Inilah Tafsiran dari Ayat Al-Quran yang dilecehkan Ahok

Dunia maya saat ini tengah ramai dengan sebuah video yang menayangkan Gubernur DKI Basuki Cahya Purnama yang biasa dipanggil Ahok dengan menggunakan seragam dinasnya berbicara di hadapan rakyat kepulauan seribu. Video tersebut menjadi viral karena ada redaksi perkataan Ahok yang dinilai oleh banyak pihak melecehkan Al-Quran, terutama surat Al-Maidah ayat 51.

Reaksi umat Islam sungguh cepat, dari menggalang petisi online yang ditandatangani oleh 50 ribuan orang hanya dalam waktu 2 hari, pelaporan terhadap Ahok oleh Pemuda Muhammadiyah dan berbagai macam reaksi penolakan lainnya.

Mungkin saat mendengar bahwa Ahok dianggap melecehkan surat Al-Maidah ayat 51 kita akan buru-buru membuka ayat tersebut. Setelah kita baca kita buka artinya. Lantas bagaimana sebenarnya tafsiran ayat tersebut? Kenapa Ahok begitu takutnya dengan ayat itu sehingga sampai mengeluarkan pernyataan seperti itu?

Di daam tafsir Al-Quranul Adzim atau yang lebih dikenal dengan tafsir Ibnu Katsir, penulis berkata : Allah SWT melarang hamba-hamba-Nya yang beriman untuk berwala’ kepada orang Yahudi dan Nasrani. Yang mana mereka adalah musuh-musuh Islam dan kaum muslimin, semoga Allah membinasakan mereka. Kemudian Allah mengabarkan kepada orang beriman bahwa orang kafir satu sama lain adalah wali bagi sebagian lainnya. Kemudian Allah mengancam dan mewanti-wanti siapa yang melakukan hal tersebut (berwala kepada Yahudi dan Nasrani) dengan berfirman,“Barangsiapa di antara kalian yang berwala kepada mereka, maka dia termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim.”

Masih dalam menafsirkan surat Al-Maidah ayat 51, Ibnu Katsir meriwayatkan sebuah kisah dari Ibnu Abi Hatim, “Umar memerintahkan kepada Abu Musa Al-Asy’ari untuk menyampaikan kepadanya apa yang telah dia ambil dan berikan selama satu musim. Abu Musa memiliki seorang sekretaris beragama Nasrani. Hal ini diadukan kepada Umar RA. Kemuin Umar berkata, “Sesungguhnya orang ini amanah. Apakah kamu bisa membaca sebuah surat yang datang kepada kami dari Syam di masjid ?” kemudian Abu Musa menjawab, “Dia tidak bisa masuk masjid .” Umar bertanya, “Apakah dia sedang junud (sehingga tidak bisa masuk masjid)?” Abu Musa menjawab, “Bukan, tapi dia seorang Nasrani.” Abu Musa berkata, “Kemudian Umar membentak saya dan memukul paha saya, kemudian berkata, “Kalau begitu usir dia!” kemudian Umar membaca ayat di atas. (Tafsir Ibnu Katsir 3/132 ditahqiq oleh Sami bin Muhammad Salamah, penerbit Dar Thoyyibah)


Sementara Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di di dalam tafsir beliau berkata, “Allah SWT saat menjelaskan kondisi-kondisi orang-orang Yahudi dan Nasrani dan sifat-sifat mereka yang buruk, memberi arahan kepada hamba-hambanya yang beriman agar jangan menjadikan mereka wali-wali. Karena sesungguhnya sebagian mereka loyal kepada sebagian yang lain. Antara mereka saling tolong-menolong dan mereka keras terhadap orang selain mereka, oleh karena itu janganlah kalian jadikan mereka wali. Sesungguhnya mereka sejatinya musuh, mereka tidak akan peduli madhorot yang menimpa kalian, bahkan mereka tidak akan menyisakan potensi mereka (total) dalam menyesatkan kalian.

Tidaklah ada yang berwala’ kepada mereka melainkan dia akan menjadi seperti mereka. Oleh karena itu Allah berfirman, “Barangsiapa yang berwala’ dari kalian kepada mereka maka dia termasuk golongan mereka.” Karena sesungguhnya wala’ yang total (kepada mereka) secara otomatis membuat kalian pindah kepada agama mereka. Sementara sedikit wala’ kepada mereka akan menyebabkan wala’ yang banyak. Kemudian wala’ tadi sedikit demi sedikit akan bergeser secara total kepada mereka, hingga seorang hamba sama dengan mereka.” (Taisir Karimu Ar-Rahman fi Tafsiiri Kalamil Mannan, hal 235, ditahqiq oleh Abdurrahman bin Ma’la Al-Luwaihiq, penerbit Muassasah Ar-Risalah)

Di dalam tafsir di atas berulang-ulang disebutkna kata wala’. Apakah makna kata wala’ dalam pengertian bahasa dan istilah? Di dalam kitab Al Wala’ wal Bara’ fil Islam disebutkan beberapa makna wala’ secara bahasa.

Di antaranya, Tsa’lab berkata,”Barangsiapa yang beribadah kepada selain Allah maka dia telah menjadikan sesuatu itu sebagai wali.” Walyu (الوَلْي) artinya dekat, sementara muwalah (الموالاة) Artinya mengikuti. Tawalli (التَّوَلّي) memilki dua makna, kadang bermakna berpaling dan terkadang bermakna mengikuti.

Kata wali (الوَلِي) terkadang berwazan fa’iil (فعيل) berarti pelaku. Menjadi wali atas seseorang maknanya adalah mengurusi urusannya.

Adapun makna kata wala’ secara istilah adalah menolong, cinta, menghormati dan berada bersama orang yang dicintai secara zahir maupun batin. Muwalatul Kuffar (موالاة الكفار) maknanya mendekat kepada mereka dan menampakkan kecintaan kepada mereka baik dengan perkataan, perbuatan dan hati. (semua penjelasan tentang makna kata wala dikutip dari buku Al-Wala’ wal Bara’ fil Islam, hal 87-90, Karya Muhammad bin Sa’id Al-Qohthoni , penerbit Al-Fath Lil I’lam Al-Arabi)

Kesimpulan

Ayat di atas adalah ayat yang sering dijadikan oleh para ulama sebagai dalil larangan bagi umat Islam untuk mengangkat pemimpin dari golongan kafir. Karena sebagaimana yang telah disampaikan bahwa makna dasar dari wala’ adalah kecintaan dan pertolongan, tentunya menjadikan orang kafir sebagai pemimpin adalah perwujudan cinta dan menolong orang kafir , yang mana hal itu masuk makna dasar wala’. Wallahu a’lam bishshowab

Penulis : Miftahul Ihsan Lc

No comments

Post a Comment

Home
loading...