Menghentikan Narasi Tunggal Teror

Setelah berlalu, bulan April seakan hanya menyisakan catatan seputar hiruk pikuk Pilkada DKI Jakarta. Perebutan kursi gubernur ibukota telah membuat masyarakat lupa akan adanya aksi teror yang terjadi di periode yang sama.

Teror terhadap penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan terjadi Selasa subuh, 11 April lalu. Dua orang tak dikenal menyiramnya dengan air keras saat dia baru saja selesai melaksanakan salat subuh di Masjid Al Ihsan, Kelapa Gading. Akibatnya, Novel mengalami luka di beberapa bagian wajah, termasuk kerusakan bagian kornea mata.

Novel merupakan penyidik KPK yang kerap menangani kasus-kasus kakap. Salah satu yang ditanganinya adalah megakorupsi proyek E-KTP, yang saat ini proses persidangannya masih berlangsung. Sejumlah petinggi partai dan politisi terseret dalam lingakaran kasus yang menyebabkan kerugian negara sebesar Rp 2,3 triliun.

Tak lama berselang, teror terjadi di kawasan Cawang saat ribuan umat Islam mengikuti pengajian yang diisi oleh Habib Rizieq Syihab. Sebuah mobil tiba-tiba terbakar dan menggelining ke arah jemaah yang tengah berdoa di penghujung acara, pada Ahad (16/04) dini hari. Sontak kepanikan muncul akibat kebakaran mobil yang muncul tiba-tiba dan sempat diwarnai ledakan itu.

Jemaah pengajian sempat melihat pelaku melarikan diri sesaat setelah mobil terbakar. Usut punya usut, di sekitar lokasi juga ditemukan dua mobil lain yang didalamnya terdapat jeriken berisi bensin yang diduga juga akan digunakan untuk meneror. Dari hasil penyelidikan ditemukan fakta bahwa tak ada tanda nomor kendaraan yang menempel pada mobil yang terbakar. Sementara, dia mobil misterius yang lain menggunakan pelat nomor abal-abal.


Terkait dua aksi teror itu, sampai saat ini belum ada tanda-tanda keberhasilan polisi mengendus keberadaan para pelaku. Yang muncul selanjutnya adalah rangkaian alibi untuk menutupi ketidak seriusan aparat dalam mengungkap kasus teror tersebut.
Pernyataan Kapolda Metro Jaya, M. Iriawan yang mengaitkan teror kepada Novel dengan bisnis online yang dijalankan sang istri malah menimbulkan kesan menggelikan. Dia mengaku mendalami hal itu saat tengah menjenguk penyidik KPK di Rumah Sakit JEC, Menteng. “Saya tanyakan, apakah jualan baju lain, selain itu, mungkin jualan baju gamis laki-laki, dia menyatakan tidak ada. Itu jadi catatan kami, pertanyaan kami, karena ada korelasinya dengan kejadian tadi (kemarin) pagi,” kata Iriawan.

Sementara, proses penyelidikan yang dilakukan Polres Jakarta Timur terhadap teror di pengajian Habib Rizieq juga tak ada perkembangan berarti. Polisi seakan telah meraih keberhasilan besar setelah mengungkap bahwa mobil-mobil yang digunakan untuk meneror adalah bodong.

Meski Novel, yang merupakan bagian penting lembaga kunci pemberantasan korupsi, menjadi korban dan penyerangan di Cawang menimbulkan ketakutan luas di masayarakat, polisi seakan enggan menyetakan dua aksi itu sebagai teror. Status aksi teroris itu tak kunjung disematkan karena polisi mungkin tahu jika terus diusut, kasus ini akan mendapatkan pelaku dan bukti-bukti seperti kasus teror biasanya.

Seperti diketahui, jika sudah menyebut aksi teror maka polisi akan menampilkan sosok pelaku yang dikaitkan dengan kelompok-kelompok tertentu, seperti jaringan Jemaah Islamiyah (JI) atau sebagai pendukung ISIS. Sementara barang bukti yang ditemukan tak jauh-jauh dari buku-buku berbau jihad, Alquran, dengan disertai beberapa potong kabel listrik.

Meski demikian, publik rupanya semakin cerdas. Seruan bahwa kedua aksi itu merupakan bagian dari terorisme diganungkan, menghentikan narasi teror tunggal yang selama ini seakan hanya keluar dari Polri. Ketua Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak berulang kali menegaskan bahwa Novel adalah korban teror dan polisi diminta mengusutnya sampai tuntas. Pernyataan Dahnil, aktivis yang kerap mengkritik penyimpangan penanganan terorisme, bukan tanpa alasan. Pasalnya, keseriusan pengungkapan kasus teror terhadap Novel akan menjadi bukti keseriusan dalam perang terhadap extra ordinary crime korupsi.

Reaksi yang sama juga berlaku pada aksi teror di pengajian Habib Rizieq. Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S. Pane menyebut bom mobil di Cawang sebagi modus terorisme baru. “Sepertinya ada kelompok teror baru yang hendak menciptakan bom molotov raksasa di Cawang. Densus 88 harus memburu kelompok ini,” katanya.

Selain itu, di saat yang sama reaksi juga muncul di dunia maya. Penegaskan warga net bahwa serangan yang terjadi di pengajian Habib Rizieq adalah teror, lagi-lagi mematahkan narasi tunggal teror oleh Polisi. Tagar #MuslimTidakTakutTeror pun menjadi trending topik di Twitter.

Masih terkait dengan teror, di pertengahan bulan April juga, Pengadilan Negeri Jakarta menggelar sidang lanjutan kelompok Katibah Ginggong Rebus (KGR) terkait kasus terorisme. Ditangkap pada Agustus 2016, polisi menarasikan kelompok ini berencana meneror Singapura dengan menggunakan roket sebagaimana beredar luas di berbagai media kala itu.

Menariknya, jalannya persidangan justeru mengungkapkan fakta sebaliknya dan mematahkan narasi menyeramkan yang telah terlanjur beredar luas sebelumnya. Enam orang terdakwa yang diperiksa mengungkapkan bahwa rencana teror itu hanyalah guyonan di obrolan grup Telegram. Jangan harap ada berton-ton bubuk mesiu atau roket batangan yang ditunjukkan dipersidangan, polisi ternyata hanya menggunakan screenshoot percakan di telepon pintar sebagai barang bukti. “Jadi sama sekali tidak ada perencanaan,” kata salah seorang terdakwa dengan nada polos.

Penulis: Imam S. (jurnalis Kiblat.net)

No comments

Post a Comment

Home
loading...