alih-alih merebut posisi strategis di dataran al Ghab dan pinggiran kota Hama, pasukan rezim Assad menderita kerugian besar dengan hancurnya puluhan kendaraan lapis baja dan banyaknya pasukan yang tewas. Pasukan oposisi Suriah telah meneguhkan posisi untuk memegang garis pertahanan mereka.

Setelah empat minggu intervensi Rusia di Suriah, pasukan rezim Assad tidak mencapai kemajuan strategis meskipun mendapat dukungan udara Rusia habis-habisan. Banyak ahli percaya bahwa pemboman sengit dari angkatan udara Rusia tidak akan mengubah skala kemajuan dalam mendukung rezim Assad, karena kekuatan SAA dan sekutu milisi Syiah telah mulai melemah awal tahun ini.

Arab Saudi tidak akan membiarkan Suriah jatuh di tangan Iran dan Rusia !

Arab Saudi melihat konflik di Suriah sebagai pertempuran eksistensial terhadap Iran, dan tidak akan menerima jatuhnya Suriah ke tangan Iran dan Rusia, sama seperti KSA tidak menerima jika Yaman diambilalih Iran. Tidak akan mudah bagi Saudi untuk membentuk koalisi seperti yang mereka lakukan di Yaman, karena ada negara-negara Arab yang tidak setuju dengan visi Saudi mengenai solusi untuk mengakhiri konflik ini, tetapi mereka akan meningkatkan dukungan militer mereka untuk kelompok oposisi Suriah dalam rangka mengalahkan pasukan Rusia dan Iran

Tentara Pembebasan Suriah menolak bantuan Rusia !

Tentara Pembebasan Suriah (FSA) menolak tawaran Rusia untuk membantu mereka dalam memerangi Daesh dan menghentikan seruan Rusia untuk ikut serta dalam pemilu baru dalam rangka mengakhiri perang Suriah.

“Rusia membom FSA dan faksi oposisi yang lain, dan sekarang ingin bekerja sama dengan kami, sementara mereka tetap berkomitmen untuk mendukung Assad? Kami tidak mengerti Rusia sama sekali! ” Kata Letnan Kolonel Ahmad Saoud, juru bicara Divisi 13 FSA.

Rusia memasuki perang dan memulai kampanye udara di Suriah, dengan mengatakan akan mentargetkan ISIS dan “teroris” lainnya setelah mengatakan bahwa “pemberontak” moderat juga eksis di Suriah. Sebagian besar target Rusia sejauh ini adalah warga sipil dan kelompok-kelompok oposisi, dimana serangan udara lebih dimaksudkan untuk menopang rezim Assad daripada menghancurkan ISIS. Kelompok oposisi Suriah saat ini mulai bersatu dan meningkatkan koordinasi diantara mereka untuk melawan invasi Rusia.

Meningkatnya konflik sektarian !

Pemimpin Barat dan sebagian besar pemimpin Arab mengatakan bahwa Assad telah kehilangan semua legitimasi, Assad juga telah kehilangan dukungan dari mayoritas Arab Sunni Suriah, belum lagi Kurdi dan kelompok minoritas lainnya, untuk menerima pemerintahannya. Bahkan jika Assad entah bagaimana, bisa mengalahkan ISIS dan semua kelompok oposisi Suriah, yang akan menjadi target serangan udara Rusia, ada sedikit alasan untuk berpikir bahwa kekejamannya tidak akan pernah mewujudkan stabilitas di Suriah.

Sejarah intervensi Rusia dalam perang dan konflik penuh kegagalan, mereka telah melakukan intervensi militer di Chechnya pada tahun 1994 yang mengakibatkan kemenangan Chechnya dan penarikan pasukan Rusia dari Chechnya. Juga di Afghanistan pada tahun 1979 dan berakhir dengan menarik diri dari Afghanistan setelah satu dekade pertempuran, yang mengakibatkan kematian 15.000 tentara Soviet, dan perang ini adalah salah satu alasan yang menyebabkan pecahnya Uni Soviet.

Rusia juga akan gagal di Suriah, karena posisi Moskow menentang mayoritas rakyat Suriah yang beragama Islam Sunni, Rusia menjadikan dirinya sebagai musuh Islam sejak Gereja Ortodoks Rusia menyatakan “perang suci” di Suriah, dan kehendak ini mendorong pasukan oposisi Suriah dan Jihadis untuk memberikan perlawanan lebih sengit lagi.

Perang ini kemungkinan akan memperburuk kemarahan terhadap rezim Assad di seluruh wilayah, melipatgandakan angka gerakan jihad Sunni dari seluruh dunia untuk bergabung dengan pejuang oposisi Suriah. Di pihak lain, koalisi Putin-Assad, bergabung dengan Iran dan Hizbullat, yang didominasi oleh Syiah dan non-Sunni lain seperti Kristen, akan memperdalam dinamika sektarian perang di Timur Tengah. Mengingat bahwa Assad merupakan minoritas sektarian di Suriah, semakin sektarian perang, semakin kecil kemungkinan baginya untuk memenangkan perang.

Sumber : Meobserver Diterjemahkan Middle East Update
loading...
Read more »

Saudi Akan Kirim Senjata Anti Pesawat Besar-Besaran Untuk Mujahidin Suriah

item-thumbnail
+ResistNews Blog - Jaringan ElDorar mendapat informasi dari seorang pemimpin mujahidin di Hama -yang meminta identitasnya dirahasiakan- bahwa faksi revolusioner sedang mengharapkan kedatangan rudal anti pesawat selama minggu pertama bulan depan (November),

Beliau menambahkan bahwa proses pengiriman rudal akan terbatas pada beberapa faksi saja, namun ia tidak menyebutkan faksi mana yang akan mendapatkannya.

