Proxy War dan Neo Imperialisme!


Umar Syarifudin (Lajnah Siyasiyah DPD HTI Jatim)

Dalam beberapa kesempatan, Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo mengingatkan Indonesia saat ini tengah menghadapi bahaya proxy war atau perang asimetris. Proxy war terjadi di Indonesia melaui beberapa cara, di antaranya narkoba, konflik antar kelompok, maupun terorisme. Panglima TNI mengingatkan tentang Proxy War sebagai ancaman nyata bagi Indonesia. Jenderal Gatot Nurmantyo mengingatkan ancaman Proxy War yang menyerbu seluruh lini kehidupan bernegara, berbangsa, bahkan sudah hadir di tengah kehidupan keluarga kita.

Ancaman itu, menurut Panglima seperti demo anarkis buruh, tawuran pelajar dan mahasiswa, adu domba TNI-Polri, upaya memecahbelah parpol, rekayasa sosial dengan memanfaatkan media dan maraknya penyalahgunaan narkoba. Panglima mengingatkan semua itu sudah didesain dan dikendalikan dari luar oleh tangan-tangan yang tidak kelihatan dengan memanfaatkan orang dalam. Sehingga tidak disadari, bahwa bangsa ini sedang menuju kehancuran.

Gatot juga mengingatkan narkoba di Indonesia sudah menjadi perang candu seperti halnya yang pernah terjadi di Tiongkok sejak zaman dinasti. Ia mencatat sekitar 5,1 juta penduduk sudah menjadi penyalahgunaan narkoba. Sebanyak 15 ribu orang di antaranya meninggal setiap tahun.

Proxy War Adalah…

Makna proxy war memang perang boneka atau perang perwalian, namun bukan secara asimetris atau non militer, bahwa ia tetap dilakukan dalam konteks perang militer (simetris) secara terbuka sebagaimana terjadi di Ukraina, Syria, dll. Itulah kemasan varian perang militer seperti hybrid war, perang kota, gerilya, dsb.

Sifat dan karakteristik perang telah bergeser seiring dengan perkembangan teknologi. Kemungkinan terjadinya perang konvensional antar dua negara dewasa ini semakin kecil. Namun, adanya tuntutan kepentingan kelompok telah menciptakan perang-perang jenis baru. Diantaranya, perang asimetris, perang hibrida, dan perang proxy.

Perang asimetris adalah perang antara belligerent atau pihak-pihak berperang yang kekuatan militernya sangat berbeda.

Perang hibrida atau kombinasi merupakan perang yang menggabungkan teknik perang konvensional, perang asimetris, dan perang informasi untuk mendapat kemenangan atas pihak lawan. Pada saat kondisi kuat, perang konvensional dilakukan untuk mengalahkan pihak lawan. Namun, pada saat situasi kurang menguntungkan, cara-cara lain dilakukan untuk melemahkan pihak musuh.

Perang proxy atau proxy war adalah sebuah konfrontasi antar dua kekuatan besar dengan menggunakan pemain pengganti untuk menghindari konfrontasi secara langsung dengan alasan mengurangi risiko konflik langsung yang berisiko pada kehancuran fatal.

Biasanya, pihak ketiga yang bertindak sebagai pemain pengganti adalah negara kecil, namun kadang juga bisa non-state actors yang dapat berupa LSM, ormas, kelompok masyarakat, atau perorangan. Melalui perang proxy ini, tidak dapat dikenali dengan jelas siapa kawan dan siapa lawan karena musuh mengendalikan non-state actors dari jauh. Proxy war telah berlangsung di Indonesia dalam bermacam bentuk, seperti gerakan separatis dan lain-lain dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Indonesia, Awas!

Posisi geografis Indonesia yang berada tepat di bawah garis khatulistiwa menempatkan Indonesia dalam wilayah tropis yang hanya merasakan dua jenis musim; kemarau dan penghujan. Sehingga di Indonesia bisa bercocok tanam sepanjang tahun. Indonesia juga masih memiliki lebih dari 5.000 m kubik air bersih per kapita per tahun. Dari sisi kepemilikan migas dan gas metana batu bara, sumur-sumur minyak, gas, dan simpanan batu bara di hampir diseluruh wilayah Indonesia telah diolah perusahaan-perusahaan asing yang memiliki modal besar.

Indonesia sebagai salah satu negara ekuator yang memiliki potensi vegetasi sepanjang tahun akan menjadi arena persaingan kepentingan nasional berbagai negara. Untuk itu, diperlukan langkah antisipasi agar keutuhan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia terjaga. Konflik-konflik di belahan dunia terjadi akibat persaingan kepentingan antarnegara untuk menguasai sumber energi.

