Muhammadiyah Dituding Pro Teroris, Padahal Kapolri adalah Putra Muhammadiyah

+ResistNews Blog - Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Anton Charliyan menuding ada organisasi yang berpihak kepada teroris dengan mengadvokasi kematian Siyono.

"Ada golongan tertentu yang pro teroris. Dia (Siyono) teroris, pegang senjata, dan ada yang membela. Silakan Anda saja yang menilai," ujar Anton di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (05/4/2016), seperti dikutip Kompas.com.

Anton enggan menyebut kelompok mana yang ia maksud. Kelompok tersebut, kata dia, menuding Polri dan Densus 88 sengaja menyerang agama tertentu.

Pernyataan Anton ini sontak mendapat tanggapan keras dari berbagai kalangan. Terutama Muhammadiyah yang selama ini bersama dengan Komnas HAM melakukan pembelaan terhadap Alm Siyono. Fraksi PAN di DPR juga tak kalah sengit menanggapi pernyataan tersebut.

"Meskipun tidak menunjuk satu kelompok atau organisasi tertentu, tetapi dari pernyataan tersebut jelas mengarah ke Muhammadiyah karena Muhammadiyah saat ini yang sangat pro aktif mengadvokasi atas kematian Siyono oleh Densus 88," jelas Wakil Ketua Faksi PAN DPR RI, Teguh Juwarno di Jakarta, Rabu (06/04/2016).

Secara gamblang, kata Teguh, Kadiv Humas Polri menuding Muhammadiyah dan pihak-pihak yang mengkritisi sepak terjang Densus 88 sebagai kelompok pro teroris."Tudingan ini sungguh keji dan tidak berdasar. Muhammadiyah lahir lebih dahulu dibanding negeri ini," katanya.

Tudingan Anton itu tentu akan berdampak serius. Apakah Anton tidak tahu jika atasan dia, Kapolri Jenderal Pol Badrodin Haiti adalah putra Muhammadiyah tulen.

Senin lalu (04/04/2016) Badrodin bertanya secara retoris kepada Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang menemuinya di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

“Saya masih diakui anggota Muhammadiyah kan?” kata Badrodin yang diiyakan oleh para anggota PP Muhammadiyah di akhir pertemuan yang berlangsung rileks selama hampir dua jam itu.

Sebagai informasi, sebelum masuk Akpol, Badrodin adalah lulusan SMA Muhammadiyah di Jember.

Badrodin Haiti lahir di Paleran, Umbulsari, Jember, Jawa Timur pada 24 Juli 1958 silam. Ia adalah putra keempat dari 10 bersaudara dari pasangan Ahmad Haiti dan Siti Aminah. Dari ayahnya inilah, dalam dirinya mengalir darah Muhammadiyah.

Seperti dilansir Suaramuhammadiyah.com, Ahmad Haiti adalah seorang kyai yang mempunyai banyak murid. Tetapi karena ada perubahan paham keagamaan kemudian dijauhi santrinya dan ia pun rela menanggalkan kekyaiannya.

Perubahan tersebut pertama kali nampak ketika Kyai Ahmad Haiti memberanikan diri mengubah kebiasaannya saat membacakan khutbah Jumat di masjid. Kalau biasanya ia khutbah dengan membawa tongkat, saat itu Ahmad Haiti mencoba untuk tidak memakai tongkat. Bahkan, ia juga tidak membaca teks khutbah berbahasa Arab, yang biasa dibaca oleh para khotib saat naik mimbar.

Kontan, cara berkhutbah Kyai Haiti yang diluar kebiasaan itu, mendapat reaksi keras jamaah Jumat yang memenuhi Masjid Darun Najah. Sejak saat itu, ia tidak lagi diperkenankan menjadi khotib Jumat. Meski masih tetap shalat di masjid tersebut, ia lebih memilih menjadi makmum dan meninggalkan kebiasaannya sebagai imam shalat, karena jamaah sudah tidak menghendaki menjadi imam.

Kewibawaannya sebagai Kiai Masjid, dengan sendirinya memudar. Kiai Achmad Haiti dengan sabar dan lapang dada, menanggalkan setumpuk gelar dan kehormatan yang sebelumnya disematkan kepadanya. Bahkan pada puncaknya Kyai Achmad Haiti, kembali pindah tempat tinggal, karena sudah tidak nyaman berada di lingkungan masyarakat yang berbalik memusuhinya.

Di tempat yang baru, di Dusun Krajan Kulon, Karang Genteng, Kiai Achmad Haiti tidak surut untuk tetap berdakwah. Justru di tempat baru ini, beliau semakin terang-terangan menyebut dirinya anggota Persyarikatan Muhammadiyah. Dan untuk pertama kalinya, pada 1971, beliau merintis pelaksanaan Sholat Idul Fitri di lapangan desa setempat. Saat pertama kali diadakan, jamaah sholat Idul Fitri hanya 12 orang, terutama dari keluarga sendiri dan beliau yang menjadi imam sekaligus khotibnya.

Dari sinilah cikal bakal Muhammadiyah di Paleran berdiri. Setelah cukup lama menjadi ranting Muhammadiyah Kecamatan Bangsalsari, pada tahun 2000 lalu, Paleran yang hanya sebuah desa, bisa berdiri Cabang Muhammadiyah, hingga menjadi PCM diantara 22 PCM lainnya di kabupaten Jember.

Hasil rintisan dan perjuangan Kyai Ahmad Haiti, kini berdiri Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Paleran dengan berbagai amal usahanya. Diantara AUM yang berdiri berupa TK ABA, SD, SMP dan SMK Muhammadiyah, sejumlah masjid/mushalla, serta beberapa bidang tanah waqaf yang dikelola Muhammadiyah. Dan anak keduanya H. Lukman Haiti meneruskan aktifitas ayahnya aktif di Muhammadiyah Paleran. [suara-islam.com/ +ResistNews Blog ]

No comments

Post a Comment

Home
loading...