Dalam konteks yang sama, sumber dari media Saudi,Jamal Khashoggi (yang dekat dengan pejabat pengambilan keputusan di “lingkaran” Kerajaan Saudi Arabia) mengatakan bahwa ada upaya untuk mencabut berbagai larangan atas rudal anti pesawat, sehingga rudal anti pesawat dapat dikirim ke oposisi di Suriah, seperti halnya di anti tank roket dari jenis TOW.

Penasehat duta besar Arab Saudi di Inggris,Obaid Zaky, menekankan bahwa Arab Saudi dalam proses penyelesaian kesepakatan untuk sistem pertahanan udara dalam konteks peningkatan dukungan untuk oposisi di Suriah, dimana oposisi dapat menikmati bantuan yang besar.

Sementara itu wakil menteri luar negeri Rusia, mengisyaratkan dalam sebuah pernyataan adanya upaya oleh negara-negara regional (tidak disebutkan nama negaranya) untuk memberikan sistem pertahanan udara (terhadap angkatan udara Rusia) dari apa yang ia digambarkan sebagai “teroris”-yang mengacu kepada oposisi di Suriah. [antiliberalnews.com/ +ResistNews Blog ]
loading...
Read more »

Arab Saudi sediakan toko roti bergerak untuk pengungsi Suriah

item-thumbnail
Kampanye Nasional Saudi untuk Mendukung 
Saudara di Suriah (SNCSBS) telah 
menciptakan toko roti bergerak untuk 
meningkatkan upaya dalam membantu pengungsi 
Suriah di Turki yang menderita dampak perang.
+ResistNews Blog - Kampanye Nasional Saudi untuk Mendukung Saudara di Suriah (SNCSBS) telah menciptakan toko roti bergerak untuk meningkatkan upaya dalam membantu pengungsi Suriah di Turki yang menderita dampak perang, sebagaimana dilansir oleh Arab News, Ahad (25/10/2015).

Melalui toko roti bergerak ini, kelompok yang didukung Saudi ini mengharapkan bisa menyediakan sebanyak 60.000 roti per hari.

Roti adalah salah satu bahan makanan pokok di antara pengungsi.

Dr Badr Abdel Rahman Al-Samhan, direktur regional SNCSBS, mengatakan bahwa peluncuran toko roti bergerak itu mengalami sukses besar dan mendapat sambutan yang baik.

Toko roti bergerak ini berjalan tanpa hambatan dan disambut oleh pengungsi Suriah yang membutuhkan makanan, ungkap Al-Samhan.

Para pengungsi Suriah menyatakan terima kasihnya kepada SNCSBS dan pemimpin Kerajaan Ara Saudi serta orang-orang Arab atas bantuan roti ini, dan juga atas semua bantuan yang telah mereka terima sebelumnya.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Penjaga Dua Masjid Suci Raja Salman, Putra Mahkota Muhammad bin Naif dan Wakil Putra Mahkota Muhammad bin Salman,” kata seorang pengungsi Suriah.

Para anggota Asosiasi Kedokteran Ekspatriat Suriah (SEMA) di Inggris juga mengungkapkan rasa terima kasih mereka kepada pemimpin Saudi.

“Sejumlah organisasi pemerintah Saudi telah menambah bantuan untuk warga Suriah yang menderita dampak buruk perang, ” anggota SEMA di Riyadh mengatakan kepada Arab News.

SNCSBS melanjutkan proyek bantuannya di stasiun 11 dan 12, mencapai sejumlah daerah yang berdekatan dengan perbatasan antara Suriah dan Turki, dan mendistribusikan makanan dan ransum makanan untuk keluarga pengungsi Suriah di kota Sidon di Lebanon selatan.

(arrahmah.com+ResistNews Blog )
loading...
Read more »

26 hari kampanye serangan udara Rusia, dan kekalahan pahit yang diderita pasukan rezim Asad - See more at: http://www.arrahmah.com/news/2015/10/27/26-hari-kampanye-serangan-udara-rusia-dan-kekalahan-pahit-yang-diderita-pasukan-rezim-asad.html#sthash.84HowLX1.dpuf

item-thumbnail
+ResistNews Blog - Laporan menegaskan bahwa tentara Asad telah gagal mencapai kemajuan dalam melawan pejuang oposisi, meskipun serangan udara Rusia memasuki hari yang ke 26, sebagaimana dilansir oleh ElDorar AlShamia, Senin (26/10/2015).

Dilaporkan bahwa pasukan Asad terlibat dalam enam lini pertempuran melawan pejuang oposisi yang telah berhasil mengorganisir barisan mereka dan mengatasi serangan darat yang luas meskipun didukung oleh serangan udara Rusia yang hari ini telah mencapai hingga sekitar seribu serangan.

Menurut kantor berita “Interfax“, dikutip dari Departemen Pertahanan di Moskow, mengatakan bahwa pesawat tempur Rusia telah melakukan 934 serangan mendadak dan menghancurkan 819 sasaran kelompok pejuang oposisi di Suriah sejak awal kampanye pada 30 September.

Laporan itu menunjukkan bahwa meskipun mendapat perlindungan udara dan fasilitas pesawat militer Rusia, rezim Asad tidak mampu mencapai prestasi lapangan, bahkan situasinya berbalik berpihak kepada batalyon kelompok oposisi yang berhasil menimpakan kerugian yang besar kepada pasukan Asad dan milisi pendukungya. Kerugian yang belum pernah terjadi sebelumnya, selama empat tahun terakhir.

Di lini Hama utara rezim Asad mendorong pasukannya untuk menyerbu kota-kota yang dikuasai oleh kelompok pejuang oposisi untuk mencapai kota Khan Sheikhun di pedesaan selatan Idlib, yang terletak di Aleppo International Highway Damaskus, namun, para pejuang oposisi mampu menggagalkan serangan itu dan menggagalkan rencana rezim.

