Archive by date

Ketua PBNU: Hukum Tetap Berjalan Meski Umat Islam Sudah Memaafkan

item-thumbnail
+ResistNews Blog - KH Said Aqil Siroj menyatakan, proses hukum kasus penistaan agama harus tetap berjalan meskipun umat Islam sudah memaafkan. Hal itu diungkapnya terkait adanya rencana Aksi Bela Islam II pada 4 Nopember mendatang.

"Siapa pun yang melakukan kesalahan kemudian meminta maaf ya dimaafkan, tapi hukum tetap berlaku, tetap berjalan," kata Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu, Jumat (28/10/2016), seperti dikutip Republika.

Menurutnya, merupakan tugas aparat Kepolisian untuk memanggil dan memeriksa, serta berlaku seadil-adilnya terhadap kasus yang ditangani.

PBNU pun secara resmi telah mengeluarkan pernyataan terkait Aksi Bela Islam II yang akan digelar pada 4 Nopember mendatang. (Baca: Ini Sikap Resmi PBNU tentang Aksi Bela Islam II)

Dalam pesan moral tersebut, PBNU juga mengimbau kepada aparat kepolisian untuk segera melakukan tindakan dan langkah sesuai dengan prosedur hukum dan perundangan yang berlaku, agar dapat memenuhi rasa keadilan masyarakat dengan tanpa mengabaikan asas praduga tak bersalah. Upaya ini harus dilakukan guna menghindarkan terjadinya yang cenderung menimbulkan kegaduhan dan anarki. [Tarbiyah.net/ +ResistNews Blog ]
loading...
Read more »

Ini Sikap Resmi PBNU Tentang Aksi Bela Islam 4 Nopember

item-thumbnail
Aksi Bela Islam yang akan digelar 4 Nopember mendatang semakin ramai diperbincangkan. Tak hanya di DKI Jakarta, aksi menuntut Ahok diadili tersebut juga mendapat sambutan luas di berbagai daerah.

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memberikan tanggapan resmi terkait rencana Aksi Bela Islam II tersebut, yang intinya meminta agar umat Islam menjaga ukhuwah, persatuan dan kesatuan bangsa. Terkait Aksi Bela Islam II, PBNU meminta agar peserta menjaga akhlakul karimah dan ketertiban.

Berikut ini pernyataan lengkap PBNU yang dituangkan dalam Pesan Moral seperti dikutip situs resmi nu.or.id, Jumat (28/10/2016):


Pesan Moral
Berpecah adalah Musuh Utama Ukhuwah: Jaga Ukhuwah untuk Indonesia yang Aman dan Damai



Bismillahirrohmanirrohim

Alhamdulillahirobbilalamin, puji syukur kepada Allah SWT, Indonesia terus berkembang menjadi sebuah negara yang hidup berdasarkan kepada nilai-nilai luhur bangsa dimana masyarakatnya dapat hidup aman-tenteram saling menghormati, dan rukun berdampingan secara harmonis antara satu dengan yang lainnya.

Hari ini, Indonesia dikenal publik Internasional sebagai negara yang patut dijadikan percontohan dan teladan, terutama dalam menjadikan faktor kebhinnekaan (keanekaragaman) justru sebagai kekuatan. Bhinneka Tunggal Ika. Indonesia telah berhasil meletakkan hubungan agama dengan negara secara ideal.

Agama tidak lagi dipertentangkan dengan negara. Nilai agama melebur dengan budaya lokal yang baik, melahirkan spirit wathoniyah (nasionalisme yang tumbuh subur dengan berkembangnya nilai keagamaan). Sebagaimana yang disampaikan Hadlratussyaikh KH M. Hasyim Asy'ari, pendiri Jamiyyah Nahdlatul Ulama yakni:


حب الوطن من الإيمان


"Cinta tanah air adalah bagian dari Iman"

Tidak begitu halnya yang terjadi di beberapa negara, terutama di negara-negara Teluk ataupun di negara-negara sekuler.

Hari ini negara-negara teluk seperti Irak, Pakistan, Afghanistan, Suriah, Yaman dan lainnya, memasuki suatu babakan baru yang disebut sebagai "failed-state", negara gagal, diakibatkan keliru menerapkan hubungan agama dan negara, sehingga keduanya dipertentangkan satu sama lain yang akibatnya menimbulkan kekacaubalauan.

Ratusan ribu bahkan jutaan manusia menjadi korban atas peperangan yang timbul akibat kesalahpahaman. Sementara di negara-negara sekuler yang hanya mengedepankan rasionalitas tanpa agama justru melahirkan titik balik suatu peradaban yang tidak lagi "memanusiakan manusia".

Dewasa ini, kita tengah menghadapi suatu diskursus publik yang luas, terutama dalam penyikapan masyarakat atas pernyataan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama di Kepulauan Seribu, yang menimbulkan kontroversi di hampir seluruh kalangan. Bahkan sebagian kalangan mengatasnamakan "Aksi Bela Islam II" akan menggelar aksi besar tanggal 4 November mendatang.

Mencermati eskalasi dan perkembangan keadaan terkini, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), bersama ini menegaskan:

1. Mari jaga persatuan dan kesatuan bangsa. Pererat tali silaturahim antar komponen masyarakat. Berpecah adalah musuh utama dari ukhuwah. Ukhuwah adalah modal utama kita di dalam membangun suatu tatanan masyarakat yang aman, damai, adil, dan makmur. Jaga Ukhuwah Wathoniyah (persaudaraan setanah air) dan Ukhuwah Basyariyah (persaudaraan sesama manusia), agar Indonesia terbebas dari ancaman perpecahan.


واعتصموا بحبل الله جميعا ولاتفرقوا


“Berpegang teguhlah kalian semua pada tali Allah, dan jangan berpecah-belah" (QS: Ali-Imran, 103)

2. Kepada seluruh pengurus NU dan warga NU untuk secara pro-aktif turut menenangkan situasi, menjaga agar suasana yang aman dan damai tetap terpelihara dan tidak ikut-ikutan memperkeruh suasana dengan provokasi dan hasutan. PBNU melarang penggunaan simbol-simbol NU untuk tujuan-tujuan di luar kepentingan sebagaimana menjadi keputusan jamiyyah NU.

3. Mengimbau kepada aparat kepolisian untuk segera melakukan tindakan dan langkah sesuai dengan prosedur hukum dan perundangan yang berlaku, agar dapat memenuhi rasa keadilan masyarakat dengan tanpa mengabaikan asas praduga tak bersalah. Upaya ini harus dilakukan guna menghindarkan terjadinya yang cenderung menimbulkan kegaduhan dan anarki.

4. Kepada para pihak yang hendak menyalurkan aspirasi dengan berunjuk rasa, PBNU mengimbau agar tetap menjaga akhlakul karimah dengan tetap menjaga ketertiban, menjaga kenyamanan lalu lintas dan dapat menjaga keamanan masyarakat demi keutuhan NKRI.

5. Mari tengadahkan tangan mohon petunjuk dan berdoa semoga Indonesia selalu diberi kesejukan dan kedamaian dalam perlindungan, penjagaan dan pertolongan dari Allah SWT.


اللهم أنت السلام ومنك السلام وإليك يعودالسلام فحينا ربنا بالسلام وأدخلنا الجنة دارالسلام


حسبناالله ونعم الوكيل نعم المولى ونعم النصي




Jakarta, 28 Oktober 2016/27 Muharram 1438



وَاللهُ الْمُوَفِّقُ إِلَى أَقْوَمِ الطَّرِيْقِ


وَالسَّــــــــــــــلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ




DR KH Ma’ruf Amin
Rais Aam PBNU


KH Yahya C. Staquf
Katib Aam PBNU


Prof Dr KH Said Aqil Siroj, MA
Ketua Umum PBNU


DR HA. Helmy Faishal Zaini
Sekretaris Jenderal PBNU
loading...
Read more »

Ketika Maaf Tidak Dimaafkan

item-thumbnail
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, alias Ahok, akhirnya meminta maaf pada umat Islam. Dia menyesali pernyataannya mengenai tafsiran Ayat 51 surat Al-Maidah saat menggelar dialog dengan warga di Kepulauan Seribu Selasa lalu, 27 September 2016, telah menciptakan gejolak keresahan di masyarakat.

Melalui media massa, Ahok mengakui telah membuat kegaduhan, terutama bagi seluruh umat Islam. Dia meminta maaf karena menafsirkan Surat Al-Maidah ayat 51. Ahok menyatakan tak bermaksud menyinggung atau melecehkan Islam.“Untuk semua pihak yang jadi repot, gaduh, gara-gara saya, saya sampaikan mohon maaf,” ujar Ahok di Balai Kota, Jakarta Pusat, Senin (10/10/2016).

“Kasus permintaan maaf Ahok” itu selanjutnya dibedah oleh berbagai nara sumber dalam program TV One Indonesia Lawyers Club (ILC), Selasa (11/10/2016). Kepiawaian Bang Karni dalam memandu acara bertajuk: “Setelah Ahok Minta Maaf” itu tampak jelas saat beliau menyitir surat Ali Imran: 134: “Bukankah orang-orang takwa itu orang yang menginfakkan hartanya ketika lagi lapang/ berada atau lagi sempit, dan orang-orang yang bisa menahan amarahnya serta orang-orang yang memaafkan kesalahan orang lain.” Demikian ujar Bang Karni dalam mengantar “Panasnya diskusi” di malam itu.

“Ahok sudah minta maaf, kalau sudah minta maaf yah diselesaikan saja. Dan saya rasa Ahok bukan orang jahat lah… Diselesaikan dengan baiklah dengan fair tanpa ada kampanye hitam” ucap Buya— panggilan akrab Syafii Maarif— saat dimintai tanggapan soal kegaduhan pernyataan Ahok terkait Surat Al-Maidah, yang semakin menambah “panas diskusi” pada Selasa (11/10/2016) itu.

Pengantar Bang Karni dan pernyataan Buya telah “memancing” sebagian jamaah Pengajian untuk bertanya kepada kami: “Apakah semua kesalahan dapat dimaafkan?” “Apakah kesalahan Ahok dapat dikaterogikan ‘salah bernilai maaf’?

Memilah Kesalahan

Al-Qur’an telah mengajarkan kepada kita untuk memilah beragam jenis kesalahan. Pemahaman terhadap ragam kesalahan ini hendak mengantarkan kita agar tidak salah dalam bersikap terhadap kesalahan yang diperbuat oleh seseorang.

Dilihat dari segi hak yang dilanggarnya, kesalahan suatu perbuatan dibagi menjadi dua bagian:
(1) yang menyinggung hak Allah,
(2) yang menyinggung hak manusia, perorangan atau masyarakat.

Sementara dilihat dari kehendak si pelaku, Al-Qur’an memilah kesalahan dalam dua kategori: (1) Al Khatha’ (الخطأ) dan
(2) Al Khathii’ah (الخطيئة).

Perbedaan keduanya dilihat dari ada dan tiadanya unsur kesengajaan (iraadah/maqsudah). Suatu kesalahan yang dilakukan tanpa unsur kesengajaan disebut Al khatha’ (الخطأ), semisal seseorang melakukan atau mengucapkan sesuatu yang terlarang karena unsur ketidaktahuan, lupa, atau keterpaksaan. Kesalahan ini dikategorikan sebagai antonym (lawan) dari kebenaran (الصواب). Namun jika dilakukan dengan kesengajaan/ sadar, atau bahkan mengulangi kesalahan yang sama, disebut Al khathii’ah (الخطيئة). Orang yang melakukan kesalahan dalam kategori khathii’ah tidak merasa berdosa atau tidak ada itikad untuk berhenti dari kesalahannya.

Sikap Berbeda Terhadap Kesalahan

Kesalahan dalam kategori Al khatha’ (الخطأ) boleh jadi dibenarkan dalam Islam, dan pelakunya tidak berdosa dan tidak dikenai hukuman dengan syarat tidak mengulangi kesalahan yang sama. Kesalahan ini termasuk sifat manusia yang tidak steril darinya (ma’shum), selain para nabi dan rasul. Meski begitu, pelakunya diharuskan bertaubat, beristigfar, dan memohon maaf kepada Allah Swt. Demikian itu berdasarkan sabda Nabi saw.:

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Setiap manusia berbuat salah, dan yang paling dari orang yang berbuat salah adalah yang banyak bertaubat.” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi).

Namun dalam kondisi tertentu, kesalahan jenis ini dapat pula berakibat dihukum (‘uqubah) sekiranya menimbulkan kerugian pada yang lain, seperti menembak burung namun terkena pada seorang Muslim hingga meninggal dunia (qatlu al-khata’). Meski tidak berdosa, pelaku dikenai hukuman berupa kewajiban membayar diyat/ denda kepada wali korban. Diyat ialah pembayaran sejumlah harta karena sesuatu tindak pidana terhadap sesuatu jiwa atau anggota badan (QS. An-Nisa:92).

