Rohingya Menyeru Internasional dan Dunia Islam



+ResistNews Blog
 - Kepala Dewan Rohingya di Eropa (yang bermarkas di Belanda), Khairul Amin, Senin (28/11), menyeru masyarakat internasional dan dunia Islam membantu serta melindungi Muslim Rohingya di Myanmar. Di tempat lain, Direktur Federasi Rohingya Arakan bahwa mengatakan bahwa kekerasan terhadap Muslim Rohingya berubah menjadi “genosida.”

“Kami berharap mendapat perlindungan dan dukungan untuk membela diri. Ini adalah pesan kami kepada masyarakat internasional, dunia Muslim dan Turki,” kata Amin kepada Anadolu Agency.

Dia menjelaskan bahwa situasi di Arakan sejak serangan di tiga pos polisi pada 9 Oktober lalu sangat buruk dan memprihatinkan. Sekitar tiga puluh ribu warga mengungsi meninggalkan rumah mereka karena tindakan agresif Pemerintah Myanmar. Saat ini, mereka tidak memiliki tempat tinggal dan tujuan.

Amin menunjukkan bahwa sejak Oktober lalu empat ratus orang tewas dan tiga desa hancur sepenuhnya. Kurang lebih 2.500 rumah warga Rohingya dibakar dan masjid serta sekolah dihancurkan.

Pada gilirannya, Direktur Jenderal Federasi Rohingya Arakan Waqarudin bin Masihudin mengatakan bahwa kekerasan terhadap Muslim Rohingya berubah menjadi “genosida.”

Mengomentari kekerasan terhadap Muslim Rohingya, Waqarudin mengungkapkan bahwa pemerintah Myanmar melakukan pembantaian tanpa pandang bulu, antara wanita dan anak serta lansia. Rezim membakar hidup-hidup warga Rohingya.

“Pembantaian kali ini bukan hanya dilakukan kelompok-kelompok ekstremis Buddha, bahkan dilakukan Pemerintah Myanmar,” ujarnya menekankan.

Dia melanjutkan, tentara menyerang desa-desa dan membantai penduduknya serta membakar rumah yang ada di dalamnya. Anak-anak dan wanita ditahan di dalam rumah sementara tentara membakar rumah mereka. Bagi warga yang berhasil kabur, militer memburu mereka dengan menggunakan helikopter. Sawah-sawah pun penuh dengan mayat warga.

Waqarudin menggambarkan apa yang terjadi terhadap Muslim Rohingya sebagai “genosida,”. Kami menemukan kuburan massal jasad warga ditembak mati. Di samping itu adanya sejumlah kasus pemerkosaan massal.”

Di akhir, Waqarudin menunjukkan pemerintah Myanmar menutup rapat pembantaian itu kepada internasional. Saat organisasi internasional ke Myanmar, yang diperlihatkan hanya daerah yang terjadi bentrok akibat perlawanan warga. [Al-Jazeera/kiblat+ResistNews Blog ]

No comments

Post a Comment

Home
loading...