Krisis kapitalisme Amerika mengambarkan menguatnya China yang luar biasa. Artinya, ketika diaplikasikan di Indonesia, maka Indonesia menjadi ajang pertarungan AS dan China di negeri ini. Menguasai Selat Malaka, yang tentunya termasuk kawasan Indonesia bagian Timur yang berdekatan dengan wilayah laut Filipina, memang sudah dirancang sejak 2001. September 2001, misalnya, kongres AS membentuk US Commision on Ocean Policy. Yang mana komisi ini telah merekomendasikan bahwa AS harus menjadi pimpinan dalam berbagai kegiatan yang menyangkut kelautan dan pesisir pantai. Bahkan lebih jauh dari itu, AS juga membentuk Regional Maritime Security Iniative (RMSI), kerangka kerjasama multilateral yang bertujuan meningkatkan keamanan di Selat Malaka.

Demokrasi, secara politik, telah menjadi pintu, munculnya pemimpin-pemimpin pro negara imperialis. Lewat pencitraan yang dibangun oleh media-media liberal, pemimpin boneka ini muncul sebagai pemenang dalam pemilu. Apa yang terjadi? Setelah memimpin, pemimpin boneka ini mengabdi 100% bagi kepentingan tuan Kapitalis yang telah mengangkatnya, bukan kepada rakyat. Maka tidaklah mengherankan kalau kebijakan-kebijakannya justru menyengsarakan rakyat.

Lewat pintu, demokrasi pula, lahir UU yang jelas-jelas berpihak kepada pemilik-pemilik modal, baik dalam negeri, terutama perusahaan negara-negara imperialis. Berbagai UU yang sarat dengan liberalisme seperti UU kelistrikan, sumber daya alam, migas, perbankan, perdagangan, semuanya berpihak pada pemilik modal asing. Tujuannya untuk melegalkan perampokan terhadap kekayaan alam Indonesia.

Lepasnya Timor Timur dari Indonesia yang dimulai dengan pemberontakan bersenjata, perjuangan diplomasi, sampai munculnya referendum merupakan contoh proxy war yang nyata. Celah Timor tanpa diduga menyimpan minyak dan gas bumi dalam jumlah yang fantastis. Australia pun ingin menguasai kandungan minyak di celah Timor dengan pembagian yang lebih besar. Setelah perjanjian celah Timor dengan Indonesia berakhir, Australia menggunakan isu hak asasi manusia, menyerukan perlunya penentuan nasib sendiri untuk rakyat Timor Timur.

Di jalur diplomatik, Australia juga membujuk PBB untuk mengeluarkan sebuah resolusi Dewan Keamanan agar mengizinkan pasukan multinasional di bawah pimpinannya masuk ke Timor Timur dengan alasan kemanusiaan, menghentikan kekerasan, dan mengembalikan perdamaian.

Berikutnya, pada 2013, British Petroleum (BP) mengeluarkan sebuah laporan yang menyatakan bahwa sisa energi fosil dunia tinggal sekitar 40 tahun, sedangkan sisa energi fosil di Indonesia tinggal 16 tahun. Sehingga energi dunia akan habis pada 2053 dan Indonesia pada 2029 dengan asumsi bahwa kebutuhan energi dunia tidak meningkat. Padahal BP pada awal tahun ini memperkirakan bahwa konsumsi energi dunia pada 2035 meningkat sampai 41 persen dari kebutuhan hari ini.

Negara-negara tersebut antara lain Amerika Serikat, Inggris, Australia, Italia, Tiongkok, Malaysia, dan Norwegia. Selain itu, posisi geopolitik Indonesia yang tepat di tengah negara-negara Five Power Defense Arrangement (FPDA), yaitu perjanjian kerja sama pertahanan negara-negara persemakmuran Inggris, menyimpan kerawanan yang patut menjadi perhatian serius.

Di sebelah utara, ada Malaysia dan Singapura, sedangkan di bagian selatan terdapat Australia dan Selandia Baru. Setidaknya tiga di antara empat negara tersebut pernah memiliki sejarah hubungan bilateral yang kurang harmonis dengan Indonesia.

Laut China Timur

Membaca Perang Proksi di Laut China Timur (LCT) dengan skema berikut : Pertama, kendati ada beberapa faktor penyebab mengapa geopolitical shift berubah dari Jalur Sutera menuju Asia Pasifik, bahwa Asia Pasifik memang dinilai sebagai “masa depan” Paman Sam, itulah alasan dan faktor utama.