Sementara kesalahan dalam kategori Al khathii’ah (الخطيئة), selain dipandang berdosa pelakunya juga senantiasa dikenai hukuman (‘uqubah), seperti pencurian, pembunuhan secara sengaja, meninggalkan shalat, dan murtad (keluar dari agama Islam). Kesalahan dalam kategori ini dikenai jenis hukuman sesuai dengan bentuk perbuatannya. Untuk perbuatan zina, menuduh zina tanpa dibuktikan dengan 4 orang saksi (qadzf), pencurian, perampokan, pemberontakan (al-buqhat), mengganggu ketertiban umum atau mengacaukan keamanan (hirabah), minum minuman keras, dan riddah (murtad), dikenai hukuman berupa hudud, yaitu macam dan sanksinya ditetapkan secara mutlak oleh Allah, sehingga manusia tidak berhak untuk menetapkan hukuman lain selain hukuman yang ditetapkan Allah Swt. Sanksi hudud tidak mempunyai batas terendah dan tertinggi dan tidak bisa dihapuskan oleh perorangan (si korban atau walinya) atau masyarakat yang mewakili (ulil amri).

Untuk pembunuhan dengan sengaja atau penganiayaan dengan sengaja dikenai hukuman Qishash (serupa/ semisal) dan Diyat atau ganti rugi dari si pelaku atau ahlinya kepada si korban atau walinya. Adapun untuk maksiat, perbuatan yang membahayakan kepentingan umum, atau pelanggaran (mukhalafah), yang hukumannya tidak ditentukan oleh syara’ dikenai sanksi Ta’zir. Menurut Imam Al-Mawardi, “Ta’zir adalah hukuman yang bersifat pendidikan atas perbuatan dosa (maksiat) yang hukumannya belum ditetapkan oleh syara.” Maka untuk menetapkan hukuman atas kesalahan perbuatan dalam kategori ini diserahkan kepada pemerintah (ulil amri) atau keputusan hakim (Qadhi).

Kategori Kesalahan Ahok dan Pembelanya

Dilihat dari segi hak yang dilanggarnya, kesalahan Ahok dikategorikan perbuatan yang menyinggung dua hak sekaligus:
(1) hak Allah,
(2) hak ulama.

Pertama, melanggar Hak Allah, karena dalam Al-Quran surah al-Maidah ayat 51, secara eksplisit (gamblang, tegas) Allah telah melarang umat Islam menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin. Hak Allah telah diintervensi oleh Ahok dengan tafsiran bahwa “konteks yang sebenarnya ayat itu melarang orang Islam memilih Nasrani dan Yahudi menjadi teman, sahabat.”. Kandungan surah al-Maidah ayat 51 yang berisi larangan menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin dinyatakan sebuah KEBOHONGAN. Tafsiran dan pernyataan Ahok dinilai sudah memenuhi unsur penistaan agama dan penodaan terhadap Al-Quran.

Kedua, hak ulama, karena ulama wajib menyampaikan isi surah al-Maidah ayat 51 kepada umat Islam sesuai dengan ketetapan Allah bahwa memilih pemimpin Muslim adalah wajib. Dan setiap orang Islam wajib meyakini kebenaran isi surah al-Maidah ayat 51 sebagai panduan dalam memilih pemimpin. Hak ulama telah dinodai oleh Ahok dengan menyatakan BOHONG terhadap ulama yang menyampaikan dalil surah al-Maidah ayat 51 tentang larangan menjadikan kafir sebagai pemimpin. Pernyataan Ahok dinilai sudah memenuhi unsur penghinaan terhadap ulama.

Sementara dilihat dari ada dan tiadanya unsur kesengajaan (iraadah/ maqsudah), kesalahan Ahok dikategorikan Al khathii’ah (الخطيئة), karena tafsiran dan pernyataan Ahok dilakukan dengan kesengajaan (dalam keadaan SADAR). Kesalahan ini memiliki konsekuensi hukum (‘uqubah), sebagaimana dinyatakan secara tegas di dalam Al-Qur’an dan Sunnah berikut ini:

Penjelasan Al-Qur’an

Allah Swt. berfirman:

وَإِنْ نَكَثُوا أَيْمَانَهُمْ مِنْ بَعْدِ عَهْدِهِمْ وَطَعَنُوا فِي دِينِكُمْ فَقَاتِلُوا أَئِمَّةَ الْكُفْرِ إِنَّهُمْ لَا أَيْمَانَ لَهُمْ لَعَلَّهُمْ يَنْتَهُونَ
“Jika mereka merusak sumpah (janji)-nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang (yang tidak dapat dipegang) janjinya, agar supaya mereka berhenti.”
(QS. At-Taubah: 12).

Dan firman-Nya:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ
“Jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang penghinaan yang mereka ucapkan itu), tentulah mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kalian selalu berolok-olok? Tidak usah kalian minta maaf karena kalian telah kafir sesudah beriman.” (QS At-Taubah 65-66).

Dan firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَاباً مُّهِيناً وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَاناً وَإِثْماً مُّبِينا
“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan. Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, Maka Sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS.Al-Ahzab: 57-58).

Penjelasan Sunnah

Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ لِكَعْبِ بْنِ الْأَشْرَفِ فَإِنَّهُ قَدْ آذَى اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَالَ مُحَمَّدُ بْنُ مَسْلَمَةَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتُحِبُّ أَنْ أَقْتُلَهُ قَالَ نَعَمْ
“Siapakah di antara kalian yg sanggup membunuh Ka’ab bin Al-Ayhraf? Sebab dia telah menyakiti Allah dan Rasul-Nya.” Maka Muhammad bin Maslamah berkata, “Wahai Rasulullah, setujukah anda jika aku yang akan membunuhnya?” Beliau bersabda: Ya.”
(HR. Muslim).

عَنْ عِكْرِمَةَ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ عَبَّاسٍ أَنَّ أَعْمَى كَانَتْ لَهُ أُمُّ وَلَدٍ تَشْتُمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَقَعُ فِيهِ فَيَنْهَاهَا فَلَا تَنْتَهِي وَيَزْجُرُهَا فَلَا تَنْزَجِرُ قَالَ فَلَمَّا كَانَتْ ذَاتَ لَيْلَةٍ جَعَلَتْ تَقَعُ فِي النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَشْتُمُهُ فَأَخَذَ الْمِغْوَلَ فَوَضَعَهُ فِي بَطْنِهَا وَاتَّكَأَ عَلَيْهَا فَقَتَلَهَا فَوَقَعَ بَيْنَ رِجْلَيْهَا طِفْلٌ فَلَطَّخَتْ مَا هُنَاكَ بِالدَّمِ فَلَمَّا أَصْبَحَ ذُكِرَ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَمَعَ النَّاسَ فَقَالَ أَنْشُدُ اللَّهَ رَجُلًا فَعَلَ مَا فَعَلَ لِي عَلَيْهِ حَقٌّ إِلَّا قَامَ فَقَامَ الْأَعْمَى يَتَخَطَّى النَّاسَ وَهُوَ يَتَزَلْزَلُ حَتَّى قَعَدَ بَيْنَ يَدَيِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَا صَاحِبُهَا كَانَتْ تَشْتُمُكَ وَتَقَعُ فِيكَ فَأَنْهَاهَا فَلَا تَنْتَهِي وَأَزْجُرُهَا فَلَا تَنْزَجِرُ وَلِي مِنْهَا ابْنَانِ مِثْلُ اللُّؤْلُؤَتَيْنِ وَكَانَتْ بِي رَفِيقَةً فَلَمَّا كَانَ الْبَارِحَةَ جَعَلَتْ تَشْتُمُكَ وَتَقَعُ فِيكَ فَأَخَذْتُ الْمِغْوَلَ فَوَضَعْتُهُ فِي بَطْنِهَا وَاتَّكَأْتُ عَلَيْهَا حَتَّى قَتَلْتُهَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَا اشْهَدُوا أَنَّ دَمَهَا هَدَرٌ

Dari Ikrimah, ia berkata, “Ibnu Abas telah menceritakan kepada kami, ‘Bahwa ada seorang laki-laki buta yang mempunyai ummu walad (budak wanita yang melahirkan anak dari tuannya) yang biasa mencaci Nabi saw. dan merendahkannya. Laki-laki tersebut telah mencegahnya, namun ia (ummu walad) tidak mau berhenti. Laki-laki itu juga telah melarangnya, namun tetap saja tidak mau. Hingga pada satu malam, ummu walad itu kembali mencaci dan merendahkan Nabi saw. Laki-laki itu lalu mengambil pedang dan meletakkan di perut budaknya, dan kemudian ia menekannya hingga membunuhnya. Akibatnya, keluarlah dua orang janin dari antara kedua kakinya. Darahnya menodai tempat tidurnya. Di pagi harinya, peristiwa itu disebutkan kepada Rasulullah saw. Beliau saw. mengumpulkan orang-orang dan bersabda, ‘Aku bersumpah dengan nama Allah agar laki-laki yang melakukan perbuatan itu berdiri sekarang juga di hadapanku.’ Lalu, laki-laki buta itu berdiri dan berjalan melewati orang-orang dengan gemetar hingga kemudian duduk di hadapan Nabi saw. Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, akulah pembunuhnya. Wanita itu biasa mencaci dan merendahkanmu. Aku sudah mencegahnya, namun ia tidak mau berhenti. Dan aku pun telah melarangnya, namun tetap saja tidak mau. Aku mempunyai anak darinya yang sangat cantik laksana dua buah mutiara. Wanita itu adalah teman hidupku. Namun kemarin, ia kembali mencaci dan merendahkanmu. Kemudian aku pun mengambil pedang lalu aku letakkan di perutnya dan aku tekan hingga aku membunuhnya.’ Nabi saw. bersabda, ‘Saksikanlah bahwa darah wanita itu hadar (sia-sia)’.” HR. Abu Dawud dan An-Nasai

Darahnya hadar, maksudnya darah perempuan yang mencaci Nabi saw. itu sia-sia, tak boleh ada balasan atas pembunuhnya dan tak boleh dikenakan diyat/ tebusan darah. Jadi darahnya halal alias halal dibunuh.

عَنْ عَلِيٍّ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ يَهُودِيَّةً كَانَتْ تَشْتُمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَقَعُ فِيهِ فَخَنَقَهَا رَجُلٌ حَتَّى مَاتَتْ فَأَبْطَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَمَهَا

Dari Ali Ra. bahwa seorang wanita Yahudi telah memaki/ menghina Nabi saw. dan mencelanya, maka seorang lelaki mencekiknya hingga mati, maka Rasulullah saw. membatalkan darahnya. (HR. Abu Dawud)

Berbagai penjelasan Al-Qur’an dan Sunnah di atas dipandang cukup untuk menunjukkan bahwa segala bentuk penistaan terhadap Islam dan syiar-syiarnya sama dengan ajakan berperang dan pelakunya ditindak tegas. Seorang muslim yang melakukan penistaan Islam dihukumi murtad dan dia akan dihukum mati. Apalagi bila itu dilakukan orang-orang kafir.

Dengan demikian, perbuatan Ahok dapat dikategorikan kesalahan yang tidak dimaafkan. Maafkanlah umat Islam apabila tidak dapat memenuhi permintaan maaf Pak Ahok, karena pemberian maaf atas kesalahannya adalah:
1. Hak Allah (yg tdk dapat diwakili oleh siapapun & harus dibela oleh Nabi/ UmmatNya), dan
2. Hak para Ulama yang telah dinistakan hak-haknya.

Catatan:
1. Nabi Muhammad Saw adalah Pemaaf, tapi selama itu menyinggung Pribadi beliau bukan menyinggung Islam (Allah, Al Quran, dll)
2. Bagi Ulama & ummat Islam DIWAJIBKAN membela Islam (Allah, Al Quran/ Hadits, Shahabat Nabi).

Penulis, Al-Ustadz Amin Muchtar
(Anggota Dewan Hisbah PP Persis)
loading...
Read more »

Murtad dan Hina Islam, Blogger Saudi Raif Badawi Dijatuhii Hukuman 1.000 Cambukan dan 10 Tahun Penjara

item-thumbnail
+ResistNews Blog - Blogger asal Saudi Raif Badawi, yang mengelola forum “Free Liberal” dijatuhi hukuman 10 tahun penjara dan 1.000 cambukan, karena Ia mengumumkan kekafirannya secara online dan menghina Islam, bahkan Badawi dipastikan akan menerima lebih banyak hukum cambuk, dilansir oleh MEMO.

