Penistaan Agama Masih Berulang, MUI: Itu Karena Tidak Ada Efek Jera

+ResistNews Blog -  Maraknya penistaan Agama di Indonesia yang cenderung berulang dinilai akibat tidak adanya efek jera. Hal itu, menurut Ketua Komisi Hukum MUI Pusat Prof DR Muhammad Baharun, karena tidak segera dibawa ke pengadilan.

“Karena sudah memenuhi unsur-unsur pelanggaran hukum yaitu melanggar UU Penodaan Agama, tapi tidak segera dibawa kepengadilan, jadi tidak memberikan efek jera kepada pelakunya dan dianggap ini hate speech yang biasa,” ujarnya dalam acara soft launching Advokasi Untuk Penistaan Agama di Tebet, Jakarta pada Jumat (15/04).

Baharun juga mengatakan, banyaknya media sosial saat ini lebih membuat para penoda Agama lebih bebas melampiaskan kebenciannya. Maka, langkah terbaik adalah dengan dibawa ke pengadilan agar menimbulkan efek jera. Karenanya, saat ini dibentuk Badan Koordinasi Penanggulangan Penodaan Agama (BAKORPA) dengan harapan dapat memejahijaukan kasus penodaan agama ini.

“Tim Advokasi ini dibentuk bukan temporal tapi untuk permanen dan akan mengurus penodaan Agama, jadi ada tim yang akan menjaring mana yang harus di prioritaskan dan segera dibawa kepengadilan,” jelasnya.

Ia menambahkan penodaan agama terjadi dan berulang karena di Indonesia kebebasan diberikan tanpa batas. Menurutnya kebebasan itu harus diikat dengan Undang-undang. Ia mengatakan harus melalui ranah hukum karena nilai-nilai etika, budaya dan agama sudah tidak di gubris lagi oleh penista agama.

“Nilai-nilai agama ditabrak sama mereka, juga nilai-nilai etika dan budaya. Seharusnya ada undang-undang yang bisa menjerat mereka. Tapi kalau agama, etika dan budaya sudah diabaikan oleh mereka, jadi hukum yang harus bicara, dan kita masuk ranah hukum,” pungkasnya. [kiblat/ +ResistNews Blog ]

No comments

Post a Comment

Home
loading...