Kedua, dalam hegemoni AS, entah Laut Cina Timur atau Laut Cina Selatan, itu sama saja -satu tarikan nafas- oleh karena tujuan pokok pergeseran geopolitik ialah melenggangkan cengkraman armada lautnya di perairan Cina hingga ke Lautan Hindia melalui pintu Selat Malaka;

Ketiga, jika Laut Cina Timur dijadikan titik proxy war, bagi AS, peristiwa tersebut seperti mengulang modus “utang dibayar bom” yang pernah ia terapkan di Libya, karena pada titik dimaksud niscaya bakal berhadapan Cina versus Jepang, dimana kedua negara justru pemegang surat utang terbesar milik Paman Sam;

Keempat, selaras dengan tiga paradigma luar negeri, maka menghancurkan Cina dan Jepang dengan modus adu domba di Laut Cina Timur, adalah cara yang paling jitu agar Paman Sam melenggang sendirian di Asia Pasifik;

Kelima, seirama dengan PNAC-nya Pentagon, bahwa mengendalikan jalur pelayaran di sepanjang Laut Cina, selain identik membendung gerak laju Cina, juga menguasai geopolitiknya. Artinya, selain menjadi pengendali jalur pelayaran, sekaligus mencaplok SDA di wilayah tersebut. Dengan demikian, asumsi geopolitical shift dari Jalur Sutera ke Asia Pasifik, terutama di Laut Cina (Timur dan Selatan) ialah keniscayaan yang tak terelakkan.

Laut China Selatan

Amerika adalah gembong neo imperialisme atas negeri-negeri kaum Muslim, termasuk Asia Tenggara. Amerika memerangkap negara-negara berkembang secara langsung dan tidak langsung, yaitu dengan beragam alat: lokal, regional dan internasional. Kadang dengan diktator yang menjadi anteknya. Jika diktator hampir jatuh, Amerika mendukungnya secara regional. Jika hal itu tidak berguna, Amerika mengikat kesepakatan internasional. China dan Rusia mengikuti jejaknya. ditambah Eropa yang terus mengintai kita. Eropa berupaya bersaing dengan Amerika menyiapkan jebakan-jebakan untuk menjegalnya.

Sementara kepentingan China sendiri sebenarnya adalah untuk mendorong integrasi ekonomi antar negara di Jalur Sutera, sehingga mempercepat koneksitas sistem ekonomi atar negara baik lewat darat maupun laut. Bila China berhasil mengintegrasikan sistem ekonominya maka batas teritorial antar negara sudah tidak penting lagi –karena dengan sistem ekonominya yang konstan– secara alamiah China akan dengan mudah mendominasi kawasan. Perang Asimetris adalah pilihan yang logis. Apalagi bila investasi dan relokasi industrinya berjalan lancar dan mampu meningkatkan pembangunan di Jalur Sutera – maka Imperium China akan segera berdiri lagi membelah dunia di abad 21.

Oleh karena itu, Jalur Sutera Maritim abad 21 memiliki arti sangat strategis bagi kepentingan nasional China. Tidak mengherankan bila untuk menguasai Jalur Sutera Maritim, China berusaha keras mengintegrasikan sistem ekonominya dengan seluruh negara-negara Asia Tenggara melalui ACFTA. Dengan integrasi sistem ekonomi ini, China berhasil membangun koneksitas ekonomi yang kuat dengan seluruh negara-negara di kawasan Jalur Sutera Maritim. Bahasa Indonesianya: menjajah ekonomi negara-negara Melayu Asia Tenggara untuk dikuras bahan bakunya dan dijadikan kuli di negerinya atas nama investasi, pembangunan dan pasar bebas.

Posisi Laut China Selatan memang sangat strategis disamping dikelilingi oleh banyak negara juga merupakan pintu perlintasan pelayaran ke Timur Jauh. Negara-negara Asia Tenggara pun dihubungkan oleh Laut China Selatan ini. Secara historis China memandang semua negeri yang terletak di Laut China Selatan itu dengan sebutan Nanhai atau Laut Selatan – oleh karena itu dalam peta, kawasan ini disebut Laut China Selatan.

Dengan kekuatan ekonominya saat ini, China sangat berkepentingan untuk memperkuat posisinya dikawasan jalur sutera, baik jalur darat maupun jalur laut. Terutama guna meningkatkan hubungan koneksitas ekonomi kawasan yang lebih intens – disamping memperkuat basis ideologis tentunya. Mumpung Beruang Merah Rusia sedang ‘hibernasi’.

Secara alamiah pendekatan historis, etnis dan ideologis China telah berhasil membangun iklim yang kondusif di negara-negara sepanjang Jalur Sutera Maritim, khususnya di Asia Tenggara, mulai dari Vietnam, Myanmar, Thailand, Malaysia, Singapura, Filipina, dan seterusnya. Di Thailand, China bahkan berhasil menampilkan Thaksin Shinawatra dan Yingluck Shinawatra menjadi Perdana Meneri di negeri gajah putih tersebut – sehingga membuat kelompok nasionalis marah, Raja pun bertindak. Jadi tidak mengherankan kalau kudeta sering terjadi di Thailand, perang asimetris yang dilancarkan China menjadi salah satu game-nya.