Menurut Evelyne Abitbol, seorang pendiri “Raif Badawi Foundation”,mengumumkan bahwa pemerintah Arab Saudi akan melanjutkan hukuman dengan mencambuk Badawi.

“Sumber kami [Abithol] adalah sumber yang sama yang memberitahu kami tentang hukuman 50 cambukan pertama terhadap M. Raif Badawi yang dilakukan di tempat umum pada 9 Januari 2015.

Pemahaman kami tentang informasi ini adalah bahwa hukuman cambuk lainnya akan berlangsung saat ini di dalam penjara,” tulis Evelyn Abitbol dalam postingan blog.

Evelyn kemudian mendesak pemerintah Saudi untuk melepaskan Badawi dan menghentikan hukuman yang Ia klaim tidak manusiawi itu.

Badawi ditangkap pada tahun 2012 setelah Ia mengumumkan ateisme dirinya itu serta Ia juga telah mendukung orang-orang untuk murtad dari Islam. Tindakan Badawi tersebut merupakan tindakan ilegal di Arab Saudi, dan dapat menyebabkan hukuman mati.

Pada tahun 2015, pengadilan Saudi menjatuhkan Badawi hukuman sebanyak 1.000 cambukan dan 10 tahun penjara. Putusan pengadilan Saudi ini menyebabkan beberapa perbedaan pendapat diplomatik dengan negara-negara lain di masa lalu. [panjimas.com/ +ResistNews Blog]
loading...
Read more »

Resolusi Terbaru UNESCO Tetapkan Masjid Al Aqsha Dalam Daftar Bahaya

item-thumbnail
Add caption


+ResistNews Blog - Rabu 26 Oktober 2016, Organisasi Pendidikan, Keilmuan dan Kebudayaan PBB “UNESCO” kembali mengeluarkan resolusi baru terkait komplek Masjid Al Aqsha, yang berisi kondisi darurat akibat aktifitas Yahudisasi penjajah Zionis Israel di Al Quds.

Dalam resolusi tersebut, UNESCO memasukan komplek Masjid Al Aqsha dalam daftar bahaya akibat Yahudisasi dan penggalian yang dilakukan penjajah Zionis Israel di bawah Masjid. Dan menyatakan pemerintah Tel Aviv bertanggung jawab penuh atas perusakan tersebut.

Tercatat sebanyak 10 negara menyetujui resolusi baru, 8 lainnya menolak, dan satu negara abstain dalam pemungutan suara yang berlangsung di markas UNESCO di ibukota Perancis, Paris.

Rancangan resolusi Masjid Al Aqsha ditetapkan oleh Kuwait, Lebanon, Tunisia, resolusi atas nama Jordan dan Palestina.

Disisi lain, PM Benjamin Netanyahu dalam pernyataan resminya mengecam resolusi baru UNESCO dan menyebutnya sebagai keputusan permusuhan terhadap bangsa Yahudi, serta menarik delegasi Zionis Israel dari UNESCO. (Anatolia/Skynewsarabia/Ram/eramuslim.com/ +ResistNews Blog)
loading...
Read more »

Aktivis UI Bersatu Gagas Reformasi Total VS Kubu “Reklamasi Total” Ahoker

item-thumbnail
+ResistNews Blog - Pengamat politik yang juga tokoh Praja Muda Beringin (PMB), Indra Jaya Piliang, semakin garang di “perang dunia maya” menghadapi buzzer Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Jika sebelumnya, Indra Piliang mengungkap aliran dana korporasi ke program pencitraan Ahok, kini Indra Piliang menegaskan bahwa saat ini terjadi perang antara “kaum reformasi total” vs “kaum reklamasi total”.

“Kaum REFORMASI TOTAL vs Kaum REKLAMASI TOTAL. Reformasi Jilid II melawan Nomor 2 yang anti rakyat miskin, pro tembok-tembok kota ala Tembok China!!” tegas Indra di akun Twitter @IndraJPiliang.

Indra Piliang mengungkapkan bahwa “pasukan Ahok” sedang berperang menghadapi “anak-anak UI di sosmed. “Pasukan Ahok lagi perang hadapi anak-anak UI di socmed. Dari sisi apapun, anak-anak UI lebih cerdaslah. Nggak asbun, sok punya data,” tulis @IndraJPiliang.

Atas peran aktivis Universitas Indonesia, @IndraJPiliang menulis: “Makasih atas konsolidasi total aktivis-aktibis UI dalam perang melawan diktator anti jelata & mustadafin model Ahok ini. Tak punya kontribusi reformasi!”

Sebelumnya, akun loyalis Ahok-Jokowi, @kurawa, menyebut Indra Piliang pernah minta uang untuk memenangkan Ahok di Pilgub DKI 2017. Namun, karena tidak dikasih, Indra Piliang disebut menjadi hater.

“Gue sih punya percakapannya IJP di WA grup Praja Muda Beringin yang dia buat utk jualan ke Golkar supaya dihire jadi tim medsosnya Ahok. Minta 300 juta dengan dalih kita siap menangin Ahok .. pas ditolak sama rekan partainya langsung berubah jadi haters Ahok, miskin nian kau,” tulis @kurawa.

@IndraJPiliang pun berkicau: “99,9℅ kader-kader inti #PrajaMudaBeringin adalah netizen aktif. Tidak perlu proposal Rp 300 Jt utk gerakkan mereka melawan Ahok. Rerata mandiri ekonomi!” (ts/intelijen/eramuslim.com/ +ResistNews Blog)

loading...
Read more »

Perancis Perpanjang Misi Kapal Induk Charles de Gaulle Di Irak Dan Suriah Hingga Bulan Desember Mendatang

item-thumbnail
+ResistNews Blog - Rabu 26 Oktober 2016, pemerintah Perancis mengumumkan memperpanjang misi kapal induk Charles de Gaulle hingga pertengahan bulan Desember mendatang, dalam perang melawan organisasi Negara Islam dan kelompok mujahidin di Irak dan Suriah.

Presiden Perancis Francois Hollande memutuskan untuk memperpanjang misi kapal induk Charles de Gaulle di Laut Mediterania hingga pertengahan bulan Desember mendatang, seperti dilansir dari keterangan pers Elysee Palace.

Bersama koalisi internasional pimpinan AS, saat ini kapal induk Charles de Gaulle ikut dalam misi perebutan kota Mosul yang diluncurkan sejak Senin 17 Oktober pekan kemarin.

Keputusan perpanjangan misi kapal induk Charles de Gaulle diambil Presiden Perancis Francois Hollande setelah menggelar rapat dengan Dewan Pertahanan beberapa jam sebelumnya.

Mengangkut 24 pesawat tipe Rafale Marine, Ini adalah ketiga kalinya kapal induk “Charles de Gaulle” ikut berpartisipasi dalam perang melawan organisasi Negara Islam sejak awal Januari 2015.

Rencanannya di awal tahun 2017 mendatang Perancis akan mengistirahatkan kapal induk “Charles de Gaulle” dalam rangka pemeliharaan besar selama 18 bulan. (Skynewsarabia/Ram/eramuslim.com/ +ResistNews Blog)
loading...
Read more »

Syarah Hadits: “Khilafah ‘ala Minhaj Nubuwwah, Mulkan ‘Addhan, Mulkan Jabariyyan”

item-thumbnail
Oleh: KH Hafidz Abdurrahman [Khadim Majlis-Ma’had Syaraful Haramain]

Imam Ahmad telah meriwayatkan hadits dari Nu’man bin Basyir, radhiya-Llahu ‘anhu, berkata:

كنا جلوساً في المسجد فجاء أبو ثعلبة الخشني فقال: يا بشير بن سعد أتحفظ حديث رسول الله ﷺ في الأمراء، فقال حذيفة: أنا أحفظ خطبته. فجلس أبو ثعلبة. فقال حذيفة: قال رسول الله ﷺ: تكون النبوة فيكم ما شاء الله أن تكون، ثم يرفعها الله إذا شاء أن يرفعها، ثم تكون خلافة على منهاج النبوة فتكون ما شاء الله أن تكون، ثم يرفعها الله إذا شاء أن يرفعها، ثم تكون ملكًا عاضًا فيكون ما شاء الله أن يكون، ثم يرفعها إذا شاء الله أن يرفعها، ثم تكون ملكًا جبرية فتكون ما شاء الله أن تكون، ثم يرفعها الله إذا شاء أن يرفعها، ثم تكون خلافة على منهاج النبوة، ثم سكت.

““Ketika kami sedang duduk di masjid, Abu Tsa’labah al-Khasyani datang. Dia berkata, “Wahai Basyir bin Sa’ad, apakah Anda hapal hadits Rasulullah saw. tentang kepemimpinan?” Hudzaifah berkata, “Saya hapal khutbah baginda.” Abu Tsa’labah pun duduk. Hudzaifah bertutur, “Rasulullah Shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda, “Akan ada era kenabian di tengah-tengah kalian. Dengan kehendak Allah, ia akan tetap ada. Kemudian ia diangkat [diakhiri] oleh Allah, jika Dia berkehendak untuk mengangkat [mengakhiri]-nya. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Dengan kehendak Allah, ia akan tetap ada. Kemudian ia diangkat [diakhiri] oleh Allah, jika Dia berkehendak untuk mengangkat [mengakhiri]-nya. Kemudian akan ada kekuasaan yang zalim. Dengan kehendak Allah, ia akan tetap ada. Kemudian ia diangkat [diakhiri] oleh Allah, jika Dia berkehendak untuk mengangkat [mengakhiri]-nya. Kemudian akan ada kekuasaan diktator. Dengan kehendak Allah, ia akan tetap ada. Kemudian ia diangkat [diakhiri] oleh Allah, jika Dia berkehendak untuk mengangkat [mengakhiri]-nya. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Baginda Shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallam kemudian diam.”

Hadits yang sama diriwayatkan oleh at-Thayalisi, al-Baihaqi dan at-Thabari. Hadits ini disahihkan oleh al-Albani dalam kitabnya, Silsilah al-Ahadits as-Shahihah, dan dinyatakan hasan oleh al-Arna’uth. Hadits ini juga mempunyai syahid [pendukung] dari Safinah radhiya-Llahu ‘anhu, budak Nabi Shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallam, yang menuturkan, Rasululullah Shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

الْخِلاَفَةُ فِي أُمّتِي ثَلاَثُونَ سَنَةً، ثُمّ مُلْكٌ بَعْدَ ذَلِكَ. ثُمّ قَالَ سَفِينَةُ: امْسِكْ عَلَيْكَ خِلاَفَةَ أَبي بَكْرٍ، ثُمّ قَالَ: وَخِلاَفةَ عُمَرَ وَخِلاَفَةَ عُثْمانَ، ثُمّ قَالَ لي: امسِكْ خِلاَفَةَ عَلِيّ قال: فَوَجَدْنَاهَا ثَلاَثِينَ سَنَةً. رواه أحمد وحسنه الأرناؤوط.

“Khilafah di tengah-tengah umatku ada tiga puluh tahun. Kemudian setelah itu “kerajaan”. Kemudian Safinah berkata, “Kalian wajib berpegangteguh dengan Khilafah Abi Bakar.” Beliau kemudian menuturkan, “Juga dengan Khilafah ‘Umar, ‘Utsman.” Kemudian beliau berpesan kepadaku, “Kamu harus pegang teguh Khilafah ‘Ali.” Perawi berkata, “Kami pun mendapatinya selama tiga puluh tahun.” [Hr. Ahmad, dinyatakan hasan oleh al-Arna’uth]

Imam Ahmad meriwayatkan dari Hudzaifah, Radhiya-Llahu ‘anhu, berkata: “Era kenabian itu telah berlalu, maka [setelahnya] era Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.” Riwayat ini dishahihkan oleh al-Arna’uth.

Makna dan Penjelasan Hadits

Mengenai makna, “Nubuwwah fikum” [era kenabian di tengah-tengah kalian] jelas maksudnya, yaitu era Nabi Muhammad Shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallam. Setelah era ini tidak ada lagi Nabi, kemudian urusan ummat Nabi diurus oleh para Khalifah. Inilah yang disebut era Khilafah. Nabi Shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

كَانَتْ بَنُوْ اِسْرَائِيْلَ تَسُوْسُهُمُ الأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ، وَإِنَّهُ لاَ نَبِيَّ مِنْ بَعْدِيْ وَسَيَكُوْنُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُوْنَ.

