Perundingan Iran-Saudi Terkait Jamaah Haji Berakhir Buntu

+ResistNews Blog - Perundingan Saudi dan Iran berkenaan pemberangkatan jamaah haji kembali berakhir buntu. Perundingan kedua yang diadakan pada Jumat (27/05) kemarin, gagal setelah Iran memilih meninggalkan lokasi tanpa menghasilkan kesepakatan seperti dikutip SPA.

“Iran telah meminta hak untuk mengatur massa dan hak istimewa, hal ini bisa menimbulkan gangguan ibadah haji. Ini tidak dapat diterima,” ungkap Al-Juber dalam konferensi pers bersama Menlu Inggris Philib Hommand seperti dikutip dari BBC pada Ahad (29/05).

Arab Saudi menyalahkan Iran atas kebuntuan perundingan itu. Pasalnya, Saudi menilai Iran kurang serius dalam perundingan masalah ini. Bahkan, Iran dinilai mencoba mempolitisasi masalah haji ini.

Sebaliknya, Ali Jannati Menteri Kebudayaan Iran menyatakan bahwa Arab Saudi sengaja mencegah keberangkatan jamaah haji Iran tahun ini. Jannati dalam rilisnya menyayangkan hal itu.

“Setelah dua babak perundingan tanpa hasil, karena hambatan yang diberikan otoritas Saudi, sangat disayangkan jamaah Iran tidak bisa menunaikan ibadah haji (September mendatang),” terang Menteri Kebudayaan Iran Ali Jannati.

Bantahan tegas pun disampaikan oleh Menlu Saudi Adel Al-Juber seperti dikutip dari Al-Jazeera. Al-Juber menjelaskan bahwa Iran menolak untuk penandatanganan memorandum kesepahaman haji, yang merupakan rutinitas kesepakatan tahunan menjelang musim haji. Hal itu dilakukan guna memperjelas tindakan apa yang dibutuhkan untuk menjaga keselamatan dan keamanan jamaah haji, dari masing masing negara.

“Saudi tidak pernah menghalangi satu pun rutinitas berkenaan dengan kewajiban,” tegasnya.

Al-Juber menyebutkan bahwa hal itu terus dilakukan oleh 70 negara peserta haji. Namun untuk tahun ini Iran enggan menandatanganinya, karena mengangap Saudi tidak memenuhi tuntutan otoritas haji Iran.

“Saudi setiap tahunnya mengadakan penandatanganan memorandum kesepemahaman bersama 70 negara, untuk menjamin keamanan dan keselamatan jamaah haji. Tetapi Iran enggan menadatangani memorandum tahun ini,” imbuh Al-Juber.

Iran Meminta Jamaahnya Gelar Ritual Syiah

Selain itu, Adel Al-Juber memaparkan bahwa Iran menuntut keistimewaan lebih dari biasanya, dalam penyelenggaraan haji tahun ini. Misalnya mengizinkan ritual Syiah dalam pelaksanaan haji. Hal itu justru akan memicu kekacauan saat musim haji. Saudi dengan tegas menolak permintaan tersebut. Saudi juga memberi rambu-rambu agar setiap permintaan bersih dari kepentingan-kepentingan politik Iran.

Meski demikian, Saudi tetap memenuhi sejumlah permintaan lainnya, seperti penggunaan visa elektronik yang bisa dicetak Iran, walaupun tidak memiliki hubungan diplomatik. Saudi juga menyetujui permintaan Iran agar memiliki perwakilan diplomatik di kedutaan Swiss, untuk menangani keadaan darurat yang terjadi pada jamaahnya.

“Riyadh sepakat akan mempermudah pemberangkatan jamaah haji asal Iran, meskipun hubungan diplomatik dan penerbangan antarkedua negara telah putus,” jelas Al-Juber.

Sebagaiman diketahui, Riyadh telah memutuskan hubungan diplomatik dengan Teheran, pasca aksi brutal massa syiah yang menyerbu ke Kedutaan Saudi di Teheran pada bulan Januari lalu, menyusul pelaksanaan hukuman mati ulama Syiah Nimr Baqir Nimr.

Insiden itu memicu perselisihan kedua negara ke daerah lain, terutama dalam konflik di Suriah dan Yaman yang hingga kini belum berakhir, dan konflik lainnya di Timur Tengah. [kiblat.net/ +ResistNews Blog ]

No comments

Post a Comment

Home
loading...