Indonesia Gagal Melindungi Kehormatan Perempuan

Penulis: Romlah (Ibu Rumah Tangga – Parongpong)

Ngeri, miris sekaligus ngilu saat membaca, menyimak, dan melihat rentetan peristiwa tidak bermoral ramai diberitakan media nasional. Kisah tragis gadis 14 tahun bernama Yuyun yang ‘digilir’ 14 pemuda hingga meregang nyawa. Hal tersebut terjadi pada bulan April di Bengkulu lalu, minuman keras menjadi penyebab kalapnya 14 pemuda melakukan aksi keji itu.

Belum lagi kisah memilukan Yuyun mereda, kisah yang tidak kalah biadab kembali terulang, Dadap Tangerang digemparkan oleh kasus kematian Eno, seorang karyawati sebuah pabrik di kawasan industri meregang nyawa di kamar messnya sendiri. Kali ini video porno melatarbelakangi kejadian cangkul maut. Ral yang tak lain adalah kekasih Eno menjadi dalang pembunuhan sadis itu. Ral gelap mata setelah ajakan berhubungan intimnya di tolak oleh Eno, hingga akhirnya cangkul maut bersarang di tubuh Eno. Sebenarnya masih banyak lagi kisah tragis kaum hawa lainnya yang tidak atau belum tercium oleh media. Kasus tersebut amatlah biadab sehingga membuat publik bertanya-tanya, mengapa pemerkosaan begitu mudah terjadi di negeri yang penduduknya mayoritas muslim ini?

Bila diamati secara seksama hal ini terjadi karena berbagai faktor. Pertama, makin jauhnya individu masyarakat dari nilai- nilai agama sehingga tidak takut kepada Sang Pencipta, Allah WT. Seorang lelaki yang mencuri kehormatan perempuan berarti bejat moralnya karena ia tidak takut azab Allah SWT, sebaliknya, seorang perempuan yang tampil merangsang hingga kerap menjadi korban dengan membuka aurat, berperilaku menggoda atau sengaja memancing birahi lawan jenis, juga bukan profil individu yang takut kepada Allah SWT.

Kedua, diumbarnya rangsangan- rangsangan seksual di ranah publik yang kian vulgar dan liar, lklan, film, musik, bacaan dan media massa semakin kental dengan muatan seksualitas tanpa sensor. Negara dengan kewenangannya, seharusnya melarang peredaran konten porno tersebut di ranah publik. Namun, tentu saja Negara yang menerapkan sistem sekuler- demokrasi dengan alasan hak asasi manusia tidak biisa melakukan hal itu.

Ketiga, dengan dalih HAM, siapapun bebas berbuat dan bertingkah laku, termasuk bisnis porno pun tumbuh subur dan tidak boleh dilarang karena bisa di anggap melanggar HAM.

Keempat, makin bebasnya interaksi laki-laki dan perempuan. Kondisi ini membuka peluang terjadinya ransangan-rangsangan seksual dengan begitu mudah. Merebaknya pacaran, teman tapi mesra, hubungan tanpa status dan perselingkuhan menjadikan peluang terjadinya pemerkosaan pun semakin terbuka sehingga tidak sedikit kita menemukan korban diperkosa oleh pacarnya sendiri.

Kelima, tidak adanya hukuman tegas yang membuat jera pemerkosa. Dalam hukum yang berlaku saat ini, pemerkosaan tidak dianggap kriminalitas berat. Sehingga faktanya tak sedikit yang di kurung beberapa bulan atau tahun, setelah itu bebas berkeliaran dan memperkosa lagi.

Kapitalisme sejatinya telah gagal menjamin keamanan. Maraknya pemerkosaan membuktikan bahwa Negara gagal melindungi kehormatan kaum perempuan. Bukti bahwa hukum buatan manusia yang di terapkan saat ini mandul dalam menjamin keamanan rakyatnya, khususnya kaum hawa. Ini membuktikan bahwa sistem sekuler-kapitalisme yang diterapkan hampir di seluruh dunia saat ini telah gagal menjamin keamanan, kehormatan dan kemuliaan perempuan. Sungguh mengerikan, dimana-mana perempuan terancam menjadi objek kejahatan seksual oleh para penjahat kelamin tak berperikemanusiaan. Itulah sebabnya, saatnya mengganti sistem sekuler-kapitalis ini dengan sistem Islam buatan Sang Pencipta Allah SWT.

Sistem Islam menjaga kehormatam perempuan. Islam mendudukan perempuan di posisi mulia, sehingga peluang dilecehkan juga minim apalagi jika ia taat pada syariat dengan selalu menutup aurat dan menjaga pandangannya dari syahwat.

Begitu pula jika sistem hukum Islam diterapkan pelaku pelecehan dan kejahatan seksual akan dihukum berat dan dibuat jera, masyarakat lain tercegah untuk berbuat hal yang sama. Semisal bagi pemerkosa jika melakukannya tanpa mengancam dengan menggunakan senjata, maka dihukumi layaknya pelaku zina. Jika pelaku sudah menikah dirajam, dan jika belum menikah di cambuk 100 kali, dan diasingkan selama 1 tahun. Sedangkan pemerkosaan dengan menggunakan senjata, dihukumi sebagaimana perampok, Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya hukuman terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasulnya dan membuat kerusakan di muka bumi, adalah mereka dibunuh atau disalib, dipotong tangan dan kaki mereka dengan bersilang atau dibuang (keluar daerah) yang demikian itu sebagai suatu penghinaan untuk mereka di dunia dan di akhirat mereka mendapat siksaan yang besar” (Q.S Al Maidah :33).

Hukum tegas seperti inilah yang akan memberi jaminan keamanan, benarlah firmanNya: ”Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki dan [hukum] siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (TQS Al Maidah: 50).

No comments

Post a Comment

Home
loading...