“Bani Israil telah dipimpin oleh para Nabi, ketika seorang Nabi telah wafat, maka akan digantikan oleh Nabi yang baru. Sesungguhnya, tidak ada Nabi setelahku, dan akan ada para Khalifah. Mereka jumlahnya banyak.” [Hr. Muslim]

Jadi, setelah era Kenabian adalah era Khilafah. Hanya, era Khilafah ini kemudian dirinci dalam hadits riwayat Imam Ahmad di atas. Secara keseluruhan, di dalam hadits tersebut Nabi Shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallam merinci:
1- Era Kenabian;
2- Era Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian;
3- Era Khilafah yang zalim [‘adhudh];
4- Era Mulkan Jabariyyah [penguasa diktator];
5- Era Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian;

Mengenai makna era Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian telah disepakati oleh para ulama’, yaitu: Khilafah Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali. Ini sebagaimana yang dinyatakan dalam redaksi riwayat di atas, khususnya hadits Safinah yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Apa yang dituturkan oleh Safinan, “Kalian wajib berpegangteguh dengan Khilafah Abi Bakar.” Beliau kemudian menuturkan, “Juga dengan Khilafah ‘Umar, ‘Utsman.” Kemudian beliau berpesan kepadaku, “Kamu harus pegang teguh Khilafah ‘Ali.” Perawi berkata, “Kami pun mendapatinya selama tiga puluh tahun.” [Hr. Ahmad, dinyatakan hasan oleh al-Arna’uth] sebenarnya merupakan pernyataan sahabat, bukan Nabi, dengan begitu statusnya adalah Mauquf, tetapi bisa dihukumi Marfu’.

Sebagai ulama’ yang lain, memasukkan Khilafah al-Hasan bin ‘Ali, yang memerintah selama 6 bulan, setelah ayahandanya, Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib, di dalam era Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian, sehingga genap hitungannya menjadi 30 tahun. Persis sebagaimana yang dinyatakan dalam hadits Safinah di atas.

Adapun setelah 30 tahun, yang berarti dimulai sejak era Khilafah Umayyah, ‘Abbasiyyah, hingga ‘Ustmaniyyah di sini ada perbedaan di kalangan ulama’. Termasuk apa yang disebut Nabi Shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallam dengan istilah, “Mulkan ‘adhhan” [kekuasaan yang menggigit/zalim].

Ibn ‘Atsir dalam kitabnya, an-Nihayah, menjelaskan makna:

(ثم يكون ملك عضوض) أي يصيب الرعية فيه عسْفٌ وظُلْم، كأنَّهم يُعَضُّون فيه عَضًّا. والعَضُوضُ: من أبْنية المُبالغة. وفي رواية (ثم يكون مُلك عُضُوض) وهو جمع عِضٍّ بالكسر، وهو الخَبيثُ الشَّرِسُ. ومن الأول حديث أبي بكر (وسَتَرَون بَعْدي مُلْكا عَضُوضاً). اهـ.

“Tsumma yakunu mulkun ‘adhudh” [Kemudian akan ada kekuasaan yang menggigit], maksudnya dia akan menimpakan kesulitan dan kezaliman kepada rakyatnya. Mereka seakan-akan tengah menggigit rakyatnya dengan gigitan. Lafadz “Adhudh” adalah bentuk “Mubalaghah” [klimaks]. Dalam riwayat, dinyatakan: “Tsumma yakunu mulkun ‘adhudh” [Kemudian akan ada kekuasaan yang menggigit], yaitu jamak dari “Idhdhin” dengan dikasrah, maknanya adalah yang jahat dan buruk perangai. Di antara yang paling awal adalah hadits Abu Bakar, yang menyatakan, “Setelahku, kalian akan menyaksikan kekuasaan yang menggigit.” – sampai di sini.

Inilah makna, “Mulkan ‘Adhdhan” yang dinyatakan dalam hadits Imam Ahmad di atas. Mengenai makna, “Mulkan Jabariyyan” Ibn ‘Atsir dalam kitabnya, an-Nihayah, menjelaskan makna:

وأما الملك الجبري، فالمراد به الملك بالقهر والجبر. قال ابن الأثير في النهاية: (ثم يكون مُلك وجَبَرُوت) أي عُتُوّ وقَهْر. يقال: جَبَّار بَيّن الجَبَرُوّة، والجَبريَّة، والْجَبَرُوت. اهـ

“Adapaun “Mulk Jabary” yang dimaksud adalah kekuasaan yang dijalankan dengan tekanan [qahr] dan paksaan [jabar]. Ibn al-Atsir berkata, dalam kitabnya, an-Nihayah, “Tsumma yakunu Mulkun wa Jabarutun” [kemudian akan ada kekuasaan dan tekanan]. Maksudnya adalah melampui batas dan mengintimidasi. Ada yang mengatakan, “Jabbar untuk menjelaskan “Jabaruwwah” [kekuatannya yang menindas], “Jabariyyah [kesombongan], dan “Jabarut” [menakut-nakuti dengan kekuasaannya].” – sampai di sini.

Mengenai terjadinya apa yang dinyatakan dalam hadits riwayat Imam Ahmad di atas, sebagian ulama’ salaf telah menyatakan, bahwa periodesasi tersebut telah terjadi, sebagaimana yang dinyatakan oleh Habib, dalam riwayat al-Baihaqi:

قَالَ حَبِيْبٌ: فَلَمَّا قَامَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيْزِ، وَكَانَ يَزِيْدُ بْنُ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْرٍ فِي صَحَابَتِهِ، فَكَتَبْتُ إِلَيْهِ بِهَذَا الْحَدِيْثِ أَذْكُرُهُ إِيَّاهُ. فَقُلْتُ لَهُ: إِنِّي أَرْجُوْ أَنْ يَكُوْنَ أَمِيْرَ المُؤْمِنِيْنَ – يَعْنِي عُمَرَ – بَعْدَ المُلْكِ الْعَاضِّ وَالْجَبَرِيَّةِ، فَأُدْخِلَ كتِاَبِيْ عَلَى عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيْزِ فَسُرَّ بِهِ وَأَعْجَبَهُ.

“Habib berkata, “Ketika ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berdiri, dan Yazid bin Nu’man bin Basyir [putra sahabat Nu’man bin Basyir yang meriwayatkan hadits Ahmad di atas] menyertainya, maka aku pun menulis surat untuknya berisi hadits [riwayat Ahmad dari Nu’man bin Basyir, ayah Yazid] ini. Aku mengingatkannya tentang isi hadits tersebut. Aku berkata kepadanya, “Saya berharap, Amirul Mukminin, maksudnya ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, termasuk penguasa setelah kekuasaan yang zalim dan diktator.” Aku pun menyelipkan suratku untuk ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz. Beliau pun merasa senang, dan terkesan dengan isinya.”

Kesimpulan dan harapan Habib ini membuktikan, bahwa ciri-ciri yang dimaksud dalam hadits riwayat Imam Ahmad, yaitu “Mulkan ‘Adhdhan” [kekuasaan yang zalim], dan “Mulkan Jabariyyan” [kekuasaan yang diktator] telah terjadi di masa Khilafah Bani Umayyah, sebelum era ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, sehingga Habib berharap, bahwa Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian itu jatuh kepada ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz.

Kesimpulan Habib ini di satu sisi bisa dibenarkan, yaitu terjadinya Mulkan ‘Adhdhan, yang dimulai sejak era Khilafah Bani Umayyah. Begitu juga harapan, bahwa ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz termasuk Khalifah Rasyidah yang mengikuti manhaj kenabian juga benar. Tetapi, apakah beliau itulah yang dimaksud oleh periode hadits ini? Termasuk, apakah Mulkan Jabariyyah juga sudah terjadi di zaman itu? Di sinilah, para ulama’ berbeda pendapat dengan beliau. Antara lain, al-‘Allamah Syaikh Nashiruddin al-Albani:

وَمِنَ الْبَعِيْدِ عِنْدِيْ جَعْلُ الْحَدِيْثِ عَلَى عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيْزِ؛ لأَنَّ خِلاَفَتَهُ كاَنَتْ قَرِيْبَةَ الْعَهْدِ بِالْخِلاَفَةِ الرَّاشِدَةِ، وَلَمْ يَكُنْ بَعْدُ مُلْكَانِ مُلْكٌ عَاضٌّ وَمُلْكٌ جَبَرِيٌّ. والله أعلم. اهـ

“Menurut saya, terlalu jauh memberlakukan hadits ini untuk ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz. Karena kekhilafahannya dekat dengan era Khilafah Rasyidah. Padahal, sebelumnya belum pernah ada dua kekuasaan: kekuasaan yang zalim dan diktator.” – sampai di sini.

Mengenai akan kembalinya Khilafah Rasyidah kedua yang mengikuti manhaj kenabian, sekaligus membuktikan, bahwa era Mulkan Jabariyyah [kekuasaan diktator] masih berlangsung hingga saat ini adalah hadits riwayat Muslim dan Ahmad:

عَنْ أَبِيْ سَعِيْد وَجَابِر رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (يَكُوْنُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ خَلِيْفَةٌ يُقَسِّمُ الماَلَ، وَلاَ يَعُدُّهُ)، وفي رواية: قال: (يَكُوْنُ في آخِرِ أُمَّتِي خَلِيْفَةٌ يُحْثِي الماَلَ حَثْيًا، وَلاَ يَعُدُّهُ عدًا).

“Dari Abi Said dan Jabir, radhiya-Llahu ‘anhuma, bahwa Nabi Shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallama bersabda, “Pada akhir zaman akan ada seorang Khalifah yang membagikan harta, dan tidak bisa menghitungnya [saking banyaknya].” Dalam riwayat lain, baginda bersabda, “Pada akhir zaman akan ada seorang Khalifah yang memobilisir harta sebanyaknya-banyaknya, dan tidak bisa menghitungnya [sakingbanyaknya].”

Juga hadits kembalinya “ular ke liangnya”, Syam [Suriah, Yordania, Palestina dan Libanon] sebagai Dar al-Islam, serta ditampakkannya kekuasaan umat Nabi Muhammad meliputi tempat terbitnya matahari, dari ujung timur hingga barat bumi ini. Hadits-hadits akhir zaman, termasuk kembalinya Khilafah Rasyidah yang mengikuti manhaj kenabian ini belum terjadi. Ini membuktikan, bahwa Khilafah Rasyidah yang mengikuti manhaj kenabian terakhir, sebagaimana yang dinyatakan dalam hadits riwayat Imam Ahmad di atas belum terjadi, dan akan terjadi.

Sekaligus membuktikan, bahwa era saat ini adalah era Mulkan Jabariyyan [kekuasaan diktator], dan eraMulkan ‘Addhan sudah berakhir, yang dimulai sejak zaman Khilafah Bani Umayyah, ‘Abbasiyyah hingga ‘Ustmaniyyah. Meski, dalam kasus per kasus, ada juga para penguasa yang berada di era Mulkan ‘Addhantersebut mempunyai ciri-ciri sebagai Khalifah Rasyid, seperti ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz.

Pertanyaan kemudian, jika benar era ini disebut Mulkan Jabarriyyan, dengan menggunakan istilah Mulk, mengapa era Khilafah Bani Umayyah, ‘Abbasiyyah hingga ‘Ustmaniyyah juga disebut Mulk?

Jawabannya adalah, bahwa istilah Mulk dalam konteks hadits di atas tidak bisa diartikan dengan konotasi istilah, Mulk sebagai kerajaan. Sehingga, Khilafah Bani Umayyah, ‘Abbasiyyah hingga ‘Ustmaniyyah tidak layak disebut sistem Khilafah lagi, tetapi sistem kerajaan. Sebaliknya, istilah Mulk di sini mempunyai konotasi bahasa, yaitu kekuasaan. Kalaupun ada praktik dalam sistem kerajaan yang digunakan, sepertiwaratsah [kekuasaan turun-temurun] dan wilayatu al-ahd [putra mahkota], sebenarnya praktik seperti ini tidak bisa mengubah sistem Khilafah secara keseluruhan, karena faktanya bai’at tetap dipertahankan. Meski dalam implementasinya ada kesalahan, termasuk dengan menggunakan cara waratsah [kekuasaan turun-temurun] dan wilayatu al-ahd [putra mahkota].

Karena itu, dalam kitabnya Tarikh al-Khulafa’, Imam as-Suyuthi telah menyusun periodesasi Khalifah, sejak zaman Abu Bakar hingga zaman beliau, dan beliau memberikan komentar, bahwa para khalifah yang disusunnya itu berdasarkan kesepakatan para ulama’. Bukan para khalifah yang dianggap telah menyimpang. Pada saat yang sama, hadits Khilafah tiga puluh tahun juga beliau angkat dalam kitabnya, dimana Khilafah tiga puluh tahun tersebut identik dengan Abu Bakar, ‘Umar, ‘Ustman, ‘Ali dan al-Hasan. Setelah itu, berlaku era berikutnya.