Pasukan Asad kehilangan sekitar empat puluh kendaraan lapis baja dan tank, dan kehilangan lebih dari 400 tentara di sana setelah satu minggu pertempuran.

Sementara itu, faksi-faksi pejuang oposisi melancarkan serangan balik terhadap lokasi pasukan Asad yang kemudian menjadi posisi pertahanan di sebelah utara Hama dan menguasai desa Marakapah dan AlLahaya sebelah timur dan barat Hama, dan telah menjadi ancaman bagi pasukan rezim yang bermarkas di kota Morek.

Kejadian ini tidak jauh berbeda dengan kondisi di pedesaan Homs utara, saat pasukan Asad dan milisi sekutu mereka gagal untuk maju satu kilometer di kawasan itu untuk mencapai tujuannya dengan cara menghubungkan daerah yang berpengaruh di Homs yang berada di bawah kontrol sebelah selatan kota Hama, dan upaya yang gagal dari pasukan rezim untuk masuk ke daerah-daerah yang dikuasai oleh kelompok pejuang oposisi menyebabkan pasukan rezim Asad mengalami kerugian besar.

Puluhan pasukan rezim Asad tewas dan terluka, serta kehilangan sejumlah besar kendaraan lapis baja dan kendaraan militer dalam waktu kurang dari dua minggu, seperti ditegaskan oleh direktur “Homs Media Center”, Osama Abu Zeid.

(arrahmah.com/ +ResistNews Blog )
loading...
Read more »

Sosiolog "Israel": Generasi Yahudi mendatang kalah mental dengan Hamas

item-thumbnail
+ResistNews Blog - Kelangsungan sebuah bangsa atau negara banyak tergantung kepada generasinya. Jika generasi bangsa atau negara tersebut rusak jiwa dan mentalnya, penakut dan pengecut, maka bisa dipastikan bahwa bangsa atau negara tersebut akan hancur suatu saat.

Sebagaimana yang diakui sendiri oleh seorang sosiolog “Israel” bahwa generasi “Israel” akan kalah mentalnya dengan generasi Hamas. Dr. Zev Odit Manahem, spesialis dalam bidang ilmu sosilogi secara terus terang mengkhawatirkan hal tersebut, sebagaimana dilansir oleh Info Palestina, Selasa (27/10/2015).

Berikut tulisannya secara lengkap;

“Pukul 9.30, kira-kira 13 Agustus lalu, TV 10 “Israel” menayangkan laporan tentang kehidupan sebuah keluarga Yahudi asal Argentina di salah satu pemukiman di wilayah “sabuk” Gaza. Ketika mereka bertanya kepada seorang bocah berusia 10 tahun, apa yang secara umum kamu takutkan?

Bocah kecil itu menjawab, “saya takut orang Arab keluar dari terowongan bawah tanah dan membawa saya saat saya tidur”.

Jawaban itu membuatku sebagai analisis data di ilmu sosiologi dihadapkan pada fakta mengejutkan yang saya tidak tahu bagaimana gambaran tentang Arab tertanam di benak generasi baru “Israel”.

Selama ini generasi “Israel” kita terbiasa dengan gambaran tentang Arab sebagai bangsa yang penakut, penipu, pembuat makar dengan mamakai peci dan ikat kepala melingkar, gemuk yang selalu mengendarai keledai, maka telur rebus, sarden dan minum teh.

Gambaran Arab dalam generasi saya adalah teroris penakut, atau serdadu yang menyerah dalam perang “kemerdekaan” (penjajahan “Israel” di Palestina tahun 1948) dan perang enam hari tahun 1967.

Dalam benak generasi kami, serdadu Yahudi adalah tak tertandingi sampai PLO kami usir dari Libanon.

Namun semua gambaran itu sirna dan berubah secara mengakar, serta berubah dengan sangat berbahaya.

Anak-anak “Israel” di wilayah selatan yang usianya 10 tahunan kini menggambarkan bangsa Arab, terutama Hamas sangat menakutkan dan horor. Menggambarkan sebagai makhluk yang keluar dari tanah untuk menculik serdadu-serdadu kami. Anak-anak itu melihat Hamas di media massa membunuh serdadu “Israel” yang kami dulu pelajari di sekolah-sekolah sebagai “tak tertandingi”.

Kami tak lupa gambaran kehidupan di tempat persembunyian [bunker] dan suara sirine serta tangisan ibu-ibu yang kabur ke tempat persembunyian. Semua itu menunjukan bahwa kami lemah. Generasi mendatang kami secara tak sadar adalah anak-anak yang memiliki gambaran bahwa Hamas adalah musuh kejam tak memiliki belas kasihan dan kami kalah menghadapinya.

Anak-anak itu akan menjadi serdadu setelah 8 tahun dan saya bertanya-tanya generasi macam apa yang akan membela “Israel” sementara dia terdidik dengan ketakutan menghadapi musuh kami.

Generasi macam apa yang akan menjaga kami di masa mendatang dari aksi “pembantaian” yang dilakukan bangsa Arab di masa mendatang sementara mereka melihat komandan mereka kalah di Gaza?

Mereka generasi yang terbina oleh serangan roket Hamas di tempat persembunyian dan suara sirine bukanlah generasi milter petarung seperti bapak-bapak mereka, namun akan menjadi generasi gamang dan ketakutan melihat pasukan bertopeng Hamas yang keluar dari mulut terowongan bawah tanah.

Karena itu, “Israel” harus menggambarkan sebuah gambaran “Israel” yang pemberani. Kejiwaan generasi “Israel” saat ini harus diobati. Bisakah?”