Indonesia ternyata cocok bagi metamorfosis kepompong ulat sutera. Namun, masyarakat Indonesia yang majemuk menjadi ganjalan serius bagi perkembangan imperium China di Jalur Sutera. Mengapa? Dengan bahasa SARA, ternyata alam bawah sadar masyarakat Indonesia memiliki perasaan anti China yang bersifat reflek. Ya, reflek. Jadi perang asimetris yang dijalankan China untuk menguasai bangsa Indonesia seutuhnya merupakan pekerjaan rumah yang belum ketemu skemanya. Berkali-kali dilancarkan selalu terbentur dengan skema Glodok. Jadi yang meraka takutkan adalah bila meledak skema Grase (gerakan rakyat Semesta).

Sikap


Ironis, negeri kaum Muslim menjadi medan bagi pesawat tempur, artileri dan kapal perang musuh. Bahkan untuk pertama kalinya dalam sejarah, umat Islam diinvasi musuh lalu bertepuk tangan untuknya, memujinya dan memanggilnya. Masyarakat Indonesia yang cenderung disibukkan untuk sekadar bisa mempertahankan hidup dengan sesuap nasi. Masyarakat yang sama inilah yang dicekoki dengan pandangan bahwa Indonesia adalah lemah, China dan Barat adalah adidaya. Para elit penguasa yang telah menjual harkat dan martabat negeri ini dengan memperkaya diri mereka adalah yang paling bertanggung jawab terhadap rendahnya rasa percaya diri rakyatnya.

Sesungguhnya musuh nyata Indonesia adalah kapitalisme dengan pemikiran pokoknya sekulerisme, liberalisme, dan pluralisme. Penjajahan ini dipimpin Amerika dengan menggunakan penguasa-penguasa boneka yang mengabdi dan menjilat tuan kapitalisnya. Pada saat yang sama, Islam masih mengakar di hati rakyat Indonesia dan masih banyak yang berharap agar Islam menjadi tegak kembali. Sayang, politisasi Islam oleh para politisi Indonesia yang tidak bertanggung jawab selalu menampilkan Islam sebagai sistem kerohanian (ritual) ketimbang sebagai sistem politik yang mengorganisasi penyelenggaraan negara dan pemerintahan.

Indonesia sebenarnya menduduki tambang emas dan minyak bumi terbesar. Rezim Barat memahami benar hal ini sehingga para pembuat kebijakan Amerika selalu memonitor perubahan yang terjadi di Indonesia karena mereka mengkhawatirkan bahwa Indonesia memiliki potensi untuk bangkit. Kalangan intelektual Amerika pun melihat bahwa Indonesia lebih mencintai Islam dari pada penguasa agen Barat maupun China.

Karena itu, umat Islam Indonesia harus memahami bahwa ia memiliki potensi untuk mengubah dirinya. Caranya adalah dengan mencapai kesatuan politik dengan seluruh umat Islam di dunia. Untuk itu, Indonesia harus menjadikan kembalinya kehidupan Islam dengan penegakan Khilafah sebagai tujuannya. Demikianlah sebagaimana yang telah dijanjikan Rasulullah saw. di dalam haditsnya, bahwa Khilafah akan kembali tegak.

Sejarah Islam telah menunjukkan bahwa untuk setiap penindas melakukan kekerasan berperang melawan orang-orang beriman dalam Islam, sehingga Allah telah mengirimkan seorang pembebas saleh yang mendapat dukungan langsung dengan kekuasaan dari Allah. Kita berdoa semoga kaum muslim tetap teguh dalam tekad mereka yang tidak tergoyahkan untuk beribadah hanya kepada Allah dan tidak tunduk kepada kekuatan palsu lainnya.

Kini kesempatan kita untuk bangkit melepaskan penjajahan dengan cara kita sendiri; Agama yang oleh Maha Pencipta sendiri sudah dinyatakan sempurna – tentu sangat memadai untuk kita jadikan pegangan. Kalau dalam hal keluar masuk kamar kecil saja ada aturannya di agama ini, tentu dalam hal yang sangat besar seperti politik, hukum, pendidikan, budaya, pasar, uang, sistem ekonomi, dsb. pastilah agama ini punya tuntunannya yang sempurna. Tinggal tantangannya adalah bagaimana kita menggali mutiara-mutiara ini dari dasarnya, bukan dari sistem barat yang dicocok-cocokkan dengan sistem Islam.[]

No comments

Post a Comment

Home
loading...