Namun, uniknya, Imam as-Suyuthi tetap menyebut para penguasa yang hidup setelah era Khilafah tiga puluh tahun, atau Khilafah Rasyidah ‘ala minhaj Nubuwwah itu dengan sebutan Khalifah, meski berbagai penyimpangan terjadi di dalamnya. Termasuk, implementasi bai’at yang dilakukan dengan cara waratsah[kekuasaan turun-temurun] dan wilayatu al-ahd [putra mahkota].

Kesimpulan

Dengan demikian, bisa disimpulkan:
1- Istilah “Mulkan ‘Adhdhan” yang dinyatakan dalam hadits Imam Ahmad di atas tidak berarti, sistem Khilafah telah berubah menjadi kerajaan. Dengan kata lain, istilah “Mulkan” di dalam hadits di atas lebih tepat diartikan dengan konotasi bahasa, bukan istilah.

2- Secara bahasa, juga tidak salah jika diartikan, “Kaannahu Mulkan ‘Adhdhan” [kekuasaannya seolah seperti kerajaan yang menggigit/zalim]. Jadi, bukan berbentuk kerajaan yang sesungguhnya, hanya seolah-oleh seperti sistem kerajaan, karena dipraktekkannya waratsah [kekuasaan turun-temurun] danwilayatu al-ahd [putra mahkota]. Faktanya memang kesalahan dalam mengimplementasikan bai’at terjadi sejak zaman Mu’awiyyah hingga akhir Khilafah ‘Ustmaniyyah.

3- Karena itu, Imam as-Suyuthi, sebagaimana yang disepakati ulama’ dan umat, menyebut para penguasa di era itu dengan “Khalifah”, dan jabatanya disebut “Khilafah”. Bukan “Malik”, dan “Mulk”. Kaidah yang digunaakan oleh as-Suyuthi ini juga digunakan oleh ulama’ berikutnya, ketika menentukan para Khalifah ‘Utsmaniyyah.

4- Periode “Mulkan ‘Adhdhan” ini memang benar-benar telah berakhir, dengan runtuhnya Khilafah ‘Ustmaniyyah di Istambul, 3 Maret 1924 M.

5- Setelah itu, hingga saat ini sedang berlangsung periode “Mulkan Jabariyyan” sebagaimana yang dijelaskan di atas. Periode ini akan segera berakhir, dan digantikan dengan periode baru, Khilafah ‘ala Minhaj Nubuwwah.[]
loading...
Read more »

Cina Larang Anak-anak Xinjiang Ikut Ritual Keagamaan

item-thumbnail
+ResistNews Blog - Cina melarang orang tua dan wali di wilayah Xinjiang yang mayoritas Muslim untuk mendorong anak-anak mereka melaksanakan ritual keagamaan. Pemerintah telah mengeluarkan undang-undang pendidikan yang baru pada 12 Oktober, yang isinya bahwa siapa saja yang memaksa anak-anaknya untuk melakukan kegiatan keagamaan akan dilaporkan ke polisi. Sedang undang-undang sebelumnya melarang jenggot pada laki-laki dan jilbab bagi perempuan di wilayah yang dihuni 10 juta kaum Muslim.

Cina mengklaim bahwa hak-hak agama, budaya dan hukum bagi kaum Muslim di provinsi di wilayah Xinjiang dijamin dan dilindungi. Akan tetapi banyak kaum Muslim Uighur di wilayah Xinjiang sangat sulit menjalankan budaya dan agamanya, bahkan mereka mengeluh bahwa mereka kehilangan peluang ekonomi di tengah migrasi Cina Han ke wilayah tersebut. Sementara penerapan undang-undang pendidikan baru akan dimulai secara efektif pada awal bulan November. Undang-undang ini melarang orang tua dan wali memaksa anak di bawah umur untuk menghadiri kegiatan keagamaan, menurut Daily Xinjiang. Undang-undang baru ini juga melarang kegiatan keagamaan di sekolah-sekolah dan kantor pemerintah. Undang-undang ini mengatakan bahwa jika orang tua tidak bisa membimbing anak-anak mereka jauh dari cara ekstremisme yang merugikan, maka mereka bisa mengajukan permintaan kepada pemerintah untuk memindahkan anaknya ke sekolah khusus untuk “direhabilitasi”. Pemerintah meminta masyarakat untuk melaporkan setiap kegiatan kepada polisi. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, ratusan orang tewas dalam sejumlah kerusuhan, dimana pemerintah Cina menuduh militan Islam berada di balik semua itu.

Undang-undang sebelumnya di wilayah itu melarang kaum Muslim memelihara jenggot dan perempuan mengenakan jilbab. Pada bulan April 2014, Global Times melaporkan bahwa para pejabat dari Xinjiang menawarkan hadiah hingga 50.000 yuan (6,066 pound sterling) bagi siapa saja yang melaporkan ke polisi tentang kegiatan kaum separatis, termasuk larangan memelihara rambut wajah (jenggot). Sementara pada tahun 2015, Radio Free Asia melaporkan bahwa para imam Uighur di Kashgar dipaksa untuk memberitahu anak-anak bahwa shalat berbahaya bagi jiwa, dan bahwasannya kehidupan (rezeki) itu berasal dari Partai Komunis Cina, bukan dari Allah (Sumber: Daily Mail).

Kebangkrutan intelektual pemerintah Cina telah memaksanya untuk metode dan cara keji dan kotor untuk mengekang penyebaran Islam. Pemerintah Cina setiap tahun melakukan berbagai tindakan baru untuk menghentikan penyebaran Islam, namun bisa ditebak, bahwa upayanya itu pasti gagal. Sungguh, kaum Muslim di Cina hidupnya dihantui cara-cara keji dan kotor ini, namun kesabaran dan ketabahan mereka pasti akan berbuah kemenangan pada akhirnya (kantor berita HT/hti/ +ResistNews Blog ).
loading...
Read more »

Dalam Hukum Positif yang Sesungguhnya, Ahok Wajib Dihukum Mati!

item-thumbnail
+ResistNews Blog - Bila dalam hukum yang berlaku sekarang, penista agama seperti si kafir Ahok hanyalah dipenjara, sedangkan dalam hukum Islam wajib dihukum mati.

“Ini tentu ada perbedaan prespektif karena yang satu adalah hukum yang dibuat manusia, sebenarnya tidak tepat jika disebut sebagai hukum positif, mestinya hukum negatif. Yang satu adalah hukum Allah SWT, ini sesungguhnyalah hukum positif (yang benar, red). Dan harus dijadikan hukum positif (yang diberlakukan, red),” ungkap Ketua DPP Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Rokhmat S Labib, Kamis (20/10/2016) di Gedung Joang ’45, Jakarta.

Dalam talkshow Halqah Islam dan Peradaban (HIP) Edisi 67: Penghina Al-Qur’an, Cukup Minta Maaf?tersebut, Rokhmat pun menyitir Al-Qur’an Surat At Taubah Ayat 12 yang artinya: “Jika mereka merusak sumpah (janji)nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang (yang tidak dapat dipegang) janjinya, agar supaya mereka berhenti.”

Imam Ibnu Katsir, kupas Rokhmat, menyatakan dari ayat ini diambil satu kesimpulan hukum, hukuman mati bagi orang yang mencela Rasulullah SAW, atau orang yang mencela agama Islam, atau menyebutkan dengan nada meremehkan.

“Jadi hukumannya, kata Imam Ibnu Katsir, hukuman mati. Hal ini ditegaskan pula oleh Imam Al-Qurtubi, bahwa sebagian ulama berdalil dengan ayat ini mengenai kewajiban menghukum mati orang yang mencela agama!” tegas Rokhmat di hadapan sekitar 250 peserta yang hadir.

Dalam acara yang diselenggarakan HTI tersebut nampak hadir pula pembicara lainnya yakni Wakil Sekjen MUI Pusat Amirsyah Tambunan; Wakil Ketua Advokat Cinta Tanah Air (ACTA) Agustiar dan pengacara senior Eggi Sudjana.[hizbut-tahrir.or.id/ +ResistNews Blog ]
loading...
Read more »

Polisi Israel Serbu Korban Pembunuhan Tentara Israel

item-thumbnail
+ResistNews Blog - Petugas polisi Israel dilaporkan telah menyerbu rumah Musbah Abu Sbeih di kota al-Ram, sebelah utara Yerusalem yang diduduki pada Senin (25/10/2016). Abu Sbeih adalah warga Palestina yang menjadi korban pembunuhan pasukan Israel.

Sumber-sumber lokal menegaskan bahwa polisi Israel menyerbu dan mengambil foto rumah Abu Sbeih sebagai awal hukuman untuk menghancurkannya.

Abu Sbeih ditembak dan dibunuh dua minggu yang lalu karena dituduh telah melakukan serangan anti-pendudukan Israel di wilayah pendudukan Yerusalem.

Sejak itu, keluarga Sbeih menjadi sasaran militer Israel. Pasukan Israel melakukan hukuman sistematis termasuk ancaman dan penangkapan terhadap keluarga Sbeih sebagai bagian dari kebijakan hukuman kolektif Israel terhadap warga Palestina. [islampos.com/ +ResistNews Blog ]
loading...
Read more »

Ini Dia Agama Terbesar di Dunia pada Tahun 2050

item-thumbnail
+ResistNews Blog - Sebuah laporan baru tentang perkembangan agama-agama di dunia, baru-baru ini telah dirilis oleh lembaga survei PEW. Lembaga ini mengeksplorasi perubahan perkembangan penganut Buddha, Kristen, Hindu, Yahudi, Islam, agama kebudayaan, dan agama-agama lain yang tidak terafiliasi selama rentang tahun 2010 hingga 2050.

Di saat banyak orang bertanya-tanya tentang masa depan berbagai agama, hasil survei PEW ini menggambarkan perkembangan agama-agama di dunia. PEW menggunakan proyeksi demografis resmi dengan memerhatikan data usia, fertilitas, mortalitas, migrasi dan orang yang berpindah agama untuk beberapa kelompok agama di seluruh dunia.

Peningkatan pengikut agama-agama akan semakin banyak dengan diikuti tingkat kesuburan dan ukuran populasi anak muda di negara-negara yang kurang sekuler.

Gulfnews mengutip PEW pada Selasa (25/10/2016), melaporkan bahwa populasi dunia diproyeksikan akan tumbuh sebesar 35 persen sebelum pertengahan abad ini. Dan yang paling membanggakan adalah jumlah umat Muslim diperkirakan akan meningkat sebesar 73 persen-dari 1,6 miliar pada 2010 menjadi 2,8 miliar orang pada tahun 2050.

Umat Islam akan sama banyaknya dengan jumlah kaum Nasrani, yang diproyeksikan untuk tetap berada pada kelompok agama terbesar di dunia dengan 31,4 persen dari populasi global. [islampos.com/ +ResistNews Blog ]
loading...
Read more »

Pembenci Ulama akan Masuk Golongan Pembenci Nabi

item-thumbnail
+ResistNews Blog - Beredar sebuah petisi pembubaran Majelis Ulama Indonesia (MUI) di laman change.org. Petisi ini muncul setelah MUI berpendapat Gubernur DKI Jakarta Ahok telah melakukan penghinaan terhadap Alquran dan ulama.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Dewan Penasehat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bogor KH Badrudin Subhki mengatakan bahwa itu bagian dari risiko perjuangan. "Itu risiko perjuangan, kita tidak boleh takut, takut itu hanya kepada Allah," jelasnya saat ditemuiSuara Islam Online beberapa waktu lalu di Bogor.

Menurutnya, setiap ada aksi pasti ada reaksi, jadi sekali lagi itu sudah risiko. "Perjuangan harus jalan terus," katanya.

Pesan Kyai Badrudin, umat Islam harus tetap istiqomah berjuang bersama ulama, karena ulama itu pewaris nabi.

Terkait adanya oknum-oknum pembenci ulama, menurutnya mereka akan dimasukkan juga dalam golongan pembenci Nabi.

"Siapa yang mencerca Nabi bisa murtad dia, nah sekarang mencerna ulama sebagai pewaris Nabi itu mereka akan masuk juga kepada kelompok pencerca Nabi," tandasnya.

MUI Bogor beserta ormas-ormas Islam akan mengadakan aksi mendukung langkah MUI Pusat yang menegaskan bahwa penista agama harus dihukum. Rencananya aksi tersebut akan dilaksanakan pada Kamis 27 Oktober mendatang. [suara-islam.com/ +ResistNews Blog ]
loading...
Read more »

Nahi Munkar, Harga Mati!

item-thumbnail
Sejatinya, inti dari ajaran Islam adalah mengajak kepada setiap kebaikan dan mencegah dari seluruh kemunkaran. Karena itu, dalam syariat Islam, perintah amar makruf nahi munkar menjadi wajib bagi setiap umat ini. Bahkan barometer kebaikan umat ini sangat bergantung pada komitmen mereka dalam menjalankan kewajiban tersebut. Allah ta’ala berfirman:

“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (Ali Imran: 110)

Namun demikian, hingga hari ini perintah tersebut terkesan masih sering diabaikan oleh sebagian kelompok dari umat ini. Ada yang mengatasnamakan toleransi, akhirnya mereka cuek dengan kemunkaran yang terjadi. Sebagian yang lain beranggapan nahi munkar adalah hak penguasa saja, lantas mereka berleha-leha terhadap perintah tersebut. Bahkan yang cukup disayangkan, sebagian mereka malah asyik melempar tuduhan-tudahan keji di saat umat Islam mengamalkan kewajiban ini.

