Red Terror

Oleh: Zeng Wei Jian
Penulis adalah aktivis Komunitas Tionghoa Anti Korupsi (Komtak)


ONCE again, sebuah teror dilakukan. Kali ini korbannya Hermansyah. Polisi bilang, ini kasus kriminal biasa. Akibat pepet-pepetan mobil. Saya percaya saja sama polisi.

Sekalipun, netizen ramai mencibir presumption ini. Mereka bilang; absurd. Jarang sekali orang melengkapi mobilnya dengan golok, clurit, parang dan mandau. Bisa kena Pasal 2 ayat (1) UU Darurat 12/1951. Ancamannya 10 tahun penjara maksimal.

Hermansyah diketahui sebagai Saksi Ahli IT. Dia ngga ragu bilang "sexchat" Habib Rizieq Syihab dan Firza adalah palsu. Publik menduga, dia dibacok karena itu.

Sebelumnya, Novel Baswedan disiram air keras (asam chlorida). Mata kirinya mungkin buta permanen. Dia handle beberapa kasus korupsi. Ngga heran bila ada yang menduga para koruptor itu adalah mastermind penyiraman air keras. Sampai sekarang, polisi belum sanggup membongkar konspirasinya.

Satu-satunya pihak yang punya motif bacok Hermansyah adalah mereka yang ingin mengkriminalisasi Habib Rizieq Shihab. As simple as that. Begitu logika publik.

This is a heartbreaking situation. Beberapa jam setelah kasus Hermansyah ramai, sejumlah teman, sekitar 11 orang, meminta saya hati-hati. Satu per satu, mereka bilang agar saya tidak jalan sendiri. Mereka kuatir. Lama-kelaman, akhirnya, sayapun jadi takut. Pembacokan ini sukses meneror psikologi saya.

Komunis menciptakan terminologi "white terror". Mereka beri contoh serangkaian pemberangusan komunis di Revolusi Perancis (1794-1795), Hungaria, Russia, Shanghai, Taiwan sebagai "white terror".

Motif teror adala produksi widespread fear. Publik dihinggapi state of intense fear.

Karena target dari teror kali ini bukan aktivis sosialist slash komunis, maka ini bisa diklasifikasi sebagai "Red Terror". Ngga lucu kan, kalau saat jalan-jalan di mall, eh tiba-tiba dibacok dari belakang. Selain sebagai Red Terror, aksi pembacokan Hermansyah masuk kategori violence action. Sebagai taktik psyop. Bikin takut orang banyak.

Menurut psikologis Ray Williams, definisi terorisme adalah "the use, or threat of use, of violence by non-state groups to achieve political change, and in doing so, targeting non-combatant civilians as its immediate victims."

Jelas, aksi violence terhadap Novel Baswedan dan Hermansyah adalah aksi terorisme. Pelakunya teroris. Polisi harus meringkus para penjahat itu. Supaya, asumsi masyarakat tidak menjadi liar. [rmol]

No comments

Post a Comment

Home
loading...