(arrahmah.com+ResistNews Blog )
loading...
Read more »

Hizbut Tahrir Menjawab Keraguan “Islam Sebagai Solusi”

item-thumbnail
+ResistNews Blog - Surat kabar Sudan, “Sudanile”, nomor (3511), edisi Kamis 15/10/2015, mempublikasikan artikel yang ditulis Profesor Babakar Faisal yang berjudul: “Islam adalah Solusi: Benarkah?”. Dalam artikel ini penulis banyak menyampaikan kritikan terhadap bayān (pernyataan) yang dikeluarkan Hizbut Tahrir wilayah Sudan berjudul: “Kalau Bukan Islam Solusinya, Lalu Apa?” Berikut ini beberapa keraguan mereka dan jawabannya:

Pertama: Dalam artikelnya, penulis mengatakan bahwa mereka yang menyerukan kembalinya Khilafahtidak memiliki visi yang jelas dan rinci terkait bagaimana cara untuk mencapainya. Mereka juga tidak memiliki gambaran terkait perangkat untuk pemilihan penguasa, atau suksesi kekuasaan dalam Khilafah. Lebih dari itu, mereka tidak paham bagaimana cara mengatasi hambatan yang diciptakan oleh perubahan sementara , termasuk fakta adanya negara nasional. Mereka hanya puas dengan melontarkan slogan-slogan saja, juga hanya menonjolkan masa kegemilangan sistem Khilafah semata tidak dengan sejarah kelam dan suramnya.

Sejauh ini, penulis senantiasa mengulang pernyataan tersebut setiap kali ia melontarkan kritikan terhadap bayān (pernyataan) yang dikeluarkan Hizbut Tahrir. Dan kami telah memberinya penjelasan bahwa Hizbut Tahrir memiliki visi yang rinci tentang sistem Khilafah, serta telah menetapkan cara (metode) untuk mencapainya, juga seperti apa bentuk pemerintahan dan administrasinya dalam negaraKhilafah. Kami telah memintanya untuk datang ke kantor (maktab) Hizbut Tahrir untuk mengerti semua itu, atau mengakses situs-situs Hizbut Tahrir yang tersebar di internet untuk mengetahuinya, namun dari tulisan-tulisannya terlihat jelas apa yang mendorongnya, sebab ia berangkat dari cara berpikir yang membuatnya bermusuhan atau bodoh terhadap Khilafah, juga terhadap mereka yang tengah berjuang untuk melanjutkan cara hidup Islam dengan menegakkan Khilafah Rāsyidah kedua yang sesuai metode kenabian (‘ala minhājin nubuwah).

Metode menuju tegaknya Khilafah adalah metode syar’iy (ditetapkan syariah Islam), yang sudah ditempuh oleh Nabi tercinta Muhammad saw, yaitu dengan membentu sebuah kelompok yang memiliki kesadaran Islam, dan adanya program yang rinci terkait pemerintahan dan administrasi, serta adanya orang-orang yang memenuhi syarat dan memiliki kemampuan untuk memerintah dan mengatur urusan masyarakat, juga adanya para pemilik kekuatan dan pengaruh yang memberikat baiat, maka ketika itulahKhilafah tegak. Seperti itulah metode yang ditempuh oleh Hizbut Tahrir untuk sampai pada Khilafah. Dan sekarang hanya tinggal satu langkah menjauh tegaknya Khilafah.

Sedangkan Khilafah yang senantiasa kami kampanyekan dan kami jelaskan, maka itu bukan sekedarsistem yang ideal dan sempurna, namun ia adalah sistem yang diwajibkan oleh Islam. Rasulullah saw bersabda:

«كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ الأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لا نَبِيَّ بَعْدِي وَسَتَكُونُ خُلَفَاءُ تَكْثُرُ قَالُوا فَمَا تَأْمُرُنَا قَالَ فُوا بِبَيْعَةِ الأَوَّلِ فَالأَوَّلِ وَأَعْطُوهُمْ حَقَّهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ سَائِلُهُمْ عَمَّا اسْتَرْعَاهُمْ»

“Adalah bani Israil itu dipimpin para nabi. Setiap nabi meninggal maka diganti oleh nabi yang lain. Sesungguhnya tidak ada nabi setelah saya dan akan ada beberapa khalifah yang banyak.” Para sahabat berkata: “Apa yang engkau perintahkan kepada kami?” Beliau bersabda: “Tepatilah baiat yang pertama kemudian yang pertama, berikan kepada mereka hak mereka, sesungguhnya Allah akan meminta pertanggung jawaban mereka tentang apa yang diserahkan oleh Allah kepada mereka.” (HR. muslim).

Sementara itu negara nasional, yang diyakini oleh penulis sebagai keniscayaan sebuah era, padahal itu adalah ciptaan kolonialisme pemilik demokrasi yang sedang dinyanyikan oleh penulis; negara nasional juga negara yang tidak menjaga batas-batas nasionalnya, namun mereka para penguasa yang diangkat oleh kaum kafir Barat, lalu menjadikan mereka bertengger di atas dada umat, dan melayani tuan mereka. Oleh karena itu, Barat sangat menjaga keberadaan mereka dalam kekuasaan meskipun mereka tirani dan diktator, inilah yang diklaim demokratis. Berikut pernyataan mantan Presiden AS George W. Bush: “amerika Serikat telah mendukung kediktatoran di Timur Tengah selama lebih dari enam puluh tahun, dan politik ini tidak membawa keamanan bagi amerika, serta tidak melayani kepentingannya.” Kita tidak perlu bukti untuk menunjukkan dukungan Barat yang megklaim demokratis, terhadap rezim tirani di duniaIslam, sebab itu sangat jelas sejelas matahari di pagi hari yang dapat dilihat oleh setiap yang bermata, namun dilupakan oleh orang yang buta hati nuraninya.

Adapun kami yang terkesan hanya menonjolkan masa kegemilangan sistem Khilafah semata tidak dengan sejarah kelam dan suramnya, karena Khilafah adalah negara manusiawi yang diatur oleh manusia yang bisa salah dan benar. Khilafah dalam beberapa aspeknya terkadang diterapkan dengan salah, namun ini tidak mengurangi keberadaan Khilafah sebagai sistem terbaik yang dikenal manusia hingga hari ini. Lebih dari itu, Khilafah adalah sistem satu-satunya yang diwajibkan oleh Allah Dzat Yang Maha Kuasa terhadap kaum muslim.