“Mengubah kemunkaran dengan tangan itu sama saja menjatuhkan diri dalam kebinasaan. Karena sangat mungkin perbuatan itu bisa menyebabkan mereka ditangkap dan dipenjara oleh penguasa.” Demikian salah satu alasan klasik yang sering digunakan untuk berkilah, bahkan digunakan untuk melegitimasi aksi para penegak amar makruf nahi munkar. Salah satu dalil yang mereka gunakan adalah ayat berikut ini:

وَلا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

“…Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan…” (Al-Baqarah: 195)

Adanya resiko itu pasti tapi bukan untuk mencelakan diri

Menjawab kerancuan berpikir mereka dalam memahami ayat di atas, kita bisa merujuk langsung bagaimana tafsiran sahabat Abu Ayyub Al-Anshari yang cukup memahami tentang latar belakang turunnya ayat tersebut.

Diriwayatkan dari Aslam Abu Imran At-Tujibi, ia mengatakan, “Kami berada di sebuah kota di negeri Romawi. Tiba-tiba seorang Muslim berlari sendirian masuk menyerang barisan tentara Romawi. Lalu, tentara Muslim berteriak dan mengatakan, ‘Subhanallah, dia telah mencelakakan dirinya sendiri.’

Lalu, Abu Ayyub berdiri dan mengatakan, “Wahai kaum muslimin, kalian telah keliru memahami ayat ini. Ayat ini sebenarnya turun pada kami kaum Anshar. Setelah Islam menang dan memiliki banyak pendukung, kami berkata di antara kami sesama kaum Anshar tanpa didengar oleh Nabi. ‘Harta kami telah habis dan Allah telah memuliakan Islam. Sudah banyak orang yang menolong Islam. Alangkah baiknya kita kembali mengurus perniagaan hingga dapat mengembalikan kekayaan kita yang hilang.” Lalu, Allah menurunkan ayat ini yang membantah ucapan kami : “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (Al-Baqarah: 195)

Jadi, yang membuat kami celaka adalah dengan mengurus perniagaan dan meninggalkan perang’.” (HR Abu Dawud no 2513, Tirmidzi hadits no 2972. Sahih menurut kriteria Shahih al-Bukhari dan Muslim, juga disetujui oleh adz-Dzahabi)

Dengan ini telah jelas bahwa mencelakakan diri adalah dengan meninggalkan infak fi sabilillah dan meninggalkan beramal untuk Islam, serta mengutamakan kepentingan keluarga dan harta di atas ketaatan kepada Allah dan jihad fi sabilillah. Pemahaman yang benar-benar bertentangan dengan apa yang mereka pahami. Padahal, Nabi telah bersabda:

“Pemimpin syuhada’ adalah Hamzah bin Abdul Muthalib dan orang yang datang kepada penguasa lalu mengingatkan atas kemunkaran dan mengajak kepada kebaikan lalu ia dibunuh.” (HR. Hakim, 2/195. Ia mengatakan, “Sanadnya shahih.” Hadits ini juga tercantum dalam Silsilah hadits Shahihah, hadits no; 374)

Allah SWT berfirman :

Artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi yang memang tak dibenarkan dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil….” (QS : Ali Imran: 21)

Imam Abu Bakar Ibnul Arabi ketika menafsirkan ayat ini menyatakan bahwa sebagian ulama mengatakan, “Ayat ini adalah dalil bagi praktik amar makruf dan nahi munkar walau bisa berakibat kematian.”

Beliau juga mengatakan, “Kalau takut dipukul atau dibunuh ketika menghilangkan sebuah kemunkaran, hendaknya ia memerhatikan kaidah berikut. Kalau kemunkaran itu diharapkan dapat hilang maka kebanyakan ulama berpendapat boleh menempuh bahaya tersebut. Tetapi, jika diyakini tidak dapat dihilangkan lalu apa manfaat melakukannya? Pendapat saya, jika telah mengikhlaskan niat hendaknya ia tetap mengubah kemunkaran tersebut tanpa harus peduli apa pun risikonya.” (lihat; Ahkamul Qur’an, 1/266-267)

Pendapat Imam Ibnul Arabi di atas ingin menegaskan kepada kita bahwa setiap kemunkaran wajib diingkari, apapun bentuknya dan siapapun yang melakukannya. Adanya resiko dalam menerapkan kewajiban ini adalah suatu hal yang pasti, tidak pantas jika kemudian dijadikan alasan untuk berdalih untuk meninggalkannya. Tentunya, titik tekan Ibnul Arabi di sini bukan untuk bertindak secara serampangan. Lebih kepada penegasan tentang wajibnya amar makruf nahi munkar. Wallahu a’lam bis shawab!

Penulis : Fakhruddin

Editor : Arju

Disadur dari buku “Nahi Munkar Instruksi Ilahi yang Diabaikan, Digugat, dan Diselewengkan” Karya Syaikh Abdul Akhir Al-Ghunaimi, Penerbit Jazera, Solo.
loading...
Read more »

Liga Arab Kecam Pernyataan PM Israel Terkait Masjid Al-Aqsha

item-thumbnail
+ResistNews Blog - Liga Arab pada Senin kemarin (24/10/2016) mengecam pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahwa dirinya akan ikut ambil bagian dalam penggalian di bawah Masjid Al-Aqsha di Yerusalem Timur, lapor Anadolu Agency.

Dalam keterangan pers sehari sebelumnya, Netanyahu berjanji akan terlibat langsung dalam penggalian tanah dari dasar masjid pekan ini, sembari menyerukan komunitas Yahudi untuk bergabung dengannya.

“Seruan Netanyahu untuk tindakan menodai masjid Al-Aqsha semakin menegaskan percepatan skema sistematis Israel, dan menandakan runtuhnya masjid Al-Aqsha,” kata Abu Ali, asisten sekretaris jenderal dan kepala Sektor Palestina dan Wilayah Pendudukan dari Liga Arab, dalam sebuah pernyataan.

Pengumuman itu datang di tengah penyerbuan oleh otoritas barang kuno Israel terhadap pemakaman di gerbang Bab al-Rahmah yang merupakan pemakaman kuno bagi umat Islam. Tindakan Israel itu dianggap sebagai kelanjutan dari serangan sistematis Israel terhadap monumen, situs dan kuburan umat Islam.[islampos/ +ResistNews Blog ]
loading...
Read more »

Tentara Myanmar Usir Sekitar 2.000 Muslim Rohingya dari Rumah Mereka

item-thumbnail
+ResistNews Blog - Militer Myanmar telah memaksa sekitar 2.000 Muslim Rohingya meninggalkan rumah mereka di desa, sebagai bagian dari tindakan keras terhadap minoritas Muslim menyusul serangan terhadap pasukan keamanan perbatasan.
Sumber mengatakan penjaga perbatasan pada hari Ahad lalu pergi ke desa Kyee Kan Pyin, di wilayah tengah Mandalay, dan memerintahkan sekitar 2.000 warga desa mengungsi. Tentara memberi mereka cukup waktu untuk mengumpulkan barang-barang rumah tangga untuk dibawa pergi.

Para penduduk desa dipaksa untuk tinggal dan bersembunyi di sawah tanpa tempat berteduh yang memadai, lapor Press TV.
“Saya diusir keluar dari rumah saya kemarin sore, sekarang saya tinggal di sawah di luar desa dengan sekitar 200 orang termasuk keluarga saya. Sekarang saya menjadi tunawisma,” kata seorang pria Muslim Rohingya dari desa Kyee Kan Pyin.

“Setelah tentara tiba di desa kami, mereka mengatakan bahwa jika kami semua tidak pergi, mereka akan menembak kami,” tambahnya.

Saksi mata dan tetua masyarakat Rohingya telah mengkonfirmasi laporan itu.

Seorang juru bicara pemerintah Myanmar mengatakan, pemerintah tidak dapat menghubungi siapa pun di daerah itu karena militer menjadikan kawasan tersebut sebagai “zona merah.” [islampos/ +ResistNews Blog ]
loading...
Read more »

Khilafah Melindungi Kemuliaan Islam dan Kaum Muslim

item-thumbnail
[Al-Islam No. 827; 20 Muharram 1438 H – 21 Oktober 2016]

Penghinaan terhadap Islam, sebagaimana yang dilakukan oleh Ahok beberapa waktu lalu sebenarnya bukan hal yang pertama. Di Tanah Air, sebelum kasus Ahok yang menistakan al-Quran terkait surat al-Maidah ayat 51, penghinaan terhadap simbol-simbol Islam terus terjadi. Ada sandal bercorak lafal Allah/Muhammad, sajadah untuk menari, terompet dari cover al-Quran, cetakan kue berlafalkan ayat-ayat al-Quran, bungkus petasan berlafalkan ayat-ayat al-Quran, celana ketat bermotif kaligrafi surat al-ikhlas dan lain-lain.

Bahkan jauh sebelum semua itu, pada tahun 1990, Arswendo Atmowiloto, pimpinan redaksi TabloidMonitor, juga pernah melakukan penistaan terhadap Nabi Muhammad saw. Saat itu Monitor—yang merupakan tabloid gosip dan hiburan murahan, yang sering mengumbar foto perempuan seksi dengan segmen pembaca kalangan menengah ke bawah—memuat hasil survey (jajak pendapat) pembacanya terkait “tokoh idola”. Hasil jajak pendapat itu menempatkan nama Nabi Muhammad saw. di peringkat ke-11 di bawah beberapa nama lain yang diidolakan pembaca. Pencantuman nama Rasulullah saw. di urutan ke-11 inilah—bahkan di bawah nama Arswendo yang berada di urutan ke-10—yang memicu kemarahan umat Islam saat itu. Akhirnya, gerakan massa yang mendemo Arswendo dan Tabloid Monitor(Penerbit Kompas-Gramedia Grup) tak terbendung hingga berhasil mendorong aparat menggirim Asrwendo masuk penjara selama 5 tahun. Tabloid Monitor pun dicabut ijinnya dan ditutup oleh Pemerintah sejak saat itu.

Di luar negeri, Islam, al-Quran dan Rasulullah saw. juga sering mengalami penghinaan secara berulang. Tahun 1989, misalnya, pernah terbit buku The Satanic Verses tulisan Salman Rushdie yang menggambarkan al-Quran sebagai ayat-ayat setan. Tahun 1994, bulan September, dirilis film True Liesgarapan sutradara Yahudi Steven Spielberg, yang menggambarkan Islam pimpinan Abdul Aziz sebagai teroris yang memimpin organisasi teror Crimson Jihad‘. Tahun 1997, seorang wanita Yahudi Israel, Tatyana Suskin (26), membuat dan menyebarkan 20 poster yang menghina Islam dan Nabi Muhammad saw. Di antaranya ada poster seekor babi yang mengenakan kafiyeh ala Palestina. Di kafiyeh itu tertulis dalam bahasa Inggris dan Arab kata: Muhammad. Dengan pensil di kukunya, babi itu tampak tengah menulis di atas sebuah buku berjudul: Al-Quran. Tahun 2002. Dimuat tulisan jurnalis Nigeria, Isioma Daniel, tentang Rasul dan Miss World. Tahun 2004, dirilis film ‘dokumenter’ garapan produser film asal Belanda, Theo van Gogh, yang menghina Islam dan Muhammad. Tahun 2005, al-Quran pun dimasukkan ke WC di penjara rahasia Amerika Guantanamo oleh serdadu AS. Tahun ini juga Koran Jyllands-Postenmenerbitkan kartun-kartun yang menghina Rasulullah saw. Dalam kartun itu Rasulullah Muhammad saw. digambarkan sebagai seorang Badui yang membawa pedang dan menenteng ‘bom’, diapit oleh dua orang perempuan bercadar hitam di sebelah kiri dan kanannya. Bahkan dalam salah satu kartun itu Rasulullah saw. digambarkan sebagai orang yang bersorban, yang di sorbannya terselip bom (terlihat dari bentuk dan sumbunya). Sebetulnya, masih banyak lagi penghinaan terhadap Islam, al-Quran dan Nabi Muhammad saw. yang dilakukan oleh kaum kafir.


