Masjid tempat Siyono ditangkap Densus 88
+ResistNews Blog - Diantara maklumat Dewan Pers terkait pemberitaan adalah tidak mengaitkan sebuah kejadian dengan agama tertentu. Namun, terkait pemberitaan soal terorisme, Koordinator Indonesian Crime Analyst Forum (ICAF) Mustofa B. Nahrawardaya memandang bahwa beberapa media justru mengaitkan-ngaitkan hal itu dengan aktivitas agama Islam.

“Beberapa media mengaitkan teroris itu rajin shalat, terduga teroris itu rajin khutbah dan terduga teroris itu rajin mengadakan pengajian di rumah. Padahal dewan pers melarang hal itu untuk diceritakan. Akan tetapi persoalannya hal-hal yang memicu ini keluar, muncul dari mulut-mulut aparat. Sehingga sumber berita seperti ini justru bukan menjadikan situasi Indonesia menjadi baik, justru akan membuat luka,” ujarnya kepada Kiblat.net, Selasa (22/03).

Bukan hanya itu, penggrebekan Densus 88 kerap terjadi di depan masyarakat umum bahkan anak-anak. Mustafa menilai kinerja Densus dalam aksinya sering tidak memperhatikan psikis lingkungan warga masyarakat, padahal ada aktivitas belajar mengajar yang di dalamnya banyak anak-anak.

“Seharusnya Densus tidak sampai harus melabrak hal-hal seperti itu, masih banyak cara baik yang bisa dilakukan selain itu, dikarenakan di Densus maupun BNPT memiliki satuan intelijen untuk meninjau lokasi sebelumnya,” lanjutnya.

Pria yang juga anggota PP Muhammadiyah itu menyarankan agar BNPT dan Densus seharusnya bisa lebih baik daripada terorisnya, jangan sampai melanggar hukum.

“Adapun jika Densus dan BNPT selama ini melanggar hukum, kita maupun masyarakat Indonesia bingung dan bertanya, ‘Siapa sih teroris sebenarnya?’,” pungkasnya. [kiblat.net/ +ResistNews Blog ]

Post a Comment

Powered by Blogger.