Sementara sejarah yang menjadi landasan penulis untuk menggambarkan Khilafah dengan gambaran yang sangat buruk, maka itu sejarah yang semua orang tahu bahwa mereka yang menulisnya adalah para musuh umat, sehingga netralitasnya tidak dapat dipercaya, dan sayangnya tidak sedikit sejarawanmuslim yang mengambil sejarah Islam dari sejarawan Barat. Lebih dari itu, setiap sistem yang dikajinya tidak diambil dari orang-orang yang menerapkannya, dan tidak pula dari sejarah penerapannya, melainkan diambil dari sumbernya, sedang sumber-sumber negara Islam, yaitu Khilafah adalahKitabullah (al-Qur’an) yang tidak ada kebatilan sedikitpun di dalamnya, yang diturunkan oleh Dzat Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui, dan sunnah Rasulullah saw, serta Ijma’Sahabat dan Qiyas yang ditunjukkan oleh al-Qur’an dan as-sunnah.

Ketika Hizbut Tahrir berbicara tentang Khilafah, dan menyerukan untuk memulai kembali cara hidupIslam dengan mendirikan Khilafah, Hizbut Tahrir tidak menyerukan pada kekhilafahan Umayyah, Abasiya atau Utsmaniyah, namun Hizbut Tahrir berjuang dan menyerukan pada Khilafah Rāsyidah yang sesuai metode kenabian (‘ala minhājin nubuwah); itulah Khilafah yang dikatakan oleh penulis bahwa para pembela Khilafah tidak menemukan apa-apa yang bisa diandalkannya selain Khilafah Rāsyidah dan erapemerintahan Umar bin Abdul Aziz. Di sini kita akan bertanya pada penulis sebagai seorang muslim yang beriman bahwa Allah telah memerintahkan kita untuk menerapkan syariah-Nya di muka bumi, dan Allah menyebut siapa saja yang mengingkari hukum Islam dengan sebutan kafir, juga menyebut siapa saja yang menerapkan selain hukum Islam karena takut atau tuntutan realita dengan sebutan zalim dan fasik. Dimana Allah SWT berfirman:

﴿وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ﴾

“Barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (TQS. Al-Māidah [5] : 44). Dan firman-Nya:

﴿وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ﴾

“Barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (TQS. Al-Māidah [5] : 45). Dan firman-Nya:

﴿مَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ﴾

“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.” (TQS. Al-Māidah [5] : 47).

Jadi, pertanyaan kami pada penulis, kalau menerapkan Islam dan hukumnya adalah wajib, dan kalau mengakui bahwa era Khulafaur Rasyidin adalah era yang sempurna dan ideal, lalu mengapa ia tidak menyerukan pada era yang sempurna dan ideal seperti itu, serta menjadi di antara mereka yang memperjuangkan tegaknya hukum Allah, daripada menyerukan penerapan sistem kufur demokrasi?

Kedua: Penulis mempertanyakan mengapa Hizbut Tahrir tidak membaiat “khalifah” al-Baghdadi? Kemudian penulis menegaskan dengan mengatakan: “Hizbut Tahrir atau kelompok lainnya, yang juga menyerukan kembalinya Khilafah tidak bisa mengatakan bahwa negara ISIS bukanlah Khilafah yang shahih …”. Hal ini menunjukkan ketidaktahuan penulis tentang fakta Khilafah. Sehingga kami mengatakan apa pun yang Anda pikirkan tentang Khilafah; Rāsyidah atau tidak Rāsyidah, bahwa organisasi negara (ISIS) belum mendirikan negara, tidak Khilafah atau yang lain, ia hanya sebuah faksi yang melakukan pertempuran dan pertempuran. Sebab masalah Khilafah bukan hanya deklarasi berdirinya negara dan membaiat khalifah, dan jika masalahnya sesederhana itu, maka Hizbut Tahrir telah mengumumkan tegaknya Khilafah enam puluh tahun yang lalu. Sebenarnya penulis dan yang lainnya tahu tentang fakta ini, namun semua itu segaja didistorsi dan dibuat membingungkan oleh Barat dan rekan-rekannya, serta para anteknya dari kalangan politisi dan intelektual untuk menjaukan gagasan Khilafah yang akan memuliakan umat dan mendatang ridla dari Tuhan semesta alam.

Adapun apa yang dikatakan penulis tentang ketidakmampuan mereka yang mengangkat slogan “Islamadalah solusi”, dan mereka memerintah negara ini untuk mengatasi masalah ekonomi, sosial, politik dan lain-lainnya, maka kami katakan karena mereka hanya mengangkat slogan, tidak menerapkan Islam, dan tidak mendirikan Khilafah, sebaliknya yang mereka tegakkan adalah negara yang sejalan dengan Barat, yaitu Republik yang dipimpin oleh Presiden dan Parlemen yang membuat hukum, bukan Allah. Jadi, masalahnya bukan berhasilnya kelompok Islamis meraih kekuasaan, namun yang menjadi masalah adalah sampainya Islam, hukum-hukumnya dan sistemnya ke dalam kekuasaan.