Akar Masalah: Sekularisme

Penghinaan terhadap Allah SWT, al-Quran, Nabi Muhammad saw. atau simbol-simbol Islam lainnya bisa terjadi karena dua faktor. Pertama: Faktor kebodohan, yakni ketidaktahuan akan perbuatan yang merupakan penghinaan; atau ketidaktahuan akan kemuliaan apa yang dihina; atau mengejar materi yang tak seberapa dengan mengorbankan kehidupan yang kekal. Kedua: Faktor kedengkian yang mendominasi akal dan nurani yang mengakibatkan kemuliaan terlihat sebagai kehinaan dan kebenaran terlihat sebagai kejahatan.

Namun, dua faktor ini tidak akan muncul jika tidak ditopang oleh keberadaan negara sekular. Dalam negara sekular, yakni negara yang menjadikan sekularisme sebagai asasnya, sendi-sendi kehidupan rakyat tidak diatur dengan Islam. Sekularisme menurut Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani (1953) adalah pemisahan agama dari kehidupan (fashl ad-dîn ‘an al-hayâh). Sekularisme menjadi asas bagi liberalisme yang diwujudkan dalam hak asasi manusia (HAM), berupa kebebasan berperilaku (freedom of behavior) dan berpendapat (freedom of speech) yang sering dijadikan alasan untuk melakukan penghinaan terhadap Islam. Akibatnya, makin suburlah berbagai penghinaan terhadap Islam.

Sekularisme ini mengakibatkan berkembangnya kebodohan dan/atau pengabaian manusia akan agamanya; tidak tahu hak-hak Allah SWT dan hak-hak manusia yang lainnya. Lembaran al-Quran dijadikan terompet, misalnya, bisa jadi karena pembuatnya tidak bisa baca. Dia mengira tulisan al-Quran tersebut hanyalah ukiran yang akan mempercantik terompet yang dia buat. Bisa jadi dia bisa baca namun tidak tahu kalau itu al-Quran, atau tidak tahu kalau perbuatan yang dia lakukan itu tercela.

Sekularisme juga menumbuh-suburkan paham-paham dan prilaku nyeleneh dengan mengatasnamakan toleransi, pluralisme maupun Islam Nusantara. Demi toleransi azan mengiringi lagu Natal (Jpnn.com, 29/12/15). Untuk menunjukkan Islam menyatu dengan budaya Nusantara dilakukan tarian dengan penari yang membuka aurat, berlenggang lenggok di atas karpet shalat.

Sekularisme telah menjadikan umat Islam yang mulia ini terlihat hina hingga akhirnya benar-benar jadi sasaran penghinaan. Penghinaan bukan saja terhadap umatnya, namun juga Islamnya. Ide sekularisme yang dianut negara telah menggusur sebagian besar hukum syariah Islam. Padahal syariah Allah SWT inilah yang menjadi rahasia kemuliaan umat Islam. Umar bin Khaththab ra. pernah mengatakan:

إِنَّا كُنَّا أَذَلَّ قَوْمٍ فَأَعَزَّنَا اللهُ بِالإِسْلاَمِ فَمَهْمَا نَطْلُبُ الْعِزَّةَ بِغَيْرِ مَا أَعَزَّنَا اللهُ بِهِ أَذَلَّنَا اللهُ

Sesungguhnya kita dulu adalah kaum yang paling hina, kemudian Allah memuliakan kita dengan Islam. Bagaimanapun kita mencari kemuliaan selain dengan Islam yang dengan itu Allah telah muliakan kita, maka Allah pasti akan menghinakan kita (HR al-Hakim).

Pada sisi lain, kasus penghinaan ini menunjukkan wajah asli kebebasan dalam hak asasi manusia (HAM) menurut mereka. Kebebasan menurut mereka adalah kebebasan untuk melakukan apapun termasuk menghina dan melecehkan Islam. Sungguh, ini adalah kebebasan yang penuh dengan kepura-puraan.

Tengok saja, ketika di Prancis Muslimah dilarang mengenakan jilbab, ‘kebebasan’ yang mereka dengungkan tidak terdengar. Saat kaum Muslim lantang menyuarakan Islam yang diterapkan dalam sistem Khilafah sebagai pengganti Kapitalisme yang memang bobrok, mereka dituding sebagai “kelompok garis keras”. Pada waktu kaum Muslim berusaha melawan berbagai kezaliman dan ketidakadilan negara-negara besar, mereka dituduh sebagai teroris. Nyatalah, kebebasan yang didengung-dengungkan sebagai HAM adalah kebebasan yang mengizinkan penodaan terhadap Islam dan umatnya.

Sanksi Tegas!

Jika tidak ada hukum yang tegas yang membuat jera pelaku penghinaan, maka kasus penghinaan ini ibarat virus penyakit. Jika tidak diobati, atau obatnya tidak mujarab, maka virus tersebut akan berkembang. Hukum yang dipakai dalam sistem sekular saat ini tidak akan mampu mengobati virus seperti ini. Bahkan virus penghinaan tidak akan dianggap mengganggu jika masyarakat tidak ‘menggeliat-geliat’ protes. Ini yang terjadi. Respon tegas baru muncul setelah aksi besar-besaran dari umat. Tidak ada inisiatif dari pemerintahan sekular untuk mengusut kasus penghinaan ini.

Di sinilah pentingnya penerapan hukum Islam oleh negara atas pelaku penghinaan ini. Dalam Islam, hukuman bagi orang yang menghina dan melecehkan al-Quran yakni: Pertama, Jika pelakunya Muslim, maka dengan tindakannya itu ia dinyatakan kafir (murtad) sehingga ia layak dihukum mati. Kedua, Jika ia orang kafir dan menjadi ahl al-dzimmah, maka ia dianggap menodai dzimmah-nya, dan bisa dijatuhi sanksi yang keras oleh negara. Ketiga, jika ia kafir dan bukan ahl al-dzimmah, tetapi kafirmu’ahid, maka tindakannya bisa merusak mu’ahadah-nya, dan negara bisa mengambil tindakan tegas kepadanya dan negaranya. Keempat, jika ia kafir harbi, maka tindakannya itu bisa menjadi alasan bagi negara untuk memaklumkan perang terhadap dirinya dan negaranya demi menjaga kehormatan dan kepentingan Islam dan kaum Muslim.

Pentingnya Khilafah

Proses penanganan kasus penghinaan yang berlarut-larut menunjukkan bahwa persoalannya bukanlah sekdar penghinaan itu sendiri. Belum lagi potensi berulangnya peristiwa yang sama terjadi. Semua proses penanganan tidak mampu mencegah dan mengatasi persoalan penghinaan ini dengan tuntas. Persoalan ini baru akan tuntas jika akar masalahnya, yakni sekularisme, dicabut dan dicampakkan dari kehidupan umat. Sebagai penggantinya, ditegakkan sistem Islam yang menjalankan seluruh aturan Allah SWT, yaitu sistem Khilafah. Khilafah akan senantiasa melindungi kesucian dan kehormatan Islam dan umatnya sehingga mereka tidak akan pernah dihinakan lagi. Rasul saw. bersabda:

إِنَّمَا ﺍﻹِﻣَﺎﻡُ ﺟُﻨَّﺔٌ ﻳُﻘََﺎﺗَﻞُ ﻣِﻦْ ﻭَﺭَﺍﺋِﻪِ ﻭَﻳُﺘَّﻘَﻰ ﺑِﻪِ

Sesungguhnya Imam (Khalifah) adalah perisai; rakyat akan berperang di belakangnya dan berlindung kepada dirinya (HR al-Bukhari dan Muslim).

Karena itu, tak bosan-bosannya kami mengajak umat ini untuk berjuang bersama-sama mewujudkan kembali perisai/pelindung Islam dan kaum Muslim, yakni Khilafah ‘alâ minhâj al-nubuwwah. []



Komentar al-Islam:

Gus Sholah: Ulama Berperan Ajak Umat Memilih Pemimpin Muslim (Republika, 18/10/2016)
  1. Ulama pun sejatinya berperan mendorong pemimpin Muslim untuk menerapkan syariah Islam secara kâffah dalam seluruh tatanan kehidupan.
  2. Ulama berperan penting dalam mewujudkan cita-cita Baginda Rasulullah saw. yang tentu menghendaki risalahnya (syariah Islam) benar-benar diterapkan di tengah-tengah umatnya.
  3. Penerapan syariah Islam secara kâffah hanya bisa diwujudkan dalam sistem Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah.
[hizbut-tahrir.or.id/ +ResistNews Blog ]
loading...
Read more »

Hukuman untuk Penghina Al Qur’an

item-thumbnail
Tanya :

Ustadz, apa hukuman (sanksi) syariah bagi orang yang menghina Al Qur`an, baik dia muslim maupun non-muslim? (Ridwan Taufik, Bantul).



Jawab :

Para ulama tak berbeda pendapat bahwa muslim yang melakukan penghinaan terhadap Al Qur`an, dalam keadaan dia tahu telah melakukan penghinaan terhadap Al Qur`an, maka dia telah murtad dan layak mendapatkan hukuman mati. Imam Nawawi berkata:



وأجمعوا على أن من استخف بالقرآن أو بشئ منه أو بالمصحف أو ألقاه في قاذورة أو كذب بشئ مما جاء به من حكم أو خبر أو نفى ما أثبته أو اثبت ما نفاه أو شك في شئ من ذلك وهو عالم به كفر



”Para ulama sepakat bahwa barangsiapa yang menghina Al Qur`an, atau menghina sesuatu dari Al Qur`an, atau menghina mushaf, atau melemparkannya ke tempat kotoran, atau mendustakan suatu hukum atau berita yang dibawa Al Qur`an, atau menafikan sesuatu yang telah ditetapkan Al Qur`an, atau menetapkan sesuatu yang telah dinafikan oleh Al Qur`an, atau meragukan sesuatu dari yang demikian itu, sedang dia mengetahuinya, maka dia telah kafir.” (Imam Nawawi, Al Majmu’, Juz II, hlm. 170; Ahmad Salim Malham,Faidhurrahman fi Al Ahkam Al Fiqhiyyah Al Khashshah bil Qur`an, hlm. 430).

Padahal sudah diketahui bahwa hukuman untuk muslim yang murtad (keluar dari agama Islam) adalah hukuman mati, jika dia sudah diminta untuk bertaubat (istitabah) tetapi dia tetap tidak mau bertaubat. Dalilnya sabda Rasulullah SAW:

من بدل دينة فاقتلوه



”Barangsiapa yang mengganti agamanya [murtad] maka bunuhlah dia!” (man baddala diinahu faqtuluuhu). (HR Bukhari no 6524 dari Ibnu Abbas RA). (Imam Shan’ani, Subulus Salam, Juz III, hlm. 1632).

Para ulama telah sepakat (ijma’) bahwa hukuman untuk orang yang murtad adalah hukuman mati, sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibnu Hazm dan Imam Ibnul Mundzir. Imam Ibnul Mundzir berkata:



وأجمع أهل العلم بأن العبد إذا ارتد، فاستتيب، فلم يتب : قتل، ولا أحفظ فيه خلافا



”Ahlul ilmi [‘ulama] telah sepakat bahwa jika seorang hamba [muslim] murtad, kemudian dia sudah diminta bertaubat tetapi tetap tidak mau bertaubat, maka dia dihukum mati. Saya tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat dalam masalah ini.” (Ibnul Mundzir, Al Ijma’, hlm. 132; Ibnu Hazm, Maratibul Ijma’, hlm. 210).

Demikian pula non-muslim yang melakukan penghinaan terhadap Al Qur`an, maka hukumannya adalah hukuman mati, sama dengan hukuman untuk orang muslim yang menghina Al Qur`an, berdasarkan kesamaan kedudukan non-muslim dan muslim di hadapan hukum Islam dalam negara Islam (Khilafah). Syeikh Ali bin Nayif Al Syahud dalam kitabnya Al Khulashah fi Ahkam Ahli Al Dzimmah wa Al Musta`maninberkata:

إذا ارتكب أحد من أهل الذمة جريمة من جرائم الحدود كالزنى أوالقذف أوالسرقة أوقطع الطريق يعاقب بالعقاب المحدد لهذه الجرائم شأنهم في ذلك شأن المسلمين

”Jika seseorang dari Ahludz Dzimmah (warga negara non-muslim) melakukan suatu kejahatan yang terkategori huduud, seperti berzina, menuduh zina (qadzaf), mencuri, atau membegal (qath’ut thariq), maka dia dijatuhi hukuman dengan hukuman yang telah ditentukan untuk kejahatan-kejahatan tersebut, kedudukan merekadalam hal ini sama dengan kedudukan kaum muslimin.” (Ali bin Nayif Al Syahud, Al Khulashah fi Ahkam Ahli Al Dzimmah wa Al Musta`manin, hlm. 36).

