Panik Di 'Terjang' “Panama Papers”, China Ligat Sensor Untuk Lenyapkan Dokumen Hitam Rp 24.000 triliun


+ResistNews Blog - China kalang kabut menyambut beredarnya dokumen rahasia “Panama Papers”. Beijing langsung memperketat sensor di internet.

Rusia pun menyerang balik media Barat. Ironisnya isteri jurubicara Vladimir Putin ikut terlibat dalam skandal keuangan tersebut.

Ketika dunia sedang gempar digoyang kebocoran data finansial terbesar dalam sejarah, China justru adem ayem saja.

Selain sebuah laporan berbahasa Inggris di kantor berita pemerintah, Xinhua, tentang keterlibatan Selandia Baru dalam skandal itu, Panama Papers nyaris tak berdengung di China.

Penyebabnya mudah ditebak. Beijing mengerahkan semua perangkat sensornya untuk melenyapkan dokumen Panama dari lanskap internet China.

Sensor pemerintah setidaknya berlaku buat segala sesuatu yang mengaitkan anggota atau keluarga Politbiro pada skandal tersebut.

Pasalnya selain Deng Jiagui, saudara ipar Presiden Xi Jinping dan dua anggota keluarga Komite Sentral, Zhang Gaoli dan Liu Yunshan, putri bekas Perdana Menteri Li Peng, Li Xiaolin, pun ikut tercantum dalam dokumen rahasia itu.

Serangan balik

China sejatinya menghadapi masalah besar menanggulangi aliran dana ilegal ke luar negeri. Antara tahun 2002 hingga 2011 saja negeri “Tirai Bambu” itu kehilangan dana hitam sekitar 1,8 triliun dolar AS atau setara Rp 24.000 triliun.

Jelas kurang menguntungkan buat Partai Komunis jika ada keluarga pejabat yang kedapatan ikut menilep harta ke luar negeri demi menghindar jerat pajak.

Sebuah tabloid China, Global Times, buru-buru menurunkan editorial yang mengecam "kekuatan besar" di balik kebocoran dokumen Panama.

Menurut media bercorak nasionalis itu, Panama Papers tidak lain adalah upaya barat menggembosi musuh-musuhnya, terutama Presiden Russian Vladimir Putin.

"Informasi yang bersifat negatif terhadap Amerika Serikat selalu bisa diminimalisir, sementara informasi seputar pemimpin non-barat seperti Putin, selalu dipelintir," tulis mingguan yang diterbitkan oleh Harian Rakyat milik Partai Komunis itu.

Rusia membantah

Senada dengan China, Rusia menepis temuan dalam Panama Papers terkait Presiden Vladimir Putin. Juru bicaranya, Dmitry Peskov, mengatakan media-media barat sedang mengkampanyekan Putinfobia dan berusaha mengacaukan situasi di Rusia jelang pemilu.

Dokumen Panama menyebut lingkaran terdekat Putin mendulang untung sebesar 2 miliar dolar melalui berbagai bisnis gaib yang dilakukan dari Panama.

Kroni Kremlin antara lain mengakuisisi saham perusahaan-perusahaan besar Rusia.

"Sudah jelas bahwa Putinfobia telah mencapai level di mana mustahil untuk berbicara hal yang positif tentang Rusia, dan sebaliknya mendorong orang untuk menjelek-jelekkan Rusia," tuturnya.

Ironisnya, isteri Peskov termasuk dalam nama pengusaha Rusia yang menjadi klien firma hukum Mossack Fonseca. Tatiana Navka, bekas atlit seluncur es, memiliki sejumlah perusahaan cangkang di British Virgin Islands (BVI).

"Isteri saya tidak pernah memiliki perusahaan offshore," kilah Preskov. "Jadi saya meragukan keabsahan klaim tersebut." [kp/NBCIndonesia.com+ResistNews Blog ]

No comments

Post a Comment

Home
loading...