Ketiga: Penulis di akhir artikelnya mengakui bahwa masalah dunia kontemporer masih sangat rumit, sehingga untuk menghadapi tidak cukup dengan melontarkan slogan-slogan umum dan longgar, namun perlu mengembangkan program yang rinci, dan akumulasi dari sejumlah pengalaman besar, serta mempersiapkan para pemimpin yang memiliki pengetahuan lengkap tentang apa yang terjadi di dunia. Semua itu hanya akan terjadi dalam sistem pemerintahan pluralistik yang menghargai kebebasan, memungkinkan suksesi kekuasaan secara damai, menghormati hukum dan memberikan stabilitas politik, yaitu sistem demokrasi, yang oleh Hizbut Tahrir disebut dengan sistem kufur Barat. Kami bertanya pada penulis, siapa yang menciptakan semua masalah ini, yang digambarkannya sebagai masalah yang sangat rumit, bukankah demokrasi penyebabnya? Apakah semua masalah yang rumit ini terjadi karena masyarakat menerapkan Islam di bawah naungan negara Khilafah? Bagaimana demokrasiakan menjadi solusi, padahal demokrasi itu sendiri adalah penyakit yang menyebabkan semua masalah yang sangat rumit ini? Bagaimana Anda bisa berpikir demikian, dimana akal sehat Anda?!

Akhirnya, kami tegaskan pada penulis bahwa tidak ada jalan keluar bagi dunia Islam selain dengan menerapkan Islam, dalam naungan negara Khilafah Rāsyidah yang sesuai metode kenabian (‘ala minhājin nubuwah), bahkan tidak ada jalan keluar bagi seluruh dunia kecuali dengan menerapkan syariah Islam, sebab syariah Islam adalah hukum yang berasal dari Allah SWT Tuhan semesta alam. Allah SWT berfiman:

﴿أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ﴾

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin.”(TQS. Al-Māidah [5] : 50). [Ibrahim Utsman (Abu Khalil), Juru bicara resmi Hizbut Tahrir wilayah Sudan]

[hizb-ut-tahrir.info/ +ResistNews Blog ]
loading...
Read more »

400 Tentara dan Milisi Iran Dilaporkan Tewas di Suriah

item-thumbnail
Peti mati Jenderal yang tewas di Suriah 
beberapa bulan lalu
+ResistNews Blog  – Sebanyak 400 anggota tentara Garda Revolusi Iran dan milisi bentukan Iran dari Pakistan dan Afghanistan tewas di Suriah sejak awal revolusi Suriah pada Maret 2011 silam. Laporan ini dikeluarkan kantor berita Turki, Anadolu Agency (AA), melansir dari sejumlah pengamat, seperti dinukil Al-Arabiya, Senin (26/10).

Anadolu menjelaskan, setidaknya 300 di antaranya tentara Garda Revolusi Iran, termasuk di dalamnya 26 tentara berpangkat tinggi. Selebihnya adalah milisi-milisi dari luar Iran yang didanai dan dikomandoi Garda Revolusi Iran.

Selain itu, laporan ini juga disandarkan dari kumpulan informasi yang disampaikan kantor berita resmi dan media Iran.

Kantor berita Turki itu menambahkan, dari 26 tentara Iran berpangkat tinggi itu, delapan di antaranya berpangkat jenderal. Yang menonjol dari jenderal Iran yang tewas di Suriah adalah Mayor Jenderal Husain Hamdani. Ia asisten komandan Korps Faliq Al-Quds, unit khusus Garda Revolusi Iran untuk operasi luar negeri. Hamdani tewas di Aleppo pada tanggal 9 Oktober kemarin.

Jenderal Iran lainnya yang tewas di Suriah adalah Ismail Haidari, Hasan Syathiri, Abdullah Iskandari, Jabbar Darisawi, Muhammad Jamali dan Humaid Thabthaba’i Mahar.

Kantor berita Iran, seperti dilansir Al-Arabiya, menyebutkan paling banyak tentara dan milisi Iran yang tewas itu dalam pertempuran di Aleppo. Mereka mulai dari tentara biasa hingga jenderal.

Anggota Dewan Politik Urusan Luar Negeri dan Pertahanan Nasional Parlemen Iran, Jawad Karimi Maqdisi, 2013 lalu, pernah menyebutkan negaranya memiliki ratusan faksi yang bertempur di Suriah. Namun, secara resmi Iran tidak mengaku. Pemerintah berideologi Syiah itu hanya mengatakan bahwa negaranya mengirim instruktur atau penasihat militer bagi tentara Suriah.

[Al-Arabiya/kiblat.net/ +ResistNews Blog ]
loading...
Read more »

Asap dari kebakaran hutan di Indonesia mencapai Filipina selatan

item-thumbnail
Asap dari kebakaran hutan di Indonesia 
sudah mulai mencapai pulau Mindanao, 
Filipina selatan - (foto: AFP).
+ResistNews Blog - Asap dari kebakaran hutan di Indonesia telah menyebar ke Filipina, mengganggu penerbangan dan pemerintah harus mengeluaran peringatan kepada warga untuk memakai masker, ungkap pihak berwenang Filipina, sebagaimana dilansir oleh ABC, Sabtu (24/10/2015).

Pulau Mindanao, Filipina selatan berjarak lebih dari 1.200 kilometer dari kebakaran terdekat tetapi asap telah menjadi masalah yang buruk di pulau itu selama seminggu terakhir, kata otoritas penerbangan.

Asap ini menyebar ke pulau-pulau sentral negara itu dari Cebu dan Negros pada Jum’at (23/10) mengganggu lalu lintas udara, ungkap juru bicara Otoritas Penerbangan Sipil Filipina Eric Apolonio.

Delapan penerbangan domestik telah dibatalkan dan puluhan penerbangan tertunda karena masalah asap yang berlangsung mulai 16 Oktober, yang mempengaruhi ribuan penumpang, tambahnya.

Pada beberapa kesempatan, pilot tidak bisa melihat lapangan terbang saat mereka mau mendarat.

“Jika Anda tidak bisa melihat landasan pacu itu sangat berbahaya. Anda tidak bisa selalu bergantung pada instrumen,” kata Apolonio.

Dia juga mengatakan bahwa penundaan penerbangan juga mengganggu bandara yang ramai di ibukota Manila, dengan beberapa penerbangan menuju Mindanao terpaksa ditunda.

