+ResistNews Blog - Radio Ozodi telah mengabarkan pada tanggal 27 Februari 2016, bahwa Komite Bagi Masalah Wanita di wilayah Gissar, membuat daftar aktivis perempuan dan orang-orang yang berusia lebih dari 60 tahun untuk membentangkan kain selebar 200 meter. Kain ini dibentangkan untuk menghormati Presiden Tajikistan Emomali Rahmon, selama kunjungannya ke wilayah Gissar, tempat dia ikut melakukan pembangunan kebun. Dia menginstruksikan tiap pejabat untuk menyumbangkan 3 meter dari 200 meter kain yang dipakai itu.

Kita ingat bahwa setelah pengumuman Emomali Rahmon sebagai pemimpin nasional, kampanye mulai menyanjung-nyanjung dirinya, termasuk yang dilakukan para pejabat pemerintah. Misalnya, seorang ahli agama terkenal di negara itu bernama Abdullah Muhakkik bahkan menawarkan diri untuk menyebut istri Presiden Azizamo sebagai pemimpin kaum MuslimahTajikistan, dengan membandingkannya dengan ibu kaum muslimah, Aisha RA. Beberapa fakultas dari Tajik National University juga telah mulai diperkenalkan pelajaran baru yang bernama”Emomali Rahmon – Arsitek Negara Tajik baru”.

Kita bisa menilai Rahmon sebagai seorang penguasa, dengan melihat prestasinya selama 23 tahun berkuasa. Sebagai catatan, Tajikistan pada saat ini adalah negara termiskin di Eurasia. Pada tahun 2012,United Nations Population Fund memperkirakan bahwa lebih dari setengah penduduk negara itu hidup di bawah garis kemiskinan. Menurut para analisis dari Yayasan Carnegie, setengah dari jumlah penduduknya menjadi buruh migran. Bank Dunia memperkirakan pada tahun 2012, pengiriman uang (dari luar negeri) lebih dari setengah PDB nasional, dan menurut Badan Pembangunan Internasional AS, 30% penduduknya dalam keadaan kritis. Sebuah perhitungan mencatat bahwa 12% dari anak di bawah 5 tahun berat badannya telah terlihat berkurang dan 26% lainnya telah mengalami keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan karena asupan gizi yang tidak memadai. Tingkat pendidikan berada di antara posisi 88 dan 91 di dunia menurut PBB.

Mayoritas penduduk Tajikistan adalah Muslim, dan pada awalnya menunjukkan perasaan jijik terhadap pengkultusan penguasa. Sebab, dalam Islam, penguasa adalah seorang warga biasa. Misalnya, Khalifah Umar RA memiliki kekuasaan yang luar biasa besar, namun hidup dengan gaya hidup begitu sederhana sehingga ketika duta besar Kekaisaran Bizantium datang ke Madinah dan meminta penduduk untuk menunjukkan istana penguasa mereka, rakyat menjawab bahwa penguasa mereka tidak memiliki istana atau kastil, dan malah pada saat itu Umar kemungkinan besar sering beristirahat di masjid karena malam harinya dia harus berjalan-jalan menyusuri jalan-jalan kota untuk mengurus penduduknya. Duta besar Kekaisaran Bizantium sangat terkejut mendengar sang penguasa—yang namanya membuat kaisar dan raja-raja bergetar—memiliki gaya hidup yang sangat sederhana. Dia pergi ke sebuah masjid, di sana dia benar-benar menemukan Umar yang sedang tidur, yang berbaring di pasir, sehingga membuatnya sangat kagum dan terkejut.

Dan semua ini sangat berbeda dengan fakta bahwa tiran Rahmon memerintah dengan hukum buatan manusia, dan menjadikan dirinya berada di depan negara-negara kafir dengan menjual negara-negara itu dengan tidak mendapatkan apapun, secara terbuka memerangi Islam dan atributnya, serta memenjarakan kaum Muslim di penjara.

Kelak, tempat Rahmon adalah di dalam tong sampah sejarah, dan masa pemerintahannya yang panjang itu akan selalu menjadi salah satu halaman tergelap dan memalukan dalam sejarah di wilayah ini.[hizbut-tahrir.or.id/ +ResistNews Blog ]

Post a Comment

Powered by Blogger.