Imam Ibnul Qayyim telah menjelaskan dengan rinci dalam kitabnya Ahkam Ahli Al Dzimmah, bahwa jumhur ulama (yaitu mazhab Maliki, Syafi’i, Hambali) sepakat jika seorang ahludz dzimmah melakukan penghinaan kepada agama Islam, maka batallah perjanjiannya sebagai warga negara dan layak dihukum mati. (Ibnul Qayyim Al Jauziyyah, Ahkam Ahlidz Dzimmah, hlm. 1356-1376).

Hanya saja perlu ditegaskan di sini, bahwa yang berhak menjatuhkan hukuman mati untuk penghina Al Qur`an bukan sembarang individu atau kelompok, melainkan hanyalah Imam (Khalifah) atau wakilnya dalam negara Khilafah, setelah Imam (Khalifah) atau wakilnya melakukan proses pembuktian di peradilan (al qadha`) dan melakukan istitabah (meminta terpidana untuk bertaubat/masuk Islam lagi) tapi terpidana tidak mau bertaubat. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah, Juz XXII, hlm. 194). Wallahu a’lam. [M. Shiddiq Al Jawi]
loading...
Read more »

Tindak Tegas Penista Al-quran!

item-thumbnail
[Al-Islam No. 826-13 Muharram 1438 H / 14 Oktober 2016]

Sebagaimana diberitakan oleh banyak media belakangan ini, khususnya media sosial, Ahok dituding telah menistakan al-Quran. Hal itu dia lakukan di hadapan masyarakat saat kunjungannya ke Kepulauan Seribu. Saat itu, sebagaimana bisa disaksikan di Youtube, Ahok menyatakan, “Jadi jangan percaya sama orang. Kan bisa aja dalam hati kecil bapak ibu enggak bisa pilih saya, karena dibohongin pake Surat al-Maidah 51 macem-macem itu. Itu hak bapak ibu ya. Jadi kalau bapak ibu perasaan enggak bisa pilih nih, karena saya takut masuk neraka, dibodohin gitu ya, enggak apa-apa.” (Republika.co.id, 10/10).

Sebagaimana diketahui, Allah SWT di dalam QS al-Maidah ayat 51 memang secara tegas telah melarang kaum Muslim untuk menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin mereka. Ayat inilah yang dituding Ahok sering dijadikan alat untuk membohongi dan membodohi umat Islam agar tidak mau memilih pemimpin kafir, seperti dirinya.

Kontan, reaksi keras bermunculan dari berbagai komponen umat Islam terhadap sikap Ahok yang telah menistakan al-Quran itu. Bahkan muncul petisi penolakan terhadap Ahok di Change.org. Hingga 6 Oktober 2016 saja, petisi online yang mengecam Ahok telah ditandatangani oleh 40.237 orang (Tempo.co, 6/10).

Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), dalam pernyataan resminya tanggal 7 Oktober 2016, juga mengecam keras pelecehan al-Quran oleh Ahok ini sekaligus menuntut agar Ahok dihukum berat. Puncaknya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada Selasa (11/10/2016) juga menyatakan sikap tegasnya, yang langsung ditandatangi oleh Ketua Umum MUI, KH Ma’ruf Amin. Di dalam pernyataan sikapnya, MUI antara lain menyatakan: (1) Al-Quran surah al-Maidah ayat 51 secara eksplisit berisi larangan menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin. Ayat ini menjadi salah satu dalil larangan menjadikan non-Muslim sebagai pemimpin; (2) Ulama wajib menyampaikan isi surah al-Maidah ayat 51 kepada umat Islam bahwa memilih pemimpin Muslim adalah wajib; (3) Setiap orang Islam wajib meyakini kebenaran isi surah al-Maidah ayat 51 sebagai panduan dalam memilih pemimpin; (4) Menyatakan bahwa kandungan surah al-Maidah ayat 51 yang berisi larangan menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin adalah sebuah kebohongan, hukumnya haram dan termasuk penodaan terhadap al-Quran; (5) Menyatakan bohong terhadap ulama yang menyampaikan dalil surah al-Maidah ayat 51 tentang larangan menjadikan non-Muslim sebagai pemimpin adalah penghinaan terhadap ulama dan umat Islam.

Berdasarkan hal di atas, demikian dinyatakan MUI, maka pernyataan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dikategorikan: (1) menghina al-Quran dan atau (2) menghina ulama yang memiliki konsekuensi hukum.

Menanggapi tuduhan tersebut, Ahok berkilah, “Saya tidak menyatakan penghinaan al-Quran. Saya tidak mengatakan al-Quran bodoh. Saya hanya katakan kepada masyarakat di Pulau Seribu, kalau kalian mau dibodohi oleh orang rasis pengecut menggunakan ayat suci itu dengan tujuan tidak milih saya, silakan jangan milih,” ujar Ahok (Detik.com, 7/10).

Namun, karena amat derasnya arus kecaman dari berbagai komponen umat Islam, Ahok akhirnya meminta maaf. Menanggapi itu, MUI mendesak Kepolisian tetap menindaklanjuti laporan dugaan penistaan agama yang dilakukan Ahok. Menurut MUI, dengan ucapan permintaan maaf Ahok terkait ucapannya itu tidak berarti masalah selesai. Ahok harus tetap mempertanggungjawabkan perbuatannya (Tempo.co, 10/10).

Menistakan al-Quran: Dosa Besar!

Al-Quran adalah kalam Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Setiap Muslim wajib memuliakan dan mensucikan al-Quran. Hal ini telah disepakati oleh para ulama. Karena itu siapa saja yang berani menghina al-Quran berarti telah melakukan dosa besar! Jika pelakunya Muslim, dia dihukumi murtad dari Islam. Allah SWT berfirman:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ – لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

Jika kamu bertanya kepada mereka, niscaya mereka akan menjawab, “Sungguh, kami hanya bersenda-gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah, “Mengapa kepada Allah, ayat-ayat-Nya serta Rasul-Nya kalian selalu menistakan? Kalian tidak perlu meminta maaf karena kalian telah kafir setelah beriman.” (TQS at-Taubah [9]: 65-66).

Terkait ayat di atas, Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisi berkata, “Siapa saja mencaci Allah SWT telah kafir, sama saja dia lakukan dengan bercanda atau serius. Begitu juga orang yang mengejek Allah, ayat-ayat-Nya, para rasul-Nya, atau kitab-kitab-Nya.” (Ibn Qudamah, Al-Mughni, 12/298-299).

Imam an-Nawawi pun tegas menyatakan, “Ragam perbuatan yang menjatuhkan seseorang pada kekafiran adalah yang muncul dengan sengaja dan menghina agama Islam secara terang-terangan.” (An-Nawawi,Rawdhah ath-Thâlibîn, 10/64).

Hal yang sama ditegaskan oleh Qadhi Iyadh, “Ketahuilah, siapa saja yang meremehkan al-Quran, mushafnya atau bagian dari al-Quran, atau mencaci-maki al-Quran dan mushafnya, ia telah kafir (murtad) menurut ahli Ilmu.” (Qadhi Iyadh, Asy-Syifâ, II/1101).

Dalam kitab Asnâ al-Mathalib dinyatakan, Mazhab Syafii telah menegaskan bahwa orang yang sengaja menghina—baik secara verbal, lisan maupun dalam hati—kitab suci al-Quran atau Hadis Nabi saw. dengan melempar mushaf atau kitab hadis di tempat kotor, dia dihukumi murtad.

Inilah hukum syariah yang juga disepakati oleh para fukaha dari kalangan Hanafi, Maliki, Hanbali dan berbagai mazhab lainnya.

Tindak Tegas Penista al-Quran!

وَإِنْ نَكَثُوا أَيْمَانَهُمْ مِنْ بَعْدِ عَهْدِهِمْ وَطَعَنُوا فِي دِينِكُمْ فَقَاتِلُوا أَئِمَّةَ الْكُفْرِ

Jika mereka merusak sumpah (perjanjian damai)-nya sesudah mereka berjanji dan mereka mencerca agama kalian, perangilah para pemimpin kaum kafir itu (TQS at-Taubah [9]: 12).

Dalam ayat yang mulia ini, Allah SWT menyebut orang kafir yang mencerca dan melecehkan agama Islam sebagai gembong kafir, alias bukan sekadar kafir biasa. Sebagian ulama berdalil dengan ayat ini atas kewajiban untuk memerangi setiap orang yang mencerca agama Islam karena ia telah kafir (Lihat: al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, 8/84).

Karena itu segala bentuk penistaan terhadap Islam dan syiar-syiarnya sama saja dengan ajakan berperang. Pelakunya akan ditindak tegas oleh Khilafah. Seorang Muslim yang melakukan penistaan dihukumi murtad dan dia akan dihukum mati. Jika pelakunya kafir ahludz-dzimmah, dia bisa dikenai ta’ziryang sangat berat; bisa sampai dihukum mati. Jika pelakunya kafir yang tinggal di negara kufur seperti AS, Eropa dan sebagainya, maka Khilafah akan memaklumkan perang terhadap mereka untuk menindak dan membungkam mereka. Dengan begitu, siapapun tidak akan berani melakukan penodaan terhadap kesucian Islam.

Rasulullah saw. sebagai kepala Negara Islam juga pernah memaklumkan perang terhadap Yahudi Bani Qainuqa’—karena telah menodai kehormatan seorang Muslimah—dan mengusir mereka dari Madinah, karena dianggap menodai perjanjian mereka dengan negara. Khalifah al-Mu’tashim pun pernah mengerahkan puluhan ribu pasukan Muslim untuk menindak tegas orang Kristen Romawi yang telah menodai seorang Muslimah. Mereka diperangi hingga sekitar 30 ribu pasukan Kristen tewas dan 30 ribu lainnya berhasil ditawan. Selain itu, wilayah Amuriyah yang sebelumnya dikuasai Romawi jatuh ke tangan kaum Muslim. Tindakan tegas juga ditunjukkan oleh Khilafah Utsmani saat merespon penghinaan kepada Nabi saw. oleh seniman Inggris. Saat itu Khilafah Utsmani mengancam Inggris dengan perang jihad. Akhirnya, mereka pun tak berani berbuat lancang.

Khatimah

Alhasil, keberadaan Khilafah untuk melindungi kesucian dan kehormatan Islam, termasuk kitab suci dan Nabinya, mutlak diperlukan. Demikian sebagaimana ditegaskan oleh Imam al-Ghazali dalam Al-Iqtishâd fî al-I’tiqâd.

Karena itu jika saat ini umat Islam tidak memiliki Khilafah, sementara para penguasa mereka saat ini tidak melakukan tugas dan tanggung jawab untuk membela agama Allah SWT, bahkan berlomba memerangi Allah dan Rasul-Nya demi kerelaan kaum kafir, maka kewajiban umat Islam saat ini adalah menegakkan kembali Khilafah dengan membaiat seorang khalifah. Khilafahlah yang akan menerapkan al-Quran dan as-Sunnah, menegakkan syariah sekaligus menjaga kekayaan, kehormatan dan kemuliaan umat Islam sehingga mereka tidak akan pernah dihinakan lagi. Rasul saw. bersabda:

ﺍﻹِﻣَﺎﻡُ ﺟُﻨَّﺔٌ ﻳُﻘََﺎﺗَﻞُ ﻣِﻦْ ﻭَﺭَﺍﺋِﻪِ ﻭَﻳُﺘَّﻘَﻰ ﺑِﻪِ

Imam (Khalifah) adalah perisai; rakyat akan berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya (HR Muslim).

Tanpa Khilafah, al-Quran tidak ada yang melindungi. Penistaan terhadap kitab suci itu akan terus berulang, bahkan di negeri kaum Muslim sendiri, sebagaimana terjadi saat ini. Andai saja Khilafah ada, niscaya penistaan demi penistaan seperti ini tidak akan terjadi. Karena itu sejatinya kita segera bergerak untuk secara bersama-sama mewujudkan kembali perisai/pelindung Islam dan kaum Muslim, yakni Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah. []





Komentar al-Islam:

Wakil Ketua DPR: Penegakan Hukum Kasus Ahok Harus Jalan Terus (Republika, 11/10).
  1. Sepakat, Ahok harus dibuat kapok!
  2. Tak hanya Ahok, siapapun yang berani menistakan al-Quran, harus dihukum berat, bahkan bisa dihukum mati, sesuai dengan ketentuan syariah Islam.
  3. Karena itu menegakkan syariah Islam harus menjadi prioritas umat Islam saat ini.
[hizbut-tahrir.or.id/ +ResistNews Blog ]
loading...
Read more »
Home
loading...