Menurut Asia One, Ahad (25/10/2015), pemerintah Mindanao langsung mengeluarkan imbauan bagi warga yang memiliki sistem pertahanan tubuh buruk atau gangguan paru-paru untuk tidak keluar rumah. Imbauan ini dikeluarkan untuk wilayah mulai dari Santos City hingga Iligan City yang masih terkontaminasi asap.

Selain dikhawatirkan berdampak pada kesehatan warga, asap juga mengancam pertanian di Filipina, seperti yang disampaikan oleh Departemen Pertanian negara itu.

“Polutan seperti debu, jelaga, abu, yang bisa menempel pada daun, mengganggu proses fotosintesis karena menghalangi sinar matahari,” kata Maria febe Orbe, pejabat senior Departemen Pertanian di Mindanao.

(arrahmah.com+ResistNews Blog )
loading...
Read more »

Mujahidin Jabhah Nushrah, Ahrar Syam dan Ajnad Asy-Syam membentuk aliansi anti-Rusia di pedesaan Damaskus

item-thumbnail
Pernyataan Jund Al-Malahim. (Foto: LWJ)
+ResistNews Blog - Tiga kelompok Jihad di Suriah telah membentuk ruang operasi bersama di pedesaan Damaskus untuk memerangi rezim Nushairiyah pimpinan Bashar Asad dan pasukan komunis Rusia. Tiga kelompok itu adalah Jabhah Nushrah, Ahrar Syam dan Ajnad Asy-Syam. Mereka membentuk aliansi bernama Jund Al-Malahim, aliansi terbaru dalam serangkaian koalisi Mujahidin yang dipimpin oleh Jabhah Nushrah. Sebelumnya aliansi yang paling menonjol adalah Jaisyul Fath yang berhasil menguasai sebagian besar provinsi Idlib sejak awal Maret lalu.

Pernyataan awal oleh Jund Al-Malahim diposting dalam akun Twitter resmi ketiga kelompok pada 21 Otober. Mereka mengatakan serangan sengit telah diluncurkan terhadap ummat Islam di bumi Syam dan tempat lain dan Rusia telah bergabung dalam penyerangan, lansir LWJ pada Ahad (25/10/2015).

Mujahidin mengatakan bahwa karena pengepungan mencekik yang dilakukan rezim kriminal Bashar Asad di pedesaan Damaskus Ghautah Timur yang diberkahi, sebuah inisiatif baru dibutuhkan untuk mengumpulkan semua orang yang setia dan jujur untuk bersama-sama memukul mundur serangan di tanah kaum Muslim.

Rezim Asad telah melakukan sejumlah kejahatan, termasuk perpindahan penduduk Ghautah Timur dalam rangka menciptakan wilayah Syiah yang akan mengubah identitas Damaskus. Tujuannya adalah untuk mengisolasi ummat Muslim yang melancarkan Jihad.

“Kami meminta kepada Allah untuk membuat ruang operasi ini awal dari koalisi yang lebih besar yang akan mengumpulkan semua faksi di bawah satu bendera dan satu pasukan yang membela ummat Islam, menyerang musuh dari keyakinan kita dan membebaskan ibukota Umayyah,” ujar pernyataan Jund Al-Malahim. (arrahmah.com+ResistNews Blog )
loading...
Read more »

Dalam Setiap Kasus, Islam Setiap Kali Menjadi Tertuduh

item-thumbnail
Oleh: Utsman Badar

Politik kecaman masih hidup dan berakar dalam politik dan media Australia.

Berkaitan dengan penembakan yang terjadi di Parramatta, lagu lama telah dimainkan lagi, dengan menginterogasi kaum muslim dan menuntut agar mereka setuju dengan narasi yang dikeluarkanpemerintah tentang “terorisme” dan “radikalisasi”. Masalah kekerasan, yang mereka harus terima, adalah “ekstremisme” dalam komunitas mereka sendiri.

Namun, narasi yang melelahkan ini, hanya mengalihkan perhatian dan tanggung jawab dari para penjahat sebenarnya.

Anthony Klan berpendapat bahwa sebagian muslim berusaha untuk memanfaatkan penembakan di Parramatta, dengan menuduh mereka melakukan kejahatan karena “gagal untuk mengutuk” peristiwa itu. Dengan menggunakan Hizbut Tahrir untuk menuntut kasus ini, dia mengulang-ulang hal yang sama dengan menuduh muslim merupakan ancaman eksistensial bagi semua orang yang cocok dan layak – sebagai hantu muslim.

Berbagai kepalsuan-kepalsuan tentang Hizbut Tahrir yang disebutkan oleh Klan hampir tidak layak mendapat tanggapan. Memang, mereka berada di luar masalah ini. Hizbut Tahrir, dalam hal ini, merupakan hantu muslim. Semua orang dalam komunitas muslim mendapat gilirannya untuk menjadi hantu dalam wacana yang rusak saat berbicara tentang muslim, bukan bagi mereka.

Ketika muslim dan Islam disebutkan, hal itu tidak untuk memperkenalkan suatu keseimbangan atau nuansa. Tapi untuk menyeret mereka ke dalam percakapan agar bisa memperkuat narasi yang telah ada, bahkan jika kenyataannya adalah benar-benar yang sebaliknya. Ini adalah kasus yang dialami oleh Hizbut Tahrir dan setiap organisasi komunitas muslim lainnya.

Sebagian memainkan peran muslim yang baik, sementara yang lainnya muslim yang buruk, tapi senantiasa peran mereka adalah tetap dalam suatu aturan dan untuk memperkuat alasan-alasan sehingga intervensi ke dalam komunitas mereka bisa dibenarkan.

