Transisi Kebijakan Militer Pentagon di Tengah Perang Panjang Melawan Jihadis

Jika diamati saat ini Amerika Serikat sedang mengalami suatu transisi strategi militer di tengah perang panjang yang masih terus berlangsung melawan pejuang-pejuang Islamis Jihadis di berbagai belahan dunia. Sebelumnya, dunia melihat dalam operasi-operasi militer AS kerap mengerahkan puluhan hingga ratusan ribu pasukan tempur di berbagai basis & pangkalan militer yang banyak tersebar di luar negeri. Namun kini kekuatan masif itu digantikan dengan pengerahan pasukan dalam unit-unit kecil yang terbatas. Selaras dengan pergeseran strategi inilah, Pentagon sedang mengubah fokus pelatihan yang bertujuan untuk mempersiapkan pasukan yang bisa ditempatkan di mana saja.

Frase “di mana saja” dalam pelatihan militer berarti merujuk pada suatu tempat atau wilayah yang sangat jauh. Personil pasukan akan dilatih dengan melakukan perjalanan long-march membawa ransel besar & berat, menggali parit secara manual, dan tidur di tenda-tenda yang tidak memiliki akses apapun kecuali yang hanya bisa memenuhi kebutuhan hidup dasar.

Kondisi ini sangat jauh berbeda dengan saat mobilisasi pasukan secara masif di pangkalan-pangkalan asing yang penuh dengan fasilitas kenyamanan standar rumah tinggal, seperti AC, suplai air bersih, listrik, gas, TV kabel, dan lain-lain, termasuk berbagai makanan cepat saji. Para pejabat Pentagon menegaskan bahwa hal itu penting, karena ke depan para personil pasukan akan semakin banyak dikerahkan ke berbagai wilayah konflik yang tidak tersedia bermacam-macam kenyaman semacam itu. Pasukan hanya akan dibekali dengan peralatan yang terbatas, sehingga mereka diharapkan mampu membawa dan melindungi diri mereka sendiri.

Pergeseran atau transisi ini dianggap wajar untuk meningkatkan daya tahan & skill individu pasukan dalam rangka mengimbangi pejuang-pejuang jihadis yang memiliki kemampuan tempur termasuk determinasi di atas rata-rata pasukan reguler. Dalam banyak operasi militer, para aktor negara sub-ordinat Amerika dan AS sendiri dalam proyek global GWOT selalu menggunakan “rumus baku”, yaitu mengerahkan pasukan dengan kekuatan berlipat untuk menghadapi para jihadis. Satu regu jihadis akan dilawan dengan satu batalyon, satu batalyon dilawan satu brigade, satu brigade dilawan satu divisi, dst. Rumus baku ini pula diadopsi oleh satuan-satuan non-militer lain, baik itu aparat intelkam saat mengawasi target individu maupun lembaga “penegak hukum” saat melakukan penindakan.

Persis dengan pola yang kini sedang dieksperimentasikan oleh Pentagon, bahwa para kombatan jihadis sangat biasa mendapatkan pelatihan dalam “tadrib askari” mereka dengan pola yang “simple dan terarah”. Simpel karena tidak banyak menggunakan peralatan berteknologi tinggi, seperti simulator menembak di dalam ruangan, alat berat untuk membangun trenches atau parit pertahanan regu, ataupun alat navigasi satelit. Sebaliknya, para jihadis langsung menggunakan peluru hidup tanpa simulator elektronik, mengandalkan kekuatan fisik untuk menggali parit, serta penguasaan medan secara riil yang tidak lagi memerlukan alat-alat elektronik pendukung. Terarah karena para jihadis tidak harus melewati semua “menu” latihan ala Navy SEAL, namun langsung disesuaikan dengan misi dan karakter musuh dan medan perang.

Memasuki dekade kedua pasca 11/9 dunia dihadapkan dengan perkembangan semakin menyebarnya titik-titik api perjuangan jihadis di banyak tempat di Timur Tengah, Asia, dan Afrika. Sejak itu pula Pentagon mulai realistis dengan tidak lagi mengirim pasukan besar-besaran sebagaimana di era Bush Jr., namun AS mulai menggalang negara-negara di dunia untuk mengambil alih posisi Amerika di front terdepan yang berhadapan langsung dengan jihadis. Seperti dalam konflik di Suriah, Yaman, Iraq, dan Afghanistan, saat ini Washington lebih banyak mengandalkan dan memanfaatkan sekutu-sekutu lokal pemerintahan negara-negara subordinat termasuk milisi-milisi non-negara untuk dipersenjatai dan menjadi proksi AS melawan jihadis. Sementara AS sendiri akan mengambil peran sebagai pelatih, pengawas, dan penasehat militer bagi sekutu-sekutu lokal tersebut.

Pergeseran strategi Pentagon yang mulai fokus mempersiapkan pasukan dalam unit-unit kecil terkait pula dengan perkembangan benua Afrika dalam satu dekade terakhir yang terlihat sangat kondusif bagi kelompok-kelompok jihadis. Sejak era Farah Aidit di tahun 1990an, Somalia sudah menjadi tempat yang tidak nyaman bagi kehadiran militer Amerika. Perkembangan terkini di mana para jihadis al-Syabaab telah menguasai kota-kota dan wilayah yang luas menjadikan situasi bukan lagi sekedar “tidak nyaman” bagi Amerika, namun semakin rumit. Arab Springs menjadi momentum dimulainya “kekacauan” dan munculnya kelompok-kelompok perlawanan bersenjata di Afrika Utara dari Mesir hingga Algeria. Cabang-cabang al-Qaidah yang sudah eksis lama di Barat & Utara dan di bentang Sahara termasuk kelompok afiliasi ISIS berkontribusi menjadikan benua Afrika sebagai harapan sekaligus tantangan bagi para pejuang jihadis dan juga bagi strategi Amerika.

Di dalam negeri AS sendiri telah dimulai kebijakan pengurangan sejumlah anggaran baik oleh pemerintah federal maupun senat. Budget operasional untuk dinas keamanan dan militer beberapa kali terpaksa dipangkas setelah diajukan ke Kongres. Pengurangan anggaran biasanya dilakukan untuk mengendalikan serta menjaga keseimbangan negara secara finansial terkait resiko mengalami krisis dengan level tertentu. Apakah pergeseran strategi yang dilakukan Pentagon saat ini berlatar belakang kondisi finansial pemerintah Amerika yang tidak seimbang, ataukah semata-mata sebagai bentuk penyesuaian & respon terhadap meningkatnya eskalasi penyebaran titik api jihadis? Kita bisa menjawab dengan adagium kontemporer bahwa di era dunia yang semakin ter-connected seperti saat ini, hampir tidak ada satu peristiwa yang disebabkan oleh faktor tunggal. [Antiwar/ +ResistNews Blog ]

No comments

Post a Comment

Home
loading...