BNPT Nyatakan Pelaku bom Alam Sutera Ditangani sesuai UU Terorisme

+ResistNews Blog - Sebelumnya anggota Komisi III DPR RI Muhammad Syafi’i mempertanyakan tindakan BNPT dalam menangani teroris, dimana seringkali dialamatkan kepada Islam. Menanggapi hal itu, Kepala BNPT Tito Karnavian dalam kesempatan yang sama mengatakan, definisi dari terorisme adalah penggunaan atau ancaman kekerasan dengan target sipil atau non kombatan dengan motif idiologi dan politik. Sehingga tidak ada kaitannya dengan Islam.

“Nah, di Indonesia kebetulan saja pelakunya rata-rata beragama Islam adapun jika pelakunya di luar Islam seperti kasus di Alam Sutra, kami pun juga terapkan UU Tindak Pidana Terorisme,” ujarnya.

Tito menegaskan terorisme tidak mendefinisikan kepada suatu agama atau kelompok manapun. Sepanjang dia menggunakan ancaman kekerasan dengan target sipil atau non kombatan dengan motif idiologi dan politik, maka hal tersebut termasuk dalam klasifikasi tindak pidana terorisme.

“Dalam konteks ini bisa saja pelakunya adalah negara. Akan tetapi jikalau kekerasan negara terhadap warga negara dengan motif politik, di Indonesia masuknya kepada konteks peraturan HAM. Sedangkan jika ancaman kekerasan itu dilakukan oleh warga negara, maka masuknya ke dalam klasifikasi tindak pidana terorisme,” katanya.

Adapun menanggapi kasus pemberontakan di Papua (OPM), kepala baru BNPT ini tidak mengaitkan kasus tersebut ke dalam konteks pidana terorisme, namun hanya sekedar tindak pidana biasa. Meskipun diketahui kelompok OPM ini melakukan pemberontakan, menuntut kebebasan wilayah kepada negara .

“Konteks Papua agak sedikit berbeda. Terorisme itu adalah aksi yang motifnya idiologi atau politik. Sebab OPM ini ingin menyuarakan bahwa mereka adalah pejuang politik bukan tindak kriminal bersenjata,” kata Tito.

Dia beranggapan, jikalau dalam kasus Papua dikenakan pasal UU Terorisme, maka sama saja dengan melegitimasi atau melegalisir adanya perjuangan politik di sana. Hal itu juga berakibat tidak mengutungkan dalam konteks diplomasi internasional.

Di akhir Tito memohon dukungan kepada komisi III untuk turut serta dalam menanggulangi terorisme. “Terorisme adalah ancaman negara. Terorisme tidak akan selesai, karena sangat berpengaruh kepada dinamika internasional dalam hal ini dengan apa yang terjadi di Timur Tengah. Sehingga kita tetap upayakan agar permasalahan di Timur Tengah jangan sampai terjadi di negara kita,” pungkasnya. [kiblat.net/ +ResistNews Blog ]

No comments

Post a Comment

Home
loading...