Ketika koordinasi ini dilanggar dan alasan-alasanya ditentang – sebagaimana yang dilakukan Wassim Doureihi dalam wawancara dengan ABC Lateline dengan Emma Alberici tahun lalu – hal itu dilakukan dari mereka yang menjaga status quo.

Mari kita memperjelas tentang politik ketidak jujuran yang penuh dengan kutukan. Masalahnya bukanlahmuslim yang gagal untuk mengutuk. Ini adalah tuntutan agar umat Islam mengutuk tindakan dimana mereka tidak bertanggung jawab secara langsung atau bersalah terhadap suatu peristiwa.

Memang, tuntutan bagi para pemimpin dan kelompok-kelompok muslim untuk mengutuk hanyalah untuk mengumpulkan gagasan bahwa masalahnya berkaitan dengan Islam dan muslim sebagai pihak yang bertanggung jawab.

Sebaliknya, penyebab utama kekerasan terhadap kepentingan Barat adalah kebijakan luar negeri Barat. Semua orang tahu akan hal ini. Namun, kebijakan luar negeri tidak tampil dalam sikap alami kontra-terorisme Australia atau Barat, yang jelas merupakan bukti terkuat. Jika terjadi pelaksanaan kebijakan luar negeri yang tidak adil Australia yang harus dihentikan, narasi pemerintah malah menyalahkan Islamdan muslim, dan membenarkan intervensi berbahaya dalam komunitas muslim.

Serangan bersenjata terhadap warga sipil atau polisi bukan hal yang tidak biasa di Australia. Respon yang biasa diberikan bagi mereka adalah dengan diperlakukan sebagai kasus kriminal – kecuali pelakunya adalah seorang muslim. Dalam kasus seperti itu, hal ini menjadi masalah bagi otoritas politik dan keamanan tertinggi. Perdana Menteri, terutama para pemimpin oposisi, semua nyaharus memberikan komentar. Komisaris polisi negara bagian dan Komisaris Polisi Federal Australia harus juga terlibat. Liputan media menjadi dinding selama berhari-hari. Serangan seperti itu harus dikaitkan dengan terorisme, bahkan walaupun bila tidak ada fakta atau tidak ada rincian.

Ini adalah apa yang terjadi setelah pembunuhan staf polisi Curtis Cheng di Parramatta bulan lalu.

Harus ditekankan bahwa respon politik – dengan menilai serangan itu sebagai serangan terorisme, menuntut para pemimpin dan para orang tua muslim untuk bertanggung jawab, mengadakan pertemuan darurat dengan para pemimpin muslim, dan program selanjutnya adalah de-radikalisasi – yang dirumuskan tanpa adanya bukti atas klaim yang dibuat dan sebelum adanya investigasi resmi, apalagi adanya temuan.

Siapa, kemudian, yang berusaha mengambil untung dari peristiwa penembakan ini?

Respon terhadap penembakan ini adalah luar biasa, dengan tidak didasarkan pada fakta-fakta obyektif dari kasus ini selain identitas pelaku.

Pikirkanlah bahwa dalam 15 bulan terakhir telah terjadi setidaknya selusin serangan lainnya seperti itu terhadap warga sipil atau polisi yang mendapat respon sangat berbeda. Pikirkanlah bahkan ketika serangan itu adalah bermotif ideologi atau politik, seperti kasus Rodney Clavell, atau serangan yang berusaha untuk membunuh beberapa orang tak dikenal oleh penyerang, seperti kasus Daniel Fing, insiden itu tidak dianggap terorisme jika pelakunya bukan muslim. Hal ini karena, dunia pasca 11/9 isu yang paling mudah dieksploitasi bagi para politisi adalah keamanan nasional.

Hal yang paling sederhana untuk menimbulkan rasa takut melalui dan membentuk opini publik adalah dengan perang melawan teror, “kontra kekerasan-ekstremisme” adalah judul Orwellian terbaru. Dan pada initinya karena perang ini, adalah perang melawan Islam, hanya serangan oleh Muslimlah yang dapat digunakan menimbulkannya dan memetik buah darinya.

Lebih banyak uang dan kekuasaan untuk badan-badan intelijen, polisi dan militer. hukum lebih kejam dimana pihak berwenang lebih lanjut dapat ikut campur dalam kehidupan orang-orang. Untuk menjadi umpan yang lebih besar bagi media untuk menciptakan sensasi, sehingga mencapai peringkat dan keuntungan yang lebih tinggi. Dan gangguan lainnya adalah pada pengaturan hal-hal kecil dari komunitas yang menjadi pembahasani: muslim. Ini adalah buah dari perang itu, dengan standar apapun, telah membuat dunia menjadi tidak, atau lebih aman.

Strategi ini menghasilkan keuntungan yang baik bagi para politisi, badan-badan keamanan dan media karena mengambil manfaat dari penderitaan massa adalah apa yang didapatkan dari pekerjaan mereka dalam dunia yang semakin narsis dan egois.

Jika hal ini tidak terjadi, lembaga-lembaga itu akan menggunakan kekuasaan dan pengaruhnya untuk menangani masalah-masalah yang lebih mendesak seperti kekerasan dalam rumah tangga dan penyalahgunaan narkoba, yang melukai dan membunuh lebih banyak orang dan menghancurkan lebih banyak kehidupan dalam waktu beberapa minggu daripada terorisme Islam yang membutuhkan waktu beberapa dekade.

Kemudian, ini adalah kemapanan dan media mainstream yang tanpa malu-malu menyasar serangan seperti penembakan Parramatta, sehingga menciptakan histeria politik dan sosial untuk membenarkan intervensi asing dan domestik yang selanjutnya hanya akan mengepung seluruh masyarakat, sehingga memberikan umpan kemarahan bagi para pemuda dan melestarikan siklus kekerasan. (riza)

Utsman Badar adalah perwakilan media Hizbut Tahrir Australia.

sumber:theaustralian.com.au
loading...
Read more »
Home
loading...